Ditemukan 32950 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Abstrak
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan oleh nyamuk.Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) merupakan salah satu program pencegahan filariasis.Cakupan Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis dari tahun 2005-2009 berkisar antara 28% -59,48%. Persentase kasus klinis yang ditatalaksana berkisar antara 17%- 40%. Pencapaian ini belum mencapai target yang ditetapkan oleh WHO (85%).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis di 32 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectionaldengan pendekatan data ekologi. Penelitian ini dilaksanakan terhadap Kabupaten/kota di Indonesia yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filarisis. Berdasarkan laporan pemeriksaan mikrofilaria dalam darah hasil dari Subdit Pencegahan Filariasis dan Kecacingan Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2012 terhadap kabupaten/kota yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis selama lima tahun yang diberikan sekali dalam setahun. Analisis data menggunakan cox regression.
Hasil analisis diperoleh prevalensi kabupaten/kota cakupan pemberian obat kategori tinggi sebesar 85% dan berhasil dilakukan pemberantasan sebanyak 22 kabupaten/kota. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis sebesar 2,04 kali (PR = 2,04; 1,019-4,05), hasil uji multivariat menunjukkan cakupan pemberian obat massal kategori tinggi berpeluang berhasil dalam pemberantasan filariasis sebesar 1,591 kali (PR = 1,591; 0,561-4,512) setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan sex ratio. Dengan melakukan pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis yang diberikan satu tahun sekali selama lima tahun berturut-turut maka eliminasi filariasis di Indonesia dapat tercapai.
Filariasis (elephantiasis) is achronic infectious disease caused byfilarial worms and transmitted by mosquitoes. Mass Drug Administration Program (MDAP) is one of filariasis prevention programs. Filariasis Mass Drug Administration Program (MDAP) Coverage from 2005-2009 ranged from 28% - 59.48%. Percentage of clinical cases are administered ranged from 17% -40%. This achievement has not reached the assigned target by the WHO (85%0.
This study aims to determine the relationship coverage of mass drug administration against the success of the prevention of filariasis in Indonesia in 2012. This study was using a cross sectional design with ecological data approach. This study was conducted to district / city in Indonesia that have implemented Mass Drug Administration (MDA) filarisis prevention which is based on inspection reports of microfilariae in the blood in the districts / cities that have implemented preventive filariasis Mass Drug Administration for five years, given once a year. Data obtained from the Filariasis Prevention and Worm Sub Directorate - Directorate of Animal Disease Control Sourced , Directorate General of Disease Control and Enviromental Health, Ministry of Health in 2012. Data analysis using cox regression.
Results of analysis, the prevalence of the district/city high coverage of drug categories by 85% and successfull in preventing 22 districts/cities. This study showed that there are correlation of Mass Drug Administration against the success of filariasis prevention of 2.04 times(PR =2:04; 1.019 to 4.05), test showing the coverage of Mass Drug Administration likely to succeed in the high category for the prevention of filariasis 1,591 times (PR =1,591;0.561 to 4.512) after controlling variable level of education and sex ratio. By doing preventive filariasis Mass Drug Administration give nonce a year for five years regularly then the elimination of filariasis in Indonesia can be achieved.
Prevalensi gizi kurang pada anak usia kurang dari 36 bulan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah keluarga miskin di Indonesia. Untuk mencegah semakin memburuknya status gizi dan kesehatan masyarakat, pemerintah telah melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). Salah satu pelayanannya adalah intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak keluarga miskin.Penelitian ini menganalisis data sekunder dari penelitian "Studi Dampak PMT terhadap Status Gizi dan Kesehatan Bayi dan Anak". Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi kekuatan hubungan PMT dengan status gizi anak usia 12 - 36 bulan. Lokasi penelitian di Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu wilayah sasaran program PMT JPS-BK. Faktor lain meliputi umur anak, jenis kelamin, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, konsumsi energi, umur ibu, dan pendidikan ibu diduga mempengaruhi hubungan PMT dengan status gizi anak.Desain yang digunakan adalah Case Control. Kelompok kasus adalah anak yang memiliki status gizi kurang dengan indeks BBIU (Z-skor <-2 SD). Sedangkan kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi baik (Z-skor > -2 SD). Besar sampel 214 anak, terdiri dari 107 sampel kasus dan 107 sampel kontrol. Evaluasi dari PMT yang diterima anak merupakan komposit dari kandungan energi PMT dan lama mendapat PMT.Hasil penelitian menunjukkan, dari seluruh sampel, sebagian anak ternyata menerima PMT dengan kualitas kurang. Penyelenggaraan PMT dengan model paket dibawa pulang ke rumah, ternyata hanya sebagian anak yang mengkonsumsi sendiri PMT tersebut. Proporsi anak yang menerima PMT kualitas kurang, lebih banyak ditemukan di kelompok kasus dibandingkan kontrol. Kesimpulan dari studi ini adalah tidak terbukti adanya hubungan yang bermakna antara PMT kualitas kurang dan cukup dengan status gizi anak. Diketahui pula faktor konsumsi energi ternyata berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan PMT dengan status gizi anak. Adanya bias misklasifikasi dalam pengukuran PMT.Saran yang diajukan adalah program PMT akan lebih efektif dengan model feedings centers. Selain itu, perlu adanya kerjasama lintas sektor, seperti "dana bergulir" untuk meningkatkan pendapatan keluarga, atau pemanfaatan pekarangan rumah, yang dapat digunakan oleh anggota keluarga itu sendiri. Dengan demikian, konsumsi energi anak dapat meningkat dan berdampak terhadap status gizinya. Untuk meminimalkan bias misklasifikasi, perlu penelitian lebih lanjut dengan populasi terdiri dari anak yang mendapat PMT dan tidak mendapat PMT.
The relationship between supplementary feeding program (PMT) and nutritional status of children 12-36 months of age at Central Java Province(secondary data analysis)The prevalence of underweight on children under 36 months of age increasingly with increment of poor families in Indonesia. To prevent more badly nutritional status and public health, the government has launched Social Safety Net Program in Health (JPS-BK). One of the services is nutritional intervention such as supplementary feeding program (PMT) for children from poor families.The study was analyzed the secondary data "impact study supplementary feeding program on nutritional status and health on baby and children". The aim of the study to get information strength of relationship between supplementary feeding program and nutritional status on children 12 - 36 months of age. Location's study at Central Java Province, one of the target area JPS-BK supplementary feeding programs. Several factors such as age, sex, length of breastfeeding, infection, energy consumption, mother?s age, mother's education, was predicted influenced the relationship between PMT and nutritional status on children.The design was case control study. Cases group is children who underweight by weight for age index (Z-score < -2 SD). Control group is children with nutritional status was good (Z-score > -2 SD). Sample size was 214, that was 107 cases and 107 control. Evaluation of PMT was composite from energy of PMT and duration of feeding.Result of the study showed a half of the sample have gotten PMT as insufficient quality. All the supplement were delivered to the home, and showed a half of children who consumed PMT by himself/herself. Proportion of children who got PMT as insufficient quality, was more at cases group than control. The study concluded no significant relationship between insufficient quality and sufficient quality of PMT and nutritional status of children. Energy consumption was role as confounder. There was misclassification bias on measured PMT.It is suggested that supplementary feeding program were more effectively with feeding centers model. It's necessary cross sector program such as "rotation fund" to increase income families or using garden home for members of families. Consequently, energy consumption of children increased, and have given indirect impact on nutritional status on children. To minimize misclassification bias, it's necessary a further study with population on children who supplemented and non supplemented.
This study uses cross sectional design which aims to obtain picture characteristics and the factors associated with the condition do not receive treatment with anti malaria program in Indonesia year 2007. Research with a quantitative study involving 14 229 subjects were drawn from the data Basic Health Research (Riskesdas) in 2007. From multivariate analysis showed seven variables significantly associated. The variables are: gender, education, socioeconomic status, source of medical expenses, and travel time to the nearest health service, place and type of outpatient areas.
