Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27346 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tubagus Ferdi Fadilah; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Purwantyastuti, Johanes Edy Siswanto; Penguji: Hadi Pratomo, Sabarinah, Sudarto Ronoatmodjo, Raldi Artono Koestoer, Nani Dharmasetiawani
Abstrak:
Fototerapi adalah intervensi terapeutik non-invasif yang digunakan untuk mengatasi ikterus neonatorum. Prosedur ini memanfaatkan berbagai sumber pencahayaan, seperti lampu fluoresen, halogen, fiberoptik, dan Light Emitting Diode (LED), untuk memfasilitasi pemecahan dan mobilisasi bilirubin dalam tubuh neonatus. Beberapa studi terdahulu telah menunjukkan bahwa penggunaan lampu LED efektif dalam menurunkan kadar bilirubin, memperpendek durasi perawatan, mengurangi biaya rumah sakit, dan meningkatkan kualitas pelayanan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan selimut fototerapi sederhana berbasis LED, melaksanakan uji klinis pendahuluan, dan kemudian melakukan Uji Acak Terkontrol (RCT) untuk menilai dan membandingkan efikasi selimut fototerapi LED BLUI Blanket dengan fototerapi fluoresen. Pengembangan selimut fototerapi LED dilaksanakan dari Februari 2020 hingga Februari 2022 dan diuji di laboratorium Uji Produk di BPFK Jakarta. Prototipe Selimut Fototerapi BLUI Blanket berhasil memperoleh sertifikat lulus uji dari BPFK Jakarta pada Februari 2022. Penelitian pendahuluan dilaksanakan dari Desember 2022 hingga Februari 2023 yang melibatkan 14 bayi dengan ikterus neonatorum. Hasilnya, penggunaan prototipe selimut LED BLUI Blanket secara signifikan menurunkan kadar bilirubin serum rata-rata sebesar 3,11 mg/dL setelah 24 jam fototerapi. RCT dilaksanakan dari April 2023 hingga April 2024, melibatkan 100 bayi dengan ikterus neonatorum yang dibagi ke dalam dua kelompok: kelompok selimut fototerapi LED BLUI Blanket dan kelompok fototerapi fluoresen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selimut LED BLUI Blanket secara signifikan menurunkan kadar bilirubin serum dengan rata-rata sebesar 1,40 mg/dL setelah 24 jam fototerapi. Meskipun begitu, fototerapi menggunakan LED BLUI Blanket menunjukkan efikasi yang lebih rendah dibandingkan dengan fototerapi fluoresen dalam menurunkan kadar bilirubin (RR=0,576; CI 95% [0,33-1,02]; p=0,049). Pengembangan selimut fototerapi BLUI Blanket berbasis LED menawarkan alternatif yang menjanjikan untuk perangkat fototerapi dalam penurunan kadar bilirubin neonatus yang tinggi. Namun demikian, diperlukan modifikasi perangkat dan peningkatan protokol untuk memperbaiki kinerja dan mengoptimalkan alat agar sesuai dengan potensi yang ditunjukkan dalam uji laboratorium.

Phototherapy is a non-invasive therapeutic intervention used to treat neonatal jaundice. This procedure utilizes various light sources, including fluorescent lamps, halogen, fiber optic, and Light Emitting Diode (LED), to facilitate the breakdown and mobilization of bilirubin in the newborn's body. Previous studies have shown that the use of LED lights is effective in reducing bilirubin levels, shortening treatment duration, lowering hospital costs, and enhancing the quality of medical services. This study aims to develop a simple LED-based phototherapy blanket, conduct preliminary clinical trials, and subsequently perform a Randomized Controlled Trial (RCT) to evaluate and compare the efficacy of the LED BLUI Blanket phototherapy with fluorescent phototherapy. The development of the LED phototherapy blanket was carried out from February 2020 to February 2022 and tested at the Product Testing Laboratory at BPFK Jakarta. The prototype LED BLUI Blanket Phototherapy obtained a certification of passing the test from BPFK Jakarta in February 2022. Preliminary research was conducted from December 2022 to February 2023, involving 14 newborns with neonatal jaundice. The results showed that the use of the LED BLUI Blanket prototype significantly reduced serum bilirubin levels by an average of 3.11 mg/dL after 24 hours of phototherapy. The RCT was conducted from April 2023 to April 2024, involving 100 newborns with neonatal jaundice divided into two groups: the LED BLUI Blanket phototherapy group and the fluorescent phototherapy group. The results of the study indicated that the LED BLUI Blanket significantly reduced serum bilirubin levels by an average of 1.40 mg/dL after 24 hours of phototherapy. However, phototherapy using the LED BLUI Blanket showed lower efficacy compared to fluorescent phototherapy in reducing bilirubin levels (RR=0.576; CI 95% [0.33-1.02]; p=0.049). The development of the LED BLUI Blanket phototherapy offers a promising alternative for phototherapy devices in reducing elevated bilirubin levels in newborns. Nevertheless, device modifications and protocol enhancements are needed to improve performance and optimize the tool to match its shown potential in laboratory tests
Read More
D-516
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Windya Kusumaningtyas; Promotor: Trini Sudiarti; Kopromotor: Diah Mulyawati Utari, Noer Laily; Penguji: Besral, Endang Laksminingsih, Ratu Ayu Dewi Sartika, Sri Anna Marliyati, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:
Defisiensi vitamin D pada ibu hamil di Indonesia masih tinggi yaitu lebih dari 60%, berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan ibu dan dampak pada janin seperti gangguan pertumbuhan tulang dan berat lahir rendah. Fortifikasi vitamin D pada produk olahan perikanan diharapkan dapat meningkatkan asupan vitamin D sehingga memperbaiki status vitamin D ibu hamil. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh intervensi sup teri (Stolephorus indicus) instan fortifikasi vitamin D terhadap kadar kalsidiol ibu hamil, berat lahir, dan panjang lahir bayi di Kabupaten Tangerang. Penelitian diawali dengan produksi tepung teri, optimasi formula sup teri instan, pengujian mutu kimia dan sensori untuk menentukan formula terbaik. Intervensi dilakukan pada ibu hamil trimester kedua menggunakan desain two groups pre–post test dengan purposive sampling. Kelompok perlakuan diberi sup teri instan fortifikasi vitamin D, kelompok kontrol diberi sup instan tanpa teri dan tanpa vitamin D. Sup dikonsumsi empat kali per minggu selama 5 bulan atau hingga persalinan. Kadar kalsidiol ibu diukur awal dan akhir intervensi. Food Recall (FR) 24 jam dilakukan di awal, pertengahan, dan akhir intervensi. Analisis data menggunakan jumlah subjek dengan tingkat kepatuhan konsumsi produk intervensi >=80% (n=65), terdiri dari kelompok perlakuan (n=30) dan kelompok kontrol (n=35). Kelompok perlakuan memiliki rerata kadar kalsidiol akhir lebih tinggi yaitu 26,51±4,25 ng/mL dibandingkan kelompok kontrol yaitu 23,61±7,56 ng/mL. Setelah dikontrol dengan kalsidiol awal dan kecukupan vitamin D baseline, intervensi berhubungan signifikan dengan peningkatan kalsidiol akhir dengan selisih adjusted mean 5,14 ng/mL (95%CI: 0,023–10,259; p=0,049). Model multivariat berat lahir signifikan dengan R²=0,688, p < 0,001 dengan faktor yang berperan adalah kelompok perlakuan, panjang lahir, kalsidiol awal, pertambahan berat badan ibu selama hamil, dan kecukupan protein baseline. Model multivariat panjang lahir juga signifikan dengan R²=0,505; p < 0,001 dengan faktor yang berhubungan adalah berat lahir. Produk sup teri instan terfortifikasi vitamin D ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu alternatif makanan tambahan untuk ibu hamil berbasis produk hasil laut yang enak, praktis dan mudah disajikan.

Vitamin D deficiency among pregnant women in Indonesia remains high, affecting more than 60% of pregnant women, and is associated with various maternal health risks and adverse fetal outcomes, including impaired bone growth and low birth weight. Vitamin D fortification in fish-based processed products is expected to improve vitamin D intake and consequently enhance vitamin D status among pregnant women. This study aimed to determine the effect of vitamin D-fortified instant anchovy (Stolephorus indicus) soup intervention on maternal calcidiol levels, birth weight, and infant birth length in Tangerang Regency. The study began with anchovy flour production, optimization of instant anchovy soup formulation, and chemical and sensory quality evaluations to determine the best formula. The intervention was conducted among second-trimester pregnant women using a twogroup pre–post test design with purposive sampling. The treatment group received vitamin D-fortified instant anchovy soup, while the control group received instant soup without anchovy and without vitamin D fortification. The soup was consumed four times per week for five months or until delivery. Maternal calcidiol levels were measured at baseline and endline. Twenty-four-hour food recall assessments were conducted at baseline, midline, and endline. Data analysis included subjects with ≥80% compliance to the intervention product consumption (n = 65), consisting of the treatment group (n = 30) and the control group (n = 35). The treatment group had a higher mean final calcidiol level of 26.51±4.25 ng/mL compared to the control group of 23.61±7.56 ng/mL. After controlling for initial calcidiol and baseline vitamin D adequacy, the intervention was significantly associated with an increase in final calcidiol with a mean adjusted difference of 5.14 ng/mL (95%CI: 0.023–10.259; p=0.049). The multivariate model for birth weight was significant with R²=0.688, with contributing factors including treatment group, birth length, initial calcidiol, weight gain during pregnancy, and baseline protein adequacy. The multivariate model for birth length was also significant with R²=0.505; Associated factors was birth weight. This vitamin D-fortified instant anchovy soup showed promise as an alternative seafood-based nutritional supplement for pregnant women due to its palatability, convenience, and ease of preparation.
Read More
D-648
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Unting Patri Wicaksono Pribadi; Promotor: Ascobat Gani; Kopromotor: I Made Wiryana; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Mardiati Nadjib, Anne Agustina Suwargiani, Enrico Aditya Rhinaldi
Abstrak:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya beban administrasi pengelolaan Perjanjian Kerja Sama antara BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan dalam Program JKN. Sistem kontrak manual masih menghadapi masalah keterlambatan penyelesaian dokumen, kebutuhan sumber daya besar, risiko kesalahan administrasi, dan kerentanan penyimpanan arsip fisik. Penelitian ini bertujuan menjawab apakah kontrak elektronik dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan keamanan pengelolaan kerja sama fasilitas kesehatan, serta apakah kepemilikan dan kelas rumah sakit memengaruhi implementasinya. Hipotesis penelitian menyatakan bahwa kontrak elektronik lebih efektif, efisien, dan aman dibandingkan kontrak manual, serta implementasinya dipengaruhi oleh kepemilikan dan kelas rumah sakit. Penelitian menggunakan desain non-eksperimental komparatif dengan pendekatan mixed-method. Unit analisis adalah pengelolaan dokumen kerja sama antara BPJS Kesehatan dan FKRTL. Data diperoleh dari data sekunder monitoring 2.650 rumah sakit, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Analisis dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Mann–Whitney U dan Chi-Square, serta diperkuat dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis efektivitas terbukti karena kontrak elektronik lebih tepat waktu dan konsisten. Hipotesis efisiensi juga terbukti pada sebagian besar indikator, terutama biaya, durasi, beban kerja, dan rasio efisiensi waktu-biaya, meskipun indikator Time Efficiency Ratio tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Hipotesis keamanan terbukti secara kualitatif melalui penyimpanan digital, tanda tangan elektronik, e-meterai, dan kontrol akses. Kepemilikan serta kelas rumah sakit juga terbukti berhubungan dengan implementasi kontrak elektronik. Kesimpulannya, kontrak elektronik lebih unggul dibandingkan kontrak manual dalam mendukung tata kelola kerja sama fasilitas kesehatan. BPJS Kesehatan disarankan memastikan  implementasi nasional, memperkuat pelatihan pengguna, keamanan akses, integrasi sistem, dan kebijakan teknis pendukung.

This study was motivated by the increasing administrative burden in managing Cooperation Agreements between BPJS Kesehatan and healthcare facilities under the National Health Insurance Programme. The manual contract system continues to face several problems, including delays in document completion, high resource requirements, administrative errors, and vulnerabilities in physical document storage. This study aimed to examine whether electronic contracts can improve the effectiveness, efficiency, and security of healthcare facility partnership management, and whether hospital ownership and class influence their implementation. The research hypotheses stated that electronic contracts are more effective, efficient, and secure than manual contracts, and that their implementation is influenced by hospital ownership and class. This study used a comparative non-experimental design with a mixed-methods approach. The unit of analysis was the management of cooperation agreement documents between BPJS Kesehatan and referral healthcare facilities. Data were obtained from secondary monitoring data involving 2,650 hospitals, in-depth interviews, and field observations. The analysis was conducted descriptively and inferentially using the Mann–Whitney U test and Chi-square test, supported by thematic analysis. The findings showed that the effectiveness hypothesis was supported, as electronic contracts were more timely and consistent. The efficiency hypothesis was also supported for most indicators, particularly cost, completion duration, workload, and the cost-time efficiency ratio, although the Time Efficiency Ratio indicator did not show a statistically significant difference. The security hypothesis was supported qualitatively through digital storage, electronic signatures, e-stamps, and access control. Hospital ownership and class were also found to be associated with electronic contract implementation. In conclusion, electronic contracts are superior to manual contracts in supporting the governance of healthcare facility partnerships. BPJS Kesehatan is advised to expand national implementation, strengthen user training, improve access security, enhance system integration, and develop supporting technical policies.
Read More
D-626
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syawal Kamiluddin Saptaputra; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Hadi Pratomo; Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Besral, Nurhayati Adnan Prihartono, Baiduri Widanarko, Nani Dharmasetiawani, Agus Triyono
Abstrak: Latar Belakang: Perawatan Metode Kanguru (PMK) memerlukan pendekatan yang komprehensif di antaranya sarana yang ergonomis untuk memperbaiki postur dan mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain sofa ergonomis dan mengetahui efektivitasnya dalam memperbaiki postur dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Metode: Desain penelitian pada tahap I adalah Research and Development. Pembuatan virtual human dan virtual sofa design menggunakan software Jack Tecnometrix Siemens. Desain Penelitian tahap II adalah pre and post test experimental controlled group design. Pengukuran postur duduk menggunakan Rapid Upper Body Limb Assessment (RULA). Pengukuran keluhan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kelompok intervensi adalah ibu yang menggunakan sofa ergonomis PMK sedangkan kelompok kontrol adalah ibu yang menggunakan kursi yang tersedia di rumah sakit. Hasil: Berdasarkan hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal diketahui pada umumnya ibu mengalami keluhan pada berbagai anggota tubuh. Keluhan yang paling banyak antara lain pada bagian bokong (55.1%), pinggul (42%), bahu kanan dan kiri (37.7%), punggung (37.7%), pinggang (36.2%). Berdasarkan uji MannWhitney diketahui kelompok kontrol memiliki postur tubuh yang lebih berisiko mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok intervensi dengan p value = 0.000. Berdasarkan uji Mc Nemar diketahui bahwa setelah dilakukan intervensi, kelompok kontrol memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih tinggi dibandingkan kelompok intervensi yaitu pada bagian leher atas (p value = 0.000), bahu kiri (p value = 0.008), bahu kanan (p value = 0.002), tengkuk (p value = 0.021), lengan kiri atas (p value = 0.031), dan punggung (p value = 0.031). Kesimpulan: Desain sofa ergonomis PMK berpotensi menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Postur tubuh kelompok intervensi memiliki risiko lebih rendah mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok kontrol. Setelah dilakukan intervensi, kelompok intervensi memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yaitu pada leher atas, bahu kiri, bahu kanan, tengkuk, lengan kiri atas, dan punggung. Rekomendasi: Rumah sakit diharapkan dapat menyediakan fasilitas kursi yang ergonomis untuk menunjang PMK sehingga postur duduk menjadi lebih baik dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal
Read More
D-457
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhian Kunmartoyo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Widura Imam Mustopo
S-9143
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elly, Nur/ Promotor: Djuwita, Ratna/ Kopromotor: Purwantyastuti; Rimbawan/ Penguji: Laksminingsih, Endang; Rini Sekartini, Besral, Mira Dewi, Noer Laily
D-396
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasnawati Amqam; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Kopromotor: Budi Haryanto, Irawan Yusuf; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Imam Subekti, Asep Nugraha Ardiwinata, Indang Trihandini, Dewi Susanna
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penggunaan jangka panjang insektisida klorpirifos (CPF) akan menimbulkan efek
 
pada Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan hormon-hormon tiroid
 
(triidiotironin/T3 dan tirotoksin/T4). Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
 
insektisida CPF terhadap kadar TSH dan hormon-hormon tiroid pada petani sayur
 
dari tinjauan aspek genetik populasi. Studi ini dilakukan dengan desain potong
 
lintang. Terdapat 273 petani sayur yang menjadi subjek, yang diambil pada tiga
 
populasi suku, yaitu Jawa, Sunda, dan Makassar. Terdapat variasi genetik
 
paraoxonase 1 (PON1) pada ketiga populasi dan alel Q banyak ditemukan pada
 
semua populasi. PON1 dapat menjadi prediktor terjadinya gangguan pada kadar
 
hormon-hormon tiroid dan TSH. TCP sebagai metabolit CPF merupakan biomarker
 
kemampuan metabolisme individu terhadap CPF. Pada masyarakat petani yang
 
terpajan klorpirifos, TCP urin yang tidak terdeteksi berperan dalam terjadinya kadar
 
FT3 rendah dan kadar TCP urin yang rendah berperan dalam terjadinya kadar FT4
 
tertil rendah dan kadar TSH tinggi. Efek CPF terhadap ketiga hormon ini diduga
 
terjadi melalui mekanisme terganggunya sistem neurotransmitter dan proses
 
deyodinasi pada perifer dan hati.
 

 
ABSTRACT
 
 
Long-term use of chlorpyrifos (CPF) insecticide will affects Stimulating Thyroid
 
Hormone (TSH) and thyroid hormones (triidiotironin/T3 and tirotoksin/ T4). This
 
study aimed to assess the effect of insecticide CPF on levels of TSH and thyroid
 
hormones of the vegetable farmers as the reviews of population genetic aspects. This
 
study was conducted with a cross-sectional design. There were 273 vegetable farmers
 
as subjects, taken in three population, namely Java, Sunda, and Makassar. There was
 
genetic variation of paraoxonase 1 (PON1) in a population of in the three populations
 
and Q alleles found in all populations. PON1 may be a predictor of causing
 
interference to the levels of thyroid hormones and TSH. TCP as CPF metabolite was
 
a biomarker of individual metabolic capabilities toward CPF. In exposed CPF
 
farming communities, undetected TCP urine played a role in occurrence of low FT3
 
levels while low levels of TCP urine play a role for lower tertile FT4 level and high
 
TSH level. CPF effect to the hormones possiblyoccured through the mechanism of
 
disruption of neurotransmitter system and deiodinase process in peripheral and liver
Read More
D-348
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rismarini; Promotor: Budi Haryanto; Kopromotor: Ratna Djuwita, Hartono Gunadi; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Puji Lestari, Muhyatun, Laila Fitria
Abstrak: Anak-anak yang tinggal di kawasan penambangan rentan terhadap paparan timbal. Diperkirakan terdapat 1 dari 3 anak atau mencapai sekitar 800 juta anak di seluruh dunia memiliki kadar timbal darah pada kisaran 5 mikrogram per desiliter (µg/dL) atau lebih. Paparan timbal pada anak menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat dan penurunan IQ. Metode pada penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Kecamatan Muntok dan Simpang Teritip. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 2 - 9 tahun beserta ibunya yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel penelitian adalah 190 pasangan ibu dan anak. Pengumpulan data dimulai dengan pendataan identitas responden, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak, penilaian intelligence quotient (IQ) dan pengisian kuesioner rumah tangga, FFQ (Food Frequency Quessionaire), formulir food recall 24 hours dan HOME Short Form oleh ibu responden.Terakhir, darah vena anak didonorkan untuk dianalisis kadar timbal darah dan hemoglobinnya. Temuan studi menunjukkan bahwa prevalensi anak dengan kadar timbal darah > 5 µg/dL dan IQ rendah masing-masing 57,9% dan 56,3%. Dalam analisis multivariat, kadar timbal darah secara signifikan berhubungan dengan IQ rendah pada anak (p = 0,044), di mana anak dengan kadar timbal darah > 5,5 µg/dL berisiko 1,6 kali untuk memiliki IQ rendah dibandingkan dengan anak dengan kadar timbal darah < 5,5 µg/dL setelah dikontrol oleh variabel kadar hemoglobin, lingkar kepala, pendidikan ibu dan stimulasi
Read More
D-456
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imelda Gernauli Purba; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Besral, Mukono, Yuanita Windusari, Rico Januar Sitorus
Abstrak:
ABSTRAK Pajanan organofosfat memicu peningkatan spesies oksigen reaktif, yang menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif sistemik ini memicu respon peradangan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap patogenesis hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pajanan organofosfat dengan stres oksidatif dan kejadian hipertensi pada petani di Kecamatan Dempo Utara  Pagar Alam. Desain penelitian ini adalah cross sectional, menggunakan metode analisis risiko kesehatan lingkungan dan epidemiologi kesehatan lingkungan. Sampel petani diambil secara simple random sampling, sebanyak 116 orang. Pemeriksaan residu organofosfat menggunakan LC-MS/MS, dialkil fosfat dengan GC-MS, malondialdehida dengan Spektro UV-Vis, serta tekanan darah menggunakan sphygmomanometer. Pengumpulan data karakteristik perilaku melalui wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat residu organofosfat pada beberapa sampel cabai dan tomat, namun belum menimbulkan risiko kesehatan berdasarkan hasil karakterisasi risiko. Terdapat interaksi  keberadaan dialkil fosfat dan lama menyemprot terhadap stres oksidatit (OR pada ≤ 4 jam/hari=0,73; OR pada ≥4 jam/hari= 0,83). Terdapat interaksi keberadaan dialkil fosfat dan frekuensi menyemprot terhadap stres oksidatif (OR pada<2 kali/minggu=0,73 dan OR pada ≥2 kali/minggu=0,045). Terdapat interaksi keberadaan dialkil fosfat dan lama menyemprot terhadap hipertensi (OR pada ≤4 jam/hari=2,57;dan OR pada >4 jam/hari=0,16). Stres oksidatif tidak berkorelasi  dengan kejadian hipertensi, namun terdapat faktor konfounding yaitu lama menyemprot (OR:3,69(1,46-9,36) dan umur (OR:3,54(1,39-9,07). Kesimpulan penelitian ini adalah lama dan frekuensi menyemprot menjadi effect modifier korelasi keberadaan dialkil fosfat dengan stres oksidatif, sementara lama menyemprot menjadi effect modifier korelasi keberadaan dialkil fosfat dengan kejadian hipertensi. Lama menyemprot dan umur menjadi confounder dalam hubungan stres oksidatif dengan kejadian hipertensi pada petani. Kata kunci : dialkil fosfat, hipertensi, organofosfat, model faktor risiko, risk quotient, stres oksidatif

Exposure to organophosphates triggers an increase in reactive oxygen species, which causes oxidative stress. This systemic oxidative stress triggers an inflammatory response, which in turn contributes to the pathogenesis of hypertension. This study aimed to analyze the relationship between organophosphate exposure, oxidative stress, and the incidence of hypertension among farmers in the Dempo Utara subdistrict of Pagar Alam. The study design is cross-sectional, employing methods of environmental health risk analysis and environmental health epidemiology. A sample of 116 farmers was selected using simple random sampling. Organophosphate residues were analyzed using LC-MS/MS; dialkyl phosphates using GC-MS; malondialdehyde levels were determined using UV-Vis spectroscopy; and blood pressure using a sphygmomanometer. Behavioral characteristics were collected through interviews using a questionnaire. Data analysis was performed using the chi-square test and multiple logistic regression. The results revealed the presence of organophosphate residues in some chili and tomato samples; however, these did not pose a health risk based on the risk characterization findings. There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and spraying duration regarding oxidative stress (OR for ≤ 4 hours/day = 0.73; OR for ≥ 4 hours/day = 0.83). There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and spraying frequency regarding oxidative stress (OR for <2 times/week = 0.73 and OR for ≥2 times/week = 0.045). There was an interaction between the presence of dialkyl phosphates and duration of spraying on the risk of hypertension (OR for ≤4 hours/day = 2.57; and OR for >4 hours/day = 0.16). Oxidative stress was not correlated with the incidence of hypertension; however, there were confounding factors, namely spraying duration (OR: 3.69 [1.46–9.36]) and age (OR: 3.54 [1.39–9.07]). The conclusion of this study is that spraying duration and frequency act as effect modifiers for the association between the presence of dialkyl phosphates and oxidative stress, while spraying duration acts as an effect modifier for the association between the presence of dialkyl phosphates and the incidence of hypertension. Spraying duration acts as a confounder in the relationship between oxidative stress and the incidence of hypertension among farmers. Keywords: dialkylphosphate, hypertension, organophosphate, oxidative stress, risk quotient, risk factor model

Read More
D-654
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Susianto; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Suyanto Pawiroharsono; Penguji: Anhari Achadi, Purwantyastuti, Mien Karmini Mahmud, Yvonne M. Indrawani, Ahmad Syafiq
D-265
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive