Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34822 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Audrey Hanifa Putri; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Samuel Josafat Olam
Abstrak:
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Merokok diketahui menyebabkan penurunan kemampuan kognitif serta meningkatkan risiko demensia namun literatur mengenai hubungan merokok dengan kemampuan kognitif pada penduduk usia produktif di Indonesia masih sangat terbatas. Melalui analisis data Indonesian Family Life Survey 5, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dengan kemampuan kognitif pada penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan faktor umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kuintil kekayaan, status perkawinan, status bekerja, tempat tinggal, hipertensi, diabetes, hiperkolesterolemia, penyakit jantung, dan stroke. Melalui analisis regresi linier ditemukan bahwa perokok memiliki rata-rata kemampuan kognitif yang lebih rendah dibanding non-perokok sebesar 0,07 (95%CI: -0,10 hingga -0,04) standar deviasi (p<0,05). Perokok berat ditemukan tidak memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah daripada perokok ringan yang signifikan secara statistik. Selain itu ditemukan hubungan merokok dengan kemampuan kognitif dari aspek lama menjadi perokok aktif dimana bertambahnya satu tahun menjadi perokok aktif berhubungan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah 0,01 (95%CI: -0,01 hingga -0,01) standar deviasi (p<0,05).

Indonesia is one of the countries with the largest number of smokers in the world. Smoking is known to negatively affect cognitive ability and increases the risk of dementia, however literature regarding the relationship between smoking and cognitive abilities in the productive age population in Indonesia is still very limited. Through data analysis of the 5th wave of the Indonesian Family Life Survey, this study aims to determine the relationship between smoking and cognitive abilities in the Indonesian population whilst controlling the effect of age, gender, education level, wealth quintile, marital status, work status, place of residence, hypertension, diabetes, hypercholesterolemia, heart disease, and stroke. Through linear regression analysis, it was found that smokers’ cognitive ability was lower than non-smokers by 0.07 (95%CI: -0.10 to -0.04) standard deviations (p<0.05). Heavy smokers were not found to have statistically significant lower cognitive ability than light smokers. There was a relationship between smoking and cognitive ability from the aspect of years of smoking, where an increase of one year of being an active smoker was associated with lower cognitive ability of 0.01 (95%CI: -0.01 to -0.01) standard deviations (p <0.05).
Read More
S-11717
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathiyya Aliyah Birjaman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Rico Kurniawan, Chandra Rudyanto
Abstrak:
Indonesia merupakan salah satu negara berpendapatan menengah yang 72 juta penduduknya atau hampir lebih dari seperempat penduduknya merupakan perokok aktif. Kelompok umur dengan prevalensi tertinggi ada pada kelompok remaja dan dewasa yang rentan terhadap perilaku merokok. Tingginya angka perokok berkontribusi pada tingginya prevalensi penyakit yang berhubungan dengan rokok. Berhenti merokok menjadi langkah penting untuk mencapai target pengurangan tembakau yang dapat berdampak signifikan pada peningkatan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku berhenti merokok. Penelitian ini menggunakan data GATS 2021 di Indonesia dengan sampel penduduk usia 15-44 tahun. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan analisis regresi logistik. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, faktor yang berhubungan dengan perilaku berhenti merokok pada penduduk 15-44 tahun di Indonesia adalah jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan, larangan merokok di rumah, dan status merokok keluarga. Sedangkan umur, status ekonomi, tempat tinggal, umur pertama merokok, pengetahuan bahaya rokok, pernah mengunjungi KTR, keterpaparan media antirokok dan keterpaparan iklan rokok tidak berhubungan signifikan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku berhenti merokok adalah status merokok keluarga. Diharapkan upaya berhenti merokok yang berfokus pada pendekatan keluarga yang dapat didukung dengan adanya larangan merokok di rumah. Upaya berhenti merokok juga dapat berfokus melalui tatanan sekolah atau pendidikan dengan meningkatkan kesadaran pentingnya berhenti merokok. Pendekatan promosi kesehatan dapat difokuskan pada tatanan tempat kerja melalui pemilik usaha/wiraswasta maupun kelompok pekerja untuk meningkatkan keberhasilan berhenti merokok pada penduduk usia 15-44 tahun.

Indonesia is one of the middle-income countries where 72 million people or almost more than a quarter of the population are active smokers. The age group with the highest prevalence is teenagers and adults who are vulnerable to smoking behavior. The high number of smokers contributes to the high prevalence of smoking-related diseases. Quitting smoking is an important step towards achieving tobacco reduction targets that can have a significant impact on health outcomes. Therefore, it is important to examine the factors associated with quit smoking. This study used GATS 2021 data in Indonesia with a sample of the population aged 15-44 years. Used a cross-sectional design with logistic regression analysis. Based on the results of logistic regression analysis, the factors associated with smoking cessation in the population of 15-44 years in Indonesia are gender, education, employment status, smoking restrictions at home, and family smoking status. While age, economic status, place of residence, age of first smoking, knowledge of the dangers of smoking, ever visited KTR, exposure to anti-smoking media and cigarette advertisements were not significantly associated. The most dominant factor associated with smoking cessation is family smoking status. It is hoped that smoking cessation efforts will focus on a family approach which can be supported by a smoking ban at home. Efforts to stop smoking can also be focused through schools or education by increasing awareness of the importance of quitting smoking. A health promotion approach in the workplace to increase the success of quitting smoking in the population aged 15-44 years.
Read More
S-11617
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Indreswari Arsyaningrum; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Milla Herdayati, Uswatun Hasanah
Abstrak: Pendahuluan: Obesitas saat ini telah berkontribusi dalam 2,8 juta kematian di seluruhdunia. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi obesitas adalah gangguan mentalemosional. Gangguan mental emosional dapat mempengaruhi kejadian obesitasdikarenakan seseorang yang sedang dalam kondisi stres cenderung makan makananmanis, karena makanan manis memiliki efek menenangkan dan dapat memperbaikisuasana hati. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh gangguan mental emosionalterhadap kejadian obesitas pada penduduk usia dewasa di Indonesia tahun 2013.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari RisetKesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan menggunakan desain studi cross sectional.Penelitian ini dilakukan pada penduduk berusia diatas 18 tahun dengan jumlah sampel633.612 orang.Hasil: Berdasarkan hasil analisis hubungan antara gangguan mental emosional denganobesitas diperoleh hasil bahwa gangguan mental emosional tidak memiliki hubunganpositif dengan kejadian obesitas (OR=0,940). Hasil analisis multivariat denganmengontrol pengaruh dari status perkawinan, jenis kelamin, tempat tinggal, aktivitasfisik dan pola makan menggambarkan bahwa gangguan mental emosional merupakanfaktor protektif dari kejadian obesitas (p=0,007, OR=0,945).Kesimpulan: Status gangguan mental emosional merupakan faktor protektif darikejadian obesitas pada penduduk usia dewasa di Indonesia tahun 2013.Kata kunci:Obesitas; Gangguan Mental Emosional; Dewasa.
Read More
S-9773
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabilla Tiara; Pembimbiing: Rico Kurniawan; Penguji: Besral, Ananda
Abstrak:
Latar belakang: Obesitas sentral adalah penumpukan lemak di daerah abdomen yang dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit tidak menular lainnya. Prevalensi obesitas sentral di Indonesia juga meningkat setiap tahunnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor sosiodemografi, faktor perilaku, faktor gangguan mental emosional, dan faktor riwayat penyakit dengan kejadian obesitas sentral pada usia dewasa di Indonesia pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder SKI 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan analisis regresi logistik berganda. Besar sampel yang didapatkan sebesar 455.036 dengan rincian sampel perempuan sebesar 253.055 dan sampel laki-laki sebesar 202.251. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi obesitas sentral pada perempuan mencapai (65,4%), sementara pada laki-laki mencapai (25,1%). Penelitian ini menunjukan bahwa riwayat penyakit berhubungan signifikan dan menjadi faktor dominan terhadap kejadian obesitas sentral pada seluruh populasi (AOR Perempuan: 1,96; AOR Laki-laki: 2,37). Kesimpulan: Tingginya angka obesitas sentral pada penduduk usia dewasa mengindikasikan perlunya upaya pencegahan yang serius, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengatur pola hidup sehat yang lebih baik. Upaya ini dapat dilakukan melalui promosi kesehatan dan kolaborasi antar pihak.

Background: Central obesity is the accumulation of fat in the abdominal region that can increase the risk of various other non-communicable diseases. The prevalence of central obesity in Indonesia is also increasing every year. Objective: This study aims to see the relationship between sociodemographic factors, behavioral factors, mental emotional disorder factors, and disease history factors with the incidence of central obesity in adults in Indonesia in 2023. Methods: This study is a quantitative study using secondary data from SKI 2023. This study used a cross-sectional design and multiple logistic regression analysis. The sample size obtained was 455,036 with details of the female sample of 253,055 and the male sample of 202,251. Results: The results showed that the prevalence of central obesity in women reached (65.4%), while in men it reached (25.1%). This study showed that a history of disease was significantly associated and was the dominant factor in the incidence of central obesity in the entire population. (Female AOR: 1.96; Male AOR: 2.37). Conclusion: The high rate of central obesity in the adult population indicates the need for serious prevention efforts, especially in increasing public awareness to organize a better healthy lifestyle. This effort can be done through health promotion and collaboration between parties.
Read More
S-11988
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nindya Rimalivia; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Selamat Riyadi
Abstrak:
Penyakit tidak menular menjadi tantangan serius dalam kesehatan global, terutama di tengah era globalisasi yang mendorong perubahan gaya hidup masyarakat ke arah yang kurang sehat. Salah satu penyakit tidak menular yang menyebabkan tingginya angka kematian adalah penyakit kardiovaskular dengan hipertensi merupakan faktor risiko utamanya. Hipertensi seringkali tidak bergejala, namun dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke dan penyakit jantung. Berdasarkan data SKI tahun 2023, proporsi hipertensi di Provinsi Jawa Barat mencapai 34,4% tertinggi ketiga di Indonesia dan melebihi proporsi nasional dengan persentase 30,8%. Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar sehingga perubahan kecil sekalipun dalam angka kejadian dapat berdampak signifikan terhadap beban nasional. Selain itu, hipertensi tidak lagi hanya menjadi permasalahan kesehatan lanjut usia, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada penduduk usia produktif yang dapat berdampak pada menurunnya produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan beban ketergantungan di masa tua. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada penduduk usia produktif di Jawa Barat. Sumber data penelitian ini adalah SKI 2023 dengan desain studi potong lintang (cross sectional) dengan total sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 27.452 penduduk usia produktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi hipertensi pada penduduk usia produktif di Jawa Barat sebanyak 23,5%. Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi meliputi usia, pendidikan, tempat tinggal, konsumsi makanan berlemak, berkolesterol, dan gorengan, diabetes mellitus, serta obesitas sentral. Didapatkan juga faktor yang paling dominan terhadap hipertensi adalah obesitas sentral (AOR = 2,733; 95% CI: 2,530–2,952). Berdasarkan hasil penelitian ini, masyarakat disarankan untuk memperhatikan lingkar pinggang agar tetap dalam batas normal sebagai upaya mencegah obesitas sentral. Sementara itu, masyarakat dengan obesitas sentral disarankan untuk rutin memeriksakan tekanan darah dan menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Non-communicable diseases have become a serious global health challenge, especially in the era of globalization that encourages lifestyle changes toward less healthy behaviors. One of the leading NCDs contributing to high mortality is cardiovascular disease, with hypertension being its primary risk factor. Hypertension often presents without symptoms but can lead to severe complications such as stroke and heart disease. According to the 2023 SKI data, the prevalence of hypertension in West Java Province reached 34.4%, the third highest in Indonesia and exceeding the national average of 30.8%. This issue is particularly concerning given that West Java is the most populous province in the country, where even minor changes in incidence can have a significant impact on the national burden. Moreover, hypertension is no longer confined to older adults, it is increasingly affecting individuals of productive age, which may reduce workforce productivity and increase dependency in later years. This study aimed to identify factors associated with hypertension among the productive-age population in West Java. The data source was the 2023 SKI, using a cross-sectional study design with a total sample of 27.452 individuals who met the inclusion criteria. The results showed that the prevalence of hypertension among the productive-age population in West Java was 23.5%. Factors associated with hypertension included age, education level, place of residence, consumption of fatty, high-cholesterol, and fried foods, diabetes mellitus, and central obesity. Central obesity was identified as the most dominant factor associated with hypertension (AOR = 2.733; 95% CI: 2.530–2.952). Based on these findings, greater attention should be given to maintaining waist circumference within a normal range to prevent central obesity. Individuals with central obesity are encouraged to have regular blood pressure checks and adopt healthier habits to reduce the risk of further complications.
Read More
S-11941
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Pratiwi; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Toha Muhaimin, Cut Yasmin
Abstrak:
ABSTRAK
 
 
Infertilitas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, dan penyebabnya bukan hanya dari faktor wanita namun juga dari faktor pria. Jumlah sperma yang rendah atau kualitas sperma yang jelek merupakan penyebab utama terjadinya infertilitas pada pria. Rendahnya kualitas sperma ditandai dengan rendahnya motilitas sperma, jumlah sperma dan kelainan morfologis sperma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan konsentrasi, motilitas dan morfologi sperma. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien klinik fertilitas ldquo;X rdquo; Jakarta. Sampel sebanyak 985 orang pria yang merupakan pasangan dengan masalah infertilitas yang melakukan pemeriksaan analisis sperma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria yang merokok memiliki peluang 1,018 kali lebih tinggi untuk memiliki konsentrasi sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok, dan memiliki peluang 1,074 kali lebih tinggi untuk memiliki motilitas sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok serta memiliki peluang 1,166 kali lebih tinggi untuk memiliki morfologi sperma abnormal dibandingkan yang tidak merokok.
 

 
ABSTRACT
 
 
Infertility is one of public health rsquo s problem. Determinant of infertility is not just from female factors but also from male factor. Poor sperm quality is a major cause of male infertility. The purpose of this study was to determine the correlation of smoking with concentration, motility and sperm morphology. The design of this study was cross sectional using secondary data from medical records of Klinik Fertilitas X Jakarta. A sample consist of 985 men with infertility issues who performed sperm analysis. The results showed that men who smoked had an odds to have abnormal sperm concentrations 1,018 times higher than those who did not smoke, and had an odds to have abnormal sperm motility 1,074 times higher than those who didn rsquo t smoke, as well as a 1,166 times higher odds of having abnormal sperm morphology than who didn rsquo t smoke.
 
Read More
S-9501
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilina Suwandi; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Maria Gayatri
Abstrak: ermasalahan kependudukan masih sangat kompleks. Salah satu hal nyata yang dihadapi adalah pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. Salah satu bagian dari pertumbuhan penduduk tidak terlepas dari jumlah anak lahir hidup. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan jumlah anak lahir hidup adalah status ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat besar hubungan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup pada wanita usia kurang dari 45 tahun berstatus kawin yang masa reproduksinya masih berjalan dan usia 45-49 tahun berstatus kawin yang sudah masuk ke akhir masa reproduksi. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi potong lintang menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Penelitian ini menemukan bahwa pada kedua kelompok umur diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Ditemukan pula bahwa odds lebih besar ditemukan pada status ekonomi sangat miskin, miskin, menengah, dan kaya dibanding dengan wanita yang status ekonominya sangat kaya. Selanjutnya ditemukan bahwa pada wanita usia kurang dari 45 tahun, didapati hasil bahwa variabel pendidikan, status pekerjaan, usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Sedangkan pada wanita usia 45-49 tahun, variabel wilayah tempat tinggal, statuspekerjaan usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup
Read More
S-10941
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zainab Mardhiyah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Penyebab utama kematian balita di Indonesia adalah pneumonia. Pemberian ASI eksklusif dan suplementasi vitamin A direkomendasikan sebagai strategi pencegahan pneumonia. Meskipun cakupan keduanya telah mencapai target, prevalensi pneumonia meningkat dari 4,8% (2018) menjadi 15% (2023). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–23 bulan di Indonesia. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong lintang dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dengan kejadian pneumonia. Setelah mempertimbangkan variabel interaksi dan mengontrol variabel perancu (jenis kelamin, riwayat diare, dan sumber air minum) ditemukan peningkatan risiko pada balita yang tidak berikan ASI eksklusif (AOR: 1,466; 95%CI: 0,928 – 2,315), meskipun tidak signifikan secara statistik. Sementara itu, hubungan pemberian vitamin A dengan kejadian pneumonia menjadi signifikan (AOR: 3,029; 95%CI: 1,339 – 6,852). Oleh karena itu, diperlukan penguatan program edukasi melalui pemberdayaan masyarakat sebagai strategi promotif-preventif untuk meningkatkan perilaku pemberian ASI eksklusif dan vitamin A dalam upaya pencegahan pneumonia pada balita.


Pneumonia is the leading causes of death among children under five in Indonesia. Exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation are recommended strategies for preventing pneumonia. Although the coverage of both has reached national targets, the prevalence of pneumonia increased from 4.8% in 2018 to 15% in 2023. This study aimed to examine the association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with the incidence of pneumonia among children aged 12–23 months in Indonesia. This study used a cross-sectional design based on data from 2023 SKI. Data analysis was conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed no statistically significant association between exclusive breastfeeding and vitamin A supplementation with pneumonia incidence. However, after considering interaction variables and controlling for confounding variables (child’s sex, history of diarrhea, and drinking water source), an increased risk of pneumonia was found among children who were not exclusively breastfed (AOR: 1.466; 95% CI: 0.928–2.315), although the association was not statistically significant. Meanwhile, the association between vitamin A supplementation and pneumonia became statistically significant (AOR: 3.029; 95% CI: 1.339–6.852). Therefore, strengthening educational programs through community empowerment is needed as a promotive-preventive strategy to improve exclusive breastfeeding and vitamin A practices in efforts to prevent pneumonia in children.
Read More
S-12110
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riva Yunesfi; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Muhaimin, Punto Dewo
Abstrak: Tuberkulosis (TB ) merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan utama didunia dan Indonesia termasuk negara dua terbanyak dengan beban TB di dunia. Secaraglobal pada tahun 2016, diperkirakan ada 1,3 juta kematian TB di antara orang HIV-negatif (WHO 2016). Merokok merupakan salah satu faktor risiko paling penting dalamterjadinya perburukan tuberkulosis paru karen pada orang yang merokok terjadiperubahan imunitas sehingga dapat memfasilitasi Mycobacterium Tuberculosis. Dengantidak merokok dapat mencegah seseorang untuk terinfeksi kuman TB. Namunberdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2013, proporsi merokok pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 36% meningkat dari tahun 2010(34%). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara merokok dengankejadian TB Paru. Analisis ini bersifat kuantitatif menggunakan data Riskesdas 2013.Analisis regresi logistik dilakukan pada sampel 55,752 responden berusia ≥15 tahunyang ditanyakan tentang perilaku merokok dan status tuberkulosis (PertanyaanRiskesdas A18, A20 dan G05). Hasil analisis multivariabel didapatkan bahwa terdapatasosiasi antara merokok dengan kejadian Tuberkulosis Paru, dimana responden yangdulunya pernah merokok (mempunyai riwayat merokok) bersiko 2,6 kali menderita TBdibanding yang tidak merokok. Oleh karena itu perlunya integrasi layanan berhentimerokok dengan penyakit menular terkait Tuberkulosis.Kata kunci: Tuberkulosis (TB), Merokok
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is a major health problem in the worldand Indonesia is numbrtwo countries with the highest burden of TB in the world.Globally by 2016, there are an estimated 1.3 million TB deaths among HIV negativepeople (WHO 2016). Smoking is one of the most important risk factors in theoccurrence of worsening of pulmonary tuberculosis in people who smoke a change inimmunity so that it can facilitate Mycobacterium Tuberculosis. With no smoking canprevent a person to be infected with TB germs. However, based on the results of basichealth research 2013, the proportion of smoking in the population aged ≥ 15 years inIndonesia is still high at 36% increase from the year 2010 (34%). This study aims to seethe relationship between smoking and the incidence of pulmonary tuberculosis. Thisanalysis is quantitative using Riskesdas 2013 data. Logistic regression analysis wasperformed on a sample of 55,752 respondents aged ≥15 years who were asked aboutsmoking behavior and tuberculosis status (Question Riskesdas A18, A20 and G05).Multivariable analysis showed that there was an association between smoking and theincidence of Pulmonary Tuberculosis, where respondents who had once smoked (had asmoking history) had a 2.6 times greater risk of TB than non smokers. There fore theneed for integration of smoking cessation services with Tuberculosis related infectiousdiseases.Key words: Tuberculosis (TB), Smoking.
Read More
S-9685
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Indriani; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Flourisa J. Sudrajat
Abstrak: Di Indonesia, jumlah kasus HIV cenderung meningkat setiap tahunnya. Persentase HIV tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-49 tahun, di mana kelompok umur tersebut termasuk usia subur dan usia menikah bagi wanita di Indonesia. Selain itu, jumlah kasus AIDS pada ibu rumah tangga berada diurutan kedua. Ibu rumah tangga dapat berisiko tertular HIV/AIDS karena perilaku seksual berisiko dengan pasangannya seperti ketika suami yang terinfeksi HIV/AIDS menularkan kepada istrinya melalui hubungan seks tanpa kondom atau penularan dari suami yang melakukan hubungan seks di luar kemudian berhubungan seks dengan pasangan. Namun, masih terdapat wanita kawin yang tidak dapat menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman dengan pasangannya. Hal ini menjadi perhatian khusus, karena ketika ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS hamil maka ia dapat berpotensi menularkan infeksi HIV ke bayinya. Ditambah lagi, saat ini ibu rumah tangga belum menjadi sasaran kunci program HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman untuk mencegah HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel wanita usia subur (15-49 tahun) yang telah menikah/tinggal bersama dengan pasangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman adalah pekerjaan, kepemilikan aset, pengambilan keputusan rumah tangga, komunikasi dengan pasangan terkait HIV, perbedaan usia, perbedaan pendidikan, tempat tinggal, dan pengetahuan terkait HIV/AIDS. Sehingga, bentuk intervensi untuk meningkatkan kemampuan wanita kawin dalam menegosiasikan hubungan seksual yang lebih aman dapat mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.
In Indonesia, the number of HIV cases tends to increase every year. The highest percentage of HIV occurs in the age group of 20-49 years, which includes the childbearing age and the age of marriage for women in Indonesia. In addition, the number of AIDS cases among housewives is second. Housewives can be at risk of contracting HIV/AIDS because of risky sexual behavior with their partners, such as when a husband infected with HIV/AIDS transmits it to his wife through unsafe sex or transmission from a husband who has sex outside and then has sex with a partner. However, there are still married women who cannot negotiate safer sex with their partners. This is of particular concern because when a housewife infected with HIV/AIDS becomes pregnant, she can potentially transmit HIV to her baby. Meanwhile, housewives have not become a key target of the HIV/AIDS program. The purpose of this study was to determine of women?s ability to negotiate safer sex to prevent HIV/AIDS in Indonesia based on the 2017 IDHS data analysis. This study used a cross-sectional study design with a sample of women aged 15-49 years old who are married/live together with their spouses. The results of this study indicate that the factors that influence the ability of married women to negotiate safer sex are work, asset ownership, household decision making, communication with partners related to HIV, age differences, differences in education, place of residence, and knowledge related to HIV/AIDS. Thus, the intervention to improve the ability of married women to negotiate safer sex can take these factors into account.
Read More
S-11016
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive