Ditemukan 26912 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tubagus Ferdi Fadilah; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Purwantyastuti, Johanes Edy Siswanto; Penguji: Hadi Pratomo, Sabarinah, Sudarto Ronoatmodjo, Raldi Artono Koestoer, Nani Dharmasetiawani
Abstrak:
Read More
Fototerapi adalah intervensi terapeutik non-invasif yang digunakan untuk mengatasi ikterus neonatorum. Prosedur ini memanfaatkan berbagai sumber pencahayaan, seperti lampu fluoresen, halogen, fiberoptik, dan Light Emitting Diode (LED), untuk memfasilitasi pemecahan dan mobilisasi bilirubin dalam tubuh neonatus. Beberapa studi terdahulu telah menunjukkan bahwa penggunaan lampu LED efektif dalam menurunkan kadar bilirubin, memperpendek durasi perawatan, mengurangi biaya rumah sakit, dan meningkatkan kualitas pelayanan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan selimut fototerapi sederhana berbasis LED, melaksanakan uji klinis pendahuluan, dan kemudian melakukan Uji Acak Terkontrol (RCT) untuk menilai dan membandingkan efikasi selimut fototerapi LED BLUI Blanket dengan fototerapi fluoresen. Pengembangan selimut fototerapi LED dilaksanakan dari Februari 2020 hingga Februari 2022 dan diuji di laboratorium Uji Produk di BPFK Jakarta. Prototipe Selimut Fototerapi BLUI Blanket berhasil memperoleh sertifikat lulus uji dari BPFK Jakarta pada Februari 2022. Penelitian pendahuluan dilaksanakan dari Desember 2022 hingga Februari 2023 yang melibatkan 14 bayi dengan ikterus neonatorum. Hasilnya, penggunaan prototipe selimut LED BLUI Blanket secara signifikan menurunkan kadar bilirubin serum rata-rata sebesar 3,11 mg/dL setelah 24 jam fototerapi. RCT dilaksanakan dari April 2023 hingga April 2024, melibatkan 100 bayi dengan ikterus neonatorum yang dibagi ke dalam dua kelompok: kelompok selimut fototerapi LED BLUI Blanket dan kelompok fototerapi fluoresen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selimut LED BLUI Blanket secara signifikan menurunkan kadar bilirubin serum dengan rata-rata sebesar 1,40 mg/dL setelah 24 jam fototerapi. Meskipun begitu, fototerapi menggunakan LED BLUI Blanket menunjukkan efikasi yang lebih rendah dibandingkan dengan fototerapi fluoresen dalam menurunkan kadar bilirubin (RR=0,576; CI 95% [0,33-1,02]; p=0,049). Pengembangan selimut fototerapi BLUI Blanket berbasis LED menawarkan alternatif yang menjanjikan untuk perangkat fototerapi dalam penurunan kadar bilirubin neonatus yang tinggi. Namun demikian, diperlukan modifikasi perangkat dan peningkatan protokol untuk memperbaiki kinerja dan mengoptimalkan alat agar sesuai dengan potensi yang ditunjukkan dalam uji laboratorium.
Phototherapy is a non-invasive therapeutic intervention used to treat neonatal jaundice. This procedure utilizes various light sources, including fluorescent lamps, halogen, fiber optic, and Light Emitting Diode (LED), to facilitate the breakdown and mobilization of bilirubin in the newborn's body. Previous studies have shown that the use of LED lights is effective in reducing bilirubin levels, shortening treatment duration, lowering hospital costs, and enhancing the quality of medical services. This study aims to develop a simple LED-based phototherapy blanket, conduct preliminary clinical trials, and subsequently perform a Randomized Controlled Trial (RCT) to evaluate and compare the efficacy of the LED BLUI Blanket phototherapy with fluorescent phototherapy. The development of the LED phototherapy blanket was carried out from February 2020 to February 2022 and tested at the Product Testing Laboratory at BPFK Jakarta. The prototype LED BLUI Blanket Phototherapy obtained a certification of passing the test from BPFK Jakarta in February 2022. Preliminary research was conducted from December 2022 to February 2023, involving 14 newborns with neonatal jaundice. The results showed that the use of the LED BLUI Blanket prototype significantly reduced serum bilirubin levels by an average of 3.11 mg/dL after 24 hours of phototherapy. The RCT was conducted from April 2023 to April 2024, involving 100 newborns with neonatal jaundice divided into two groups: the LED BLUI Blanket phototherapy group and the fluorescent phototherapy group. The results of the study indicated that the LED BLUI Blanket significantly reduced serum bilirubin levels by an average of 1.40 mg/dL after 24 hours of phototherapy. However, phototherapy using the LED BLUI Blanket showed lower efficacy compared to fluorescent phototherapy in reducing bilirubin levels (RR=0.576; CI 95% [0.33-1.02]; p=0.049). The development of the LED BLUI Blanket phototherapy offers a promising alternative for phototherapy devices in reducing elevated bilirubin levels in newborns. Nevertheless, device modifications and protocol enhancements are needed to improve performance and optimize the tool to match its shown potential in laboratory tests
D-516
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syawal Kamiluddin Saptaputra; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Hadi Pratomo; Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Besral, Nurhayati Adnan Prihartono, Baiduri Widanarko, Nani Dharmasetiawani, Agus Triyono
Abstrak:
Latar Belakang: Perawatan Metode Kanguru (PMK) memerlukan pendekatan yang komprehensif di antaranya sarana yang ergonomis untuk memperbaiki postur dan mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain sofa ergonomis dan mengetahui efektivitasnya dalam memperbaiki postur dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Metode: Desain penelitian pada tahap I adalah Research and Development. Pembuatan virtual human dan virtual sofa design menggunakan software Jack Tecnometrix Siemens. Desain Penelitian tahap II adalah pre and post test experimental controlled group design. Pengukuran postur duduk menggunakan Rapid Upper Body Limb Assessment (RULA). Pengukuran keluhan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kelompok intervensi adalah ibu yang menggunakan sofa ergonomis PMK sedangkan kelompok kontrol adalah ibu yang menggunakan kursi yang tersedia di rumah sakit. Hasil: Berdasarkan hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal diketahui pada umumnya ibu mengalami keluhan pada berbagai anggota tubuh. Keluhan yang paling banyak antara lain pada bagian bokong (55.1%), pinggul (42%), bahu kanan dan kiri (37.7%), punggung (37.7%), pinggang (36.2%). Berdasarkan uji MannWhitney diketahui kelompok kontrol memiliki postur tubuh yang lebih berisiko mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok intervensi dengan p value = 0.000. Berdasarkan uji Mc Nemar diketahui bahwa setelah dilakukan intervensi, kelompok kontrol memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih tinggi dibandingkan kelompok intervensi yaitu pada bagian leher atas (p value = 0.000), bahu kiri (p value = 0.008), bahu kanan (p value = 0.002), tengkuk (p value = 0.021), lengan kiri atas (p value = 0.031), dan punggung (p value = 0.031). Kesimpulan: Desain sofa ergonomis PMK berpotensi menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Postur tubuh kelompok intervensi memiliki risiko lebih rendah mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok kontrol. Setelah dilakukan intervensi, kelompok intervensi memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yaitu pada leher atas, bahu kiri, bahu kanan, tengkuk, lengan kiri atas, dan punggung. Rekomendasi: Rumah sakit diharapkan dapat menyediakan fasilitas kursi yang ergonomis untuk menunjang PMK sehingga postur duduk menjadi lebih baik dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal
Read More
D-457
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhian Kunmartoyo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Widura Imam Mustopo
S-9143
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elly, Nur/ Promotor: Djuwita, Ratna/ Kopromotor: Purwantyastuti; Rimbawan/ Penguji: Laksminingsih, Endang; Rini Sekartini, Besral, Mira Dewi, Noer Laily
D-396
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hasnawati Amqam; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Kopromotor: Budi Haryanto, Irawan Yusuf; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Imam Subekti, Asep Nugraha Ardiwinata, Indang Trihandini, Dewi Susanna
Abstrak:
ABSTRAK Penggunaan jangka panjang insektisida klorpirifos (CPF) akan menimbulkan efek pada Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan hormon-hormon tiroid (triidiotironin/T3 dan tirotoksin/T4). Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh insektisida CPF terhadap kadar TSH dan hormon-hormon tiroid pada petani sayur dari tinjauan aspek genetik populasi. Studi ini dilakukan dengan desain potong lintang. Terdapat 273 petani sayur yang menjadi subjek, yang diambil pada tiga populasi suku, yaitu Jawa, Sunda, dan Makassar. Terdapat variasi genetik paraoxonase 1 (PON1) pada ketiga populasi dan alel Q banyak ditemukan pada semua populasi. PON1 dapat menjadi prediktor terjadinya gangguan pada kadar hormon-hormon tiroid dan TSH. TCP sebagai metabolit CPF merupakan biomarker kemampuan metabolisme individu terhadap CPF. Pada masyarakat petani yang terpajan klorpirifos, TCP urin yang tidak terdeteksi berperan dalam terjadinya kadar FT3 rendah dan kadar TCP urin yang rendah berperan dalam terjadinya kadar FT4 tertil rendah dan kadar TSH tinggi. Efek CPF terhadap ketiga hormon ini diduga terjadi melalui mekanisme terganggunya sistem neurotransmitter dan proses deyodinasi pada perifer dan hati.
ABSTRACT Long-term use of chlorpyrifos (CPF) insecticide will affects Stimulating Thyroid Hormone (TSH) and thyroid hormones (triidiotironin/T3 and tirotoksin/ T4). This study aimed to assess the effect of insecticide CPF on levels of TSH and thyroid hormones of the vegetable farmers as the reviews of population genetic aspects. This study was conducted with a cross-sectional design. There were 273 vegetable farmers as subjects, taken in three population, namely Java, Sunda, and Makassar. There was genetic variation of paraoxonase 1 (PON1) in a population of in the three populations and Q alleles found in all populations. PON1 may be a predictor of causing interference to the levels of thyroid hormones and TSH. TCP as CPF metabolite was a biomarker of individual metabolic capabilities toward CPF. In exposed CPF farming communities, undetected TCP urine played a role in occurrence of low FT3 levels while low levels of TCP urine play a role for lower tertile FT4 level and high TSH level. CPF effect to the hormones possiblyoccured through the mechanism of disruption of neurotransmitter system and deiodinase process in peripheral and liver
Read More
D-348
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rismarini; Promotor: Budi Haryanto; Kopromotor: Ratna Djuwita, Hartono Gunadi; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Puji Lestari, Muhyatun, Laila Fitria
Abstrak:
Anak-anak yang tinggal di kawasan penambangan rentan terhadap paparan timbal. Diperkirakan terdapat 1 dari 3 anak atau mencapai sekitar 800 juta anak di seluruh dunia memiliki kadar timbal darah pada kisaran 5 mikrogram per desiliter (µg/dL) atau lebih. Paparan timbal pada anak menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat dan penurunan IQ. Metode pada penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Kecamatan Muntok dan Simpang Teritip. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 2 - 9 tahun beserta ibunya yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel penelitian adalah 190 pasangan ibu dan anak. Pengumpulan data dimulai dengan pendataan identitas responden, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak, penilaian intelligence quotient (IQ) dan pengisian kuesioner rumah tangga, FFQ (Food Frequency Quessionaire), formulir food recall 24 hours dan HOME Short Form oleh ibu responden.Terakhir, darah vena anak didonorkan untuk dianalisis kadar timbal darah dan hemoglobinnya. Temuan studi menunjukkan bahwa prevalensi anak dengan kadar timbal darah > 5 µg/dL dan IQ rendah masing-masing 57,9% dan 56,3%. Dalam analisis multivariat, kadar timbal darah secara signifikan berhubungan dengan IQ rendah pada anak (p = 0,044), di mana anak dengan kadar timbal darah > 5,5 µg/dL berisiko 1,6 kali untuk memiliki IQ rendah dibandingkan dengan anak dengan kadar timbal darah < 5,5 µg/dL setelah dikontrol oleh variabel kadar hemoglobin, lingkar kepala, pendidikan ibu dan stimulasi
Read More
D-456
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Susianto; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Suyanto Pawiroharsono; Penguji: Anhari Achadi, Purwantyastuti, Mien Karmini Mahmud, Yvonne M. Indrawani, Ahmad Syafiq
D-265
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mochammad Bagus Qomaruddin; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; KO-Promotor: Anhari Achadi, Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Purnawan Junadi, Sudarti Kresno, Trihono, Kodrat Pramudho, Bambang Setiaji
D-274
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Dinuna; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Dicky Luvenus Tahapary
S-10089
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sudibyo Supardi; Pembimbing: Soeratmi Poerbonegoro
D-72
Depok : FKM UI, 2002
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
