Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38353 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Michelle Kim; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yulianti Wibowo
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih di area perut (intra-abdominal fat) yang berperan sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik. Di Indonesia, termasuk wilayah Jakarta, prevalensi obesitas sentral menunjukkan tren peningkatan. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah pola konsumsi minuman berpemanis atau Sugar-Sweetened Beverages (SSB), yakni minuman yang mengandung pemanis berkalori tinggi seperti soda, minuman rasa buah, teh/kopi kemasan, dan sejenisnya. Konsumsi SSB meningkat seiring dengan kemudahan akses dan kecenderungan masyarakat menjadikannya sebagai pelarian saat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas sentral pada kelompok dewasa di perusahaan X. Penelitian dilakukan pada bulan April 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan metode purposive sampling, melibatkan 86 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi SSB (p=0,002), asupan energi (p=0,009), dan asupan karbohidrat (p=0,001) dengan kejadian obesitas sentral. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara obesitas sentral dengan aktivitas fisik (p=0,536), jenis kelamin (p=1,000), pengetahuan mengenai SSB (p =0,647), asupan lemak (p=0,219), dan asupan serat (p=0,376). Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi SSB, asupan energi, dan karbohidrat perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan obesitas sentral di kalangan dewasa pekerja.

Central obesity is a condition characterized by excessive fat accumulation in the abdominal area (intra-abdominal fat), which serves as a major risk factor for cardiovascular diseases and metabolic syndrome. In Indonesia, including the Jakarta area, the prevalence of central obesity continues to rise. One contributing factor is the pattern of consuming sugar-sweetened beverages (SSBs), which are drinks containing high-calorie sweeteners, such as soda, fruit-flavored drinks, packaged tea/coffee, and other sweetened liquid products. SSB consumption has increased due to easier access and the tendency for individuals to use these beverages as a coping mechanism during stress. This study aimed to examine the relationship between SSB consumption and the incidence of central obesity among adults in Company X. The research was conducted in April 2024 using a cross-sectional design and purposive sampling method, involving 86 respondents. The results showed a significant association between SSB consumption (p=0.002), energy intake (p=0.009), and carbohydrate intake (p=0.001) with the incidence of central obesity. Meanwhile, no significant association was found between central obesity and physical activity (p=0.536), sex (p=1.000), knowledge about SSB (p=0.647), fat intake (p=0.219), or fiber intake (p=0.376). These findings suggest that SSB consumption, energy intake, and carbohydrate intake are important factors to consider in efforts to prevent central obesity among working adults.
Read More
S-11921
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibisana Nauval Aqil Sidopekso; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fajrinayanti
Abstrak:
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan proporsi obesitas sentral berdasarkan perilaku konsumsi makanan berisiko dan pola hidup sehat pada wanita usia produktif (15–40 tahun) di DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Desain potong lintang dengan analisis chi-square digunakan pada data sekunder. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sentral 45,7%. Konsumsi makanan/minuman manis, berlemak, daging olahan, makanan instan, rendahnya konsumsi buah-sayur, dan kurang aktivitas fisik berkorelasi signifikan dengan obesitas sentral (p<0,05). Hasil ini mendukung pentingnya intervensi perilaku dan kebijakan promosi hidup sehat.


Central obesity is abdominal fat accumulation increasing risk of degenerative diseases. This study analyzed differences in central obesity prevalence based on risky food consumption behaviors and healthy lifestyle patterns among women aged 15–40 years in DKI Jakarta using 2023 Indonesian Health Survey data. A cross-sectional design with chi-square analysis was applied. Results showed 45.7% prevalence of central obesity. Consumption of sugary foods/drinks, fatty foods, processed meats, instant foods, low fruit-vegetable intake, and insufficient physical activity were significantly associated with central obesity (p<0.05). Findings underscore the need for behavioral interventions and health promotion policies.
Read More
S-12145
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silviani J. Prissa; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ansar Mursaha dan Ari Nofitasari
Abstrak:
Stunting juga dikenal sebagai "pendek", adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Berdasarkan hasil SSGI tahun 2022, Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat ke 6 dengan prevalensi stunting mencapai 28,2%, turun 1,5% dari tahun 2021 yaitu 29,7% (peringkat 8). Namun, angka ini masih lebih tinggi dari rata–rata nasional sebesar 21,6 persen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang faktor determinan stunting pada anak usia 6–23 bulan di Provinsi Sulawesi Tengah. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi faktor anak, faktor ibu dan faktor rumah tangga. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik berganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan, faktor anak (jenis kelamin, berat badan lahir, ISPA dan riwayat imunisasi), faktor ibu (pendidikan ibu), faktor rumah tangga (ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi jamban, jumlah balita dalam keluarga) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan adalah BBLR (OR: 2,306) setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, ISPA, riwayat imunisasi, pendidikan ibu, sanitasi jamban, dan jumlah balita dalam keluarga.

Stunting, also known as “shortness”, is a condition of failure to thrive in children under 5 years of age due to chronic malnutrition and recurrent infections especially in the period of the First 1,000 Days of Life (HPK), which is from the fetus until the child is 23 months old. Based on the results of the SSGI in 2022, Central Sulawesi Province is ranked 6th with a stunting prevalence of 28.2%, down 1.5% from 2021 which was 29.7% (rank 8). However, this figure is still higher than the national average of 21.6 percent. This study is a quantitative study with a cross-sectional design that determines stunting in children aged 6–23 months in Central Sulawesi Province. Independent variables in this study include child factors, maternal factors and household factors. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression of the determinant model. The results showed that child factors (gender, birth weight, ARI and immunization history), maternal factors (mother's education), household factors (household food security, latrine sanitation, number of toddlers in the family) were associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months. The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 6–23 months is LBW (OR: 2.306) after being controlled by variables of gender, ARI, immunization history, maternal education, latrine sanitation, and number of toddlers in the family
Read More
T-7053
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marsella Syah Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Anemia gizi besi (AGB) masih menjadi masalah gizi mikro yang umum dialami oleh remaja perempuan di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi AGB adalah dengan mewajibkan fortifikasi zat besi pada tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada siswi SMAN 34 Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 65 siswi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu sebesar 4,19 ± 1,58 mg/hari (27,93% dari AKG). Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara frekuensi jajan, uang jajan, pengaruh teman, dan ketersediaan makanan berbahan tepung terigu dengan asupan zat besi (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor berpengaruh terhadap kontribusi pangan berbahan tepung terigu terhadap kecukupan zat besi. 

Iron deficiency anemia (IDA) remains a prevalent micronutrient deficiency among adolescent girls in Indonesia. One of the government’s strategies to address IDA is mandatory iron fortification in wheat flour. This study aimed to analyze the differences in average iron intake from wheat-based foods based on influencing factors among female students at SMAN 34 Jakarta in 2025. A cross-sectional design was used with a total of 65 respondents. The results showed that the average iron intake from wheat-based foods was 4.19 ± 1.58 mg/day, which only meets 27.93% of the recommended dietary allowance (RDA). Significant differences were found in iron intake based on snacking frequency, amount of pocket money, peer influence, and availability of wheat-based foods at home (p < 0.05). It can be concluded that both internal and external factors influence iron adequacy from wheat-based foods among adolescents.
Read More
S-11893
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vioreyna Towi; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak:
Penilaian konsumsi gizi/dietary assessment merupakan metode penilaian status gizi untuk mendapatkan informasi terkait pola makan, baik berupa jumlah, jenis, hingga frekuensi pangan yang dikonsumsi. Salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian dengan topik pangan dan kesehatan adalah metode semiquantitative food frequency questionnaires (SFFQ). Namun, SFFQ memiliki berbagai kelemahan, salah satunya yaitu daftar makanan dalam kuesioner tidak dapat ditanyakan seluruhnya kepada seluruh kelompok populasi, sehingga diperlukan adaptasi serta tes validitas. Bahan makanan dalam SFFQ disusun berdasarkan penelitian terdahulu, hasil uji coba, dan observasi lingkungan sasaran. SFFQ yang terbentuk terdiri dari 19 bahan makanan dan 135 jenis pangan. Perbandingan dilakukan kepada satu kali pengambilan SFFQ untuk mencatat asupan selama sebulan terakhir dengan dua kali pengambilan 24-hour food recall untuk mewakili weekday dan weekend sebagai real intake. Sebanyak 73 siswa kelas 11 dengan rentang usia 16-18 tahun ikut serta dalam penelitian. Hasil uji t berpasangan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara asupan energi, karbohidrat, dan protein SFFQ dengan recall. Setelah dilakukan energy adjustment, hasil uji korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan SFFQ dengan recall. Hasil uji validitas menunjukkan tingkat validitas sedang (fair) dengan catatan hasil recall weekend saja tidak dapat dianggap sebagai asupan rata-rata harian akibat variance yang terlalu besar.

Dietary assessment is a method used to evaluate nutritional status by collecting information on eating patterns, including the quantity, types, and frequency of foods consumed. One commonly used tool in public health nutrition research is the semi-quantitative food frequency questionnaire (SFFQ). However, SFFQ has several limitations, including the fact that its food list may not be universally applicable across different population groups, requiring cultural adaptation and validation. The food items included in SFFQ were selected based on previous studies, preliminary testing, and environmental observations of the target population. The finalized SFFQ consisted of 19 food groups and 135 food items. A single SFFQ reflecting intake over the previous month was compared against two 24-hour food recalls representing weekday and weekend as the real intake. A total of 73 eleventh-grade students aged 16–18 years participated in the study. Paired t-test showed significant differences in energy, carbohydrate, and protein intake between SFFQ and recalls. After energy adjustment, correlation analysis showed no significant associations between nutrients derived from SFFQ and those from recalls. The validation results indicated a fair level of validity. However, recall data from the weekend alone should not be considered representative of usual daily intake due to high variability.
Read More
S-11930
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jesslyn Valentina; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Masyitoh, Puput Oktamianti, Anthony Jayaprana, Melanie Vandauli Fabiola
Abstrak:

Latar Belakang: Proses pre-registrasi pasien rawat inap di RS Mayapada Tangerang terdiri dari tiga fase utama, yaitu penerimaan berkas admission, review asuransi, serta konfirmasi jadwal dan persiapan pasien. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pre-registrasi dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki guna meningkatkan efisiensi pelayanan dengan.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Lean six sigma dengan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Data dikumpulkan melalui observasi langsung, pencatatan waktu proses, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama tim terkait. Analisis dilakukan menggunakan Value Stream Mapping (VSM) untuk mengidentifikasi aktivitas bernilai tambah, serta Pareto Analysis dan Problem Tree Analysis untuk menemukan akar penyebab pemborosan dan keterlambatan.
Hasil: Analisis terhadap alur dan capaian waktu proses menunjukkan adanya ketidakefisienan, dengan total waktu mencapai 26 jam 1 menit 48 detik. Proporsi aktivitas bernilai tambah (Value added) tercatat sebesar 71%, sementara 29% lainnya tergolong Non-Value added, dengan pemborosan terbesar terjadi pada fase review asuransi akibat waktu tunggu yang panjang dan aktivitas berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis Lean six sigma efektif dalam meningkatkan efisiensi, ditandai dengan penurunan lead time pada fase post-intervensi. Pada fase I dan II terjadi perbaikan signifikan, seperti penyederhanaan proses konfirmasi DPJP, percepatan verifikasi dokumen, serta pengurangan waktu tunggu pada proses review asuransi.
Kesimpulan: Penerapan Lean six sigma mampu memberikan dampak positif terhadap optimalisasi proses pre-registrasi pasien rawat inap di RS Mayapada Tangerang.


Background        : The inpatient pre-registration process at Mayapada Hospital Tangerang consists of three main phases: admission document submission, insurance review, and confirmation of schedule and patient preparation. This study aims to evaluate the pre-registration process and identify areas that need improvement to enhance service efficiency. Method        : This research uses the Lean six sigma approach with the DMAIC method (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control). Data were collected through direct observation, process time tracking, and focus group discussions (FGDs) with relevant teams. The analysis was conducted using Value Stream Mapping (VSM) to identify value-added activities, along with Pareto Analysis and Problem Tree Analysis to determine the root causes of waste and delays. Results        : Analysis of the process flow and time achievements revealed inefficiencies, with a total duration of 26 hours, 1 minute, and 48 seconds. The proportion of Value-Added (VA) activities was recorded at 71%, while the remaining 29% were classified as Non-Value added (NVA), with the most significant waste occurring during the insurance review phase due to long waiting times and repetitive tasks. The results showed that Lean six sigma-based interventions were effective in improving efficiency, as indicated by a reduction in lead time during the post-intervention phase. Significant improvements were observed in Phases I and II, including the simplification of DPJP (attending physician) confirmation, acceleration of document verification, and reduction in waiting time during the insurance review process. Conclusion        : The implementation of Lean six sigma has a positive impact on optimizing the inpatient pre-registration process at Mayapada Hospital Tangerang

 

Read More
B-2526
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfian Wahyu Utama; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Sektor industri konstruksi merupakan salah satu sektor yang memiliki risiko tertinggi terkait keselamatan dan kesehatan kerja. Tingkat kematangan budaya keselamatan dari suatu proyek dan lokasi kerja memiliki peran penting untuk terciptanya budaya kerja yang aman sehingga risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir dan dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kematangan budaya keselamatan di salah satu proyek PT. T yang merupakan proyek ekspansi pabrik pembuatan pelumas desesuaikan dengan konsep safety culture , serta menganalis bagaimana budaya keselamatan diterapkan antara karyawan direct dan indirect, karyawan Main contractor dan karyawan subcontractor, antara karyawan dengan rentan usia dibawah 25 tahun dan karyawan dengan rentan usia diatas 25 tahun dan karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja lebih dari 1 tahun spesifik di proyek. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional, menggunakan kuisioner, terhadap sampel 273 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profil tingkat penerapan budaya keselamatan kerja yang diukur menunjukkan bahwa secara umum, budaya keselamatan di proyek PT. T berada pada tingkat baik dengan level generative. Tingkat kematangan budaya keselamatan antara karyawan direct dan indirect yang berlokasi di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan, sedangkan hasil Analisis terhadap golongan kerja (main contractor dan subcontractor), usia, dan masa kerja tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Meskipun dari hasil analisis menyebutkan lokasi kerja sudah di level budaya keselamatan yang generative, dan kategori tersebut menjelaskan bahwa lingkungan kerja positif, pekerja harus selalu aktif mendukung program-program keselamatan yang sudah diatur oleh organisasi. Selanjutnya, pekerja perlu proaktif dalam mengimplementasi program-program safety culture yang sudah di tetapkan agar angka pencapaian program dapat terlihat dalam statistik. Statistik dan tren keselamatan inilah yang nantinya penting sebagai indikator terhadap penentuan budaya keselamatan yang lebih baik. 

The construction industry is one of the sectors with the highest risks related to occupational safety and health. The maturity level of safety culture at a project and worksite plays a crucial role in establishing a safe working environment, thereby minimizing and preventing work-related accidents. This study aims to assess the safety culture maturity profile at one of PT. T’s projects (specifically the expansion of a lubricant manufacturing plant) based on the safety culture concept. Additionally, the study analyzes how safety culture is implemented among direct and indirect workers, main contractor and subcontractor employees, employees aged under 25 and those over 25, as well as those with less than one year of service and those with more than one year of service at the project site. A quantitative research approach was employed using a cross-sectional design and questionnaire distributed to 273 respondents. The results show that the overall safety culture maturity profile at PT. T’s project is classified as good, falling into the generative level. A significant difference was found in the safety culture maturity level between direct and indirect employees working on site, while analysis of employee group (main contractor vs. subcontractor), age, and length of service showed no statistically significant differences. Although the project was classified as having a generative level of safety culture—indicating a positive work environment—workers are expected to actively support safety programs established by the organization. Furthermore, workers need to be proactive in implementing safety culture initiatives so that program achievements are reflected in safety statistics. These safety statistics and trends will be essential indicators in shaping and improving future safety culture development.
Read More
T-7323
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Tabitha; Pembimbing: Syahrizal Syarief: Penguji: Rizka Maulida, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke menjadi salah satu faktor risiko kematian dan disabilitas kedua di dunia dengan 12.2 juta kasus baru secara global. Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara tertinggi yang mengalami stroke di di Asia dengan prevalensi mencapai 8.3% dari 1000 populasi. Faktor risiko terbesar untuk terjadinya stroke adalah hipertensi dan diabetes mellitus. Hipertensi memicu 6 kali lebih tinggi terjadi stroke sedangkan diabetes mellitus meningkatkan sebesar 1.6 kali hingga 8 kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efek gabungan diabetes mellitus dan hipertensi dengan kejadian penyakit stroke di Indonesia pada tahun 2014 menggunakan data IFLS-5. Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis menggunakan unconditional logistic regression. Berdasarkan hasil multivariat, didapatkan hasil bahwa pada usia < 55 tahun, responden yang menderita diabetes mellitus dan tidak hipertensi berisiko 2.52 kali lebih besar untuk terkena stroke, menderita hipertensi dan tidak diabetes mellitus berisiko 10.21 kali sedangkan yang menderita keduanya berisiko 49.36 kali. Pada usia > 55 tahun, besar risiko pada variabel yang sama adalah sebesar 1.47 kali,  5.97 kali dan 28.86 kali. Terdapat peningkatkan yang signifikan untuk terkena stroke pada responden yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus pada setiap golongan umur dibandingkan pada responden yang hanya menderita hipertensi atau hanya menderita diabetes mellitus.

Stroke is the second leading risk factor for death and disability in the world with 12.2 million new cases globally. Indonesia ranks as the country with the highest stroke rate in Asia with a prevalence of 8.3% out of 1000 population. The biggest risk factors for stroke are hypertension and diabetes mellitus. Hypertension triggers 6 times higher stroke occurrence while diabetes mellitus increases it by 1.6 times to 8 times. This study aims to determine the association of the combined effects of diabetes mellitus and hypertension with the incidence of stroke in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The research method used was cross-sectional with analysis using unconditional logistic regression. Based on multivariate results, it was found that at the age of < 55 years, respondents with diabetes mellitus and no hypertension had a 2.52 times greater risk of stroke, hypertension and no diabetes mellitus had a 10.21 times risk, while those with both had a 49.36 times risk. At age > 55 years, the risk for the same variables was 1.47 times, 5.97 times and 28.86 times. There was a significant increase in the risk of stroke among respondents with both hypertension and diabetes mellitus in every age group compared to those with only hypertension or only diabetes mellitus.
Read More
T-7392
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Habibah Nurul Rahmah; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Hariyanto
Abstrak:
Latar Belakang: Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria masih menjadi penyakit menular paling mematikan kedua di dunia dan masih menjadi penyakit endemis di Indonesia. Kabupaten Mimika merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang berstatus endemis tinggi malaria (API 597,58‰ per tahun 2022). Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor iklim (suhu udara, kelembaban, dan curah hujan) dan pengobatan malaria dengan kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022. Metode: Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan analisis korelasi dan uji regresi linear ganda. Skenario waktu time lag 0, 1, dan 2 diterapkan untuk melihat hubungan antara faktor iklim dengan kejadian malaria per bulan di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022. Hasil: Hasil analisis dengan uji korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengobatan malaria dengan kejadian malaria tahun 2016–2022 (p = 0,000; r = 0,990). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara suhu udara, kelembaban, dan curah hujan rata-rata dengan kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022 pada seluruh skenario waktu. Analisis dengan uji regresi linear ganda menghasilkan model prediksi dengan persamaan Kejadian Malaria = 4912,9 - 129,3 (suhu udara) - 3,36 (curah hujan) - 13,6 (kelembaban) + 0,997 (pengobatan ACT). Berdasarkan hasil uji regresi linear ganda model dapat menjelaskan 98% variasi variabel kejadian malaria (R Square = 0,980). Variabel yang paling dominan terhadap kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022 adalah pengobatan malaria

Background: Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium parasites and transmitted to humans through the bite of female Anopheles mosquitoes. Malaria is the wolrd’s second deadliest infectious disease and an endemic disease in Indonesia. Mimika Regency is one of the regencies in Indonesia that has a high malaria endemic status (API 597.58‰ as of 2022). Objective: To determine the relationship between climatic factors (air temperature, humidity, and rainfall) and malaria treatment with malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022. Methods: Ecological study using secondary data with correlation analysis and multiple linear regression. Scenarios of time lag 0, 1, and 2 were applied to investigate the relationship between climate factors and malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022. Results: The results of the correlation test showed a significant relationship between malaria treatment and the incidence of malaria in 2016–2022 (p = 0,000; r = 0,990). No significant relationship was found between average air temperature, humidity, and rainfall with malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022 in all time scenarios. Multiple linear regression analysis produced a predictive model with the equation Malaria Incidence = 4912,9 - 129,3 (air temperature) - 3,36 (rainfall) - 13,6 (humidity) + 0,997 (ACT treatment). Based on the multiple linear regression result, the model can explain 98% of malaria incidence variation (R Square = 0,980). The most dominant variable for malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022 is malaria treatment
Read More
S-11292
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Fatihatun Nisa; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti, Nenden Hikmah Laila
Abstrak:

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini global dan prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Obesitas sentral diidentifikasi sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap hipertensi, termasuk pada kelompok berisiko tinggi seperti jemaah haji. Analisis ini bertujuan mengetahui risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cros-sectional) pada data Siskohatkes hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024 berusia 20-70 tahun dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (N=4.650). Uji cox regression yang dimodifikasi dilakukan untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR) dan 95% CI yang diestimasi dari nilai Hazard Ratio (HR).
Prevalensi hipertensi derajat satu pada jemaah haji provinsi Banten tahun 2024 sebesar 34,37%. Jemaah haji dengan hipertensi derajat satu pada kelompok obesitas sentral lebih tinggi (38,11%) dibandingkan yang tidak obesitas sentral. Setelah dikontrol IMT, obesitas sentral dapat meningkatkan risiko hipertensi derajat satu sebesar 1,12 kali (95% CI: 1,00–1,27). Risiko obesitas sentral terhadap kejadian hipertensi derajat satu pada subpopulasi umur dan jenis kelamin meningkat seiring bertambahnya usia. Dibandingkan laki-laki, risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada perempuan terjadi lebih awal di usia muda pada 20-29 tahun, sedangkan pada laki-laki dimulai usia 40-59 lansia.
Obesitas sentral memiliki hubungan signifikan dan meningkatkan risiko hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi obesitas sentral dalam upaya pencegahan hipertensi, khususnya pada populasi berisiko tinggi.

Hypertension is one of the leading causes of premature death globally, and its prevalence remains high in Indonesia. Central obesity has been identified as a significant risk factor for hypertension, including among high-risk groups such as Hajj pilgrims. This study aimed to analyze the association between central obesity and stage 1 hypertension in Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. A cross-sectional design was conducted using Siskohatkes RI health examination data from Hajj pilgrims aged 20–70 years in Banten Province in 2024 who met the inclusion and exclusion criteria (N=4,650). A modified Cox regression analysis was conducted to estimate the Prevalence Ratio (PR) and 95% Confidence Interval (CI) derived from the Hazard Ratio (HR). The prevalence of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims in Banten Province in 2024 was 34.37%. The proportion of stage 1 hypertension was higher among pilgrims with central obesity (38.11%) compared to those without central obesity. After controlling for Body Mass Index (BMI), central obesity was found to increase the risk of stage 1 hypertension by 1.12 times (95% CI: 1.00–1.27). Central Obesity increases the risk of stage one hypertension with age appearing earlier in younger females and later in pre-elderly males. Central obesity has a significant association with an increased risk of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. These findings show that the importance of early detection and intervention of central obesity in the prevention of hypertension, especially in high-risk populations.

 

Read More
T-7333
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive