Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30604 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sirajuddien Bialangi; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono.; Kopromotor: Syahrizal Syarif, Hervita Diatri; Penguji: Besral, Evi Martha,Helda, Soewarta Kosen
Abstrak:

Latar Belakang: Pada tahun 2018, menurut Riset Kesehatan Dasar kejadian skizofrenia/psikosis di Indonesia sebesar 6,7/1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia/psikosis. Skizofrenia memengaruhi sekitar 24 juta orang atau 1 dari 300 orang (0,33%) di seluruh dunia (WHO, 2022). Tahun 2021, Orang dengan skizofrenia (ODS) mempunyai angka yang paling tinggi diantara orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lainnya di Provinsi Gorontalo yakni 1497 dari jumlah total 1834 ODGJ (81,62%). Begitu pula dengan jumlah ODS di Kota Gorontalo, yakni 201 dari jumlah 250 ODGJ (80,4%). Berdasarkan data di atas maka peneliti ingin mengetahui, gambaran karakteristik ODS dan hubungan antara karakteristik ODS dengan kualitas hidup ODS. Metode: Desain penelitian adalah cross sectional yang didahului dengan studi systematic review. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ODS di Kota Gorontalo dengan jumlah 201 ODS. Metode pengambilan sampel adalah total sampling (seluruh anggota populasi) yang kemudian diperoleh berdasarkan kriteria inklusi, dan pengecualian bagi ODS meninggal, pindah alamat, dan tidak terdeteksi lagi keberadaannya oleh pihak Puskesmas sehingga jumlah sampel adalah 121 ODS. Instrumen yang digunakan untuk pengukuran kualitas hidup adalah WHOQOL-BREF. Hasil: Studi Systematic review menunjukkan bahwa didapatkan artikel penelitian sebelumnya tentang faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup ODS yang akan dijadikan dasar untuk melakukan penelitian di Kota Gorontalo. Studi cross sectional menunjukkan bahwa pada pemodelan akhir multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kualitas hidup ODS yaitu status pernikahan (p=0,027), pendidikan (p=0,008) dan pendapatan (p=0,002). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kualitas hidup ODS adalah pendapatan. ODS yang yang tidak memiliki pendapatan berisiko 4,66 kali untuk memiliki kualitas hidup buruk dibandingkan ODS yang memiliki pendapatan setelah dikontrol oleh variabel pendidikan dan status pernikahan (aOR=4,66 95% CI 1,71-12,58). Kesimpulan: Variabel Pendidikan, pernikahan dan pendapatan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODS di Kota Gorontalo. Sedangkan Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kualitas hidup ODS di Kota Gorontalo adalah variabel pendapatan. Saran: Pengembangan program pemberdayaan ekonomi untuk ODS, seperti dukungan keuangan dan pelatihan mengenai cara meningkatkan pendapatan, tidak hanya ditujukan untuk ODS, tetapi juga untuk seluruh elemen masyarakat yang membutuhkan. Pemberian santunan yang rutin setiap bulan untuk ODS yang tidak punya pendapatan.


Background: In 2018, according to the Basic Health Research, the incidence of schizophrenia/psychosis in Indonesia was 6.7/1000 households. This means that out of 1,000 households, there are 6.7 households that have household members with schizophrenia/psychosis. Schizophrenia affects around 24 million people or 1 in 300 people (0.33%) worldwide (WHO, 2022). In 2021, people with schizophrenia had the highest in people with mental disorders in Gorontalo Province, namely 1497 out of a total of 1834 people with other mental disorders (81.62%). Likewise, the number of people with schizophrenia in Gorontalo City is 201 out of a total of 250 people with other mental disorders (80.4%). Based on the data above, the researcher wants to know the description of the characteristics of people with schizophrenia and the relationship between the characteristics of people with schizophrenia and the quality of life of people with schizophrenia. Method: The research design was cross-sectional which was preceded by a systematic review study. The population in this study were all the people with schizophrenia in Gorontalo City with a total of 201 people with schizophrenia. The sampling method was total sampling (all members of the population) which was then obtained based on inclusion criteria, and exceptions for people with schizophrenia who died, moved address, and were no longer detected by the Health Center so that the number of samples was 121 people with schizophrenia. The instrument used to measure quality of life was WHOQOL-BREF. Results: Systematic review study showed that previous research articles were obtained on factors related to the quality of life of people with schizophrenia which will be used as a basis for conducting research in Gorontalo City. Cross-sectional study showed that in the final multivariate modeling showed that the variables related to the quality of life of people with schizophrenia were marital status (p = 0.027), education (p = 0.008) and income (p = 0.002). The most dominant variable related to the quality of life of people with schizophrenia was income. The people with schizophrenia who did not have income were 4.66 times more at risk of having a poor quality of life compared to the people with schizophrenia who had income after being controlled by education and marital status variables (aOR = 4.66 95% CI 1.71-12.58). Conclusion: The variables of education, marriage and income have a significant relationship with the quality of life of People with schizophrenia in Gorontalo City. While the most dominant variable related to the quality of life of People with schizophrenia in Gorontalo City is the income variable. Recommendation: Development of economic empowerment programs for people with schizophrenia, such as financial support and training on how to increase income, is not only aimed at people with schizophrenia, but also at all elements of society in need. Regular monthly assistance for ODS who have no income.

 

Read More
D-586
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neneng Aini; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Herman Kosasih
Abstrak: Terapi antiretroviral mampu menekan replikasi HIV, mencegah morbilitas dan mortalitas. Kepatuhan pengobatan dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan terapi, mencegah resistensi obat antiretroviral dan risiko penularan HIV ditengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan obat antiretroviral pasien HIV/AIDS di empat rumah sakit di DKI Jakarta tahun 20182019. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dari data baseline penelitian INA-PROACTIVE (data sekunder). dimana sebanyak 666 ODHA dipilih sebagai sampel. Kepatuhan pengobatan diukur berdasarkan self report. Data dianalisa dengan menggunakan cox proportional hazard regression dengan perangkat lunak STATA12. Hasil penelitian menunjukkan proporsi kepatuhan <95% sebesar 17,9%. Analisis faktor determinan kepatuhan berobat pada penelitian ini menggunakan analisis multivariat cox regresi dan besar pengaruh dinyatakan dalam prevalensi rasio (PR) dengan confident interval (CI) 95%. Penelitian ini menunjukkan faktor sosio-demografi yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pengobatan pada ODHA yang mendapat terapi ARV adalah variabel jenis kelamin, usia, status pernikahan dan rute transmisi HIV. Faktor klinis yang mempunyai hubungan dengan kepatuhan minum obat ARV adalah variabel adanya riwayat infeksi oportunistik sifilis dan nilai CD4. Faktor pengobatan yang mempunyai hubungan dengan kepatuhan minum obat ARV adalah variabel jenis paduan ARV dan lama pengobatan ARV. Semua variabel tersebut tidak berpengaruh signifkan secara statistik dengan nilai p value > 0,05
Antiretroviral therapy suppresses HIV replication, prevent mobility and mortality. Treatment adherence is needed to achieve therapeutic success, prevent antiretroviral drug resistance and the risk of HIV transmission in the community. This study aims to determine the factors that associated with the adherent of antiretroviral drug treatment of HIV / AIDS patients in four hospitals in Jakarta in 2018-2019. This study was an observational study with a cross sectional design from the baseline data of INAPROACTIVE study (secondary data) from 666 people living with HIV. Treatment compliance was measured by self-report. Data were analyzed using cox proportional hazard regression with STATA12 software. The results showed the proportion of nonadherent by 17.9%, Analysis of determinant factors for compliance with treatment in this study using multivariate cox regression analysis and the magnitude of the effect was expressed in the prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval (CI). Our study showed a proportion of ARV treatment adherence ≥ 95% showed 82.1%. This study showed that the socio-demographic factors associated with ARV treatment adherence among people living with HIV who received ARV therapy were gender, age, marital status and HIV transmission route. Clinical factors that have a relationship with adherence of ARV were the variable history of opportunistic infection syphilis and CD4 value. Treatment factors that have a relationship with adherence of ARV were the variable type of ARV regiment and duration of ARV treatment. All these variables were not statistially significant effect with p value > 0.05.
Read More
T-6120
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evawangi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dadan Erwandi, Renti Mahkota, Yuniar Pukuk Kesuma, Eulis Wulantari
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Di Indonesia, prevalensi skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 populasi. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas Kabupaten Bogor telah meningkat secara signifikan dari 1.648 menjadi 13.390 pada tahun 2013-14. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia di Kabupaten Bogor tahun 2017. Studi kasus kontrol tidak berpasangan dilakukan di 63 puskesmas Kabupaten Bogor mulai Mei-Juni 2017. Kasus adalah penderita skizofrenia yang berusia 15-50 tahun yang didiagnosis oleh dokter / spesialis dan dicatat dalam register pasien puskesmas kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kontrol Adalah orang sehat berusia 15-50 dan berdomisili di Kabupaten Bogor. Sebanyak 229 kasus dan 229 kontrol dipilih dengan teknik multistage sampling. Probability proportional to size digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari masing-masing puskesmas. Kuesioner semi terstruktur yang telah diuji sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dari kontrol dan salah satu anggota keluarga kasus. Test Chi Square dan regresi logistik multivariat diterapkan untuk analisis data. Faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia: jenis kelamin laki-laki (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4,96 -27.50), riwayat keluarga skizofrenia (AdjOR: 4.02; 95% CI: 1,90-8,48), pendidikan dasar AdjOR: 30,63; 95% CI: 4.21-222.81), pendidikan menengah (AdjOR: 25,35; 95% CI: 3,51-182.90), pengangguran (AdjOR: 5,6; 95% CI 2,52-12,45), tidak menikah (AdjOR: 8,20; 95% CI 2,52-12,45), masalah dalam keluarga (AdjOR: 4,93; 95% CI 2,43-9,99) dan masalah di tempat kerja / sekolah (AdjOR: 32.60; 95% CI 7.29 - 145.76 ). Dalam studi ini, faktor biologis (laki-laki dan riwayat keluarga skizofrenia), sosio-demografi (tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja dan tidak menikah) dan faktor lingkungan (masalah dalam keluarga dan tempat kerja/sekolah) berhubungan dengan skizofrenia. Studi analitis prospektif diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan ini.

Kata kunci: Skizofrenia, kasus kontrol, Kabupaten Bogor

Schizophrenia is a a chronic and severe mental disorder that affects thinking, feeling, and behavior of a person. In Indonesia, the prevalence of schizophrenia is 1.7 per 1,000 populations. The number of visits of mental disorders in puskesmas of Bogor Regency has increased significantly from 1,648 to 13,390 in 2013-14. This study aimed to determine the factors associated with schizophrenia in Bogor Regency 2017. An unmatched case-control was conducted in 63 health centers of Bogor regency from May-June 2017. Cases were schizophrenic patient aged 15-50 years diagnosed by physicians/specialists and recorded in the register of Bogor district health centers in 2017. Controls were the healthy people aged 15-50 and domiciled in Bogor Regency. A total of 229 cases and 229 controls were selected by multistage sampling technique. Probability proportional to size was usedto determine the number of samples from each puskesmas. A pre-tested semi structured questionnaires was used to collect relevant data from controls and one of the family members of cases. Chi square test and multivariate logistic regression were applied for data analysis. Folowing factors were associated with schizophrenia: male gender (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4.96 -27.50), family history of schizophrenia (AdjOR: 4.02; 95 %CI: 1,90-8,48), basic education (AdjOR: 30.63; 95%CI: 4.21-222.81), secondary education (AdjOR: 25.35; 95% CI: 3.51-182.90), unemployed (AdjOR: 5.6; 95 %CI 2,52-12,45), unmarried (AdjOR: 10,20; 95%CI 2,52-12,45), problems in the family (AdjOR: 4.93; 95%CI 2.43-9.99) and problems at work / school (AdjOR: 32.60; 95%CI 7.29 - 145.76). In the study setting, biological (male and family history of schizophrenia),sociodemographic (low level of education, unemployment and unmarried) and environmental factors (problems in family, workplaceor school) were associated with schizophrenia. Prospective analytical studies are needed to further explore these associations.

Keywords: Schizophrenia, case control, Bogor district
Read More
T-5080
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Naziyati Nur Haliza; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Asep Surahman
Abstrak:
Berdasarkan data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), terdapat 540.000 orang hidup dengan HIV di Indonesia pada tahun 2023, dengan 26.000 kematian terkait HIV dan 24.000 kasus baru ditemukan pada tahun yang sama. Dengan tingginya tingkat prevalensi HIV di Indonesia, pengobatan antiretroviral (ARV) menjadi sangat penting dalam upaya penanggulangan. Namun, data WHO menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% pasien penyakit kronis, termasuk HIV, yang patuh terhadap pengobatan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan terhadap pengobatan ARV dengan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di UOBK dr. Slamet tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode potong-lintang (cross-sectional). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat untuk melihat hubungan antara kepatuhan minum obat ARV dan kualitas hidup ODHA. Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa mayoritas responden dengan kepatuhan tinggi terhadap pengobatan ARV memiliki kualitas hidup yang baik sebesar 91,7%. Sebaliknya, mayoritas responden dengan kepatuhan rendah terhadap pengobatan ARV memiliki kualitas hidup yang buruk sebesar 69,1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat ARV dengan kualitas hidup ODHA di UOBK dr. Slamet Kabupaten Garut, dengan nilai Prevalence Ratio (PR) 1,328 (95% CI 1,091 – 1,618) dan 2,964 (95% CI 2,150 – 4,085). Artinya, responden dengan kepatuhan minum obat ARV sedang dan rendah memiliki kemungkinan 1,328 dan 2,964 kali lebih besar secara berurutan untuk memiliki kualitas hidup yang buruk dibandingkan dengan responden yang memiliki kepatuhan tinggi terhadap pengobatan ARV. Kepatuhan terhadap pengobatan ARV memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHA. Peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan ARV diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA di UOBK dr. Slamet Kabupaten Garut.

According to the United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), there were 540,000 people living with HIV in Indonesia in 2023, with 26,000 HIV-related deaths and 24,000 new cases discovered in the same year. With the high prevalence of HIV in Indonesia, antiretroviral (ARV) treatment plays a crucial role in managing the epidemic. However, WHO data indicates that only about 50% of patients with chronic diseases, including HIV, adhere to the prescribed treatment. This study aims to analyze the relationship between adherence to ARV therapy and the quality of life of people living with HIV/AIDS (PLWHA) at UOBK dr. Slamet in 2024. This study is an observational analytic study conducted using a cross-sectional method. Data analysis was performed univariately and bivariately to examine the relationship between adherence to ARV medication and the quality of life of PLWHA. The analysis found that the majority of respondents with high adherence to ARV therapy had a good quality of life, accounting for 91.7%. Conversely, the majority of respondents with low adherence to ARV therapy had a poor quality of life, accounting for 69.1%. There was a significant relationship between adherence to ARV medication and the quality of life of PLWHA at UOBK dr. Slamet, Garut Regency, with a Prevalence Ratio (PR) of 1.328 (95% CI 1.091 – 1.618) and 2.964 (95% CI 2.150 – 4.085). This indicates that respondents with moderate and low adherence to ARV therapy were 1.328 and 2.964 times more likely, respectively, to have a poor quality of life compared to respondents with high adherence to ARV therapy. Adherence to ARV therapy is significantly associated with the quality of life of PLWHA. Improving adherence to ARV therapy is expected to enhance the quality of life of PLWHA at UOBK dr. Slamet, Garut Regency.
Read More
S-11787
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anna Sunita; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
S-3224
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Nadia; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Indra Kurnia Sari
Abstrak: ABSTRACT
 
 
Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada balita. Terdapat lima provinsi dengan prevalensi pneumonia pada balita tertinggi yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat pada tahun 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah anak berusi 1-4 tahun yang terdapat pada data SDKI 2012. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan sampel sebanyak 1.134 balita. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistik untuk mempredikasi kejadian pneumonia. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi dari pneumonia di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat sebesar 12. Berdasarkan analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian pneumonia pada balita adalah pemberian vitamin A p = 0.038, pendidikan ibu p = 0.001 dan status merokok ART didalam rumah p = 0.016. Penelitian ini menambahkan bukti bahwa faktor yang berkaitan dengan rumah tangga dapat dimodifikasi atau dihilangkan dalam mengurangi kejadian pneumonia pada balita. Memaksimalkan upaya pendekatan keluarga dalam mengendalikan faktor risiko pneumonia perlu dilakukan dalam pencegahan pneumonia.
 

 
ABSTRACT
 
 
PneumoniaIs one of the biggest causes of death in children. Five provinces with the highest prevalence of pneumonia in Indonesia are Central Sulawesi, Southeast Sulawesi, Gorontalo, West Sumatera and West Kalimantan. The purpose of this study was to determine the factors associated to the incidence of pneumonia in toddlers in Central Sulawesi, Southeast Sulawesi, Gorontalo, West Sumatera and West Kalimantan in 2012. The study population was children aged 1-4 years that were included in the 2012 Indonesia Demographic and Health Survey. This study used a cross sectional design with a sample of 1,134 toddlers. A logistic regression was performed to analyze factors that predict the incidence of pneumonia. The results showed the incidence of pneumonia in toddlers was 12. Multivariate analysis showed the factors that were significantly predicted the incidence of pneumonia in toddlers were vitamin A supplement p 0.038, low maternal education p 0.001 and household member smoking p 0.016. This study adds the evidence of factors within household that can be modified or eliminated to reduce the incidence of pneumonia among toddlers. Strengthening family approaches in controlling pneumonia risk factors should be done in the prevention of pneumonia.
Read More
S-9880
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sonya Audrelianti Rizal; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Haridana Indah Setiawati Mahdi
Abstrak: Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan jenis retrovirus yang menginfeksi dan merusak sel imun dalam tubuh penderita. Virus ini menyerang dan bermultiplikasi pada sel limfosit CD4 hingga melemahkan dan menghancurkan sistem imun tersebut. HIV yang tidak tertangani akan menyebabkan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) yang menyebabkan tuberculosis, diabetes melitus, dan kanker. Menurut Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2022 terdapat 90.956 kasus HIV dengan 28.501 kasus kematian. Kanker merupakan penyakit yang umum terjadi pada pasien HIV dimana pasien HIV 50-200 kali lebih tinggi dibandingkan individu yang sehat sehingga muncul kepentingan untuk menekan angka terjadinya kanker melalui beberapa upaya seperti pengadaan layanan konseling HIV, melakukan pengobatan ART dan skrining infeksi oportunistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian kanker pada ODHIV menggunakan data rekam medis Rumah Sakit Kanker Dharmais. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan chi-square dan menampilkan nilai prevalence ratio (95% CI). Berdasarkan analisis, terdapat hubungan yang signifikan antara total CD4, jenis kelamin, dan infeksi oportunistik di Rumah Sakit Kanker Dharmais OR total CD4 <200 3,843 (95% CI 1,741-8,484), OR total CD4 200-499 0,595 (95% CI 0,348-1,007), OR ODHIV perempuan sebesar 0,447 (95% CI 0,271-0,738) dan OR ODHIV dengan infeksi oportunistik 0,327 (95% CI 0,248-0,431).
Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a type of retrovirus that infects and damages immune cells in the body. This virus targets and multiplies within CD4 lymphocyte cells, weakening and eventually destroying the immune system. Untreated HIV leads to acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), which is associated with opportunistic infections such as tuberculosis, diabetes mellitus, and cancer. According to the Indonesian Ministry of Health, in 2022 there were 90,956 HIV cases with 28,501 deaths reported. Cancer is a common disease among HIV patients, who have a 50-200 times higher risk compared to healthy individuals, highlighting the need to reduce cancer incidence through efforts such as providing HIV counselling services, administering ART treatment, and screening for opportunistic infections. This study aims to identify factors associated with cancer incidence in PLHIV using medical record data from Dharmais Cancer Hospital. The research employs a cross-sectional study design. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, with chi-square tests and prevalence ratios (95% CI) presented. Based on the analysis, significant associations were found between total CD4 count, gender, and opportunistic infections. At Dharmais Cancer Hospital, the relative risk (OR) for total CD4 <200 was 3.843 (95% CI 1.741-8.484), for total CD4 200-499 was 0.595 (95% CI 0.348-1.007), for female PLHIV was 0.447 (95% CI 0.271-0.738), and for PLHIV with opportunistic infections was 0.327 (95% CI 0.248-0.431).
Read More
S-11865
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Marlysawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda; Helwiah Umniyanti; Rizky Hasby
Abstrak:

Penilaian kualitas hidup merupakan kunci dalam memahami dampak AIDS terhadap kehidupan orang yang hidup dengan HIV&AIDS. Orang dengan HIV menjadi rentan terhadap masalah kesehatan, ekonomi dan psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup ODHIV. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan teknik Consecutive Sampling terpilih 102 orang responden di 3 Yayasan Kota Kupang yang berusia ≥18 tahun, telah menjalani terapi ARV >1 bulan dan bersedia menjadi responden. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2023. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang dilakukan adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji cox regression. Hasil bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan antara depresi (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), dukungan sosial (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407) dan dukungan sebaya (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) dengan kualitas hidup ODHIV sedangkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, tingkat pendapatan, stigma, lama terapi ARV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODHIV. Berdasarkan uji mulitivariat faktor yang paling dominan mempengaruhi kualitas hidup ODHIV adalah dukungan sebaya (p=0,018; PR=2,15; 95%CI 1,14 – 4,08). Kata Kunci: HIV&AIDS, kualitas hidup, ODHIV.


 

Quality of life assessment is key in understanding the impact of HIV&AIDS on the lives of people living with HIV&AIDS. People with HIV become vulnerable to health, economic and psychosocial problems that can affect their quality of life. The aim of this research is to analyze the factors that influence the quality of life of PLHIV. This research used a cross sectional study design with Consecutive Sampling technique, selecting 102 respondents from 3 Yayasan Kota Kupang aged ≥18 years who had undergone ARV therapy for >1 month and were willing to be respondents. The research was conducted in November – December 2023. The instrument used in this research was a questionnaire. The data analysis carried out was bivariate analysis using the chi-square test and multivariate analysis using the cox regression test. The research results showed that there was a significant relationship between depression (p=0,007; PR= 1,742; 95%CI 1,136 – 2,669), social support (p=0,003; PR=1,707; 95%CI 1,210 – 2,407), peer support (p=0,000; PR=2,380; 95%CI 1,423 – 3,980) with quality of life for PLHIV, meanwhile, age, gender, education level, marital status, employment status, income level, stigma, duration of ARV therapy do not have a significant relationship with the quality of life of PLHIV. The most dominant factor in the quality of life of PLHIV is peer support PR=2.15 (95%CI 1.14 – 4.08). Key words: HIV&AIDS, quality of life, PLHIV

Read More
T-6879
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Yani Suryana; Pembimbing: Buchari Lapau; Penguji: Luknis Sabri, Tri yunis Miko Wahyono, Sri Utami
Abstrak: Suksesnya pembangunan kesehatan dan gizi yang dilaksanakan Indonesia telah dapat menurunkan masalah gizi yang dihadapi secara bermakna. Tetapi suksesnya pembangunan tersebut mengakibatkan pula perubahan pola penyakit yang ada di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat berkurang, sebaliknya penyakit degenaratif dan penyakit kanker meningkat. Peningkatan kemakmuran ternyata diikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di kota-kota besar bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran dan serat ke pola makanan masyarakat barat yang komposisinya terlalu banyak mengandung lemak, protein, gula dan garam tetapi miskin serat. Sejalan dengan itu pada beberapa tahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalerisi kegemukan/obesitas pada sebagian penduduk Indonesia terutama di kota-kota besar, yang diikuti pula pada akhir-akhir ini di pedesaan.
 
Kelebihan gizi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit batu kandung empedu. Salah satu faktor yang berperan adalah adanya kebiasaan makan-makanan trendi, makan-makan berlemak. Disamping itu faktor aktivitas fisik juga berperan dalam mengatur kebutuhan energi, dalam hal ini menyangkut aktivitas pekerjaan dan aktivitas olah raga. Selain itu faktor-faktor lain yang berperan adalah umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya masalah status gizi lebih dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor.
 
Desain penelitian ini adalah "cross sectional" dengan memanfaatkan data sekunder hasil pengumpulan data status gizi pada orang dewasa yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 1997. Kemudian data yang diperoleh dianalisa baik secara bivariat maupun multivariat dengan menggunakan regresi logistik antara faktor risiko (kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan olah raga) dengan status gizi lebih pada orang dewasa.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor adalah sebesar 23,88% (klasifikasi Depkes).
 
Berdasarkan hasil analisis bivariat faktor risiko yang mempunyai hubungan bermakna antara lain : kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.
 
Dari hasil analisis model multivariat dengan memasukkan secara bersama-sama semua faktor risiko yang diduga mempunyai hubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa. dapat diketahui ada tiga faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa yaitu, kebiasaan makan-makanan trendi, umur dan jenis kelamin.
 
Selanjutnya dari analisis model regresi menunjukkan bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok orang dewasa yang berumur 30-39 tahun kejadiannya 2,96 kali lebih tinggi, 40-49 tahun kejadiannya 5,01 kali lebih tinggi, 50-59 tahun kejadiannya 3,91 kali lebih tinggi, 60-65 tahun kejadiannya 2,73 kali lebih tinggi. dibandingkan kelompok umur < 30 tahun. Selain itu juga dapat diketahui hasil dari analisis model regresi bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok yang jarang mengkonsumsi makan-makanan trendi 1,31 kali lebih tinggi dan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kejadiannya 2,97 kali lebih tinggi, dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah mengkonsumsinya. Sementara itu proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok orang dewasa yang berjenis kelamin perempuan 2,29 kali lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
 
Terdapat interaksi faktor kebiasaan makan-makanan trendi dengan jenis kelamin dalam kaitannya dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor . Dimana pada kelompok perempuan yang jarang(1-4 kali/bulan) mengkonsumsi makan-makanan trendi proporsi status gizi lebilmya kemungkinannya 0,73 kali dari kelompok laki-laki yang jarang mengkonsumsinya. Demikian pula proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok perempuan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kemungkinannya 0,32 kali dari kelompok laki-laki yang sering mengkonsumsinya.
 

Factors Related to the Status of Excess of Nutrition on Adults in Bogor in 1997 (Analysis of Secondary Data)The success on health and nutrition development program carried out has been able to decrease nutritious problem that is faced by Indonesian significantly. However, the development also results in changing disease pattern that exists in Indonesia. Infectious disease and malnutrition seems decreased, on the contrary the generative and cancer diseases increased. The increasing of prosperity is followed by the changing of life style. The pattern of having food especially in the big cities moves from a traditional food pattern that consumes a lot of carbohydrate, vegetables and fiber into having a western food pattern that consumes a lot of fat, protein, sugar and salt but consumes less fiber. As consequences, the increase of over weight prevalent value can be seen in recent years in many part of Indonesia, especially in the big cities and also followed by the villages recently.
 
Excess in nutrition can cause various health problems such as coronary heart, diabetes, hypertension, and gall stone. One factor which plays role is a habit of consuming trend food and fat food. Moreover, physical activity factor also plays role in regulating energy need which includes work and exercise activity. Besides that, other factors that plays role are age, gender and education level.
 
The purpose of this research is to know the problems of excess of nutrition status and its related factors on the adults in Bogor.
 
This research design is "cross sectional" by utilizing secundary data on nutritional status of adults. This data collected by Directorate for the Establishment of Nutrition for Community (Direktorat Bina Gizi Masyarakat), Health Department (Departemen Kesehatan) Republic of Indonesia and Health Service Bogor in 1997. The collected data was analyzed by either ` bivariat" or "multivariat" using "Logistic Regression" between risk factors (habit of having trend food, habit of having fat food, age, gender, education level, type of jobs and exercise) and excess of nutrition status of the adults.
 
The result shows that the excess of nutrition status prevalent of adults in Bogor is 23,88% (Depkes' classification). According to the analysis of "Bivariat" model, the risk factors which have significant relation are: habit of having trend food, habit of having fat food, ages, gender, education levels, and type of jobs.
 
From the analysis of "multivariat" model using all of the risk factors that are assumed has =elation with the excess of nutrition status of adults, found that there are three risk factors related to the excess of nutrition status of the adults. The three risk factors are habit of having trend food, ages and gender.
 
Further more, regression analysis model shows that the proportion of excess of nutrition status of the adults in Bogor compare to the group of people with less than 30 years old are as follows:
 
- Group with the age between 30 and 39 is 2.96 higher,
 
- Group with the age between 40 and 49 is 5.01 higher,
 
- Group with the age between 50 and 59 is 3.91 higher, and
 
- Group with the age between 60 and 69 is 2,73 higher.
 
Besides that, the regression analysis model also shows that:
 
- the proportion of excess to nutrition status of the adults in Bogor for a group of people that seldom consumed trend food is 1.31 higher compare to that of group that never consumed trend food, and The group that often consumed trend food is 2.97 higher compare to that of group that never consumed trend food.
 
Meanwhile the proportion of excess of nutrition status of the female adults is 2.29 higher than male adults.
 
There is interaction between the habit of having trend food factor and gender that is related to excess of nutrition status of the adults in Bogor. The female group that seldom (1-4 times/month) consumed trend food; the proportion of their excess of nutrition status is 0.73 more than the male group that seldom consumed it. The proportion of excess of nutrition status of the female adults that often consumed trend food is 0.32 higher than the male group that often consumed trend food.
Read More
T-1319
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessi Marantika Nilam Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Helwiah Umniyati, Suyono
Abstrak:
Kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor risiko munculnya jenis HIV yang resisten terhadap obat, yang dapat ditularkan kepada orang lain. Kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk tidak hanya membahayakan kesehatan individu tetapi juga meningkatkan penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ketidakpatuhan minum obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2023 menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa usia ≥ 35 tahun (56,45), laki-laki (61,20%), pendidikan rendah (87,10%), belum kawin atau cerai (51,92%), domisili dalam kabupaten Tangerang (55,88%), mendapatkan konseling kepatuhan (63,73%), memiliki jaminan kesehatan (51,92%), ≥5km akses layanan kesehatan (54,07%), IO non TB (40,90%), stadium lanjut (63,69%), viral load ≥40 mL (46,73%), tidak ada efek samping obat (53,34%), lamanya pengobatan >5 tahun (72,01%), masuk kedalam populasi kunci (88,01%) dan tidak mendapat dukungan (61,12%). Hasil analisis kai kuadrat secara statistik ada hubungan antara umur, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, domisili, pelayanan konseling kepatuhan, stadium klinis WHO, viral load, lamanya pengobatan ARV, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya (P-Value<0,05) dengan ketidakpatuhan minum obat ARV. Hasil analisis cox regression dengan faktor yang secara statistik berhubungan terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral pada ODHIV adalah umur (P-Value=0,01) nilai PR 1,20 dengan 95% CI (1,05-1,38), status perkawinan (P-Value=0,02) nilai PR 1,18 dengan 95% CI (1,03-1,36), domisili (P-Value=0,01) nilai PR 1,19 dengan 95% CI (1,04-1,36), viral load (P-Value=0,001) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,10-1,43), lamanya pengobatan ARV (P-Value=0,005) nilai PR 1,25 dengan 95% CI (1,07-1,47), kelompok populasi kunci (P-Value=0,02) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,04-1,56), dukungan teman sebaya (P-Value=0,04) nilai PR 1,15 dengan 95% CI (1,00-1,32). Faktor umur, status perkawinan, domisili, viral load, lamanya pengobatan, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya memiliki pengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHIV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.

Lack of treatment adherence becomes a risk factor for the emergence of drug-resistant strains of HIV, which can be transmitted to others. Poor adherence to treatment harms the individual’s health and increases the risk of transmission. This study aims to observe the factors associated with the occurrence of non-adherence to taking ARV drugs in PLHIV who receive ARV therapy at the Regional General Hospital of Tangerang Regency. This type of study uses observational research with a cross-sectional design. The study was conducted at the HIV Specialist of the Regional Govern Hospital of Tangerang Regency and the time of the study was carried out in November 2023 using secondary data. The study population amounted to 1,337 PLHIV who were actively undergoing antiretroviral treatment at the Regional General Hospital of Tangerang Regency using total sampling by inclusion and exclusion criteria so that the study sample amounted to 1,286 PLHIV. The results of the univariate analysis showed that the age of ≥ 35 years (56.45), male (61.20%), low education (87.10%), unmarried or divorced (51.92%), domiciled in Tangerang district (55.88%), received compliance counselling (63.73%), had health insurance (51.92%), ≥5km of health service access area (54.07%), non-TB IO (40.90%), advanced stage (63.69%), viral load ≥40 mL (46.73%), no drug side effects (53.34%), duration of treatment ≥5 years (72.01%), entered into key populations (88.01%) and received no support (61.12%). The results of the kai squared analysis statistically showed there was an association between age, sex, educational status, marital status, domicile, adherence to counselling services, WHO clinical stage, viral load, duration of ARV treatment, key population groups and peer support (P-Value<0.05) with non-adherence to taking ARV drugs. The results of Cox Regression analysis with factors statistically related to non-adherence to taking antiretroviral drugs in ODHIV were age (P-Value = 0.01), PR value 1.20 with 95% CI (1.05-1.38), marital status (P-Value = 0.02), PR value 1.18 with 95% CI (1.03-1.36), domicile (P-Value = 0.01), PR value 1.19 with 95% CI (1.04-1.36), viral load (P-Value = 0.001), PR value 1.27 with 95% CI (1.10-1.43), duration of ARV treatment (P-Value = 0.005), PR value 1.25 with 95% CI (1.07-1.47), key population group (P-Value = 0.02), PR value 1.27 with 95% CI (1.04-1.56), peer support (P-Value = 0.04), PR value 1.15 with 95% CI (1.00-1.32). Factors such as age, marital status, domicile, viral load, duration of treatment, key population groups and peer support have an influence on non-adherence to taking antiretroviral drugs (ARV) in PLHIV at the Regional General Hospital of Tangerang Regency.
Read More
T-6876
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive