Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27793 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dika Asmawati; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Masyitoh, Novita Dwi Istanti, Deni Purnama
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebijakan implementasi green hospital terhadap perilaku atau kebiasaan hemat energi para pegawai di lingkungan rumah sakit dengan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB). Sampel penelitian terdiri dari 150 pegawai di lingkungan kerja. Data statistik dianalisis menggunakan model Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi kebijakan green hospital memiliki pengaruh signifikan terhadap faktor-faktor pendukung perilaku, yaitu sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku. Namun, pengujian juga menunjukkan bahwa norma subyektif tidak memiliki korelasi yang positif dengan kebiasaan hemat energi pegawai. Dalam pengolahan data, pengujian efek mediasi faktor-faktor tersebut (sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku) sebagai mediator antara kebijakan implementasi green hospital menunjukkan bahwa sikap dan kontrol perilaku menjadi mediator yang signifikan, sedangkan norma subyektif tidak menjadi mediator yang signifikan dalam meningkatkan niat penghematan energi. Kesimpulan, melihat niat penghematan energi sebagai mediator, dapat dilihat bahwa niat menjadi mediator yang signifikan antara sikap, kontrol perilaku, dan norma subyektif terhadap kebiasaan atau perilaku hemat energi di lingkungan rumah sakit.

This research aims to analyze the relationship between the implementation of green hospital policy and energy-saving behaviors of employees in the environment of Hospital, using the Theory of Planned Behavior (TPB) as the theoretical framework. The study's sample consists of 150 permanent employees and the statistical data are analyzed using Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) technique. The results of the analysis indicate that the implementation of the green hospital policy significantly influences the supportive factors of behavior, namely attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control. However, the tests also reveal that subjective norms do not positively correlate with the energy-saving behaviors of employees at the Hospital. Furthermore, the mediation analysis shows that attitudes and perceived behavioral control act as significant mediators between the green hospital policy and the intention to save energy, while subjective norms do not significantly mediate the relationship. Moreover, considering the intention to save energy as a mediator, it is observed that the intention significantly mediates the effects of attitudes, perceived behavioral control, and subjective norms on energy-saving behaviors in the hospital setting.
Read More
B-2385
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisma Abdurahman Bawazier; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Budi Hartono, Ede Surya Darmawan, Yanu Aryani, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Latar belakang : Pengelolaan lingkungan rumah sakit (RS) menjadi sangat penting dalam rangka meminimalisasi konstribusi negatif terhadap pemanasan global. Namun belum terdapat instrumen penilaian yang dapat mengukur penerapan green hospital. Tujuan penelitian : Tujuan penelitian ini adalah menyusun dimensi penerapan green hospital di Indonesia dan menganalisis status penerapan green hospital. Metodologi penelitian: Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jenis data yang dikumpulkan merupakan jenis data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data terdiri atas studi pustaka, survei, wawancara mendalam, dan pendapat pakar. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian: Berdasarkan uji statistik, ditemukan pengaruh signifikan lingkungan fisik terhadap peningkatan persepsi kualitas layanan pada pasien rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Prabumulih. Ini artinya lingkungan fisik yang disediakan Rumah Sakit Umum Daerah Prabumulih mendapat kesan yang baik di mata pasien dan sesuai harapan pasien. Kesimpulan : Hasil pengujian instrumen indeks penerapan green hospital seluruh indikator pengukuran valid dan reliabel. Penerapan green hospital di RSUI dalam kategori cukup penerapan (50,01-75,00) dengan skor 59.02%. Angka tersebut dimaknai sebagai usaha dan/ atau kegiatan yang telah sesuai dengan yang dipersyaratkan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan upaya tanggung jawab sosial dengan baik dan cukup penerapan.

Background: Hospital environmental management is very important in order to minimize negative contributions to global warming. However, there is no assessment instrument that can measure the implementation of green hospitals. Research objectives: The aim of this research is to develop the dimensions of green hospital implementation in Indonesia and analyze the status of green hospital implementation. Research methodology: This research uses two approaches, namely qualitative and quantitative approaches. The types of data collected are primary data and secondary data. Data collection methods consist of literature studies, surveys, in-depth interviews, and expert opinions. The data analysis method used is descriptive and inferential analysis. Research results: Based on statistical tests, it was found that the physical environment had a significant influence on increasing the perception of service quality for inpatients at the Prabumulih Regional General Hospital. This means that the physical environment provided by the Prabumulih Regional General Hospital makes a good impression in the eyes of patients and meets patient expectations. Conclusion: The results of testing the green hospital implementation index instrument, all measurement indicators are valid and reliable. The implementation of green hospitals at RSUI is in the moderate implementation category (50.01-75.00) with a score of 59.02%. This figure is interpreted as businesses and/or activities that are in accordance with the requirements through the implementation of an environmental management system, efficient use of resources and social responsibility efforts that are good and sufficiently implemented.
 
Read More
B-2454
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakinah Azzahra Adam; Ppembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Novita Dwi Istanti, Melanie Husna
Abstrak:
Rumah sakit menghadapi berbagai risiko kompleks yang dapat berdampak pada keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Risk register merupakan instrumen penting dalam manajemen risiko yang mencatat proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan perlakuan risiko secara terstruktur. Namun, temuan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Indonesia (RSP UI) menunjukkan bahwa implementasi risk register belum optimal, ditandai dengan ketidaklengkapan pencatatan risiko, absennya perhitungan tingkat risiko, ketidakjelasan penetapan prioritas, serta tidak adanya dokumentasi hasil monitoring dan evaluasi. Penelitian ini menganalisis implementasi risk register sebagai instrumen pengendali risiko di RSP UI serta peranan faktor individu dan faktor organisasi dalam proses penyusunannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dilaksanakan pada periode Januari hingga Juni 2026. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri atas perwakilan direksi, Komite Mutu dan Keselamatan (KMK), pimpinan unit, dan Agent of Change (AoC). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen, serta dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada faktor individu, pengetahuan dan keterampilan teknis, pengalaman kerja, sikap positif terhadap risk register, program edukasi, dan kerja sama tim mendukung pelaksanaan pengelolaan risiko. Namun, pengetahuan konseptual manajemen risiko masih bervariasi antarpelaksana dan implementasi risk register cenderung responsif terhadap monitoring dan pengingat KMK. Pada faktor organisasi, dukungan kepemimpinan, budaya keselamatan yang berkembang, regulasi, pengelolaan sumber daya manusia, serta sistem kerja dan teknologi menjadi faktor pendukung implementasi risk register. Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan, belum optimalnya peran SDM KMK dan AoC, serta keterbatasan sistem pemantauan risiko yang masih bergantung pada monitoring manual. Telaah terhadap dokumen risk register menunjukkan bahwa proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan perlakuan risiko telah dilaksanakan pada seluruh unit kerja. Namun, dokumentasi risiko belum sepenuhnya komprehensif dan belum seluruhnya selaras dengan komponen proses manajemen risiko yang dijelaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1354/2024. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu dan faktor organisasi berperan sinergis dalam implementasi risk register sebagai instrumen pengendalian risiko di RSP UI, namun masih diperlukan penguatan pada aspek pengetahuan konseptual manajemen risiko, penyempurnaan regulasi dan panduan teknis, optimalisasi SDM KMK, serta pengembangan sistem pemantauan risiko yang terintegrasi guna meningkatkan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Hospitals face complex and multidimensional risks that can adversely affect patient safety and the quality of care. The risk register is an important risk management instrument that structurally records the processes of risk identification, analysis, evaluation, and treatment. However, findings at Universitas Indonesia Educational Hospital (RSP UI) revealed that the implementation of the risk register remains suboptimal, characterized by incomplete risk documentation, the absence of risk level calculations, unclear priority setting, and a lack of monitoring and evaluation records. This study analyzes the implementation of the risk register as a risk control instrument at RSP UI by examining the role of individual and organizational factors across all stages of its development. This study employed a qualitative approach with a case study design, conducted from January to June 2026. Informants were selected through purposive sampling, comprising representatives from the hospital board of directors, the Quality and Safety Committee (KMK), unit heads, and the Agent of Change (AoC) team. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document review, and analyzed using source and method triangulation. The findings revealed that individual and organizational factors synergistically influenced the implementation of the risk register at RSP UI. Individual factors, including technical knowledge and skills, work experience, positive attitudes toward the risk register, educational programs, and teamwork, supported risk management practices. However, conceptual knowledge of risk management varied among implementers, and risk register activities tended to remain reactive, relying on monitoring and reminders from the KMK. Organizational factors, including leadership support, a developing safety culture, regulations, human resource management, work systems, and technology, also facilitated implementation. Nevertheless, gaps remained between formal regulations and actual practices, particularly regarding the limited human resource capacity of the KMK, suboptimal understanding of AoC roles, and risk monitoring systems that still depended largely on manual processes. Document review showed that risk identification, analysis, evaluation, and treatment had been implemented across all units. However, risk documentation was not yet fully comprehensive and had not entirely aligned with the risk management process components required by the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number HK.01.07/MENKES/1354/2024. Key findings included incomplete documentation of risk causes and impacts, the absence of residual risk and risk decision records, the lack of an integrated organizational risk map, and inconsistencies in documenting risk treatment strategies. This study concludes that the risk register has functioned as a risk control instrument at RSP UI. However, improvements are still needed in conceptual knowledge of risk management, refinement of regulations and technical guidelines, optimization of KMK human resources, and development of a more integrated risk monitoring system to support effective risk management and continuous improvement of patient safety.
Read More
B-2599
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heydi Marizky Lisman; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Pujiyanti, Putri Nadia
Abstrak:

Pendahuluan: Salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan untuk peningkatan layanan berkualitas adalah pemanfaatan Single Use Dialiser bagi pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani hemodialisis. Rumah Sakit mendapat imbalan tarif baru dan sistem insentif apabila melaksanakan single use dialiser (Permenkes 3/2023). Penelitian ini bertujuan mendapat gambaran kesiapan serta hambatan di Instalasi Dialisis Rumah Sakit dalam menjalankan kebijakan single use dialiser.
Metodologi: Balance scorecard digunakan untuk memotret pelayanan hemodialisis sebelum dan setelah diberlakukan Permenkes Nomor 3 Tahun 2023.
Hasil: Pelayanan HD yang belum menggunakan single use mempengaruhi capaian kinerja tahun 2023. Pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditemukan beban kerja perawat yang tidak ideal karena harus mencuci dialiser yang telah dipakai. Pada perspektif proses bisnis intenal terdapat peningkatan kejadian rawat inap pada pasin rutin HD dan ditemukan kejadian dialiser tertukar. Pada perspektif pelanggan menyebabkan turunnya kepuasan pasien, dan pada perspektif keuangan terdapat penurunan rasio profitabilitas.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan HD dengan single use dapat dilaksanakan di Unit Dialisis RS UI. Jika tidak dilaksanakan berpengaruh pada capaian kinerja dalam semua perspektif balance scorecard.


Introduction: One of the Ministry of Health policy to improve quality services is Single Use Dialyzers utilization for National Health Insurance (JKN) patients in outpatient hemodialysis. Hospitals receive new tariff rewards and incentive systems if adpoted single use dialyzers in their services (Permenkes 3/2023). This research aims to obtain an overview of the readiness and obstacles in the Dialysis center in implementing the Single Use Dialyzer policy.  Methodology: Balanced scorecard is used to capture hemodialysis services before and after Ministry of Health Regulation 3/ 2023 implementation. Results: Reuse service affect perfmormance achievement in 2023. In the learning and growth perspective, the nurse's workload was not ideal because they had to wash the dialyzers that had been used. In interbal bisiness process, we found cases of incident of dialyzers being exchanged and incidence of hispitalization among routine patient was increased. In customer perspective, it causes a decrease in patient satiscfaction and financial perspective we found profitability ratios was decreased. Conclusion: This research shows that single use policy can be implemented at University of Indonesia Hospital Dialysis Center. If not implemented, it will have an impact on all balance scorecard perspectives.
Read More
B-2557
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kulsum; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Adang Bachtiar, Andi Basuki Prima B., Ari Purwohandoyo
Abstrak: Konsep green hospital merupakan manajemen perubahan yang menjadi kebutuhan di rumah sakit yang dapat mengurangi konsumsi energi secara signifikan, meningkatkan kenyamanan dan produktivitas dan menjaga kelestarian sumber daya alam berkelanjutan Dalam memberikan pelayanan kesehatan, Rumah sakit menggunakan sejumlah energi baik listrik, air, bahan bakar, makanan pasien dan bahan bangunan. Selain itu, rumah sakit juga memproduksi limbah medis dan non medis. Hal tersebut dapat menjadi kontribusi terhadap perubahan iklim apabila tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini menilai kesiapan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang mengacu pada standar nasional Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). Penelitian ini adalah sebuah studi kasus dengan menggunakan pendekatan metoda penelitian kualitatif dengan melakukan observasi untuk mengamati dan menelaah berbagai objek dalam penelitian, melakukan pengukuran dan mengisi ceklis pada instrumen/tools. Dari hasil penelitian diketahui bahwa RSPON baru dapat memenuhi total nilai nilai 58 atau 49,57% dari maksimal 117 nilai dari total kriteria yang dipersyaratkan dalam Greenship. Berdasarkan perolehan nilai tersebut maka sesuai dengan peringkat Greenship GBCI, gedung RSPON mendapatkan peringkat Silver (Perak). Untuk memperbaiki peringkat, masih dapat dengan cara menyediakan parkir sepeda, menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH), recommissioning, pemasangan sistem pemantauan energi, melakukan daur ulang sampah organic, melakukan daur ulang air olahan IPAL melakukan konservasi air bersih, mencoba menggunakan teknologi panel surya (solar cell) serta mengintegrasikan efisiensi energi ke dalam program pemeliharaan
The green hospital concept is a change management that is a necessity in hospitals that can significantly reduce energy consumption, increase comfort and productivity and preserve sustainable natural resources. In providing health services, hospitals use a number of energy, including electricity, water, fuel, patients food and building materials. In addition, hospitals also produce medical and non-medical waste. This can be a contribution to climate change if it is not managed properly. This study assesses the readiness of Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono National Brain Center Hospital Jakarta which refers to the national standard of Greenship Green Building Council Indonesia (GBCI). This research is a case study using a qualitative research method approach by making observations to observe and examine various objects in the study, take measurements and fill out checklists on the instruments/tools. From the research results, it is known that the new RSPON can meet the total value of 58 or 49,54% of the maximum 117 values of the total criteria required in Greenship. Based on the acquisition of these values, in accordance with the GBCI Greenship rating, the RSPON building received a Silver rating. To improve the ranking, it can still be done by providing bicycle parking, increasing the area of green open space (RTH), recommissioning, installing energy monitoring systems, recycling organic waste, recycling treated water from WWTPs, conserving clean water, trying to use solar panel technology. and integrating energy efficiency into maintenance programs
Read More
B-2220
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atty Supraba; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Kurnia Sari, Atik Nurwahyuni, Ermilda Sriwastuti, Abdi Setia Putra
B-1641
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenny Hamka; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Atiek S. Asmawati
B-1277
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diana Latifa; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Tien AStari, Isti Qomarsih
Abstrak: Sejak Maret 2015, di Lingkungan PT Rumah Sakit Pelabuhan diimplementasikankebijakan satu pintu dalam pengadaan obat dan alat kesehatan. Namun belum adatools atau evaluasi yang dilakukan bilamana implementasi kebijakan tersebut sudahberhasil ataupun masih ada hal-hal yang perlu dilakukan perbaikan.Penelitian ini menggunakan analisis ABC sebagai tools dalam melakukan evaluasiatas kebijakan satu pintu dalam pembelian obat dan alat kesehatan di Lingkungan PTRumah Sakit Pelabuhan, yaitu dengan data yang diambil dari Rumah Sakit PelabuhanJakarta dan RS Port Medical Center. Dalam penelitian ini akan dilakukan penelitiandengan fokus dan data obat antibiotik dengan menggunakan analisis ABC nilaiinvestasi, analisis ABC nilai pemakaian dan analisis ABC indeks kritis sehingga bisadihasilkan pengelompokkan menjadi kelompok A, kelompok B dan kelompok C.Selain metode kuantitatif, penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif denganmelakukan wawancara untuk cross checking dengan hasil perhitungan kuantitatifyang diperoleh. Selanjutnya untuk kelompok A dihitung Economic Order Quantity(EOQ) dan Re-Order Point (ROP) serta dibandingkan Total Inventory Cost (TIC)-nyadengan TIC versi rumah sakit sehingga bisa diketahui apakah metode atau carapengadaan obat dan alat kesehatan yang sudah dilakukan di lingkungan PT RumahSakit Pelabuhan sudah efisien atau belum.Hasil penelitian memberikan hasil bahwa pengadaaan obat dan alat kesehatankhususnya untuk antibiotik di lingkungan PT Rumah Sakit Pelabuhan perlu untukdiberikan prioritas dan fokus untuk obat antibiotik yang masuk kelompok A karenadari sisi investasi memilki nilai tinggi dan juga tergolong obat yang critical.Perbaikan perlu dilakukan dengan cara mengintegrasikan IT ke dalam bagian yangterkait dengan pengadaan obat dan alat kesehatan seperti bagian gudang, farmasi,keuangan sehingga kondisi stok obat bisa diketahui secara real time supaya efisiendan menghindari fraud.Kata Kunci : Kebijakan Satu Pintu, Analisis ABC, EOQ, ROP, TIC.
Read More
B-1770
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marianti Tamsir; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Vetty Yulianti Permanasari, Kemas Abdurrohim, Amila Megraini
Abstrak: Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk organisasi yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan, yang dituntut untuk memberikan pelayanan bermutu. Salah satu faktor kunci keberhasilan dalam meningkatkan kinerja rumah sakit adalah kepuasan karyawan. Penelitian ini menggunakan Kriteria Malcolm Baldrige yang merupakan salah satu metode penilaian kinerja organisasi secara keseluruhan dan terus menerus, terdiri dari tujuh kriteria yaitu kepemimpinan, perencanan strategis, fokus pada pelanggan, pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan, fokus pada karyawan, manajemen proses terhadap kepuasan karyawan, dan menggunakan metode mix method dengan sequential eksplanatory design. Tehnik pengambilan sampel secara total sampling, dengan survey melalui penyebaran kuesioner kepada seluruh karyawan RS harapan Bunda Batam. Hasil dari penelitian ini adanya hubungan yang kuat dan berpola positif dari 6 kriteria Malcolm Baldrige terhadap kepuasan karyawan.

Hasil analisis menjelaskan bahwa 84,8% dari variabel kepuasan karyawan di jelaskan oleh ke 6 kriteria Malcolm Baldrige, dan sisanya sebesar 15,2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak ada pada penelitian ini.

Kata kunci : Kriteria Malcolm Baldrige, kepuasan Karyawan Performance analysis services Harapan Bunda Batam Hospital on employee satisfaction with Malocolm Baldrige Criteria Approach

Hospital is one of organization produce a health services that required to give quality services. One of the key factor to improve a high qualityt is employee satisfaction. This research use Malcolm Baldrige criteria that overall focus, and continues, contained in leadership, strategic planning, Customer focus, measurement, analysis and knowledge management, workforce focus, process management. Research method is the sequential explanatory mixed method design. Sampling technique is total sampling, the survey by distributing questionnaires to all employees Harapan Bunda Hospital.

The results of this study the relationship strong and positive pattern of the six criteria of the Malcolm Baldrige on employee satisfaction. And results of the analysis explains that 84.8% of the variable employee satisfaction described by Malcolm Baldrige criteria and the remaining 15.2% is explained by other variables that do not exist in this study.
Read More
B-1849
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haniah Alatas; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Ede Surya Darmawan, Suherman, Amila Megraini
Abstrak: Keberadaan green hospital sangat diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia dan lingkungan, karena rumah sakit merupakan salah satu penyumbang polusi. RSUD R. Syamsudin, SH menjadi anggota Global Green and Healthy Hospital serta berkomitmen untuk melaksanakan sepuluh agenda yaitu kepemimpinan, bahan kimia, limbah, energi, air, transportasi, makanan, farmasi, gedung, dan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi green hospital dengan Kriteria Kerangka Kinerja Ekselen Malcolm Baldrige. Kerangka Kinerja Ekselen Malcolm Baldrige mengevaluasi berdasarkan tujuh kriteria yaitu kepemimpinan, strategi, pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, tenaga kerja, operasi serta hasil. Desain penelitian ini adalah kualitatif dengan mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam, kuesioner, dan telaah dokumen, Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan green hospital RSUD R. Syamsudin, SH mendapatkan skor 620.1 dari 1000 (skor maksimal) sehingga diposisikan pada emerging industry leader. Kriteria Kepemimpinan mendapatkan poin tertinggi, sedangkan poin terendah adalah Kriteria Pelanggan. Dapat disimpulkan, RSUD R. Syamsudin, SH berada di posisi menengah dalam implementasi green hospital, artinya sudah memiliki beberapa keunggulan tetapi masih ada beberapa faktor yang dapat ditingkatkan lagi agar pelaksanaan green hospital dapat lebih optimal. Untuk itu, direkomendasikan kepada RSUD R. Syamsudin, SH agar melakukan evaluasi rutin, mempromosikan green hospital lebih gencar, melakukan optimalisasi SIM RS, serta penguatan anggaran agar pencapaian sepuluh agenda lebih optimal. Kata kunci: Green hospital, Kerangka Kinerja Ekselen Malcolm Baldrige
The existence of green hospital is very necessary to overcome climate change which can cause disruption to human health and the environment, because hospitals are one of the contributors to pollution. RSUD R. Syamsudin, SH became a member of the Global Green and Healthy Hospital and is committed to implementing ten agendas, namely leadership, chemicals, waste, energy, water, transportation, food, pharmacy, buildings, and purchasing. Aim of this study is to analyze the implementation of green hospital with the Malcolm Baldrige Criteria Framework for Excellence Performance. Malcolm Baldrige Criteria evaluates based on seven criteria which isleadership, strategy, customer, measurement, analysis, and management of knowledge, labor, operations and results. The design of this study is qualitative by gathering information through in-depth interviews, questionnaires, and document review. Based on the results of research, the implementation of the green hospital in R. Syamsudin Hospital, SH received a score of 620.1 out of 1000 (maximum score) so that it was positioned in emerging industry leaders. The Leadership Criteria get the highest points, while the lowest points are the Customer Criteria. It can be concluded, RSUD R. Syamsudin, SH is in the average position in implementing green hospital, meaning that it already has several advantages but there are still several factors that can be improved so that the implementation of green hospital can be more optimal. For this reason, it was recommended to RSUD R. Syamsudin, SH to carry out routine evaluations, promote green hospital more aggressively, optimize hospital management information system, and strengthen the budget so that the achievement of ten agendas more optimized. Keywords: Green hospital, Malcolm Baldrige Excellence Framework Criteria
Read More
B-2039
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive