Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah -2 SD standar pertumbuhan WHO, disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang banyak terjadi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Seorang anak mengalami masalah stunting diakibatkan oleh multifaktor yang saling berkaitan. Masalah stunting yang dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 ataupun SSGI 2022 dengan SSGI 2024 rovinsi Riau merupakan provinsi yang mengalami peningkatan signifikan sedangkan Provinsi Jawa barat merupakan Provinsi yang menurun signifikan dilihat dari SKI 2023 dibandingkan SSGI 2024 sedangkan dilihat dari SSGI 2022 dibandingkan 2024 merupakan provinsi ke dua yang menurun signifikan di Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting pada balita usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat berdasarkan data SSGI tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel pada masing provinsi sebanyak 1420 anak untuk Provinsi Riau dan 4019 anak untuk Provinsi Jawa Barat. Variabel Independen terdiri dari tiga faktor besar seperti faktor anak yang terdiri dari usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, IMD, usia diberikan MP-ASI, keragaman makanan minimum (MDD), frekuensi makanan minimum (MMF), diet minimum yang dapat diterima (MAD), konsumsi sumber protein hewani, diare, pneumonia, tuberkulosis paru, dan status imunisasi; faktor ibu yang terdiri dari pendidikan ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC dan riwayat ibu hamil minum TTD; dan faktor lingkungan jumlah balita dalam rumah tangga, akses sumber air minum, dan sanitasi. Adapun variabel dependan pada penelitian ini adalah Stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Riau dan Jawa Barat. Analisis yang diguakan dalam penelitian adalah univariat, uji chi square untuk analisis bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Analisis bivariat di Provinsi Riau menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, status imunisasi, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, jumlah balita dalam rumah tangga dan sanitasi sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah usia anak (OR=3,098). Analisis bivariat di Provinsi Jawa Barat menunjukkan adanya perbedaan proporsi stunting berdasarkan usia anak, jenis kelamin, panjang badan lahir, usia diberikan MP-ASI, MMF, MAD, diare dan TBC paru sedangkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap stunting adalah panjang badan lahir (OR=2,469). Faktor dominan yang berbeda pada setiap provinsi perlu menjadi perhatian dalam menetapkan intervensi karena setiap penyebab memiliki pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikannya.
Stunting is a failure-to-thrive condition characterized by length or height-for-age below -2 SD of the WHO growth standards, caused by chronic undernutrition and recurrent infections that predominantly occur during the first 1,000 days of life (1,000 Days). A child's stunting is caused by multiple interrelated factors. Looking at stunting trends based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) compared with the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), as well as the 2022 SSGI compared with the 2024 SSGI, Riau Province experienced a significant increase, whereas West Java Province experienced a significant decrease when comparing the 2023 SKI with the 2024 SSGI, and was the province with the second-largest significant decrease on Java Island when comparing the 2022 SSGI with the 2024 SSGI. This study aimed to identify the risk factors for stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java Provinces, based on the 2024 SSGI data. This study used a cross-sectional design with a sample size of 1,420 children in Riau Province and 4,019 children in West Java Province. The independent variables consisted of three major factor groups: child factors, including age, sex, birth length, early initiation of breastfeeding (EIBF), age of complementary feeding introduction, minimum dietary diversity (MDD), minimum meal frequency (MMF), minimum acceptable diet (MAD), consumption of animal source protein, diarrhea, pneumonia, pulmonary tuberculosis, and immunization status; maternal factors, including maternal education, maternal height, antenatal care (ANC) visits, and history of iron-folic acid (IFA) tablet consumption during pregnancy; and environmental factors, including the number of children under five in the household, access to drinking water sources, and sanitation. The dependent variable in this study was stunting among children aged 6–23 months in Riau and West Java Provinces. The analyses used were univariate analysis, chi-square test for bivariate analysis, and multiple logistic regression for multivariate analysis. Bivariate analysis in Riau Province showed differences in the proportion of stunting based on child's age, sex, birth length, immunization status, maternal education, maternal height, number of children under five in the household, and sanitation, while the dominant factor associated with the incidence of stunting was child's age (OR=3.098). Bivariate analysis in West Java Province showed differences in the proportion of stunting based on child's age, sex, birth length, age of complementary feeding introduction, MMF, MAD, diarrhea, and pulmonary tuberculosis, while the dominant factor associated with stunting was birth length (OR=2.469). The differing dominant factors in each province warrant attention in determining interventions, since each cause requires a different approach to be addressed.