Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40675 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Putu Diah Utami Darmayanti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Vetty Yulianty Permanasari, Dina Hanum, Vitrie Winastri
Abstrak:
Persediaan obat yang tidak optimal di rumah sakit dapat berdampak serius terhadap mutu pelayanan kesehatan, efisiensi operasional, dan keselamatan pasien. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah kekosongan obat, termasuk antibiotik, yang dapat menyebabkan penundaan pengobatan, peningkatan risiko resistensi, serta kerugian finansial akibat back order dan kehilangan penjualan. RS Jakarta sebagai rumah sakit swasta tipe C mengalami 98 kejadian obat kosong selama periode Januari 2024 hingga Maret 2025, dengan 16 kejadian di antaranya adalah kekosongan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan antibiotik di Instalasi Farmasi RS Jakarta menggunakan metode kombinasi ABC-VEN, serta menghitung kebutuhan safety stock dan reorder point (ROP).  Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder selama April 2024 hingga Maret 2025, dan data primer berupa hasil kuesioner VEN. Antibiotik dalam penelitian ini dibagi menjadi kategori reguler dan mata sesuai dengan sediaan. Analisis dilakukan dalam beberapa tahap: analisis ABC nilai investasi, analisis VEN, dan kombinasi analisis ABC-VEN. Selanjutnya dilakukan perhitungan safety stock dan ROP untuk setiap item antibiotik. Evaluasi kinerja dilakukan dengan membandingkan nilai persediaan dan ITOR sebelum dan setelah simulasi perhitungan. Simulasi menunjukkan penurunan nilai persediaan hingga berkisar 28 juta rupiah hingga 62 juta rupiah per bulan, atau sekitar 27%-59% dari persediaan aktual. Selain itu hasil simulasi menunjukan peningkatan nilai ITOR berkisar antara 0,68 hingga 2,66. Maka dapat disimpulkan, metode kombinasi ABC-VEN yang dikombinasikan dengan perhitungan safety stock dan ROP terbukti efektif dalam mengoptimalkan perencanaan persediaan antibiotik di RS Jakarta. 

Inefficient drug inventory management in hospitals can have serious implications for service quality, operational efficiency, and patient safety. A frequent issue is stock-outs, particularly of antibiotics, which may lead to delays in treatment, heightened risk of antimicrobial resistance, and financial losses due to back orders and missed sales opportunities. RS Jakarta, a private Type C hospital, recorded 98 stock-out events between January 2024 and March 2025, 16 of which involved antibiotics. This study aims to evaluate the management of antibiotic inventory at the Pharmacy Department of RS Jakarta by applying the combined ABC-VEN classification method, alongside calculations of safety stock and reorder points (ROP). The study adopts an operational research design with a descriptive quantitative approach. Data sources include secondary data collected from April 2024 to March 2025 and primary data obtained through a VEN classification questionnaire. Antibiotics were categorized into regular and ophthalmic groups based on their dosage forms. The analysis consisted of several steps: ABC analysis based on investment value, VEN categorization, and the integration of both into a combined ABC-VEN matrix. Subsequently, safety stock and ROP were calculated for each antibiotic item. Output  was evaluated by comparing inventory value and the Inventory Turnover Ratio before and after simulation. The simulation results indicated a monthly reduction in inventory value ranging from approximately IDR 28 million to IDR 62 million, representing a 27%–59% decrease compared to the actual inventory. Furthermore, the ITOR values increased by a range of 0.68 to 2.66. These findings suggest that the integration of the ABC-VEN method with safety stock and ROP calculations is an effective strategy for optimizing antibiotic inventory planning at RS Jakarta.
Read More
B-2522
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuki Melati Indriana; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Helen Andriani, Adang Bachtiar, Dyah Eko Judihartanti, Hari Sulistiyono
Abstrak: Mendaki gunung telah menjadi salah satu pilihan aktivitas luar ruangan dengan pertumbuhan peminat paling cepat. Beberapa motivasi individu yang mendorong individu untuk terlibat dalam aktivitas pendakian gunung antara lain untuk mendapatkan pengalaman di alam bebas, relaksasi, kegiatan kebugaran, pengurangan stress, mendapatkan kesenangan, dan untuk alasan kesehatan. Pada aktivitas pendakian Gunung Ciremai, jumlah pendaki mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebanyak 41.460 pendaki melakukan aktivitas pendakian sepanjang tahun 2017 dan meningkat menjadi 46.995 pendaki sepanjang tahun 2018. Sejumlah risiko yang terlibat dalam aktivitas pendakian gunung seperti intensitas cidera fisik yang parah hingga kematian menjadikan pendakian gunung sebagai salah satu olahraga ekstrim. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan analisis yang bertujuan untuk melakukan manajemen risiko pada aktivitas dan jalur pendakian Gunung Ciremai. Dari hasil identifikasi risiko diketahui risiko yang paling sering muncul dalam aktivitas pendakian gunung ciremai adalah terjatuh dan tergelincir. Kemudian, hasil analisis risiko menunjukkan sejumlah potensi bahaya juga memiliki nilai risiko yang cukup tinggi meliputi faktor cuaca, perilaku berlari ketika turun gunung, dan tidak lengkapnya peralatan pendakian. Faktor cuaca memiliki peran yang cukup besar dalam terjadinya sejumlah insiden seperti dehidrasi, hipotermia, dan pohon tumbang. Faktor cuaca ini semakin diperparah dengan ketidak lengkapan dan ketidak sesuaian peralatan pendakian yang digunakan untuk aktivitas pendakian gunung, sehingga menyebabkan risiko pendaki untuk berada dalam situasi berbahaya semakin tinggi. Perilaku ini berkaitan dengan persepsi risiko pendaki terhadap aktivitas pendakian. Persepsi risiko ini juga mempengaruhi perilaku berisiko yang dilakukan oleh pendaki seperti berlari ketika turun gunung
Read More
B-2233
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmat Yurdiansyah; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Yahya Ulumuddin, Endang Adriyani
Abstrak:
Manajemen pengelolaan obat sering kali menjadi masalah utama dalam pelayanan farmasi di rumah sakit, terutama dalam proses perencanan dan pengadaan. Masalah tersebut tentunya berdampak pada persediaan obat yang ada dirumah sakit. Penelitian ini ingin menganalisis perencaan obat yang ada di Instalasi Farmasi RS H.L. Manambai Abdulkadir serta melakukan pengendalian persediaan dengan metode minimum maksimum stok level dengan melihat angka safety stock, stok minimum dan stok maksimum persediaan obat di Instalaasi Farmasi . Setelah melakukan pengendalian persediaan dengan metode tersebut dilakukan penilaian terhadap keberhasilan pengendalian dengan menggunakan indikator pengendalian seperti ketepatan perencanaan, perhitungan nilai stock out, perhitungan nilai backorder, perhitungan nilai over stock obat, ITOR dan Fill rate. Hasil penelitian menunjukan Nilai stock out, backorder cost, ITOR dan Fillrate di Instalasi Farmasi diukur pada bulan Januari – April 2024. Dengan hasil rata rata berturut-turut adalah 496 stock out dengan nilai backorder cost sebesar Rp. 45.102.095. Rasio ITOR dengan kisaran 0,88 - 1,12 serta nilai filrate dengan rata-rata 97,35%. Hasil impelentasi analisis metode MMSL pada bulan mei 2024 memberikan dampak positif terhadap penurunan angka stock out, backorder cost, dan fillrate. Namun tidak berdampak signifikan terhadap nilai ITOR, hal ini disebabkan sebelum implementasi dilakukan instalasi farmasi memiliki nilai persediaan obat yang sangat tinggi terutama untuk obat-obatan slow moving atau kategori C ABC Volume. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan obat di Instalasi farmasi RS H.L Manambai Abdulkadir efektif terhadap nilai stock out, backorder cost dan fillrate, tetapi belum efektif dalam nilai ITOR karena masih tingginya nilai persediaan obat.

Medication management often presents a major challenge in hospital pharmacy services, particularly in the planning and procurement processes. These issues significantly impact the inventory of medications available in hospitals. This study aims to analyze the medication planning at the Pharmacy Installation of H.L. Manambai Abdulkadir Hospital and to implement inventory control using the minimum-maximum stock level method by examining the safety stock, minimum stock, and maximum stock levels of medications. After implementing inventory control with this method, the success of the control was evaluated using control indicators such as planning accuracy, stock out value calculation, backorder value calculation, overs tock value calculation, ITOR (Inventory Turnover Ratio), and fill rate. The results of the study showed that the values of stock out, backorder cost, ITOR, and fill rate at the Pharmacy Installation were measured from January to April 2024. The average results were 496 stock outs with a backorder cost of IDR 45,102,095, an ITOR ratio ranging from 0.88 to 1.12, and an average fill rate of 97.35%. The implementation of the MMSL method analysis in May 2024 had a positive impact on reducing stock out numbers, backorder costs, and fill rate. However, it did not significantly affect the ITOR value, as the pharmacy installation had a very high inventory value prior to implementation, especially for slow-moving drugs or category C ABC Volume. Therefore, it can be concluded that the inventory control of medications at the Pharmacy Installation of H.L. Manambai Abdulkadir Hospital is effective in terms of stock out value, backorder cost, and fill rate, but not yet effective in ITOR value due to the still high inventory value of medications.
Read More
B-2458
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endah Gusnita; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, R. Soeko W. Nindito D., Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:
Latar belakang: Pelayanan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang wajib diselenggarakan secara efektif dan efisien oleh rumah sakit, termasuk dalam hal pengelolaan persediaan farmasi. Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional memiliki tantangan dalam menjaga ketersediaan obat kanker yang bernilai tinggi dan berisiko kritis. Berdasarkan data capaian indikator Rasio Beban Persediaan Farmasi terhadap Pendapatan Operasional pada periode September–Desember 2024, diketahui bahwa nilai rasio tersebut tidak mencapai target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Hal ini mengindikasikan perlunya evaluasi terhadap sistem pengendalian persediaan farmasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas analisis ABC-VEN dalam pengendalian persediaan farmasi di RSK Dharmais. Metode: Penelitian menggunakan desain operational research dengan pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam kepada informan kunci serta data sekunder dari SIMRS dan laporan rumah sakit tahun 2024. Analisis dilakukan terhadap seluruh item obat yang termasuk dalam formularium rumah sakit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengelompokan ABC, kelompok A berdasarkan jumlah pemakaian terdiri dari 79 item (6,11%) yang menyumbang 69,93% nilai penggunaan, dan berdasarkan nilai investasi terdiri dari 107 item (8,27%) dengan kontribusi 69,97% dari total investasi. Kelompok obat esensial mendominasi dengan proporsi 79,60% (1.030 item), diikuti oleh kelompok non-esensial 11,90% dan vital 8,50%. Kombinasi analisis ABC-VEN menunjukkan bahwa sebagian besar obat prioritas tinggi adalah obat kanker. Simulasi ITOR menunjukkan bahwa tingkat perputaran persediaan dapat ditingkatkan, sehingga manajemen stok menjadi lebih efisien dan adaptif terhadap kebutuhan klinis. Kesimpulan: Analisis ABC-VEN terbukti efektif dalam mengidentifikasi prioritas pengendalian dan optimalisasi pengelolaan obat kanker di RSK Dharmais, serta berkontribusi dalam peningkatan efisiensi logistik farmasi rumah sakit.Background: Healthcare services are a fundamental right of every citizen and must be delivered effectively and efficiently by hospitals, including the management of pharmaceutical inventories. Dharmais Cancer Hospital, as the National Cancer Center Hospital in Indonesia, faces significant challenges in ensuring the availability of high-cost and critically important cancer drugs. Based on the performance indicator of the Pharmaceutical Inventory Cost Ratio to Operational Revenue for the period of September to December 2024, it was found that the ratio consistently failed to meet the targets set by the Ministry of Health. This condition highlights the need for an evaluation of the pharmaceutical inventory control system. Purpose: This study aims to evaluate the effectiveness of the ABC-VEN analysis in controlling pharmaceutical inventory at Dharmais Cancer Hospital. Method: This research employs an operational research design with a mixed-method approach, incorporating both qualitative and quantitative data. Primary data were collected through in-depth interviews with key informants, while secondary data were obtained from the Hospital Information Management System (SIMRS) and institutional reports from the year 2024. The analysis was conducted on all pharmaceutical items listed in the hospital formulary. Results: The results show that in the ABC classification, Class A drugs based on usage volume included 79 items (6.11%) which accounted for 69.93% of total drug usage value, while based on investment value, 107 items (8.27%) represented 69.97% of total inventory value. Essential drugs dominated the VEN classification with 79.60% (1,030 items), followed by non-essential drugs at 11.90% and vital drugs at 8.50%. The ABC-VEN matrix revealed that most high-priority drugs were cancer medications. ITOR simulation results indicated that inventory turnover could be significantly improved, leading to more efficient and responsive stock management aligned with real clinical needs. Conclusion: ABC-VEN analysis proved effective in identifying inventory control priorities and optimizing the management of cancer drugs at Dharmais Cancer Hospital, thereby enhancing pharmaceutical logistics efficiency.

Read More
T-7387
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irmawati Ummi Masitha; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Syaifuddin Zuhri
S-6134
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rasendah; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Fitri Nurhayati, Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:
Pengendalian persediaan obat merupakan komponen penting dalam manajemen logistik farmasi rumah sakit karena berpengaruh langsung terhadap kesinambungan pelayanan, keselamatan pasien, serta efisiensi penggunaan anggaran. RSUP Persahabatan sebagai rumah sakit rujukan nasional mengelola jumlah item obat yang besar dengan kebutuhan klinis yang beragam. Dalam pelaksanaannya, Instalasi Farmasi masih menghadapi permasalahan berupa tingginya kejadian kekosongan obat (stock out) dan adanya penumpukan obat (stagnant stock), termasuk pada obat dengan nilai investasi tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengendalian persediaan yang berjalan belum sepenuhnya efektif dan adaptif terhadap dinamika kebutuhan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengendalian persediaan stok farmasi dalam mengurangi kejadian stock out dan stagnant stock di Instalasi Farmasi RSUP Persahabatan dengan menggunakan pendekatan Operational Research. Penelitian menggunakan desain mixed methods dengan pendekatan sequential explanatory. Data kuantitatif diperoleh dari seluruh item obat yang tercatat dalam sistem persediaan selama periode Mei–Oktober 2025 sebanyak 2.291 item. Analisis dilakukan menggunakan metode ABC–VEN untuk menentukan prioritas obat, serta model Economic Order Quantity (EOQ) dan Reorder Point (ROP) sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam pengendalian persediaan. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengendalian stok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 2.291 item obat yang dikelola, terdapat 131 item obat Pareto A dengan nilai investasi bulan Oktober 2025 sebesar Rp6.788.411.815. Pada kelompok Pareto A masih ditemukan 211 item obat stagnant sebesar Rp444.994.656 (6,56%) serta kejadian stock out sebesar 20,4%. Perhitungan EOQ dan ROP menunjukkan adanya variasi antar item obat, sehingga pengendalian persediaan tidak dapat diterapkan secara seragam. Simulasi berbasis what-if analysis menunjukkan bahwa penerapan pengendalian persediaan terintegrasi berbasis ABC–VEN, EOQ, dan ROP berpotensi meningkatkan efektivitas pengendalian stok, efisiensi anggaran farmasi, serta kesinambungan pelayanan kesehatan di rumah sakit

Drug inventory control is an essential component of hospital pharmaceutical logistics management because it directly affects service continuity, patient safety, and the efficiency of budget utilization. RSUP Persahabatan, as a national referral hospital, manages a large number of drug items with diverse clinical needs. In its implementation, the Pharmacy Installation still faces problems in the form of a high incidence of drug shortages (stock out) and the accumulation of drugs (stagnant stock), including drugs with high investment value. This condition indicates that the existing inventory control system has not been fully effective and adaptive to the dynamics of service needs. This study aims to analyze the effectiveness of pharmaceutical inventory control in reducing the incidence of stock out and stagnant stock in the Pharmacy Installation of RSUP Persahabatan using an Operational Research approach. The study employed a mixed methods design with a sequential explanatory approach. Quantitative data were obtained from all drug items recorded in the inventory system during the period of May–October 2025, totaling 2,291 items. The analysis was conducted using the ABC–VEN method to determine drug priorities, as well as the Economic Order Quantity (EOQ) and Reorder Point (ROP) models as decision-support tools in inventory control. Qualitative data were obtained through in-depth interviews with key informants to identify internal and external factors influencing inventory control. The results show that of the 2,291 drug items managed, 131 items were classified as Pareto A, with an investment value of IDR 6,788,411,815 in October 2025. Within the Pareto A group, 211 stagnant items were identified with a total value of IDR 444,994,656 (6.56%), and stock-out events were observed in 20.4% of the items. The EOQ and ROP calculations revealed considerable variation among drug items, indicating that inventory control cannot be applied uniformly. A scenario-based what-if analysis suggests that the implementation of integrated inventory control using ABC–VEN, EOQ, and ROP has the potential to improve stock control effectiveness, pharmaceutical budget efficiency, and the continuity of healthcare services in the hospital.
Read More
B-2568
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benedicta Dwi Ariyanti; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Vetty Yulainty Permanasari, Kemala Sari
Abstrak: Rumah sakit memiliki fungsi utama yaitu menyelenggarakan kesehatan yangparipurna melalui usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayananfarmasi merupakan kegiatan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pelayanankesehatan pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada pelayanan pasien danpenyediaan obat yang bermutu. Pada data pemakaian obat pada tahun 2011didapat total investasi RS untuk pembelian obat antibiotik sebesar Rp.1.866.502.206 dan terjadi kekosongan pada persediaan obat sehingga pemberianobat kepada pasien tidak tepat jumlah. Penelitian ini menggunakan analisis ABCuntuk mengetahui pengelompokan obat berdasarkan katagori A, B dan C sertaperhitungan EOQ dan ROP. Pengumpulan data dilakukan dengan telaahdokumen, kuesioner dan wawancara mendalam kepada informan. Hasil penelitianini menunjukkan obat kelompok A terdiri dari 11 item obat dengan persentase sebesar 4,25 % dari total obat dengan nilai investasi Rp. 876.329.723. Padakelompok B terdiri 96 item obat dengan persentase 37, 07 % dari total obatdengan nilai investasi Rp. 785.005.348. Sedangkan sisanya, 152 item obat dengan persentase 58, 68 % dari total obat dengan nilai investasi Rp. 205.166.955merupakan kelompok C. Sedangkan perhitungan ekonomis pada kelompok Adidapat bervariasi antara 3 hingga 67 unit untuk sekali pesan. Sedangkan ROP untuk obat kelompok A indeks kritis didapat titik pesan kembali untuk obatantibiotik bervariasi dari 9 hingga 126 unit. Untuk mengantisipasi terjadinyakekurangan obat (stock out), maka ROP dapat dikombinasikan dengan safetystock. Dari hasil penelitian, rumah sakit melakukan analisis ABC untuk mengetahui kelompok obat sehingga dapat dilakukan pengawasan yang ketat.

Kata kunci : Analisis ABC, Pengendalian Obat, Farmasi
The hospital has a main function that is held through a joint plenary healthpromotive, preventive, curative and rehabilitative. Pharmacy services are anintegral part of the activities of the health care system-oriented health services andthe provision of patient care quality medicines. On drug consumption in 2011obtained a total investment of RS to purchase antibiotics Rp. 1,866,502,206 and avacancy occurs on the drug supply so that application of the drug is notappropriate number. This study uses ABC analysis to determine the classificationof drugs based on category A, B and C as well as the calculation of EOQ andROP. Results was collected through document review, questionnaires andinterview the informant. The results of this study showed the drug group Aconsisted of 11 items with a percentage of the drug is 4.25% of the total drugswith an investment of Rp. 876.329.723. In group B, comprised 96 items with apercentage of 37,07% of the total drugs with an investment of Rp. 785.005.348. Ingroup C have 152 items with a percentage of the drug 58,68% of the total drugwith an investment of Rp. 205.166.955. While the economic calculations in groupA gained varies between 3 and 67 units for a single message. While the ROP forthe drug group A critical indices obtained reorder point for antibiotics varies from9 to 126 units. To anticipate stock out, then the ROP can be combined with thesafety stock. From the research, hospitals ABC analysis to determine the drug so itcan be done surveillance.

Key : ABC analysis, inventory control, farmacy
Read More
S-7667
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raden Chandra Meydia Kundrawan; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Diah Anggraini, Pita Aprilia
Abstrak:
Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang yang berfungsi dalam pengelolaan obat, bahan medis habis pakai dan alat kesehatan di rumah sakit. Ketersediaan obat merupakan faktor yang sangat penting dalam pelayanan rumah sakit dan dapat menentukan mutu pelayanan rumah sakit. RSUD Kalideres melakukan peminjaman obat kepada beberapa instansi untuk mengatasi kekosongan obat pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode Lean dan ABC-VEN dalam meningkatkan pengelolaan dan perencanaan obat. Penelitian ini menggunakan metode Lean dalam menganalisis proses pengelolaan dan perencanaan obat untuk mengetahui Current State Stream Map, mengidentifikasi Value Added, Non Value Added dan Waste serta mengimplementasikan Future Stream Map. Metode ABC-VEN digunakan untuk mengklasifikasikan obat sebagai acuan dalam pembuatan kebijakan pengelolaan dan perencanaan obat. Hasil penelitian ditemukan waste overprocessing, overproduction dan waiting dalam proses pengelolaan dan perencanaan obat sehingga dilakukan intervensi dengan pembaruan Standar Prosedur Operasional dan penerapan spreadsheet inventory. Pada ABC Pemakaian, Klasifikasi A sebanyak 11,7%, Klasifikasi B 20,1%, Klasifikasi C 68,2%.  Pada ABC Investasi didapatkan Obat Klasifikasi A 17,2%, Klasifikasi B 29,9%, Klasifikasi C 52,9%. Obat Klasifikasi V 13,6%, Klasifikasi E 80,2%, Klasifikasi N 6,2%. Kesimpulan pengelolaan dan perencanaan obat masih termasuk ke dalam proses un-LEAN dan belum mampu merespon terjadinya peningkatan kebutuhan pelayanan pasien. Penerapan metode Lean dapat mempersingkat proses pengelolaan dan perencanaan obat. Hasil penerapan metode ABC dapat menjadi acuan dalam proses pengelolaan dan perencanaan obat selanjutnya.


Pharmaceutical services are supporting services that function in the management of drugs, disposable medical materials and medical devices in hospitals. The availability of drugs is a very important factor in hospital services and can determine the quality of hospital services. Kalideres Regional Hospital borrows drugs from several agencies to overcome drug shortages in 2024. This study aims to determine the application of the Lean and ABC-VEN methods in improving drug management and planning. This study uses the Lean method in analyzing the drug management and planning process to determine the Current State Stream Map, identify Value Added, Non Value Added and Waste and implement the Future Stream Map. The ABC-VEN method is used to classify drugs as a reference in making drug management and planning policies. The results of the study found waste overprocessing, overproduction and waiting in the drug management and planning process so that interventions were carried out by updating Standard Operating Procedures and implementing spreadsheet inventory. In ABC Usage, Classification A was 11.7%, Classification B 20.1%, Classification C 68.2%. In ABC Investment, Classification A Drugs were 17.2%, Classification B 29.9%, Classification C 52.9%. Classification V Drugs 13.6%, Classification E 80.2%, Classification N 6.2%. The conclusion is that drug management and planning are still included in the un-LEAN process and have not been able to respond to the increasing need for patient services. The application of the Lean method can shorten the process of drug management and planning. The results of the application of the ABC method can be a reference in the process of further drug management and planning.
Read More
B-2552
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuniwati; Pembimbing: HM. Hafizurrachman; Penguji: Peter AW. Pattinama, Budi Hidayat, Luhut P. Sirait
Abstrak: Latar Belakang Dari pengeluaran Rumah Sakit Jiwa “Soeharto Heerdjan” tahun 2004, untuk pembelanjaan khusus obat sebesar 48,5% total pembelanjaan barang farmasi. Belum adanya perencanaan dan pengendalian yang sistematis dan efektif. Tujuan Menyusun perencanaan dan pengendalian obat-obat yang lebih terarah dan sistematis di Instalasi Farmasi dengan menentukan jumlah pemesanan yang optimum dan ekonomis. Metode Merupakan penelitian operasional riset, dengan analisis kuantitatif menggunakan Analisa ABC, Analisa ABC Indeks Kritis, metode peramalan Time Series Forecasting dan perhitungan EOQ dan ROP. Hasil Terdapat 11 item obat yang termasuk kelompok A Hasil Analisa ABC Indeks Kritis. Jadi dengan mengawasi 11 item ini sudah mengontrol hampir 70% dari total investasi. Untuk Prakiraan kebutuhan dengan 2 metode peramalan yaitu Exponential Smoothing With Linear Trend dan Double Exponential Smoothing With Linear Trend. Hasil perhitungan EOQ, Rumah Sakit Jiwa “Soeharto Heerdajn” dapat menghemat sebesar Rp. 6.108.717,- dari total biaya yang harus dikeluarkan. Kesimpulan Untuk perencanaan obat menggunakan EOQ dan ROP dengan prakiraan kebutuhan menggunakan metode peramalan dan untuk pengendalian menggunakan Analisa ABC dan Analisa ABC Indeks Kritis. Kata Kunci: Analisis Persediaan Obat
Background In “Soeharto Heerdjan” Mental Hospital the total of hospital expenses is 35% is for pharmaceutical goods purchase, and of the total, 47,8% is for drug expense. This Hospital also does not have a good planning in budgeting. Objectives Results of this research is making the drug planning and control that is more oriented and systematic at its Pharmaceutical Installation with determining the number of optimum and economical drug order Methods This is a Riset Operational Research, with Kuantitative Analysis and used ABC Analysis and ABC Critical Index, methods of estimating test of Time Series Forecasting, with the EOQ and ROP calculation. Results To control the drug stock, ABC Analysis and ABC Critical Index is conducted so results of Group A is obtained of ABC Critical Index consisting of 11 drug items. With controlling 11 drug items in the Group A have included 70% of the all investment values. Two methods of estimating test of Time Series Forecasting is conducted to estimate the needs for the quarterly period . Total value of total expenses / Cost of EOQ calculation result gives much better “Soeharto Heerdjan” Mental Hospital result saving Rp. 6.108.717,- Conclusions To have a good drugs planning, we can use EOQ and ROP with methods of estimating test of Time Series Forecasting is conducted to estimate the needs and for a good drugs controling, we can use ABC Analysis and ABC Critical Index. Keywords. Analysis of Drugs Planning
Read More
B-908
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive