Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42108 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewi Amalia Marina; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Rizky Hasby
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku seksual yang membuat seseorang berisiko mengalami infeksi menular seksual seperti HIV. Salah satu populasi kunci yang sering terabaikan adalah kelompok Transpuan (Transgender Perempuan), mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV karena sering melakukan hubungan seks anal tanpa kondom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Tranpuan. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data sekunder Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015 dan 2018. Metode analisis yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi perilaku seks berisiko pada kelompok Transpuan secara keseluruhan menurun dari tahun 2015 ke tahun 2018 sebesar 14,9%. Mayoritas Transpuan dalam penelitian ini berusia ≥ 25 Tahun, memiliki Tingkat Pendidikan yang rendah, tidak memiliki pengetahuan tentang HIV, dan tidak mengkonsumsi NAPZA dan alcohol. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa Pendidikan (p=0,003; CI 95%: 1,057 – 2,387), pengetahuan (p=0,001; CI 95%: 1,530 – 2,521), penggunaan NAPZA (p=0,046; CI 95%: 1,068 – 5,113, dan konsumsi alcohol (p=0,013; CI 95%: 1,080 – 1,801 mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Transpuan.

Risky sexual behaviour is sexual behaviour that puts a person at risk of sexually transmitted infections such as HIV. One of the key populations that is often overlooked is the Transgender Women, they have a higher risk of HIV infection because they often have anal sex without a condom. This study aims to determine the factors that influence risky sexual behaviour in the Transgender. The research design used was Cross Sectional, using secondary data from the Integrated Survey of Biology and Behaviour (STBP) in 2015 and 2018. The analysis method used was the chi-square test. The results showed that the prevalence of risky sexual behaviour in the Transgender as a whole decreased from 2015 to 2018 by 14.9%. The majority of Transwomen in this study were ≥ 25 years old, had a low level of education, did not have comprehensive knowledge about HIV, and did not consume drugs and alcohol. Statistical analysis showed that education (p=0.003; 95% CI: 1.057 - 2.387), knowledge (p=0.001; 95% CI: 1.530 - 2.521), drug use (p=0.046; 95% CI: 1.068 - 5.113, and alcohol consumption (p=0.013; CI 95%: 1.080 - 1.801) influenced the risky sexual behaviour of the Transgender.
Read More
S-11702
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Dachlia; Pembimbing: Toha Muhaimin
T-797
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Masrifahati; Pembimbing: Kemal N. Siregar, Evi Martha
T-2057
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Rakhmawati; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Mieke Savitri, Evi Martha, Ade Pamudji, Rachmalina Soerachman
Abstrak:

Tesis ini tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada anak jalanan di Sekolah Masjid Terminal Depok. Merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Populasi dan sampel adalah seluruh anak jalanan yang terdaftar sebagai siswa di Sekolah Masjid Terminal Depok, dengan cara snow balling sampling didapat jumlah sampel minimal sebanyak 87 anal.

Hasil penelitian didapat 33% anak jalanan berperilaku seksual berisiko, faktor-faktor yang berhubungan bermakna adalah umur, pendidikan, riwayat pacaran, hubungan dengan orang tua, riwayat perlakuan salah seksual, pemakaian zat psikoaktif dan perilaku berkelahi. Pemakaian zat psikoaktif merupakan faktor paling dominan, dengan nilai p 0,001 dan OR 6. Meskipun secara kuantitatif jumlah anak jalanan yang berperilaku seksual berisiko kecil, namun perilaku seksual belum saatnya dilakukan oleh anak-anak, sehingga secara kualitatif hal tersebut merupakan hal yang serius.


This thesis is about the factors related to a risky sexual behavior on the street children in Sekolah Masjid Terminal Depok. This is a quantitative study with cross-sectional design. The population and the sample were all street children enrolled as students in Sekolah Masjid Terminal Depok, by way of snow balling sampling obtained 87 midwives in minimum as the sample.

The results showed that 33% of street children have a risky sexual behavior, those related factors are age, education, history of courtship, relationships with parents, history of misconducted-sexual, psychoactive substances usage and fighting behavior. Psychoactive substances usage becomes the most dominant factor, with p values of 0.001 and OR 6. Quantitatively, the number of street children having a risky sexual behavior is a little. Nevertheless, sexual behavior should not be done by the children, so that qualitatively it becomes a serious thing to be concerned of.

Read More
T-3785
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Theresia Yanuaria Rainy Tukan; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: R. Sutiawan, Eduardus Hena
S-8011
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retna Dewi; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Ella N. Hadi, Nedi Rohendi
S-6462
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafda Ardhian Latansyadiena; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kemal Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Andi Sari Bunga Untung
Abstrak: Tesis ini membahas pengaruh media terhadap perilaku seksual pada remaja di Indonesia usia 15 - 24 tahun erilaku seksual tanpa adanya ikatan pernikahan merupakan perilaku seksual berisiko dan menjadi prediktor kuat kesehatan seksual buruk di masa depan. Pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, fenomena ini tidak sejalan dengan output yang diharapkan, yaitu berkurangnya perilaku seksual berisiko pada remaja. Media menjadi sumber informasi kesehatan yang kuat karena mampu memberikan gambaran yang menarik. Disisi lain, remaja merupakan pengguna utama media massa, terutama internet. entingnya pengoptimalan media internet, khususnya media sosial, sebagai sumber informasi edukasi kesehatan, serta memfasilitasi layanan interaktif agar meminimalkan persepsi berisiko atas informasi yang didapatkan oleh remaja
Read More
T-6011
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hari Suharsa; Pembimbing: Yovsyah, Agustin Kusumayati; Penguji: Farida Mutiarawati Tri Agustina, Achmad Wikarsa, R. Dida Aryadita
Abstrak:

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Perkembangan lain yang perlu mendapat perhatian pada remaja diantaranya perkembangan kognisi, sosial dan seksual. Berbagai pengaruh yang berkaitan dengan perilaku seksual remaja diantaranya tradisi dan budaya setempat, komunikasi dengan kelompok sebaya, pengaruh keluarga dan lingkungan, keterpajanan media informasi baik media cetak maupun elektronik, pengaruh pendidikan seks di sekolah dan komunikasi dengan guru. Hal tersebut apabila tidak diantisipasi sejak dini akan berdampak pada perilaku seksual yang berisiko. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya perilaku seksual remaja pada Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Pandeglang serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Manfaat yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah daerah (Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan Keluarga Berencana dan Catatan Sipil dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Pandeglang) perihal perilaku seks anak didik, sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan solusi dan intervensi yang tepat, cepat dan berkesinambungan untuk membimbing anak didik mengatasi masalah perilaku seks yang dihadapinya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Lokasi penelitian di Kabupaten Pandeglang dengan populasi penelitian siswa pada 30 Sekolah Menengah Atas. Penentuan sampel menggunakan rancangan Multi Stage Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 131 siswa. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, analisis bivariat (uji chi square) dan analisis multivariat (uji regresi logistik). Hasil analisis univariat menunjukkan 12 (9,2%) siswa pernah melakukan hubungan seksual dengan alasan tertinggi ingin coba-coba 50% yang dilakukan dengan pacar sebanyak 91,6%. Seluruh siswa pernah mempunyai pacar, namun dari 14 item pertanyaan mengenai perilaku seksual alasan tidak melakukan salah satu perilaku seks karena takut dosa 31,3% dan dilarang agama 29,0%. Hasil Analisis Bivariat yang rnempunyai hubungan bermakna adalah faktor pengetahuan, faktor keterpajanan media informasi dan faktor kepatuhan agama. Sedangkan hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling dominan berhubungan dengan perilaku seksual remaja adalah keterpajanan media informasi. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang seksual dan kesehatan reproduksi, instruksi pendidikan segera mewujudkan instruksi Menteri Pendidikan NasionaI Nomor 91[]11997 tentang HIV/AIDS, kesehatan reproduksi dan Infeksi Menular Seksual. Perlunya dibentuk layanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi dan perlunya meningkatkan pengetahuan guru melalui berbagai pelatihan kesehatan reproduksi. Selain itu, peran orang tua diharapkan dapat lebih meningkatkan komunikasi dengan remaja perihal perilaku seksual dan kesehatan reproduksi.


 

Adolescence is known as transition period from childhood to adulthood that can be identified with the changes of physical, emotion, and psychology of the individual. Other developments that occur on the period of adolescence are includes the cognition, social, and sexual development. Regards to sexual development, there are many influences to the adolescent that will determine her/his sexual behavior, such as local tradition and culture, communication with peers, family and environs influence, exposures on media of both written and electronic, openness to sex education at school, and communication with the teachers. It is believed that those factors mention above will lead to a risky sexual behavior if they have not anticipated in early stage. The purpose of the study is to find out the adolescent sexual behavior and its related factors among Senior High School students at the district of Pandeglang. It is hope that the result of the study will 'give a contribution to the district authority offices related (Education Authority, Health Authority, Population Authority Family Planning and Civilian Record and District Ministry of Religion of District of Pandeglang) in regards to the students sexual behavior, as a consideration on making suitable solution and carrying out a prompt and persist intervention, in order to give guidance to the students to deal with her/his sexual behavior problems they faced. The study is a quantitative study that using cross sectional research design. The study is carried out at the district of Pandeglang with the students of 30 Senior High Schools as the population. Sample is determined by using a multistage sampling method, and yielded the sample at 131 students. Data is analyzed in three stages procedures, i.e. the univariate analysis, bivariate analysis (with chi's square test), and multivariate analysis (using logistic regression test). All the students are stated that they have ever had a boy/girlfriend. The univariate analysis showed that among 131 students, there are 12 (9.2%) students that have committed on having sexual intercourse. The most reason for having sexual intercourse is `just want to try' (50.0%) and most of the sexual partner is their boy/girlfriend (91.6%). Among those who stated that never do any sexual behavior, of 14 items on the reason why they never did, are: afraid to be sin (31.3%) and because it's forbidden in the religion (29.0%). Result from bivariate analysis, variables that having significantly related to adolescent sexual behavior are: knowledge on reproductive health, media information exposures, and religious obedience. The multivariate analysis found that the most dominant variable related to the adolescent sexual behavior is the media information exposures. It is suggested that there is a need on increasing the students' knowledge on sexual and reproductive health; the educational institution should implement the decree of the Ministry of National Education Number 9IU/1997 about HIV/AIDS, Reproductive Health, and Sexually Transmitted Diseases; the need on establishing the information and counseling services on reproductive health; the need on increasing the teachers' knowledge on reproductive health by training; and the role of parents is also need to enhance in order to elevate the relationship with teenagers, and they can discuss freely the issues on sexual behavior and reproductive health.

Read More
T-2384
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Poppy Endriyati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Toha Mohaimin, Sudijanto Kamso. Trio Taufik Edwin T., Sarikasih Harefa
T-5398
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ninda Rimawati; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Agustin Kusumayati, Flourisa Juliaan Sudrajat, Ratna Kirana
T-3967
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive