Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29454 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fadhaa Aditya Kautsar Murti; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Latar belakang: Angka penggunaan kondom di kalangan remaja laki-laki ketika melakukan hubungan seksual pertama kali sangatlah rendah, padahal perilaku saat hubungan seks pertama kali ini dapat membentuk perilaku seksual di masa depan. Hal ini membuat prevalensi Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di kalangan remaja sangatlah tinggi. Maka dari itu, penting untuk mengetahui faktor apa yang mendorong remaja untuk menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual pertama kali. Metode: Penelitian ini menggunakan data SDKI KRR 2017 dengan jumlah sampel sebesar 1.127 remaja yang terbagi menjadi 377 remaja milenial dan 750 remaja gen Z. Variabel dependen penelitian ini adalah penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual pertama kali yang dianalisis dengan kompleks sampel menggunakan kai kuadrat untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk multivariat. Hasil: Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan pada generasi milenial adalah penggunaan narkoba (p-value= 0,008; aOR= 3,442 (1,393—8,505)) dan pada generasi Z adalah jenis pasangan (p-value= 0,036; aOR= 4,109 (1,097—15,395)). Kesimpulan: Faktor dominan menunjukkan bahwa telah adanya remaja di populasi yang berisiko. Maka dari itu, intervensi dapat ditunjukkan kepada kelompok berisiko melalui edukasi.

Background: The prevalence of condom use among male adolescents at first sex was notably low despite being an important factor that shapes future sexual behavior, causing the prevalence of unwanted pregnancy and sexually transmitted infections to be high. Therefore, addressing this issue in regards to what factors lead to condom use at first sex would be notably important. Methods: This research used IDHS Special 2017 dataset with sample number of 1,127 adolescents, 377 of them were millennials and 750 of them were gen Z. The dependentvii variable of this research was condom used at first. Analysis were conducted using chi square for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. Results: Multivariate analysis showed that the most influencing factor for millennials was drug use (p-value= 0,008; aOR= 3,442 (1,393—8,505)) and for generation Z was partner types (p-value= 0,036; aOR= 4,109 (1,097—15,395)). Conclusion: Multivariate analysis suggested that there were some proportions among adolescents that were at risk and therefore, intervention should be conducted to address them through education
Read More
S-11558
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Miladia Sari; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Popy Yuniar, Usep Solehudin
Abstrak: Angka hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia tidak mengalami penurunan yang signifikan sepanjang tahun 2007 hingga 2017. Berbagai penelitian menemukan bahwa remaja usia pertengahan (pelajar SMA) lebih banyak yang melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja usia awal (pelajar SMP). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor determinan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMP dan pelajar SMA di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan menggunakan data sekunder Global School based Student Health Survey (GSHS) tahun 2015. Sampel penelitian ini adalah pelajar SMP dan SMA yang berusia 11 hingga 18 tahun yang terdapat pada data GSHS 2015. Hasil penelitian menunjukkan 5,8% pelajar SMP dan 3,7% pelajar SMA di Indonesia pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Berdasarkan hasil penelitan, ditemukan bahwa faktor yang berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMP terdiri dari keterikatan dengan orang tua, peran teman sebaya, pendidikan seksualitas dan HIV/AIDS di sekolah, keinginan bunuh diri, dan konsumsi alkohol. Sementara faktor yang berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada pelajar SMA, yaitu usia, keterikatan dengan orang tua, peran teman sebaya, keinginan bunuh diri, merokok, dan konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol menjadi faktor yang paling berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah, baik pada pelajar SMP maupun pelajar SMA.
Read More
S-10983
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikhlas Tunggal Mulyandari; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak: Permasalahan perilaku pada remaja semakin marak terjadi sehingga menjadi fokusisu kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai risiko pada masa perkembangan menimbulkan kekhawatiran terjadinya perilaku berisiko kesehatan. Perilaku berisiko yang dibahas diantaranya merokok, minum alkohol, dan hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian cross-sectional dilakukan pada remaja priadan wanita belum kawin usia 15-24 tahun di Indonesia tahun 2012. Penelitian menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja yang merokok dan minum alkohol akan meningkatkan kejadian untuk melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut lagi, semakin banyak batang rokokyang dihisap dan semakin sering frekuensi minum alkohol juga meningkatkankejadian untuk melakukan hubungan seksual. Selain itu, remaja yang memiliki teman pernah berhubungan seksual lebih tinggi diantara remaja yang aktif seksual dibandingkan remaja yang belum pernah berhubungan seksual. Intervensiterintegrasi perlu dirancang sebagai bentuk pengendalian dan pencegahan perilaku berisiko remaja. Kata kunci : merokok, minum alkohol, hubungan seksual, remaja
Behaviors problem in adolescent often happen and become the focus on publichealth issues in Indonesia. The kind of risks at developmental period take theworries about health risk behaviors. The risk behaviors explored for smoking,alcohol drinking, and premarital sex. A cross sectional study was conductedamong never married men and women 15-24 years olds in Indonesia in 2012. Thestudy used data from Adolescent Reproductive Health Component of the 2012Indonesia Demographic and Health Survey. The results showed that smoking anddrinking adolescent are significantly associated with a higher likelihood ofengaging in premarital sex. Further, more number of cigarettes smoked andfrequent of drinking alcohol are also significantly associated with premaritalsexual activity. Moreover, the adolescent with ever having sex friends were higheramong sexually active youth than those who were sexually abstinent. Integratedinterventions need to be designed as control and prevention of adolescent riskbehaviors.Keywords : smoking, alcohol drinking, premarital sex, adolescent
Read More
S-8213
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Ayunisari; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Artha Prabawa, Mugia Bayu Raharja
S-9921
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Romariana Dewi Tampubolon; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Popy Yuniar, Pratono, Toha Muhaimin
Abstrak:
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang disebabkan oleh berbagai macam kuman /bakteri, virus, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. IMS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia, yang mempengaruhi kualitas hidup dan menyebabkan penyakit serius dan kematian. Wanita pekerja seks (WPS) dianggap sebagai kelompok berisiko tinggi untuk tertular infeksi menular seksual (IMS), ada potensi risiko penyebaran IMS lebih lanjut ke populasi umum melalui kontak seksual mereka dengan klien laki-laki heteroseksual dengan penggunaan kondom yang tidak konsisten dan melalui pasangan seks yang tidak terkait dengan pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian IMS pada WPS di Indonesia tahun 2018/2019. Analisis dilakukan secara univariat dan diuji dengan chi square dan regresi logistik ganda dengan jumlah sampel yang memenuhi syarat sebanyak 5.649 responden dengan data sumber STBP 2018/2019. Dari hasil penelitian diketahui bahwa proporsi kejadian IMS pada WPS sebesar 9.9 % dengan tingkat Konsistensi Penggunaan Kondom sebesar 37,1 %. Terdapat hubungan yang bermakna antara konsistensi penggunaan kondom dengan kejadian IMS dengan AOR 0.678 (95% CI 0,57-0,81), faktor Lama Kerja (≤5 tahun) dengan AOR 0.74 (95% CI 0.60-0,92) dan Penyuluhan IMS dengan AOR 0,74 (95% CI 0,61-0,89).

Sexually transmitted infections (STIs) are infections caused by a wide variety of germs/bacteria, viruses, parasites and genital lice that are mostly transmitted through sexual intercourse. STIs are a major public health problem worldwide, affecting quality of life and causing serious illness and death. Female sex workers (FSWs) are considered a high risk group for contracting sexually transmitted infections (STIs), there is a potential risk of further spread of STIs to the general population through their sexual contact with heterosexual male clients with inconsistent condom use and through non-work related sex partners. This study is a cross sectional study that aims to determine the determinants of STI incidence among FSWs in Indonesia 2018/2019. The analysis was carried out univariately and tested with chi square and multiple logistic regression with a total of 5,649 eligible samples of respondents with 2018/2019 IBBS source data. From the results of the study, it is known that the proportion of STI incidence in FSWs is 9.9% with a level of Condom Use Consistency of 37.1%. There is a significant relationship between the consistency of condom use with the incidence of STIs with an AOR of 0.678 (95% CI 0.57-0.81), the length of employement (≤5 years) with an AOR of 0.74 (95% CI 0.60-0.92) and STI counseling with an AOR of 0.74 (95% CI 0.61-0.89).

Read More
T-6904
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ekawati; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Rahmadewi
Abstrak: Kelompok milenial merupakan komposisi terbesar di Indonesia saat ini. Peran KIE sangat strategis dengan pilihan media lebih beragam dalam mengkampanyekan program KB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi, informasi dan edukasi dengan penggunaan kontrasepsi modern pada wanita generasi milenial di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 dan 2017. Adapun sampel dalam penelitian ini yaitu wanita usia 22-37 tahun berstatus kawin pada SDKI 2002/2003 sebagai kelompok generasi non milenial dan wanita usia 22-37 tahun berstatus kawin pada SDKI 2017 sebagai kelompok generasi milenial. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita milenial yang memperoleh informasi KB melalui petugas kesehatan memiliki peluang 1,8 kali lebih besar (95% CI: 1,69-2,04) untuk menggunakan kontrasepsi modern dibandingkan wanita yang tidak mendapat informasi KB melalui petugas kesehatan. Dan wanita milenial yang pernah terpapar pesan KB dari televisi memiliki peluang 1,1 kali lebih besar (95% CI: 1,07-1,24) untuk menggunakan kontrasepsi modern dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah terpapar pesan KB dari televisi.
Kata kunci: Komunikasi, Informasi dan Edukasi, Penggunaan Kontrasepsi Modern, Milenial

Millennial are the largest composition in Indonesia. The role of IEC is very strategic with more diverse media choices in campaigning for family planning programs. This study aims to analyze the relationship of communication, information and education with the use of modern contraception in millennial generation women in Indonesia. This study uses data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2002/2003 and 2017. The sample in this study is that women aged 22-37 years are married in the 2002/2003 IDHS as a nonmillennial generation group and women aged 22-37 years are married at the 2017 IDHS as a millennial generation group. This study uses logistic regression analysis. The results showed that millennial women who received family planning information through health workers had a 1.8 times greater chance (95% CI: 1.69-2.04) to use modern contraception than women who did not receive family planning information through health workers. And millennial women who have been exposed to family planning messages from television have a 1.1 times greater chance (95% CI: 1.07-1.24) to use modern contraception than women who have never been exposed to family planning messages from television.
Key words: Information , Education, Communication, Contraceptive use, Millennials
Read More
S-10339
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayasha Naila Ismunandar; Pembimbing: Besral; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Rahmadewi
Abstrak:
Latar Belakang: Pertumbuhan penduduk tinggi dapat menghambat kesejahteraan masyarakat apabila tidak dikendalikan. Melihat laju pertumbuhan penduduk Indonesia terdapat kecenderungan untuk mengalami kenaikan namun penggunaan KB MKJP sebagai salah satu upaya pengendalian pertumbuhan penduduk secara luas masih rendah. Kelompok wanita yang tidak menggunakan KB MKJP pun pada akhirnya menjadi multipara. Metode: Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder SDKI 2017 dataset WUS dengan desain studi cross sectional. Dilakukan uji chi-square dan regresi logistik dengan interval kepercayaan 95% untuk menggambarkan kekuatan hubungan antar variabel. Hasil: Ditemukan cakupan penggunaan MKJP pada wanita multipara yang tidak ingin memiliki anak lagi di Indonesia baru mencapai 28,9% dengan hasil analisis multivariabel menemukan variabel yang berkorelasi secara statistik adalah: (a) umur 36-49 tahun [aOR: 1,36; CI: 1,20-1,55], (b) pendidikan tinggi [aOR: 2,99; CI: 1,76-5,06], (c) jumlah anak hidup >2 orang [aOR: 1,67; CI: 1,49-1,88], (d) pengambilan keputusan ber-KB bersumber dari suami/pasangan [aOR: 1,95; CI: 1,59-2,39], (e) memiliki jaminan kesehatan [aOR: 1,39; CI: 1,23-1,56], (f) pengetahuan tinggi [aOR: 1,39; CI: 1,23-1,56]. Kesimpulan: Pendidikan tinggi menjadi faktor dominan penggunaan MKJP pada wanita multipara yang tidak ingin memiliki anak lagi di Indonesia dikarenakan mereka cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi KB MKJP. Dengan demikian, diharapkan peningkatan pendidikan dapat dilakukan melalui edukasi menyeluruh dengan dibantu oleh petugas KB.

Backgrounds: In the absence of regulation, rapid population expansion can negatively impact community welfare. Indonesia's population is likely to continue growing at its current rate. In despite this, LARC is still not widely used to slow down population increase. Eventually, the women in the group who did not use LARC became multiparous. Method: This research uses secondary data sources from the 2017 IDHS WUS dataset with a cross sectional study design. To describe the strength of the association between the variables, 95% confidence intervals were used for both logistic regression and chi-square tests. Results: It was found that the usage of LARC use among multiparous women who didn’t want more child in Indonesia had only reached 28.9%, with the results of multivariable analysis finding variables that were statistically correlated were: (a) age 36-49 years [aOR: 1.36; CI: 1.20-1.55], (b) higher education [aOR: 2.99; CI: 1.76-5.06], (c) number of living children >2 [aOR: 1.67; CI: 1.49-1.88], (d) family planning decision making comes from husband/partner [aOR: 1.95; CI: 1.59-2.39], (e) have health insurance [aOR: 1.39; CI: 1.23-1.56], (f) high knowledge [aOR: 1.39; CI: 1.23-1.56]. Conclusion: Higher education is the dominant factor in using LARC among multiparous women who don’t want more child in Indonesia because they tend to have better access to LARC family planning information. Thus, it is hoped that educational improvements can be carried out through comprehensive education assisted by family planning officers.
Read More
S-11527
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Valya Puspita Aryatri; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral; Rahmadewi
Abstrak:
Pemerintah menganjurkan pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), karena dianggap secara aktif mampu mengurangi laju pertumbuhan penduduk, serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Namun di Indonesia sering terjadi kehamilan yang tidak diinginkan pada wanita yang yang sudah tidak ingin memiliki anak lagi yang disebabkan oleh kegagalan kontrasepsi.akan tetapi penggunaan MKJP pada wanita usia subur di Indonesia masih sangat rendah yang baru mencapai 13%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan penggunaan MKJP pada akseptor KB yang tidak lagi menginginkan anak di Indonesia tahun 2017. Metode penelitian ini menggunakan desain Cross sectional atau potong lintang dengan data yang dianalisis adalah data sekunder dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Akseptor KB penelitian ini adalah wanita usia 15-49 tahun yang tidak menginginkan anak lagi, berstatus kawin, dan menggunakan kontrasepsi. Data yang didapat akan diolah secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistic. Hasil analisis Multivariat menunjukan bahwa faktor yang berhubungan dengan penggunaan MKJP adalah Usia, Jumlah anak hidup, tingkat pendidikan, status ekonomi, Wilayah tempat tinggal, pengetahuan, Tempat pelayanan KB, keterpaparan informasi KB, serta Informasi KB dari petugas kesehatan. Faktor yang paling dominan berperan dalam penggunaan MKJP adalah tempat pelayanan KB, dimana akseptor KB yang memperoleh pelayanan KB di fasilitas kesehatan pemerintah cenderung 3,8 (CI;3.318-4.490) kali lebih tinggi untuk memilih MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang mendapat fasilitas kesehatan di fasilitas kesehatan swasta

The government recommends the use of the Long-Term Contraceptive Method (LAPMs), because it is considered actively able to reduce the rate of population growth, and reduce maternal and infant mortality. However, in Indonesia, unwanted pregnancies often occur in women who don't want to have any more children due to contraceptive failure. However, the use of LAPMs in women of childbearing age in Indonesia is still very low at only 13%. The purpose of this study was to determine the determinants of the use of LAPMs on family planning acceptors who no longer wanted children in Indonesia in 2017. This research method used a cross sectional or cross-sectional design with the data analyzed were secondary data from the Indonesia Demographic Health Survey (IDHS) 2017. Family planning acceptors in this study were women aged 15-49 years who did not want any more children, were married, and used contraception. The data obtained will be processed univariate, bivariate, and multivariate using logistic regression. The results of the multivariate analysis showed that the factors related to the use of LAPMs were age, number of living children, education level, economic status, area of residence, knowledge, place of family planning services, exposure to family planning information, and family planning information from health workers. The most dominant factor that plays a role in the use of LAPMs is the place of family planning services, where family planning acceptors who receive family planning services at government health facilities tend to be 3.8 (CI; 3,318-4,490) times higher for choosing LAPMs compared to family planning acceptors who receive health facilities in private health facilities.
Read More
S-11163
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Ayu Prameswari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Victoria Indrawati
Abstrak: Penggunaan Kondom secara konsisten merupakan salah satu cara untuk mencegah penyakit menular seksual pada populasi kunci. Rata-rata pembeli jasa seks pada populasi yang menjual seks paling banyak adalah pada WPSL, kemudian diikuti oleh WPSTL, LSL, dan penasun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaaan kondom pada wanita pekerja seks langsung di 9 kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data STBP 2013. Populasi penelitian ini adalah seluruh WPSL yang ada di 9 Kota yang menjadi tempat pelaksanaan survei. Sampel penelitian yang diteliti adalah WPSL yang berusia >15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan kondom pada WPSL di 9 Kota di Indonesia pada tahun 2013 adalah 36,3% dan prevalensi WPSL yang memiliki pengetahuan baik adalah 55,9%. WPSL yang memiliki pengetahuan baik tentang HIV-AIDS, risiko, dan pencegahannya berisiko 3,2 kali untuk memiliki perilaku konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol faktor konfounding. Faktor konfonding dalam hubungan pengetahuan HIV, risiko dan pencegahannya dengan konsistensi penggunaan kondom dalam penelitian ini adalah pendidikan (OR=1,732), persepsi (OR=1,305), jumlah pelanggan (OR=0,737), ketersediaan kondom (OR=1,826), akses kondom gratis (OR=1,970), dan menawarkan kondom (OR=31,523). Dibutuhkan penelitian lanjut dengan faktor-faktor tambahan yang diduga menjadi determinan perilaku penggunaan kondom secara konsisten. Kata kunci: Konsistensi, Kondom, Pengetahuan
Consistency in condom usage is one of the ways to prevent sexually transmitted infection in key population. The average client of sex services in populations that provides most prostitution service is the Direct Female Sex Workers (DFSW), followed by Indirect Female Sex Workers (IFSW), MSM and IDUs. This study is conducted to identify the association between knowledge of HIV-AIDS, its risks, and its prevention with consistency of condom usage on direct female sex workers in 9 cities in Indonesia. This study used cross sectional study design and used data of IBBS 2013. Population of this study is all of DFSW in 9 cities where the survey is held. Meanwhile, the DFSW taken as samples for this study are 15 years old or above who meet the inclusion and exclusion criteria. The result shows that the prevalence of consistency of condom usage on DFSW in 9 Cities in Indonesia is 36.3% and the prevalence of DFSW which has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention is 55.9%. The DFSW who has good knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention has 1=3.2 time higher chance of consistency in condom usage after the confounding factors are controlled. The confounding factors in association between knowledge of HIV-AIDS, its risk, and its prevention and consistency of condom usage are education (OR=1.732), perception (OR=1.305), number of guest (OR=0.737), condom availability (OR=1.826), free condom access (OR=1.970), and offering condom to guest (OR=31.523). Further study is needed with more factors that determine consistency of condom usage on DFSW. Keyword: Consistency, Condom, Knowledge
Read More
S-8965
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astari Nola Margaretha; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Ika Saptarini
S-10152
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive