Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35107 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Natasha Griselda Stephanie; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ascobat Gani, Jaslis Ilyas, Dini Indrawati, Jusuf Kristianto
Abstrak:
Pengguna internet di seluruh dunia meningkat termasuk dalam dunia pemasaran. Pelaku bisnis beradaptasi dengan melakukan pemasaran melalui media sosial, termasuk rumah sakit. Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit atau dikenal dengan RSKD Duren Sawit, merupakan rumah sakit yang mulai memberikan layanan kesehatan umum bagi masyarakat. Pemanfaatan media sosial terutama Instagram digunaan sebagai sarana pemasaran produk layanan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan social media marketing dengan niat berkunjung pasien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan data melalui kuesioner dengan link google form kepada followers Instagram RSKD Duren Sawit. Sampel penelitian sebanyak 102 orang. Analisis dilakukan dengan metode SEM-PLS. Pada variabel social media marketing memiliki enam dimensi, yaitu aksesibilitas, kredibilitas, hiburan, interaksi, trendiness, dan word of mouth. Hasil yang diperoleh adalah hubungan langsung social media marketing pasien dengan brand awareness, brand awareness dengan niat berkunjung pasien, serta social media marketing dengan niat berkunjung pasien memiliki nilai signifikan (P-value < 0,05). Hubungan tidak langsung social media marketing dengan niat berkunjung yang dimediasi brand awareness juga menunjukkan hasil yang signifikan (P-value < 0,05). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan langsung dan tidak langsung antara social media marketing dengan niat berkunjung yang dimediasi oleh brand awareness.

Internet users around the world increase including in the world of marketing. Business people need to adapt by marketing via social media, including hospitals. Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit, as known as RSKD Duren Sawit, is a hospital that started providing general health services to the community. The use of social media, especially Instagram, is used as media marketing of health service products. The objective of this study is to find the correlation between social media marketing and pastient’s visit intentions. This study was a quantitative study with a cross sectional design. Data was collected using a questionnaire by google form link to RSKD Duren Sawit Instagram followers. The sample size was 102 followers. Data analysis used SEM-PLS method. The social media marketing variable has six dimensions, namely accessibility, credibility, entertainment, interaction, trendiness, and word of mouth. The results of analysis were obtained that the direct correlation between social media marketing and brand awareness, brand awareness and patient’s visit intention, social media marketing and patient’s visit intention were significant (P-value < 0,05). The indirect correlation between social media marketing and patient visit intention that mediated by brand awareness was also significant (P-value < 0,05). This study concluded that there were direct and indirect correlation between social media marketing and patient’s visit intention which was mediated by brand awareness.
 
Read More
T-6968
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yaslina; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Linda Rosalina
T-4528
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Kusumahati; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Desma Eri
S-4141
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Anggraini Indah Sari Br Haloho; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Jaslis Ilyas, Lies Nugrohowati, Agnes Vianti
Abstrak:
Latar belakang: Didasari oleh pentingnya patient experience sebagai salah satu faktor kunci dalam meningkatkan loyalitas pasien di rumah sakit. Loyalitas pasien sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan dan reputasi rumah sakit, khususnya di tengah persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat. Namun, masih terdapat keterbatasan penelitian terkait hubungan antara pengalaman pasien dengan loyalitas pasien di ruang rawat inap. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara patient experience dengan loyalitas pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Hermina Depok. Metodologi penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pasien rawat inap, yang mencakup dimensi pengalaman pasien seperti komunikasi perawat/bidan, komunikasi dokter, respon staf, kenyamanan fasilitas fisik, manajemen nyeri, komunikasi tentang obat, dan discharge planning. Loyalitas pasien diukur melalui niat untuk kembali menggunakan layanan rumah sakit dan merekomendasikan rumah sakit kepada orang lain. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki pengalaman positif selama menjalani perawatan di RSU Hermina Depok. Analisis statistik bivariat dan multivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara patient experience secara keseluruhan dengan loyalitas pasien. Dimensi komunikasi perawat/bidan, komunikasi dokter, kenyamanan fasilitas fisik, dan discharge planning merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap loyalitas pasien. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan berbasis pengalaman pasien untuk mempertahankan dan meningkatkan loyalitas pasien.

.Background:This study is based on the importance of patient experience as a key factor in enhancing patient loyalty in hospitals. Patient loyalty significantly influences the sustainability and reputation of hospitals, especially amid increasingly competitive healthcare services. However, there is still a lack of research on the relationship between patient experience and patient loyalty in inpatient care settings. Research Objective: This study aims to analyze the relationship between patient experience and patient loyalty in the inpatient ward of Hermina General Hospital Depok. Research Methodology: This research uses a quantitative method with a cross-sectional design. Data were collected through questionnaires distributed to inpatients, covering dimensions of patient experience such as nurse/midwife communication, doctor communication, staff responsiveness, physical facility comfort, pain management, medication communication, and discharge planning. Patient loyalty was measured by the intention to return to the hospital and to recommend the hospital to others. Research Results: The results show that the majority of patients had a positive experience during their stay at Hermina General Hospital Depok. Bivariate and multivariate statistical analyses revealed a significant relationship between overall patient experience and patient loyalty. The dimensions of nurse/midwife communication, doctor communication, physical facility comfort, and discharge planning were the most influential factors affecting patient loyalty. These findings emphasize the importance of improving service quality based on patient experience to maintain and increase patient loyalty.
Read More
T-7233
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
karina Pradita Siwi; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Pujianto, Iva Diansari
S-6619
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyas Natasya Citrawati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Puput Oktamianti, Ari Setyaningrum dan Sigit Wibowo
Abstrak:
Ketidakhadiran ASN yang cukup tinggi dapat berdampak kepada produktivitas dari ASN itu sendiri. Hal tersebut justru bertolak belakang dengan tujuan dari implementasi GERMAS yang dicanangkan oleh pemerintah. Melihat dari data tingkat kebugaran kardiorespirasi dan tingkat ketidakhadiran ASN, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat kebugaran jasmani terutama kardiorespirasi dan faktor confounding dengan cuti sakit di Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode case control yang dilakukan pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2024. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data jenis kelamin, usia, jabatan dan cuti sakit dari data kepegawaian pada E-office. Status gizi dan tingkat kebugaran dari aplikasi Sistem Informasi Kebugaran (SIPGAR). Sedangkan data jarak rumah ke tempat kerja, transportasi, penyakit penyerta, aktivitas fisik dan merokok diambil melalui kuesioner. Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta merupakan confounding hubungan kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Berdasarkan aOR=7,83 dengan menggunakan pemodelan akhir didapat bahwa pegawai yang tidak bugar berisiko 7,83 kali untuk tidak hadir karena sakit dibandingkan pegawai yang bugar setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta. Penelitian ini menyarankan untuk pembuatan kebijakan untuk pengukuran kebugaran rutin serta merekomendasikan program intervensi kebugaran dan kesehatan di tempat kerja berdasarkan masing-masing kondisi kesehatan perorangan yang hasilnya dapat disebarluaskan untuk mengedukasi masyarakat betapa pentingnya manfaat kebugaran kardiorespirasi selain untuk meningkatkan produktivitas pekerja tetapi seluruh lapisan masyarakat seperti anak sekolah dan lansia. Penelitian dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mendukung atau menyangkal hasil tersebut.

High absenteeism among civil servants (ASN) can significantly impact their productivity, which contrasts with the objectives of the GERMAS (Healthy Living Community Movement) initiative promoted by the government. Analyzing data on cardiorespiratory fitness and absenteeism rates among civil servants, this study aims to investigate the relationship between physical fitness, particularly cardiorespiratory fitness, and confounding factors with sick leave at the Ministry of Health. This research employs a case-control method conducted in January, February, and March 2024. Data collection included gender, age, job position, and sick leave information from employee records in the E-office. Nutritional status and fitness levels were sourced from the Fitness Information System (SIPGAR) application. Additional data on the distance from home to work, transportation, comorbidities, physical activity, and smoking were gathered through questionnaires. The study concludes that there is a significant relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Variables such as gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities act as confounders in the relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Based on an adjusted odds ratio (aOR) of 7.83 from the final model, it was found that employees with poor cardiorespiratory fitness are 7.83 times more likely to take sick leave compared to those with good fitness, after controlling for gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities. The study recommends policies for regular fitness assessments and workplace fitness and health intervention programs tailored to individual health conditions. The findings should be disseminated to educate the public on the importance of cardiorespiratory fitness, not only to enhance worker productivity but also for all community segments, including school children and the elderly. Further studies with larger sample sizes are needed to support or refute these findings.
Read More
T-6992
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosikin; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Srinagar M. Ardjo, Utami Noor Sya`baniyah
Abstrak: Latar belakang: Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua terbesar di dunia setelah katarak. Diperkirakan akan ada 79,4 juta pasien glaukoma pada tahun 2020 di seluruh dunia, prevalensi glaukoma di Indonesia adalah 0,5%. Gejala glaukoma sering tidak disadari karena menyerupai gejala penyakit lain sehingga diagnosis glaukoma terlambat yang mengakibatkan terjadinya kebutaan total. Dari hasil penelitian seminat glaukoma tahun 2013-2014 di Poliklinik Mata RSCM didapatkan 64 pasien dengan glaukoma sudut terbuka 51,4% kondisi lanjut, 13,5% sudah buta total, 76 pasien dengan glaukoma sudut tertutup 41,4% kondisi lanjut, 26,4% buta total.
Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017.
Metode: Penelitian menggunakan rancangan crossectional. Populasi adalah pasien glaukoma yang berkunjung di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala sikap.
Hasil: Kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017 adalah 74%. Berdasarkan analisis bivariat didapatkan variabel yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma adalah lama menderita (0,000), tingkat pengetahuan (0,000), motivasi berobat (0,000), dukungan keluarga (0,000) dan peran tenaga kesehatan (0,000). Berdasarkan analisis multivariat, motivasi berobat mempunyai pengruh terbesar dalam kepatuhan kontrol pasien glaukoma (OR =12.015).
Kesimpulan: Perlunya peran serta keluarga, tenaga kesehatan dalam memberikan dukungan terhadap pasien glaukoma supaya timbul motivasi untuk disiplin dalam program pengobatan dan patuh untuk kontrol sesuai jadwal.
Kata kunci: Kepatuhan kontrol, glaukoma, rumah sakit

Background: Glaucoma is the second largest cause of blindness in the world after cataracts. It is estimated that there will be 79.4 million glaucoma patients by 2020 worldwide, the prevalence of glaucoma in Indonesia is 0.5%. Symptoms of glaucoma are often unrecognized because they resemble other symptoms of the disease so that the late glaucoma diagnosis results in total blindness. From the research of glaucoma seminar in 2013-2014 in RSCM, 64 patients with open-angle glaucoma were 51,4% advanced condition, 13,5% were totally blind, 76 patients with closed angle glaucoma 41,4% advanced condition, 26, 4% total blindness.
Objective: The objective of this research is to know what factors are related to compliance control of glaucoma patients in Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo in 2017.
Methods: The study used crossectional design. The population is glaucoma patients who visit the Eye Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo from July- September 2017. The instrument used is questionnaire with attitude scale.
Results: Compliance of control of glaucoma patients at Eye Polyclinic of Dr. Cipto Mangunkusumo from July to September 2017 is 74%. Based on the bivariate analysis, the variables related to the control compliance of glaucoma patients were long suffering (0,000), knowledge level (0,000), treatment motivation (0,000), family support (0,000) and the role of health workers (0.000). Based on multivariate analysis, motivation of medication has the biggest influence in compliance control of glaucoma patients (OR = 12.015).
Conclusion: The need for family participation, health personnel in providing support to glaucoma patients to generate motivation for discipline in treatment programs and adherence to controls on schedule.
Keywords: Compliance control, glaucoma, hospital
Read More
T-5116
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Usfahtul Khasanah; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Kurnia Sari, Azis Fahruji, Any Maryani
Abstrak:
Latar Belakang: Pertumbuhan industri jasa kesehatan di Indonesia terus meningkat, jumlah rumah sakit di Indoensia juga terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi DKI Jakarta bertumbuh positif. Jumlah rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta juga meningkat dari tahun 2019 – 2022. Hal ini mendorong persaingan dalam industri jasa kesehatan terutama rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta. Rumah sakit berusaha melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan agar tercapai kepuasan pasien. IGD sebagai pintu masuk utama pasien baik rawat jalan maupun rawat inap perlu memperhatikan kepuasan pasiennya. Banyaknya komplain pasien terhadap layanan kesehatan di IGD mengindikasikan adanya kekurangpuasan pasien terhadap layanan di ruang tersebut.Tujuan Penelitian: untuk melihat hubungan Kualitats Layanan (Service Quality) terhadap kepuasaan pasien di IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa. Metode Penelitian: menggunakan metode penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien yang berkunjung ke IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa pada bulan Mei 2024. Sampel penelitian berjumlah 180 pasien. Analisis data menggunakan uji analisa univariat, bivariat chi square, dan regresi logistik ganda. Hasil Penelitian: kepuasan pasien di IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa secara keseluruhan adalah baik yang terlihat dari nilai indeks Ikj yang menunjukkan nilai positif yang mengindikasikan bahwa persepsi pasien terhadap layanan kesehatan di IGD melebihi ekspektasinya. Sehingga timbul kepuasan pasien yang ideal menurut pasien. Namun ketika ditanyakan kembali menggunakan kuesioner ada 56,7% menyatakan ketidakpuasannya. Dari hasil uji chi square terlihat adanya hubungan yang signifikan terhadap kepuasan pasien pada semua dimensi kualitas layanan tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy, dengan p-value 0,000 (<0,050). Kemudian dari hasil uji multivariat menyatakan bahwa responsiveness merupakan faktor yang paling dominan terhadap kepuasan pasien. Saran: Hendaknya IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kepuasan pasiennya terutama pada dimensi responsiveness.

Background: The growth of the health services industry in Indonesia continues to increase, the number of hospitals in Indonesia also continues to increase. Economic growth in DKI Jakarta Province is growing positively. The number of hospitals in DKI Jakarta Province will also increase from 2019 - 2022. This encourages competition in the health services industry, especially hospitals in DKI Jakarta Province. Hospitals try to make efforts to improve the quality of health services in order to achieve patient satisfaction. The Emergency Room as the main entrance for patients, both outpatient and inpatient, needs to pay attention to patient satisfaction. The large number of patient complaints about health services in the Emergency Room indicates that there is a lack of patient satisfaction with the services in that room. Research Objective: to see the relationship between Service Quality and patient satisfaction in the ER at RSAU dr. Esnawan Antariksa. Research Method: using quantitative analytical research methods with a cross sectional approach. The population of this study were all patients who visited the emergency room at RSAU dr. Esnawan Antariksa in May 2024. The research sample consisted of 180 patients. Data analysis used univariate analysis, bivariate chi square and multiple logistic regression tests. Research Results: patient satisfaction in the ER RSAU dr. Esnawan Antariksa as a whole is good as seen from the Ikj index value which shows a positive value indicating that the patient's perception of health services in the ER exceeds their expectations. So that ideal patient satisfaction arises according to the patient. However, when asked again using a questionnaire, 56.7% expressed dissatisfaction. From the results of the chi square test, it can be seen that there is a significant relationship with patient satisfaction in all dimensions of tangible service quality, reliability, responsiveness, assurance and empathy, with a p-value of 0.000 (<0.050). Then, the results of the multivariate test stated that responsiveness was the most dominant factor in patient satisfaction. Suggestion: It is hoped that the Emergency Room of RSAU dr. Esnawan Antariksa can improve the quality of health services so that it can increase patient satisfaction, especially in the dimension of responsiveness.
Read More
T-7020
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septi Hariyani; Pembimbing: Mary A. Wangsarahardja
S-3952
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Era Renjana Diskamara; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Mochamad Hidayat, Ivonne Kusumaningtias
Abstrak:
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan primer yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan di wilayah kerjanya. Puskesmas memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, tetapi masih dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk dalam pengelolaan keuangan. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menawarkan solusi atas permasalahan tersebut dengan adanya fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan agar puskesmas dapat meningkatkan kinerja pelayanannya. Puskesmas di Kabupaten Bogor telah menerapkan BLUD sejak tahun 2018 dengan cakupan 39,6% pada tahun 2021. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan penerapan BLUD dengan kinerja pelayanan puskesmas di Kabupaten Bogor tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional menggunakan Profil Kesehatan Kabupaten Bogor dan data rutin Kementerian Kesehatan. Populasi dan sampel penelitian adalah seluruh puskesmas di Kabupaten Bogor yang berjumlah 101 puskesmas. Variabel dependen penelitian ini adalah kinerja pelayanan, variabel independen utama BLUD, dan variabel kovariat proporsi bayi, proporsi balita, proporsi penduduk usia produktif, proprosi penduduk usia lanjut, kategori wilayah kerja, ketenagaan, sarana, prasarana, alat kesehatan, prevalensi TB, prevalensi hipertensi, dan prevalensi DM. Hasil penelitian menunjukkan kinerja pelayanan puskesmas sebesar 73,68%. Tidak terdapat perbedaan kinerja pelayanan antara puskesmas BLUD dengan puskesmas non BLUD setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p = 0,33). Saran kepada puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor agar melakukan pengendalian internal dan mengevaluasi penerapan BLUD. Pemangku kepentingan agar menyusun strategi penguatan puskesmas yang telah menerapkan BLUD.



Public health center (puskesmas) is a healthcare facility that held public and individual health services in their work area. Puskesmas has strategic role in Indonesia’s health care system, but still has many challenges, including financial management. BLUD offers solutions for this problem through its flexibility to improve puskesmas service performance. Starting in 2018, there were 39,6% puskesmas implementing BLUD in Bogor District in 2021. The purpose of this study was to determine the relationship between BLUD implementation and puskesmas service performance in Bogor District in 2021. This research was a cross-sectional study using the Bogor District Health Profile and routine data of the Ministry of Health. The population and the sample of this study were all puskesmas in Bogor District, 101 puskesmas. The dependent variable was service performance, the main independent variable was BLUD, and the covariate variables were baby proportions, under 5 years old children’s proportions, productive age population proportion, elderly population proportion, work area category, human resources, facilities, infrastructure, medical devices, TB prevalence, hypertension prevalence, and DM prevalence. The results showed that puskesmas service performance in Bogor District was 73,68%. There weren’t differences of service performance between puskesmas implementing BLUD and puskesmas wasn’t implementing BLUD after being controlled by covariate variables (p = 0,33). Suggestion to puskesmas and Bogor Distict health office are to carry out internal control and to evaluate BLUD implementation. In addition, stake holders are expected to build a strategy strengthening puskesmas that implementing BLUD.
Read More
T-6735
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive