Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34901 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ni Luh Putu Arum Puspitaning Ati; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Dimposma Sihombing, Ermawan
Abstrak:

Sebanyak 22 dari 62 kabupaten daerah tertinggal (35,48%) belum mencapai target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagaimana ditetapkan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2020–2024. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pencapaian IPM melalui program afirmasi kesehatan dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN-PPDT). Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data sekunder dari laporan realisasi dan evaluasi program, serta wawancara mendalam dengan pengampu program afirmasi dari Kementerian Desa PDTT, Kementerian Kesehatan, BKKBN, serta perwakilan dari daerah tertinggal yang telah dan belum mencapai target. Evaluasi dilakukan menggunakan enam kriteria dari teori evaluasi William N. Dunn, yakni efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa hambatan utama dalam pencapaian IPM meliputi ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, rendahnya realisasi kegiatan, dan distribusi program yang belum merata. Sementara faktor pendukungnya mencakup kesesuaian program dengan prioritas nasional, pemanfaatan data ketertinggalan, serta komitmen lintas sektor. Kesimpulannya bahwa program afirmasi kesehatan berkontribusi positif terhadap peningkatan IPM, terutama melalui intervensi kesehatan dasar. Namun, efektivitas program belum optimal, efisiensinya terganggu oleh ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, kecukupannya belum memenuhi kebutuhan riil di daerah, pemerataannya masih timpang, responsivitasnya sudah adaptif terhadap kebutuhan, serta ketepatannya sudah sesuai untuk mendukung IPM. Rekomendasi perbaikan yang disarankan mencakup penguatan perencanaan dan implementasi secara terpadu melalui sinkronisasi lintas sektor, penganggaran berbasis kebutuhan, serta sistem monitoring terintegrasi dalam upaya meningkatkan dampak program afirmasi kesehatan terhadap peningkatan IPM di daerah tertinggal.


 

Out of 62 underdeveloped regencies in Indonesia, 22 (35.48%) have not yet achieved the  Human Development Index (HDI) targets set in the National Strategy for the Acceleration  of Underdeveloped Regions Development 2020–2024. This study aims to evaluate the  supporting and hindering factors affecting HDI improvement through the health  affirmation program within the National Action Plan for the Acceleration of  Underdeveloped Regions Development (RAN-PPDT). A qualitative approach was used,  involving secondary data analysis from program realization and evaluation reports, as  well as in-depth interviews with officials from the Ministry of Villages, Development of  Disadvantaged Regions and Transmigration; the Ministry of Health; BKKBN; and  representatives from underdeveloped regions that have and have not met the HDI targets.  The evaluation is based on six criteria from William N. Dunn’s evaluation theory:  effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and appropriateness. The  findings indicate that key barriers include the lack of synchronization between planning  and budgeting, low implementation realization, and uneven program distribution.  Supporting factors include program alignment with national priorities, utilization of  underdevelopment data, and cross-sectoral commitment. The health affirmation program  contributes positively to HDI improvement, especially through basic health interventions,  although not yet optimal. Recommended improvements involve strengthening integrated  planning and implementation through cross-sectoral synchronization, needs-based  budgeting, and an integrated monitoring system to enhance the program’s impact on HDI  in underdeveloped regions.

Read More
T-7238
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadilah Salma; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Adang Bachtiar, Rasharul Sjahruzar
S-10001
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridamarva Yasmine; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Toni Kusdianto
Abstrak: Skripsi ini menganalisis bauran promosi layanan medical check up di RS AzzraBogor tahun 2013-2014. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Berdasarkan data kunjungan medical check up dari tahun 2011-2014 dilihat jumlah kunjungan dari tahun ke tahun perubahan yang fluktuatif serta dilihat dari dataperusahaan yang bekerja sama untuk layanan medical check up adanya penurunanjumlah perusahaan yang bekerja sama dengan rumah sakit Azzra Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kegiatan bauran promosi layanan medical check updi rumah sakit Azzra tahun 2013-2014 dilihat dari aspek input, proses, output. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalamterhadap manajer marketing, kepala bagian marketing dan staff marketing di rumahsakit Azzra Bogor. Dilakukan pula observasi dan telaah data sekunder dari rumahsakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum efektifnya kegiatan bauran promosi yang dilakukan oleh rumah sakit Azzra untuk layanan medical check up bagi perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan yang menurun dan cenderung tidak stabil.Kata kunci :Promosi, pemasaran, medical check up, koorporat
This thesis analyzes the promotional mix service medical check-up at hospitalAzzra Bogor in 2013-2014. The raised issues in this study are based on data fromthe medical check-up visit in 2011-2014 seen the number of visits from year toyear the fluctuating changes and seen from the data of companies workingtogether to medical check-up services to a decrease in the number of companiesworking with the home Bogor Azzra pain. The purpose of this study was todetermine the mix of promotional activities medical check-up services at hospitalsAzzra in 2013-2014 from the aspects of input, process, output. This study is aqualitative research by conducting in-depth interviews marketing manager, headof marketing and marketing staff in the hospital Azzra Bogor. Also conductedobservation and study of secondary data from hospital. The results showed thatthe ineffectiveness of the promotional mix of activities undertaken by Azzrahospital for medical check-up services for the company. It can be seen from thenumber of visits decreases and tends to be unstable.Keywords:Promotion, marketing, medical check-up, coorporate.
Read More
S-8376
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fridamarva Yasmine; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Toni Kusdianto
Abstrak: BPJS sudah berjalan sejak tanggal 01 Januari 2014, salah satu program proteksisosial yang belum bergabung dengan BPJS, yaitu Jaminan Kesehatan Daerah(JAMKESDA) khususnya di daerah Kota Tangerang Selatan. Untuk itu perlu adanyasuatu evaluasi program JAMKESDA sehingga dapat menjadi pembanding antaraperencanaan dan kenyataan yang ada di lapangan serta dapat mengetahuipelaksanaan JAMKESDA setalah BPJS berjalan. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif yang menggunakan pendekatan sistem sehingga bertujuan untukmengertahui bagaimana input proses dan output program JAMKESDA pada eraJKN. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pelaksanaan programJAMKESDA sudah berjalan dengan baik. Kendala utama dalam programJAMKESDA di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan adalah terlambatnya klaimdari rumah sakit yang mengakibatkan terlambatnya pelaporan. Persiapan yangdilakukan untuk bergabung dengan BPJS pada tahun 2015 nanti adalah pegawaipelaksana program sedang melakukan validasi data ulang untuk mengetahui wargaTangerang Selatan yang layak untuk masuk dalam BPJS. Dengan demikian, tidakada perubahan yang signifikan pada program JAMKESDA di era JKN, hanya sajaperlu penambahan kualitas dan kuantitas pegawai serta peningkatan sarana dan prasarana, selain itu pelajaran yang dapat diambil ketika JAMKESDA bergabung dengan BPJS adalah perlunya kesiapan sistem, kebijakan pemerintah daerah serta puskesmas sebagai gate keeper.Kata kunci : Analisis pelaksanaan, Program JAMKESDA, JKN, Sistem
BPJS been running since the date of January 1, 2014, one of the social protectionprograms that have not joined the BPJS, the Regional Health Insurance(JAMKESDA) especially in the area of South Tangerang City. For that there needsto be an evaluation of the program so that it can be JAMKESDA comparisonbetween planning and reality on the ground as well as to know the implementationJAMKESDA after BPJS. This study is a qualitative research using a systemsapproach that aims to determine how the process input and output JAMKESDAprogram at JKN era. Based on this research, it is known that the implementation ofthe program has been running well JAMKESDA. The main obstacle in JAMKESDAprogram in South Tangerang City Health Department is delayed claims fromhospitals that resulted in delays in reporting. Preparations are being made to join in2015 BPJS is implementing employee programs are being re-validate data todetermine the South Tangerang residents eligible for entry in BPJS. Thus, there wasno significant change in the program JAMKESDA in JKN era, only need theaddition of the quality and quantity of personnel and improvement of facilities andinfrastructure, in addition to the lessons that can be taken when JAMKESDA joinBPJS is the need for system readiness, government policy and health centers as agate keeperKeywords: Analysis of implementation, JAMKESDA, JKN, System
Read More
S-8377
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah Sriyadi; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Enny Ekasari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program kesehatan dan olahraga padaPegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup kerja Pemerintah Kota Depok tahun 2015dengan melakukan analisis pada penggunaan input dan proses sehingga dapatmempengaruhi pencapaian target program kesehatan dan olahraga. Desainpenelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan denganmelihat komponen input (peraturan, sumber daya manusia, sumber dayakeuangan, danfasilitas) dan proses manajerial (perencanaan, pengorganisasian,pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi) dalam pelaksaan program. Datadikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada stakeholder, pelaksana, danpeserta. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui telaah dokumen terhadapdokumen-dokumen program. Temuan dari penelitian ini adalah dari sisi inputbelum ada peraturan daerah yang menjadi dasar pelaksanaan program dan belumtersedia anggaran untuk media promosi program.
Kata Kunci :Evaluasi program; Kesehatan dan olahraga; Variabel input dan proses; KotaDepok.
Read More
S-9296
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Utami Wijayanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anhari Achadi, Pujiyanto, Childa Maisni, Euis Saadah
Abstrak: Latar belakang (background): Saat ini, banyak sekali permasalahan kesehatan yangterjadi pada remaja, termasuk juga pada remaja yang berada di sekolah. Di Indonesia,terdapat sebuah program promosi kesehatan yang dilakukan pada tataran sekolah yaituUsaha Kesehatan Sekolah (UKS). Anak sekolah merupakan kelompok terorganisir yangberpotensi untuk mampu berdaya dalam hal kesehatan. Tujuan (Objective): Memberikangambaran mengenai pelaksanaan program UKS pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas(SLTA)di Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard.Metode (Method): Informasi yang didapatkan berasal dari studi kualitatif yang dilakukanpada sekolah dan Puskesmas di Provinsi DKI Jakarta. Studi ini dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2014. Informasi yang dianalisis dalam studi ini bersumber dari 17 wawancaramendalam yang dilakukan pada sekolah dan Puskesmas, melibatkan 4 (empat) wakilkepala sekolah, 4 (empat) guru Pembina UKS, 4 (empat) perwakilan siswa, 4 (empat)perwakilan Puskesmas, dan seorang perwakilan staf Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.Hasil (result): Berdasarkan metode evaluasi Balanced Scorecard, pada keempat sekolahyang menjadi studi penelitian ini lebih banyak menjalankan ruang lingkup kuratif saja.Pada keempat Puskesmas diketahui lebih banyak menjalankan fungsi pelayanan kesehatandibandingkan dengan fungsi pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat.Beberapa faktor yang mendorong belum optimalnya pelaksanaan UKS di SLTAdiantaranya adalah masih kurangnya pelatihan dan forum belajar bagi guru, belummaksimalnya pelibatan siswa baik di sekolah maupun di Puskesmas, dan belummaksimalnya kerjasama yang dilakukan oleh Puskesmas. Kesimpulan (conclusion):Diperlukan sebuah upaya yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan tersebuttermasuk peninjauan kembali kebijakan dan pedoman yang berkaitan dengan pelaksanaanUKS di sekolah, peningkatan keterampilan bagi para guru dan petugas kesehatan melaluipelatihan dan mengaktifkan forum komunikasi sebagai sarana belajar untukmengembangkan wawasan, melibatkan para orangtua siswa, dan pelibatan siswa dalammenjalankan proses perencanaan hingga evaluasi program UKS di sekolah.Kata kunci: sekolah, siswa, pelaksanaan, program UKS, Puskesmas, Balanced Scorecard
Background: Nowadays, many health problems happened in adolescent, includingadolescent in school. In Indonesia, there is a program that conducted in school, namedUKS (Usaha Kesehatan Sekolah). In school, adolescent is the organized group that has tobe capable to empower in health. Objective: Explain about implementation of UKSprogram in Senior High School and equal in Province of DKI Jakarta with BalancedScorecard approaches. Method: information obtained from qualitative study conducted inSchool and health care center in Province of DKI Jakarta. Analyzed information in thisstudy sourced from 17 in-depth interviews, consist of 4 (four) vice school principle, 4(four) teachers, 4 (four) students, 4 (four) health care center staff, and representatives fromProvince Health Office. Result: Based on Balanced Scorecard method, in four schoolswhich become the subject of the research stated that are not yet implementedcomprehensive UKS program. Most of them implement only in curative and rehabilitativeefforts. Besides senior high school, the implement program is health care center. In fourhealth care center, most of them implement the program only in health services functioncompared with health education function. Inhibit factors which causes ineffective are lackof training and forum for teacher for encouraging their knowledge and skill that relatedwith UKS, lack of involving the student in school and health care center, and lack ofpartnership between health care center with other sectors like public sector, private sectors,or non-government organization. Conclusion: Required a comprehensive effort to solvethe problems. The governments have to review the policy and guidance related to UKSimplementation di school. Besides that, it is required to improve the organizing skill fromprogram officer (teacher and health care officer) so that they are capable to implementcomprehensive UKS program through training and communication forum as the learning,involve the parent of the student, and involve the students in planning until evaluationprocess in UKS program.Key word: school, student, implementation, UKS, health care center, Balanced Scorecard.
Read More
T-4291
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Nahrisah; Pembimbing: Haffizzurrachman; Penguji: Mieke Savitri, Heru Suparno
S-5271
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bangun Tuko; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Yuli Prapanca Satar
S-7704
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reza Rahman; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Budi Hartono
S-6237
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andang Evrilianto; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Masyitoh, Musyanto, Minerva Theodora Simatupang
Abstrak:
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global dan pada tahun 2021 menempati peringkat ketiga penyebab kematian pada kelompok usia 15-29 tahun. Di Indonesia, Kabupaten Gunungkidul secara konsisten mencatat sekitar 20-30 kasus bunuh diri setiap tahun dan menjadi salah satu wilayah dengan beban kasus yang tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta meskipun telah tersedia regulasi dan program penanggulangan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Program Penanggulangan Bunuh Diri di Kabupaten Gunungkidul berdasarkan kerangka Theory of Change. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen pada Mei-Juni 2026. Informan dipilih secara purposive samping dan terdiri atas Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), puskesmas, rumah sakit, kepolisian, organisasi masyarakat, penyintas, dan keluarga terdampak. Analisis data dilakukan dengan triangulasi sumber dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah didukung oleh regulasi daerah, TPKJM, kegiatan promosi kesehatan, deteksi dini, penanganan percobaan bunuh diri, serta pendampingan penyintas dan keluarga. Namun, masih ditemukan keterbatasan sumber daya manusia kesehatan jiwa, belum tersedianya anggaran khusus program serta koordinasi lintas sektor yang belum optimal. Pada tahun 2025 dilakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 23.625 orang dan ditemukan 339 individu berisiko yang seluruhnya mendapatkan tindak lanjut. Walaupun demikin cakupan deteksi dini masih rendah. Selain itu, terdapat empat kasus percobaan bunuh diri yang berhasil diidentifikasi dan ditangani sesuai prosedur. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat pengulangan percobaan bunuh diri pada seluruh kasus yang mendapatkan pendampingan. Disimpulkan bahwa Program Penanggulangan Bunuh Diri di Kabupaten Gunungkidul telah diimplementasikan, namun efektivitasnya belum optimal. Tantangan utama masih ditemukan pada komponen input, activities, dan output. Rekomendasi penelitian meliputi penguatan kapasitas sumber daya, perluasan cakupan deteksi dini, peningkatan koordinasi lintas sektor, upaya pengurangan stigma terhadap masalah kesehatan jiwa, serta penguatan sistem pencatatan dan pelaporan untuk meminimalkan underreporting kasus.

Suicide is a global public health problem and was the third leading cause of death among individuals aged 15-29 years in 2021. In Indonesia, Gunungkidul Regency has consistently recorded approximately 20-30 suicide cases annually and remains one of the areas with the highest suicide burden in the Special Region of Yogyakarta, despite the implementation of suicide prevention policies and programs. This study aimed to evaluate the effectiveness of the Suicide Prevention Program in Gunungkidul Regency using the Theory of Change framework. This study employed a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews conducted from May to June 2026. Informants were selected using purposive sampling and included representatives from the Health Office, Social Affairs Office, Community Mental Health Implementation Team (TPKJM), primary health centers, hospitals, police department, community organizations, suicide attempt survivors, and affected family members. Data were analyzed using source and document triangulation. The findings showed that the program has been supported by local regulations, the establishment of TPKJM, health promotion activities, early detection initiatives, suicide attempt management, and post-crisis care for survivors and their families. However, several challenges remain, including limited mental health human resources, the absence of a dedicated budget allocation, and suboptimal cross-sectoral coordination. In 2025, mental health screening was conducted among 23,625 individuals, identifying 339 at-risk individuals, all of whom received follow-up interventions. Nevertheless, the overall screening coverage remained relatively low. In addition, four suicide attempt cases were successfully identified and managed according to established procedures. Follow-up monitoring indicated that none of these individuals experienced a repeated suicide attempt during the observation period. In conclusion, the Suicide Prevention Program in Gunungkidul Regency has been implemented and has demonstrated achievements in case response and reducing the risk of repeated suicide attempts. However, its overall effectiveness requires further strengthening through improvements in human resources, expansion of early detection coverage, enhanced cross-sectoral coordination, stigma reduction efforts, and a more integrated reporting system to minimize underreporting of suicide cases.
Read More
T-7649
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive