Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36829 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Mediana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10413
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Sulistyo dan Meilina Farikha
Abstrak:
Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370).

The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370).
Read More
T-6699
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tuti Alawiyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Tengku Yenni Febrina, Sulistyo
Abstrak:
Latar belakang: Tuberkulosis Sensitif Obat (TBC SO) masih menjadi tantangan program kesehatan di Kota Bogor, di mana angka putus berobat melebihi rata-rata nasional dan treatment success rate baru mencapai 79,2%, jauh di bawah target nasional 90%. Setiap pasien yang putus berobat berisiko berkembang menjadi TBC resistan obat sekaligus menjadi sumber penularan aktif di komunitas. Hingga saat ini, upaya pencegahan putus berobat masih bersifat reaktif karena belum tersedianya bukti ilmiah yang spesifik tentang prediktor kejadian putus berobat pada konteks Kota Bogor sebagai wilayah urban dengan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan yang beragam. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kejadian putus berobat pada pasien TBC SO di Kota Bogor tahun 2024 sebagai landasan intervensi program yang berbasis bukti. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan total populasi pasien TBC SO yang memulai pengobatan di Kota Bogor tahun 2024 (n=3.562) dari data SITB dan SiGeulis. Analisis multivariat menggunakan Cox Extended regression dengan Heaviside split pada bulan ke-2 untuk mengakomodasi variabel yang melanggar asumsi proportional hazard. Data tidak lengkap pada variabel HIV, DM, riwayat pengobatan, dan pekerjaan dianalisis menggunakan pendekatan informative missingness dengan menjadikan kategori "tidak diketahui" sebagai kategori analitik tersendiri yang bermakna secara programatik. Hasil: Proporsi putus berobat sebesar 8,37% (n=298) dengan median waktu kejadian bulan ke-3. Hampir separuh kejadian (49,0%) terkonsentrasi pada fase intensif dua bulan pertama pengobatan. Terdapat lima prediktor independen: jenis fasyankes rumah sakit (aHR fase awal=6,95; 95% CI: 4,05–11,94), jenis kelamin laki-laki (aHR=1,90; 95% CI: 1,49–2,41), status HIV tidak diketahui (aHR fase awal=2,01; fase lanjutan=2,73), riwayat pengobatan tidak diketahui (aHR fase awal=1,82; 95% CI: 1,21–2,75), serta komorbid DM yang signifikan hanya pada fase lanjutan (ada DM: aHR=2,05; tidak diketahui: aHR=2,17). Kesimpulan: Risiko putus berobat bersifat dinamis dan berbeda antar fase pengobatan. Jenis fasyankes dan riwayat pengobatan tidak diketahui dominan pada fase awal, sementara DM dan status HIV tidak diketahui menguat di fase lanjutan. Pola konsisten pada tiga kategori "tidak diketahui" mencerminkan fenomena informative missingness (ketidaklengkapan) data klinis sebagai sinyal lemahnya keterlibatan pasien dengan sistem kesehatan. Intervensi perlu bersifat diferensial berdasarkan fase pengobatan seperti pemantauan intensif di rumah sakit pada dua bulan pertama, dan penguatan skrining serta tindak lanjut HIV dan DM sepanjang fase lanjutan pengobatan.

Background: Drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) remains a persistent challenge for health programs in Bogor City, where the loss to follow-up (LTFU) rate exceeds the national average and the treatment success rate stands at only 79.2%, well below the national target of 90%. Each patient who discontinues treatment risks developing drug-resistant TB while simultaneously becoming an active source of transmission in the community. To date, prevention efforts remain reactive due to the absence of context-specific evidence on predictors of LTFU in Bogor City as an urban area with a heterogeneous distribution of health facilities. This study aims to identify the determinants of LTFU among DS-TB patients in Bogor City in 2024 as an evidence-based foundation for program intervention.  Methods: A quantitative study with a retrospective cohort design was conducted using the total population of DS-TB patients who initiated treatment in Bogor City in 2024 (n=3,562), sourced from SITB and SiGeulis. Multivariate analysis used Cox Extended regression with a Heaviside split at month 2 to accommodate variables violating the proportional hazard assumption. Incomplete data on HIV status, diabetes mellitus (DM), treatment history, and occupation were analyzed using an informative missingness approach, treating the "unknown" category as a distinct analytical category with programmatic significance.  Results: The proportion of LTFU was 8.37% (n=298), with a median time to event of month 3. Nearly half of all events (49.0%) were concentrated in the intensive phase of the first two months of treatment. Five independent predictors were identified: hospital-based care (aHR early phase=6.95; 95% CI: 4.05–11.94), male sex (aHR=1.90; 95% CI: 1.49–2.41), unknown HIV status (aHR early phase=2.01; late phase=2.73), unknown treatment history (aHR early phase=1.82; 95% CI: 1.21–2.75), and comorbid DM which was significant only in the late phase (known DM: aHR=2.05; unknown DM: aHR=2.17).  Conclusion: The risk of LTFU is dynamic and differs across treatment phases. Health facility type and unknown treatment history were dominant predictors in the early phase, while DM and unknown HIV status emerged as stronger predictors in the late phase. The consistent pattern across three "unknown" categories reflects the phenomenon of informative missingness incomplete clinical data as a signal of weak patient engagement with the health system. Interventions should be phase-specific: intensive monitoring at hospitals during the first two months, and strengthened HIV and DM screening and follow-up throughout the late treatment phase.
Read More
T-7619
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. A. Della Patrisia Pramesti; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Syahrizal Syarif, Sulistyo
Abstrak:
Ketidakberhasilan pengobatan TBC masih berada di atas ambang batas 10% yaitu 13% pada tahun 2023 di Indonesia. Komponen terbesar yang menyumbang angka ketidakberhasilan pengobatan TBC ini adalah kejadian putus berobat. Pasien TBC yang putus berobat pada tahun 2023 menempati angka tertinggi sepanjang periode pelaporan TBC pada tahun 1996-2023 dan meningkat secara berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prediktor kejadian putus berobat pada pasien TBC sensitif obat (SO) dan mengetahui gambaran waktu terjadinya putus berobat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan melibatkan seluruh pasien TBC SO yang memulai pengobatan pada Januari-Desember 2023 di Indonesia yang memenuhi kriteria penelitian dan tercatat pada sistem informasi tuberkulosis (SITB). Analisis data mencakup analisis deskriptif sampai analisis multivariat untuk memperoleh model prediksi terbaik dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa 17% dari populasi dalam penelitian ini putus pengobatan dengan median waktu putus berobat pada hari ke-56. Pasien ≥45 tahun, laki-laki, koinfeksi HIV, memiliki riwayat pernah putus berobat, diobati di rumah sakit (RS) pemerintah, RS swasta dan klinik/praktik mandiri swasta, lokasi fasyankes dan tempat tinggalnya berbeda kabupaten/kota, serta berobat di wilayah Kawasan Timur Indonesia dan Sumatera merupakan kelompok risiko tinggi putus berobat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan persepsi pasien, penguatan dukungan sosial dan keluarga, perluasan akses pelayanan dan pendampingan pasien TBC di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, serta  penguatan sistem pelayanan kesehatan dan sistem deteksi dini untuk mencegah kejadian putus berobat.

The unsuccessful outcome of tuberculosis (TB) treatment in Indonesia remains high, at 13% in 2023, exceeding the 10% threshold. The largest contributing factor to this outcome is the rate of loss to follow-up (LTFU). In 2023, the number of LTFU cases reached the highest level recorded in the TB information system from 1996 to 2023, showing a consecutive increase over the past three years. This study aims to identify the predictive factors for occurrence of LTFU among drug-sensitive tuberculosis (DS-TB) cases and to determine the predicted time before the LTFU in Indonesia. This study utilizes a retrospective cohort design, involving all DS-TB cases who initiated treatment between January and December 2023 in Indonesia, met the study criteria, and were recorded in the TB information system. The analysis performed includes descriptive and multivariate analysis to identify the most accurate model in this study. The findings indicate that 17% of the population experienced LTFU, with the median time on day 56. Patients aged 45 years and older, male patients, those with HIV status, a prior history of treatment interruption, those receiving treatment at private hospitals, public hospitals and private clinics/general practitioners, those treated at facilities located in districts or cities different from their registered addresses, and those treated in Eastern Region of Indonesia and Sumatera were identified as having the highest risk compared to other groups. Accordingly, it is imperative to enhance patient knowledge and awareness, strengthen social and family support systems, expand service access and patient support across all facilities, and strengthen the healthcare system and early detection mechanisms to prevent the occurance of LTFU.
Read More
T-7461
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Hanifah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia
yang merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Tahun 2023 di DKI Jakarta terjadi peningkatan insiden TBC sebesar 31,75% dibandingkan tahun sebelumnya dan bahkan melebihi target insiden 2023 yang ditetapkan (>54.175 kasus). Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang memanfaatkan data Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK), dengan tujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC paru di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023. Sampel penelitian adalah seluruh kontak terduga TBC di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023 yang memiliki hasil pemeriksaan TBC. Hasil penelitian menunjukkan lansia (PR = 1,56; 95% CI: 1,473–1,653), laki-laki (PR = 1,37; 95% CI: 1,314–1,441), perokok (PR = 1,28; 95% CI: 1,206–1,367), penderita DM (PR = 1,85; 95% CI: 1,585–2,171), dan pengobatan TBC tidak tuntas (PR = 2,24; 95% CI: 2,121–2,365) merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian TBC paru. Sementara itu kontak serumah (PR = 0,6; 95% CI: 0,538–0,678) memiliki hubungan signifikan yang bersifat protektif terhadap kejadian TBC paru. Sosialisasi upaya berhenti/mengurangi rokok, penyuluhan pencegahan TBC kepada lansia dan penderita DM serta pendampingan pengobatan pasien TBC merupakan upaya yang dapat mencegah terjadinya insiden TBC paru di DKI Jakarta.


Tuberculosis is a major public health threat in Indonesia, which is the second-highest TB burdened country in the world. In 2023, the incidence of TB in Jakarta increased by  31.75% compared to the previous year and even exceeded the 2023 incidence target  (>54,175 cases). This study is a cross-sectional study utilizing data from the Community  Tuberculosis Information System (SITK), aimed at identifying risk factors associated  with pulmonary TB cases in Jakarta Province from 2022 to 2023. The study sample  consisted of all suspected TB contacts in Jakarta Province from 2022 to 2023 who had  undergone TB testing. The study results showed that older adults (PR = 1.56; 95% CI:  1.473–1.653), males (PR = 1.37; 95% CI: 1.314–1.441), smokers (PR = 1,28; 95% CI:  1,206–1,367), DM patients (PR = 1.85; 95% CI: 1.585–2.171), and incomplete TB  treatment (PR = 2.24; 95% CI: 2.121–2.365) were significant risk factors for pulmonary  TB incidence. Meanwhile, household contacts (PR = 0.6; 95% CI: 0.538–0.678) have a  significant protective association with the occurrence of pulmonary TB. Efforts to  promote smoking cessation/reduction, TB prevention education for the elderly and DM  patients, and patient accompaniment during TB treatment are measures that can prevent  the occurrence of pulmonary TB in Jakarta. 

Read More
S-11960
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Siti Aminah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Retno Kusuma Dewi, Ani Herna Sari
Abstrak:
Tiga permasalahan TB di Indonesia yaitu TB sensitif, TB Resistan Obat (TB-RO) dan TB-HIV. TB-RO merupakan masalah yang menghawatirkan, angka penemuan kasus TBRO setiap tahun semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan angka pengobatan. Penggunaan paduan jangka pendek untuk pengobatan pasien TB-RO sejak September 2017 merupakan salah satu upaya menekan peningkatan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini dilakukan untuk melihat trend dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB Resistan Obat (TB RO) dengan paduan Shorter Treatment Regiment (STR) di Indonesia Tahun 2017-2019. Penelitian menggunakan desain kohort restropektif. Sumber data adalah semua pasien TB RO paduan jangka pendek yang terdaftar dalam sistem informasi TB MDR Subdit Tuberkulosis. Metode sampling adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan uji cox regression. Sebanyak 3.100 pasien disertakan dalam analisis, didapat angka keberhasilan pengobatan adalah 41,94%. Hasil analisis menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan adalah umur, kepatuhan, hasil pemeriksaan sputum awal pengobatan, pola resistensi monoresisten dan poliresisten, serta wilayah tempat tinggal. Kepatuhan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan. Perlu dilakukan upaya penguatan kepatuhan dengan melakukan konseling sedini mungkin, pendamping PMO dari non petugas dan inisiasi grup dukungan pasien di setiap faskes MDR

TB problems in Indonesia are TB sensitive, Drug-Resistant TB and TB-HIV. TB-RO is the most challengging  problem, the number of case finding is increase every year, but treatment rate is decrease. The use of short-term  regiment since September 2017 is one of strategy to reduce default of TB treatment. This research was  conducted to see trends and factors related to the TB treatment success rate among patients with Drug  Resistance TB (TB RO) using Shorter Treatment Regiment (STR) in Indonesia 2017-2019. The study desain is  restropective cohort. Data sources are all patients of TB RO using STR regiment, which is enrolled in the e-TB  manager, Sud Directorate of Tuberculosis, MoH RI. The sampling method is total sampling that meets the  inclusion and exclusion criteria. The analysis used was the chi-square test and the cox regression test. As many  as 3,100 patients were included in the analysis, the treatment success rate was 41,94%. The results of the  analysis showed that factors related to treatment success were age, adherence, results of initial sputum  examination of treatment, patterns of monoresistant and polyresistant resistance, and area of ​​residence.  Adherence is a dominant factor related to treatment success. Efforts should be made to strengthen compliance  by conducting counseling as early as possible, PMO assistants from non-helath officers and initiating patient  support groups in each MDR facility 

Read More
T-5925
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Regina Loprang; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Tri Yunis Miko Wahyono, RR Diah Handayani, Sulistyo
Abstrak:
Tuberkulosis resisten obat (TBC RO) tetap menjadi hambatan utama dalam eliminasi tuberkulosis, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam beban TBC RO secara global. Dari perkiraan 30.000 kasus baru setiap tahun, hanya 39% yang terdiagnosis dan dilaporkan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah sebesar 57%. Penelitian ini menganalisis faktor risiko kematian pada pasien TBC RO yang menggunakan paduan pengobatan jangka pendek (STR) di Indonesia selama 2020–2022 dengan desain kohort retrospektif dan analisis survival menggunakan data SITB. Temuan utama mengidentifikasi usia lanjut (≥65 tahun), koinfeksi HIV tanpa ART, riwayat pengobatan ulang, keterlambatan memulai pengobatan (>3 bulan), dan rejimen berbasis suntikan STR sebagai faktor risiko kematian yang signifikan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi (87,37%) ditemukan pada pasien yang memulai pengobatan dalam 2–4 minggu setelah diagnosis dan terendah (77,36%) pada mereka yang menunda pengobatan lebih dari tiga bulan. Koinfeksi HIV tanpa ART menjadi faktor risiko terkuat, meningkatkan risiko kematian hingga sepuluh kali lipat, sementara usia lanjut meningkatkan risiko 3,67 kali dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis dan pengobatan tepat waktu, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.

Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a critical barrier to tuberculosis elimination, with Indonesia ranking third globally in DR-TB burden. Despite an estimated 30,000 new cases annually, only 39% are diagnosed and reported, with a low treatment success rate of 57%. This study analyzed mortality risk factors among DR-TB patients treated with shorter treatment regimens (STR) in Indonesia from 2020 to 2022 using retrospective cohort and survival analyses of SITB data. Key findings identified older age (≥65 years), HIV co-infection without ART, re-treatment history, delayed treatment initiation (>3 months), and STR injection-based regimens as significant mortality risk factors. Survival was highest (87.37%) among patients starting treatment within 2–4 weeks of diagnosis and lowest (77.36%) for those delaying beyond three months. HIV co-infection without ART posed the strongest risk, increasing mortality tenfold, while advanced age raised the risk 3.67 times compared to younger cohorts. These findings underscore the need for timely diagnosis and treatment, particularly for high-risk groups
Read More
T-7436
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Rizkiyani; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo
Abstrak:
Capaian inisiasi pengobatan TBC RO di Indonesia pada tahun 2022 masih rendah yaitu 65% dibandingkan target nasional yaitu 93%. Selain itu, tren inisiasi pengobatan TBC RO dalam 5 tahun ke belakang meningkat, tetapi rata-rata pasien yang tidak berobat masih rendah yaitu >35%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pasien terdiagnosis TBC RO yang tidak berobat di Indonesia tahun 2022 dengan menggunakan desain studi kohort retrospektif dan data sekunder nasional dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Analisis multivariat dilakukan dengan pemodelan prediksi yang bertujuan untuk memperoleh model yang dianggap terbaik untuk memprediksi kejadian inisiasi pengobatan dengan menggunakan cox regression. Sampel penelitan adalah semua pasien terdiagnosis TBC RO yang tercatat di register TB 06 SITB tahun 2022 (total sampling) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 11.589 pasien TBC RO yang eligible menjadi sampel penelitian, sebanyak 3.482 pasien TBC RO (30%) yang tidak inisiasi pengobatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian pasien pasien TBC RO tidak inisiasi pengobatan di Indonesia tahun 2022 adalah usia, riwayat pengobatan TBC, ketersediaan layanan TBC RO, dan wilayah dampingan komunitas. Perluasan akses pengobatan TBC RO dan penguatan pendampingan dari komunitas menjadi faktor penting untuk meningkatkan inisiasi pengobatan TBC RO, sehingga dapat menurunkan risiko penularan TBC RO di masyarakat.

Low achievement of drug-resistant TB treatment initiation in Indonesia (65%) compared to the national target (93%) in 2022. The trend of drug-resistant TB treatment initiation in the past 5 years has increased, but the average number of pre-treatement lost to follow up is more than 35%. The aim of this study is to determine the factors related to drug-resistant TB patients not initiating treatment in Indonesia year 2022 using a retrospective cohort study design and secondary data from the national Tuberculosis Information System (SITB). Multivariate analysis was carried out using predictive modeling which aims to obtain a model that is considered the best for predicting the incidence of treatment initiation using cox regression. The research sample was all patients diagnosed with drug-resistant TB recorded in the TB 06 register in SITB year 2022 (total sampling) who met the inclusion and exclusion criteria. Out of the 11,589 drug-resistant TB patients who were eligible as research samples, 3.482 RO TB patients (30%) did not initiate treatment. The results of the multivariate analysis showed that the factors associated with the incidence of drug-resistant TB patients not initiating treatment are age, history of TB treatment, availability of drug-resistant services, and community support areas. Expanding access to drug-resistant TB treatment and strengthening assistance from the community are important factors in increasing the initiation of drug-resistant TB treatment as well as reducing the risk of drug-resistant transmission in the community.
Read More
T-6997
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive