Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35594 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kevin Dermawan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Syahrizal, M. Adi Firmansyah
Abstrak:
Latar Belakang. COVID-19 telah menjadi pandemi global yang mengerikan dan bahkan tidak sedikit menyebabkan kematian. Penggunaan dari remdesivir sebagai terapi emergensi pada pertengahan tahun 2020 menyebabkan munculnya berbagai laporan yang mengaitkan penggunaannya terhadap gagal ginjal akut pada awal tahun 2021. Hal ini diperkirakan diakibatkan oleh adanya molekul sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) yang dapat menumpuk pada ginjal. Remdesivir lebih diutamakan pada kasus-kasus berat dan proporsi dari gagal ginjal akut lebih tinggi dilaporkan pada pasien perawatan ICU, sehingga penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana fungsi ginjal dapat terganggu akibat penggunaannya. Metode. Penelitian dilakukan secara observasional pre dan post remdesivir dengan pengumpulan data berdasarkan rekam medis rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan pada RS Swasta di Tangerang periode Januari 2021 – Juli 2022. Data yang dikumpulkan termasuk usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, penggunaan antibiotik, steroid, antikoagulan, CRP, D-dimer dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin, dan laju filtrasi ginjal). Analisis menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan fungsi ginjal dan dibentuk model prediktif dengan regresi linear. Hasil. Dari 46 subyek yang mendapat terapi remdesivir didapatkan mayoritas adalah laki-laki dengan median usia 57 tahun. Model prediktif dengan variabel usia, jenis kelamin, hipertensi, DM, CRP, dan D-dimer menghasilkan nilai P 0,341; R2 0,153. Analisis stratifikasi dengan hipertensi, DM, CRP dan D-dimer menunjukkan adanya kemaknaan secara statistik (nilai P < 0,05). Kesimpulan. Terapi dengan remdesivir pada pasien COVID-19 yang dirawat di ICU dapat mengalami penurunan fungsi ginjal yang bermakna. Faktor risiko hipertensi, DM, nilai CRP dan D-dimer yang tinggi dapat memperburuk penurunan fungsi ginjal, sehingga perlu diperhatikan penggunaannya pada praktik klinis sehari-hari.

Background. COVID-19 has been a terrifying global pandemic and causing a considerable amount of death. The use of remdesivir as emergency treatment of COVID-19 was approved during the mid of 2020 and since then has been a lot of reports indicating acute kidney injury in relation to it in early 2021. This adverse event was hypothesized to be caused by a molecule called sulfobutylehter-beta-cyclodextrin (SBECD) which can cause deposits in the kidney promoting acute kidney injury. Remdesivir has been widely used in severe cases and acute kidney injury was found to be higher in ICU patients. Therefore, this study aims to show how these factors can cause kidney injury. Methods. This observational pre- and post-remdesivir study was conducted using hospital medical records. Data was collected from private hospitals in Tangerang during January 2021 to July 2022. The collected information include age, gender, hypertension, diabetes melitus, antibiotics, steroids, anticoagulants, CRP, D-dimer and kidney functions laboratory data. These data were analysed using Wilcoxon and predictive model generated with linear regression. Results. Out of all 46 subjects that included in the study, most of the participants are male with the age median of 57 years old. Predictive model with age, gender, hypertension, DM, CRP, and D-dimer fails to produce a convincing model with P-value 0,341 and R2 0,153. However, stratification analysis with hypertension, DM, CRP, and D-dimer as covariates shows statistically significant decrease in glomerular filtration rate with P-value < 0,05. Conclusion. Remdesivir therapy in patients with COVID-19 admitted to ICU could easily cause deterioration in kidney functions. Therefore, patients with risk factors such as hypertension, diabetes melitus, higher CRP and D-dimer value should be monitored closely by checking the creatinine and urine output regularly.
Read More
T-6890
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Eka Nuriani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Eka Widya Khorinal
Abstrak:

Latar belakang. Demam neutropenia merupakan salah satu adverse event yang sering terjadi pasien kanker payudara. Demam neutropenia yang tidak dapat dicegah dan ditangani dengan baik mengakibatkan komplikasi, kematian dan mempengaruhi efektivitas pengobatan. Olehkarena itu perlu diketahui faktor-faktor dominan apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya demam neutropenia agar kejadian demam neutropenia dapat dicegah. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan variabel bebas usia, status performa, penyakit penyerta, jenis kanker payudara, stadium kanker payudara, pemberian kemoterapi sitotoksik, albumin, hemoglobin dengan kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara di RS Kanker Dharmais Jakarta. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang. Hasil. Proporsi demam neutropenia adalah 13,67%. Faktor risiko dominan penyebab demam neutropenia adalah variabel status performa pasien PR Crude 3,64 (95% CI 2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI 1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stadium tiga PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001), dan stadium empat PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Kesimpulan. Kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara menunjukkan hasil yang signifikan. Upaya pencegahan menggunakan profilaksis G-CSF diperlukan untuk pasien dengan risiko tinggi mengalami demam neutropenia. Penelitian lanjutan terkait konsekuensi demam neutropenia perlu dilakukan. Kata kunci. Demam neutropenia, faktor risiko, kanker payudara, kemoterapi sitotoksis


 

Background. Febrile neutropenia is one of the adverse events that often occur in breast cancer patients. If it cannot be prevented and treated properly, it increases complications and mortality and decreases the effectiveness of treatment. Therefore, knowing the dominant factors that can affect febrile neutropenia is necessary, and febrile neutropenia can be prevented.  Objective. To determine the relationship between independent variables of age, performance status, comorbidities, type of breast cancer, stage of breast cancer, regiment of cytotoxic chemotherapy, albumin, and hemoglobin with the incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital, Jakarta. Method. Observational study with cross-sectional design. Results. The proportion of febrile neutropenia was 13.67%. The dominant risk factors causing febrile neutropenia are patient performance status PR Crude 3,64 (95% CI  2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI  1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stages three of breast cancer PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001); stage four of breast cancer PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Conclusion. The incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients showed significant results. Prophylaxis G-CSF is needed for patients at high risk of developing febrile neutropenia. Further research related to the consequences of febrile neutropenia is required. Keywords. Breast cancer, cytotoxic chemotherapy, febrile neutropenia, risk factors

Read More
T-7174
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anna Mardiana Ritonga; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Yovsyah, Sardiana Salam, Iswandi Erwin
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Anna Mardiana Ritonga Program Studi : Epidemiologi Judul               : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mortalitas Pasien Stroke Associated Pneumonia di Stroke Care Unit Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Tahun 2016-2018 Pembimbing   : dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D Stroke Associated Pneumonia (SAP) adalah komplikasi stroke yang paling sering terjadi dan memiliki angka mortalitas yang tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pasien SAP belum sepenuhnya diselidiki. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dapat membantu pengambilan keputusan klinis untuk tatalaksana pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pasien SAP yang dirawat di Stroke Care Unit (SCU) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) tahun 2016-2018. Desain penelitian ini adalah penelitian kohort retrospektif, pada 268 pasien di SCU RSPON yang didiagnosis SAP selama tahun 2016-2018. Variabel yang berhubungan bermakna dengan mortalitas pada pasien SAP adalah kesesuaian LOS dengan CP RSPON, didapatkan risiko 0,262 (95% CI : 0,138 – 0,501) yang berarti pasien dengan Length of Stay (LOS) tidak sesuai dengan Clinical Pathway (CP) RSPON memiliki hubungan protektif terhadap mortalitas pasien SAP yaitu sebesar 0,26 kali. Dengan menggunakan model prediktor, dapat dihitung probabilitas terjadinya mortalitas pada pasien SAP. Kata kunci: kohort retrospektif; mortalitas; Stroke Associated Pneumonia


 

 ABSTRACT Name : Anna Mardiana Ritonga Study Program : Epidemiology Title                            : Determining Factors for Stroke Associated Pneumonia Mortality in the Stroke Care Unit National Brain Centre Hospital 2016-2018 Counsellor : dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D Stroke Associated Pneumonia (SAP) is the most common complication after stroke and has a high mortality rate. Determining factors for SAP mortality have not been fully investigated. Knowledge of its determining factors can help clinical decision making for patient management. The aim of this study was to determine the mortality factors of SAP who were treated in the Stroke Care Unit (SCU) National Brain Centre (NBC) Hospital. This study used retrospective cohort design, involving 268 subjects SAP obtained at SCU NBC who were diagnosed with SAP during 2016-2018. Variable that significantly related is suitability of Length of Stay (LOS) with Clinical Pathway (CP) NBC obtained the risk of 0.262 (95%CI : 0,138-0,501) which means has protective association with mortality. By using a predictor model, it can be calculated the probability of mortality in SAP patients. Keywords: mortality; retrospective cohort; Stroke Associated Pneumonia

Read More
T-5560
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shalzaviera Azniatinesa; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Marthino Robinson
Abstrak:
Corona virus disease (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang ditemukan pada Desember 2019 di Kota Wuhan, Cina. Kebanyakan orang dapat mengalami gejala ringan hingga sedang, namun pada beberapa orang infeksi virus corona dapat menyebabkan masalah yang serius sehingga memerlukan perhatian medis. Sumber daya kesehatan seperti fasilitas kesehatan, obat-obatan, dan tenaga kesehatan menjadi hal yang krusial di masa pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap lama waktu sakit sampai sembuh dari infeksi COVID-19. Studi ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan pendekatan analisis survival. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 339 sampel yang diambil dengan menggunakan teknik random. Data diperoleh dari data rekam medis pasien COVID-19 di RSUD Kota Bogor pada periode Januari ? Desember 2021. Analisis data menggunakan Log rank test untuk melihat perbedaan probabilitas survival dan Cox Proportional Hazard untuk melihat faktor apa saja yang berpengaruh terhadap lama sakit dari infeksi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan usia >60 tahun (HR 0,625; 95% CI 0,440 ? 0,888), penyakit ginjal kronik (HR 0,471; 95% CI 0,261 ? 847), ARDS (HR 0,413; 95% CI 0,274 ? 0,622), hiperkoagulasi (HR 0,737; 95% CI 0,567 ? 0,958), dan riwayat rawat di ruang ICU (HR 0,335; 95% CI 0,159 ? 0,705) merupakan faktor yang berhubungan dengan lama sakit sampai sembuh dari infeksi COVID-19 (p-value <0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk memprioritaskan pasien COVID-19 yang berisiko mengalami hal tersebut.

Corona virus disease (COVID-19) is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 virus which was discovered in December 2019 in Wuhan City, China. Most people can experience mild to moderate symptoms, but in some people coronavirus infection can cause serious problems that require medical attention. Health resources such as health facilities, medicines, and health workers are crucial during a pandemic. This study aims to find out factors affect the length of time from illness to recovery from COVID-19 infection. This study used a retrospective cohort design with a survival analysis approach. The number of samples in this study were 339 samples taken using a random sampling technique. Data were obtained from medical records of COVID-19 patients at Bogor City Regional General Hospital in the period January - December 2021. Data were analyzed using the Log rank test to see the difference in probability of survival and Cox Proportional Hazard to see factors influence the length of illness from COVID-19 infection. The results showed age >60 years (HR 0.625; 95% CI 0.440 ? 0.888), chronic kidney disease (HR 0.471; 95% CI 0.261 ? 847), ARDS (HR 0.413; 95% CI 0.274 ? 0.622), hypercoagulation (HR 0.737; 95% CI 0.567 ? 0.958), and ICU admission (HR 0.335; 95% CI 0.159 ? 0.705) were factors associated with length of illness until recovery from COVID-19 infection (p-value <0.05). It is hoped that health workers will prioritize COVID-19 patients who are at risk of experiencing those factors.
Read More
T-6498
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Asy`ari; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah; Krishna Adi Wibisana
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kelurahan Jatisampurna Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitia cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 308 responden, dengan proporsi perempuan 64% dan laki-laki 36%. Hasil penelitian ini menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 80,2%. Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah kelelahan (64%), brain fog (30.5%), dan batuk kering (21.8%). Analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dan pekerjaan dengan kejadian Long COVID. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian Long COVID (p= 0,011 OR=2,157) dan komorbid dengan kejadian Long COVID (p= 0,006 OR= 2,652).
Read More
S-10798
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesti Purnama Sari; Pembimbing: Krisnawati Bantas
S-3430
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauziyah Hasani; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Soroy Lardo, Mulia Sugiarti
Abstrak: Terapi Antiretroviral (ARV) merupakan revolusi dalam pengobatan pasien HIV/AIDS. Beberapa faktor prognosis yang diketahui mempengaruhi kesintasan hidup pasien terapi ARV adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, stadium klinis, status fungsional, kadar CD4 awal, cara penularan HIV, infeksi oportunistik, jenis ARV yang digunakan, dan kepatuhan minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor prognosis yang mempengaruhi kesintasan hidup pasien terapi ARV di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta tahun 2007-2017. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien terapi ARV di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Sampel penelitian adalah pasien terapi ARV berusia dewasa yang naïve ARV di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada tahun 2007-2017 sebanyak 812 pasien. Penelitian ini menemukan probabilitas kesintasan pasien terapi ARV selama 11 tahun pengamatan adalah sebesar 66,5%. Hasil analisis dengan Extended Cox menunjukkan bahwa faktor prognosis yang paling signifikan mempengaruhi kesintasan pasien terapi ARV adalah infeksi oportunistik, dimana pasien yang mempunyai infeksi oportunistik memiliki risiko kematian 9,5 kali dibandingkan yang tidak memiliki infeksi oportunistik.
Read More
T-5615
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutfiani Fajrin; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Nurhayati Adnan, Helmi; Ahmad Hidayat
Abstrak:
Reinfeksi Covid-19 didefinisikan sebagai telah sembuh dari infeksi COVID-19 kemudian terinfeksi kembali. Banyaknya laporan kejadian reinfeksi dibeberapa negara seperti Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, dan negara lainnya menunjukkan besaran masalah reinfeksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang beresiko terhadap kejadian reinfeksi COVID-19. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dalam mengetahui faktor resiko reinfeksi COVID-19. Subjek penelitian ini adalah pasien dengan riwayat reinfeksi yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi dari data surveilans epidemiologi di RSDC Wisma Atlet, Jakarta pada bulan Juli – Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 variabel yang berhubungan dengan reinfeksi COVID-19 pada pasien RSDC WAK: usia 30-39 tahun (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), usia ≥40 tahun (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), variabel pekerjaan; non-nakes (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), nakes (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), riwayat kontak erat (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), penggunaan transportasi umum (POR: 1.36, 95% CI:1.02-1.79), perjalanan ke luar daerah (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), bepergian ke fasilitas umum (POR: 2.01, 95% CI: 1.45-2.78), status vaksin; vaksin dosis 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), dan belum vaksinasi (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Determinan atau faktor prediktor dominan reinfeksi COVID-19 pada pasien rawat inap RSDC WAK adalah variabel bepergian ke fasilitas umum.

COVID-19 reinfection defined as a person who has recovered from infection with COVID-19 then re-infected. The number of reinfection report in several countries such as Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, and the other country shows the magnitude of the reinfection problem. Therefore, this study was conducted to determine risk factor of COVID-19 reinfection. This study is an analytical study with a cross-sectional to determine the risk factors of COVID-19 reinfection. The subjects of this study were patients with a history of reinfection who met the inclusion and exclusion criteria from secondary data (epidemiological surveillance data) at the RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (RSDC WAK) in July – December 2021. The results showed that there were 7 variables related to the incidence of reinfection of COVID-19 in RSDC WAK patients, including: age; age 30-39 years old (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), age ≥40 years old (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), occupation; non-health workers occupation (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), health worker occupation (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), history of close contact (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), public transportation uses (POR: 1.36, 95% CI: 1.02-1.79), travel outside the region (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), visit public facilities (POR: 2.01, 95% CI: 1.45 -2.78), vaccine status; vaccinated doses 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), and unvaccinated (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Predictor of COVID-19 reinfection in inpatients at RSDC WAK is visit public facilities.
Read More
T-6560
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faridah Sani; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Yayuk Sri Rahayu
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor sosiodemografi, faktor pengetahuan dan persepsi individu, serta faktor isyarat untuk bertindak pada lansia dan hubungannya dengan perilaku lansia terhadap vaksinasi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 48,7% lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Telukjambe, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang masih memiliki perilaku kurang baik terhadap vaksinasi COVID-19 dan sebanyak 51,2% lansia sudah memiliki perilaku baik terhadap vaksinasi COVID-19.
Read More
S-10847
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rossalyn Sandra Andrisa; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Nila F. Moeloek, Sudigdo Sastroasmoro, Mondastri Korib, Tetty A. Usman
T-1267
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive