Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35140 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andini Septiani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Angga Prathama Putra
Abstrak:
Anemia merupakan kelainan penurunan masa eritrosit. Indonesia termasuk dalam 10 besar tertinggi di Asia Tenggara pada tahun 2019 sebesar 31,2%. Kaum perempuan saat ini berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga dan juga bekerja di luar rumah. Pekerja perempuan di perkebunan sawit umumnya mengalami masalah kesehatan yang sama seperti AKI, gizi buruk, layanan persalinan dan pemeriksaan kehamilan, resiko penyakit khusus seperti anemia dan lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan anemia pada pekerja perempuan di perusahaan perkebunan sawit pada tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional melibatkan 105 responden pekerja perempuan di perusahaan perkebunan sawit Kalimantan Tengah, Riau, dan Papua. Data sekunder diperoleh dari penelitian PKGK FKM UI, kemudian data diolah menjadi analisis data univariat, bivariat dengan uji Chi Square, dan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 45,7% pekerja perempuan di perusahaan perkebunan sawit mengalami anemia. Hasil uji chi square terdapat hubungan yang signifikan antara anemia pada pekerja perempuan dengan asupan vitamin C (pvalue = 0.035; OR = 2,599) dan asupan zat besi (pvalue = 0.038; OR = 4,432). Hasil uji regresi logistik menunjukkan hasil asupan zat besi (OR= 13,591; 95%CI= 1,571 – 117,565). Kesimpulan yaitu pekerja perempuan di perusahaan perkebunan sawit berisiko 13,5 kali mengalami anemia jika asupan zat besi <100% AKG

Anemia is a disorder of decreased erythrocyte mass. Indonesia is included in the top 10 highest in Southeast Asia in 2019 at 31.2%. Women currently have a dual role, as housewives and also working outside the home. Women workers in oil palm plantations generally experience the same health problems as MMR, malnutrition, delivery services and pregnancy checks, risks of special diseases such as anemia and others. The purpose of this study to determine the factors associated with anemia among female workers in oil palm plantation companies in 2022. The research method used was a cross-sectional approach involving 105 female workers in oil palm plantation companies in Central Kalimantan, Riau and Papua. Secondary data from the PKGK FKM UI research, then the data was processed into univariate, bivariate data analysis using the Chi Square test, and logistic regression tests. The results showed that 45.7% of female workers in oil palm plantation companies experienced anemia. The results of the chi square test showed a significant relationship between anemia in female workers and vitamin C intake (pvalue = 0.035; OR = 2.599) and iron intake (pvalue = 0.038; OR = 4.432). The results of the logistic regression test showed the results of iron intake (OR = 13.591; 95% CI = 1.571 – 117.565). The conclusion is that female workers in oil palm plantation companies have a risk of 13.5 times suffering anemia if iron intake is <100% RDA
Read More
T-6791
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dilla Christina; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi sartika; Penguji: Triyanti, Edith H Sumedi
S-5337
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isnindyarti; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Kusharisupeni, Diah M. Utari, Syaiful, Sri Mulyati
T-2945
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tursiwi Widiarti; Pembimbing: Syafri Guricci, Asih Setiorini; Penguji: Diah M. Utari, Iip Syaiful, Kaptiningsih
T-2672
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qoriatusholihah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
KEK merupakan tidak tercukupinya zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat kekurangan makanan dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan ukuran LiLA <23,5 cm. Remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami KEK. Menurut Riskesdas (2018), remaja perempuan menjadi kelompok dengan prevalensi KEK tertinggi di Indonesia (36,3%) yang jika dikategorikan berdasarkan klasifikasi masalah kesmas menurut WHO termasuk prevalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok serta faktor dominannya. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan total sampel 240 responden. Data dianalisis menggunakan uji bivariat chi-square dan uji multivariat regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44,6% remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok berisiko KEK. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi, asupan zat gizi makro, pendapatan orang tua, pengetahuan terkait gizi, body image, dan pengaruh media sosial dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan orang tua dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Pengetahuan terkait gizi merupakan faktor dominan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok (OR=10,294)

CED) is a condition of insufficient nutrients needed by the body due to long-term food shortage, characterized by an MUAC <23.5 cm. Adolescent girls are one of the groups vulnerable to CED. According to the 2018 Riskesdas, adolescent girls have the highest prevalence of CED in Indonesia (36.3%), which, when categorized based on WHO's classification of public health problems, is considered a high prevalence. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in female high school students in Depok City and its dominant factor. This study used a cross-sectional design with a total sample of 240 respondents. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. The results showed that 44.6% of female high school students in Depok City were at risk of CED. There were significant relationships between energy intake, macronutrient intake, parental income, nutrition-related knowledge, body image, and social media influence with the risk of CED in female high school students in Depok City. However, there was no significant relationship between parental education and occupation with the risk of CED in female high school students in Depok City. Nutrition-related knowledge was the dominant factor for CED risk in female high school students in Depok City (OR=10.294).

Read More
S-11572
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Dayu Yohana Sihombing; Pembimnbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Avliya Quratul Marjan
Abstrak:
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.

Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.
Read More
S-12365
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Rana Nabila; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Fadila Wirawan
Abstrak: Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) sebanyak minimal satu kali per minggu merupakan suatu bentuk usaha pemerintah dalam penanggulangan anemia pada remaja putri. Meski demikian, konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Terlebih pada kalangan mahasiswi karena mereka tidak lagi menerima TTD program seperti saat di bangku sekolah. Penelitian ini membahas faktor faktor yang berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi di Rumpun Ilmu Kesehatan UI tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang yang melibatkan 115 mahasiswi berusia 18 19 tahun yang aktif berkuliah pada tahun ajaran 2021/2022. Mahasiswi yang sedang hamil dan/atau tidak dapat mengonsumsi TTD karena kondisi kesehatan dikeluarkan dari penelitian. Responden dipilih melalui sampel acak sederhana. Hubungan antara sikap, pengetahuan, perceived threat, perceived benefit, perceived barrier, self-efficacy, dukungan keluarga, dukungan sebaya, dan pekerjaan orang tua dianalisis menggunakan analisis bivariat dan multivariat. Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara perceived benefit (P-value=0,01; OR=2,72) dan dukungan keluarga (P-value=0,00; OR=4,19) dengan konsumsi TTD pada mahasiswi. Dukungan keluarga ditemukan paling berhubungan dengan konsumsi TTD pada mahasiswi RIK (P-value=0,00; OR=4,01). Hasil penelitian menyarankan perlu dilaksanakannya sosialisasi TTD kepada orang tua, pembentukan kelompok sebaya untuk saling mengingatkan konsumsi TTD, dan sosialisasi TTD kepada mahasiswi melalui organisasi mahasiswa di kampus.
Read More
S-10988
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Kwatrin; Pemb. Ratu Ayu Dewi Sartika; Peng. Ahmad Syafiq, Yvonne Magdalena Indrawani, Tata Sudita, Tri Hadiah Herawati
T-2661
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Toby Tri Putra; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Evi Fatimah
Abstrak: Persentase aktivitas fisik yang rendah pada kelompok penduduk usia >10 tahun di Indonesia mencapai 33,5%. Mahasiswa, salah satu kelompok penduduk yang termasuk dalam kelompok usia tersebut, dinyatakan oleh beberapa penelitian terdahulu memiliki persentase tingkat aktivitas fisik rendah yang cukup tinggi. Kondisi pandemi COVID19 yang membatasi aktivitas di luar turut memengaruhi hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan tingkat aktivitas fisik mahasiswa FKM UI. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional ini dilakukan melalui pengisian kuesioner online yang dibagikan melalui surat elektronik mahasiswa. Variabel dependen yang diukur dalam penelitian ini adalah aktivitas fisik dan variabel independennya adalah jenis kelamin, pengetahuan, tempat tinggal, fasilitas olahraga, screen time, dukungan keluarga dan teman, serta motivasi. Aktivitas fisik mahasiswa diukur melalui Global Physical Activity Questionnaire yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). Hasil penelitian ini menunjukkan 40% mahasiswa FKM UI memiliki tingkat aktivitas fisik yang kurang atau tidak mencapai rekomendasi WHO, yaitu ≥600 MET setiap minggu. Analisis statistik yang telah dilakukan menunjukkan faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik mahasiswa adalah ketersediaan fasilitas olahraga, dukungan keluarga dan teman, serta motivasi. Intervensi berupa edukasi aktivitas fisik, saling memberi dukungan untuk beraktivitas fisik pada keluarga dan teman, penyediaan dan pemanfaatan fasilitas olahraga, dan upaya meningkatkan motivasi berolahraga diperlukan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik.
Read More
S-10956
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Nur Islamiati; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Yunilia Juhana
Abstrak:
Motif pemilihan makanan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi seseorang dalam memilih makanannya. Membuat pilihan makanan yang sehat akan memiliki efek positif pada kesehatan, sementara pemilihan makanan yang tidak tepat dapat menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya masalah gizi dan penyakit tidak menular. Siswa SMK berada pada masa remaja dimana mereka mulai membuat pilihan makanan mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motif pemilihan makanan pada siswa SMKN 3 Bogor. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Total responden pada penelitian ini yaitu 369 siswa yang berasal dari lima jurusan yang ada di SMKN 3 Bogor. Hasil penelitian menunjukkan motif utama pemilihan makanan pada siswa SMKN 3 Bogor yaitu motif daya tarik sensoris (m = 3,60), motif harga (m = 3,59), dan motif segi etis (m = 3,52). Selain itu juga diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna (p-value <0,05) antara jenis kelamin, preferensi makanan, tingkat stres, pengetahuan gizi, sosial ekonomi, dan paparan media sosial dengan motif pemilihan makanan pada siswa SMKN 3 Bogor.

Food choice motives is one of the important factors that influence a person in choosing his food. Making healthy food choices will have a positive effect on health, while improper food choices can be one of the main risk factors for nutritional problems and non-communicable diseases. Vocational school students are in their teens where they begin to make their own food choices. This study aims to determine the factors related to food choice motives in students of SMKN 3 Bogor. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. The total respondents in this study were 369 students from five majors in SMKN 3 Bogor. The results showed that the main motives for choosing food for students at SMKN 3 Bogor were the sensory attractiveness motive (m = 3.60), the price motive (m = 3.59), and the ethical aspect motive (m = 3.52). In addition, it is also known that there is a significant relationship (p-value <0.05) between gender, food preferences, stress, nutritional knowledge, socio-economics, and exposure to social media with food choice motives in SMKN 3 Bogor students.
Read More
S-11155
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive