Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23824 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rona Monika Sihaloho; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Heni Rudiyanti, Wiwi Hartuti
Abstrak:
Program Badan POM Goes to Community merupakan program inovasi untuk mengkampanyekan/mempromosikan Cek KLIK kepada masyarakat, agar selalu menerapkan Cek KLIK saat membeli/memilih, mengonsumsi/menggunakan produk obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik yang aman, bermanfaat dan bermutu sehingga terhindar dari produk yang mengandung BKO/bahan berbahaya dan TIE yang merugikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kader pada kegiatan KIE beserta determinannya, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional pada 90 kader program Badan POM Goes to Community yang dipilih dengan cara simple random sampling. Data variabel dependen dikumpulkan dengan metode wawancara, sedangkan data variabel independen dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara mandiri melalui link google form. Seluruh data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan jumlah kader yang berperan aktif lebih banyak daripada kader yang berperan kurang aktif. Motivasi sebagai faktor yang berhubungan dengan peran kader (p-value = 0,037; OR = 2,762) dimana kader yang memiliki motivasi tinggi berpeluang 2,8 kali untuk berperan aktif pada kegiatan KIE dibandingkan kader yang memiliki motivasi rendah setelah dikontrol oleh pelatihan dan insentif yang merupakan confounding pada hubungan tersebut. Motivasi kader dapat ditingkatkan melalui perlombaan kreativitas dalam rangka mempromosikan Cek KLIK dan pendampingan berkesinambungan dari mentor Badan POM kepada kader

The NA-DFC Goes to Community program is an innovative program to campaign/promote Check KLIK to the public, so that they always apply Check KLIK when buying/choosing, consuming/using traditional medicine products, health supplements and cosmetics that are safe, useful and of high quality so as to avoid products containing BKO/hazardous ingredients and TIE that are harmful to health. This study aims to analyze the role of cadres in IEC activities and its determinants, using a quantitative approach with a cross-sectional design on 90 cadres of the NA-DFC Goes to Community program selected by simple random sampling. Data on the dependent variable were collected by interview method, while data on the independent variable were collected by filling out the questionnaire independently through the google form link. All data were analyzed univariately, bivariately and multivariately. The results of analysis showed that the number of cadres who played an active role was more than cadres who played a less active role. Motivation as a factor associated with the role of cadres (p-value = 0,037; OR = 2,762), where cadres who have high motivation are 2,8 times more likely to play an active role in IEC activities than cadres who have low motivation after controlling for training and incentivies, which are confounding the relationship. The motivation of cadres can be increased by holding creativity contests to promote Check KLIK and by providing mentoring from NA-DFC mentors of cadres.
Read More
T-6984
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Lestari; Pembimbing: Hadi Pratomo, Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Nur Qomariah, Kusnadi
Abstrak: Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas PERGIZI dilihat dari komponen input, proses, output dan outcome. Penelitian kualitatif dengan rancangan RAP (Rapid Assesment Procedure), dilakukan minggu keempat bulan Mei 2013 dengan informan kepala seksi gizi, petugas gizi, kader, bidan di desa, ibu balita dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan PERGIZI efektif untuk menanggulangi gizi buruk di Puskesmas Sepatan. dengan indikator meningkatnya status gizi sebesar 69,1%, hanya komponen input yakni dana yang disebagian besar pos gizi masih kurang, sedangkan dari komponen proses dan output telah dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Agar mengoptimalkan penanggulangan gizi buruk di wilayah Puskesmas Kabupaten Tangerang dengan PERGIZI.


The aims of this study was to determine the effectiveness of the PERGIZI program viewed by its component such as inputs, process, outputs and outcomes. A qualitative research with RAP (Rapid Assessment Procedure) design was conducted at fourth week of May 2013. The data collection methods used an indepth interview and focused group discussion. With the informants 42 persons consisting of section head of nutrition, nutrition workers, cadres, village midwives, mothers of under five children and community leaders. This could be seen from change of nutritional status from the under five children as much as 69,1%. From the input component the mean barrier was funding both component process and output was considered successfull and achieving the predetermined goal. It is recomended to solve existing under five nutritional problem in the district of Tangerang using the PERGIZI approach.

Read More
T-3814
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Donal Simajuntak; Pembimbing: Rita Damayanti; Agustin Kusumayati; Penguji: Dewi Susanna, Calvin Watimena
T-3062
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Anindya Uka Wardani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Deasy Martini
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri di Kota Depok selama belajar dari rumah. Desain studi yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam terhadap pelaksana gizi puskesmas, kader posyandu, pembina UKS sekolah, remaja putri, dan orang tua dengan metode purposive sampling. Penelitian menunjukkan bahwa skema distribusi tablet tambah darah dilakukan melalui sekolah dan melalui kader. Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara daring melalui WhatsApp. Pihak yang diberdayakan antara lain remaja putri, orang tua, kader, dan pihak sekolah. Remaja putri mendapatkan dukungan sosial dari orang tua dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Perlu adanya penyeragaman skema distribusi dan penguatan pemberdayaan kepada orang tua dan remaja putri.
Read More
S-10793
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Fadly H Masse; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Triyanti, Idris Galla, Andi Muhammad RPN
Abstrak:

Abstrak
Stunting di Kabupaten Bantaeng masih menjadi tantangan dengan prevalensi 15,8%. Keberhasilan dalam menekan angka ini menjadi dasar untuk menelaah peran strategis KPM sebagai garda terdepan dalam program konvergensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah implementasi peran KPM dalam upaya pencegahan stunting serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat efektivitasnya di Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi dengan total 24 informan yang terdiri dari 7 KPM, 3 kepala desa, 5 tenaga kesehatan, 3 kader posyandu, dan 6 perwakilan masyarakat sasaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen , yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan peran KPM sangat efektif dalam memfasilitasi akses terhadap layanan KIA, sanitasi, dan jaminan kesehatan, berkat kolaborasi lintas sektor dan dukungan penuh pemerintah desa. Namun, masih kurang optimal dalam intervensi yang bersifat edukatif untuk mengubah perilaku, seperti pada aspek konseling gizi dan partisipasi PAUD. Faktor penghambat utamanya adalah norma sosial yang kuat di masyarakat dan keterbatasan sumber daya untuk program edukasi yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan implementasi peran KPM efektif pada intervensi yang didukung program pemerintah yang konkret dan terukur, namun lemah dalam mengubah pengetahuan dan norma sosial. Lebih lanjut, ditemukan pula kesenjangan antara kualifikasi pendidikan formal KPM dengan kompleksitas tugas edukasi dan konseling gizi yang harus diemban secara efektif. Disarankan agar Pemerintah Daerah mengembangkan kampanye sosialisasi untuk mengubah norma sosial dan mengalokasikan dana untuk program edukasi terstruktur. Selain itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) perlu mengevaluasi kembali standar rekrutmen KPM dan merancang pelatihan terstandar dan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas KPM.


 

Stunting remains a challenge in Bantaeng Regency, with a prevalence of 15.8%. This study explores the strategic role of Human Development Cadres (KPM) in the stunting prevention program and identifies supporting and hindering factors affecting their effectiveness. Using a qualitative phenomenological approach, the study involved 24 informants: 7 KPM, 3 village heads, 5 health workers, 3 Posyandu cadres, and 6 community representatives. Data collection was done through in-depth interviews and document reviews, followed by thematic analysis. Findings show that KPM are effective in improving access to maternal and child health services, sanitation, and health insurance due to strong cross-sector collaboration and village government support. However, their role is less optimal in educational interventions, particularly in nutrition counseling and increasing participation in early childhood education (PAUD). Key challenges include persistent social norms and limited resources for structured educational programs. There is also a gap between KPM’s formal education levels and the complex tasks of health education and counseling. The study concludes that KPM play an effective role in interventions backed by clear government programs but face difficulties in changing behaviors and social norms. It recommends that local governments strengthen social norm change campaigns and allocate funding for structured education. Furthermore, the Community and Village Empowerment Office (DPMD) should review recruitment standards and provide ongoing, standardized training to enhance KPM capacity.

 

Read More
T-7295
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Darmayanti; Pemb. Rina A. Anggorodi, Sri Tjahyani B. Utami; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Tri Hadiah, Tati Nuryati
Abstrak:

ABSTRACT Health development aim to for increase the awareness, willingness and ability of healthy life for every people in order to existed by degree of health of society which at the farthest as well as representing of human rights being, what require to be fought for by each and everyone, socialize, inclusive of related/relevant part?s Integrated Health Post (Posyandu) represent to exist reality strive of community based health effort, having principle from, by and to community. Self reliant of Posyandu can only be reached with the improvement participate each; every element community exist in the region and motorized by cadre Posyandu. Factor influence role of cadre in improving self reliant of Posyandu for example cadre characteristic, others factor consisted of financing and construction and local policy to supporting execution of activity of Posyandu in the region. This research use approach qualitative to dig circumstantial information hit factor influencing the cadre role in improving independence Posyandu in region Public Health Center (PHC) Karang Kitri, Sub district of East Bekasi, District Bekasi by focus group discussion and others have from through in-depth interview conducted for builder coming from PHC, Leader of PKK, and chief of RW as elite figure of community. Informants in focus group discussion amount to 40 from 8 chosen Posyandu and represent cadre Posyandu have worked to become cadre during > 5 year. Result obtained there's only 2 self-reliant of Posyandu exist in region work CHC Karang Kitri. Characteristic factor of cadre have important influence in cadre lifelines execute activity Posyandu. Generally cadre age range from 31-60 year. Cadre old (aging) can only conduct balance activity, what have the low education of Faktor yang mempengaruhi..., Darmayanti, FKM UI, 2007 indigent do counseling. While cadre residence distance not have an effect on their activity execute in Posyandu, because they work voluntarily. This research concluded that active role of cadre in given the task to improve the development of the quality operational of activity Posyandu and to move community effort potency exist in this area of Posyandu. Others factor, availability of facility Posyandu, resources from community, including defrayal, to build and guidance by technical worker, joint responsibility among stakeholders as like as chief of RW as elite figure in community, community organization (PKK), and the local policy in this area. As potential human resources, cadre Posyandu have duty assist provider in collecting of data, surveillance in community health and to move empowering community participate. Finally, make-up of performance and quality of Posyandu will push reaching of self-reliant of that Posyandu itself.

Read More
T-2895
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Noviana Nasriyanto; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ahmad Syafiq, Artha Prabawa; Bayu Aji
Abstrak:
ABSTRAK Literasi kesehatan (health literacy) didefinisikan sebagai keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses untuk memahami dan menggunakan informasi dengan cara mempromosikan dan memelihara kesehatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan beserta determinan sosialnya pada mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini menggunakan instrumen Health Literacy Scale versi 16 item (HLS-EU- Q16) dan mendapatkan data dari 373 mahasiswa yang tersebar pada tiga rumpun keilmuan di Universitas Indonesia (Rumpun Sains dan Teknologi, Rumpun Sosial dan Humaniora, dan Rumpun Ilmu Kesehatan). Data dianalisis secara univariat, bivariat (dengan menggunakan uji T independen dan uji Anova), dan multivariat (dengan menggunakan regresi linier multivariabel). Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan secara keseluruhan cukup baik (M=2,91, SD=0,78) dengan nilai tertinggi pada domain fungsional (M=3,21, SD=0,69), disusul oleh domain interaktif (M=2,90, SD=0,76), lalu domain kritikal (M=2,67, SD=0,87). Hasil analisis bivariat menunjukkan hanya rumpun keilmuan yang yang memiliki perbedaan signifikan dengan mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan yang memiliki tingkat literasi kesehatan lebih tinggi daripada kedua rumpun lainnya. Sementara hasil analisis regresi menunjukkan hanya variabel rumpun keilmuan dan penguasaan bahasa asing yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat literasi kesehatan mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian tentang literasi kesehatan pada populasi lain, baik pada mahasiswa di universitas lain, maupun pada kelompok demografi lainnya (orang dewasa, ibu hamil, dan lain-lain) akan menambah masukan bagi pengembangan program-program edukasi kesehatan di Indonesia dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan.

ABSTRACT Health literacy is defined as the cognitive and social skills that determine the individual's motivation and ability to gain access to understanding and using information by promoting and maintaining good health. This study aimed to determine the level of health literacy and its social determinants among first-year undergraduate students at the Universitas Indonesia (class of 2017/2018). Using cross-sectional design, this study adapted the short version of Health Literacy Scale instrument (HLS-EU-Q16). Data were collected from 373 college students from three clusters of disciplines (i.e., Science and Technology, Social and Humanity, and Health Sciences). Univariate analyzes showed that in general, the mean of health literacy was rather good (M=2,91, SD=0,78) with the functional domain led as the highest (M=3,21, SD=0,69), followed by the interactive domain (M=2,90, SD=0,76), and then the critial domain (M=2,67, SD=0,87). Bivariate analyzes using independent T test and one-way Anova showed that only the cluster variable has significant differences. While multiple regression showed only the cluster and the number of languages variables that have significant effects toward health literacy. Future studies assessing health literacy among college students in different universities or among other population groups may provide more contribution to the development of health education programs.
Read More
T-5323
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muslimah; Pembimbing: Dian Ayubi, Dien Anshari; Penguji: Tri Krianto, ; Rudyanto, Chandra; Retno Damarwati
Abstrak: Data imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Tangerang berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 yaitu sebanyak 45,7% dengan status imunisasi dasar lengkap dan 43% dengan status imunisasi dasar tidak lengkap. Salah satu strategi Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap dengan pemberdayaan masyarakat melalui peran aktif kader posyandu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peran kader posyandu dalam program imunisasi dasar lengkap. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain cross sectional, pengambilan sampel dengan simple random sampling dan sebanyak 104 telah terpilih sebagai responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan cara wawancara. Responden pada penelitian ini adalah kader posyandu yang bertugas di wilayah kerja Kecamatan Cisauk yaitu Puskesmas Cisauk dan Suradita. Hasil penelitian menunjukkan peran kader yang aktif dalam imunisasi dasar lengkap rata-rata sebanyak 62,5% dimana peran dalam kegiatan imunisasi sudah dijalankan dengan cukup baik, terutama dalam hal penyebaran informasi tentang penyelenggaraan imunisasi di posyandu. Faktor-faktor yang yang berhubungan dengan peran kader pengetahuan, penghargaan, Supervisi. Faktor dominan dalam penelitian adalah Supervisi petugas kesehatan dengan nilai OR 9.3 yang artinya adanya supervisi petugas kesehatan akan memberikan peluang 9,3 kali terhadap peran kader dalam program imunisasi dasar lengkap di Kecamatan Cisauk di Kabupaten Tangerang tahun 2019.
Read More
T-5737
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Priharika Septyowati; Pembimbing: Hadi Pratomo, Sudarti Kresno; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, R. Dettie Yuliati; A. Retno Tyas Utami
Abstrak: Dalam tesis ini dibahas cara pemilihan penggunaan obat bebas oleh kader CBIA (Cara Belajar Ibu Aktif) dan non CBIA di Pandeglang (2009), serta faktor pendorong penghambatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader CBIA menggunakan obat dengan sesuai aturan. Pada kader non CBIA meskipun tepat dalam dosis obat namun tidak tepat dalam hal jenis dan lama penggunaan obat. Selanjutnya, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengetahuan obat cenderung meningkatkan kewaspadaan penggunaan obat, serta iklan obat elektronik diduga mempengaruhi pilihan nama obat yang akan digunakan. Faktor karakteristik individu, akses, keterpaparan informasi obat media elektronik serta dukungan tenaga kesehatan dan keluarga cenderung mempengaruhi perilaku pemilihan penggunaan obat bebas.
 

The research was aimed to study on selecting and utilizing the non prescription drug by cadres in Pandeglang Disrict, 2009. It also examined both supporting and inhibiting factors of the self-medication behavior. It was a qualitative research which employed in depth interview and group discussion methods to obtain data. The results concluded that among CBIA's cadres were likely to use the medicine properly. On the contrary, the non CBIA's cadre tended to select the wrong medicine and utilize inappropriate length of therapy. Furthermore, the results showed that knowledge on drug use might increase the awareness in the medicine utilization. Electronic advertisement could influence the informant's preference in selecting certain medicine brand. Therefore, the selection and utilization of non prescription medicine tended to be influenced by the following factors : individual characteristics, exposure to drug information and accessibility to electronic media. It was also influenced by both health professional and family support.
Read More
T-3126
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachmawati Sandjadirdja; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Zarfiel Taffal, Agus Gusmara, Mamak Jamaksari
T-2656
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive