Ditemukan 29270 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan kebiasaan makan yang akan berdampak pada kesehatan jangka panjang. Remaja diperkirakan mencakup 16% dari seluruh populasi dunia dengan kebutuhan nutrisi yang tinggi akibat pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Remaja secara konsisten ditemukan sebagai kelompok populasi dengan kebiasaan makan terburuk dibandingkan kelompok usia lainnya. Kebiasaan makan yang tidak sehat pada remaja, seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur serta tingginya konsumsi makanan cepat saji, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi obesitas yang mencapai 23,48% secara nasional dan 29,16% di Kota Depok. Obesitas pada masa remaja merupakan katalis berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari dan cenderung berlanjut hingga dewasa. Lingkungan keluarga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku makan remaja melalui ketersediaan makanan di rumah, frekuensi makan bersama keluarga, dan keberfungsian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan keluarga dengan kebiasaan makan siswa SMP di SMPN 3 Depok tahun 2025. Penelitian cross-sectional ini melibatkan 219 siswa kelas VIII dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan makanan di rumah (p<0,05) dan keberfungsian keluarga (p<0,05) memiliki hubungan signifikan dengan kebiasaan makan siswa, sedangkan frekuensi makan bersama keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lingkungan keluarga, khususnya ketersediaan makanan di rumah dan keberfungsian keluarga, berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan remaja. Penemuan ini dapat menjadi dasar pengembangan intervensi berbasis keluarga dalam mengatasi masalah obesitas remaja di Indonesia.
Adolescence represents a critical period for establishing eating habits that significantly impact long-term health outcomes. Adolescents comprise approximately 16% of the global population with high nutritional requirements due to rapid growth and development. Adolescents are consistently identified as the population group with the poorest eating habits compared to other age groups. Unhealthy eating habits among adolescents, such as low consumption of fruits and vegetables and high consumption of fast food, contribute to increasing obesity prevalence reaching 23.48% nationally and 29.16% in Depok City. Adolescent obesity serves as a catalyst for various non- communicable diseases later in life and tends to persist into adulthood. Family environment plays an important role in shaping adolescent eating behaviors through food availability at home, family meal frequency, and family functioning. This study aimed to determine the relationship between family environmental factors and eating habits among junior high school students at SMPN 3 Depok in 2025. This cross-sectional study involved 219 eighth-grade students with data collection using questionnaires. The results showed that food availability at home (p<0.05) and family functioning (p<0.05) had significant relationships with student eating habits, while family meal frequency showed no significant relationship (p>0.05). This study concludes that family environmental factors, particularly food availability at home and family functioning, play important roles in shaping adolescent eating habits. These findings can serve as a foundation for developing family-based interventions to address adolescent obesity problems in Indonesia.
Latar Belakang: Konsep gizi seimbang adalah setiap orang harus memperhatikan sendiri kebutuhan nutrisi berdasarkan aktivitas dan kebutuhan harian sesuai usianya. Pedoman Gizi Seimbang diantaranya ada berbagai variasi makanan. Pesan gizi seimbang diantaranya adalah konsumsi banyak sayur dan cukup buah, membiasakan mengonsumsi lauk pauk tinggi protein. Membiasakan makan berbagai ragam makanan pokok, matasi makan makanan manis, asin, dan berlemak. Biasakan sarapan pagi, membiasakan minum air putih yang cukup dan aman serta memiasakan membaca label kemasan makanan.
Metode: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Gizi Seimbang Pada Pegawai PT XY Di DKI Jakarta Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data primer. Sampel penelitian ini berjumlah 280 sampel.
Kesimpulan: Sebagian besar responden tidak berperilaku gizi seimbang sebanyak (53,6%), Terdapat hubungan faktor predisposisi (pengetahuan) p value=0,004 OR 2, faktor predisposisi (sikap) p value=0,012 OR 1,8, faktor pemungkin (paparan media edukasi gizi) p value=0,003 OR 2,1 dan faktor penguat (peran keluarga) dengan perilaku gizi seimbang pegawai PT XY di Jakarta dengan p value=0,042 OR 2,1. Saran yang peneliti berikan hendaknya pengelola Promosi kesehatan melakukan advokasi kepada perusahaan untuk melakukan gerakan Pegawai sadar gizi, penyediaan kantin sehat, Bantuan perhitungan kebutukan kalori dan zat gizi pada Pegawai sesuai keadaan, menu makanan yang dianjuran serta aktivitas fisik yang perlu dilakukan. Memberikan pendampingan ahli gizi dalam upaya Pegawai melaksanakan program gizi seimbang secara efektif dan dukungan berkelanjutan. Melakukan publikasi di media sosial dengan tagar khusus peduli gizi seimbang
Background:. The concept of balanced nutrition is that everyone must pay attention to their own nutritional needs based on their activities and daily needs according to their age. Balanced Nutrition Guidelines include various food variations. Balanced nutrition messages include consuming lots of vegetables and enough fruit, getting used to consuming high-protein side dishes. Getting used to eating a variety of staple foods, avoiding sweet, salty, and fatty foods. Getting used to having breakfast, getting used to drinking enough and safe water and getting used to reading food packaging labels. Method: The purpose of this study was to determine the faktor s related to Balanced Nutrition Behavior in PT XY Employees in DKI Jakarta in 2024. This study is a quantitative study with a cross-sectional design using primary data. The sample of this study amounted to 280 samples. Conclusion: Most respondents did not a balanced nutrition as much as (53.6%), There wass a relationship between predisposing faktor s (knowledge) p value = 0.004 OR 2, predisposing faktor s (attitude) p value = 0.012 OR 1.8, enabling faktor s (exposure to nutrition education media) p value = 0.003 OR 2.1 and reinforcing faktor s (family role) with balanced nutrition behavior of PT XY employees in Jakarta with p value = 0.042 OR 2.1. The suggestion to health promotion managers should carry out advocacy to companies to carry out a movement for employees to be aware of nutrition, provide healthy canteens, Assistance in calculating calorie and nutrient needs for employees according to their circumstances, recommended food menus and physical activities that need to be done. Provide assistance from nutrition experts in efforts for employees to implement balanced nutrition programs effectively and ongoing support. Conduct publications on sosial media with a special hashtag caring for balanced nutrition
