Abstrak:
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.
Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.