Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41200 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhamad Faisal Amirul Mukminin; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Samsi Y. Samoeri, Chandra Arif Dermawan
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek yang paling penting dalam melakukan setiap pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat bahaya dan risiko tinggi adalah industri minyak dan gas bumi. Beberapa kali kita melihat kasus kebakaran atau ledakan yang pernah terjadi di depot bahan bakar minyak maupun kilang minyak yang ada di Indonesia. Maka dari itu, pekerjaan inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan menjadi penting untuk meminimalisir kecelakaan kerja. Dalam penelitian ini, akan dilakukan analisis risiko terhadap ketidakeseuaian dari hasil inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan pada instalasi depot bahan bakar minyak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional melalui pendekatan kualitatif, serta dalam penilaian risiko menggunakan pendekatan semi-kuantitatif dengan menggunakan matriks risiko. Hasil dari penelitian ini terdapat 4 ketidaksesuaian dari hasil inspeksi teknis dan pemeriksaan keselamatan. Diantaranya umur instalasi yang hampir melebihi umur desain, tahanan grounding yang tinggi, terdapat bangunan lain yang berada di dalam instalasi depot, dan rumput liar yang tinggi. Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa dari ketidaksesuaian tersebut memiliki tingkat risiko ekstrim, tinggi, dan sedang. Semua analisis tingkat risiko dari ketidaksesuaian sudah dianalisis berdasarkan pengendalian yang sudah dilakukan serta insiden yang pernah terjadi sebelumnya di industri yang sama. Rekomendasi pengendalian yang diberikan oleh penulis, diharapkan dapat menurunkan tingkat risiko sampai ke tingkat risiko yang dapat diterima.

Occupational safety and health is the most important aspect of every job. One job that has a high level of danger and risk is the oil and gas industry. Several times we have seen cases of fires or explosions that have occurred at fuel oil depots and oil refineries in Indonesia. Therefore, technical inspection work and safety checks are important to minimize work accidents. In this study, a risk analysis of non-conformities from the results of technical inspections and safety checks at fuel oil depot installations will be carried out. This research uses an observational descriptive method through a qualitative approach, beside the risk assessment through a semi-quantitative approach that carried out using a risk matrix. The results of this study found 4 non-conformities from the results of technical inspections and safety checks. Among them are the age of the installation which almost exceeds the design life, high grounding resistance, there are other buildings inside the depot installation, and high weeds. The risk analysis results show that these non-conformities have extreme, high and medium risk levels. All risk level analyses of non-conformities have been analyzed based on the controls that have been implemented as well as incidents that have occurred previously in the same industry. The control recommendations provided by the author are expected to reduce the risk level to an acceptable risk level.
Read More
T-7336
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Wijanarko; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Iqbal Anggriawan
Abstrak: Kelelahan pada pengemudi merupakan salah satu faktor penyebab utama terjadinyakecelekaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktorrisiko pengemudi yaitu usia, IMT, durasi kerja, masa kerja, waktu istirahat,commuting time, shift kerja, dan kuantitas tidur pengemudi truk tangki BBM.Penelitian ini dilakukan pada bulan selama bulan juni di Depot TBBM PlumpangJakarta. Jumlah sampel dalam penelitian 123 responde. Penelitian bersifatkuantitatif observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional.Pengukuran kelelahan menggunakan subjective symptoms test yang bersumber dariIndustrial Fatigue Research Committe (IFRC). Hasil penelitian menunjukkanbahwa 60,1% pengemudi mengalami kelelahan ringan dan 39,8% pengemudimengalami kelelahan sedang. Gejala kelelahan yang paling sering dialami olehresponden adalah merasa haus sebanyak 90,1%. Hasil perhitungan statistik chisquare tidak menunjukkan adanya faktor-faktor risiko yang memiliki hubunganbermakna, namun hasil uji t dan uji korelasi menunjukkan secara signifikan bahwadurasi mengemudi dan masa kerja memiliki hubungan positif dengan skorkelelahan.
Kata kunci:Kelelahan, Pengemudi, Petroleum Truck.
Driver fatigue is one of the main cause of road accident. This study aimed todetermine the correlation between petroleum truck driver fatigue with the risk factorsuch as age, BMI (body mass indeks), driving hours, working period, rest time,commuting time, work shift, and sleep hours of petroleum truck drivers. This studywas conducted in June 2016 at PT. X Depot TBBM Plumpang Jakarta. Total sampleof this study are 123 drivers. This research is based on quantitative observationalstudies using cross-sectional approach. Measurement of fatigue using subjectivesymptoms tes based on Industrial Fatigue Research Committe (IFRC). The resultsshow that 60,1% drivers experienced mild fatigue, while 39,1% drivers experiencedmedium fatigue. The result of chi-square calculation did not show any statisticallysignificant association between risk factor with driver fatigue, although otherstatistic test such as t-test and correlation test significantly show that driving hoursand working period show positive relation with the fatigue score.
Keywords:Fatigue, Driver, Petroleum Truck.
Read More
S-9233
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Yulianto S Nugroho, Gama Widyaputra, Waluyo
Abstrak: Tingginya jumlah dan volume distribusi bahan bakar minyak, salah satunya dengan moda transportasi mobil tangki, memiliki risiko yang semakin kompleks terkait potensi kebakaran dan ledakan. Berbagai penelitian dan laporan kasus membuktikan tingkat kecelakaan atau kebakaran dan ledakan mobil tangki masih terus terjadi. Kajian kuantitatif risiko kebakaran dan ledakan dilakukan untuk mengetahui tingat risiko individu dan sosial. Perhitungan frekuensi dilakukan dengan menggunakan Event Tree Analysis (ETA) dan konsekuensi dengan perangkat lunak ALOHA® (Areal Locations of Hazardous Atmospheres) berdasarkan skenario terburuk. Studi kasus dilakukan di filling shed Terminal Bahan Bakar Minyak X Jakarta. Penelitian dilakukan dengan desain studi deskriptif dan analitik melalui data primer hasil observasi dan wawancara serta data sekunder perusahaan dan literatur. Penelitian ini menggambarkan risiko individu dan sosial masing-masing masuk dalam kategori masih dapat diterima dan dapat ditoleransi. Perusahaan perlu mempertahankan sistem keselamatan kebakaran yang ada dan meningkatkan sosialisasi terhadap karyawan dan masyarakat karena dampak yang ditimbulkan mulai dari manusia, aset, material, ekonomi dan reputasi perusahaan. Kata kunci: Kajian Risiko Kuantitatif, Kebakaran, Ledakan, Mobil Tangki, Bahan Bakar Minyak
Read More
T-4456
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Yulianto S Nugroho, Gama Widyaputra, Waluyo
Abstrak: Tingginya jumlah dan volume distribusi bahan bakar minyak, salah satunya dengan moda transportasi mobil tangki, memiliki risiko yang semakin kompleks terkait potensi kebakaran dan ledakan. Berbagai penelitian dan laporan kasus membuktikan tingkat kecelakaan atau kebakaran dan ledakan mobil tangki masih terus terjadi. Kajian kuantitatif risiko kebakaran dan ledakan dilakukan untuk mengetahui tingat risiko individu dan sosial. Perhitungan frekuensi dilakukan dengan menggunakan Event Tree Analysis (ETA) dan konsekuensi dengan perangkat lunak ALOHA® (Areal Locations of Hazardous Atmospheres) berdasarkan skenario terburuk. Studi kasus dilakukan di filling shed Terminal Bahan Bakar Minyak X Jakarta. Penelitian dilakukan dengan desain studi deskriptif dan analitik melalui data primer hasil observasi dan wawancara serta data sekunder perusahaan dan literatur. Penelitian ini menggambarkan risiko individu dan sosial masing-masing masuk dalam kategori masih dapat diterima dan dapat ditoleransi. Perusahaan perlu mempertahankan sistem keselamatan kebakaran yang ada dan meningkatkan sosialisasi terhadap karyawan dan masyarakat karena dampak yang ditimbulkan mulai dari manusia, aset, material, ekonomi dan reputasi perusahaan. Kata kunci: Kajian Risiko Kuantitatif, Kebakaran, Ledakan, Mobil Tangki, Bahan Bakar Minyak
Read More
T-4456
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Ramadhani; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Mila Tejamaya, Yuni usminanti
Abstrak: Tangki timbun yang menyimpan premium memiliki risiko kebakaran dan ledakankarena premium bersifat flammable, reactive, dan mudah menguap. Oleh karenaitu, diperlukan penilaian risiko kebakaran dan ledakan pada tangki agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dan meminimalisasi dampak yang mungkin terjadi. Penilaian risiko kebakaran pada tangki timbun dilakukan dengan menggunakan metode Dow;s Fire and Explosion Index. Objek penelitian adalah tangki timbun nomor 12 yang menyimpan premium dengan kapasitas 5.020 kL.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F&EI pada tangki timbun nomor 12sebesar 122,24. Hal ini berarti tangki timbun memiliki risiko kebakaran dan ledakan dengan kategori intermediate. Radius pajanan jika terjadi kebakaran da nledakan adalah 43,747 meter. Luas area terpajan jika terjadi kebakaran dan ledakan adalah 3.074,25 m2. Nilai pergantian properti dan seluruh peralatan yang rusak jika terjadi kebakaran dan ledakan adalah Rp 8.357.392.777,-. Denganfaktor kerusakan sebesar 0,50, maka jika terjadi kebakaran dan ledakan nilai kerugian dasar yang diderita adalah Rp 4.178.696.388,-. Faktor pengendali kerugian adalah 0,56, sehingga kerugian sebenarnya jika terjadi kebakaran danledakan adalah Rp 2.340.069.958,-. Lama hari kerja yang hilang jika terjadi kebakaran dan ledakan adalah 23 hari dan besarnya kerugian yang diderita apabila bisnis terhenti sementara adalah Rp 2.597.849.793,-.Kata Kunci:Premium, tangki timbun, kebakaran dan ledakan, analisis kerugian.
Read More
S-7612
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Yulianto; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Fatma Lestari, Laksita Ri Hastiti, Adrianus Pangaribuan, Ivan Havosan
Abstrak:
Tesis ini membahas proses kegiatan pengiriman BBM ke SPBU dengan proses unloading memiliki potensi bahaya yang tinggi karena hubungannya dengan bahan bakar jenis pertalite dan solar. Oleh karenanya perlu dilakukan analisis perhitungan level risiko dan permodelan skenario untuk menggambarkan dampak kebakaran dan ledakan, agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan dengan melakukan pengendalian dan pencegahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko terjadinya kebakaran dan ledakan pada kegiatan unloading bahan bakar minyak dari mobil tangki di SPBU. Dalam penelitian ini menggunakan metode semi kuantitatif, dimana penilaian risiko dapat menggunakan metode kuantitatif, kualitatif dan semi kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah mobil tangki kapasitas 24.000 liter melakukan proses pembongkaran (unloading) BBM dengan produk yang diangkut jenis pertalite di 3 SPBU wilayah Jawa Bagian Barat yang pernah mengalami insiden kebakaran. Instrumen dan analisa risiko bahaya kebakaran dan ledakan menggunakan Dows Fire and Explosion Index. Dari hasil perhitungan Dows Fire and Explosion Index dengan menggunakan software ALOHA versi 5.4.7 dan MARPLOT dapat diketahui klasifikasi risiko dari kejadian kebakaran dan ledakan serta area dampak dari kejadian tersebut. Hasil penelitian ini diketahui bahwa Tingkat risiko kebakaran dan ledakan dari proses unloading bahan bakar minyak dari mobil tangki ke SPBU menurut klasifikasi tingkat risiko dengan nilai 122,56 berada pada kategori Intermediate

The focus of this thesis discuses about sending fuel to gas stations with the unloading process has a high potential for danger because of its relationship with gasoline and diesel fuel types. Therefore, it is necessary to analyze the risk level calculation and scenario modeling to describe the impact of fire and explosion, so that the impact can be minimized by controlling and preventing. The purpose of this study was to determine the level of risk of fire and explosion in the activity of unloading fuel oil from tank cars at gas stations. In this study using semi-quantitative methods, where risk assessment can use quantitative, qualitative and semi-quantitative methods. The sample in this study was a tank car with a capacity of 24,000 liters carrying out the process of unloading fuel with products transported by pertalite types at 3 gas stations in the West Java region that had experienced fire incidents. Instruments and risk analysis of fire and explosion hazards using the Dow's Fire and Explosion Index. From the results of the Dow's Fire and Explosion Index calculations using ALOHA software version 5.4.7 and MARPLOT, it can be seen the risk classification of fire and explosion events and the impact area of these events. The results of this study indicate that the risk level of fire and explosion from the process of unloading fuel oil from tank cars to gas stations according to the risk level classification with a value of 122.56 is in the Intermediate category
Read More
T-6440
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Widiyanto; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Laksita Ri Hastiti, Muhamad Dawaman, Yuni Kusminanti
Abstrak:
Penelitian ini membahas gambaran persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja di PT.X dengan pendekatan paradigma psikometri yaitu kesukarelaan terhadap risiko, kesegeraan dampak, pemahaman risiko berdasarkan pengalaman, potensi dampak risiko, reaksi yang ditimbulkan risiko, keparahan risiko, pengetahuan terhadap risiko, pengendalian terhadap risiko dan tingkat kebaruan risiko. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif, pengambilan data dengan cara penyebaran kuisioner, dilakukan pada bulan Juni 2024, di PT.X, Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja PT.X adalah baik yaitu sebanyak 55.1% pekerja memiliki persepsi baik (tinggi) dan 44.9% pekerja dari total responden memiliki persepsi buruk (rendah) terhadap keselamatan kerja. Disarankan terhadap PT.X terus meningkatkan pelatihan-pelatihan dan pengawasan terhadap pekerja yang bertujuan untuk meminimalisir tindakan tidak aman dan mencegah kecelakaan kerja di lingkungan operasional PT.X.

This study discusses the description of occupational safety risk perception in workers at PT.X with a psychometric paradigm approach, namely voluntariness of risk, immediacy of impact, understanding of risk based on experience, potential risk impact, risk reaction, risk severity, knowledge of risk, risk control and level of risk novelty. This research is a quantitative research with descriptive design, data collection by distributing questionnaires, conducted in June 2024, at PT.X, South Sumatra. The results showed that the majority of perceptions of occupational safety risks in PT.X workers were good, namely as many as 55.1% of workers had good perceptions (high) and 44.9% of workers from total respondents had poor perceptions (low) of occupational safety. It is recommended that PT.X continue to improve training and supervision of workers which aims to minimise unsafe acts and prevent work accidents in the PT.X operational environment.
Read More
T-7146
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Husnul Falah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Muthia Ashifa, Listya Eka Anggraini
Abstrak:
Paparan bahan kimia dan agen biologis di laboratorium lingkungan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan bagi analis laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan bahan kimia melalui rute inhalasi dan dermal, serta paparan terhadap agen biologis (bakteri) yang digunakan di Laboratorium Lingkungan PT X pada tahun 2025. Penilaian risiko dilakukan menggunakan metode Chemical Health Risk Assessment (CHRA) dari DOSH Malaysia untuk bahan kimia, serta metode BIOGAVAL NEO untuk agen biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia seperti benzena, formaldehida 37%, asam sulfat dan kalium dikromat memiliki nilai hazard rating dan exposure rating yang tinggi pada kedua rute pajanan tersebut. Sementara itu, paparan agen biologis seperti Escherichia coli dan Salmonella spp. diklasifikasikan ke dalam kelompok risiko 2 berdasarkan klasifikasi WHO. Evaluasi terhadap pengendalian risiko mengungkapkan bahwa meskipun beberapa tindakan telah diterapkan, seperti penggunaan fume hood, masih terdapat praktik kerja yang kurang aman dalam aktivitas yang melibatkan bahan kimia, serta kelemahan dalam penerapan prinsip biosafety dan biosecurity dalam penanganan agen biologis. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan efektivitas pengendalian yang ada serta penerapan pengendalian tambahan yang lebih spesifik, terarah, dan menyeluruh guna memastikan perlindungan optimal bagi tenaga kerja laboratorium dari risiko kesehatan akibat paparan bahan kimia dan biologis.

Exposure to chemical substances and biological agents in environmental laboratories has the potential to pose significant health risks to laboratory analysts. This study aims to evaluate the level of health risk resulting from chemical exposure via inhalation and dermal routes, as well as exposure to biological agents (bacteria) used in the Environmental Laboratory of PT X in 2025. Risk assessment was conducted using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA) method from DOSH Malaysia for chemical agents, and the BIOGAVAL NEO method for biological agents. The results indicate that several chemicals, such as benzene, 37% formaldehyde, sulfuric acid, and potassium dichromate, have high hazard rating and exposure rating through both inhalation and dermal exposure routes. Meanwhile, exposure to biological agents such as Escherichia coli and Salmonella spp. is classified as Risk Group 2 based on WHO classification. Risk control evaluation revealed that although some measures have been implemented—such as the use of fume hoods—unsafe work practices still persist in activities involving chemical handling. Additionally, weaknesses remain in the implementation of biosafety and biosecurity principles in activities involving biological agents. Therefore, it is necessary to enhance the effectiveness of existing controls and implement additional, more specific, targeted, and comprehensive control measures to ensure optimal protection for laboratory personnel from health risks due to chemical and biological exposures.
Read More
T-7347
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Elfariyani; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Muhammad Irwansyah, M. Rahmanda Lintang Putranto
Abstrak:
Perkembangan industri precast yang pesat sebagai bagian dari dukungan terhadap pembangunan infrastruktur nasional berimplikasi pada meningkatnya kompleksitas risiko keselamatan kerja. Karakteristik proses yang mengintegrasikan aktivitas manufaktur dan konstruksi menjadikan potensi bahaya pada sektor ini bersifat khas dan memerlukan perhatian khusus. Di sisi lain, meskipun implementasi sistem keselamatan kerja telah berjalan, kajian yang secara spesifik mengkaji persepsi risiko keselamatan pekerja pada industri precast masih terbatas, terutama dalam kaitannya dengan faktor individu dan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu dan faktor organisasi terhadap persepsi risiko keselamatan pada pekerja unit produksi precast PT X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional melalui penyebaran kuesioner kepada 281 pekerja yang tersebar di lima plant. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu (usia, tingkat pendidikan, masa kerja, dan bagian pekerjaan) serta faktor organisasi (beban kerja, iklim keselamatan, dan pengalaman kecelakaan kerja). Analisis data dilakukan secara bertahap melalui uji univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 58,4% pekerja memiliki persepsi risiko keselamatan dalam kategori baik, sementara 41,6% lainnya berada pada kategori kurang baik. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor individu dan organisasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko keselamatan pekerja. Pada faktor individu, variabel bagian pekerjaan (p=0,000; OR=0,012) dan tingkat pendidikan terakhir (p=0,045; OR=1,458) terbukti berpengaruh signifikan. Sementara itu, pada faktor organisasi, variabel beban kerja (p=0,000; OR=5,118), iklim keselamatan (p=0,000; OR=3,211), serta pengalaman kecelakaan kerja (p=0,041; OR=0,056) juga menunjukkan pengaruh yang bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada aspek sistem, tetapi juga memerlukan penguatan pada dimensi individu dan lingkungan kerja. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih integratif, antara lain melalui pengembangan pelatihan K3 yang kontekstual, peningkatan kualitas kepemimpinan dalam membangun iklim keselamatan, pengelolaan beban kerja yang proporsional, serta optimalisasi sistem pelaporan kecelakaan sebagai sarana pembelajaran organisasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan persepsi risiko pekerja sekaligus memperkuat budaya keselamatan kerja di industri precast.

The rapid growth of the precast industry as part of national infrastructure development has led to increased complexity in occupational safety risks. The integration of manufacturing and construction processes creates distinctive hazard characteristics that require special attention. Despite the implementation of occupational safety management systems, studies specifically examining workers’ risk perception in the precast industry remain limited, particularly in relation to individual and organizational factors. This study aims to analyze the influence of individual and organizational factors on workers’ safety risk perception in the production units of PT X. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed through questionnaire distribution to 281 workers across five precast plants. The variables examined included individual factors (age, educational level, work experience, and job role) and organizational factors (workload, safety climate, and accident experience). Data analysis was conducted through univariate, bivariate (chi-square), and multivariate analyses using logistic regression. The results indicate that 58.4% of workers demonstrated a good level of safety risk perception, while 41.6% were categorized as having poor perception. Logistic regression analysis revealed that both individual and organizational factors significantly influence workers’ safety risk perception. Among individual factors, job role (p=0.000; OR=0.012) and educational level (p=0.045; OR=1.458) were found to have significant effects. Meanwhile, among organizational factors, workload (p=0.000; OR=5.118), safety climate (p=0.000; OR=3.211), and accident experience (p=0.041; OR=0.056) also showed significant associations. These findings highlight that improving occupational safety cannot rely solely on system level interventions but also requires strengthening individual and workplace dimensions. Therefore, more integrative strategies are needed, including the development of contextualized OHS training programs, enhancement of leadership quality in fostering a positive safety climate, optimization of workload management, and the improvement of transparent accident reporting systems as a means of organizational learning. These approaches are expected to enhance workers’ risk perception and strengthen the safety culture within the precast industry.
Read More
T-7507
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive