Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29384 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ulfi Hida Zainita; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Mila Tejamaya, Raden Danu Ramadityo, Edduwar Idul Riyadi
Abstrak:

Studi dari berbagai sumber melaporkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan terutama pada kategori usia mahasiswa merupakan pencetus Gangguan Media Sosial (GMS) yang dapat berkaitan dengan masalah kesehatan mental lainnya. Studi ini menggunakan kerangka Socio Ecological Model (SEM) dalam empat ruang lingkup yakni lingkup individual, social network, community, dan lingkup societal mahasiswa
Universitas Indonesia (UI). Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor ekologi sosial dalam kaitannya dengan GMS pada mahasiswa UI. Studi cross-sectional fokus pada media sosial Whatsapp, Youtube, Facebook, Instagram, Tiktok, X, Line, dan Telegram. Total sampel 320 mahasiswa sarjana angkatan 2021-2024 UI dilakukan pada Bulan Maret-Mei 2025 melalui googleform. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil menunjukkan 25,9% mahasiswa UI mengalami GMS. Hubungan yang signifikan
dengan Gangguan Media Sosial hanya ditemukan di lingkup individual yakni faktor durasi (p value = 0,042; OR=1,734; 95%CI=1,020-2,948) dan lingkup social network yakni faktor pengaruh teman sebaya (p value < 0,001; OR=3,175; 95%CI=1,820-5,538), setelah dikontrol oleh variabel lainnya. Diharapkan UI melalui Badan Kesejahteraan UI
dapat merumuskan kebijakan pencegahan GMS di level universitas yang bersifat preventif dan promotif dengan mempertimbangkan konten edukasi yang menjelaskan faktor durasi dan pengaruh teman sebaya.


Studies from various sources report that excessive use of social media, especially in the student age category, is a trigger for Social Media Disorder (SMD) which can be related to other mental health problems. This study uses the Socio Ecological Model (SEM) framework in four scopes; individual, social network, community, and societal scope of students at the Universitas Indonesia (UI). The study aims to analyze the relationship between social ecological factors in relation to SMD among UI students. The cross- sectional study focused on social media Whatsapp, Youtube, Facebook, Instagram, Tiktok, X, Line, and Telegram. This study was conducted in March-May 2025 with 320 respondents via Googleform. The data analysis used multivariate using the logistic regression test. This study found 25.9% of UI students have SMD. Significant relationships with SMD were only found in the individual scope, the duration factor (p value = 0.042; OR = 1.734; 95% CI = 1.020-2.948) and the social network scope, the peer influence factor (p value <0.001; OR = 3.175; 95% CI = 1.820-5.538). This study recommend Badan Kesejahteraan UI to formulate a preventive and promotive GMS prevention policy at the university level by considering educational content that explains the duration factor and peer influence.

Read More
T-7275
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivya Esther Raphyta Rajagukguk; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Rita Damayanti, Ika Malika
S-12413
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benedicta Cindy Delphinia; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Windra Aryeni
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma sosial COVID-19 di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia dan faktor yang berpotensi menyebabkan stigma sosial COVID-19 tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi potong lintang. Populasi penelitian ini merupakan seluruh mahasiswa jenjang studi strata 1 (S1) dengan sampel sebanyak 373 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang diisi mandiri oleh responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,1% responden masih memiliki stigma sosial.
Read More
S-10839
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilah Huwaida; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Ratna Tri Hari Safariningsih
Abstrak:
Aktivitas fisik dapat mencegah berbagai macam penyakit menular dan meningkatkan kesehatan seseorang, baik pada usia muda, maupun tua. Proporsi aktivitas fisik di Kota Depok memasuki peringkat 10 besar dengan aktivits fisik terendah di Jawa Barat, dengan angka 60,55%. Di Universitas Indonesia (UI) sendiri sebagai salah satu universitas di Kota Depok, angka aktivitas fisik pada mahasiswa masih menjadi masalah dilihat dari adanya peningkatan proporsi aktivitas fisik rendah dari tahun 2018 (28,2%) ke tahun 2022 (47,4%) serta masih tingginya angka PTM (obesitas dan hipertensi) pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik pada mahasiswa UI tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data penelitian dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara daring oleh 237 mahasiswa UI. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan 142 mahasiswa (59,9%) aktif secara fisik. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status tempat tinggal (p=0,028; OR=2,145; 95% CI 1,124 – 4,090), sikap (p=0,042; OR=1,789; 95% CI 1,056 – 3,029), dan dukungan teman (p=0,021; OR=1,923; 95% CI 1,134 – 3,261) dengan perilaku aktivitas fisik mahasiswa. Status tempat tinggal dan dukungan teman merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan aktivitas fisik, mahasiswa yang tidak tinggal bersama keluarga inti atau tinggal sendiri serta memiliki dukungan teman yang baik berpeluang 2 kali lebih besar untuk aktif secara fisik. Maka dari itu, peningkatan fasilitas olahraga, pengembangan program intervensi promosi kesehatan terkait aktivitas fisik, dan anjuran untuk beraktivitas fisik perlu dilakukan sebagai upaya mendorong mahasiswa untuk menjadi lebih aktif.

Physical activity can prevent various infectious diseases and improve one's health, both in young and old age. The proportion of physical activity in Depok City ranks among the top 10 with the lowest physical activity rates in West Java, which reach 60.55%. At the University of Indonesia (UI), which is one of the universities in Depok, the level of physical activity among students is still a concern, as evidenced by the increasing proportion of low physical activity from 28.2% in 2018 to 47.4% in 2022, as well as the high prevalence of non-communicable diseases (obesity and hypertension) among students. This research aims to identify the factors associated with physical activity behavior among UI students in 2023. The study adopts a cross-sectional design, which the data were collected through online questionnaires completed by 237 students. The data were analyzed using chi-square test and independent t-test to examine the relationship between independent and dependent variables. The results of the study indicate that 142 students (59.9%) are physically active. The research also shows a significant relationship between residential status (p=0.028; OR=2.145; 95% CI 1.124 – 4.090), attitude (p=0.042; OR=1.789; 95% CI 1.056 – 3.029), and friends’ support (p=0.021; OR=1.923; 95% CI 1.134 – 3.261) with students' physical activity behavior. Residential status and friends’ support are the dominant factors associated with physical activity. Students who do not live with their nuclear family or live alone and have good social support from friends are twice as likely to be physically active. Therefore, improving sports facilities, develop health promotion intervention programs related to physical activity, and encourage students to engage in physical activities should be made as efforts for the students to be more active.
Read More
S-11296
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfi Hida Zainita; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Ika Malika
Abstrak: Berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, kepemilikan hobi, durasi, dan jumlah akun memepengaruhi gangguan media sosial dan FoMO Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang behubungan dengan gangguan media sosial dan FoMO pada Mahasiswa FKM UI. Studi ini menggunakan desain cross sectional dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui survei daring dengan jumlah responden 104 orang. Hasil studi ini menunjukkan bahwa platform sosial media yang digunakan untuk PJJ dan berinteraksi adalah Whatsapp. Platform sosial media yang digunakan untuk mencari hiburan dan mencari informasi adalah Youtube.
Read More
S-10684
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Ayumaruti; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Evi Martha, Yaslinda Yaunin, Eunice Margarini
Abstrak:
Literasi kesehatan mental merupakan pengetahuan serta keyakinan individu tentang masalah atau gangguan jiwa yang membantu proses pengenalan, pengelolaan, atau cara pencegahannya yang kemudian dapat digunakan untuk melakukan suatu tindakan yang bermanfaat khususnya bagi kesehatan mental individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat literasi kesehatan mental mahasiswa program S1 reguler di Universitas Andalas dan faktor - faktor yang mempengaruhi. Penelitian ini menggunakan data Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan menggunakan sampel dari mahasiswa angkatan 2018 di 15 fakultas di Universitas Andalas (n=363). Instrumen yang digunakan untuk pengukuran literasi kesehatan mental adalah kuesioner Mental Health Literacy Scale (MHLS) yang telah diadaptasi kedalam konteks budaya dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor tingkat literasi kesehatan mental yang relatif rendah yaitu 59,96 dalam skala 1-100. Hasil analisis bivariat adalah determinan yang berasosiasi signifikan dengan literasi kesehatan mental yaitu jenis kelamin, suku, status tempat tinggal, status pacaran, rumpun ilmu, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan mental adalah rumpun ilmu, kepemilikan asuransi kesehatan, dan status pasangan/pacaran. Yang merupakan variabel dominan adalah rumpun ilmu kesehatan. Diperlukan intervensi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental yang berfokus pada topik yang terkait dengan mahasiswa laki – laki dan mahasiswa non kesehatan melalui peningkatan edukasi serta pengembangan dan pemanfaatan pusat informasi kesehatan mental di Universitas Andalas.

Mental health literacy is individual knowledge and beliefs about mental problems or disorders that help the process of recognizing, managing or preventing them which can then be used to take action that is especially beneficial for individual mental health. The purpose of this study was to describe the level of mental health literacy of regular undergraduate students at Andalas University and the influencing factors. This study used data from the 2019 Health Literacy Study using samples from class 2018 students in 15 faculties at Andalas University (n=363). The instrument used for measuring mental health literacy is the Mental Health Literacy Scale (MHLS) questionnaire which has been adapted to the cultural context and the Indonesian language. The results showed that the average score for mental health literacy was relatively low, namely 59.96 on a scale of 1-100. The results of the bivariate analysis show that there are determinants that are significantly associated with mental health literacy, namely gender, ethnicity, residence status, dating status, academic background, and health insurance ownership. The results of the multivariate analysis show that the variables associated with the level of mental health literacy are knowledge cluster/major, ownership of health insurance, and partner/dating status. Which is the dominant variable is the health science cluster/major. Interventions are needed to increase mental health literacy that focuses on topics related to male students and non-health students through increased education and the development and utilization of mental health information centers at Andalas University.
Read More
T-6779
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Anisya; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Annisa Marlin Masbar Rus
Abstrak: Latar Belakang: Rokok elektronik saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Selama 10 tahun terakhir terdapat peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia antara tahun 2011 hingga 2021 yaitu dari 0,3% menjadi 3,0%. Penelitian terdahulu di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan rokok elektronik secara rutin mencapai 50%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan studi cross-sectional. Hasil: Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor-faktor jenis kelamin (p=0,021), pengetahuan (p=0,027), perceived susceptibility (p=<0,001), perceived severity (p=<0,001), perceived benefits (p=<0,001), perceived barriers (p=<0,001), self-efficacy (p=<0,001), dan cue to action (p=<0,001) dengan perilaku penggunaan rokok elektronik. Namun pada faktor umur ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan (p=0,062). Diskusi: Faktor-faktor dalam Health Belief Model seperti faktor demografi (jenis kelamin dan pengetahuan), perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, dan cue to action terbukti berpengaruh terhadap perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa.
Background: Electronic cigarettes have now become part of the lifestyle. Over the past 10 years, there has been a significant increase in electronic cigarette users in Indonesia between 2011 and 2021, from 0.3% to 3.0%. Previous research at the University of Indonesia showed that the frequency of regular use of electronic cigarettes reached 50%. Objectives: This study aims to analyze the factors associated with electronic cigarette use behavior among students of the Faculty of Engineering, University of Indonesia. Methods: This research uses a quantitative design with a cross-sectional study. Results: The results of the chi-square test showed a significant relationship between the factors of gender (p = 0.021), knowledge (p = 0.027), perceived susceptibility (p = <0.001), perceived severity (p = <0.001), perceived benefits (p = <0.001), perceived barriers (p = <0.001), self-efficacy (p = <0.001), cue to action (p = <0.001) with the behavior of using electronic cigarettes. However, the age factor found no significant relationship (p=0.062). Conclusion: Factors in the HBM such as demographic factors, perceived susceptibility, perceived severity, benefits, barriers, self-efficacy, and cue to action are proven to influence the behavior of using electronic cigarettes in college students. 
Read More
S-11863
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Nafis Sjamsuddin; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dadan Erwandi, Wahyu Septiono, Ika Malika
Abstrak:
Saat ini, masyarakat semakin mudah mengakses informasi melalui berbagai perangkat yang terhubung dengan teknologi internet. Namun, hal tersebut menimbulkan berbagai kekhawatiran baru, salah satunya penyebaran infromasi yang salah atau tidak akurat. Untuk mengatasinya, pendekatan literasi yang lebih spesifik dibutuhkan yaitu literasi kesehatan digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan determinan personal terhadap literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia. Studi ini menggunakan analisis data sekunder dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui survei yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menggunakan instrumen eHEALS dengan delapan pertanyaan tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel dependen dan determinan sosial meliputi jenis kelamin, usia, rumpun ilmu, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan digital pada mahasiswa program sarjana dalam kategori baik (M=3,14; SD=0,501). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel usia saku berhubungan secara signifikan dengan literasi kesehatan digital setelah dikontrol oleh variabel usia (β=0,926; 95% CI=0,037 – 1,785). Oleh karena itu, diperlukan upaya dalam pengembangan program edukasi kesehatan yang dapat menjangkau mahasiswa dari beragam latar belakang dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan digital mereka.



Currently, it is easier for people to access information through various devices connected to internet technology. However, this raises various new concerns, one of which is the spread of false or inaccurate information. To overcome this, a more specific literacy approach is needed, namely digital health literacy. This study aims to determine the relationship between personal determinants of digital health literacy in undergraduate students at the University of Indonesia. This study uses secondary data analysis with a cross-sectional design. Data was collected through a survey conducted by a research team from the Faculty of Public Health, University of Indonesia, using the eHEALS instrument with eight questions about digital health literacy in this study. The analysis uses multiple linear regression with health literacy as the dependent variable and social determinants including gender, age, knowledge class, and pocket money as independent variables. The results showed that the level of digital health literacy in undergraduate students was in the good category (M=3.14; SD=0.501). The results of multiple linear regression analysis show that the pocket age variable is significantly related to digital health literacy after controlling for the age variable (β=0.926; 95% CI=0.037 – 1.785). Therefore, efforts are needed to develop health education programs that can reach students from various backgrounds with the aim of increasing their digital health literacy.
Read More
T-6709
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hairunnisa Hadiati Utami; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Asih Setiarini, Mush'ab Zulkarnaen
Abstrak:
Latar Belakang: Pemenuhan pilar pertama Pedoman Gizi Seimbang melalui konsumsi pangan beragam menjadi tantangan selama Ramadan akibat fenomena 'lapar mata' yang memicu preferensi makanan padat energi rendah mikronutrien. Tujuan: Mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan pada mahasiswa FKM UI selama Ramadan 2026. Metode: Studi potong lintang dilakukan terhadap 103 mahasiswa yang dipilih secara proportional random sampling. Data dikumpulkan pada 11–16 Maret 2026 menggunakan kuesioner elektronik, meliputi variabel pengetahuan gizi, pendidikan orang tua, tempat tinggal, teman sebaya, dan keragaman pangan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas mahasiswa (93,2%) memiliki konsumsi pangan beragam. Faktor yang berhubungan signifikan adalah pengaruh teman sebaya (OR=8,769; 95% CI:1,016–75,723) dan status tempat tinggal (OR=5,404; 95% CI:1,114–26,205). Pengetahuan gizi (p=0,591) dan pendidikan orang tua baik ayah dan ibu (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulan: Lingkungan sosial (teman sebaya dan tempat tinggal) merupakan pengaruh dominan keragaman pangan mahasiswa selama Ramadan. Intervensi gizi sebaiknya difokuskan pada penguatan dukungan sosial dan perilaku makan kolektif untuk menjaga kualitas keragaman pangan selama periode puasa.

Background: Adherence to the first pillar of the Balanced Nutrition Guidelines regarding dietary diversity is essential for nutritional equilibrium. However, this principle faces challenges during Ramadan as psychosocial phenomena like ‘eye hunger’ trigger preferences for energy dense but micronutrient poor foods, potentially compromising diet quality. Objective: This study aimed to identify factors associated with dietary diversity among undergraduate students at FKM UI during Ramadan 2026. Method: A cross- sectional study was conducted among 103 students selected via proportional random sampling. Data were collected from March 11–16, 2026, using an electronic questionnaire. Investigated variables included nutrition knowledge, parental education, living arrangements, peer influence, and dietary diversity. Data were analyzed using the chi-square test. Result: The majority of students (93.2%) achieved a diverse dietary intake. Significant predictors were peer influence (OR=8.769; 95% CI: 1.016–75.723) and living arrangements (OR=5.404; 95% CI: 1.114–26.205). Nutrition knowledge (p=0.591) and parental education both father and mother (p=1.000) showed no significant association with dietary diversity. Conclusion: The social environment, specifically peer influence and living arrangements, is the primary predictor of students' dietary diversity during Ramadan. Nutritional interventions should focus on strengthening social support and collective eating behaviors to maintain diet quality during the fasting period.
Read More
S-12274
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riski Agussalim Siregar; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Tiara Amelia, Theresia Rhabina Noviandari, Deksa Presiana
Abstrak:

Literasi gizi fungsional menjadi keterampilan dasar dan penting yang dibutuhkan seseorang dan promosi kesehatan di era penyakit akibat masalah gizi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial dan literasi gizi serta hubungan keduanya pada mahasiswa sarjana Universitas Indonesia tahun angkatan 2018/2019. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional, penelitian ini mengambil data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 di Universitas Indonesia (n=373). Pengukuran literasi gizi dilakukan menggunakan instrumen The Newest Vital Sign (NVS) berisi 6 pertanyaan mengenai label gizi yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi gizi fungsional sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti usia, jenis kelamin, suku, uang saku, rumpun keilmuan dan tempat tinggal sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara rumpun keilmuan (p=0,041) dan tempat tinggal (p =0,033) dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia, sedangkan usia (p= 0,321), jenis kelamin (p=0,968), suku (p=0,606) dan uang saku (p=0,805) tidak berhubungan dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan hubungan signifikan antara literasi gizi fungsional dengan determinan sosial tempat tinggal (p=0,010) dan Rumpun Ilmu (p-0,038). Hasil ini mengindikasikan hubungan yang lemah antara determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa. Dan diperlukan upaya pengembangan edukasi terkait label gizi guna membantu mahasiswa dalam meningkatkan literasi gizi fungsional.


 

Functional nutrition literacy is a basic and important skill needed by a person and health promotion in an era of increasing diseases due to nutritional problems. This study aims to determine the description of social determinants and nutritional literacy and the relationship between the two in undergraduate students at the University of Indonesia class of 2018/2019. The research design used a cross sectional design, this study took data from the 2019 Health Literacy Study at the University of Indonesia (n = 373). Measurement of nutritional literacy was carried out using The Newest Vital Sign (NVS) instrument containing 6 questions regarding adapted nutrition labels. Analysis used multiple linear regression with functional nutrition literacy as the dependent variable and social determinants such as age, gender, ethnicity, pocket money, scientific clump and place of residence as independent variables. The results showed that there was an association between scientific group (p=0.012) and residence (p=0.041) with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students, while age (p=0.321), gender (p=0.968), ethnicity (p=0.606) and pocket money (p=0.805) were not associated with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students. The results of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between functional nutrition literacy and social determinants of residence (p=0.010) and Science Group (p-0.038). These results indicate a weak relationship between social determinants and functional nutrition literacy in university students. Efforts are needed to develop education related to nutrition labeling to help students improve functional nutrition literacy.

Read More
T-7203
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive