Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32950 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ikrimah Nafilata; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Taniawati Supali; Penguji: Besral, Dewi Susanna, Evi Martha, Syahrizal Syarif, Christiana Rialine Titaley
Abstrak:
Latar Belakang: Saat ini terdapat 1,3 miliar penduduk di dunia berisiko tertular filariasis pada lebih dari 83 negara dan 50% orang terinfeksi tinggal di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indikator keberhasilan pengendalian filariasis yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan berdasarkan pedoman WHO yaitu kabupaten/kota endemis yang berhasil menurunkan angka mikrofilaria menjadi < 1% dengan menerapkan Mass Drug Administration (MDA) minimal cakupan pengobatan >65% populasi. Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dengan Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole telah dilakukan di Kota Pekalongan sejak tahun 2011-2015 dengan cakupan pengobatan sebesar >65%, namun hasil evaluasi mini TAS tahun 2019 prevalensi antigen masih > 2%. Berdasarkan pedoman WHO, program POPM Kota Pekalongan harus diperpanjang selama 2 tahun dengan obat Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole (IDA), namun cakupan pengobatan IDA putaran pertama <65%. Perlu dilakukan penelitian untuk membuat model evaluasi POPM filariasis agar dapat dilakukan perbaikan dalam program serta meningkatkan cakupan pengobatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods sekuensial eksplanatori dengan jumlah sampel sebanyak 646 sampel untuk data kuantitatif (pengambilan darah jari sebanyak 300µl untuk pemeriksaan antigen dan wawancara terstruktur kuesioner) dan 9 informan dari petugas kesehatan dan penduduk untuk data kualitatif (input, proses, out, outcome program, serta perilaku minum obat penduduk). Penelitian dilakukan pada total 10 kelurahan di daerah endemik Kota Pekalongan dengan teknik sampling menggunakan sistem cluster (40 cluster RW) dipilih secara consecutive sampling. Hasil: Didapatkan model evaluasi pada aspek input yang memerlukan perbaikan berupa evaluasi pendanaan, pada evaluasi aspek proses didapatkan evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu dengan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi pengobatan, didapatkan juga model evaluasi pada aspek output dan outcome. Kesimpulan: Model evaluasi program POPM yang tepat yaitu model evaluasi komprehensif (input, proses, ouput, outcome), pada bagian proses harus dioptimalkan pada evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada praktik minum obat untuk masyarakat dengan kriteria tertentu dan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, untuk dapat meningkatan cakupan pengobatan dan sosialisasi yang merata. Saran : Model evaluasi program Pemberian Obat Pencegahan Massal yang komprehensif (input, proses, output, outcome) perlu dilakukan agar dapat memperbaiki pendampingan petugas kesehatan dalam praktik minum obat dan perbaikan komuniasi sosialisasi pengobatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu untuk dapat meningkatkan cakupan pengobatan di daerah endemik tipe perkotaan.

Background: Currently, there are 1.3 billion people in the world at risk of contracting filariasis in more than 83 countries and 50% of infected people live in Southeast Asia, including Indonesia. The indicators for the success of filariasis control that have been determined by the Ministry of Health based on WHO guidelines are endemic districts/cities that have succeeded in reducing the number of microfilariae to <1% by implementing Mass Drug Administration (MDA) with a minimum treatment coverage of >65% of the population. Mass Preventive Drug Administration (POPM) with Diethylcarbamazine citrate and Albendazole have been carried out in Pekalongan City since 2011-2015 with a treatment coverage of >65%. However, the 2019 TAS mini-evaluation results showed that antigen prevalence was still >2%. Based on WHO guidelines, the Pekalongan City POPM program should be extended for 2 years with Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate, and Albendazole (IDA) drugs, but the coverage of the first round of IDA treatment was <65%. Research needs to be conducted to create an evaluation model for POPM filariasis so that improvements can be made to the program and treatment coverage can be increased. Method: This study used a mixed methods sequential explanatory design with a sample size of 646 samples for quantitative data (taking 300µl of finger blood for antigen examination and structured questionnaire interviews) and 9 informants from health workers and residents for qualitative data (input, process, output, program outcome, and residents' medication-taking behavior). The research was conducted in 10 sub-districts in the endemic area of Pekalongan City using a sampling technique using a cluster system (40 RW clusters) selected using consecutive sampling. Results: An evaluation model was obtained for the input aspect that required improvement in the form of funding evaluation, in the process aspect evaluation an evaluation of health worker assistance was obtained for the community with certain criteria with improved communication for treatment socialization, an evaluation model was also obtained for the output and outcome aspects. Conclusion: The appropriate evaluation model for the POPM program is comprehensive (input, process, output, outcome). The process section must be optimized in the evaluation of health worker assistance in the practice of taking medication for the community with certain criteria and improving communication for socialization through quantitative and qualitative approaches, to increase the coverage of treatment and socialization evenly. Suggestion: A comprehensive evaluation model for the Mass Preventive Drug Administration program (input, process, output, outcome) needs to be carried out to improve the assistance of health workers in the practice of taking medication and improve communication and socialization of treatment in the community with certain criteria to be able to increase treatment coverage in endemic urban areas.
Read More
D-551
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajie Mulia Avisena; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sunardi, Dwinda Romadhoni
T-5443
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puhilan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Sunardi, Regina TS
Abstrak:

Abstrak

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan oleh nyamuk.Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) merupakan salah satu program pencegahan filariasis.Cakupan Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis dari tahun 2005-2009 berkisar antara 28% -59,48%. Persentase kasus klinis yang ditatalaksana berkisar antara 17%- 40%. Pencapaian ini belum mencapai target yang ditetapkan oleh WHO (85%).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis di 32 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectionaldengan pendekatan data ekologi. Penelitian ini dilaksanakan terhadap Kabupaten/kota di Indonesia yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filarisis. Berdasarkan laporan pemeriksaan mikrofilaria dalam darah hasil dari Subdit Pencegahan Filariasis dan Kecacingan Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2012 terhadap kabupaten/kota yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis selama lima tahun yang diberikan sekali dalam setahun. Analisis data menggunakan cox regression.

Hasil analisis diperoleh prevalensi kabupaten/kota cakupan pemberian obat kategori tinggi sebesar 85% dan berhasil dilakukan pemberantasan sebanyak 22 kabupaten/kota. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis sebesar 2,04 kali (PR = 2,04; 1,019-4,05), hasil uji multivariat menunjukkan cakupan pemberian obat massal kategori tinggi berpeluang berhasil dalam pemberantasan filariasis sebesar 1,591 kali (PR = 1,591; 0,561-4,512) setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan sex ratio. Dengan melakukan pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis yang diberikan satu tahun sekali selama lima tahun berturut-turut maka eliminasi filariasis di Indonesia dapat tercapai.


Filariasis (elephantiasis) is achronic infectious disease caused byfilarial worms and transmitted by mosquitoes. Mass Drug Administration Program (MDAP) is one of filariasis prevention programs. Filariasis Mass Drug Administration Program (MDAP) Coverage from 2005-2009 ranged from 28% - 59.48%. Percentage of clinical cases are administered ranged from 17% -40%. This achievement has not reached the assigned target by the WHO (85%0.

This study aims to determine the relationship coverage of mass drug administration against the success of the prevention of filariasis in Indonesia in 2012. This study was using a cross sectional design with ecological data approach. This study was conducted to district / city in Indonesia that have implemented Mass Drug Administration (MDA) filarisis prevention which is based on inspection reports of microfilariae in the blood in the districts / cities that have implemented preventive filariasis Mass Drug Administration for five years, given once a year. Data obtained from the Filariasis Prevention and Worm Sub Directorate - Directorate of Animal Disease Control Sourced , Directorate General of Disease Control and Enviromental Health, Ministry of Health in 2012. Data analysis using cox regression.

Results of analysis, the prevalence of the district/city high coverage of drug categories by 85% and successfull in preventing 22 districts/cities. This study showed that there are correlation of Mass Drug Administration against the success of filariasis prevention of 2.04 times(PR =2:04; 1.019 to 4.05), test showing the coverage of Mass Drug Administration likely to succeed in the high category for the prevention of filariasis 1,591 times (PR =1,591;0.561 to 4.512) after controlling variable level of education and sex ratio. By doing preventive filariasis Mass Drug Administration give nonce a year for five years regularly then the elimination of filariasis in Indonesia can be achieved.

Read More
T-3910
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suherni; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, I Nengah Darna
S-5371
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni Oktarina; Pembimbing: Nuning M.K. Masjkuri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Zarfiel Tafal, Saktiyono
T-3282
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nitta Isdiany; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Ratna Djuwita, Kusdinar Achmad, Tatang Sahibul Falah, Djoko Kartono
Abstrak:

Prevalensi gizi kurang pada anak usia kurang dari 36 bulan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah keluarga miskin di Indonesia. Untuk mencegah semakin memburuknya status gizi dan kesehatan masyarakat, pemerintah telah melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). Salah satu pelayanannya adalah intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak keluarga miskin.Penelitian ini menganalisis data sekunder dari penelitian "Studi Dampak PMT terhadap Status Gizi dan Kesehatan Bayi dan Anak". Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi kekuatan hubungan PMT dengan status gizi anak usia 12 - 36 bulan. Lokasi penelitian di Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu wilayah sasaran program PMT JPS-BK. Faktor lain meliputi umur anak, jenis kelamin, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, konsumsi energi, umur ibu, dan pendidikan ibu diduga mempengaruhi hubungan PMT dengan status gizi anak.Desain yang digunakan adalah Case Control. Kelompok kasus adalah anak yang memiliki status gizi kurang dengan indeks BBIU (Z-skor <-2 SD). Sedangkan kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi baik (Z-skor > -2 SD). Besar sampel 214 anak, terdiri dari 107 sampel kasus dan 107 sampel kontrol. Evaluasi dari PMT yang diterima anak merupakan komposit dari kandungan energi PMT dan lama mendapat PMT.Hasil penelitian menunjukkan, dari seluruh sampel, sebagian anak ternyata menerima PMT dengan kualitas kurang. Penyelenggaraan PMT dengan model paket dibawa pulang ke rumah, ternyata hanya sebagian anak yang mengkonsumsi sendiri PMT tersebut. Proporsi anak yang menerima PMT kualitas kurang, lebih banyak ditemukan di kelompok kasus dibandingkan kontrol. Kesimpulan dari studi ini adalah tidak terbukti adanya hubungan yang bermakna antara PMT kualitas kurang dan cukup dengan status gizi anak. Diketahui pula faktor konsumsi energi ternyata berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan PMT dengan status gizi anak. Adanya bias misklasifikasi dalam pengukuran PMT.Saran yang diajukan adalah program PMT akan lebih efektif dengan model feedings centers. Selain itu, perlu adanya kerjasama lintas sektor, seperti "dana bergulir" untuk meningkatkan pendapatan keluarga, atau pemanfaatan pekarangan rumah, yang dapat digunakan oleh anggota keluarga itu sendiri. Dengan demikian, konsumsi energi anak dapat meningkat dan berdampak terhadap status gizinya. Untuk meminimalkan bias misklasifikasi, perlu penelitian lebih lanjut dengan populasi terdiri dari anak yang mendapat PMT dan tidak mendapat PMT.


 

The relationship between supplementary feeding program (PMT) and nutritional status of children 12-36 months of age at Central Java Province(secondary data analysis)The prevalence of underweight on children under 36 months of age increasingly with increment of poor families in Indonesia. To prevent more badly nutritional status and public health, the government has launched Social Safety Net Program in Health (JPS-BK). One of the services is nutritional intervention such as supplementary feeding program (PMT) for children from poor families.The study was analyzed the secondary data "impact study supplementary feeding program on nutritional status and health on baby and children". The aim of the study to get information strength of relationship between supplementary feeding program and nutritional status on children 12 - 36 months of age. Location's study at Central Java Province, one of the target area JPS-BK supplementary feeding programs. Several factors such as age, sex, length of breastfeeding, infection, energy consumption, mother?s age, mother's education, was predicted influenced the relationship between PMT and nutritional status on children.The design was case control study. Cases group is children who underweight by weight for age index (Z-score < -2 SD). Control group is children with nutritional status was good (Z-score > -2 SD). Sample size was 214, that was 107 cases and 107 control. Evaluation of PMT was composite from energy of PMT and duration of feeding.Result of the study showed a half of the sample have gotten PMT as insufficient quality. All the supplement were delivered to the home, and showed a half of children who consumed PMT by himself/herself. Proportion of children who got PMT as insufficient quality, was more at cases group than control. The study concluded no significant relationship between insufficient quality and sufficient quality of PMT and nutritional status of children. Energy consumption was role as confounder. There was misclassification bias on measured PMT.It is suggested that supplementary feeding program were more effectively with feeding centers model. It's necessary cross sector program such as "rotation fund" to increase income families or using garden home for members of families. Consequently, energy consumption of children increased, and have given indirect impact on nutritional status on children. To minimize misclassification bias, it's necessary a further study with population on children who supplemented and non supplemented.

Read More
T-1256
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Jaya; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Nuning M.K. Masjkuri, Tri Yunis Miko Wahyono, Adhi Sambodo, Marti Kusumaningsih
Abstrak: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk memperoleh gambaran karekteristik dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi tidak mendapat pengobatan dengan obat program malaria di Indonesia tahun 2007. Penelitian dengan studi kuantitatif melibatkan 14.229 subjek penelitian yang diambil dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Dari analisis multivariat didapatkan 7 variabel yang berhubungan secara signifikan. Variabel tersebut adalah : jenis kelamin, pendidikan, status sosial ekonomi, sumber biaya pengobatan, waktu tempuh ke pelayanan kesehatan terdekat, tempat berobat jalan dan tipe daerah.
 
 
Disarankan kepada Kementrian Kesehatan RI untuk : 1) melakukan pemerataan distribusi obat program malaria di pelayanan kesehatan yang bukan milik pemerintah. 2) Peningkatan pembentukan desa siaga, pos obat desa dan pos malaria desa dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan. 3) Sosialisasi dan advokasi dalam penanggulangan malaria. 4) Peningkatan jangkauan jaminan kesehatan bagi penduduk kurang mampu dalam rangka meningkatkan akses masyarakat ke pelayanan kesehatan. 5) Untuk peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian dengan desain lain seperti kasus kontrol untuk memastikan efek paparan dan melakukan penelitian terhadap variabel yang belum ada dalam penelitian ini seperti ketersediaan obat program malaria.
 

This study uses cross sectional design which aims to obtain picture characteristics and the factors associated with the condition do not receive treatment with anti malaria program in Indonesia year 2007. Research with a quantitative study involving 14 229 subjects were drawn from the data Basic Health Research (Riskesdas) in 2007. From multivariate analysis showed seven variables significantly associated. The variables are: gender, education, socioeconomic status, source of medical expenses, and travel time to the nearest health service, place and type of outpatient areas.
 
 
Suggested to the Ministry of Health to: 1) do even distribution of malaria drugs in health care programs that do not belong to the government. 2) Increase formation of desa siaga, village drug post and post village malaria drug in order to bring rural health services. 3) Disseminate information and advocacy in the prevention of malaria. 4) Increase coverage of health insurance for poor residents in order to improve community access to health services. 5) For other researchers are advised to conduct research with other designs such as case control to ensure the effects of exposure and do research on variables that does not exist in this research such as drug availability malaria program.
Read More
T-3232
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Eunike; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Renti Mahkota, Nani Rizkyanti
Abstrak:
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah yang termasuk wilayah endemis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2023–2025. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder yang berasal dari surveilans sentinel leptospirosis Provinsi Jawa Tengah tahun 2023–2025. Populasi penelitian terdiri dari seluruh responden surveilans sentinel di enam kabupaten lokasi sentinel, yaitu Banyumas, Demak, Klaten, Sragen, Kebumen, dan Purworejo. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian leptospirosis sebesar 31,8%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pekerjaan berisiko, riwayat banjir, keberadaan tikus di lingkungan, usia, dan tidak menggunakan alas kaki sebagai alat pelindung diri merupakan prediktor kejadian leptospirosis. Responden berusia 15-64 tahun (OR= 3,67; 95% CI: 0,46 – 29,02) dengan pekerjaan berisiko (OR= 3,45; 95% CI: 2,43 – 4,89), tidak menggunakan alas kaki sebagai APD (OR= 1,57; 95% CI: 0,96 – 2,57) serta yang memiliki riwayat banjir (OR= 2,44; 95% CI: 1,34 – 4,43) dan keberadaan tikus di lingkungan (OR= 1,57; 95% CI: 1,02–2,42) menunjukkan peluang kejadian leptospirosis yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor pejamu dan faktor lingkungan berperan penting dalam kejadian leptospirosis serta dapat menjadi dasar dalam perencanaan program pencegahan dan pengendalian leptospirosis yang lebih tepat sasaran di Provinsi Jawa Tengah.

Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a public health concern in Indonesia, particularly in Central Java Province, which is considered an endemic area. This study aimed to identify factors associated with leptospirosis incidence in Central Java Province from 2023 to 2025. A cross-sectional study design was employed using secondary data obtained from the Central Java leptospirosis sentinel surveillance system for the period 2023–2025. The study population comprised all sentinel surveillance respondents from six sentinel districts, namely Banyumas, Demak, Klaten, Sragen, Kebumen, and Purworejo. Data were analyzed using descriptive, bivariate, and multivariate analyses with logistic regression. The results showed that the prevalence of leptospirosis was 31.8%. Multivariate analysis indicated that high-risk occupations, history of flooding, presence of rodents in the environment, age, and use of protective footwear were predictors of leptospirosis incidence. Respondents aged 15–64 years (OR = 3.67; 95% CI: 0.46–29.02) with risky occupations (OR = 3.45; 95% CI: 2.43–4.89), not using footwear as PPE (OR=1.57; 95% CI: 0.96–2.57), and having a history of flooding (OR=2.44; 95% CI: 1.34–4.43) and the presence of rats in the environment (OR= 1.57; 95% CI: 1.02–2.42). These findings suggest that both host-related and environmental factors play important roles in leptospirosis occurrence and may inform more targeted prevention and control strategies in Central Java Province.
Read More
S-12180
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Adhanty; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Bambang Setiaji, Rina Fitri Anni Bahar
Abstrak:
Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kedua dengan kasus TB tertinggi di dunia. Kasus TB di Indonesia paling banyak ditemukan di tiga Provinsi, salah satunya Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Perhimpunan Organisasi Pasien TB (POP TB) estimasi beban TB tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat dengan cakupan pengobatan hanya 50%. Ketidakpatuhan pada pengobatan dapat menyebabkan resistensi obat, kekambuhan penyakit dan kematian. Oleh karena itu dibutuhkan seseorang yang dapat mengawasi pengobatan yang harus dijalani oleh penderita TB. Memastikan kehadiran PMO merupakan salah satu langkah yang solutif untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ketersediaan PMO dengan kepatuhan minum obat penderita Tuberkulosis Paru di Provinsi Jawa Barat. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis dilakukan terhadap 124 penderita TB di Provinsi Jawa Barat yang telah memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi ketidakpatuhan penderita TB paru di Provinsi Jawa Barat mencapai 28,23% dan tidak tersedianya PMO mencapai 37,10%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa penderita TB yang tidak memiliki PMO 1,35 kali berisiko untuk tidak patuh minum obat dibandingkan dengan yang memiliki PMO setelah dikontrol oleh variabel kovariat (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). Namun hubungan antara keduanya tidak signifikan secara statistik (p value > 0,05). Memastikan PMO melaksanakan tugasnya dengan baik dengan memberikan fasilitas transportasi yang memadai, memberikan edukasi secara lengkap baik pada PMO maupun penderita TB, pengembangan teknologi dalam melakukan pengawasan, serta menambah jumlah fasilitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan penderita TB.

Indonesia is one of the countries that ranks second as the country with the highest TB cases in the world. Most TB cases in Indonesia are found in three Provinces, one of which is West Java Province. Based on the Association of TB Patient Organizations (POP TB) it is estimated that the highest TB burden in Indonesia is in West Java Province with only 50% treatment coverage. Non-adherence with treatment can lead to drug resistance, disease recurrence and death. Therefore it takes someone who can supervise the treatment that must be undertaken by TB patient. Ensuring the presence of drug supervisors is one of the solution to increase the success of TB treatment. This study aims to see the relationship between the availability of drug supervisors with Pulmonary Tuberculosis Patients Medication Adherence in West Java Province. The study design used in this study is cross-sectional with a quantitative approach and used Riskesdas 2018 secondary data. Analysis was carried out on 124 TB patients in West Java Province who had met the inclusion and exclusion criteria. The results of the analysis showed that the proportion of non-adherence with pulmonary TB patients in West Java Province reached 28.23% and the unavailability of drug supervisors reached 37.10%. Multivariate analysis showed that TB patients who did not have drug supervisors were 1.35 times at risk for not adhere to take medication compared to those who had drug supervisors after controlled by covariate variables (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). However, the relationship was not statistically significant (p value > 0.05). Ensuring drug supervisors carry out their duties properly by providing adequate transportation facilities, provide education for both drug supervisors and TB patients, developing technology in conducting supervision, and increasing the number of health service facilities needs to be done as an effort to increase adherence of TB patients.
Read More
T-6624
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nafikhatul Khikmah; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Helda, Dyah Armi Riana
Abstrak:
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk usia ≥ 18 tahun sebesar 25,8% dan mengalami kenaikan pada tahun 218 menjadi 34,11%. Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi dengan prevalensi hipertensi tertingi keempat di Indonesai pada tahun 2018 dengan angka prevalensi sebesar 37,57% dan angka tersebut melebihi angka nasional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubugan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Provinsi Jawa Tengah tahun 2018. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 62.482 responden. Uji statistik yang dilakukan yaitu uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 sebesar 38,6%. Terdapat 11 variabel yang mempunyai hubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi. Variabel tersebut, yaitu usia (PR=2,44; 95% CI: 2,37-2,50), jenis kelamin (PR=0,87; 95% CI: 0,85- 0,89), pendidikan (PR=1,44; 95% CI: 1,40- 1,47), status pekerjaan (PR=1,18; 95% CI: 1,16- 1,21), perilaku merokok (PR=0,78; 95% CI: 0,76- 0,80), konsumsi alkohol (PR=0,70; 95% CI: 0,63-0,77), aktivitas fisik (PR=1,20; 95% CI: 1,17- 1,23), konsumsi makanan manis (PR=0,89; 95% CI: 0,87- 0,90), konsumsi minuman manis (PR=0,89; 95% CI: 0,87- 0,92), konsumsi makanan asin (PR=0,93; 95% CI: 0,92-0,95), dan konsumsi makanan berlemak/ berkolesterol/ gorengan (PR=0,91; 95% CI: 0,89- 0,93). Kesimpulan penelitian ini yaitu bahwa terdapat hubugan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan; perilaku merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik; konsumsi makanan manis, minuman manis, makanan asin, makanan berlemak/ berkolesterol/ gorengan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Provinsi Jawa Tengah.

Based on Riskesdas data in 2013, the prevalence of hypertension in Indonesia in people aged ≥ 18 years was 25.8% and increased in 2018 to 34.11%. Central Java Province was the province with the fourth highest prevalence of hypertension in Indonesia in 2018, with a prevalence rate of 37.57%, and this figure exceeds the national rate. This research was conducted to determine the factors associated with the incidence of hypertension in residents aged ≥ 18 years in Central Java Province in 2018. This research was conducted using a cross-sectional study design using secondary data from Riskesdas 2018 in Central Java Province, totaling 62.482 respondents. The statistical test performed was the chi-square test. The results showed that the prevalence of hypertension in residents aged ≥ 18 years in Central Java Province in 2018 was 38.6%. There are 11 variables that have a significant relationship with the incidence of hypertension. These variables are age (PR=2.44; 95% CI: 2.37-2.50), gender (PR=0.87; 95% CI: 0.85-0.89),education (PR=1.44; 95% CI: 1.40-1.47), employment status (PR=1.18; 95% CI: 1.16-1.21), smoking behavior (PR=0.78; 95% CI: 0.76-0.80), alcohol consumption (PR=0.70; 95% CI: 0.63-0.77), physical activity (PR=1.20; 95%CI: 1.17- 1.23), consumption of sweet foods (PR=0.89; 95% CI: 0.87- 0.90),consumption of sweet drinks (PR=0.89; 95% CI: 0.87- 0.92), consumption of salty (PR=0.93; 95% CI: 0.92- 0.95), and consumption of fatty/cholesterol/friedfoods (PR=0.91; 95% CI: 0.89- 0.93). This study concludes that there is a relationship between age, gender, education, employment status; smoking behavior,alcohol consumption, physical activity; consumption of sweet foods, sweet drinks, salty foods, and fatty/cholesterol/fried foods with the incidence of hypertension in people aged ≥ 18 years in Central Java Province.
Read More
S-11300
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive