Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39717 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hotma Martogi Lorensi Hutapea; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Arli Aditya Parikesit; Penguji: Besral, Ratna Djuwita, Trisari Anggondowati, Sunarno, Adi Yulandi, Radiyati Umi Partan
Abstrak:
Latar Belakang: Long COVID adalah kondisi pasca infeksi SARS-CoV-2 yang ditandai oleh gejala yang bertahan ≥2 bulan, dengan kelelahan sebagai keluhan utama. Di Indonesia, tercatat sekitar 1.400 kasus COVID-19 aktif, dan berpotensi mengalami long COVID. Meskipun kelelahan umum terjadi, faktor risiko dan biomarker yang mendasarinya, baik pada long COVID maupun COVID-19 secara umum, belum sepenuhnya dipahami. Interleukin-6 (IL-6) diduga berperan dalam mekanisme kelelahan, tetapi hubungan antara varian virus SARS-CoV-2, kadar IL-6, dan gejala kelelahan masih belum jelas. Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort ambispektif yang melibatkan pasien dewasa yang dirawat inap ≥5 hari karena COVID-19. Data klinis, demografis, dan riwayat vaksinasi diperoleh dari rekam medis. Gejala kelelahan dinilai menggunakan kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS), sedangkan long COVID dinilai melalui kuesioner terstruktur. Analisis regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko. IL-6 diukur dengan metode ELISA, dan analisis in-silico dilakukan untuk menilai hubungan mutasi ssRNA terhadap binding affinity TLR8 dan kadar IL-6. Hasil: Sebanyak 257 pasien terlibat dalam penelitian, dengan 30 subjek diambil darahnya untuk pemeriksaan IL-6. Enam faktor risiko ditemukan terkait dengan long COVID, yaitu riwayat kelelahan akut saat dirawat, penyakit ginjal kronis, status PCR positif saat keluar RS, trombositosis, status vaksinasi, dan kebiasaan olahraga. Eritrositopenia dan terapi oksigen berkorelasi dengan kelelahan long COVID, sedangkan kelelahan akut dan kebiasaan olahraga memengaruhi kelelahan COVID-19 umum. Varian Delta meningkatkan risiko long COVID namun menurunkan risiko kelelahan, dan kadar IL-6 tinggi berhubungan dengan kelelahan setelah dikendalikan oleh variabel confounding. Selain itu, ditemukan secara in-silico perbedaan skor binding affinity yang disebabkan mutasi pada ssRNA memengaruhi kadar IL-6 subjek. Kesimpulan: Long COVID, kelelahan long COVID dan kelelahan COVID-19 umum dipengaruhi oleh kombinasi faktor klinis, perilaku, dan varian virus. IL-6 berperan penting dalam patogenesis kelelahan, dengan kemungkinan pengaruh mutasi virus terhadap disregulasi imun. Kata kunci: coronavirus disease 2019, faktor risiko, interleukin 6, long COVID, penyintas COVID-19.

Background: Long COVID is a post-infection condition following SARS-CoV-2 infection characterized by symptoms lasting ≥2 months, with fatigue being the major complaint. In Indonesia, around 1,400 active COVID-19 cases have been recorded. These individuals have the potential to develop long COVID. Although fatigue is common, the underlying risk factors and biomarkers both in long COVID and in COVID-19 generally are not yet fully understood. Interleukin-6 (IL-6) is suspected to play a role in the mechanism of fatigue, but the relationship between SARS-CoV-2 variants, IL-6 levels, and fatigue symptoms remains unclear. Methods: This was an ambispective cohort study involving adult patients hospitalized for ≥5 days due to COVID-19. Clinical, demographic, and vaccination history data were collected from medical records. Fatigue status was assessed using the Fatigue Assessment Scale (FAS), and long COVID was evaluated through a structured questionnaire. Cox regression analysis was used to identify risk factors. IL-6 was measured using ELISA, and in-silico analysis was performed to assess the relationship ssRNA mutations based its binding affinity to TLR8. The binding affinity score was compared to IL-6 levels. Results: A total of 257 patients participated in the study, with blood samples for IL-6 testing collected from 30 subjects. Six risk factors were found to be associated with long COVID: history of acute fatigue during hospitalization, chronic kidney disease, PCR-positive status at hospital discharge, thrombocytosis, vaccination status, and exercise habits. Erythrocytopenia and oxygen therapy were correlated with long COVID fatigue, while acute fatigue and exercise habits influenced general COVID-19-related fatigue. After controlling for confounding variables, the Delta variant increased the risk of long COVID but had the lower risk of fatigue, and high IL-6 levels were associated with fatigue. Additionally, in-silico findings showed that mutations in ssRNA altered TLR8 binding affinity scores, which influenced IL-6 levels in subjects. Conclusion: Long COVID, long COVID fatigue, and general COVID-19-related fatigue are influenced by a combination of clinical, behavioral, and viral variant factors. IL-6 plays an important role in the pathogenesis of fatigue, with possible viral mutation effects contributing to immune dysregulation. Keywords: coronavirus disease 2019, COVID-19 survivors, interleukin 6, long COVID, risk factors.
Read More
D-578
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Najiah Meirina Anwar; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Evi Sofia Riani, Renti Mahkota
Abstrak: COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Hingga saat ini kasus COVID-19 semakin bertambah. Meskipun kasus sembuh mencapai angka 96%, hal tersebut harus tetap diwaspadai karena sebagai penyintas masih dapat mengalami gejala yang menetap atau biasa disebut Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) atau Post Acute COVID adalah kondisi pasca infeksi COVID-19 yang berkepanjangan setelah 4 minggu timbulnya gejala awal. Long COVID menjadi ancaman serius bagi para penyintas COVID-19 karena gejala yang menetap dapat membawa dampak buruk dan menganggu aktivitas penderitanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang memengaruhi kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online. Penelitian ini diikuti oleh 267 rseponden dengan kriteria inklusi sudah sembuh dari COVID-19, berdomisili di Kota Sukabumi, dan usia minimal 18 tahun. Hasil penelitian menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 47% dengan gejala yang paling sering adalah mudah Lelah (30,7%), sulit berkonsentrasi (14,98%), dan mudah lupa (13,86%). Analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubugan antara tingkat gejala (P value = 0,001), jenis perawatan (P value = 0,012), dan perokok pasif (P value = 0,020) dengan kejadian Long COVID. Lalu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi, status vaksinasi, status merokok, derajat rokok, dan kondisi penyerta.
COVID-19 is an infectious disease caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Until now, COVID-19 cases are increasing. Although the number of recovered cases reached 96%, this must still be watched out for because survivors can still experience persistent symptoms or commonly known as Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) or Post Acute COVID is defined as persisten symptoms and/or delayed or longterm complications beyond 4 weeks from the onset of symptoms. Long COVID is a serious condition to COVID-19 survivors because persistent symptoms can have a negative impact and disrupt the sufferer's activities. The purpose of this study was to determine the factors that affecting the incidence of Long COVID in COVID-19 survivors in Sukabumi City. This study used a cross-sectional study. Data collection was carried out by distributing online questionnaires. This study was conducted by 267 respondents with inclusion criteria are having recovered from COVID-19, domiciled in Sukabumi City, and a minimum age of 18 years. The results showed the proportion of the incidence of Long COVID was 47% with the most frequent symptoms are tiredness or fatigue (30.7%), difficulty concentrating (14.98%), and forgetful (13.86%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between symptom level (P value = 0.001), type of treatment (P value = 0.012), and passive smoking (P value = 0.020) with the incidence of Long COVID. There is no significant relationship between sociodemographic characteristics, vaccination status, smoking status, smoking degree, and comorbidity,
Read More
S-10963
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Asy`ari; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah; Krishna Adi Wibisana
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kelurahan Jatisampurna Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitia cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 308 responden, dengan proporsi perempuan 64% dan laki-laki 36%. Hasil penelitian ini menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 80,2%. Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah kelelahan (64%), brain fog (30.5%), dan batuk kering (21.8%). Analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dan pekerjaan dengan kejadian Long COVID. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian Long COVID (p= 0,011 OR=2,157) dan komorbid dengan kejadian Long COVID (p= 0,006 OR= 2,652).
Read More
S-10798
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Ayu Lanniari Harahap; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Chita Septiawati, Mohammad Fahdhy
Abstrak: Peningkatan jumlah kasus COVID-19 dan penyebarannya di berbagai negara terjadi berlangsung cukup cepat dan dalam waktu singkat. Hingga 4 Mei 2021, total kasus konfirmasi COVID-19 global adalah 152.534.452 dengan 3.198.528 kematian. Pemerintah Indonesia telah melaporkan 1.682.004 orang dengan COVID-19 yang dikonfirmasi, tertinggi di Asia Tenggara. Sebanyak 45.949 kematian terkait COVID-19 yang dilaporkan, dengan CFR sebesar 2,7%. Kematian akibat COVID-19 di Indonesia berada pada peringkat ke-2 di Asia dan ke-17 di dunia. Studi kasus-kontrol dilakukan menggunakan data rekam medis pasien COVID-19 di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Maret 2020-Desember 2020. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien COVID-19. Hasil penelitian melalui analisis multivariat logistik regresi menunjukkan bahwa, adanya peningkatan risiko terhadap kematian pada usia ≥ 60 tahun (OR=5.495, 95% CI: 2.398-12.591), demam (OR=4.441, 95% CI: 1.401-14.077), sesak napas (OR=8.310, 95% CI: 3.415-20.220), riwayat hipertensi (OR=2.454, 95% CI: 1.159-5.196), riwayat penyakit ginjal kronik (OR=10.460 kali, 95% CI: 3.282-33.331), riwayat penyakit kanker (OR=16.137, 95% CI: 2.798-96.147) pada pasien COVID-19 yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2020
The increase in the number of cases of COVID-19 and its spread in various countries occurred quite quickly and in a short time. As of May 4, 2021, the total global confirmed cases of COVID-19 were 152,534,452 with 3,198,528 deaths. The Indonesian government has reported 1,682,004 people with confirmed COVID-19, the highest in Southeast Asia. A total of 45,949 COVID-19-related deaths were reported, with a CFR of 2.7%. Deaths from COVID-19 in Indonesia are ranked 2nd in Asia and 17th in the world. A case-control study was conducted using medical records of COVID-19 patients at Haji Adam Malik General Hospital in Medan for the period March 2020-December 2020. This study describes the characteristics and identifies factors associated with death in COVID-19 patients. The results of the study through multivariate logistic regression analysis showed that there was an increased risk of death at age 60 years (OR = 5,495, 95% CI: 2,398-12,591), fever (OR = 4,441, 95% CI: 1,401-14,077), shortness of breath. breath (OR=8,310, 95% CI: 3,415-20,220), history of hypertension (OR=2,454, 95% CI: 1.159-5,196), history of chronic kidney disease (OR=10,460 times, 95% CI: 3.282-33,331) history of cancer (OR=16,137, 95% CI: 2,798-96,147) in COVID-19 patients who were hospitalized at Haji Adam Malik General Hospital Medan in 2020
Read More
T-6315
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shalzaviera Azniatinesa; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Marthino Robinson
Abstrak:
Corona virus disease (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang ditemukan pada Desember 2019 di Kota Wuhan, Cina. Kebanyakan orang dapat mengalami gejala ringan hingga sedang, namun pada beberapa orang infeksi virus corona dapat menyebabkan masalah yang serius sehingga memerlukan perhatian medis. Sumber daya kesehatan seperti fasilitas kesehatan, obat-obatan, dan tenaga kesehatan menjadi hal yang krusial di masa pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap lama waktu sakit sampai sembuh dari infeksi COVID-19. Studi ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan pendekatan analisis survival. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 339 sampel yang diambil dengan menggunakan teknik random. Data diperoleh dari data rekam medis pasien COVID-19 di RSUD Kota Bogor pada periode Januari ? Desember 2021. Analisis data menggunakan Log rank test untuk melihat perbedaan probabilitas survival dan Cox Proportional Hazard untuk melihat faktor apa saja yang berpengaruh terhadap lama sakit dari infeksi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan usia >60 tahun (HR 0,625; 95% CI 0,440 ? 0,888), penyakit ginjal kronik (HR 0,471; 95% CI 0,261 ? 847), ARDS (HR 0,413; 95% CI 0,274 ? 0,622), hiperkoagulasi (HR 0,737; 95% CI 0,567 ? 0,958), dan riwayat rawat di ruang ICU (HR 0,335; 95% CI 0,159 ? 0,705) merupakan faktor yang berhubungan dengan lama sakit sampai sembuh dari infeksi COVID-19 (p-value <0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk memprioritaskan pasien COVID-19 yang berisiko mengalami hal tersebut.

Corona virus disease (COVID-19) is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 virus which was discovered in December 2019 in Wuhan City, China. Most people can experience mild to moderate symptoms, but in some people coronavirus infection can cause serious problems that require medical attention. Health resources such as health facilities, medicines, and health workers are crucial during a pandemic. This study aims to find out factors affect the length of time from illness to recovery from COVID-19 infection. This study used a retrospective cohort design with a survival analysis approach. The number of samples in this study were 339 samples taken using a random sampling technique. Data were obtained from medical records of COVID-19 patients at Bogor City Regional General Hospital in the period January - December 2021. Data were analyzed using the Log rank test to see the difference in probability of survival and Cox Proportional Hazard to see factors influence the length of illness from COVID-19 infection. The results showed age >60 years (HR 0.625; 95% CI 0.440 ? 0.888), chronic kidney disease (HR 0.471; 95% CI 0.261 ? 847), ARDS (HR 0.413; 95% CI 0.274 ? 0.622), hypercoagulation (HR 0.737; 95% CI 0.567 ? 0.958), and ICU admission (HR 0.335; 95% CI 0.159 ? 0.705) were factors associated with length of illness until recovery from COVID-19 infection (p-value <0.05). It is hoped that health workers will prioritize COVID-19 patients who are at risk of experiencing those factors.
Read More
T-6498
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriyani Risma Sanggul; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Nurhayati Adnan, Daniel Tobing
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Andriyani Risma Sanggul Program Studi : Epidemiologi Judul Tesis : Faktor – Faktor yang Memengaruhi Risiko Mortalitas selama 3 Tahun pada Pasien Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST/ ST - Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Tahun 2011 -2012 xxii+96 halaman, 28 tabel, 17 gambar, 5 lampiran Infark Miokard Akut dengan elevasi segmen ST/ ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) adalah bagian dari sindrom koroner akut yang berat dan menetap akibat oklusi total arteri koroner sehingga diperlukan tindakan revaskularisasi segera untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard secepatnya. Tindakan revaskularisasi dilakukan dalam 12 jam onset serangan angina pektoris dan didapatkan elevasi segmen ST yang menetap atau ditemukan Left Bundle Branch Block (LBBB). Tatalaksana Intervensi Koroner Perkutan primer lebih disarankan dibandingkan fibrinolisis. Penelitian mengenai mortalitas selama 3 tahun pada pasien pasca STEMI dengan IKP primer belum pernah dilakukan di Indonesia sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan waktu pengamatan selama 3 tahun. Populasi studi adalah adalah semua pasien diagnosis STEMI dengan terapi IKP primer berusia ≥ 18 tahun dan keluar rawat hidup Tahun 2011-2012 di RSJPD Harapan Kita. Kriteria inklusi sampel adalah pasien didiagnosa STEMI dan keluar rawat dalam keadaan hidup 01 Januari 2011- 31 Desember 2012 dan Pasien STEMI yang berusia ≥ 18 tahun dengan total sampel sebanyak 466 orang. Data pasien diperoleh dari Jakarta Acute Coronary Syndromes (JACS) dan rekam medis. Analisis data dilakukan dengan Stata 12. Pada analisis multivariat dengan menggunakan uji cox regression time independent, didapatkan pasien STEMI dengan IKP primer yang tidak teratur kontrol memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan kontrol teratur ( Adj HR = 5,7 ; 2,447 – 13,477 ; p value = 0,0001). Pasien STEMI yang DM memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan tidak DM ( Adj HR = 2,66 ; 1,149 - 6,150; p value = 0,034). Pasien STEMI dengan kelas killip II memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan kelas killip I    (Adj HR = 2,31  ; 0,99 – 5,363 ; p value = 0,05). Model estimasi risiko hazard: H(1095h,t)=ho (1095h) exp [(0,91DM )+ (0,84 x Killip Admisi) + ( 1,75 x Kontrol)] . Keteraturan kontrol, diabetes mellitus dan kelas killip admisi memengaruhi risiko mortalitas pasien STEMI dengan IKP primer di RSJPD Harapan Kita. Kata kunci: STEMI, IKP Primer, Mortalitas 3 tahun x


ABSTRACT Name : Andriyani Risma Sanggul Study Program : Epidemiology Title : The Factors That Affect Risk of Mortality for 3 Years In ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) Post Primary Percutaneous Coronary Intervention in Heart and Vascular Hospital Harapan Kita 2011 - 2012 xxiii+96 pages, 28 tables, 17 pictures, 5 attachments ST -Segment Elevation Myocardial Infarction ( STEMI ) is a part of the heavy acute coronary syndromes and settled due to total occlusion of the coronary arteries that required immediate revascularization to restore blood flow and myocardial reperfusion as soon as possible . Revascularization performed within 12 hours of onset of angina pectoris and ST segment elevation obtained were settled or discovered Left Bundle Branch Block ( LBBB ) . Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) Procedures more advisable than fibrinolysis. The purpose of this study to determine the factors that affect the risk of 3 years mortality and resulted in a scoring system STEMI patients with primary IKP based on demographic and clinical patients at the Hospital Cardiovascular Harapan Kita . This study used a retrospective cohort design with observation time for 3 years . The study population was is all STEMI patients with a diagnosis of  PPCI  ≥ 18 years old and alive at discharge at 2011-2012 in RSJPD Harapan Kita . The inclusion criteria were patients diagnosed STEMI alive at discharge at January 2011 - December 2012 and STEMI patients ≥ 18 years old with a total sample of 466 people . Data obtained from the patient  Jakarta Acute Coronary Syndromes ( JACS ) and medical records . Data analysis was performed with Stata 12. In multivariate analysis using Cox regression test time independent , STEMI patients with PPCI who irregular control have a higher mortality risk than regular controls ( Adj HR = 5.3 ; 2.345 to 13.026 ; p value = 0.0001 ) . STEMI patients with DM have a higher mortality risk than not DM ( Adj HR = 2,66 ; 1,149 to 6,150 ; p value = 0,034 ) . STEMI patients with killip class II had a higher mortality risk than Killip class  I ( Adj HR = 2,31 ; 0,991 to 5,363 ; p value = 0,035 ) . Hazard risk estimation model : H(1095h,t)=ho (1095h) exp [(0,91DM )+ (0,84 x Killip Admisi) + ( 1,75 x Kontrol)] . Keywords:  STEMI, PPCI, 3 Years Mortality

Read More
T-4763
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Indah Palupi Nugrahari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal, Sherli Karolina, Hidayat Nuh Ghazali Djajauli
Abstrak: COVID-19 telah menginfeksi ratusan juta orang dan menyebabkan kematian jutaan orang di seluruh dunia. Vaksinasi diharapkan dapat mengurangi insiden penyakit, tingkat mortalitas, maupun keparahan penyakit. Sehingga peneliti ingin mengetahui seberapa besar efek vaksinasi dalam melindungi pasien COVID-19 terhadap penyakit COVID-19 yang berat dan kematian COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang menggunakan data dari database NAR COVID-19 dan Dashboard KPCPEN Dinkes Kota Depok mulai tanggal 8 Mei 2020 hingga 20 Februari 2023 yang dianalisis menggunakan regresi logistik. Peneliti menemukan bahwa kelompok usia terbesar adalah usia 31-45 tahun (26,54%) dan terkecil adalah usia ≥ 60 tahun (10,97%). Populasi perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki (53,36% vs 46,64%). Kemudian hanya 6.41% orang bekerja sebagai petugas kesehatan. Jumlah orang yang tidak divaksin lebih banyak dibandingkan orang yang divaksin (52,58% vs. 47,42%). Dibandingkan dengan pasien COVID-19 yang tidak divaksinasi, pasien yang divaksin mengalami penurunan risiko dirawat sebesar 45% (periode 1), 43,3% (periode 2), dan 24% (periode 3). Kemudian pasien COVID-19 yang divaksinasi mengalami penurunan risiko mortalitas sebesar 35% (periode 1), 90% (periode 2), dan 33% (periode 3). Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa vaksinasi COVID-19 menurunkan risiko dirawat di RS dan mortalitas pasien COVID-19 pada ketiga periode sakit.
COVID-19 has infected and caused the deaths of millions of people in the world. And vaccination is expected to reduce the incidence, mortality, and severity of the disease. The objective of this research is to discover the effects of COVID-19 vaccination against severe disease and death of COVID-19. This was a retrospective cohort research that utilized data from the COVID-19 NAR database and the Depok City Health Department KPCPEN Dashboard from Mei 8, 2020 to February 20, 2023, and was analysed using logistic regression. We discovered that the largest age group were patients between ages 31-45 years (26.54%) and the smallest was ≥ 60 years (10.97%). There were more female patients than men (53.36% vs. 46.64%). Only 6.41% of patients were healthcare workers, and more patients were unvaccinated than vaccinated (52.58% vs. 47.42%). Compared to the unvaccinated patients, the vaccinated patients experienced a risk reduction of 45% in period 1, 43.3% in period 2, and 24% in period 3. Vaccinated patients also experienced a risk reduction for mortality of 35% in period 1, 90% in period 2, and 33% in period 3. Therefore, we conclude that COVID-19 vaccination reduces the hospitalization and mortality risks for COVID-19 patients in all 3 periods.
Read More
T-6850
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mailisafitri; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Yovsyah, Fatum Basalamah
S-6787
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djap Hadi Susanto; Pembimbing: Nasrin Kodim
T-999
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soraya Hidayati; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Ririn Saptorini
Abstrak: Jumlah penderita dan kasus kematian akibat infeksi virus COVID -19 setiap harinya terus bertambah dan terus muncul varian virus COVID yang baru. Lebih dari 80% kematian karena COVID-19 terjadi pada penderita yang berusia di atas 65 tahun dan memiliki riwayat komorbid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktorfaktor yang dapat meningkatkan risiko kematian COVID-19 pada pasien lansia yang melakukan rawat inap di RSUD Karanganyar Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari file data base rekam medis pasien rawat inap di RSUD Karanganyar yaitu sebanyak 322 pasien lansia Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk menguji hubungan variabel independen jenis kelamin, TBC paru, diabetes mellitus, ginjal kronis, stroke, dan jantung dengan kematian pasien COVID-19 lansia sebagai variabel dependennya Sebanyak 61 (18,9%) pasien COVID-19 lansia meninggal dunia. Sebanyak 33 (54,1%) pasien lansia adalah perempuan
Read More
T-6404
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive