Ditemukan 36474 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
To overcome the problem of clean water and sanitation MDG's in goal 7 target 10, the government together with the donor makes the Community Water Services and Health (CWSH) program conducted in 4 provinces and 20 districts, the purpose of the program is to improve community health status through development clean water and sanitation facilities, community empowerment and health behavior change component.
Doula adalah seseorang yang terlatih dan tersertifikasi untuk melakukan pendampingan kepada ibu selama hamil, bersalin dan pasca persalinan. Doula memberikan dukungan kepada ibu dengan tujuan agar ibu siap secara fisik dan psikologis dalam menghadapi kehamilan dan persalinannya kelak. Salah satu manfaat penggunaan jasa doula adalah meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Angka bersalin oleh dukun di beberapa wilayah Kota Bogor masih cukup tinggi. Diharapkan dengan adanya adaptasi konsep doula (pendamping persalinan) di Kota Bogor dapat meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Doula is a trained and certified person to assist mother during pregnancy, childbirth and postpartum. Doula provides support to the mother with the aim that mothers are physically and psychologically ready in the face of pregnancy and childbirth someday. One of the benefits of using doula services is improving access to health services. Birth rate by shamans (paraji) in some areas of Bogor is still quite high. It is expected that with the adaptation of doula concept (birth attendant) in Bogor City can increase the coverage of delivery by health personnel.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pada anak jalanan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan dengan menggunakan data Save the Children yang didukung oleh USAID.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase perilaku seksual anak jalanan sebesar 6,9%. Faktor yang dominan mempengaruhi perilaku seksual adalah umur, kota, tempat tinggal, penggunaan napza, dan konsumsi rokok.
Dari penelitian ini disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan desain penelitian dengan teknik pengambilan sampel systematic snow balling. Bagi LSM Pendampingan Anak Jalanan melakukan program penyuluhan kesehatan reproduksi menjadi agenda utama bagi anak jalanan secara intensif, konsisten, dan berkelanjutan. Dan, bagi lembaga donor agar memprioritaskan dana bantuan bagi pemberdayaan anak jalanan di kota Bandung dan Jakarta yang lebih memiliki peluang untuk terjadinya perilaku seksual.
Sexual behavior can give disadvantage among street children because it will be a health problem like unwanted pregnant, unsafe abortion, and increasing risk to Sexual Transmitted Diseases (STDs) include HIV/AIDS. And also it can be cause retardation for growing up and development.
This study has aimed to know the factors that association with the sexual behavior among street children in Jakarta, Bandung, Surabaya, and Medan using data from Save the Children with supported by USAID.
The result of this study showed that percentage of the sexual behavior is 6,9%. The dominant factors that influence the sexual behavior are age, city, shelter, using napza, and cigarette consume.
From this study, it has suggested to conduct the continue study using systematic snow balling sampling. For the NGO (Non Government Organization) like Save the Children could be done by communication, information, education of reproduction health with intensive, consistent, and continuity. And, for funding agencies, they have to be priority to empowerment among street children in Bandung and Jakarta that they have a chance to occur the sexual behavior.
Gerakan Keluarga Berencana Nasional bertujuan ganda yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Dalam mewujudkan tujuan tersebut, program keluarga berencana nasional memakai beberapa metoda kontrasepsi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi fisik peserta KB itu sendiri. Menggunakan alat kontrasepsi merupakan salah satu metoda KB yang terbaik untuk mengatur kelahiran anak, AKDR merupakan alternatif pilihan bagi pasangan muda yang ingin menunda kehamilannya, juga merupakan alternatif kedua setelah kontap bagi pasangan tua yang ingin mengakhiri kehamilannya.Di Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin, persentase akseptor berdasarkan metode kontrasepsi adalah, suntik KB (47,58%), p11 (21,90%), implant (19,77%), AKDR (6,20%), khusus AKDR relatif rendah bila dibandingkan dengan nasional (13,6%), juga bila dilihat dari propinsi Sumatera Selatan (6,25%). Hal ini tentunya banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya pemakaian AKDR di wilayah tersebut salah satu diantara faktor tersebut adalah faktor sosial budaya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi di Kelurahan Serasan Jaya, Soak Baru dan Balai Agung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, dengan responden 102 orang akseptor KB. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, kemudian diolah dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan teknik analisis chi square dan regresi logistik.Alasan responden memilih AKDI sebagian besar mengatakan aman (78,8%), sedangkan alasan tidak memakai AKDR mayoritas mengatakan takut efek samping (88,23%). Hasil analisis chi square menunjukkan adanya hubungan antara umur, pendidikan suami, jumlah anak hidup dan dukungan suami dalam memilih alat kontrasepsi. Analisis regresi logistik diperoleh faktor yang paling dominan adalah dukungan suami.Dalam rangka meningkatkan pemakaian AKDR di wilayah khususnya Serasan Jaya, Soak Baru dan Balai Agung, perlu diberi KIE (komunikasi informasi dan edukasi) terutama ditujukan untuk PUS yang belum menggunakan alat kontrasepsi .The Role of Husbans to Support to the Selection of Contraceptive Device on Family Planning Patient at Serasan Jaya Village, Soak Baru and Balai Agung Sub-Districts, Musi Banyuasin District, South Sumatera Province, 2002
The National Family Planning Movement has double aims that are to increase mother and child welfare, and also to form prosperous and welfare of the small family norm (NIXBS). In parsing those goals, the National Family Planning Program used some contraceptive methods that adjusted to situation and condition of Family Planning physical patient herself The using of contraceptive device is one of the best Family Planning methods to arrange child birth, IUDs is the alternative selection for young couple who wants to postpone her pregnancy, it also second alternative after "kontap" for old couple who wants to ending her pregnancy.In Sekayu Sub-District, Musi Banyuasin District, the percentage of acceptor based on contraceptive method are injectable (47,58%), pill (21,90%), implant (19,77%), IUDs (6,25%), especially for IUDs relative small if compared with national (13,6%), also when it seen at South Sumatera (6,25%). The factor that influences to lowering the use of IUDs on those areas, one of them is social-demographic.The objective of this study is to know factors that were related in the selection of contraceptive device at Serasan Jaya, Soak Baru, and Balai Agung villages. The study design used cross-sectional, with the respondent is 102 acceptors of Family Planning. The data is collected by questionnaire, and then the data is analyzed by univariate, bivariate, and multivariate used technical analysis chi-square and regression logistic.Reason of respondent selected IUDs the most of them are safety (78,8%), while the reason was not used IUDs, the majority of them afraid the side effects (88,23%). The result of chi-square analysis showed that there was relationship between age, husband's education, the number of live birth child, and husband's support in selecting the contraceptive device, Regression logistic analysis obtained that the most dominant factor is husband's support.In order to improve the using of IUDs at the villages, especially at Serasan Jaya, Soak Baru and Balai Agung, it is need to provide Information, Education, and Communication) especially addressed to fertile-age couple.
Indonesia memiliki populasi remaja besar (15,8% berusia 10–19 tahun), menjadikannya kelompok strategis dalam program kesehatan reproduksi. Namun, pengetahuan dan praktik terkait pubertas serta manajemen kebersihan menstruasi (MKM) masih rendah. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, UNICEF bersama PKBI meluncurkan aplikasi OKY sebagai media digital interaktif yang ramah remaja.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan edukasi pubertas dan MKM melalui aplikasi OKY menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Desain penelitian kualitatif studi kasus dilakukan di dua SMK di Jakarta: SMK Negeri 50 yang memiliki PIK-R aktif dan SMK Muara Indonesia yang tidak lagi memiliki PIK-R. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan penanggung jawab program, guru, kepala sekolah, serta focus group discussion (FGD) bersama siswa, dan diperkuat analisis dokumen.
Hasil menunjukkan bahwa aspek konteks relevan dengan kebutuhan remaja akan informasi kesehatan reproduksi yang mudah diakses. Pada input, kolaborasi PKBI dengan sekolah berjalan baik, dengan variasi dukungan: SMK Negeri 50 memiliki PIK-R yang membantu siswa lebih terbiasa membicarakan isu kesehatan reproduksi, meskipun jumlah guru BK masih terbatas. SMK Muara Indonesia menghadapi tantangan berupa keterbatasan guru, fasilitas, dan koordinasi program. Dari sisi proses, kedua sekolah menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi masing-masing, tetapi keterlibatan dalam perencanaan, monitoring, dan evaluasi masih minim. Pada produk, kedua sekolah menunjukkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja, dengan perubahan lebih nyata di SMK Negeri 50 berkat dukungan PIK-R, sementara di SMK Muara Indonesia peningkatan tetap terjadi tetapi lebih terbatas dan memerlukan pendampingan intensif.
Kesimpulannya, aplikasi OKY efektif sebagai media edukasi digital, namun keberlanjutan program memerlukan penguatan kapasitas guru, monitoring berbasis hasil, keterlibatan orang tua, dan dukungan kebijakan lintas sektor
Indonesia has a large adolescent population (15.8% aged 10–19 years), making them a strategic group in reproductive health programs. However, knowledge and practices related to puberty and menstrual hygiene management (MHM) remain limited. To address this gap, UNICEF and PKBI introduced OKY, an interactive digital application designed to provide adolescent-friendly menstrual information. This study aimed to evaluate the implementation of puberty and MHM education through the Oky application using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. A qualitative case study design was conducted in two vocational schools in Jakarta: SMK Negeri 50, which has an active PIK-R, and SMK Muara Indonesia, which no longer has PIK-R. Data were collected through in-depth interviews with program officers, teachers, school principals, focus group discussions (FGDs) with students, and document reviews. Findings showed that the context aligned with adolescents’ need for accessible reproductive health information. Regarding input, collaboration between PKBI and schools was effective, though support varied: SMK Negeri 50 benefited from PIK-R in fostering openness, despite limited counseling teachers, while SMK Muara Indonesia faced challenges of limited staff, facilities, and coordination. In terms of process, both schools adjusted implementation to their conditions, but engagement in planning, monitoring, and evaluation remained limited. For product, both schools demonstrated improvements in knowledge, attitudes, and behaviors, with more significant changes at SMK Negeri 50 due to PIK-R support, whereas SMK Muara Indonesia showed progress but required stronger mentoring. In conclusion, Oky is effective as a digital education tool, yet program sustainability requires strengthened teacher capacity, results-based monitoring, parental involvement, and cross-sectoral policy support.
