Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20472 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yundri Martiraz; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wachyu Sulistiadi, Frizar Irmansyah, Chairulsjah
Abstrak:
Dengan kemajuan dalam bidang kedokteran yang terus menerus melakukan peningkatan perbaikan layanan demi kepuasan dan keselamatan pasien yang lebih baik. ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Section) merupakan suatu kemajuan dalam layanan kedokteran terutama dalam bidang obstetric, dimana pendekatan multimodal dalam persiapan pre operasi, intra operasi, dan juga pasca operasi. ERACS merupakan kolaborasi multidisplin yang sangat menentukan keberhasilan luaran dari ERACS, kolaborasi anatar dokter spesialis obgyn, dokter spesialis anastesi, perawat/bidan, dan juga pasien itu sendiri. ERACS juga telah dilaksakan di RSIA Kemang Medical Care sejak November 2021 dan masih menjadi pilihan layanan untuk pasien yang akan melahirkan secara operasi terencana/elektif sampai dengan saat ini. Untuk itu dalam upaya untuk menjamin mutu pelayanan di RSIA Kemang Medical Care, maka perlu untuk mengukur efektivitas (length of stay, nyeri, dan biaya) dari penerapan protocol ERACS di RSIA Kemang Medical Care tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kuantitatif cross sectional. Dimana data yang diambil merupakan data sekunder untuk melihat kepatuhan penerapan protocol ERACS yang dilihat berdasarkan daftar tilik ERACS RSIA Kemang Medical Care. Selain itu juga melihat kepatuhan masing-masing tenaga kesehatan yang terlibat begitu juga dengan kepatuhan pasien yang menjalankan proyokol ERACS. Wawancara dilakukan kepada beberapa pihak manajemen sebagai pemangku kebijakan untuk memperkuat hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis statistik, dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p value 0,04) antara kepatuhan penerapan protocol ERACS terhadap efektivitas ERACS di RSIA Kemang Medical Care. Dimana setiap kepatuhan penerapan protocol ERACS akan berpengaruh sebesar 8 kali terhadap efektivitas ERACS di RSIA Kemang Medical Care pada tahun 2022.

With advances in the medical field, we are continuously improving services for better patient satisfaction and safety. ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Section) is an advancement in medical services, especially in the field of obstetrics, where there is a multimodal approach in pre-operative, intra-operative and also post-operative preparation. ERACS is a multidisciplinary collaboration that really determines the success of ERACS outcomes, collaboration between ob-gyn specialists, anesthesiologists, nurses/midwives, and also the patients themselves. ERACS has also been carried out at RSIA Kemang Medical Care since November 2021 and is still the service of choice for patients who are going to give birth via planned/elective surgery until now. For this reason, in an effort to guarantee the quality of service at RSIA Kemang Medical Care, it is necessary to measure the effectiveness (length of stay, pain and costs) of implementing the ERACS protocol at RSIA Kemang Medical Care in 2022. This research uses a quantitative cross sectional study approach. Where the data taken is secondary data to see compliance with the implementation of the ERACS protocol which is seen based on the RSIA Kemang Medical Care ERACS checklist. Apart from that, it also looks at the compliance of each health worker involved as well as the compliance of patients who carry out the ERACS procedure. Interviews were conducted with several management parties as policy makers to strengthen the research results. Based on the results of statistical analysis, it was stated that there was a significant relationship (p value 0.04) between compliance with the implementation of the ERACS protocol and the effectiveness of ERACS at RSIA Kemang Medical Care. Where every compliance with the implementation of the ERACS protocol will have an impact of 8 times on the effectiveness of ERACS at RSIA Kemang Medical Care in 2022.
 
Read More
B-2433
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jimmy Sakti Nanda Berguna; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Bambang Dwipoyono, Margaretha Irene Baptistarini
Abstrak:
Peningkatan angka operasi sectio caesarea, kebutuhan untuk meningkatkan pelayanan perioperatif yang memprioritaskan keselamatan pasien (patient safety) menjadi semakin mendesak. Enhanced Recovery After Caesarean Surgery telah diadopsi secara luas selama 10 tahun terakhir dipercaya dapat meningkatkan luaran klinis pascaoperasi. penelitian ini dirancang mengevaluasi implementasi serta memberikan rekomendasi penerapan ERACS di RS Permata Depok protokol ERACS yang diterapkan di RS Permata Depok belum pernah dievaluasi dari sudut pandang input, proses, dan output. Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi (mix methods). Desain kuantitatif yang dipilih adalah desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Permata Depok, pada bulan September-Desember 2023. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari segi input terdapat perbedaan daftar tilik pada edukasi preoperatif dan manajemen post-operatif SDM yang terlibat dalam ERACS sudah mencukupi, kecuali perawat anestesi. Fasilitas penunjang rumah sakit seperti gedung IGD, kamar bersalin, kamar operasi, dan ruang rawat sudah memadai untuk mengakomodasi kebutuhan ERACS. Obat-obatan yang tersedia di rumah sakit dari segi jumlah dan varian sudah memadai. Dari segi proses didapatkan bahwa kepatuhan terhadap protokol ERACS yang dinilai dari kelengkapan pengisian daftar tilik masih rendah yaitu 78%. Dari segi output didapatkan bahwa lama rawat inap SC ERACS lebih cepat, waktu hingga mobilisasi pasien SC ERACS lebih cepat yaitu 6 jam, kejadian infeksi luka operasi 0%, pasien 100% merasa puas. Perlu adanya pengkajian ulang terhadap daftar tilik, peningkatan teknologi digital, dan analisis ulang agar dapat diterapkan pada pasien JKN.

By the increasing of the caesare sectio operation, the needs to increase periopratif service prioritizing patient’s safety become urgent. Enhanced Recovery After Caesarean Surgery being addopted broadly in the past 10 years is believed can enhance clinical output post operation. This study was designed to evaluate the implementation and also to sugggest recommendations regarding the ERACS’s implementation at RS Permata Depok. The applied ERACS’s protocol at RS Permata Depok had been not evaluated from the view of input, process, and output. This study is mix method qualitative and quantitative by sequential exploratic’s design. The used qualitative’s approach is fenomenology’s approach. The choosen quantitative design is cross-sectional design. This study was conducted at Permata Depok Hospital from September to December 2023. The obtained result is from input there were differences at preorative education’s checklist and post operation management SDM involved in ERACS was sufficient except anestacy nurse. ICU Building, birthting room, operation room, inpatient room, also were sufficient to accommodate ERACS’s need. Drugs availability at hospital were also suficient both of variety and quantity. From a process perspective, the compliance to the ERACS’s protocol based on the checklist filled form’s completeness was low scoring, 78%. From output’s perspective gained that length of stay was short. Duration time to patient’s mobility was faster, 6 hours. Incident of wound inspection such as the wound post operation 0%. 100% people feel satisfied. It recommends restudying to digital technology improvement and re-analyzing to be applied to JKN patient.
Read More
B-2443
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Roswita; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Peter A. Darmaun
S-6032
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widarni; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Sandi Iljanto, Atik Nurwahyuni, Adelia U. Ady Mangilep
B-1337
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Nurhayati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto, WFP Kaunang, Yudianto Budi Saroyo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa hubungan penerapan operasi sesar metode ERACS (Enhanced Recovery After Sectio Surgery) dengan efisiensi biaya dan mutu layanan di RS Hermina Galaxy tahun 2022. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa dengan menggunakan metode ERACS pada pasien tindakan operasi bedah sesar didapatkan efektivitas biaya dengan mutu layanan yang baik. Mutu layanan yang dinilai pada penelitian ini adalah mobilisasi yang lebih cepat, lama hari rawat yang lebih singkat, dan infeksi daerah operasi tidak ditemukan. Disarankan pada RS Hermina Galaxy untuk menggunakan metode ERACS pada pasien tindakan operasi bedah sesar agar mutu layanan meningkat dan menyebabkan pasien menjadi lebih nyaman pasca operasi SC dan biaya layanan menjadi lebih rendah daripada SC metode konvensional.

This study aims to analyze the relationship between the implementation of the ERACS (Enhanced Recovery After Sectio Surgery) method and the cost efficiency and quality of service at Hermina Galaxy Hospital in 2022. The research design used was a retrospective cohort with a quantitative and qualitative approach. The conclusion in this study is that by using the ERACS method in patients with cesarean section surgery, cost effectiveness with good service quality is obtained. The quality of service assessed in this study was faster mobilization, shorter length of stay, and no surgical site infections were found. It is recommended for Hermina Galaxy Hospital to use the ERACS method for cesarean section patients so that the quality of service increases and causes patients to be more comfortable after SC surgery and service costs are lower than conventional SC methods.
Read More
B-2346
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ramadhan Nugraha; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Pujiyanto, Wahyu Sulistiadi, Darus Sahmedi, Indah Raksi Padmasari
Abstrak: Untuk menekan laju pertumbuhan COVID-19, pemerintah melakukan upaya-upaya untuk dapat mengatasinya, antara lain dengan Protokol Kesehatan (ProKes). Meskipun sangat besar manfaatnya, masih kita jumpai masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan karyawan Non-Nakes dalam melaksanakan protokol kesehatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian potong lintang dengan instrumen penelitian berupa kuesioner. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dengan jumlah sampel 387 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan melalui link Google Form. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Lebih memberikan penyuluhan kepada kelompok karyawan usia di bawah 36 tahun. Lebih menekankan kedisiplinan kepada karyawan lulusan kuliah
Read More
B-2292
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ury Puspa Praninditya Putri; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Sandi Iljanto, Anwar Hassan, Budi Hartono, Singgih Pudjirahardjo
Abstrak:

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan pelayanan prima sebelum dan sesudah pelatihan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada Bekasi tahun 2013. Penelitian dilakukan terhadap pegawai yang telah mengikuti pelatihan pelayanan prima di tahun 2013 sebanyak 38 orang dan kepada 30 pasien untuk menilai tingkat perubahan perilaku sebulan setelah training dilakukan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner dan observasi langsung. Penelitian ini bersifat menggunakan rancangan quasi eksperimental dengan desain pre-dan post test. Kerangka konsep penelitian ini terdiri dari penilaian pre-pelatihan (tingkat pembelajaran, tingkat perilaku) dan penilaian post pelatihan (tingkat reaksi, tingkat pembelajaran, dan tingkat perilaku).Dari penelitian diperoleh gambaran tingkat reaksi, tingkat pembelajaran, dan tingkat perilaku yang berubah secara positif setelah pelatihan dibandingkan dengan sebelum pelatihan. Dengan hasil uji t menunjukkan hasil t statistik (-4.17133 < t tabel. (1.48709). Peneliti menyarankan manajemen untuk menanamkan nilai kolektivitas dalam menciptakan sistem pelayanan prima. Membenahi Standard Prosedur Operasional dan Menyusun Indikator Penilaian Kinerja. Serta menegakkan sistem rewards and punishment.


ABSTRACT

This study aimed to evaluate the effectiveness of Service Excellent training in Maternal and Child Hospital Puspa Husada Bekasi in 2013. Research conducted on employees who have been trained in service excellent in the year 2013 as many as 38 people, and also conducted to 30 patients in order to evaluate the behavioral level a month after the training was done. The data was collected by means of questionnaires and direct observation. This is a quasi experimental design study. The conceptual framework of this study consists of pre-training assessment (level of learning, behavioral level) and post-training assessment (response rate, rate of learning, and behavioral level). The study conclude positive reaction level, learning level, and behavior level after training compared to before training. With t test results for behavior level : t statistic (-4.17133)

Read More
B-1503
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kharisma Ersha Mufti; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Anhari Achadi, Wahyu Sulistiadi, Roswin Rosnim Djaafar, Eka Ginanjar
Abstrak: Latar Belakang: Tingginya risiko dan angka penularan COVID-19 pada tenaga kesehatan sejak awal pandemi merupakan masalah yang serius, tanpa jumlah tenaga kesehatan yang cukup memadai, pelayanan terhadap pasien tidak akan maksimal. Penelitian di berbagai negara di dunia menunjukkan tingginya penyebaran kasus COVID19 diantara tenaga kesehatan diakibatkan tidak terdapatnya kebijakan yang pasti untuk melindungi karyawan. Oleh karena itu instansi yang memiliki karyawan haruslah memiliki dasar dan paduan bagaimana penangangan COVID-19 di tempat kerja, khususnya di Rumah Sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan yang berisiko sangan tinggi. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang pada karyawan di RS MMC pada masa pandemi COVID-19 pada periode Maret 2020 hingga Maret 2022. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dan data subjek yang memenuhi kriteria inklusi diambil dari rekam medis. Hasil Penelitian: Dari total 697 subjek, 622 diantaranya yang memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi kasus COVID-19 pada karyawan RS MMC adalah sebesar 66,7%. Mayoritas subjek berusia 18-44 tahun dengan rata-rata usia 37 tahun, jenis kelamin perempuan mendominasi dengan 76,8% dan sebagian besar 86,2% memiliki komorbid penyerta COVID-19. Seluruh karyawan telah patuh pada kebijakan penggunaan APD dan telah melaksanakan tracing serta 77,3% telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 dan flu secara lengkap, sementara itu program isoman yang digagas SDM RS MMC juga merangkul mayoritas karyawan yang terkonfirmasi positif COVID-19. Tidak terdapat hasil bermakna pada analisis statistik antara kebijakan SDM RS MMC dan efektivitas kebijakan yang dinilai dari lama cuti dan pencapaian target perbagian, namun 65,6% karyawan telah ternilai secara efektif berdasarkan kedua hal tersebut, dengan 73% angka cuti yang sesuai kebijakan dan 90,2% pencapaian target. Pada karyawan yang telah divaksinasi lengkap, mengikuti program isolasi mandiri, menggunakan APD sesuai aturan dan terdata kontak tracing, mayoritas telah secara efektif dinilai. Kesimpulan: Kebijakan yang dibuat oleh SDM RS MMC dalam penanganan COVID19 pada karyawan dapat memelihara efektivitas dan efektifsi kerja karyawan dan dapat membantu memberikan perlindungan karyawan pada masa pandemi COVID-19
Read More
B-2493
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Dwi Anggraini; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Irma Rismayanty, Danyel Suryana
Abstrak:
Keselamatan adalah isu fundamental bagi rumah sakit, dimana keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena berkaitan dengan kualitas dan nama baik rumah sakit. Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor individu, faktor psikologis dan faktor organisasi. Pada tahun 2021, RSIA Bina Medika telah melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien dimana diketahui bahwa budaya keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih tergolong rendah. Selain itu, pada tahun 2021 tercatat telah terjadi 37 insiden keselamatan pasien di RSIA Bina Medika, dimana tercatat telah terjadi 1 kejadian sentinel. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika pada tingkat individu dengan melakukan tela?ah dokumen Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran sikap petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya, serta gambaran pengetahuan petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan strategi yang tepat yang harus dilakukan manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan pendekatan cross-sectional, dimana dilakukan survei kuesioner terkait sikap (dengan SAQ-INA) dan pengetahuan, serta wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan tela?ah dokumen terkait termasuk OPPE bagian Keperawatan tahun 2021. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 54% petugas menerapkan keselamatan pasien dengan baik. Lalu, diketahui bahwa 56% petugas bersikap negatif terhadap keselamatan pasien dan 78% petugas berpengetahuan baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan keselamatan pasien, begitu pula pengetahuan (p =1 dan p=0,08). Dari wawancara mendalam diketahui terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Dari FGD didapatkan berbagai strategi peningkatan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika yang akan diterapkan kedepannya. Dari keseluruhan penelitian ini diketahui bahwa penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih belum baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Mayoritas petugas sudah berpengetahuan baik, namun masih banyak petugas yang bersikap negatif terhadap keselamatan pasien. Selain sikap dan pengetahuan, diketahui banyak faktor lainnya yang juga turut berkontribusi dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika.

Safety is a fundamental issue for hospitals, where patient safety is a top priority because it relates to hospital?s quality and reputation. The implementation of patient safety in hospitals is influenced by various factors, such as individual factor, psychological factor and organizational factor. In 2021, RSIA Bina Medika had measured patient safety culture where the result showed that patient safety culture at RSIA Bina Medika was still relatively low. In addition, in 2021 there was 37 patient safety incidents at RSIA Bina Medika, where 1 sentinel incident had been recorded. Therefore, this research was conducted to find out the description of the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika at individual level by conducting a review of the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE) document. This study was also conducted to describe staff?s attitude towards patient safety and its relationship, as well as an overview of the staff's knowledge of patient safety and its relationship. In addition, this research was conducted to find the right strategy that hospital management must implement in order to improve patient safety at RSIA Bina Medika. This research was a mixed method research with a cross-sectional approach, in which a questionnaire survey was carried out regarding attitudes (with SAQINA) and knowledge, as well as in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and a review of related documents including the 2021 OPPE of Nursing section. The research results showed that 54% of staff implement patient safety well. Then, it was known that 56% of staff had a negative attitude towards patient safety and 78% of staff had good knowledge. There was no significant relationship between staff?s attitudes and patient safety, as well as knowledge (p = 1 and p = 0.08). From in-depth interviews it was known that there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. From the FGD, various strategies were obtained to improve patient safety at RSIA Bina Medika which will be implemented in the future. From all of this research it was known that the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika was still not good because there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. The majority of staffs had good knowledge, but there were still many staffs who had negative attitude towards patient safety. Apart from attitude and knowledge, it was known that there were many other factors that also contribute to the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika.
Read More
B-2304
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Susanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Acim Heri Iswanto, Vica Claudia Budiono
Abstrak:
Proses distribusi obat ke rawat inap merupakan salah satu proses kritis dalam pelayanan rumah sakit yang berpengaruh terhadap kesinambungan terapi dan mutu pelayanan pasien. Di RSIA Bina Medika, proses distribusi obat pasien baru rawat inap masih menghadapi permasalahan berupa panjangnya lead time pelayanan yang disebabkan oleh dominasi aktivitas non value-added, khususnya aktivitas menunggu dan koordinasi lintas unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan meningkatkan efektivitas waktu distribusi obat ke rawat inap menggunakan pendekatan Lean Six Sigma. Penelitian ini menggunakan desain before–after study dengan kerangka kerja DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan waktu proses pada sistem informasi rumah sakit (SIMRS) terhadap 25 resep pasien baru rawat inap sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data meliputi Value Stream Mapping, analisis Pareto, analisis akar masalah menggunakan metode 5 Whys, serta uji statistik non-parametrik Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi pre-intervensi, aktivitas non value-added mencapai 82,65% dari total waktu proses, dengan pemborosan utama berasal dari aktivitas menunggu perawat ke farmasi dan menunggu verifikasi resep. Rata-rata lead time distribusi obat sebelum intervensi masih tinggi dengan variasi waktu proses yang besar. Setelah dilakukan intervensi berupa penataan ulang alur kerja, perbaikan pembagian tugas tenaga kesehatan, serta penerapan standar operasional prosedur distribusi obat berbasis SIMRS, terjadi penurunan lead time distribusi obat yang bermakna secara statistik (p < 0,05). Penurunan signifikan terutama terjadi pada aktivitas non value-added utama, termasuk menunggu perawat ke farmasi, konfirmasi resep ke dokter, dan aktivitas komunikasi manual, sementara aktivitas value-added tetap stabil. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma efektif dalam meningkatkan efisiensi proses distribusi obat ke rawat inap  sehingga dapat dijadikan pendekatan strategis dalam upaya peningkatan mutu pelayanan farmasi rumah sakit secara berkelanjutan.

The inpatient medication distribution process is a critical component of hospital services that affects the continuity of therapy and overall quality of care. At RSIA Bina Medika, the distribution process for newly admitted inpatients experienced prolonged lead times due to the dominance of non–value-added activities, particularly waiting and cross-unit coordination. This study aimed to analyze and improve the effectiveness of inpatient medication distribution time using the Lean Six Sigma approach. A before–after study design was applied using the DMAIC (Define, Measure, Analyse, Improve, Control) framework. Process time data were collected through direct observation and hospital information system (SIMRS) records from 25 newly admitted inpatient prescriptions before and after the intervention. Data analysis included Value Stream Mapping, Pareto analysis, root cause analysis using the 5 Whys method, and non-parametric statistical testing using the Mann–Whitney U test. The results showed that prior to intervention, non–value-added activities accounted for 82.65% of the total process time, with the main sources of waste being waiting for nurses to collect medications and waiting for prescription verification. The average medication distribution lead time before intervention was relatively high with considerable process variation. Following interventions involving workflow restructuring, improved task allocation among healthcare staff, and the implementation of a SIMRS-based standard operating procedure for medication distribution, a statistically significant reduction in lead time was observed (p < 0.05). Significant reductions were primarily observed in major non–value-added activities, including waiting for nurses, prescription clarification, and manual communication, while value-added activities remained stable. This study concludes that the application of Lean Six Sigma effectively improves the efficiency of inpatient medication distribution and can serve as a sustainable quality improvement strategy for hospital pharmacy services. Keywords: Lean Six Sigma, medication distribution, inpatient, lead time, hospital pharmacy
Read More
B-2594
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive