Ditemukan 34073 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Budi Setiawan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Dwi Oktavia T.L.H
Abstrak:
Read More
Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di DKI Jakarta masih sebesar 58% dari target 80%, beberapa faktor risiko sering dihubungkan dengan tingkat keberhasilan pengobatan. Penetitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan dan riwayat pengobatan terhadap keberhasilan pengobatan TBC RO dengan paduan jangka pendek 9-11 bulan. Metode penelitian yang dilakukan adalah kohort retrospektif untuk membandingkan kelompok terpapar dan tidak terpapar (rasio risiko/RR) terhadap tiingkat keberhasilan pengobatan. Sebanyak 364 pasien dengan keberhasilan pengobatan 62,36%, 59,07% patuh pengobatan dan 51,65% ada riwayat pengobatan. Kepatuhan pengobatan memiliki RR 9,14 (95%CI: 5,50-15,20, p=<0,001) sedangkan riwayat pengobatan memiliki RR 1,06 (95%CI: 0,9-1,24, p=0,48) terhadap keberhasilan pengobatan. Analisis stratifikasi dan multivariat model kausal dengan metode backward menghasilkan umur, jenis kelamin, status bekerja, status gizi, dan koinfeksi HIV tidak terbukti sebagai variabel perancu maupun interaksi. Diperlukan penambahan jumlah sampel untuk bisa menunjukkan hubungan variabel kovariat dengan lebih jelas. Kepatuhan pengobatan menjadi salah satu kunci dalam peningkatan keberhasilan pengobatan TBC RO di DKI Jakarta.
The success rate of drug-resistant tuberculosis (DR-TB) treatment in DKI Jakarta is currently 58% of the 80% target, and various risk factors are often associated with treatment outcomes. The aim of this study was to determine the relationship between adherence and treatment history to the success of treatment of DR-TB with a short-term regimen of 9-11 months. The research method used was a retrospective cohort to compare exposed and unexposed groups (risk ratio/RR) on treatment success rate. A total of 364 patients with 62.36% treatment success, 59.07% were treatment adherent and 51.65% had a history of treatment. Treatment adherence had an RR of 9.14 (95%CI: 5.50-15.20, p=<0.001) while treatment history had an RR of 1.06 (95%CI: 0.9-1.24, p=0.48) on treatment success. Stratification and multivariate analysis of causal models using the backward method resulted in age, gender, working status, nutritional status, and HIV co-infection not being proven as confounding or interaction variables. An increase in sample size is needed to show the relationship between covariates more clearly. Treatment adherence is one of the keys to improving the success of DR-TB treatment in DKI Jakarta.
T-7087
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miptah Farid Thariqulhaq; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Neni Sawitri, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Penyakit TB MDR merupakan salah satu penyakit infeksi yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia dengan angka keberhasilan pengobatan 45%. Konversi kultur sputum merupakan suatu prediktor kuat dari awal keberhasilan terapi. Waktu konversi yang lambat akan memperpanjang periode penularan dan memprediksi tingkat kegagalan pengobatan yang tinggi. Terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan konversi kultur sputum pasien TB MDR. Penelitian terkait faktor risiko kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin dengan waktu konversi kultur sputum di poli MDR terpadu RS Paru Dr M Goenawan Partowidigdo tahun 2022. Penelitian ini menggunakan studi cohort retrospektif dengan sampel yang diambil dari catatan rekam medis dan SITB pasien poli MDR. Variabel yang diteliti adalah kadar albumin < 3,5 gram/dl dan ≥ 3,5 gram/dl dengan variabel covariat usia, jenis kelamin, pendidikan, index masa tubuh, status merokok, gradasi sputum bta, komorbid, regimen pengobatan, dan kepatuhan minum obat . Hasil penelitian berdasarkan analisis multivariat menunjukkan kadar albumin < 3,5 mg/dl memiliki kecepatan waktu konversi 41,8% lebih lambat dengan (HR=0,582, 95% CI 0.344-0.984) untuk mengalami konversi dibanding dengan pasien TB MDR dengan kadar albumin ≥ 3,5 mg/dl setelah memperhitungkan status merokok dan kepatuhan minum obat. Perlunya memperbaiki kadar albumin yang rendah pada pasien TB MDR di rumah sakit dan memberikan penyuluhan kepada keluarga pasien agar turut berpartisipasi memantau asupan makan pasien yaitu makanan yang mengandung tinggi protein seperti ikan gabus serta ekstra putih telur untuk membantu meningkatkan kadar albumin pasien yang dapat berguna untuk terjadinya konversi kultur sputum.
MDR TB disease is an infectious disease whose prevalence is increasing from year to year in Indonesia with a treatment success rate of 45%. Sputum culture conversion is a strong predictor of initial therapeutic success. Slow conversion time will prolong the period of transmission and predict a high rate of treatment failure. There are several risk factors associated with sputum culture conversion in MDR TB patients. Research related to risk factors for albumin levels and sputum culture conversion time is still very limited. The aim of this study was to determine the relationship between albumin levels and sputum culture conversion time at the integrated MDR polyclinic at Dr M Goenawan Partowidigdo Pulmonary Hospital in 2022. This study used a retrospective cohort study with samples taken from medical records and SITB patients at poly MDR. The variables studied were albumin levels < 3.5 mg/dl and ≥ 3.5 mg/dl with the covariate variables age, sex, education, body mass index, smoking status, sputum gradation, co-morbidities, medication regimens, and drinking adherence drug . The results of the study based on multivariate analysis showed that albumin levels < 3.5 mg/dl had a 41.8% slower conversion time (HR=0.582, 95% CI 0.344-0.984) to experience conversion compared to MDR TB patients with albumin levels ≥ 3.5 mg/dl after taking into account smoking status and medication adherence. It is necessary to improve low albumin levels in MDR TB patients at the hospital and provide counseling to the patient's family to participate in monitoring the patient's food intake, namely foods that contain high protein such as snakehead fish and extra egg whites to help increase the patient's albumin levels which can be useful for the occurrence of sputum culture conversion.
T-6801
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tika Dwi Tama; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Erlina Burhan, Sulistyo
T-4250
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eka Hateyaningsih T.; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Yovsyah, Rengsi Uli
S-5659
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.
The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maria Regina Loprang; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Tri Yunis Miko Wahyono, RR Diah Handayani, Sulistyo
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis resisten obat (TBC RO) tetap menjadi hambatan utama dalam eliminasi tuberkulosis, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam beban TBC RO secara global. Dari perkiraan 30.000 kasus baru setiap tahun, hanya 39% yang terdiagnosis dan dilaporkan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah sebesar 57%. Penelitian ini menganalisis faktor risiko kematian pada pasien TBC RO yang menggunakan paduan pengobatan jangka pendek (STR) di Indonesia selama 2020–2022 dengan desain kohort retrospektif dan analisis survival menggunakan data SITB. Temuan utama mengidentifikasi usia lanjut (≥65 tahun), koinfeksi HIV tanpa ART, riwayat pengobatan ulang, keterlambatan memulai pengobatan (>3 bulan), dan rejimen berbasis suntikan STR sebagai faktor risiko kematian yang signifikan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi (87,37%) ditemukan pada pasien yang memulai pengobatan dalam 2–4 minggu setelah diagnosis dan terendah (77,36%) pada mereka yang menunda pengobatan lebih dari tiga bulan. Koinfeksi HIV tanpa ART menjadi faktor risiko terkuat, meningkatkan risiko kematian hingga sepuluh kali lipat, sementara usia lanjut meningkatkan risiko 3,67 kali dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis dan pengobatan tepat waktu, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.
Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a critical barrier to tuberculosis elimination, with Indonesia ranking third globally in DR-TB burden. Despite an estimated 30,000 new cases annually, only 39% are diagnosed and reported, with a low treatment success rate of 57%. This study analyzed mortality risk factors among DR-TB patients treated with shorter treatment regimens (STR) in Indonesia from 2020 to 2022 using retrospective cohort and survival analyses of SITB data. Key findings identified older age (≥65 years), HIV co-infection without ART, re-treatment history, delayed treatment initiation (>3 months), and STR injection-based regimens as significant mortality risk factors. Survival was highest (87.37%) among patients starting treatment within 2–4 weeks of diagnosis and lowest (77.36%) for those delaying beyond three months. HIV co-infection without ART posed the strongest risk, increasing mortality tenfold, while advanced age raised the risk 3.67 times compared to younger cohorts. These findings underscore the need for timely diagnosis and treatment, particularly for high-risk groups
T-7436
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ikes Dwiastuti; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Mondastri korib Sudaryo, Sulistyo
Abstrak:
Munculnya berbagai tantangan baru dalam pengendalian TB, salah satunyamultidrug resistant tuberculosis (TB MDR). TB MDR adalah salah satu jenisresistensi TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yangtidak merespon (resisten), setidaknya, isoniazid dan rifampicin yang merupakandua jenis obat yang paling efektif pada lini pertama obat anti TB (OAT).Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinyakonversi kultur sputum pada pasien TB Paru MDR. Penelitian dilakukan didilakukan di RSUD Labuang Baji Kota Makassar dimulai dari bulan April 2015-Juni 2015. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Jumlah sampel dalampenelitian ini yakni 183 pasien, 139 pasien (76,0%) yang mengalami konversikultur sputum, 4 pasien (2,2%) yang tidak mengalami konversi kultur sputum, dan40 pasien (21,8%) yang loss to follow up. Dari penelitian ini diketahui bahwaprobabilitas konversi kultur sputum pasien TB paru MDR sebesar 95,52%. Hasilanalisis multivariat menunjukkan bahwa interupsi pengobatan (HR:0,45; 95%CI:0,26-0,79), status diabetes melitus (DM) sebelum 33 hari (HR:0,75; 95%CI: 0,29-1,95) dan setelah 33 hari yakni (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), serta riwayatpengobatan yang pernah mendapatkan OAT lini I (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90)serta yang pernah mendapatkan OAT lini II (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77).Diperlukan penanganan secara intensif dan lengkap pada pasien TB paru MDR diPoli TB MDR dengan memperhatikan interupsi pengobatan, status DM, danriwayat pengobatan sebelumnya.Kata kunci : Diabetes melitus, interupsi pengobatan, konversi kultur sputum,riwayat pengobatan sebelumnya, TB paru MDR.
One of the new emerging challenges in TB controlling is multidrug resistanttuberculosis (MDR TB). MDR TB is a type of TB resistant caused by theunresponsiveness (resistancy) of Mycobacterium tuberculosis to at least isoniazidand rifampicin in which both are the most effective anti-TB drugs in first line.This study was aimed to determine the influencing factors for the timing ofsputum culture conversion among pulmonary MDR TB patients. This study wasconducted in Labuang Baji General Hospital, Makassar City started from April2015 to June 2015. Cohort-retrospective design was performed in this study.There were 183 patients involved in this study consisted of 139 (76,0%) patientswith sputum culture conversion, 4 (2,2%) patients with no sputum cultureconversion, and 40 (21,8%) patients were loss to follow up. The result of thestudy shows that the probability of sputum culture conversion of Pulmonary MDRTB was 95,52%. Multivariate analysis showed that the interruption of treatment(HR:0,45; 95%CI: 0,26-0,79), Diabetes Mellitus (DM) before 33 days (HR:0,75;95%CI: 0,29-1,95), DM after 33 days (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), previouslytreated with FLDs (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90), and previously treated withSLDs (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77) were found to be the influencing factors forthe sputum culture conversion among pulmonary MDR TB. Complete andintensive care are needed among pulmonary MDR TB in MDR TB polyclinic byobserving the interruption of treatment, DM, and history of previous treatment.Keywords: Diabetes mellitus, history of previous treatment, pulmonary MDR TB,sputum culture conversion, treatment interruption.
Read More
One of the new emerging challenges in TB controlling is multidrug resistanttuberculosis (MDR TB). MDR TB is a type of TB resistant caused by theunresponsiveness (resistancy) of Mycobacterium tuberculosis to at least isoniazidand rifampicin in which both are the most effective anti-TB drugs in first line.This study was aimed to determine the influencing factors for the timing ofsputum culture conversion among pulmonary MDR TB patients. This study wasconducted in Labuang Baji General Hospital, Makassar City started from April2015 to June 2015. Cohort-retrospective design was performed in this study.There were 183 patients involved in this study consisted of 139 (76,0%) patientswith sputum culture conversion, 4 (2,2%) patients with no sputum cultureconversion, and 40 (21,8%) patients were loss to follow up. The result of thestudy shows that the probability of sputum culture conversion of Pulmonary MDRTB was 95,52%. Multivariate analysis showed that the interruption of treatment(HR:0,45; 95%CI: 0,26-0,79), Diabetes Mellitus (DM) before 33 days (HR:0,75;95%CI: 0,29-1,95), DM after 33 days (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), previouslytreated with FLDs (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90), and previously treated withSLDs (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77) were found to be the influencing factors forthe sputum culture conversion among pulmonary MDR TB. Complete andintensive care are needed among pulmonary MDR TB in MDR TB polyclinic byobserving the interruption of treatment, DM, and history of previous treatment.Keywords: Diabetes mellitus, history of previous treatment, pulmonary MDR TB,sputum culture conversion, treatment interruption.
T-4491
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak:
Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anggie Hardiyanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Loss to follow up (LTFU) menjadi kontributor utama ketidakberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif obat (TB SO) di Provinsi DKI Jakarta, dengan proporsi 14,2–14,4% pada periode 2023–2025, jauh di atas rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kejadian LTFU, mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan, dan membangun model prediksi risiko LTFU pada pasien TB SO di DKI Jakarta. Desain yang digunakan adalah kohort retrospektif berbasis data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta periode 1 Januari 2023–31 Desember 2025. Sampel akhir terdiri dari 110.493 pasien. Analisis waktu kejadian dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier, regresi Cox Proportional Hazards, dan Extended Cox Regression. Dari total sampel, 18.928 pasien (17,13%) mengalami LTFU, dengan median waktu kejadian LTFU pada hari ke-64 (IQR: 30–113). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan meningkatkan risiko LTFU adalah jenis kelamin laki-laki (aHR=1,403; 95%CI=1,359–1,449), riwayat pengobatan TB sebelumnya (aHR=1,301; 95%CI=1,232–1,374), status diabetes melitus (aHR=1,232; 95%CI=1,170–1,297), diagnosis klinis (aHR=1,093; 95%CI=1,058–1,128), regimen tidak sesuai standar (aHR=1,151; 95%CI=1,070–1,239), dan usia ≥45 tahun (aHR=1,056; 95%CI=1,024–1,088). Sebaliknya, status bekerja (aHR=0,833), pelajar (aHR=0,712), dan rujukan dari fasilitas lain (aHR=0,905) bersifat protektif. Pengobatan di puskesmas menunjukkan risiko LTFU lebih rendah dibandingkan rumah sakit pada 120 hari pertama (aHR=0,316). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa LTFU dipengaruhi oleh interaksi faktor sosiodemografi, klinis, dan layanan kesehatan. Periode 64–120 hari pertama merupakan waktu kritis yang memerlukan penguatan pemantauan dan intervensi berbasis risiko.
Loss to follow up (LTFU) remains the primary contributor to treatment failure in drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) in DKI Jakarta, with a proportion of 14.2–14.4% during 2023–2025, substantially exceeding the national average. This study aimed to analyze the time-to-event of LTFU, identify associated risk factors, and develop an LTFU risk prediction model among DS-TB patients in DKI Jakarta. A retrospective cohort design was employed using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) of the DKI Jakarta Provincial Health Office, covering January 1, 2023 to December 31, 2025. The final sample consisted of 110,493 patients. Time-to-event analyses were conducted using the Kaplan-Meier method, Cox Proportional Hazards regression, and Extended Cox Regression. Of the total sample, 18,928 patients (17.13%) experienced LTFU, with a median time-to-LTFU of day 64 (IQR: 30–113). Multivariate analysis identified the following significant predictors of LTFU: male sex (aHR=1.403; 95%CI=1.359–1.449), prior TB treatment history (aHR=1.301; 95%CI=1.232–1.374), diabetes mellitus comorbidity (aHR=1.232; 95%CI=1.170–1.297), clinical diagnosis (aHR=1.093; 95%CI=1.058–1.128), non-standard treatment regimen (aHR=1.151; 95%CI=1.070–1.239), and age ≥45 years (aHR=1.056; 95%CI=1.024–1.088). Conversely, employment (aHR=0.833), student status (aHR=0.712), and referral from another facility (aHR=0.905) were protective factors. Patients treated at primary health centers (puskesmas) had significantly lower LTFU risk compared to hospitals during the first 120 days (aHR=0.316). These findings confirm that LTFU is determined by the interaction of sociodemographic, clinical, and healthcare service factors. The first 64–120 days of treatment represent a critical window requiring intensified monitoring and risk-stratified intervention.
T-7669
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
R. A. Della Patrisia Pramesti; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Syahrizal Syarif, Sulistyo
Abstrak:
Read More
Ketidakberhasilan pengobatan TBC masih berada di atas ambang batas 10% yaitu 13% pada tahun 2023 di Indonesia. Komponen terbesar yang menyumbang angka ketidakberhasilan pengobatan TBC ini adalah kejadian putus berobat. Pasien TBC yang putus berobat pada tahun 2023 menempati angka tertinggi sepanjang periode pelaporan TBC pada tahun 1996-2023 dan meningkat secara berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prediktor kejadian putus berobat pada pasien TBC sensitif obat (SO) dan mengetahui gambaran waktu terjadinya putus berobat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan melibatkan seluruh pasien TBC SO yang memulai pengobatan pada Januari-Desember 2023 di Indonesia yang memenuhi kriteria penelitian dan tercatat pada sistem informasi tuberkulosis (SITB). Analisis data mencakup analisis deskriptif sampai analisis multivariat untuk memperoleh model prediksi terbaik dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa 17% dari populasi dalam penelitian ini putus pengobatan dengan median waktu putus berobat pada hari ke-56. Pasien ≥45 tahun, laki-laki, koinfeksi HIV, memiliki riwayat pernah putus berobat, diobati di rumah sakit (RS) pemerintah, RS swasta dan klinik/praktik mandiri swasta, lokasi fasyankes dan tempat tinggalnya berbeda kabupaten/kota, serta berobat di wilayah Kawasan Timur Indonesia dan Sumatera merupakan kelompok risiko tinggi putus berobat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan persepsi pasien, penguatan dukungan sosial dan keluarga, perluasan akses pelayanan dan pendampingan pasien TBC di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, serta penguatan sistem pelayanan kesehatan dan sistem deteksi dini untuk mencegah kejadian putus berobat.
The unsuccessful outcome of tuberculosis (TB) treatment in Indonesia remains high, at 13% in 2023, exceeding the 10% threshold. The largest contributing factor to this outcome is the rate of loss to follow-up (LTFU). In 2023, the number of LTFU cases reached the highest level recorded in the TB information system from 1996 to 2023, showing a consecutive increase over the past three years. This study aims to identify the predictive factors for occurrence of LTFU among drug-sensitive tuberculosis (DS-TB) cases and to determine the predicted time before the LTFU in Indonesia. This study utilizes a retrospective cohort design, involving all DS-TB cases who initiated treatment between January and December 2023 in Indonesia, met the study criteria, and were recorded in the TB information system. The analysis performed includes descriptive and multivariate analysis to identify the most accurate model in this study. The findings indicate that 17% of the population experienced LTFU, with the median time on day 56. Patients aged 45 years and older, male patients, those with HIV status, a prior history of treatment interruption, those receiving treatment at private hospitals, public hospitals and private clinics/general practitioners, those treated at facilities located in districts or cities different from their registered addresses, and those treated in Eastern Region of Indonesia and Sumatera were identified as having the highest risk compared to other groups. Accordingly, it is imperative to enhance patient knowledge and awareness, strengthen social and family support systems, expand service access and patient support across all facilities, and strengthen the healthcare system and early detection mechanisms to prevent the occurance of LTFU.
T-7461
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
