Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36170 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Herlinda Lizamona; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Nurul Dina Rahmawati, Nurchayatie, Suhardini
Abstrak:

Malnutrisi merupakan komplikasi serius yang umum terjadi pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang menjalani hemodialisa (HD). Kondisi ini berdampak negatif terhadap kualitas hidup, meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kejadian malnutrisi pada pasien PGK dengan HD di RSUP Fatmawati Jakarta. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 133 pasien rawat jalan yang menjalani HD minimal tiga bulan. Status gizi diukur menggunakan metode Subjective Global Assessment (SGA). Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sementara data sekunder berasal dari telaah rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia ≥60 tahun (OR = 2,9; p = 0,036) dan asupan energi <70% dari kebutuhan harian (OR = 7,8; p = 0,003) berhubungan signifikan dengan kejadian malnutrisi. Faktor lain seperti jenis kelamin, durasi dan frekuensi HD, komorbiditas (diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskular), serta asupan protein, lemak, dan karbohidrat tidak berhubungan signifikan secara statistik. Temuan ini menegaskan bahwa usia lanjut dan defisit asupan energi merupakan faktor dominan terhadap risiko malnutrisi. Oleh karena itu, pemantauan status gizi secara berkala dan intervensi gizi yang difokuskan pada peningkatan asupan energi perlu menjadi prioritas dalam tata laksana pasien HD. Strategi yang disarankan meliputi konseling gizi individual, edukasi kepada keluarga, dan pemberian oral nutrition supplement jika diperlukan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan intervensi gizi berbasis bukti dan penyusunan pedoman pemantauan gizi bagi pasien PGK dengan HD di rumah sakit rujukan nasional. Pendekatan multidisiplin antara dokter, ahli gizi, perawat, dan keluarga sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian status gizi optimal secara berkelanjutan.


Malnutrition is a serious complication commonly found in patients with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing hemodialysis (HD). This condition negatively affects quality of life and increases the risks of morbidity and mortality. This study aimed to analyze the factors associated with malnutrition among CKD patients undergoing HD at Fatmawati Central General Hospital, Jakarta. The study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 133 outpatients who had been on HD for at least three months. Nutritional status was assessed using the Subjective Global Assessment (SGA) method. Primary data were collected through interviews using structured questionnaires and a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), while secondary data were obtained from medical records. Data analysis included univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate analyses using multiple logistic regression. The results showed that patients aged ≥60 years (OR = 2.9; p = 0.036) and those with energy intake <70% of daily requirements (OR = 7.8; p = 0.003) had a significantly higher risk of malnutrition. Other variables such as sex, duration and frequency of HD, comorbidities (diabetes mellitus, hypertension, cardiovascular disease), and intake of protein, fat, and carbohydrates were not statistically associated with nutritional status. These findings highlight that older age and insufficient energy intake are dominant risk factors for malnutrition. Therefore, regular nutritional monitoring and interventions focused on increasing energy intake should be prioritized in the management of HD patients. Recommended strategies include individualized nutrition counseling, family education, and provision of oral nutrition supplements when necessary. This study is expected to serve as a foundation for the development of evidence-based nutrition intervention policies and guidelines for nutritional monitoring of CKD patients undergoing HD in national referral hospitals. A multidisciplinary approach involving physicians, dietitians, nurses, and family members is essential to support the achievement of optimal and sustainable nutritional status in HD patients.

 

Read More
T-7272
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudhi Adrianto; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratu Ayu, Triyanti, Triyani Kresnawan, Fitri Hudayani
Abstrak: Malnutrisi merupakan permasalahan gizi pada hemodialisis dengan prevalensi berkisar antara 50 - 70 % dan penelitian tahun 2018 di RSCM menyebutkan prevalensi malnutrisi sebesar 39%. Tesis ini bertujuan mengetahui determinan penilaian Malnutrition Inflammation Score (MIS) penyakit ginjal kronis hemodialisis di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini merupakan penelitian payung Departemen Ilmu Penyakit Dalam Unit Ginjal Hipertensi RSCM menggunakan desain Cross Sectional, data primer dikumpulkan pada bulan Februari dan Mei 2018. Besar sampel menggunakan uji hipotesis populasi dengan total sampel 120 pasien. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, data diperoleh melalui wawancara dan data laboratorium diperoleh melalui rekam medis, kemudian Editing, Coding, Processing dan Cleaning, dilakukan analisis univariat, bivariat dan multivariat untuk melihat faktor determinan yang berpengaruh dengan MIS Simpulan penelitian prevalensi malnutrisi inflamasi pasien hemodialisis sebesar 55,8%, Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko 4,1 malnutrisi, usia ≥40 tahun memiliki risiko 3,1, asupan protein kurang berisiko 2,8 kali dan kekuatan genggam kurang sebagai variabel protektif memiliki risiko lebih rendah 0,23 kali. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat untuk proses pelayanan asuhan gizi dan program intervensi gizi pasien hemodialisis
Read More
T-6201
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Khairunnisa; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penuguji: Engkus Kusdinar Achmad, Ishiko Heriatno
S-7547
Depok : FKMUI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Khairunisa; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Ishiko Herianto
Abstrak: Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja yang berhubungan dengan nafsu makan kurang pada pasien hemodialisis di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan nafsu makan kurang pada pasien hemodialisis di RSPAD Gatot Soebroto. Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan pada bulam April-Juni 2012 dengan metode wawancara pengisian kuisioner. Data yang dikumpulkan terdiri dari kondisi nafsu makan, karakteristik pasien (jenis kelamin dan usia), gejala gangguan gastrointestinal, perubahan sensasi pengecapan dan penciuman, lama hemodialisis, depresi, dan ansietas.
Read More
S-7337
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debbie Natali; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Neni Herlina Rafida
S-12010
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Destia Fitriyanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Debby Permata Sari
Abstrak:
Kejadian gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat pada penduduk dewasa di Jakarta Pusat, terutama di Kecamatan Kemayoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data primer yang melibatkan 170 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,59% responden berisiko gizi lebih (IMT ≥ 23 kg/m2). Pada analisis multivariabel, diketahui asupan energi berlebih, sering konsumsi makanan berlemak, sering konsumsi junk food, durasi tidur pendek, interaksi jenis kelamin dan konsumsi junk food, serta interaksi asupan karbohidrat dan durasi tidur menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi lebih. Konsumsi junk food menjadi faktor dominan yang memengaruhi kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Dapat disimpukan bahwa perilaku konsumsi makanan yang padat energi dan tinggi lemak berpengaruh terhadap kejadian gizi lebih. Upaya pencegahan gizi lebih pada kelompok usia dewasa akhir perlu difokuskan pada pengendalian konsumsi junk food melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Kolaborasi antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dinas kesehatan diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi gizi kepada masyakat.


Overnutrition is a significant public health issue with an increasing prevalence among adults in Central Jakarta, including Kemayoran Sub-District. This study aims to examine the characteristics and factors associated with overnutrition among adults aged 40–59 years in Kemayoran District in 2025. A cross-sectional study design was employed, utilizing primary data from 170 respondents. The results showed that 80.59% of respondents were at risk of overnutrition (BMI ≥ 23 kg/m²). Multivariable analysis identified excessive energy intake, frequent consumption of fatty foods, frequent junk food intake, short sleep duration, the interaction between gender and junk food consumption, and the interaction between carbohydrate intake and sleep duration as significant factors influencing overnutrition. Junk food consumption emerged as the dominant factor contributing to overnutrition among adults aged 40–59 in Kemayoran Subdistrict in 2025. It can be concluded that energy-dense and high-fat dietary behaviors significantly contribute to overnutrition. Preventive efforts targeting this age group should focus on controlling junk food intake through community-based promotive and preventive approaches. Collaboration between primary healthcare services and the health department is essential to broaden the reach of nutrition education among the public.
Read More
S-12091
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sinta Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Status gizi lebih adalah kondisi penumpukan lemak yang berlebihan dan jika terjadi dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan (WHO, 2024b). Berdasarkan data WHO, prevalensi overweight pada remaja usia 10–19 tahun di seluruh dunia mencapai 18,9%, naik dari 7,5% pada tahun 1990. Prevalensi obesitas juga melonjak dari 1,7% pada 1990 menjadi 7,2% pada 2022 (WHO, 2024c). Peningkatan prevalensi kejadian status gizi lebih pada siswa/i SMA juga terjadi di Jakarta Utara. Berdasarkan data Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi status gizi lebih pada usia 16-18 tahun naik dua kali lipat dari 6,9% menjadi 14,77% (Kemenkes RI, 2013, 2018b). Status gizi lebih pada remaja dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, pengisian formulir SQ-FFQ, serta pengisian kuesioner online. Penelitian dilakukan pada 132 responden dengan metode simple random sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 22% responden mengalami status gizi lebih, dengan 15,2% gizi lebih dan 6,8% obesitas. Analisis uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,001; OR 14,4) dan asupan karbohidrat (p-value 0,001; OR 10,3 dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak, asupan protein, asupan serat, aktivitas fisik, durasi tidur, screen time, emotional eating (p-value > 0,05) dan pengetahuan status gizi lebih (p-value 0,046; OR 2,806; 95% CI 0,989-7,966) dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Walaupun demikian, terdapat kecenderungan responden dengan asupan lemak berlebih, asupan protein berlebih, aktivitas fisik kurang, durasi tidur kurang, screen time tinggi, dan pengetahuan status gizi lebih yang kurang untuk mengalami status gizi lebih. Oleh karena itu, SMA Negeri 13 Jakarta disarankan untuk melakukan pemantauan status gizi siswa secara periodik disertai edukasi mengenai status gizi dan pedoman gizi seimbang. 

Overnutrition is a condition of excessive fat accumulation, and if it occurs over a long period, it can have negative impacts on health (WHO, 2024b). According to WHO data, the global prevalence of overweight among adolescents aged 10–19 years has reached 18.9%, up from 7.5% in 1990. The prevalence of obesity also surged from 1.7% in 1990 to 7.2% in 2022 (WHO, 2024c). An increase in the prevalence of overnutrition among senior high school students has also been observed in North Jakarta. Based on Riskesdas data from 2013 and 2018, the prevalence of overnutrition among those aged 16–18 years doubled from 6.9% to 14.77% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2013, 2018b). Overnutrition in adolescents can negatively affect physical, psychological, and social health. This study aims to identify the factors associated with overnutrition among students of SMA Negeri 13 Jakarta. The results showed that 22% of respondents had overnutrition, with 15.2% classified as overweight and 6.8% as obese. Chi-square test analysis indicated a significant association between energy intake (p-value 0.001; OR 14,4) and carbohydrate intake (p-value 0.001; OR 10.3 with overnutrition status among students at SMA Negeri 13 Jakarta in 2025. However, no significant relationship was found between fat intake, protein intake, fiber intake, physical activity, sleep duration, screen time, emotional eating (p-value > 0.05), and knowledge of overnutrition status (p-value 0.046; OR 2.806; 95% CI 0.989–7.966) with overnutrition status among the students. Nevertheless, there was a tendency for respondents with excessive fat intake, excessive protein intake, low physical activity, insufficient sleep duration, high screen time, and poor knowledge of overnutrition to experience overnutrition. Therefore, it is recommended that SMA Negeri 13 Jakarta conduct regular monitoring of students' nutritional status along with education on nutrition status and balanced nutrition guidelines.
Read More
S-12023
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Umi Febrianti; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti, Lilik Kustiyah
Abstrak:
Latar Belakang: Emisi gas rumah kaca dari konsumsi pangan merupakan isu yang perlu diperhatikan karena sistem pangan menyumbang 23−42% emisi yang dihasilkan manusia. Remaja merupakan individu yang mulai memiliki otonomi sendiri terkait pemilihan makanan dan kebiasaan kurang baik−termasuk konsumsi tinggi emisi−perlu diubah sebelum dibawa ke tahap kehidupan selanjutnya. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan emisi gas rumah kaca dari konsumsi pangan pada siswa SMA Negeri 34 Jakarta Tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan sampel berjumlah 100 orang. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, uang jajan, tingkat pemenuhan kebutuhan energi, tingkat pemenuhan kebutuhan protein, tingkat pemenuhan kebutuhan lemak, tingkat pemenuhan kebutuhan karbohidrat, kelompok pangan: sumber karbohidrat dan lauk hewani dengan emisi gas rumah kaca dari konsumsi pangan pada siswa SMA Negeri 34 Jakarta tahun 2025. Sementara itu, tidak terdapat hubungan antara IMT/U serta kelompok pangan: buah-buahan, lauk nabati, olahan protein hewani, sayuran, dan kelompok pangan lainnya. Kesimpulan: Jenis kelamin, uang jajan, tingkat pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi makro, serta kelompok pangan sumber karbohidrat dan lauk hewani berhubungan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pada siswa SMA Negeri 34 Jakarta tahun 2025.

Background: Dietary greenhouse gas emission currently is a critical issue because the food system accounting approximately 23−42% of human-generated emissions. Adolescents are individuals who begin to have their own autonomy regarding food choices and their poor eating habits−including high-emission consumption pattern−should be changed before they enter the next stages of life. Objective: To determine factors associated with dietary greenhouse gas emissions among students at SMA Negeri 34 Jakarta in 2025. Method: This study is quantitative research using a cross-sectional design with 100 samples. Results: There is a significant relationship between sex, pocket money, energy adequacy level, protein adequacy level, fat adequacy level, carbohydrate adequacy level, food groups: carbohydrates and animal protein with dietary greenhouse gas emissions among students at SMA Negeri 34 Jakarta in 2025. Meanwhile, there is no significant relationship between BMI-for-age and food groups: fruits, plant-based protein, processed animal protein, vegetables, and other food groups. Conclusion: Sex, pocket money, energy and macronutrient adequacy level, and food groups: carbohydrate and animal protein are related to dietary greenhouse gas emissions among students at SMA Negeri 34 Jakarta in 2025.
Read More
S-11975
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yenty Hapni; Pembimbing: Asih Setiarini
S-3986
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qoriatusholihah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
KEK merupakan tidak tercukupinya zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat kekurangan makanan dalam jangka waktu lama yang ditandai dengan ukuran LiLA <23,5 cm. Remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami KEK. Menurut Riskesdas (2018), remaja perempuan menjadi kelompok dengan prevalensi KEK tertinggi di Indonesia (36,3%) yang jika dikategorikan berdasarkan klasifikasi masalah kesmas menurut WHO termasuk prevalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok serta faktor dominannya. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan total sampel 240 responden. Data dianalisis menggunakan uji bivariat chi-square dan uji multivariat regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44,6% remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok berisiko KEK. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi, asupan zat gizi makro, pendapatan orang tua, pengetahuan terkait gizi, body image, dan pengaruh media sosial dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan orang tua dengan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok. Pengetahuan terkait gizi merupakan faktor dominan risiko KEK pada remaja perempuan SMA Negeri di Kota Depok (OR=10,294)

CED) is a condition of insufficient nutrients needed by the body due to long-term food shortage, characterized by an MUAC <23.5 cm. Adolescent girls are one of the groups vulnerable to CED. According to the 2018 Riskesdas, adolescent girls have the highest prevalence of CED in Indonesia (36.3%), which, when categorized based on WHO's classification of public health problems, is considered a high prevalence. This study aims to determine the factors associated with the risk of CED in female high school students in Depok City and its dominant factor. This study used a cross-sectional design with a total sample of 240 respondents. Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. The results showed that 44.6% of female high school students in Depok City were at risk of CED. There were significant relationships between energy intake, macronutrient intake, parental income, nutrition-related knowledge, body image, and social media influence with the risk of CED in female high school students in Depok City. However, there was no significant relationship between parental education and occupation with the risk of CED in female high school students in Depok City. Nutrition-related knowledge was the dominant factor for CED risk in female high school students in Depok City (OR=10.294).

Read More
S-11572
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive