Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29425 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ulfi Hida Zainita; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Mila Tejamaya, Raden Danu Ramadityo, Edduwar Idul Riyadi
Abstrak:

Studi dari berbagai sumber melaporkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan terutama pada kategori usia mahasiswa merupakan pencetus Gangguan Media Sosial (GMS) yang dapat berkaitan dengan masalah kesehatan mental lainnya. Studi ini menggunakan kerangka Socio Ecological Model (SEM) dalam empat ruang lingkup yakni lingkup individual, social network, community, dan lingkup societal mahasiswa
Universitas Indonesia (UI). Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor ekologi sosial dalam kaitannya dengan GMS pada mahasiswa UI. Studi cross-sectional fokus pada media sosial Whatsapp, Youtube, Facebook, Instagram, Tiktok, X, Line, dan Telegram. Total sampel 320 mahasiswa sarjana angkatan 2021-2024 UI dilakukan pada Bulan Maret-Mei 2025 melalui googleform. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil menunjukkan 25,9% mahasiswa UI mengalami GMS. Hubungan yang signifikan
dengan Gangguan Media Sosial hanya ditemukan di lingkup individual yakni faktor durasi (p value = 0,042; OR=1,734; 95%CI=1,020-2,948) dan lingkup social network yakni faktor pengaruh teman sebaya (p value < 0,001; OR=3,175; 95%CI=1,820-5,538), setelah dikontrol oleh variabel lainnya. Diharapkan UI melalui Badan Kesejahteraan UI
dapat merumuskan kebijakan pencegahan GMS di level universitas yang bersifat preventif dan promotif dengan mempertimbangkan konten edukasi yang menjelaskan faktor durasi dan pengaruh teman sebaya.


Studies from various sources report that excessive use of social media, especially in the student age category, is a trigger for Social Media Disorder (SMD) which can be related to other mental health problems. This study uses the Socio Ecological Model (SEM) framework in four scopes; individual, social network, community, and societal scope of students at the Universitas Indonesia (UI). The study aims to analyze the relationship between social ecological factors in relation to SMD among UI students. The cross- sectional study focused on social media Whatsapp, Youtube, Facebook, Instagram, Tiktok, X, Line, and Telegram. This study was conducted in March-May 2025 with 320 respondents via Googleform. The data analysis used multivariate using the logistic regression test. This study found 25.9% of UI students have SMD. Significant relationships with SMD were only found in the individual scope, the duration factor (p value = 0.042; OR = 1.734; 95% CI = 1.020-2.948) and the social network scope, the peer influence factor (p value <0.001; OR = 3.175; 95% CI = 1.820-5.538). This study recommend Badan Kesejahteraan UI to formulate a preventive and promotive GMS prevention policy at the university level by considering educational content that explains the duration factor and peer influence.

Read More
T-7275
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivya Esther Raphyta Rajagukguk; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Rita Damayanti, Ika Malika
S-12413
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benedicta Cindy Delphinia; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Windra Aryeni
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma sosial COVID-19 di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia dan faktor yang berpotensi menyebabkan stigma sosial COVID-19 tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi potong lintang. Populasi penelitian ini merupakan seluruh mahasiswa jenjang studi strata 1 (S1) dengan sampel sebanyak 373 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang diisi mandiri oleh responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,1% responden masih memiliki stigma sosial.
Read More
S-10839
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilah Huwaida; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Aktivitas fisik dapat mencegah berbagai macam penyakit menular dan meningkatkan kesehatan seseorang, baik pada usia muda, maupun tua. Proporsi aktivitas fisik di Kota Depok memasuki peringkat 10 besar dengan aktivits fisik terendah di Jawa Barat, dengan angka 60,55%. Di Universitas Indonesia (UI) sendiri sebagai salah satu universitas di Kota Depok, angka aktivitas fisik pada mahasiswa masih menjadi masalah dilihat dari adanya peningkatan proporsi aktivitas fisik rendah dari tahun 2018 (28,2%) ke tahun 2022 (47,4%) serta masih tingginya angka PTM (obesitas dan hipertensi) pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik pada mahasiswa UI tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data penelitian dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara daring oleh 237 mahasiswa UI. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan 142 mahasiswa (59,9%) aktif secara fisik. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status tempat tinggal (p=0,028; OR=2,145; 95% CI 1,124 – 4,090), sikap (p=0,042; OR=1,789; 95% CI 1,056 – 3,029), dan dukungan teman (p=0,021; OR=1,923; 95% CI 1,134 – 3,261) dengan perilaku aktivitas fisik mahasiswa. Status tempat tinggal dan dukungan teman merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, mahasiswa yang tidak tinggal bersama keluarga inti atau tinggal sendiri serta memiliki dukungan teman yang baik berpeluang 2 kali lebih besar untuk aktif secara fisik. Maka dari itu, peningkatan fasilitas olahraga, pengembangan program intervensi promosi kesehatan terkait aktivitas fisik, dan anjuran untuk beraktivitas fisik perlu dilakukan sebagai upaya mendorong mahasiswa untuk menjadi lebih aktif.

Physical activity can prevent various infectious diseases and improve one's health, both in young and old age. The proportion of physical activity in Depok City ranks among the top 10 with the lowest physical activity rates in West Java, which reach 60.55%. At the University of Indonesia (UI), which is one of the universities in Depok, the level of physical activity among students is still a concern, as evidenced by the increasing proportion of low physical activity from 28.2% in 2018 to 47.4% in 2022, as well as the high prevalence of non-communicable diseases (obesity and hypertension) among students. This research aims to identify the factors associated with physical activity behavior among UI students in 2023. The study adopts a cross-sectional design, which the data were collected through online questionnaires completed by 237 students. The data were analyzed using chi-square test and independent t-test to examine the relationship between independent and dependent variables. The results of the study indicate that 142 students (59.9%) are physically active. The research also shows a significant relationship between residential status (p=0.028; OR=2.145; 95% CI 1.124 – 4.090), attitude (p=0.042; OR=1.789; 95% CI 1.056 – 3.029), and friends’ support (p=0.021; OR=1.923; 95% CI 1.134 – 3.261) with students' physical activity behavior. Residential status and friends’ support are the dominant factors associated with physical activity. Students who do not live with their nuclear family or live alone and have good social support from friends are twice as likely to be physically active. Therefore, improving sports facilities, develop health promotion intervention programs related to physical activity, and encourage students to engage in physical activities should be made as efforts for the students to be more active.
Read More
S-11296
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gadis Jelita; Pembimbing: Kartika Anggun Dimar Setio; Penguji: Dadan Erwandi, Sanyulandy Leowalu
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada mahasiswa merupakan salah satu isu kesehatan reproduksi yang perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta berbagai konsekuensi kesehatan lainnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor personal maupun faktor lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor demografi, self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial dengan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa yang belum menikah di Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan setiap variabel penelitian. Selanjutnya, analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney, Kruskal–Wallis, dan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor perilaku seksual berisiko berdasarkan usia (p = 0,117), jenis kelamin (p = 0,061), tempat tinggal (p = 0,439), maupun uang saku (p = 0,147). Sebaliknya, self-efficacy memiliki hubungan negatif dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,400; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Komunikasi seksual juga menunjukkan hubungan negatif yang signifikan (ρ = -0,172; p = 0,022), meskipun kekuatan hubungannya sangat lemah. Selain itu, norma sosial berhubungan negatif secara signifikan dengan perilaku seksual berisiko (ρ = -0,271; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy yang lebih tinggi, kemampuan komunikasi seksual yang lebih baik, serta norma sosial yang lebih positif cenderung memiliki perilaku seksual berisiko yang lebih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik demografi tidak berhubungan dengan perilaku seksual berisiko, sedangkan self-efficacy, komunikasi seksual, dan norma sosial memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku seksual berisiko pada mahasiswa perlu diarahkan pada penguatan self-efficacy, peningkatan kemampuan komunikasi seksual, serta pembentukan lingkungan sosial yang mendukung pengambilan keputusan seksual yang sehat.

Risky sexual behavior among university students is a reproductive health issue requiring attention due to its potential to increase the risk of sexually transmitted infections, unplanned pregnancies, and various other health consequences. Studies indicate that such behavior is influenced by both personal and social-environmental factors. This study aimed to analyze the associations of demographic factors, self-efficacy, sexual communication, and social norms with risky sexual behavior among unmarried students at the University of Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. Univariate analysis was conducted to describe respondent characteristics and each research variable. Subsequently, bivariate analysis was performed using the Mann–Whitney test, Kruskal–Wallis test, and Spearman correlation at a 95% significance level (α = 0.05). The results showed no significant differences in risky sexual behavior scores based on age (p = 0.117), gender (p = 0.061), place of residence (p = 0.439), or allowance (p = 0.147). Conversely, self-efficacy was negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.400; p < 0.001), indicating a moderate-strength relationship. Sexual communication also showed a significant negative association (ρ = -0.172; p = 0.022), albeit with very weak strength. Additionally, social norms were significantly negatively associated with risky sexual behavior (ρ = -0.271; p < 0.001), with a weak relationship strength. These findings indicate that students with higher self-efficacy, better sexual communication skills, and more positive social norms tend to exhibit lower levels of risky sexual behavior. The study concludes that while demographic characteristics are not associated with risky sexual behavior, self-efficacy, sexual communication, and social norms show significant associations. Therefore, efforts to prevent risky sexual behavior among students should focus on strengthening self-efficacy, improving sexual communication skills, and fostering a social environment that supports healthy sexual decision-making.
Read More
S-12467
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ketty Amanda Putri; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dien Anshari, Lindawati, Inani Puspitasari
Abstrak:
Proporsi perilaku sedenter pada orang dewasa usia produktif terus meningkat seiring perkembangan teknologi, perubahan pola kerja, dan gaya hidup modern. Pada karyawan kantor, perilaku sedenter yang dilakukan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, obesitas, serta gangguan kesehatan mental. Perilaku sedenter tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik individu, tetapi juga terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan tempat kerja. Pendekatan ekologi sosial memandang perilaku kesehatan sebagai hasil interaksi berbagai tingkat faktor, meliputi faktor individu, interpersonal, serta lingkungan atau organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sedenter pada karyawan kantor di tiga perusahaan di wilayah BSD dan Alam Sutera tahun 2026 menggunakan pendekatan ekologi sosial. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 115 karyawan kantor. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,4% responden melakukan perilaku sedenter selama ≥6 jam per hari. Berdasarkan analisis bivariat, terdapat hubungan yang bermakna antara status pernikahan (p=0,005), dukungan rekan kerja (p=0,010), fasilitas kantor (p=0,035), dan peraturan kantor (p=0,010) dengan perilaku sedenter. Sementara itu, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, jarak tempat tinggal, lama bekerja, divisi pekerjaan, pengetahuan, dan sikap tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status pernikahan, dukungan rekan kerja, fasilitas kantor, dan peraturan kantor merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku sedenter, dengan dukungan rekan kerja sebagai salah satu faktor penting yang berperan dalam menurunkan kecenderungan perilaku sedenter. Responden yang memperoleh dukungan rekan kerja yang baik memiliki peluang lebih kecil untuk melakukan perilaku sedenter dibandingkan responden yang memperoleh dukungan rekan kerja yang kurang. Demikian pula, ketersediaan fasilitas kantor dan peraturan kantor yang memadai berperan sebagai faktor protektif terhadap perilaku sedenter. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku sedenter pada karyawan kantor perlu dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan berbagai tingkat ekologi sosial, terutama dengan memperkuat dukungan rekan kerja serta menyediakan fasilitas dan menerapkan kebijakan perusahaan yang mendorong aktivitas fisik, seperti pemberian waktu aktif secara berkala, penyediaan sarana pendukung aktivitas fisik, dan penciptaan budaya kerja yang lebih aktif.

The prevalence of sedentary behavior among working-age adults continues to increase alongside technological advances, changes in work patterns, and modern lifestyles. Among office workers, prolonged sedentary behavior may increase the risk of various non-communicable diseases, including cardiovascular disease, diabetes mellitus, obesity, and mental health disorders. Sedentary behavior is influenced not only by individual characteristics but also by interactions between individuals and their social and workplace environments. The social ecological approach views health behavior as the result of interactions among factors at multiple levels, including individual, interpersonal, and environmental or organizational factors. Therefore, this study aimed to determine the factors associated with sedentary behavior among office workers in three companies in the BSD and Alam Sutera areas in 2026 using a social ecological approach. This study employed a cross-sectional design involving 115 office workers. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis, and multiple logistic regression.                       The results showed that 77.4% of respondents engaged in sedentary behavior for ≥6 hours per day. Based on the bivariate analysis, marital status (p=0.005), co-worker support (p=0.010), workplace facilities (p=0.035), and workplace regulations (p=0.010) were significantly associated with sedentary behavior. Meanwhile, age, sex, educational attainment, distance from home to workplace, length of employment, work division, knowledge, and attitude were not significantly associated with sedentary behavior. The multivariate analysis showed that marital status, co-worker support, workplace facilities, and workplace regulations were associated with sedentary behavior, with co-worker support identified as one of the important factors associated with a lower likelihood of sedentary behavior. Respondents who received good co-worker support had a lower likelihood of engaging in sedentary behavior than those who received less co-worker support. Similarly, adequate workplace facilities and regulations served as protective factors against sedentary behavior.                Therefore, efforts to prevent sedentary behavior among office workers should involve multiple levels of the social ecological approach, particularly by strengthening co-worker support, providing supportive workplace facilities, and implementing organizational policies that encourage physical activity, such as regular active breaks, provision of facilities that support physical activity, and the development of a more physically active workplace culture.
Read More
T-7727
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfi Hida Zainita; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Ika Malika
Abstrak: Berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, kepemilikan hobi, durasi, dan jumlah akun memepengaruhi gangguan media sosial dan FoMO Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang behubungan dengan gangguan media sosial dan FoMO pada Mahasiswa FKM UI. Studi ini menggunakan desain cross sectional dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui survei daring dengan jumlah responden 104 orang. Hasil studi ini menunjukkan bahwa platform sosial media yang digunakan untuk PJJ dan berinteraksi adalah Whatsapp. Platform sosial media yang digunakan untuk mencari hiburan dan mencari informasi adalah Youtube.
Read More
S-10684
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Ayumaruti; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Evi Martha, Yaslinda Yaunin, Eunice Margarini
Abstrak:
Literasi kesehatan mental merupakan pengetahuan serta keyakinan individu tentang masalah atau gangguan jiwa yang membantu proses pengenalan, pengelolaan, atau cara pencegahannya yang kemudian dapat digunakan untuk melakukan suatu tindakan yang bermanfaat khususnya bagi kesehatan mental individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat literasi kesehatan mental mahasiswa program S1 reguler di Universitas Andalas dan faktor - faktor yang mempengaruhi. Penelitian ini menggunakan data Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan menggunakan sampel dari mahasiswa angkatan 2018 di 15 fakultas di Universitas Andalas (n=363). Instrumen yang digunakan untuk pengukuran literasi kesehatan mental adalah kuesioner Mental Health Literacy Scale (MHLS) yang telah diadaptasi kedalam konteks budaya dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor tingkat literasi kesehatan mental yang relatif rendah yaitu 59,96 dalam skala 1-100. Hasil analisis bivariat adalah determinan yang berasosiasi signifikan dengan literasi kesehatan mental yaitu jenis kelamin, suku, status tempat tinggal, status pacaran, rumpun ilmu, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan mental adalah rumpun ilmu, kepemilikan asuransi kesehatan, dan status pasangan/pacaran. Yang merupakan variabel dominan adalah rumpun ilmu kesehatan. Diperlukan intervensi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental yang berfokus pada topik yang terkait dengan mahasiswa laki – laki dan mahasiswa non kesehatan melalui peningkatan edukasi serta pengembangan dan pemanfaatan pusat informasi kesehatan mental di Universitas Andalas.

Mental health literacy is individual knowledge and beliefs about mental problems or disorders that help the process of recognizing, managing or preventing them which can then be used to take action that is especially beneficial for individual mental health. The purpose of this study was to describe the level of mental health literacy of regular undergraduate students at Andalas University and the influencing factors. This study used data from the 2019 Health Literacy Study using samples from class 2018 students in 15 faculties at Andalas University (n=363). The instrument used for measuring mental health literacy is the Mental Health Literacy Scale (MHLS) questionnaire which has been adapted to the cultural context and the Indonesian language. The results showed that the average score for mental health literacy was relatively low, namely 59.96 on a scale of 1-100. The results of the bivariate analysis show that there are determinants that are significantly associated with mental health literacy, namely gender, ethnicity, residence status, dating status, academic background, and health insurance ownership. The results of the multivariate analysis show that the variables associated with the level of mental health literacy are knowledge cluster/major, ownership of health insurance, and partner/dating status. Which is the dominant variable is the health science cluster/major. Interventions are needed to increase mental health literacy that focuses on topics related to male students and non-health students through increased education and the development and utilization of mental health information centers at Andalas University.
Read More
T-6779
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Nafis Sjamsuddin; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dadan Erwandi, Wahyu Septiono, Ika Malika
Abstrak:
Saat ini, masyarakat semakin mudah mengakses informasi melalui berbagai perangkat yang terhubung dengan teknologi internet. Namun, hal tersebut menimbulkan berbagai kekhawatiran baru, salah satunya penyebaran infromasi yang salah atau tidak akurat. Untuk mengatasinya, pendekatan literasi yang lebih spesifik dibutuhkan yaitu literasi kesehatan digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan determinan personal terhadap literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia. Studi ini menggunakan analisis data sekunder dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui survei yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menggunakan instrumen eHEALS dengan delapan pertanyaan tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel dependen dan determinan sosial meliputi jenis kelamin, usia, rumpun ilmu, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana dalam kategori baik (M=3,14; SD=0,501). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel usia saku berhubungan secara signifikan dengan literasi kesehatan digital setelah dikontrol oleh variabel usia (β=0,926; 95% CI=0,037 – 1,785). Oleh karena itu, diperlukan upaya dalam pengembangan program edukasi kesehatan yang dapat menjangkau mahasiswa dari beragam latar belakang dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan digital mereka.



Currently, it is easier for people to access information through various devices connected to internet technology. However, this raises various new concerns, one of which is the spread of false or inaccurate information. To overcome this, a more specific literacy approach is needed, namely digital health literacy. This study aims to determine the relationship between personal determinants of digital health literacy in undergraduate students at the University of Indonesia. This study uses secondary data analysis with a cross-sectional design. Data was collected through a survey conducted by a research team from the Faculty of Public Health, University of Indonesia, using the eHEALS instrument with eight questions about digital health literacy in this study. The analysis uses multiple linear regression with health literacy as the dependent variable and social determinants including gender, age, knowledge class, and pocket money as independent variables. The results showed that the level of digital health literacy in undergraduate students was in the good category (M=3.14; SD=0.501). The results of multiple linear regression analysis show that the pocket age variable is significantly related to digital health literacy after controlling for the age variable (β=0.926; 95% CI=0.037 – 1.785). Therefore, efforts are needed to develop health education programs that can reach students from various backgrounds with the aim of increasing their digital health literacy.
Read More
T-6709
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive