Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 43311 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firda Alfianti; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Muhammad Olik Abdul Holik
Abstrak:
Latar Belakang : Air merupakan salah satu sumber daya yang menjadi kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Air berhubungan erat dengan kesehatan manusia, sehingga kualitas air perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satu parameter yang mejadi indikator kualitas air minum adalah parameter mikrobiologi yaitu bakteri Escherichia coli dan Coliform. Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti diare, kolera dan disentri. Universitas Indonesia merupakan salah satu Universitas terbaik di Indonesia telah berupaya menyediakan air minum melalui pemurni air untuk warga Universitas Indonesia. Tujuan : Menganalisis perbandingan kualitas mikrobiologi pada air sebelum filtrasi dan sesudah filtrasi di Universitas Indonesia. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain studi eksperimental yang dilakukan pada air sebelum dan sesudah filtrasi di 8 Fakultas Universitas Indonesia. Hasil : Hasil uji beda dua mean menunjukan bahwa bakteri Coliform (p = 0,028) terdapat perbedaan dan bakteri Escherichia coli (p = 1,000) tidak terdapat perbedaan kualitas pada air sebelum dan sesudah filtrasi. Kesimpulan : Terdapat perbedaan kandungan Coliform pada air sebelum dan sesudah filtrasi. Tidak terdapat perbedaan kandungan Escherichia coli pada air sebelum dan sesudah filtrasi.

Background: Water is one of the resources that is a basic human need for survival. Water is closely related to human health, so water quality needs special attention. One of the parameters that serve as an indicator of drinking water quality is the microbiological parameter, the bacteria Escherichia coli and Coliform. Both bacteria can cause health problems such as Diarrhoea, Cholera and Dysentery. Universitas Indonesia, one of the best universities in Indonesia, has endeavoured to provide drinking water through a water purifier for the citizens of Universitas Indonesia. Objective: Analyse the comparison of microbiological quality in pre-filtration and post-filtration water at Universitas Indonesia. Methods: This research is an analytical study with a quantitative approach and experimental study design conducted on water before and after filtration in 8 faculties of the University of Indonesia. Results: The results of the two-mean t-test showed that Coliform bacteria (p = 0.028) had a difference and Escherichia coli bacteria (p = 1.000) had no difference in quality before and after filtration. Conclusion: There is a difference in the coliform content of the water before and after filtration. There is no difference in Escherichia coli content in water before and after filtration.
Read More
S-11257
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuranida Fauziyah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Haryoto Kusnoputranto;
Abstrak:
Air minum merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia. Universitas Indonesia kampus Depok menyediakan fasilitas air siap minum. Pada penelitian kualitas air tanah di Kota Depok yang dilakukan tahun 2022, diperoleh bahwa kualitas air tanah parameter Fisik di Kota Depok belum sepenuhnya memenuhi standar baku mutu. Namun kualitas air siap minum di Universitas Indonesia tidak dilakukan pengecekan kualitas air secara berkala, termasuk kualitas air siap minum parameter fisik. Tujuan penelitian Menganalisis kualitas parameter Fisik air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi yang tersedia di setiap fakultas Universitas Indonesia kampus Depok Tahun 2023. Uji yang digunakan pada penelitian ini analisis deskriptif dengan desain studi cross sectional. Sampel yang diambil adalah air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi di Universitas Indonesia kampus Depok tahun 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 9 sampel untuk air siap minum sebelum filtrasi dan 9 sampel air siap minum. Pengukuran kualitas air parameter fisik ini dilakukan secara in situ dan uji laboratorum. Pengukuran parameter kekeruhan, warna, badan Total Zat Terlarut diuji di laboratorium Labkesda DKI Jakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air siap minum parameter fisik sebelum filtrasi di Universitas Indonesia tahun 2023 yang memenuhi persyaratan yaitu berjumlah 3 sampel (33,3%) dari 9 sampel yang diteliti dan 66,7% lainnya tidak memenuhi syarat. hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas air siap minum sesudah filtrasi parameter fisik di Universitas Indonesia tahun 2023 yang memenuhi persyaratan berjumlah 3 sampel (33,3%) dari 9 sampel yang diteliti 66,7% lainnya tidak memenuhi syarat. hasil analisis uji bivariat, hanya parameter suhu yang terdapat perbedaan antara kualitas air siap minum sebelum dan sesudah filtrasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai p value 0,008 (p<0,05). Sedangkan untuk parameter kekeruhan, warna, bau, daya hantar listrik, Total Zat Terlarut dan pH tidak ada perbedaan yang signifikan Kesimpulan dari penelitian ini adalah 9 dari air siap minum sebelum di filtrasi yang diteliti, hanya 3 sampel yang memenuhi persyaratan parameter fisik dan 9 dari air siap minum sesudah filtrasi yang diteliti yang memenuhi persyaratan parameter fisik berjumlah 3 sampel sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.

Drinking water is an important need for every human being. The University of Indonesia's Depok campus provides ready-to-drink water facilities. In research on the quality of groundwater in Depok City which will be conducted in 2022, it is found that the physical parameter groundwater quality in Depok City has not fully met the quality standards. However, the quality of ready-to-drink water at the University of Indonesia does not regularly check the quality of water, including the quality of ready-to-drink water on physical parameters. The research objective was to determine the quality of the physical parameters of ready-to-drink water before and after filtration available in every faculty of the University of Indonesia, the Depok campus, in 2023. The test used in this study was descriptive analysis with a cross-sectional study design. The samples taken were ready-to-drink water before and after filtration at the University of Indonesia, Depok campus in 2023 with a total sample of 9 ready-to-drink water before filtration and 9 ready-to-drink water samples. Measurement of water quality physical parameters is carried out in situ and laboratory tests. Measurement of the parameters of turbidity, color, total body dissolved substances were tested at the Labkesda DKI Jakarta laboratory. The results of the analysis show that the physical parameters of ready-to-drink water quality before filtration at the University of Indonesia in 2023 meet the requirements, namely 3 samples (33.3%) of the 9 samples studied and the other 66.7% do not meet the requirements. The results of the analysis show that the quality of ready-to-drink water after filtration for physical parameters at the University of Indonesia in 2023 meets the requirements of 3 samples (33.3%) of the 9 samples studied, 66.7% do not meet the requirements. the results of the bivariate test analysis, only the temperature parameter that there is a difference between the quality of ready-to-drink water before and after filtration. This is indicated by the p value of 0.008 (p <0.05). As for the parameters of turbidity, color, odor, electrical conductivity, total dissolved substances and pH there is no significant difference The conclusion of this study is that 9 of the ready-to-drink water before being filtered were studied, only 3 samples that met the physical parameter requirements and 9 of the ready-to-drink water after being filtered that were studied that met the physical parameter requirements, totaling 3 samples in accordance with Minister of Health Regulation Number 2 Year 2023.
Read More
S-11381
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Atmatuzahra ; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Kualitas air minum menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat terutama di wilayah yang padat penduduk. Penyakit yang ditularkan melalui air merupakan masalah kesehatan global yang diperkirakan berkontribusi terhadap lebih dari 2,2 juta kematian setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran kualitas air minum berdasarkan wilayah, mengukur tingkat kualitas air minum, dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat di Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data diperoleh dari survei lapangan yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dengan wawancara terstruktur dan uji laboratorium sampel air. Data kualitas air dari 570 rumah tangga dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 97,5% sampel air rumah tangga di Depok tidak memenuhi standar kualitas air minum selama periode penelitian. Terdapat 94,1% sampel air yang digunakan untuk kegiatan minum dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air. Faktor yang berhubungan signifikan dengan penyakit yang ditularkan melalui air adalah jenis pekerjaan (p-value = 0.003). Pemerintah daerah Kota Depok perlu melakukan pengawasan kualitas air secara berkala dan meningkatkan edukasi terkait kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan air minum yang aman untuk mendukung derajat kesehatan masyarakat di Kota Depok.


The quality of drinking water is a critical determinant of public health, particularly in  densely populated urban areas. Waterborne diseases remain a major global health  concern and are estimated to contribute to over 2.2 million deaths annually. This study  aims to identify the distribution of drinking water quality by region, assess the level of  drinking water quality, and evaluate its impact on public health in Depok City, West Java.  The research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional design.  Data were obtained from field surveys previously carried out by the Depok City Health  Office through structured interviews and laboratory testing of water samples. Drinking  water quality data from 570 households were analyzed using correlation and spatial  analysis. The results showed that approximately 97.5% of household water samples in  Depok did not meet drinking water quality standards during the study period. About  94.1% of the water samples used for drinking had the potential to cause waterborne  diseases. The factor significantly associated with waterborne diseases was types of  occupation (p-value = 0.003). These results highlight the need for the local government  of Depok City to implement routine water quality monitoring and enhance public  awareness campaigns regarding safe drinking water management practices, as part of  broader efforts to improve community health outcomes.

Read More
S-11999
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummu Humairoh; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Persentase rumah tangga dengan akses air minum yang aman di Kota Depok baru menyentuh angka 49,37% di tahun 2023 dimana angka tersebut masih jauh dari target SDG’s (Sustainable Development Goals) yaitu 100% akses air minum aman sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai faktor risiko yang mempengaruhi Kualitas Mikrobiologi Air Minum di Kota Depok tahun 2023. Metode: Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Unit analisis yaitu rumah tangga dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 321 sampel rumah tangga. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Sebagian besar rumah tangga di Kota Depok memiliki kualitas mikrobiologi air minum yang memenuhi syarat (54,20%) dengan persentase tidak memenuhi syarat tertinggi berada di kecamatan Tapos (62,5%) dan persentase yang memenuhi syarat tertinggi berada di Kecamatan Beji (71,4%). Faktor yang berhubungan signifikan terhadap kualitas mikrobiologi air minum adalah jarak sumber pencemar (tangki septik) dengan sarana/sumber air minum (p = 0,023), kerawanan banjir (p = 0,048) dan perilaku pengolahan air minum (p = 0,041). Kesimpulan: Kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok sebagian besar telah memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tangki septik dengan sarana air minum, kerawanan banjir, dan perilaku pengolahan air minum terhadap kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok dengan faktor risko yang paling dominan berhubungan adalah jarak tangki septik dengan sarana air minum. Saran: Pemerintah Kota Depok diharapkan memperkuat pengawasan air minum, memperbaiki drainase, dan memelihara situ. Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan dan mencegah pencemaran air, sementara penelitian lanjut mengkaji aspek yang mempengaruhi kualitas air dan dampaknya terhadap kesehatan.

Background: The percentage of households with access to safe drinking water in Depok City has only reached 49.37% in 2023, which is still far from the SDG's (Sustainable Development Goals) target, namely 100% access to safe drinking water, so research needs to be done regarding risk factors that influence the microbiological quality of drinking water in Depok City in 2023. Method: Using a cross sectional study design with a quantitative approach using secondary data from the Depok City Health Service. The unit of analysis is the household with a total of 321 household samples selected. Data processing uses the chi-square test and logistic regression. Results: The majority of households in Depok City have drinking water microbiological quality that meets the requirements (54.20%) with the highest percentage not meeting the requirements being in Tapos sub-district (62.5%) and the highest percentage meeting the requirements being in Beji sub-district ( 71.4%). Factors that are significantly related to the microbiological quality of drinking water are the distance of the pollutant source (septic tank) to drinking water facilities/sources (p = 0.023), flood vulnerability (p = 0.048) and drinking water treatment behavior (p = 0.041). Conclusion: The microbiological quality of household drinking water in Depok City largely meets the requirements. There is a significant relationship between the distance of a septic tank to drinking water facilities, flood vulnerability, and drinking water treatment behavior on the microbiological quality of household drinking water in Depok City with the most dominant risk factor related to this being the distance of the septic tank to drinking water facilities. Recommendation: The Depok City Government is expected to strengthen supervision of drinking water, improve drainage and maintain lakes. The public is also expected to maintain cleanliness and prevent water pollution, while research continues to examine aspects that influence water quality and its impact on health.
Read More
S-11775
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriani; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Waris Supaidah
S-5894
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Riyadi; ;Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Fitri Kurniasari, Ikha Purwandari, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan, terutama kualitas dan pengelolaan air minum rumah tangga. Di Provinsi Kalimantan Timur, prevalensi diare berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 4,2%. Peningkatan akses terhadap sumber air minum layak belum sepenuhnya menjamin keamanan air pada titik konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air minum rumah tangga yang meliputi parameter mikrobiologi, fisik, dan kimia dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan unit analisisnya adalah rumah tangga. Teknik pengambilan sampel mengikuti metode yang digunakan dalam SKAMRT 2024 yang melibatkan 2.051 rumah tangga. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji Chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,5% rumah tangga memiliki anggota rumah tangga yang mengalami diare. Parameter kualitas air minum yang menunjukkan proporsi tidak memenuhi syarat cukup tinggi adalah E. coli (31,3%), kekeruhan (19,0%), pH (15,0%), krom valensi 6 (46,5%), dan sisa klor pada rumah tangga dengan sumber air minum perpipaan (86,3%). Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air minum layak (98,0%), memiliki akses air minum kontinu (96,5%), melakukan pengolahan air minum (56,9%), dan memiliki penyimpanan air minum tidak berisiko (95,1%). Parameter kekeruhan, pH, dan krom valensi 6 berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Pada model akhir, hubungan E. coli, kekeruhan, dan pH dengan diare berbeda menurut kontinuitas air minum, sedangkan pada parameter sisa klor tidak berhubungan signifikan dengan diare setelah dikontrol kontinuitas air minum dan penyimpanan air minum. Kualitas air minum rumah tangga pada titik konsumsi, khususnya parameter fisik kekeruhan dan parameter kimia pH, berhubungan erat dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur. Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh keandalan kontinuitas air minum yang berperan sebagai variabel pemodifikasi efek (effect modifier).

Diarrhea remains a public health issue closely linked to environmental factors, particularly the quality and management of household drinking water. In East Kalimantan Province, the prevalence of diarrhea, according to the 2023 Indonesian Health Survey, was 4.2%. Increased access to improved drinking water sources does not fully guarantee water safety at the point of consumption. This study aims to analyze the association between household drinking water quality—comprising microbiological, physical, and chemical parameters—and the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province, using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). This study employed a cross-sectional design, with households as the unit of analysis. The sampling procedure followed the methodology of the 2024 SKAMRT, involving 2,051 households. Data were analyzed using descriptive statistics, Chi-square tests, and multivariable logistic regression. The results indicated that 4.5% of households had at least one member who experienced diarrhea. The results showed that 92 households (4.5%) had at least one member who experienced diarrhea. Drinking water quality parameters with a high proportion of non-compliance included E. coli (31.3%), turbidity (19.0%), pH (15.0%), hexavalent chromium (46.5%), and residual chlorine in households utilizing piped water sources (86.3%). Most households used improved drinking water sources (98.0%), had access to a continuous drinking water supply (96.5%), practiced drinking water treatment (56.9%), and utilized low-risk drinking water storage (95.1%). Turbidity, pH, and hexavalent chromium were significantly associated with the incidence of diarrhea. In the final model, E. coli, turbidity, and pH showed significant interactions with water supply continuity on the risk of diarrhea, whereas residual chlorine was not significantly associated with diarrhea after controlling for water supply continuity and water storage practices. Household drinking water quality at the point of consumption, particularly the physical parameter of turbidity and the chemical parameter of pH, is significantly associated with the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province. This association is highly influenced by the reliability of water supply continuity, which acts as an effect modifier.
Read More
T-7546
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Haryani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Ikha Purwandari
Abstrak:
Diare dapat didefinisikan sebagai buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali per hari yang ditandai dengan tinja cair sebagai gejala infeksi saluran usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus atau parasit yang dapat menyebar melalui air minum yang tidak layak atau tidak aman, makanan yang terkontaminasi serta perilaku higiene yang buruk. Di Kota Depok, kejadian diare masih ditemukan selama periode 2021-2024 sehingga kualitas air minum rumah tangga perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare pada anggota rumah tangga di Kota Depok menggunakan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga tahun 2024 dengan desain studi cross-sectional serta melibatkan 505 responden. Analisis data yang digunakan berupa distribusi frekuensi dan uji chi-square dengan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata parameter Escherichia coli sebesar 2,48±12,79 CFU/100mL dan rata-rata pH sebesar 6,72±1,139. Sebagian besar sampel tidak terkontaminasi Escherichia coli (86,7%). Pada parameter kimia, mayoritas sampel memenuhi syarat, namun parameter kromium valensi 6 didominasi kategori tidak memenuhi syarat (94,9%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare (p=0,629 dan p=1,000). Faktor sanitasi lingkungan, kondisi sarana air minum, pengolahan air minum, serta faktor sosiodemografi juga tidak berhubungan dengan kejadian diare. Upaya promotif dan preventif terkait air minum aman serta perilaku hidup bersih dan sehat perlu terus ditingkatkan.

Diarrhea is defined as defecation occurring more than three times per day with loose  or watery stools as a symptom of intestinal infection caused by various bacteria,  viruses, or parasites that may spread through unsafe drinking water, contaminated  food, and poor hygiene practices. In Depok City, diarrhea cases were still reported  during the 2021–2024 period, indicating that household drinking water quality  remains an important public health concern. This study aimed to analyze the  association between microbiological and chemical parameters of drinking water  quality and the incidence of diarrhea among household members in Depok City  using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance. This  study employed a cross-sectional design involving 505 respondents. Data were  analyzed using frequency distribution and chi-square test with Fisher’s Exact test.  The results showed that the mean concentration of Escherichia coli was 2.48±12.79  CFU/100mL, while the mean pH value was 6.72±1.139. Most drinking water  samples were not contaminated with Escherichia coli (86.7%). For chemical  parameters, the majority of samples met the required standards; however,  hexavalent chromium was predominantly categorized as not meeting the standards  (94.9%). Statistical analysis showed no significant association between  microbiological and chemical drinking water quality parameters and diarrhea  incidence (p=0,629 and p=1,000). Environmental sanitation factors, drinking water  facility conditions, water treatment practices, and sociodemographic factors were  also not associated with diarrhea incidence. Therefore, promotive and preventive  efforts regarding safe drinking water and clean and healthy living behaviors should continue to be strengthened.
Read More
S-12245
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Wina Syahira; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan gangguan gastrointestinal yang setiap tahunnya terdapat sekitar 1 juta orang meninggal melalui air minum dan sanitasi tidak aman. Rumah tangga dengan akses sumber air minum layak pada 2025 hanya 93,22% dari target nasional 100% pada 2024. Diare konsisten berada dalam 10 penyakit tertinggi di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (kualitas mikrobiologi E. coli, jenis sumber air minum, lokasi sumber air minum, jarak sumber air minum dengan sumber pencemar, dan jenis tempat penyimpanan air minum), faktor perilaku (pengolahan air minum), dan faktor sosiodemografi (pendidikan, usia, dan pekerjaan) dengan kejadian diare di Kota Depok 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT). Analisis data mencakup univariat, bivariat dengan Chi-Square, dan multivariat dengan regresi logistik. Ditemukan hubungan antara kualitas mikrobiologis (E. coli) (p=0,026) dan jarak sumber air dengan septik tank (p=0,030) terhadap kejadian diare di Kota Depok. Kualitas mikrobiologis merupakan faktor dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi air yang tidak memenuhi syarat memiliki peluang kejadian diare 1,97 kali dibandingkan dengan rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi yang memenuhi syarat (95%CI:1,133–3,435). Diperlukan kerjasama berbagai pihak dalam penyelenggaraan edukasi, pengawasan kualitas air minum, serta sanitasi aman.

Diarrhea is a gastrointestinal disorder that claims the lives of approximately 1 million people each year due to unsafe drinking water and sanitation. By 2025, only 93.22% of households have access to safe drinking water, falling short of the national target of 100% by 2024. Diarrhea consistently ranks among the top 10 diseases in Depok City. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (microbiological quality of E. coli, drinking water source, location of the drinking water source, distance between the drinking water source and pollution sources, and drinking water storage), behavioral factors (drinking water treatment), and sociodemographic factors (education, age, and occupation) and the incidence of diarrhea in Depok City in 2025. The study used a cross-sectional design with secondary data from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). Data analysis included univariate, bivariate analysis using the Chi-Square test, as well as multivariate analysis using logistic regression. Results showed an association between microbiological quality (E. coli) (p=0.026) and the distance between water source and the septic tank (p=0.030) and the incidence of diarrhea in Depok City. Microbiological quality was the most dominant factor influencing the incidence of diarrhea. Households with microbiological quality that do not meet standards had 1.97 times higher odds of experiencing diarrhea compared to households with microbiological quality that meets the standards (95%CI:1,133–3,435). Collaboration among various stakeholders is needed to provide education, monitor drinking water quality, and ensure safe sanitation regarding septic tanks.
Read More
S-12259
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Suryani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Harnita
Abstrak:
Air minum merupakan kebutuhan esensial yang harus dipenuhi setiap harinya. Air minum yang terkontaminasi oleh bakteri patogen akan memberikan gangguan kesehatan bagi individu yang meminumnya. Kota Jambi merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Jambi. Sumber air minum terbanyak yang digunakan adalah air minum isi ulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas bakteriologis air minum isi ulang, gambaran proses produksinya dilihat dari upaya pengamanan, penyehatan dan higiene sanitasi serta melihat hubungan dan faktor dominan yang mempengaruhi kualitas bakteriologis air minum isi ulang di Kota Jambi. Desain yang digunakan adalah potonng lintang dan dilakukan di Kota Jambi pada Januari – Februari 2023. Hasil menunjukkan 9,4% sampel belum memenuhi kualitas bakteriologis dan beberapa aspek yang belum terpenuhi pada upaya pengamanan adalah pemeriksaan air baku (56,3%), frekuensi penggantian sikat pencuci (50%) dan durasi pembilasan (66,7%). Pada upaya penyehatan ialah masa pakai media tabung filter (53,1%), tidak ada sistem pengurutan mikrofilter (52,1%) dan masa pakai lampu UV (58,3%). Sedangkan pada upaya higiene sanitasi ialah penggunaan pakaian khsus kerja (58,3%), tidak memiliki tempat sampah tertutup (83,3%) dan tidak memiliki tempat mencuci tangan disertai dengan sabun (55,2%). Variabel yang berhubungan dengan kualitas bakteriologis ialah upaya penyehatan (OR = 11,72; 95% CI; 2,25 – 60,98) dan higiene sanitasi air minum (OR = 10,34; 95% CI; 1,99 – 53,53). Variabel dominan berurutan ialah upaya penyehatan air minum (OR = 8,11; 95% CI: 0,76 – 86,02), higiene sanitasi (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31), dan upaya pengamanan (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).

Drinking water is an essential need that must be fulfilled every day. Drinking contaminated water with pathogenic bacteria will cause health problems for individuals who drink it. Jambi City is the area with the largest population in Jambi Province. The most used source of drinking water is refilled drinking water.This research was conducted to give an overview of bacteriology quality of refilled drinking water, an overview of the treatment process in terms of security, health and sanitation efforts and to look at the relationship and dominant factors that influence the bacteriology quality of refilled drinking water in Jambi City. The design used is cross-sectional and carried out in Jambi City from January to February 2023. The results show that 9.4% of the samples did not meet bacteriology quality and several aspects that have not been fulfilled in the security efforts are the frequency of raw water inspection (56.3%), the replacement frequency of washing brush (50%) and rinsing duration ( 66.7%). The health efforts are the expired date of the filter tube media (53.1%), no microfilter sorting system (52.1%) and the expired date of the UV lamp (58.3%). Whereas in sanitation and hygiene efforts are the use working uniform (58.3%), not having closed trash bins (83.3%) and not having a place to wash hands properly accompanied with soap (55.2%). Variables related to bacteriology quality were sanitation efforts (OR = 11.72; 95% CI; 2.25 – 60.98) and sanitation hygiene efforts (OR = 10.34; 95% CI; 1.99 – 53, 53). The dominant variable respectively are health efforts (OR = 8.11; 95% CI: 0.76 – 86.02), sanitation and hygiene effort (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31) and security effort (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).
Read More
T-6633
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reviona Wardani Arbi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan berbasis lingkungan yang berkaitan dengan kualitas air minum dan sanitasi rumah tangga. Kontaminasi mikrobiologi pada air minum, terutama akibat pencemaran fekal, dapat meningkatkan risiko terjadinya diare. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga dengan kejadian diare di Kota Depok, dengan menggunakan pendekatan teori triad epidemiologi yang menekankan interaksi antara agent, host, dan environment dalam proses terjadinya penyakit. Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan memanfaatkan data sekunder SKAMRT Kota Depok tahun 2025. Variabel independen yang dianalisis yaitu kontaminasi mikrobiologi air minum, dan variabel confounding meliputi, sumber air minum, jarak sumur dengan septic tank, pengolahan air minum, dan perilaku pembersihan wadah air minum. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel jarak sumur dengan septic tank yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare (p = 0,03; OR = 2,41; 95% CI: 1,14–5,1). Analisis multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur dengan septic tank merupakan faktor dominan terhadap kejadian diare (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sanitasi lingkungan, khususnya jarak sumber air dengan septic tank, masih menjadi faktor penting dalam pencegahan diare di Kota Depok


Diarrhea remains one of the major environmental health problems associated with drinking water quality and household sanitation. Microbiological contamination in drinking water, particularly due to fecal pollution, may increase the risk of diarrheal disease. This study aimed to analyze the relationship between the microbiological quality of household drinking water and the incidence of diarrhea in Depok City using the epidemiological triad theory approach, which emphasizes the interaction between agent, host, and environment in the occurrence of disease. This study employed a case-control design utilizing secondary data obtained from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT) of Depok City in 2025. The independent variable analyzed was microbiological contamination of drinking water, while the confounding variables included drinking water source, distance between wells and septic tanks, drinking water treatment practices, and cleaning behavior of household water storage containers. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed that only the distance between wells and septic tanks had a significant association with diarrheal incidence (p = 0.03; OR = 2.41; 95% CI: 1.14–5.1). Multivariate analysis further indicated that the distance between wells and septic tanks was the dominant factor associated with diarrhea incidence (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). This study demonstrates that environmental sanitation factors, particularly the proximity of water sources to septic tanks, remain important determinants in diarrhea prevention efforts in Depok City.

Read More
S-12250
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive