Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39432 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Shinta Restyana Widya; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Wahyu Septiono, Elvieda Sariwati, Umniyati Kowi
T-7237
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Fitri Alfiani; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Sutanto Priyo Hastono, Vivi Voronika
Abstrak:
Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan intervensi krusial untuk melindungi anak usia bawah dua tahun (baduta) dari penyakit menular. Namun, cakupan IDL baduta di Indonesia pada tahun 2023 hanya mencapai 34%, jauh dari target nasional 2023 sebesar 75%. Temuan ini menandakan adanya kesenjangan besar dalam perlindungan imunisasi, yang erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi dan akses layanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara determinan sosial kesehatan (DSK) dan status IDL baduta di Indonesia, menggunakan desain potong lintang dan pendekatan model PRECEDE terhadap 12.955 anak usia 12–23 bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan tiga DSK yang berhubungan signifikan dengan status IDL: pendidikan ibu, pemeriksaan antenatal (ANC), dan tempat persalinan. Peluang baduta memperoleh IDL meningkat sebesar 1,43 kali pada ibu berpendidikan tinggi, 1,25 kali pada ibu berpendidikan menengah, 1,73 kali pada ibu dengan ANC lengkap, dan 2,17 kali pada ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan. Dari ketiga DSK tersebut, tempat persalinan merupakan faktor yang paling berkontribusi terhadap kesenjangan cakupan imunisasi. Ketimpangan ini mencerminkan ketidaksetaraan sistemik dalam akses awal terhadap layanan kesehatan esensial. Oleh karena itu, pemenuhan target cakupan IDL nasional tidak dapat dilepaskan dari upaya mengatasi disparitas sosial dan geografis. Intervensi peningkatan cakupan imunisasi harus dirancang berbasis DSK, dengan menempatkan akses layanan persalinan, kualitas ANC, dan pendidikan ibu sebagai fondasi utama dalam strategi promosi kesehatan yang berkeadilan.

Complete basic immunization (CBI) is a crucial intervention to protect children under two years old from vaccine-preventable infectious diseases. However, in 2023, the national coverage of CBI among children under two in Indonesia was only 34%, far below the 2023 national target of 75%. This gap reflects substantial disparities in immunization protection, which are closely linked to socioeconomic conditions and access to maternal and child health services. This study aimed to analyze the relationship between social determinants of health (SDH) and CBI status among children under two in Indonesia, using a cross-sectional design and the PRECEDE model approach. A total of 12,955 children aged 12–23 months were included in the analysis. Multivariate results revealed three SDH significantly associated with CBI status: maternal education, antenatal care (ANC), and place of delivery. The likelihood of receiving CBI was 1.43 times higher among children of mothers with higher education, 1.25 times higher for those with mothers of medium education, 1.73 times higher for those whose mothers completed ANC, and 2.17 times higher for those born in health facilities. Among these determinants, place of delivery was the most influential factor contributing to disparities in immunization coverage. This inequality indicates systemic gaps in early access to essential health services. Therefore, achieving national CBI coverage targets must be accompanied by efforts to reduce social and geographic disparities. Immunization improvement strategies should be designed based on SDH, with strengthened access to facility-based deliveries, high-quality ANC, and maternal education serving as key pillars for equitable health promotion.

Read More
T-7331
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Robbiyani ilma; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Melyana,Dadun
Abstrak:
Survei Literasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa pada penduduk dewasa di Pulau Jawa, wilayah yang dihuni 55,58% penduduk Indonesia, proporsi yang tidak pernah mencari konseling kesehatan mencapai 71%, tidak mengikuti edukasi kesehatan 52%, dan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan mandiri 44%, mengindikasikan rendahnya tanggung jawab kesehatan. Kondisi ini terjadi meskipun literasi persepsi tergolong memadai (37,5%), sedangkan literasi fungsional masih terbatas (1,6% mencukupi), menunjukkan kesenjangan pemahaman dan penerapan informasi kesehatan. Belum adanya penelitian yang menganalisis keterkaitan determinan sosial,literasi kesehatan dan tanggung jawab kesehatan pada populasi dewasa di Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan pada penduduk dewasa di Pulau Jawa, menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Literasi Kesehatan Kemenkes 2024–2025. Sampel terdiri atas 1.419 penduduk dewasa usia 17–65 tahun atau telah menikah di enam provinsi Pulau Jawa. Variabel dependen adalah tanggung jawab kesehatan (subskala HPLP-II, skor 1–4); variabel independen meliputi literasi kesehatan (HLS-EU-Q16, skor 0–4) dan determinan sosial. Analisis menggunakan uji Independent Samples t-Test, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda berbobot. Rerata skor tanggung jawab kesehatan 1,83 (SD = 0,53), kategori sedang-rendah; rerata literasi kesehatan 3,01 (SD = 0,44), kategori mencukupi. Literasi kesehatan memiliki hubungan positif terbesar dengan tanggung jawab kesehatan (B = 0,327; 95% CI: 0,264–0,390; p < 0,001). Usia ≥45 tahun (B = 0,140), pendidikan SMA–perguruan tinggi (B = 0,150), dan status menikah (B = 0,088) berhubungan positif; jenis kelamin laki-laki (B = −0,139) dan status bekerja (B = −0,088) berhubungan negatif (semua p < 0,05). Pendapatan tidak signifikan (B = −0,036; p = 0,220) dan bukan confounder. Penguatan literasi kesehatan perlu menjadi prioritas promosi kesehatan, terutama pada laki-laki, usia muda, dan pendidikan rendah di Pulau Jawa. Kata kunci: Determinan sosial, literasi kesehatan, tanggung jawab kesehatan, HPLP-II, HLS-EU-Q16, Pulau Jawa

The 2024–2025 Ministry of Health Health Literacy Survey showed that among adults in Java, home to 55.58% of Indonesia’s population, 71% had never sought health counselling, 52% had never participated in health education programmes, and 44% had never undertaken self-health examinations, indicating low levels of health responsibility. This occurred despite perception-based health literacy being relatively adequate (37.5%), while functional health literacy remained limited (only 1.6% achieved an adequate level), suggesting a gap between understanding and the application of health information. To date, no study has examined the relationship between social determinants, health literacy, and health responsibility among the adult population in Java. This study aimed to analyse the association between social determinants, health literacy, and health responsibility among adults in Java using a cross-sectional design and secondary data from the 2024–2025 Ministry of Health Health Literacy Survey. The sample comprised 1,419 adults aged 17–65 years or those who were married, drawn from six provinces in Java. The dependent variable was health responsibility (Health-Promoting Lifestyle Profile II [HPLP-II] subscale, score range 1–4), while the independent variables included health literacy (HLS-EU-Q16, score range 0–4) and social determinants. Data were analysed using independent-samples t-tests, Pearson’s correlation, and weighted multiple linear regression. The mean health responsibility score was 1.83 (SD = 0.53), indicating a moderate-to-low level, whereas the mean health literacy score was 3.01 (SD = 0.44), indicating an adequate level. Health literacy showed the strongest positive association with health responsibility (B = 0.327; 95% CI: 0.264–0.390; p < 0.001). Age ≥45 years (B = 0.140), upper secondary to tertiary education (B = 0.150), and being married (B = 0.088) were positively associated with health responsibility, whereas being male (B = −0.139) and being employed (B = −0.088) were negatively associated (all p < 0.05). Income was not significantly associated with health responsibility (B = −0.036; p = 0.220) and was not identified as a confounding variable. Strengthening health literacy should therefore be prioritised in health promotion initiatives, particularly among men, younger adults, and individuals with lower educational attainment in Java. Keywords: social determinants, health literacy, health responsibility, HPLP-II, HLS-EU-Q16, Java Island
Read More
T-7664
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Humaira; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Dwi Gayatri, Samuel Josafat Olam
Abstrak:
Latar belakang: Kejadian perundungan pada remaja di Indonesia terutama pada pelajar menempati urutan kelima tertinggi diantara 78 negara pada tahun 2018. Dampak dari perundungan yakni terkait dengan aspek fisik, mental, sosial serta memungkinkan perilaku berisiko yang dapat memengaruhi kualitas hidup remaja. Perundungan yang terjadi pada remaja disebabkan berbagai faktor diantaranya faktor individu dan faktor sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor sosial dan faktor individu dengan kejadian perundungan pada remaja di Indonesia berdasarkan data GSHS 2015. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2015 dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian adalah remaja umur 10-19 tahun yang menjawab variabel penelitian secara lengkap (n=9.500). Analisis univariat dilakukan dengan menampilkan frekuensi dan presentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji chi square dan menghitung odds ratio (OR). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20,1% remaja di Indonesia mengalami kejadian perundungan selama 30 hari terakhir. Diketahui bahwa remaja yang tidak memiliki teman dekat (POR: 1,59; CI:1,20-2,10), tidak mendapat dukungan teman sebaya (POR: 1,51; CI:1,35-1,67), orang tua yang tidak peduli (POR: 1,12; CI: 1,00-1,24), dan orang tua yang tidak mengawasi (POR: 1,38; CI: 1,25-1,54), untuk memiliki odds yang lebih tinggi mengalami kejadian perundungan. Remaja laki-laki (POR: 1,43; CI: 1,30-1,59), berusia 14 tahun kebawah (POR: 1,12; CI: 1,01-1,24) dan memiliki status kerawanan pangan (POR: 2,37; CI: 1,91-2,94) memiliki odds yang lebih tinggi mengalami perundungan. Kesimpulan: Faktor sosial orang tua dan teman serta faktor individu menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian perundungan. Diharapkan penelitian selanjutnya melakukan analisis multivariat untuk melihat besar pengaruh tiap variabel

Background: The incidence of bullying among adolescents in Indonesia, particularly among students, fifth highest among 78 countries in 2018. The impacts of bullying are related to physical, mental, and social aspects, and it can lead to risky behaviors that affect the quality of life of adolescents. Bullying among adolescents is caused by various factors, including individual and social factors. This study aims to determine the relationship between social factors and individual factors with the incidence of bullying among adolescents in Indonesia based on data from the GSHS 2015. Methods: This study uses secondary data from the 2015 Global School-Based Student Health Survey (GSHS) with a cross-sectional study design. The research sample consists of adolescents aged 10-19 years who completed the survey variables (n=9,500). Univariate analysis was performed by presenting frequencies and percentages, while bivariate analysis used the chi-square test and calculated the odds ratio (OR). Results: The study results showed that 20.1% of adolescents in Indonesia experienced bullying in the past 30 days. It was found that adolescents who did not have close friends (POR: 1.59; CI: 1.20-2.10), did not receive peer support (POR: 1.51; CI: 1.35-1.67), had indifferent parents (POR: 1.12; CI: 1.00-1.24), and had unsupervised parents (POR: 1.38; CI: 1.25-1.54) had higher odds of experiencing bullying. Male adolescents (POR: 1.43; CI: 1.30-1.59), those aged 14 years or younger (POR: 1.12; CI: 1.01-1.24), and those with food insecurity (POR: 2.37; CI: 1.91-2.94) also had higher odds of experiencing bullying. Conclusion: Parental and peer social factors as well as individual factors show a significant relationship with the incidence of bullying. Future research is expected to conduct multivariate analysis to determine the influence of each variable
Read More
S-11751
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohman Daka; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Faika Rachmawati, Rita Nurlita
Abstrak:
Penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja mengalami peningkatan yang signifikan dan menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat yang penting. Paparan konten influencer di media sosial diduga berperan dalam mendorong perilaku tersebut melalui strategi komunikasi yang persuasif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara komponen EAST (Easy, Attractive, Social, Timely) dalam konten influencer di media sosial dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada remaja di Kota Depok. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sampel terdiri atas 391 remaja usia 18–24 tahun yang aktif menggunakan media sosial, dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang diisi melalui Google Form atau kuesioner cetak (hardcopy). Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53,2% responden menyatakan adanya kemudahan (easy), 48,6% menyatakan adanya daya tarik (attractive), 55,0% menyatakan adanya pengaruh sosial (social), dan 48,8% menyatakan ketepatan waktu (timely) dalam konten influencer di media sosial. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (OR=1,958; p=0,007), easy (OR=2,910; p<0,001), attractive (OR=2,435; p<0,001), social (OR=2,481; p<0,001), dan timely (OR=1,973; p=0,003) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Sementara itu, usia (p=0,588), pendidikan (p=0,562), dan pekerjaan (p=0,102) tidak berhubungan signifikan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Variabel yang paling dominan adalah attractive dengan nilai OR=4,520 (95% CI: 1,763–11,588; p=0,002). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konten influencer di media sosial berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada remaja melalui kerangka EAST. Diperlukan penguatan regulasi konten di media sosial serta pengembangan pesan kesehatan berbasis EAST sebagai counter-narrative untuk mengurangi pengaruh promosi rokok elektronik terhadap remaja.

Electronic cigarette use among adolescents has increased significantly and become a significant public health issue. Exposure to influencer content on social media is suspected to play a role in encouraging this behavior through persuasive communication strategies. This study aims to analyze the relationship between the EAST (Easy, Attractive, Social, and Timely) components of social media influencer content and e-cigarette use behavior among adolescents in Depok City. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. The sample consisted of 391 adolescents aged 18–24 who actively use social media, selected using a convenience sampling technique. Data were collected using a structured questionnaire completed via Google Form or a printed questionnaire (hard copy). Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-square), and multivariate (multiple logistic regression) analyses. The results showed that 32.7% (128 respondents) used e-cigarettes. A total of 53.2% of respondents stated that influencer content on social media is easy, 48.6% stated that it is attractive, 55,0% stated that it is social, and 48.8% stated that it is timely. There was a significant relationship between gender (OR=1.958; p=0.007), easy (OR=2.910; p<0.001), attractive (OR=2.435; p<0.001), social (OR=2.481; p<0.001), and timely (OR=1.973; p=0.003) with e-cigarette use behavior. Meanwhile, age (p=0.588), education (p=0.562), and occupation (p=0.102) were not significantly related to e-cigarette use behavior. The most dominant variable was attractive with an OR=4.520 (95% CI: 1.763–11.588; p=0.002). This study concluded that influencer content on social media is associated with e-cigarette use behavior in adolescents using the EAST framework. Strengthening regulation of social media content and developing EAST-based health messages as a counter-narrative are needed to reduce the influence of e-cigarette promotions on adolescents.
Read More
T-7544
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasna Almira; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Dian Kristiani Irawaty
S-10361
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Amanda Putri Sukmandono; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Tiara Amelia, Naimun
Abstrak:
Perilaku merokok merupakan aktivitas berbahaya yang dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Rokok dapat menyebabkan berbagai dampak negatif baik dari segi kesehatan maupun akademik bagi remaja. Berdasarkan data yang dikaji Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah perokok aktif remaja di Indonesia usia ≥ 15 tahun pada tahun 2021 sebesar 28,26% dan pada tahun 2023 meningkat menjadi 28,62%. Berdasarkan hasil penjaringan kadar karbon monoksida (CO) oleh UPTD Puskesmas Cinere, hasil menunjukkan SMK AlHidayah Depok adalah salah satu sekolah dengan siswa perokok terbanyak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perilaku merokok dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok remaja di SMK Al-Hidayah Depok Tahun 2024 berdasarkan Social Cognitive Theory (SCT). Penelitian ini menggunakan desain crosssectional. Data penelitian dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara self-administered oleh 196 remaja SMK Al-Hidayah. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian telah menunjukkan sebanyak 146 responden (74,5%) adalah perokok dan 50 responden (25,5%) tidak merokok. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara usia 19 tahun (p < 0,001) nilai OR 12,089 (95% CI 3,465-42,173), jenis kelamin (p < 0,001) nilai OR 0,050 (95% CI 0,020-0,126), kelas 11 (p value = 0,037) dengan nilai OR 2,682 (95% CI 1,138-6,319), pengetahuan (p < 0,001) nilai OR 36,318 (95% CI 10,728-122,955), persepsi (p < 0,001) nilai OR 0,075 (95% CI 0,028-0,201) dan iklan rokok (p = 0,041) dengan nilai OR 2,566 (95% CI 1,117-5,891) dengan perilaku merokok. Sedangkan usia 17 dan 18 tahun dengan nilai OR 12,089 (95% CI 3,465-42,173), kelas 10 dan 12 nilai OR 1,214 (95% CI 0,568-2,598) dan teman sebaya pengguna tembakau nilai OR 1,924 (95% CI 1,004-3,689) tidak berhubungan (p value > 0,05) dengan perilaku merokok. Berbagai upaya perlu dilakukan dari beberapa stakeholder untuk mengurangi dan mencegah perilaku merokok remaja seperti melakukan edukasi, menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), hingga sterilisasi wilayah bebas rokok.

Smoking behavior is dangerous activities carried out by the majority of Indonesian people. Cigarettes can cause various negative impacts both in terms of health and academics for teenagers. Based on data reviewed by the Central Statistics Agency (BPS), the number of active smokers among teenagers in Indonesia aged ≥ 15 years in 2021 at 28.26% and increase in 2023 it will be 28.62%. Based on the results of screening carbon monoxide (CO) levels by the Cinere Community Health Center UPTD, the results show that SMK Al-Hidayah, Depok is one of the schools with the most smoking students. This research was conducted to determine the description of smoking behavior and factors related to adolescent smoking behavior at SMK Al-Hidayah, Depok in 2024 based on Social Cognitive Theory (SCT). This study used a cross-sectional design. Research data was collected by filling out selfadministered questionnaires by 196 SMK Al-Hidayah students. Data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between the independent variables and the dependent variable. The research results have shown that 146 respondents (74,5%) were smokers and 50 respondents (25.5%) did not smoke. This research also shows a relationship between 19 years old (p < 0,001) OR value 12,089 (95% CI 3,465-42,173), gender (p < 0,001) OR value 0,050 (95% CI 0,020-0,126), grade 11 (p value = 0,037) OR value 2,682 (95% CI 1,138-6,319), knowledge (p < 0,001) OR value 36,318 (95% CI 10,728-122,955), perception of tobacco (p < 0,001) and cigarette advertising exposure (p = 0,041) OR value 2,566 (95% CI 1,117-5,891) with smoking behavior. However, 17 and 18 years old with OR value 2,064 (95% CI 0,999-4,262), grade 10 and 12 with OR 1,214 (95% CI 0,568-2,598), and peers use cigarette OR value 1,924 (95% CI 1,004-3,689) are not related (p value > 0.05) to smoking behavior. Various efforts need to be made by several stakeholders to reduce and prevent teenage smoking behavior, such as providing education, implementing Smoke-Free Areas (KTR) and sterilizing smoke-free areas
Read More
S-11565
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riski Agussalim Siregar; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Tiara Amelia, Theresia Rhabina Noviandari, Deksa Presiana
Abstrak:

Literasi gizi fungsional menjadi keterampilan dasar dan penting yang dibutuhkan seseorang dan promosi kesehatan di era penyakit akibat masalah gizi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial dan literasi gizi serta hubungan keduanya pada mahasiswa sarjana Universitas Indonesia tahun angkatan 2018/2019. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional, penelitian ini mengambil data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 di Universitas Indonesia (n=373). Pengukuran literasi gizi dilakukan menggunakan instrumen The Newest Vital Sign (NVS) berisi 6 pertanyaan mengenai label gizi yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi gizi fungsional sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti usia, jenis kelamin, suku, uang saku, rumpun keilmuan dan tempat tinggal sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara rumpun keilmuan (p=0,041) dan tempat tinggal (p =0,033) dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia, sedangkan usia (p= 0,321), jenis kelamin (p=0,968), suku (p=0,606) dan uang saku (p=0,805) tidak berhubungan dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan hubungan signifikan antara literasi gizi fungsional dengan determinan sosial tempat tinggal (p=0,010) dan Rumpun Ilmu (p-0,038). Hasil ini mengindikasikan hubungan yang lemah antara determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa. Dan diperlukan upaya pengembangan edukasi terkait label gizi guna membantu mahasiswa dalam meningkatkan literasi gizi fungsional.


 

Functional nutrition literacy is a basic and important skill needed by a person and health promotion in an era of increasing diseases due to nutritional problems. This study aims to determine the description of social determinants and nutritional literacy and the relationship between the two in undergraduate students at the University of Indonesia class of 2018/2019. The research design used a cross sectional design, this study took data from the 2019 Health Literacy Study at the University of Indonesia (n = 373). Measurement of nutritional literacy was carried out using The Newest Vital Sign (NVS) instrument containing 6 questions regarding adapted nutrition labels. Analysis used multiple linear regression with functional nutrition literacy as the dependent variable and social determinants such as age, gender, ethnicity, pocket money, scientific clump and place of residence as independent variables. The results showed that there was an association between scientific group (p=0.012) and residence (p=0.041) with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students, while age (p=0.321), gender (p=0.968), ethnicity (p=0.606) and pocket money (p=0.805) were not associated with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students. The results of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between functional nutrition literacy and social determinants of residence (p=0.010) and Science Group (p-0.038). These results indicate a weak relationship between social determinants and functional nutrition literacy in university students. Efforts are needed to develop education related to nutrition labeling to help students improve functional nutrition literacy.

Read More
T-7203
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Hanna Talitha Sidabutar; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Pranti Sri Mulyani, Yemima Ester
Abstrak:
Sejak epidemi pertama pada 1980-an, HIV masih menjadi masalah kesehatan global hingga kini. Di Indonesia, epidemi HIV terkonsentrasi di populasi kunci, terutama pada lelaki seks lelaki (LSL). Meskipun prevalensi HIV pada LSL tinggi, masih sangat sedikit hal yang diketahui terkait kelompok LSL usia muda (15-24 tahun) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol variabel kovariat pada 1.357 LSL usia muda yang menjadi responden STBP 2018/2019 di 19 kabupaten/kota di Indonesia. Konsistensi penggunaan kondom oleh LSL usia muda di Indonesia sebesar 37,7%. Sebanyak 15% LSL usia muda positif antibodi HIV; angka ini 50 kali lebih besar dari prevalensi HIV nasional di populasi umum. Terdapat hubungan antara konsistensi penggunaan kondom dengan status HIV setelah dikontrol umur (p=0,013). LSL usia muda yang tidak konsisten menggunakan kondom berisiko 1,56 kali untuk terinfeksi HIV dibandingkan LSL yang konsisten menggunakan kondom setelah dikontrol oleh umur (95% CI: 1,1-2,22); dimana LSL berumur 20-24 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom lebih berisiko terinfeksi HIV dibandingkan LSL berumur 15-19 tahun yang tidak konsisten menggunakan kondom. Tindakan segera diperlukan untuk merespon fenomena ini dan mengurangi kontribusi signifikan LSL usia muda terhadap epidemi HIV di Indonesia. Pesan pencegahan HIV harus menekankan bahaya penggunaan kondom tidak konsisten, terutama ketika sering berganti pasangan seksual. Program intervensi HIV yang ditujukan bagi LSL usia muda juga sebaiknya mengeksplorasi sikap mereka terhadap penggunaan kondom, melatih keterampilan bernegosiasi dengan pasangan, menjelaskan cara mengurangi rasa takut/malu dalam membeli serta mengajak pasangan menggunakan kondom, dan mempromosikan tes HIV secara berpasangan.

Since the first epidemic in the 1980s, HIV remains a global health issue today. In Indonesia, the HIV epidemic is concentrated in key populations, particularly among men who have sex with men (MSM). Despite the high prevalence of HIV among MSM, very little is known about young MSM (ages 15-24) in Indonesia. This study aimed to analyze the relationship between condom use consistency and HIV status, controlling for covariates among 1,357 young MSM respondents from the IBBS 2018/2019 in 19 districts/cities in Indonesia. Consistent condom use among young MSM in Indonesia is 37.7%. A total of 15% of young MSM tested positive for HIV antibodies; this rate is 50 times higher than the national HIV prevalence in general population. There is an association between consistent condom use and HIV status after controlling for age (p=0.013). Young MSM who do not consistently use condoms are 1.56 times more likely to be infected with HIV compared to those who do, after controlling for age (95% CI: 1.1-2.22). Among those aged 20-24, inconsistent condom use poses a higher risk of HIV infection compared to those aged 15-19. Immediate action is needed to address this phenomenon and reduce the significant contribution of young MSM to the HIV epidemic in Indonesia. HIV prevention messages must emphasize the dangers of inconsistent condom use, especially with frequent partner changes. HIV intervention programs for young MSM should explore their attitudes towards condom use, train negotiation skills with partners, explain how to reduce fear/shame in purchasing and encouraging partners to use condoms, and promote couple-based HIV testing.
Read More
T-6929
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Fadilah Faiz; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Renti Mahkota, Sulistyo, Henry Diatmo
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) paru anak menyumbang 12% kasus TB global. Di Indonesia, prevalensinya terus meningkat, mencapai 0,42% (usia 1–4 tahun) dan 0,18% (usia 5–14 tahun) pada 2023. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko TB anak berdasarkan model triad epidemiologi: karakteristik anak, ekonomi, dan sosial. Penelitian ini merupakan analisis lanjut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menggunakan disain cross-sectional, dilakukan di 514 Kab/Kota  2023, mencakup 161.661 anak usia 0–14 tahun. Data dianalisis dengan regresi logistik ganda. Prevalensi TB pada anak usia 0–59 bulan sebesar 0,3%, usia 5–14 tahun sebesar 0,1%, dan usia 0–14 tahun sebesar 0,2%. Faktor risiko TB pada usia 0–59 bulan: status ekonomi rendah, ibu tidak bekerja, kontak erat TB. Faktor risiko TB anak usia 5–14 tahun: laki-laki, ibu tidak bekerja, kontak erat TB, sedangkan pada anak usia 0–14 tahun mencakup: usia 0–59 bulan, laki-laki, ekonomi rendah, ibu tidak bekerja, kontak erat TB. Kontak erat TB menjadi faktor risiko paling dominan kejadian TB anak, sehingga diperlukan edukasi, pelacakan kontak, dan deteksi dini aktif.

Pulmonary tuberculosis (TB) in children accounts for 12% of global tuberculosis cases. In Indonesia, its prevalence has increased annually, reaching 0.42% among children aged 1–4 years and 0.18% among those aged 5–14 years in 2023. This study aimed to identify risk factors for TB in children using the epidemiological triad model, which includes child characteristics, economic environment, and social environment. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving 161,661 children aged 0–14 years. Multiple regression logistic analysis was conducted.  The overall prevalence of TB in 0-59 month was 0.3%, in 5-14 years was 0.1%, and children in 0-14 years was 0.2%. Among children aged 0–59 months, significant risk factors included low economic status, having an unemployed mother, and close contact with TB patients. For children aged 5–14 years, significant factors were male sex, having an unemployed mother, and TB contact. In the combined 0–14 age group, risk factors included being aged 0–59 months, male, low economic status, having an unemployed mother, and TB contact. Close contact with TB patients was the most dominant factor. Strengthening education, contact tracing, and active early detection is essential to prevent TB in children.

Read More
T-7287
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive