Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40319 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primasti Nuryandari Putri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Armein Sjuhary, Sulistyowati, Budi Haryanto
Abstrak: Tesis ini membahas determinan lingkungan yang ada pada kejadian stunting balita usia 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat fenomena masalah kesehatan dalam hal ini kejadian stunting beserta determinan lingkungan yang mempengaruhinya. arak kandang dengan rumah balita stunting, dan keterkaitannya dengan hubungan gejala ISPA selama 3 bulan dan interaksinya dengan pengaruh iklim (suhu, temperature, kecepatan dan arah angin) terhadap stunting digambarkan secara representative melalui pemetaan. Beberapa variabel dapat dijelaskan dengan lebih baik melalui deskriptif spasial yaitu jarak kandang dengan rumah balita
This thesis discusses the environmental determinants that occur in stunting toddlers aged 6-59 months in Babakan Madang District in 2019. The purpose of this study is to look at the phenomenon of health problems in this case the incidence of stunting with the environmental determinants that influence it. This research is an wise team study with funds from the research directorate and community service at Universitas Indonesia. Using cross-sectional design to take primary data with multi stages sampling method and the way of taking respondents in Posyandu using purposive cluster sampling The distance of the poultry cages with a stunting children's house, and its relationship to the ARI symptoms for 3 months and their interactions with the influence of climate (temperature, wind speed and direction) to stunting are representative through mapping. Some variables can be explained better through spatial descriptive, namely the distance of the cage with a toddler's house. The influence of the distance of the poultry cage with the children's house and there is an interrelated relationship with the temperature, wind direction and wind speed on the incidence of recurrent infectious
Read More
T-6005
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Hajati Husma; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Sandra Fikawati, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Rian Anggraini, Azhari
Abstrak:
Stunting adalah kondisi di mana panjang atau tinggi badan seorang anak tidak sesuai dengan usianya. Hal ini disebabkan oleh malnutrisi kronis dan infeksi berulang, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan utama di Provinsi Aceh, karena prevalensinya masih tinggi yang menduduki peringkat 7 secara nasional dan sejak tahun 2013-2021 Aceh selalu berada di peringkat lima besar nasional daerah paling tinggi angka stuntingnya. Terdapat 14 dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata provinsi yaitu di atas 29,4%, dengan prevalensi terendah sebesar 29,5% dan tertinggi mencapai 40,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko stunting yang meliputi faktor individu ibu, faktor individu balita dan faktor rumah tangga pada balita usia 6-59 bulan berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 3.589 balita berusia 6-59 bulan dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang digunakan merupakan data sekunder SKI tahun 2023. Proses analisis data dalam penelitian ini meliputi univariat dan bivariat menggunakan chii square serta multivariat menggunakan regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh sebesar 26,2%, dengan proporsi stunting di wilayah perdesaan lebih tinggi yaitu mencapai 27,2% dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 25,1%. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di Provinsi Aceh menunjukkan  bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu (p-value 0,000), pendidikan ibu (p-value 0,001), jenis kelamin balita ((p-value 0,004), usia balita (p-value 0,000), panjang badan lahir rendah (PBLR) (p-value 0,015) dan berat badan lahir rendah (BBLR) (p-value 0,048), dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor resiko dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini adalah usia balita untuk ketiga wilayah, baik di wilayah perkotaan, perdesaan maupun secara keseluruhan di Provinsi Aceh dengan OR 2,121 (95% CI: 1,236–3,640) di perkotaan, OR 2,427 (95% CI: 1,583–3,72) di perdesaan dan OR 2,312 (95% CI: 1,653–3,232) secara keseluruhan di Provinsi Aceh. Mengingat dampak stunting pada balita yang sangat besar terhadap beban negara dan mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang, maka penentuan faktor risiko stunting pada tahap awal berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal sangat penting dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas dan produktivitas yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan di masa depan.


Stunting is a condition where a child's length or height is not appropriate for their age. It is caused by chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the first 1,000 days of life. Stunting is still a major health problem in Aceh Province, as its prevalence is still high, ranked 7th nationally and from 2013-2021 Aceh has always been in the top five national stunting regions. There are 14 out of 23 districts/cities in Aceh Province that have a stunting prevalence higher than the provincial average of over 29.4%, with the lowest prevalence of 29.5% and the highest reaching 40.2%. This study aims to determine the risk factors for stunting which include individual maternal factors, individual factors of toddlers and household factors in toddlers aged 6-59 months based on urban and rural areas in Aceh Province. This study is a quantitative study using a cross sectional design with a sample size of 3,589 toddlers aged 6-59 months from total sampling according to inclusion and exclusion criteria. The data used is secondary data for SKI in 2023. The data analysis process in this study includes univariate and bivariate using chii square and multivariate using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunting in children aged 6-59 months in Aceh Province was 26.2%, with a higher proportion of stunting in rural areas reaching 27.2% compared to urban areas at 25.1%. The results of the overall bivariate analysis in Aceh Province showed that there was a significant association between maternal height (p-value 0.000), maternal education (p-value 0.001), gender of toddlers ((p-value 0.004), age of toddlers (p-value 0.000), low birth length (PBLR) (p-value 0.015) and low birth weight (BBLR) (p-value 0.048), with the incidence of stunting in children under 6-59 months of age in Aceh Province. The results of multivariate analysis showed that the dominant risk factor associated with stunting in this study was age under five for all three regions, both in urban, rural and overall in Aceh Province with OR 2.121 (95% CI: 1.236-3.640) in urban areas, OR 2.427 (95% CI: 1.583-3.72) in rural areas and OR 2.312 (95% CI: 1.653-3.232) overall in Aceh Province. Given the enormous impact of stunting in children under five years old on the burden of the state and threatening the sustainability of future generations, determining the risk factors for stunting at an early stage based on the characteristics of the area of residence is very important to overcome the decline in quality and productivity that can hamper economic growth and increase poverty in the future.

Read More
T-7305
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mismaini Noor; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ahmad Syafiq, Dewi Permaesih, M. Natsir
T-3966
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Juliana Monica; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sada Rasmada
Abstrak:
Balita merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami gizi lebih karena penambahan dan pembesaran sel lemak terjadi secara cepat. Gizi lebih terjadi karena asupan yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada pengeluaran energi. Angka kejadian gizi lebih pada balita di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 10,8% melebihi angka kejadian gizi lebih balita di Indonesia, yaitu 8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan proporsi faktor-faktor yang menyebabkan kejadian gizi lebih pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan regresi linier. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian gizi lebih pada balita (Z-score (> +2 SD)) di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 23,9%. Hasil analisis pada faktor orang tua (IMT Ibu) menunjukkan perbedaan proporsi yang signifikan. Sementara faktor orang tua yang lainnya, faktor anak, dan faktor sosial ekonomi tidak menunjukkan adanya perbedaan proporsi yang signifikan. Diperlukan kesadaran keluarga terutama ibu sebagai pengasuh utama balita untuk lebih memerhatikan pola konsumsi balita demi mencegah berlanjutnya kejadian gizi lebih hingga fase kehidupan selanjutnya.

Toddlers are a group that is vulnerable on getting excess nutrition because of the addition and enlargement of fat cells occurs quickly. Overnutrition occurs because of the intake that enters the body is greater than energy expenditure. The incidence of overnutrition in toddlers at South Sumatera Province, which is 10,8%, exceeds the incidence of overnutrition in Indonesia, which is 8%. This study aims to analyze the difference in the proportion of factors that cause the occurrence of overnutrition in toddlers. This research is a cross-sectional study using secondary data from Basic Health Research 2018. Bivariate analysis was carried out using chi square and linear regression test. The results of this study indicate the incidence of overnutrition in toddlers (Z-score (> +2 SD)) in South Sumatera Province, which is 23,9%. The result of the analysis on parental factors (Mother’s BMI) showed that there was a significant difference in proportion. Meanwhile, other parental factors, child factors, and socioeconomic factors did not show any significant differences in proportion. Family awareness, especially mothers as the main caregivers of toddlers, are needed to pay more attention on toddlers consumption patterns in order to prevent the continuation of overnutrition in the next phase of life.
Read More
S-11469
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Yuliastini; Pembimbing: Raden Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Sandra Fikawati, Nurhayati, Armein Sjuhary Rowi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan faktor kejadian diare pada balita 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Desain penelitian adalah cross sectional. Metode pengambilan sampel yaitu cluster random sampling, diperoleh 612 balita. Pengumpulan data dilakukan bulan Mei-Agustus 2019, dengan mengukur berat badan dan panjang badan balita serta wawancara terstruktur kepada ibu balita menggunakan kuesioner. Hasil penelitian diketahui 22,5% balita mengalami diare pada 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan dan 3 bulan terakhir sebelum wawancara dilakukan. Faktor dominan terjadinya diare pada balita 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019 adalah sumber air bersih untuk minum setelah dikontrol variabel usia ibu, menyimpan MP-ASI sisa, potong kuku balita, air bersih untuk masak dan mencuci peralatan makan balita. Perlu diupayakan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah, penyehatan lingkungan dengan penyuluhan tentang bahaya diare dan cara pencegahannya.

This study aims to determine the determinants incidence of diarrhea in infants 6-59 months in Babakan Madang District in 2019. Study design was cross sectional. Sampling method was purposive sampling, obtained 612 toddlers. Data collection in May August 2019, by measuring the weight and length of infants, structured interviews with toddler mothers using questionnaire. The results of the study found that 22,5% of children under five had diarrhea at 1 week, 2 weeks, 1 month and the last 3 months before the interview. Dominant factor in the occurrence of diarrhea in infants 6-59 months in Babakan Madang Sub-district in 2019 was the source of clean water for drinking after being controlled by the mother's age variable, storing leftover complementary feeding, cutting toddler's nails, clean water for cooking and washing toddler's tableware. Infrastructure needs to be sought to meet drinking water needs for low-income people, environmental health through counseling about the dangers of diarrhea and how to prevent it.

Read More
T-5882
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zilda Oktarina; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Eman Sumarna
S-7210
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Indah Permatasari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Siti Arifah Pujonarti, Inge Wahyuni, Sugiatmi
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah -2 SD standar pertumbuhan WHO, disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang banyak terjadi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Seorang anak mengalami masalah stunting diakibatkan oleh multifaktor yang saling berkaitan. Masalah stunting yang dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 ataupun SSGI 2022 dengan SSGI 2024 rovinsi Riau merupakan provinsi yang mengalami peningkatan signifikan sedangkan Provinsi Jawa barat merupakan Provinsi yang menurun signifikan dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 sedangkan dilihat dari SSGI 2022 dibandingkan 2024 merupakan provinsi ke dua yang menurun signifikan di Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting pada balita usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat berdasarkan data SSGI tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel pada masing provinsi sebanyak 1420 anak untuk Provinsi Riau dan 4019 anak untuk Provinsi Jawa Barat. Variabel Independen terdiri dari tiga faktor besar seperti faktor anak yang terdiri dari usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, IMD, usia diberikan MP-ASI, keragaman makanan minimum (MDD), frekuensi makanan minimum (MMF), diet minimum yang dapat diterima (MAD), konsumsi sumber protein hewani, diare, pneumonia, tuberkulosis paru, dan status imunisasi; faktor ibu yang terdiri dari pendidikan ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC dan riwayat ibu hamil minum TTD; dan faktor lingkungan jumlah balita dalam rumah tangga, akses sumber air minum, dan sanitasi. Adapun variabel dependan pada penelitian ini adalah Stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat. Analisis yang diguakan dalam penelitian adalah univariat, uji chi square untuk analisis bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Analisis bivariat di Provinsi Riau menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, status imunisasi, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, jumlah balita dalam rumah tangga dan sanitasi sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah usia anak (OR=3,098). Analisis bivariat di Provinsi Jawa Barat menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, usia diberikan MP-ASI, MMF, MAD, diare dan TBC paru sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap stunting adalah panjang badan lahir (OR=2,469). Faktor dominan yang berbeda pada setiap provinsi perlu menjadi perhatian dalam menetapkan intervensi karena setiap penyebab memiliki pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikannya.

Stunting is a failure-to-thrive condition characterized by length or height-for-age below -2 SD of the WHO growth standards, caused by chronic undernutrition and recurrent  infections that predominantly occur during the first 1,000 days of life (1,000 Days). A  child's stunting is caused by multiple interrelated factors. Looking at stunting trends  based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) compared with the 2024 Indonesian  Nutritional Status Survey (SSGI), as well as the 2022 SSGI compared with the 2024  SSGI, Riau Province experienced a significant increase, whereas West Java Province  experienced a significant decrease when comparing the 2023 SKI with the 2024 SSGI,  and was the province with the second-largest significant decrease on Java Island when  comparing the 2022 SSGI with the 2024 SSGI. This study aimed to identify the risk  factors for stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java  Provinces, based on the 2024 SSGI data. This study used a cross-sectional design with  a sample size of 1,420 children in Riau Province and 4,019 children in West Java  Province. The independent variables consisted of three major factor groups: child  factors, including age, sex, birth length, early initiation of breastfeeding (EIBF), age of  complementary feeding introduction, minimum dietary diversity (MDD), minimum  meal frequency (MMF), minimum acceptable diet (MAD), consumption of animal  source protein, diarrhea, pneumonia, pulmonary tuberculosis, and immunization status;  maternal factors, including maternal education, maternal height, antenatal care (ANC)  visits, and history of iron-folic acid (IFA) tablet consumption during pregnancy; and  environmental factors, including the number of children under five in the household,  access to drinking water sources, and sanitation. The dependent variable in this study  was stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java Provinces. The  analyses used were univariate analysis, chi-square test for bivariate analysis, and  multiple logistic regression for multivariate analysis. Bivariate analysis in Riau  Province showed differences in the proportion of stunting based on child's age, sex,  birth length, immunization status, maternal education, maternal height, number of  children under five in the household, and sanitation, while the dominant factor  associated with the incidence of stunting was child's age (OR=3.098). Bivariate  analysis in West Java Province showed differences in the proportion of stunting based  on child's age, sex, birth length, age of complementary feeding introduction, MMF,  MAD, diarrhea, and pulmonary tuberculosis, while the dominant factor associated with  stunting was birth length (OR=2.469). The differing dominant factors in each province  warrant attention in determining interventions, since each cause requires a different  approach to be addressed.
Read More
T-7679
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kandita Iman Khairina; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono, Fajrinayanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan factor kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat menggunakan data sekunder Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan desain cross-sectional. Sampel merupakan balita berusia 6-59 bulan di Jawa Barat dalam data SSGI 2021 dengan kriteria eksklusi balita mengalami gangguan mental, cacat fisik, dan penyakit kongenital. Variabel dependen dari studi ini adalah kejadian diare pada balita usia 6-59 bulan di Jawa Barat dan independen adalah karakteristik keluarga (usia ibu, pendidikan ibu, dan status bekerja ibu), karakteristik balita (usia balita, status gizi, dan jenis kelamin), faktor perilaku (IMD, ASI eksklusif, dan imunisasi dasar), dan faktor lingkungan (jamban, sumber air minum, dan tempat tinggal). Hasil penelitian menunjukkan diare pada balita 6-59 bulan di Jawa Barat berdasarkan data SSGI 2021 sebesar 9,1%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian diare yaitu usia balita, usia ibu, pendidikan ibu, sumber air, jamban, dan tempat tinggal

This study aims to determine the determinants of diarrhea incidence in infants aged 6-59 months in West Java Province using secondary data from Indonesia Nutritional Study Data 2021. This study is a descriptive study using cross-sectional design. Sample in this study is toddler aged 6-59 months in West Java Province in Indonesia Nutritional Study Data 2021 with inclusive criteria was toddler aged 6-59 months and exclusive criteria was mental disorder, physical disability, and congenital diseases. Dependent variable in this study is diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables are children age, children gender, children nutritional status, mother's age, mother's education, mother's working status, exclusively breastfeeding, early initiation of breastfeeding, vaccination status, latrines, water source, and type of residence.This study shows diarrhea incidence in children aged 6-59 month old. Independent variables that were shown to have significant relationship with diarrhea in this study are children's age, mother's age, mother's education, water source, latrines, and type of residence
Read More
T-6786
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Rully Wahyuningrum; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Rian Anggraini, Neneng Susanti
Abstrak:
Stunting merupakan rendahnya ukuran antropometri dari panjang atau tinggi badan menurut umur akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Stunting menyebabkan anak gagal mencapai pertumbuhan linear dan potensi kognitif yang optimal. Sumatera Barat menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sumatera yang mengalami peningkatan angka stunting pada tahun 2022, dari 23,3% (2021) menjadi 25,2% (2022). Tingginya stunting di perdesaan dibandingkan di perkotaan berkaitan dengan determinan stunting di tiap karakteristik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Sumatera Barat menurut data Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2022. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 2.011 anak dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor anak, ibu, keluarga, dan lingkungan. Penelitian ini dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Barat sebesar 18,4%, dengan proporsi stunting di perdesaan (22,1%) lebih tinggi dibanding perkotaan (16,8%). Terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan jenis kelamin, usia anak, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, dan kunjungan ANC di perdesaan. Untuk perkotaan, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, dan sanitasi. Secara keseluruhan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi, dan klasifikasi tempat tinggal. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan adalah usia anak (OR=3,181), sedangkan di perkotaan dan Provinsi Sumatera Barat adalah tinggi badan ibu (OR=2,994; 2,960). Peningkatan usia anak perlu mendapatkan perhatian lebih agar kemungkinan terjadinya stunting dapat dicegah atau ditangani lebih dini. Pencegahan dan penanggulangan stunting perlu dimulai dari hulu dengan lebih memerhatikan asupan zat gizi dan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu agar memiliki status gizi yang baik.

Stunting is an anthropometric measure of low body length or height according to age due to long-term malnutrition. Stunting causes children to fail to achieve optimal linear growth and cognitive potential. West Sumatra is the only province on the island of Sumatra that will experience an increase in stunting rates in 2022, from 23.3% (2021) to 25.2% (2022). The higher rate of stunting in rural compared to urban areas is related to the determinants of stunting in each characteristic of areas. This study aims to determine the determinants of stunting in children aged 6-23 months based on rural and urban areas in West Sumatra Province according to data from the Indonesian Nutrition Status Survey 2022. The design of this research is cross sectional with a sample size of 2,011 children from the total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables include child, mother, family and environmental factors. This research was analyzed univariate, bivariate (chi square), and multivariate (multiple logistic regression). The results show that the prevalence of stunting in West Sumatra Province is 18.4%, with the proportion of stunting in rural (22.1%) higher than urban areas (16.8%). There are differences in the proportion of stunting based on gender, child's age, birth length, mother's height, and ANC visits in rural areas. For urban, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, mother's education, household food security, and sanitation. Overall in West Sumatra Province, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, ANC visits, mother's education, household food security, sanitation, and residence classification. The dominant factor associated with stunting in rural is the child's age (OR=3.181), while in urban and West Sumatra Province it is the mother's height (OR=2.994; 2.960). Increasing the age of children needs more attention so that the possibility of stunting can be prevented or treated earlier. Prevention and control of stunting needs to start from the upstream by paying more attention to the nutritional intake and health of young women as mothers-to-be so that they have good nutritional status.
Read More
T-6939
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive