Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23628 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Desi Nur Abdi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Robiana Modjo, Hanny Harjulianti, Adinta Anandani
Abstrak:
Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak di dunia setelah India lalu diikuti Cina di posisi ketiga, dengan kasus TBC di Indonesia 969.000 kasus dan 144.000 kasus kematian akibat TBC. Salah satu faktor yang juga berpengaruh pada TBC Paru adalah pekerjaan. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang tidak hanya terjadi di komunitas atau populasi umum. Tetapi juga terjadi pada lingkungan pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan gambaran tentang faktor perilaku, faktor lingkungan dan faktor pekerjaan terhadap kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium X. Studi ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Fokus penelitian berisi pokok bahasan tentang faktor risiko kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium X. Faktor perilaku yang menjadi gambaran kejadian tuberkulosis pada tenaga laboratorium di Laboratorium X terjadi kemungkinan disebabkan kurang menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat dan kurangnya kepatuhan dalam menggunakan APD, faktor lingkungan disebabkan karena tempat tinggal yang kurang sehat akibat kurangnya ventilasi dan cahaya matahari yang masuk ke dalam tempat tinggal dan faktor pekerjaan karena belum ada Standard Operational Procedure untuk penanganan bakteri MTB, manajemen risiko yang kurang baik serta belum adanya kebijakan dari manajemen terhadap penyakit akibat kerja dan penyakit menular di tempat kerja.

Indonesia has a total of 969,000 tuberculosis (TBC) infections and 144,000 TBC-related deaths, making it the second country with the largest number of TBC cases globally, after India. Work is an important factor that affects pulmonary tuberculosis. Tuberculosis is a contagious illness which can affect not just the general public, but also other communities. However, it also occurs within the professional setting. The objective of this study is to gain a comprehensive understanding of the behavioural, environmental, and occupational factors that influence the occurrence of tuberculosis among the employees at Laboratory X. This study uses a qualitative research approach. The research focus contains the topic of discussion of risk factors for the incidence of tuberculosis in laboratory staff X. The incidence of tuberculosis among laboratory staff at Laboratory X can be attributed to several behavioural, environmental, and occupational factors. Behavioural factors include the inadequate implementation of clean and healthy living practices, known as Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), as well as a lack of compliance in using personal protective equipment (PPE). Environmental factors are caused by unhealthy living conditions, characterised by poor ventilation and limited exposure to sunlight. Occupational factors stem from the absence of a standard operational procedure for handling MTB bacteria, inadequate risk management practices, and a lack of management policies addressing occupational and infectious diseases in the workplace.
Read More
T-6897
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusnu Hariyanto; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Rusdi Husin, Agni Syah
Abstrak:
Aktivitas penambangan merupakan salah satu industri dengan risiko kecelakaan yang tinggi yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kehandalan pengendalian kritikal dalam operasi penambangan dan pemurnian nikel PT X dari tahun 2019 hingga 2023, dengan fokus pada lima aktivitas berisiko tinggi: bekerja di ketinggian, operasi kendaraan ringan, operasi alat berat, prosedur lockout/tagout (LOTO), dan pengangkatan dan penunjang beban. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, penelitian ini juga menggunakan analisis Bow Tie untuk mengevaluasi kehandalan pengendalian kritikal, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kehandalan pengendalian. Data sekunder berupa laporan insiden periode 2019-2023 yang digunakan untuk mengukur tingkat kehandalan pengendalian kritikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata implementasi pengendalian kritikal sebesar 70%, rata-rata efektivitasnya sebesar 58% dengan kehandalan sebesar 48%. Temuan menunjukkan variasi dalam kehandalan pengendalian, dengan faktor-faktor seperti pelatihan yang tidak memadai, pemeliharaan yang buruk, kondisi lingkungan, dan kesalahan manusia mempengaruhi kehandalan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, meskipun PT X telah melakukan upaya signifikan, masih ada kesenjangan dalam kehandalan yang perlu diperbaiki, dengan meningkatkan program pelatihan, memperbaiki protokol pemeliharaan, dan sistem pemantauan yang kuat. Rekomendasi ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja keselamatan dan memastikan penerapan pengendalian kritikal yang konsisten, memberikan wawasan berharga bagi PT X dan perusahaan pertambangan lainnya.

Mining activities are among the industries with high accident risks that can lead to serious injury or death. This research aims to analyze the reliability of critical controls in the mining and nickel refining operations of PT X from 2019 to 2023, focusing on five high-risk activities: working at heights, light vehicle operations, heavy equipment operations, lockout/tagout (LOTO) procedures, and lifting and supporting loads. The research employs descriptive analytical methods with qualitative and quantitative approaches, including Bow Tie analysis to evaluate the reliability of critical controls and identify factors contributing to their reliability. Secondary data in the form of incident reports from 2019-2023 are used to measure the reliability of critical controls. The research results show that the average implementation of critical controls is 70%, with an average effectiveness of 58% and reliability of 48%. The findings indicate variations in control reliability, influenced by factors such as inadequate training, poor maintenance, environmental conditions, and human error. The study concludes that despite significant efforts by PT X, gaps in reliability still need to be addressed by enhancing training programs, improving maintenance protocols, and establishing robust monitoring systems. These recommendations aim to improve safety performance and ensure consistent implementation of critical controls, providing valuable insights for PT X and other mining companies.
Read More
T-7000
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Kurniawan Alfarisi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Dadan Erwandi, Neni Julyatri Sagala
Abstrak: Stres kerja merupakan psychological hazard yang terkadang tidak terlihat, dantidak diperhatikan oleh managemen perusahaan, padahal dampak dari bahayapsikososial tersebut jika tidak segera direspon dalam jangka waktu tertentu dapatmenimbulkan dampak yang merugikan. Tenaga Analis Kesehatan merupakansalah satu pekerja yang berisiko mengalami stres kerja, dikarenakan rutinitaspekerjaannya yang monoton dan selalu berinteraksi dengan bahaya biologismerupakan salah satu faktor penyebab stres kerja. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja padaTenaga Analis Kesehatan di laboratorium X. Dari hasil penelitian, diketahuifaktor-faktor yang menyebabkan stres kerja pada tenaga Analis kesehatan diLaboratorium X adalah beban kerja, rutinitas kerja, jadwal kerja, dan bahayabiologis.
Kata Kunci : Stres kerja, Tenaga Analis Kesehatan.
Work stress is psychological hazard that are sometimes not seen, and gounnoticed by the management company, but the impact of the psychosocialhazards if not immediately responded in a certain period of time can cause adverseimpacts. Health Analyst is one of the workers at risk of occupational stress, due tothe monotonous routine work and always interacting with biological hazards isone of the causes of work stress. The purpose of this study was to determine thefactors associated with work stress on Health Analyst at X Laboratory. From theresearch lab, the causes factors of work stress on health Analyst at X Laboratoryare the workload, work routines, work schedules, and biological hazards .
Keywords : Work stress , Health Analyst.
Read More
S-9226
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harsanji Pratomo Martono; Pembimbing: Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Z. Syaaf, Chandra Satriya, Lorencius Kukuh Prabowo, Christofel Partogi Simanjuntak
Abstrak: Tesis ini membahas terkait Analisa kasus jatuh di ketinggian pada proyek konstruksi Gedung bertingkat dimulai dari fase perencanaan, desain dan rekayasa Teknik, dan masa operasi konstruksi. Desain dari penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan fenomenalogi sehingga melihat lebih detail terkait peristiwa yang terjadi. Analisa data menggunakan Analisa jejaring tematik. Hasil dari penilitan memperlihatkan 3 subtema pada perencanaan yang mengalami kendala adalah Metode kerja, identifikasi risiko, dan evaluasi risiko. Selanjutnya pada fase desain dan rekayasa juga mengalami kendala. Pada fase masa operasi konstruksi yang paling mengalami kendala adalah ijin kerja
This Thesis exploring about fall from height case analysis in high rise building construction project start with planning, design and engineering control, and construction operation. Research design with case study with phenomenology approach to look deeper and details. Data analysis with thematic network analysis. Result from the research show three organize theme having constraint is work method, risk identified, and risk evaluation. Therefore, in design phase and engineering control similar constrain likewise construction operation with permit to work
Read More
T-6181
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Ayuna Kuncoroputri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Syahrul Meizar Nasri, Yuni Kusminanti
Abstrak: Hingga saat ini, masih sering dijumpai kasus keracunan makanan ataupun penyakit yang timbul akibat mengonsumsi makanan yang mutu keamanan dan kesehatannya rendah. Usaha jasa boga informal termasuk catering merupakan salah satu potensi permasalahan dalam penerapan food safety. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan food safety pada usaha jasa boga informal di Catering X, Y, dan Z Purworejo, Jawa Tengah, tahun 2012.
 
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2012 menggunakan disain studi deskriptif observasional dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan metode wawancara mendalam, observasi, dan pengisian checklist dalam melakukan pengambilan data. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pembinaan dan pengawasan terhadap usaha jasaboga informal masih sangat kurang sehingga ditemukan berbagai ketidaksesuaian penerapan food safety dengan yang seharusnya.
 

 
Up till now, there are still encountered food poisoning cases or foodborne illnesses that caused by eating foods which have low-quality of safety and health. Catering services become one of potential problem in food safety implementation. The purpose of this study is to understand food safety implementation in Catering Services at X, Y, and Z Catering, Purworejo, Central Java, 2012.
 
This research was conducted in May and June 2012 using observational descriptive study design with qualitative approach. Researcher used in-depth interview method, observation, and checklist when used to perform data retrieval. Result of the study shows that lack of supervision and guidance for informal catering services affects various mismatches in food safety implementation.
Read More
S-7307
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dance Dita Pranajaya; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Mayarni, Annwar Hasan
Abstrak:

Perkembangan dunia bisnis saat ini diwarnai dengan persaingan yang luar biasa ketat, dan adanya berbagai perubahan dalam lingkungan bisnis, baik di dalam dan di luar negeri, yang diantaranya disebabkan oleh; makin meningkatnya tuntutan terhadap pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), ketatnya peraturan dan perundang-undangan mengenai K3 dan kesadaran karyawan atas hak-hak peke a. berusaha menciptakan sebuah budaya keselamatan pada lingkungan organisasinya yang bertujuan untuk mengurangi risiko dan angka kecelakaan kea Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif, menggambarkan budaya keselamatan ke a yang ada pada suatu klinik emergensi dilihat dari faktor individu, perilaku dan organisasi. Jenis data yang digunakan adalah data primer dari hasil wawancara mendalam dan observasi, serta data sekunder yang diperoleh dari "L" Emergency Clinic, Muara Enim, Palembang. Sebagai informan penelitian ini adalah empat orang karyawan klinik tersebut. Dari data primer hasil wawancara dan observasi dibuat matriks hasil wawancara dan observasi dan juga dari data sekunder yang kemudian dianalisis. Hasil analisis pada penelitian ini adalah sebagai berikut; pada faktor individu didapatkan bahwa pengetahuan, persepsi dan sikap karyawan terhadap K3, cenderung bervariasi. Tenaga paramedis memiliki pengetahuan yang cukup baik, tetapi non paramedis masih terbatas. Sedangkan pada faktor perilaku, masih terdapat ketidakkonsistenan dalam penerapan prosedur operasi. Pada faktor organisasi, komitmen perusahaan hanya terlihat pada level pimpinan, karena program sosialisasi tidak menyentuh level pelaksana. Organisasi juga tidak mendesain stuktur organisasi yang mengakomodir kegiatan K3 serta tidak adanya kebijakan yang mendukung peningkatkan pengetahuan peka K3. Organisasi tidak memfasilitasi karyawan dengan prosedur operasi pada tiap level peke aan dan SOP yang adapun terbatas hanya pada pelayanan kesehatan. Saran dan rekomendasi dari hasil penelitian adalah sebagai berikut; organisasi perlu meningkatkan kualitas pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja melalui pelatihan-pelatihan. Organisasi juga perlu membuat analisis risiko kesehatan atau analisa keselamatan kerja. Membuat struktur organisasi K3 1 . sampai level terbawah dengan pembagian pekerjaan yang jelas serta meningkatkan peran perwakilan manajemen yang ditempatkan sebagai pengawas pelaksanaan program K3. Selain itu perlu diupayakan agar seluruh karyawan dapat terlibat secara aktif dengan memberikan karyawan tanggung jawab lebih terhadap masalah-masalah K3

Read More
T-2767
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gatot Prihandoko; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, L. Meily Kurniawidjaja, Johannes Simanjuntak, Hendi Gunadi
T-4731
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desi Mery Dorsanti; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Ramdan Tiar
Abstrak: Tuberkulosis masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama saat ini dan menjadi tantangan global. Ada beberapa faktor risiko yang mempermudah terjadinya tuberculosis pada anak, yaitu anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB paru BTA positif terutama tinggal serumah, tinggal di daerah endemis, lingkungan yang sanitasinya tidak baik, faktor ekonomi, kondisi rumah tinggal (ukuran, kepadatan dan ventilasi rumah). Tujuan penelitian ini untuk melihat besarnya risiko kejadian sakit tuberculosis pada anak yang kontak serumah dengan penderita tuberculosis paru BTA positif. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional, dilakukan pada November 2015-Maret 2016. Sampel adalah anak yang memeriksakan diri dan melakukan test tuberculin di Puskesmas kecamatan Cilandak.Untuk melihat hubungan dilakukan. Pada penelitian ini didapatkan 85 anak melakukan test tuberculin, dan dari 69 anak yang kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif didapatkan 8 anak (11,6%) yang positif. Sedangkan dari 16 anak yang tidak kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif didapatkan 1 anak (6,2%) yang hasil test tuberkulinnya positif.Ada hubungan bermakna antara kepadatan hunian dan anggota keluarga yang merokok dengan risiko kejadian tuberculosis pada anak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah risiko kejadian tuberculosis dapat dipengaruhi karena kontak serumah dengan penderita TB paru BTA positif.
Kata kunci : Test tuberkulin, TB paru BTA positif, Mycobacterium tuberculosis

Tuberculosis remains one of the major health problems at the moment and become a global challenge. There are several risk factors that facilitate the occurrence of tuberculosis in children, the children exposed to adults with pulmonary TB smear positive mainly stayed at home, living in endemic areas, environmental sanitation is not good, economic factors, the condition of residence (size, density and ventilation home). The purpose of this study to see the magnitude of the risk of the occurrence of illness tuberculosis in children with household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients. This study used cross sectional design of the study, conducted in November 2015 and March 2016. The sample is child check-ups and perform tuberculin test in Cilandak sub-district health centers. In this study, 85 children perform tuberculin test, and of the 69 children whose household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients found 8 children (11.6%) were positive. While the 16 children who are not household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients got one child (6.2%) were the result of test tuberculin is positif.There is significant relationship between population density and family members who smoke the risk of incidence of tuberculosis in children. The conclusion of this study is the risk of tuberculosis incidence may be affected due to household contact with smear positive pulmonary tuberculosis patients.
Keywords : Tuberculin test, sputum smear positive pulmonary TB, Mycobacterium tuberculosis
Read More
S-9106
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Kusumawardhani; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra
Abstrak: Bahan kimia meliputi bermacam – macam bahan organik dan non organik yang dapat mempengaruhi kesehatan dalam waktu pendek maupun panjang. Salah satu bidang pekerjaan yang industri yang menggunakan bahan kimia dalam operasionalnya adalah laboratorium. Semakin meningkatnya jumlah sampel uji akan meningkatkan pajanan pajanan bahan kimia yang akan berdampak pada kesehatan pekerja. Tujuan dari penilitian ini adalah melakukan penilaian risiko kesehatan bahan kimia pada pajanan inhalasi dan dermal di Laboratorium Petroleum X Jakarta Timur tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Juni 2023 dengan menggunakan pendekatan kualitatif mengacu pada Manual of Recommended Practice on the Assessment of The Health Risks Arising from the Use of Chemicals Hazardous to Health at the Workplace 3rd Edition dari Department of Occupational Safety and Health, Ministry of Human Resources, Malaysia. Hasil penilaian risiko kesehatan rute pajanan inhalasi untuk bahan kimia dari seluruh tahap pengujian bervariasi dari rendah, sedang dan tinggi. Namun di dominasi oleh risiko sedang. Sementara, hasil penilaian risiko kesehatan rute pajanan dermal untuk seluruh bahan kimia dari seluruh tahap pengujian didominasi dengan risiko tinggi. Perlu dilakukannya pemantauan terhadap pengendalian yangs udah ada dan pengendalian tambahan berdasarkan hierarki pengendalian untuk bahan kimia dengan risiko tinggi dan kecukupan pengendalian yang belum memadai.

Chemicals are a wide range of organic and inorganic compounds that might have a short or long term impact on health. The laboratory is an industrial work sector that utilises chemicals in its activities. The increased quantity of test samples will increase workers' exposure to chemical compounds, which will have an effect on their health. The goal of this research was to assess the health hazards of chemicals through inhalation and skin exposure at the X Petroleum Laboratory East Jakarta in 2023. This study was carried out from April to June 2023 utilizing a qualitative method using the Manual of Recommended Practice on the Assessment of Health Risks Arising from the Use of Hazardous to Health Chemicals in the Workplace, 3rdEdition from Department of Occupational Safety and Health, Ministry of Human Resources, Malaysia. The health risk assessment scores for compounds via the inhalation route ranged from low to high across all levels of testing. However, moderate risk dominates. Meanwhile, high hazards dominated the results of the dermal exposure route health risk assessment for all compounds from all phases of testing. For high-risk chemicals and insufficient control adequacy, it is required to monitor current controls and implement new controls based on the control hierarchy.
Read More
T-6712
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Mulyadi; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Elsye As Safira, Enjarlis
Abstrak:
Pekerja laboratorium terpajan berbagai bahan kimia saat melakukan aktivitasnya. Bahan kimia yang sering digunakan dalam pengujian di laboratorium adalah pelarut organik seperti etilbenzena, toluena, dan xilena, yang ketiganya memiliki risiko terhadap kesehatan. Penilaian risiko kesehatan terkait pajanan ketiga bahan kimia yang diteliti menggunakan metode CHRA dari DOSH Malaysia. Penilaian risiko kesehatan dilakukan secara kualitatif melalui penilaian tingkat bahaya (Hazard Rating) dan tingkat pajanan (Exposure Rating). Kecukupan metode pengendalian yang ada (eksisting) juga dievaluasi dalam rangka menilai prioritas aksi (Action Priority). Laboratorium telah menerapkan beberapa pengendalian, antara lain penggunaan exhaust fan, pembukaan jendela dan pintu, pemberlakuan SOP, dan tempat penyimpanan tertutup untuk bahan pelarut. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa tingkat risiko pajanan secara inhalasi bernilai 12 (risiko sedang) dan tingkat risiko pajanan secara dermal bernilai 2 (sedang). Dengan kondisi tersebut, diperlukan adanya perbaikan untuk pengendalian risiko yang ada, antara lain penggunaan lemari asam untuk proses yang melibatkan bahan kimia berbahaya, melakukan MCU untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerja setelah terpapar BTEX, dan penyediaan APD seperti jas laboratorium, respirator dengan cartridge organic vapor, dan sarung tangan.

Laboratory workers are exposed to various chemicals during their activities. Chemicals that are often used in laboratory testing are organic solvents such as ethylbenzene, toluene, and xylene, all of which have health risks. The health risk assessment related to exposure to the three chemicals studied used the CHRA method from DOSH Malaysia. The health risk assessment was carried out qualitatively through an assessment of the level of hazard (Hazard Rating) and the level of exposure (Exposure Rating). The adequacy of existing control methods was also evaluated in order to assess action priorities. The laboratory has implemented several controls, including the use of exhaust fans, opening windows and doors, implementing SOPs, and closed storage for solvents. From the analysis, it was found that the inhalation exposure risk level was 12 (moderate risk) and the dermal exposure risk level was 2 (moderate). With these conditions, improvements are needed to control existing risks, including the use of fume hoods for processes involving hazardous chemicals, conducting MCUs to determine the health conditions of workers after exposure to BTEX, and providing PPE such as laboratory coats, respirators with organic vapor cartridges, and gloves.
Read More
T-7150
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive