Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35427 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ghulam Mustafa; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Helen Andriani, Adang Bachtiar,Rakhmad Hidayat
Abstrak:

Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif, non-eksperimental, dan observasional untuk menilai kepuasan pasien mahasiswa internasional terhadap layanan kesehatan di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), sebuah rumah sakit pendidikan utama yang berkomitmen memberikan KEYWORDS:  International student satisfaction, Universitas Indonesia Hospital, service quality, healthcare quality, patient-centred care) pelayanan berkualitas tinggi dan berpusat pada pasien. Dengan meningkatnya jumlah mahasiswa internasional yang mengandalkan RSUI, pemahaman terhadap pengalaman mereka sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan dan menyelaraskan standar dengan praktik global. Kuesioner terstruktur digunakan dengan menggabungkan model SERVQUAL (tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy) dan HEALTHQUAL (safety, efficiency, care improvement), serta dimensi komunikasi dan sensitivitas budaya. Sebanyak 100 pasien mahasiswa internasional berpartisipasi dalam penelitian ini selama periode April hingga Mei 2025. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, crosstabulation, dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan tinggi pada dimensi tangibles, assurance, dan safety. Namun, empathy dan komunikasi memiliki pengaruh negatif terhadap kepuasan secara keseluruhan, menunjukkan perlunya perbaikan dalam aspek-aspek tersebut. Terdapat hubungan signifikan antara kualitas layanan, komunikasi, dan kepuasan pasien (p < 0,05). Temuan ini menyoroti pentingnya penguatan layanan penerjemah, pelatihan staf dalam kompetensi budaya dan komunikasi, serta perbaikan alur pelayanan. Studi ini mengisi kesenjangan literatur terkait kepuasan pasien asing di Indonesia dan memberikan rekomendasi strategis bagi RSUI dalam mencapai keunggulan layanan bagi pasien internasional.


 

This study used a quantitative, non-experimental, observational design to assess international student patient satisfaction with healthcare services at Universitas Indonesia Hospital (RSUI), a major academic hospital committed to high-quality, patient-centred care. With a growing international student population relying on RSUI, understanding their service experiences is critical to enhancing care delivery and aligning with international standards. A structured questionnaire was used, combining the SERVQUAL (tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy) and HEALTHQUAL (safety, efficiency, care improvement) models, along with communication and cultural sensitivity dimensions. A total of 100 international student patients participated between April and May 2025. Data were analysed using descriptive statistics, crosstabulation, and logistic regression. The results showed high satisfaction in the dimensions of tangibility, assurance, and safety. However, empathy and communication were found to have a negative influence on overall satisfaction, indicating key areas that require improvement. A significant relationship was observed between service quality, communication, and patient satisfaction (p < 0.05). These findings underscore the need for strengthening interpreter services, implementing staff training in cultural and communication competence, and improving service workflows. This study contributes new insights to the limited literature on foreign patient satisfaction in Indonesia and offers strategic recommendations to support RSUI in achieving service excellence for international patients.

 

Read More
B-2547
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brandon Clementius; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Tuan Juniar Situmorang, Fushen
Abstrak:

Latar belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memberikan manfaat pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) termasuk pada layanan rawat jalan. Komposisi pasien rawat jalan (RJ) RS UKRIDA hampir seluruhnya menggunakan penjaminan program JKN. Berdasarkan analisa kondisi finansial RS, selain menjaga pemasukan dari program JKN, perlu adanya dorongan pemasukan dari komposisi pasien berbayar pribadi (out of pocket). Secara regulasi, pasien JKN diperkenankan iur biaya untuk layanan rawat jalan eksekutif. Oleh karena itu penelitian ini ingin melihat gambaran serta hubungan kepuasan pengalaman pasien / patient experiential satisfaction (PES), loyalitas pasien (LP), dan willingness to pay (WTP) untuk peningkatan layanan pada pasien layanan RJ RS UKRIDA. Metodologi: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Sampel adalah pasien RJ RS UKRIDA yang menggunakan jaminan program JKN pada lima poli yang ditetapkan. Sampling dilakukan dengan metode convenient sampling selama bulan Mei 2024. Hasil: Persepsi responden terhadap variabel inpenden dari PES sudah baik. PES dan LP juga sudah digambarkan baik oleh responden. Responden juga menunjukkan kesediaan membayar untuk peningkatan layanan yang ditawarkan dengan nilai rerata sebesar Rp 140.968,-. PES berpengaruh positif dan signifikan terhadap LP dan WTP, begitu juga LP terhadap WTP. LP menjadi variabel mediasi yang signifikan untuk hubungan PES terhadap WTP Kesimpulan: RS perlu mempertahankan dan meningkatkan PES dari pasien yang berobat sehingga terbentuk LP yang akan membangun budaya WTP pada pasien JKN untuk peningkatan layanan. Minat bayar tersebut dapat disalurkan melalui pengembangan layanan poliklinik eksekutif di RS Kata kunci: kepuasan pengalaman pasien, loyalitas pasien, kesediaan membayar, layanan rawat jalan, poliklinik eksekutif


Background: National Health Insurance (NHI) program in Indonesia provide health services financing benefit, including services at hospital outpatient clinics. At UKRIDA hospital itself, most patient utilise that NHI benefit. As for that, based on hospital financial condition, NHI patients must be maintained, but on the other side revenue from out-of-pocket patients should be improved. Indonesian health regulation permit hospital to charge extra fees from NHI patients for execuitve services. Therefore, this study picture patient experiential satisfaction (PES), patient loyalty (PL), and patient’s willingness to pay (WTP) for quality improvement at UKRIDA Hospital outpatients setting. Methodology: This is a quantitative cross-sectional study using questionnaire as it’s tool. Samples taken in May 2024 using convenient sampling method from UKRIDA hospital outpatients that utilise NHI benefit for five chosen departement clinics. Results: Respondents rate every PES’s independent construct as good. PES and PL also rated as good. Respondents show willingness to pay for every quality improvement given in the questionairre with average value at Rp 140.968,-. PES found to be significantly influence LP and WTP, as well as LP significantly influence WTP. LP acts as significant mediator for PES to influence patient’s WTP for quality improvement. Conclusion: UKRIDA Hospital need to maintain it’s performance to keep PES, therefore PL is formed. At this state, NHI patient’s WTP for quality improvement expected to be improved. To channel that interest, UKRIDA Hospital should develop executive clinics based on regulation. Keywords: Patient experiential satisfaction, patient loyalty, willingness to pay, outpatient, executive clinic

Read More
B-2473
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggraina Widiyanti; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Rakhmad Hidayat, Nana Mulyana, Sri Kuswahyuni
Abstrak:
Latar Belakang: Pencapaian kinerja Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit (RS) Hermina Tangerang mengalami fluktuatif, belum mencapai target yang ditentukan dan trendlinenya cenderung mengalami penurunan pada periode tahun 2018-2023. Penilaian google review RS Hermina Tangerang adalah 4,1 dari 5, dimana masih didapatkan banyak keluhan mengenai kualitas pelayanan rawat inap di RS Hermina Tangerang. Hal ini mungkin menjadi penyebab rendahnya kunjungan ulang pasien ke RS Hermina Tangerang. Sehingga pencapaian Rawat Jalan, IGD dan BOR di RS Hermina Tangerang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Apabila pencapaian tersebut dibiarkan terjadi terus menerus, akan berdampak signifikan pada pendapatan Rumah Sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methode, dengan tahap pertama survey, dan tahap kedua dengan action research.. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pasien rawat inap di RS Hermina Tangerang dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan model persamaan struktural (SEM) dengan pendekatan partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Word Of Mouth (WOM) dan minat kunjungan ulang pasien. Dimensi kualitas pelayanan yang meliputi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, semuanya berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan WOM dan minat kunjungan ulang. Selain itu, WOM juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjungan ulang pasien. Kesimpulan: Kualitas pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Hermina Tangerang sudah baik. Namun masih ada nilai dalam dimensi kualitas pelayanan yang kecil, menjadi ruang untuk RS Hermina Tangerang melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pelayanan. Saran bagi manajemen rumah sakit adalah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan loyalitas pasien dan keberhasilan bisnis rumah sakit. Kata Kunci: Kualitas pelayanan, Word of Mouth, Minat Kunjungan Ulang

Background: The performance achievements in Outpatient Services, Emergency Department (ED), and Bed Occupancy Rate (BOR) at Hermina Hospital Tangerang have been fluctuating, not reaching the set targets, and the trendline has tended to decline during the period 2018-2023. The Google review rating for Hermina Hospital Tangerang is 4.1 out of 5, where there are still many complaints regarding the quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang. This may be the cause of the low rate of revisit intention patient to Hermina Hospital Tangerang. As a result, the achievements in Outpatient Services, ED, and BOR at Hermina Hospital Tangerang do not meet the predetermined targets. If this situation is allowed to continue, it will have a significant impact on the hospital's revenue. Methode: The research method used is a mixed method, with the first stage being a survey, and the second stage involving CDMG (Consensus Decision Making Group). Data were collected through questionnaires distributed to inpatients at Hermina Hospital Tangerang and interviews with key informants. Quantitative data analysis was conducted using structural equation modeling (SEM) with a partial least square (PLS) approach. Result: The research results show that service quality has a positive and significant influence on Word Of Mouth (WOM) and revisit intention. The dimensions of service quality, including tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, all contribute significantly to the increase in WOM and revisit intention. Moreover, WOM also has a proven positive and significant influence on revisit intention. Conclusion: The quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang is already good. However, there are still low scores in certain service quality dimensions, providing an opportunity for Hermina Hospital Tangerang to make improvements and enhance service quality. The recommendation for hospital management is to continuously improve service quality to increase patient loyalty and business success of the hospital. Keywords: Service Quality, Word of Mouth, Revisit Intention
 
Read More
B-2480
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wirdah; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Amal Chalik Sjaaf, Endah Kartika Dewi
Abstrak:
Layanan radioterapi sebagai modalitas penanganan kasus kanker secara komprehensif menjadi permasalahan global atas sebaran yang belum merata dan pengembangan layanan yang memerlukan investasi sumberdaya manusia serta sarana dan prasarana berbiaya tinggi. Pemanfaatan layanan radioterapi yang optimal diharapkan dapat menjadikan layanan tersebut sustainable dan mandiri dalam pembiayaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi optimalisasi pemanfaatan layanan radioterapi yang dikembangkan dalam suatu rencana aksi. Dengan pendekatan kualitatif dilakukan pengolahan data primer dan sekunder melalui tahap input stage dengan matriks IFE dan EFE, matching stage dengan matriks SWOT dan IE Matriks, serta decission stage dengan matriks QSPM. Hasil penelitian didapatkan strategi terpilih meliputi product development, market penetration dan market development. Strategi product development meliputi pengembangan layanan okologi terpadu dalam kemampuan diagnostik, layanan kanker sistemik (kemoterapi) pengembangan cakupan layanan pembedahan dan penyinaran (radiasi), serta penyusunan layanan radioterapi eksekutif. Strategi market penetration meliputi penyusunan jejaring rujukan kanker dan penyusunan kesepakatan kerja sama rujukan radioterapi pada RSUD di Jakarta dan rumah sakit jejaring rujukan. Strategi market development yang dipilih adalah pengembangan pemasaran radioterapi dengan digital marketing, pengukuran capaian pemasaran radioterapi serta promosi layanan rasioterapi dengan menggunakan sistem informasi estimasi waktu tunggu layanan. Rekomendasi hasil penelitian menitik beratkan pada perlunya pengkajian pemanfaatan SDM unit radioterapi dalam penelitian selanjutnya.

Radiotherapy services as a comprehensive cancer case treatment modality are a global problem due to uneven distribution and service development that requires investment in human resources and high-cost facilities and infrastructure. Optimal utilization of radiotherapy services is expected to make these services sustainable and independent in their financing. This study aims to determine the strategy for optimizing the utilization of radiotherapy services developed in an action plan. With a qualitative approach, primary and secondary data processing was carried out through the input stage with the IFE and EFE matrices, the matching stage with the SWOT and IE matrices, and the decision stage with the QSPM matrix. The results of the study obtained selected strategies including product development, namely market penetration and market development. The product development strategy includes the development of integrated oncology services in diagnostic capabilities, systemic cancer services (chemotherapy), development of surgical and radiation (radiation) service coverage, and the preparation of executive radiotherapy services. The market penetration strategy includes the preparation of a cancer referral network and the preparation of a radiotherapy referral cooperation agreement at regional hospitals in Jakarta and referral network hospitals. The chosen market development strategy is the development of radiotherapy marketing with digital marketing, measurement of radiotherapy marketing achievements and promotion of ratiotherapy services using a service waiting time estimation information system. The recommendations of the research results emphasize the need for an assessment of the utilization of radiotherapy unit human resources in further research.
Read More
B-2542
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Jusela; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Dedy Waskita; Budi Hartono
Abstrak:
Latar Belakang: Perkembangan Rumah Sakit di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 melanda Indonesia menyebabkan perubahan tatanan kesehatan indonesia. Rumah Sakit Pertamina Jaya berubah semula Rumah Sakit Umum menjadi Rumah Sakit Khusus Rujukan COVID. Pada tahun 2020, sebelum pandemi melanda Indonesia, Rumah Sakit Pertamina Jaya akan menambah layanan Center of Excellence (CoE) ibu dan anak, dimulai dengan membuat center layanan anak. Setelah pandemi COVID-19 berakhir, Rumah Sakit Pertamina Jaya kembali menjadi Rumah Sakit Umum dan meneruskan pengembangan CoE layanan ibu dan anak. Masalah yang muncul dalam Rumah Sakit Pertamina Jaya adalah belum adanya Perencanaan Strategis untuk pengembangan layanan anak. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan strategis pengembangan layanan anak di Rumah Sakit Pertamina Jaya periode tahun 2025-2029. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode operational research dengan menggunakan data primer berupa wawancara mendalam kepada informan dan Consensus Decision Making Group (CDMG) bersama informan. Data sekunder menggunakan data rekam medis Rumah sakit, laporan kinerja, literatur, hasil penelitian dan dokumen lainnya. Kerangka konsep menggunakan pendekatan strategic management model dengan tiga tahapan yaitu input stage, matching stage dan decision stage. Hasil Penelitian: Dalam proses input dimana pada analisa lingkungan intermal didapatkan hasil Sumbe Daya Manusia, Standar Operasional Prosedur, Sistem Informasi merupakan kekuatan. Kelemahan Rumah Sakit adalah fasilitas umum, keuangan dan pemasaran. Peluang Rumah Sakit adalah kebijakan pemerintah, demografi, epidemiologi, teknologi dan pesaing. Ancaman rumah sakit adalah sosial ekonomi dan pelanggan. Pada matching stage posisi Rumah Sakit berada di kuadran II yaitu grow and build dimana alternatif strategi market penetration, market development and product development. Strategi yang akan diterapkan berdasarkan prioritas adalah pengembangan produk layanan tumbuh kembang anak, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan layanan anak, revitalisasi dan perluasan banguanan Rumah Sakit Pertamina Jaya, brand awareness layanan anak, pengembangan teknologi, penetrasi pasar rujukan layanan anak pihak ke-III. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan posisi rumah sakit adalah grow and build dengan prioritas utama adalah pengembangan produk layanan tumbuh kembang anak

Background: Hospital development in Indonesia continues to experience significant growth from year to year. The COVID-19 pandemic in 2020 hit Indonesia causing changes to Indonesia's health system. Pertamina Jaya Hospital was transformed from a General Hospital into a Special COVID Referral Hospital. In 2020, before the pandemic hit Indonesia, Pertamina Jaya Hospital will add center of excellence services for mothers and children, starting by creating a children's service center. After the COVID-19 pandemic ended, Pertamina Jaya Hospital returned to being a General Hospital and continued developing a center of excellence for maternal and child services. The problem that arises at Pertamina Jaya Hospital is that there is no Strategic Planning for the development of children's services. Objectives: This research aims to create a strategic plan for the development of children's services at Pertamina Jaya Hospital for the period 2025-2029. Methodology: This research uses operational research methods using primary data in the form of in-depth interviews with informants and the Consensus Decision Making Group (CDMG) with informants. Secondary data uses hospital medical record data, performance reports, literature, research results and other documents. The conceptual framework uses a strategic management model approach with three stages, namely input stage, matching stage and decision stage. Results: In the input process, the analysis of the internal environment shows that Human Resources, Standard Operating Procedures, Information Systems are strengths. Hospital weaknesses are public facilities, finance and marketing. Hospital Opportunities are government policy, demographics, epidemiology, technology and competitors. The threat to hospitals is socio-economic and customer. In the matching stage, the hospital's position is in quadrant II, namely grow and build, where alternative strategies are market penetration, market development and product development. The strategies that will be implemented based on priority are product development for child growth and development services, increasing the competency of child service health workers, revitalization and expansion of the Pertamina Jaya Hospital building, brand awareness for children's services, technology development, penetration of third party children's service referral markets. Conclusion: Based on the research results, it was found that the hospital's position is grow and build with the main priority being the development of child growth and development service products
Read More
B-2474
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Ningsih; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Iing Ichsan Hanafi, Balgis Alzagladi
Abstrak:
Latar Belakang: Waktu tunggu radioterapi merupakan salah satu indikator mutu penting dalam pelayanan onkologi karena keterlambatan memulai terapi dapat memengaruhi luaran klinis, pengalaman pasien, dan mutu layanan rumah sakit. RS Hermina Bekasi mengalami peningkatan kebutuhan layanan radioterapi yang tidak sepenuhnya diimbangi oleh kapasitas pelayanan sehingga menimbulkan antrean dan waktu tunggu yang panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan Lean Six Sigma dalam mengurangi waktu tunggu radiasi pertama di RS Hermina Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain operational research dengan pendekatan mixed methods explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui time-motion study terhadap pasien BPJS dengan seluruh diagnosis kanker yang menjalani pelayanan radioterapi sejak konsultasi dokter onkologi radiasi hingga radiasi pertama. Sampel terdiri atas 55 pasien periode pre-intervensi, 55 pasien periode post-intervensi, dan 50 pasien periode control. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Focus Group Discussion. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma melalui tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), pemetaan alur proses, Value Stream Mapping, identifikasi aktivitas value added dan non-value added, analisis Pareto, Five Whys, serta Statistical Process Control. Hasil: Sebelum intervensi, total lead time pelayanan radioterapi mencapai 70,05 hari, dengan waktu terpanjang pada tahap konsultasi dokter onkologi radiasi hingga CT Simulator sebesar 61,44 hari. Aktivitas value added sebesar 5,87 hari (8,38%), sedangkan aktivitas non-value added sebesar 64,18 hari (91,62%). Waste dominan adalah waiting, terutama menunggu jadwal CT Simulator akibat keterbatasan kapasitas layanan dan ketersediaan slot LINAC. Intervensi yang dilakukan meliputi penambahan LINAC kedua, penambahan dokter spesialis onkologi radiasi, pengembangan dashboard monitoring antrean radioterapi terintegrasi SIMRS, perbaikan SPO penjadwalan pasca CT Simulator menggunakan kartu kontrol pasien, serta standarisasi pelaksanaan PSQA sebelum radiasi pertama. Setelah intervensi, total lead time menurun menjadi 31,05 hari, sedangkan pada tahap control menurun lebih lanjut menjadi 19,60 hari. Aktivitas value added meningkat menjadi 6,15 hari (19,81%) dan aktivitas non-value added menurun menjadi 24,88 hari (80,13%). Hasil control chart menunjukkan variasi proses yang lebih stabil dibandingkan sebelum intervensi. Kesimpulan: Penerapan Lean Six Sigma mampu mengurangi waktu tunggu radiasi pertama dan meningkatkan efisiensi alur pra-terapi radioterapi di RS Hermina Bekasi. Perbaikan terutama terjadi pada tahapan konsultasi hingga CT Simulator sebagai bottleneck utama pelayanan. Kombinasi peningkatan kapasitas, standarisasi proses, penguatan sistem monitoring, dan pengendalian berkelanjutan terbukti efektif dalam mendukung pencapaian indikator mutu prioritas rumah sakit berupa waktu tunggu radiasi pertama ≤30 hari.
Background: Waiting time for radiotherapy is an important quality indicator in oncology services because delays in treatment initiation may adversely affect clinical outcomes, patient experience, and hospital service quality. Hermina Bekasi Hospital has experienced increasing demand for radiotherapy services that has not been fully matched by service capacity, resulting in long waiting lists and prolonged waiting times. This study aimed to analyze the implementation of Lean Six Sigma in reducing waiting time to first radiation treatment at Hermina Bekasi Hospital. Methods: An operational research design with a mixed-methods explanatory sequential approach was employed. Quantitative data were collected through a time-motion study involving BPJS-insured patients with all cancer diagnoses undergoing radiotherapy services from radiation oncology consultation to first radiation treatment. The study included 55 patients in the pre-intervention phase, 55 patients in the post-intervention phase, and 50 patients in the control phase. Qualitative data were obtained through observation, document review, interviews, and focus group discussions. Data were analyzed using the Lean Six Sigma DMAIC framework, process mapping, Value Stream Mapping, value-added and non-value-added analysis, Pareto analysis, Five Whys analysis, and Statistical Process Control. Results: Before the intervention, total radiotherapy service lead time was 70.05 days, with the longest delay occurring between radiation oncology consultation and CT simulation (61.44 days). Value-added activities accounted for 5.87 days (8.38%), while non-value-added activities accounted for 64.18 days (91.62%). The dominant waste was waiting, particularly for CT simulation scheduling, primarily caused by limited service capacity and LINAC slot availability. Interventions included the addition of a second LINAC, recruitment of an additional radiation oncologist, development of a radiotherapy queue monitoring dashboard integrated with the hospital information system, revision of post-CT simulation scheduling procedures using patient control cards, and standardization of PSQA implementation before first radiation treatment. Following the intervention, total lead time decreased to 31.05 days and further decreased to 19.60 days during the control phase. Value-added activities increased to 6.15 days (19.81%), while non-value-added activities decreased to 24.88 days (80.13%). Control chart analysis demonstrated improved process stability compared with the pre-intervention period. Conclusion: Lean Six Sigma implementation successfully reduced waiting time to first radiation treatment and improved the efficiency of the radiotherapy pre-treatment process at Hermina Bekasi Hospital. The most substantial improvement occurred in the consultation-to-CT simulation stage, which was identified as the primary service bottleneck. A combination of capacity expansion, process standardization, monitoring system enhancement, and continuous control proved effective in supporting the hospital’s priority quality indicator of maintaining waiting time to first radiation treatment within 30 days.
Read More
T-7604
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhika Putra Marsaban; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Masyitoh, Lia Gardenia Partakusuma, Veronica Fridawati
Abstrak:
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menghadapi tantangan operasional dalam sistem penyediaan darahnya, yang ditandai dengan tingginya angka pembatalan darah, waktu tunggu layanan yang lama, dan biaya pengadaan eksternal yang signifikan, yang berpotensi menghambat pengembangan layanan unggulan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pra-kelayakan yang komprehensif terhadap rencana pendirian Unit Pengelola Darah (UPD) di RSPP guna memberikan rekomendasi strategis berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan dukungan data kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama, dan observasi langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendirian UPD dengan klasifikasi Madya sangat layak untuk dilaksanakan. Terdapat potensi permintaan yang sangat besar, dengan proyeksi volume gabungan untuk RSPP dan RS PELNI mencapai 28.093 kantong pada tahun 2025. Proyek ini memerlukan estimasi biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp 10,65 miliar dan biaya operasional (OPEX) tahunan sekitar Rp 6,46 miliar. Meskipun memerlukan investasi besar, analisis finansial awal menunjukkan kelayakan yang sangat kuat dengan periode pengembalian (Payback Period) 3,22 tahun, Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp 30,05 miliar, dan Internal Rate of Return (IRR) mencapai 34,22%. Disimpulkan bahwa proyek ini layak untuk dilanjutkan ke tahap studi kelayakan (FS) penuh, dengan fokus pada penyusunan desain teknis rinci, analisis finansial mendalam, rencana induk SDM, dan mitigasi risiko utama terkait pendanaan, teknis, sumber daya manusia, dan keberlanjutan pasokan donor.
Pertamina Central Hospital (RSPP) faces operational challenges in its blood supply system, characterized by high blood cancellation rates, long service turnaround times, and significant external procurement costs, which potentially hinder the development of its centers of excellence. This study aims to conduct a comprehensive pre-feasibility analysis of the plan to establish a Blood Management Unit (UPD) at RSPP to provide evidence-based strategic recommendations. This research employed a qualitative case study method supported by quantitative data. Data was collected through document analysis, in-depth interviews with key stakeholders, and direct observation. The results indicate that the establishment of an Intermediate (Madya) classification UPD is highly feasible. There is significant potential demand, with a projected combined volume for RSPP and PELNI Hospital reaching 28,093 bags in 2025. The project requires an estimated investment cost (CAPEX) of IDR 10.65 billion and annual operational costs (OPEX) of approximately IDR 6.46 billion. Despite the large investment, the preliminary financial analysis shows very strong viability with a Payback Period of 3.22 years, a positive Net Present Value (NPV) of IDR 30.05 billion, and an Internal Rate of Return (IRR) of 34.22%. It is concluded that the project is feasible to proceed to a full Feasibility Study (FS) stage, with a focus on detailed engineering design, in-depth financial analysis, a human resources master plan, and mitigation of key risks related to funding, technical aspects, human resources, and the sustainability of donor supply.

Read More
T-7384
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Osi Ramadia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Indro Chayadi Saleh dan Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Proses pemulangan pasien rawat inap adalah pelayanan rumah sakit untuk yang melibatkan DPJP, keperawatan, farmasi, administrasi dan pasien. Proses ini berimplikasi pada kepuasan pasien, penumpukan pasien IGD hingga efisiensi pelayanan. Metode lean merupakan metode yang dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan proses ini. Penelitian riset operasional dengan metode lean ini bertujuan untuk menganalisa proses pemulangan pasien rawat inap di RS Restu Kasih. Hasil penelitian: lead time pasien jaminan BPJS yaitu 5 jam 30 menit, jaminan asuransi 5 jam 10 menit dan non-jaminan 4 jam 1 menit. Persentase kegiatan NVA DPJP: 11% jaminan asuransi, 25% jaminan BPJS; keperawatan: 52% non-jaminan, 64% jaminan asuransi, 53% jaminan BPJS; farmasi: 16% non-jaminan, 22% jaminan asuransi, 23% jaminan BPJS; administrasi: 11% non-jaminan, 57% jaminan asuransi, 14% jaminan BPJS; pasien: 51% non-jaminan, 75% jaminan asuransi, 85% jaminan BPJS. Waste pada pasien non-jaminan yaitu 89% motion, 11% waiting; jaminan asuransi yaitu 42% waiting, 32% motion, 16% deffects, 11% inventory; jaminan BPJS yaitu 50% motion, 43% waiting, 7% inventory. Implementasi visual management dan berkoordinasi dengan unit terkait penugasan pada pasien jaminan BPJS menghasilkan penurunan lead time 45% menjadi 3 jam 3 menit dan penurunan kegiatan NVA sebesar 48% dari 2 jam 5 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Process of discharging inpatients is hospital service that involves doctors, nurses, pharmacy, administration and patient. This process have implications for patient satisfaction, stagnancy of ER patients and efficiency of services. Lean method could improve quality and efficiency of this process. This operational research study using a lean method approach aims to analyze the discharge process of inpatients at Restu Kasih Hospital. The results show, lead time for BPJS coverage is 5 hours 30 minutes, insurance coverage 5 hours 10 minutes and non-insurance 4 hours 1 minute. The percentage of non-value added activities of doctors: 11% insurance coverage, 25% BPJS coverage; nurses: 52% non-insurance, 64% insurance coverage, 53% BPJS coverage; pharmacy: 16% non-insurance, 22% insurance coverage, 23% BPJS coverage; administration: 11% non-insurance, 57% insurance coverage, 14% BPJS coverage; patient: 51% non-insurance, 75% insurance coverage, 85% BPJS coverage. Waste for non-insurance: 89% motion, 11% waiting; insurance coverage: 42% waiting, 32% motion, 16% defects, 11% inventory; BPJS coverage: 50% motion, 43% waiting,7% inventory. Visual management and coordinating with each unit implementation for BPJS coverage resulting on reducing lead time by 45% to 3 hours 3 minutes and reducing non-value added activity by 48% from 2 hours 5 minutes to 1 hour 5 minutes
Read More
T-6990
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winardini; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisamito; Penguji: Amilla Megraini, Wachyu Sulistiadi, Yuli Prapanca Satar
B-1034
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Moehamad Irfan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas
B-813
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive