Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41352 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Syifa Atmatuzahra ; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Kualitas air minum menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat terutama di wilayah yang padat penduduk. Penyakit yang ditularkan melalui air merupakan masalah kesehatan global yang diperkirakan berkontribusi terhadap lebih dari 2,2 juta kematian setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran kualitas air minum berdasarkan wilayah, mengukur tingkat kualitas air minum, dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat di Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data diperoleh dari survei lapangan yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dengan wawancara terstruktur dan uji laboratorium sampel air. Data kualitas air dari 570 rumah tangga dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 97,5% sampel air rumah tangga di Depok tidak memenuhi standar kualitas air minum selama periode penelitian. Terdapat 94,1% sampel air yang digunakan untuk kegiatan minum dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air. Faktor yang berhubungan signifikan dengan penyakit yang ditularkan melalui air adalah jenis pekerjaan (p-value = 0.003). Pemerintah daerah Kota Depok perlu melakukan pengawasan kualitas air secara berkala dan meningkatkan edukasi terkait kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan air minum yang aman untuk mendukung derajat kesehatan masyarakat di Kota Depok.


The quality of drinking water is a critical determinant of public health, particularly in  densely populated urban areas. Waterborne diseases remain a major global health  concern and are estimated to contribute to over 2.2 million deaths annually. This study  aims to identify the distribution of drinking water quality by region, assess the level of  drinking water quality, and evaluate its impact on public health in Depok City, West Java.  The research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional design.  Data were obtained from field surveys previously carried out by the Depok City Health  Office through structured interviews and laboratory testing of water samples. Drinking  water quality data from 570 households were analyzed using correlation and spatial  analysis. The results showed that approximately 97.5% of household water samples in  Depok did not meet drinking water quality standards during the study period. About  94.1% of the water samples used for drinking had the potential to cause waterborne  diseases. The factor significantly associated with waterborne diseases was types of  occupation (p-value = 0.003). These results highlight the need for the local government  of Depok City to implement routine water quality monitoring and enhance public  awareness campaigns regarding safe drinking water management practices, as part of  broader efforts to improve community health outcomes.

Read More
S-11999
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Haryani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Ikha Purwandari
Abstrak:
Diare dapat didefinisikan sebagai buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali per hari yang ditandai dengan tinja cair sebagai gejala infeksi saluran usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus atau parasit yang dapat menyebar melalui air minum yang tidak layak atau tidak aman, makanan yang terkontaminasi serta perilaku higiene yang buruk. Di Kota Depok, kejadian diare masih ditemukan selama periode 2021-2024 sehingga kualitas air minum rumah tangga perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare pada anggota rumah tangga di Kota Depok menggunakan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga tahun 2024 dengan desain studi cross-sectional serta melibatkan 505 responden. Analisis data yang digunakan berupa distribusi frekuensi dan uji chi-square dengan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata parameter Escherichia coli sebesar 2,48±12,79 CFU/100mL dan rata-rata pH sebesar 6,72±1,139. Sebagian besar sampel tidak terkontaminasi Escherichia coli (86,7%). Pada parameter kimia, mayoritas sampel memenuhi syarat, namun parameter kromium valensi 6 didominasi kategori tidak memenuhi syarat (94,9%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare (p=0,629 dan p=1,000). Faktor sanitasi lingkungan, kondisi sarana air minum, pengolahan air minum, serta faktor sosiodemografi juga tidak berhubungan dengan kejadian diare. Upaya promotif dan preventif terkait air minum aman serta perilaku hidup bersih dan sehat perlu terus ditingkatkan.

Diarrhea is defined as defecation occurring more than three times per day with loose  or watery stools as a symptom of intestinal infection caused by various bacteria,  viruses, or parasites that may spread through unsafe drinking water, contaminated  food, and poor hygiene practices. In Depok City, diarrhea cases were still reported  during the 2021–2024 period, indicating that household drinking water quality  remains an important public health concern. This study aimed to analyze the  association between microbiological and chemical parameters of drinking water  quality and the incidence of diarrhea among household members in Depok City  using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance. This  study employed a cross-sectional design involving 505 respondents. Data were  analyzed using frequency distribution and chi-square test with Fisher’s Exact test.  The results showed that the mean concentration of Escherichia coli was 2.48±12.79  CFU/100mL, while the mean pH value was 6.72±1.139. Most drinking water  samples were not contaminated with Escherichia coli (86.7%). For chemical  parameters, the majority of samples met the required standards; however,  hexavalent chromium was predominantly categorized as not meeting the standards  (94.9%). Statistical analysis showed no significant association between  microbiological and chemical drinking water quality parameters and diarrhea  incidence (p=0,629 and p=1,000). Environmental sanitation factors, drinking water  facility conditions, water treatment practices, and sociodemographic factors were  also not associated with diarrhea incidence. Therefore, promotive and preventive  efforts regarding safe drinking water and clean and healthy living behaviors should continue to be strengthened.
Read More
S-12245
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha Shaka Maritza; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Fakhry Muhammad
Abstrak:
Kualitas air minum rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan kesehatan masyarakat dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 6.1.1 terkait akses air minum aman. Kota Bogor merupakan wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan penggunaan sumber air minum beragam yang berpotensi memiliki resiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air minum rumah tangga dan menganalisis hubungan patameter mikrobiologi, fisik, kimia, jenis sumber air minum, pengolahan, dan wadah penyimpanan air minum terhadap kualitas air minum rumah tangga di Kota Bogor. Desain studi penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder SKAM-RT 2024 dengan besar sampel 259 rumah tangga. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar rumah tangga memiliki kualitas air minum yang tidak aman (94,2%), dengan parameter kimia yang tidak memenuhi syarat (92,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa parameter mikrobiologi (p=0,008), parameter fisik (p=0,013), dan parameter kimia (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas air minum rumah tangga. Sementara itu, jenis sumber air minum, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum tidak terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan kualitas air minum rumah tangga serta edukasi masyarakat terkait pengelolaan air minum dan higiene sanitasi untuk mencegah kontaminasi air minum di tingkat rumah tangga. 

Household drinking water quality is an important indicator for determining public  health in achieving Sustainable Development Goal (SDG) 6.1.1 regarding access to  safely managed drinking water. Bogor City is an urban area with high population  density and diverse drinking water sources that may increase the risk of water  contamination. This study aimed to describe the quality of household drinking  water and analyze the relationship between microbiological, physical, and chemical  parameters, types of drinking water sources, water treatment methods, and drinking  water storage containers with household drinking water quality in Bogor City. This  research employed a quantitative descriptive study with a cross-sectional design  using secondary data from SKAM-RT 2024, involving 259 households as samples.  The univariate analysis showed that most households had unsafe drinking water  quality (94.2%), with chemical parameters failing to meet the required standards  (92.7%). The bivariate analysis indicated that microbiological parameters  (p=0.008), physical parameters (p=0.013), and chemical parameters (p=0.000) were  significantly associated with household drinking water quality. Meanwhile, the type  of drinking water source, drinking water treatment, and drinking water storage  containers were not significantly associated with household drinking water quality.  Therefore, improved monitoring of household drinking water quality and public  education regarding drinking water management and sanitation hygiene are needed  to prevent drinking water contamination at the household level. 
Read More
S-12243
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Riyadi; ;Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Fitri Kurniasari, Ikha Purwandari, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan, terutama kualitas dan pengelolaan air minum rumah tangga. Di Provinsi Kalimantan Timur, prevalensi diare berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 4,2%. Peningkatan akses terhadap sumber air minum layak belum sepenuhnya menjamin keamanan air pada titik konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air minum rumah tangga yang meliputi parameter mikrobiologi, fisik, dan kimia dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan unit analisisnya adalah rumah tangga. Teknik pengambilan sampel mengikuti metode yang digunakan dalam SKAMRT 2024 yang melibatkan 2.051 rumah tangga. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji Chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,5% rumah tangga memiliki anggota rumah tangga yang mengalami diare. Parameter kualitas air minum yang menunjukkan proporsi tidak memenuhi syarat cukup tinggi adalah E. coli (31,3%), kekeruhan (19,0%), pH (15,0%), krom valensi 6 (46,5%), dan sisa klor pada rumah tangga dengan sumber air minum perpipaan (86,3%). Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air minum layak (98,0%), memiliki akses air minum kontinu (96,5%), melakukan pengolahan air minum (56,9%), dan memiliki penyimpanan air minum tidak berisiko (95,1%). Parameter kekeruhan, pH, dan krom valensi 6 berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Pada model akhir, hubungan E. coli, kekeruhan, dan pH dengan diare berbeda menurut kontinuitas air minum, sedangkan pada parameter sisa klor tidak berhubungan signifikan dengan diare setelah dikontrol kontinuitas air minum dan penyimpanan air minum. Kualitas air minum rumah tangga pada titik konsumsi, khususnya parameter fisik kekeruhan dan parameter kimia pH, berhubungan erat dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur. Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh keandalan kontinuitas air minum yang berperan sebagai variabel pemodifikasi efek (effect modifier).

Diarrhea remains a public health issue closely linked to environmental factors, particularly the quality and management of household drinking water. In East Kalimantan Province, the prevalence of diarrhea, according to the 2023 Indonesian Health Survey, was 4.2%. Increased access to improved drinking water sources does not fully guarantee water safety at the point of consumption. This study aims to analyze the association between household drinking water quality—comprising microbiological, physical, and chemical parameters—and the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province, using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). This study employed a cross-sectional design, with households as the unit of analysis. The sampling procedure followed the methodology of the 2024 SKAMRT, involving 2,051 households. Data were analyzed using descriptive statistics, Chi-square tests, and multivariable logistic regression. The results indicated that 4.5% of households had at least one member who experienced diarrhea. The results showed that 92 households (4.5%) had at least one member who experienced diarrhea. Drinking water quality parameters with a high proportion of non-compliance included E. coli (31.3%), turbidity (19.0%), pH (15.0%), hexavalent chromium (46.5%), and residual chlorine in households utilizing piped water sources (86.3%). Most households used improved drinking water sources (98.0%), had access to a continuous drinking water supply (96.5%), practiced drinking water treatment (56.9%), and utilized low-risk drinking water storage (95.1%). Turbidity, pH, and hexavalent chromium were significantly associated with the incidence of diarrhea. In the final model, E. coli, turbidity, and pH showed significant interactions with water supply continuity on the risk of diarrhea, whereas residual chlorine was not significantly associated with diarrhea after controlling for water supply continuity and water storage practices. Household drinking water quality at the point of consumption, particularly the physical parameter of turbidity and the chemical parameter of pH, is significantly associated with the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province. This association is highly influenced by the reliability of water supply continuity, which acts as an effect modifier.
Read More
T-7546
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Alfianti; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Muhammad Olik Abdul Holik
Abstrak:
Latar Belakang : Air merupakan salah satu sumber daya yang menjadi kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Air berhubungan erat dengan kesehatan manusia, sehingga kualitas air perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satu parameter yang mejadi indikator kualitas air minum adalah parameter mikrobiologi yaitu bakteri Escherichia coli dan Coliform. Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti diare, kolera dan disentri. Universitas Indonesia merupakan salah satu Universitas terbaik di Indonesia telah berupaya menyediakan air minum melalui pemurni air untuk warga Universitas Indonesia. Tujuan : Menganalisis perbandingan kualitas mikrobiologi pada air sebelum filtrasi dan sesudah filtrasi di Universitas Indonesia. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain studi eksperimental yang dilakukan pada air sebelum dan sesudah filtrasi di 8 Fakultas Universitas Indonesia. Hasil : Hasil uji beda dua mean menunjukan bahwa bakteri Coliform (p = 0,028) terdapat perbedaan dan bakteri Escherichia coli (p = 1,000) tidak terdapat perbedaan kualitas pada air sebelum dan sesudah filtrasi. Kesimpulan : Terdapat perbedaan kandungan Coliform pada air sebelum dan sesudah filtrasi. Tidak terdapat perbedaan kandungan Escherichia coli pada air sebelum dan sesudah filtrasi.

Background: Water is one of the resources that is a basic human need for survival. Water is closely related to human health, so water quality needs special attention. One of the parameters that serve as an indicator of drinking water quality is the microbiological parameter, the bacteria Escherichia coli and Coliform. Both bacteria can cause health problems such as Diarrhoea, Cholera and Dysentery. Universitas Indonesia, one of the best universities in Indonesia, has endeavoured to provide drinking water through a water purifier for the citizens of Universitas Indonesia. Objective: Analyse the comparison of microbiological quality in pre-filtration and post-filtration water at Universitas Indonesia. Methods: This research is an analytical study with a quantitative approach and experimental study design conducted on water before and after filtration in 8 faculties of the University of Indonesia. Results: The results of the two-mean t-test showed that Coliform bacteria (p = 0.028) had a difference and Escherichia coli bacteria (p = 1.000) had no difference in quality before and after filtration. Conclusion: There is a difference in the coliform content of the water before and after filtration. There is no difference in Escherichia coli content in water before and after filtration.
Read More
S-11257
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummu Humairoh; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Persentase rumah tangga dengan akses air minum yang aman di Kota Depok baru menyentuh angka 49,37% di tahun 2023 dimana angka tersebut masih jauh dari target SDG’s (Sustainable Development Goals) yaitu 100% akses air minum aman sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai faktor risiko yang mempengaruhi Kualitas Mikrobiologi Air Minum di Kota Depok tahun 2023. Metode: Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Unit analisis yaitu rumah tangga dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 321 sampel rumah tangga. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Sebagian besar rumah tangga di Kota Depok memiliki kualitas mikrobiologi air minum yang memenuhi syarat (54,20%) dengan persentase tidak memenuhi syarat tertinggi berada di kecamatan Tapos (62,5%) dan persentase yang memenuhi syarat tertinggi berada di Kecamatan Beji (71,4%). Faktor yang berhubungan signifikan terhadap kualitas mikrobiologi air minum adalah jarak sumber pencemar (tangki septik) dengan sarana/sumber air minum (p = 0,023), kerawanan banjir (p = 0,048) dan perilaku pengolahan air minum (p = 0,041). Kesimpulan: Kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok sebagian besar telah memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tangki septik dengan sarana air minum, kerawanan banjir, dan perilaku pengolahan air minum terhadap kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok dengan faktor risko yang paling dominan berhubungan adalah jarak tangki septik dengan sarana air minum. Saran: Pemerintah Kota Depok diharapkan memperkuat pengawasan air minum, memperbaiki drainase, dan memelihara situ. Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan dan mencegah pencemaran air, sementara penelitian lanjut mengkaji aspek yang mempengaruhi kualitas air dan dampaknya terhadap kesehatan.

Background: The percentage of households with access to safe drinking water in Depok City has only reached 49.37% in 2023, which is still far from the SDG's (Sustainable Development Goals) target, namely 100% access to safe drinking water, so research needs to be done regarding risk factors that influence the microbiological quality of drinking water in Depok City in 2023. Method: Using a cross sectional study design with a quantitative approach using secondary data from the Depok City Health Service. The unit of analysis is the household with a total of 321 household samples selected. Data processing uses the chi-square test and logistic regression. Results: The majority of households in Depok City have drinking water microbiological quality that meets the requirements (54.20%) with the highest percentage not meeting the requirements being in Tapos sub-district (62.5%) and the highest percentage meeting the requirements being in Beji sub-district ( 71.4%). Factors that are significantly related to the microbiological quality of drinking water are the distance of the pollutant source (septic tank) to drinking water facilities/sources (p = 0.023), flood vulnerability (p = 0.048) and drinking water treatment behavior (p = 0.041). Conclusion: The microbiological quality of household drinking water in Depok City largely meets the requirements. There is a significant relationship between the distance of a septic tank to drinking water facilities, flood vulnerability, and drinking water treatment behavior on the microbiological quality of household drinking water in Depok City with the most dominant risk factor related to this being the distance of the septic tank to drinking water facilities. Recommendation: The Depok City Government is expected to strengthen supervision of drinking water, improve drainage and maintain lakes. The public is also expected to maintain cleanliness and prevent water pollution, while research continues to examine aspects that influence water quality and its impact on health.
Read More
S-11775
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safa Nabilah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Muhammad Olik Abdul Holik
Abstrak: Escherichia coli merupakan bakteri yang umum digunakan sebagai parameter terkait cemaran tinja dan sanitasi. Keberadaan nitrat pada air juga menjadi salah satu indikator terkait sanitasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sanitasi dapat mempengaruhi konsentrasi TDS (Total Dissolve Solids) dalam air tanah. Adanya kandungan E .coli, nitrat, dan TDS berlebih dalam air tanah yang digunakan sebagai air minum rumah tangga dapat berdampak pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi rumah tangga dengan kualitas air minum rumah tangga bersumber air tanah berdasarkan parameter E .coli, nitrat, dan TDS. Kondisi sanitasi yang diteliti meliputi 7 aspek, yaitu sarana buang air besar, tempat pembuangan akhir tinja, jarak tempat pembuangan akhir tinja, tempat pembuangan sampah rumah tangga, jarak TPS/TPA terdekat, sarana pembuangan limbah cair rumah tangga, serta jarak sarana pembuangan limbah cair rumah tangga. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan metode cross sectional. Analisis dilakukan dengan uji univariat dan uji bivariat menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara tempat pembuangan akhir tinja dengan kandungan TDS (p=0.086), tempat pembuangan sampah dengan cemaran E. coli (p=0.054), dan jarak TPS/TPA terdekat dengan kandungan TDS (p=0.061). Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis lebih lanjut mengenai keterkaitannya dengan kesehatan.
Escherichia coli is a commonly used bacteria as a parameter related to fecal contamination and sanitation. The presence of nitrate in water is also an indicator related to sanitation. Several studies show that sanitation can affect concentration of TDS (Total Dissolve Solids) in groundwater. So, the presences of E. coli, nitrate, and TDS in groundwater that used as daily needs household drinking water can affect human health. This study aims to analyze the relationship between seven household sanitation conditions and the quality of household drinking water from groundwater based on the presence of E. coli, nitrate, and TDS as the parameters. The sanitation conditions include 7 aspects, such as defecation facilities, faecal disposal sites, the distance between feces disposal sites and drinking water sources, household waste disposal sites, the distance between household and temporary storage sites (TPS)/Final Processing Sites (TPA), household waste water disposal facilities, and the distance between household waste water disposal facilities and drinking water source. This research uses secondary data with a cross sectional analysis method. The analysis was carried out with univariate test and bivariate test using chi square test with a confidence level of 90%. The research results showed that there was significant relations between faecal disposal sites and TDS (p=0.086), waste disposal sites and E. coli (p=0.054), the distance to the nearest waste disposal sites and TDS. Therefore, the suggestions for further researcher to analyze the relations with health.
Read More
S-11747
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marhamah Dwi Anjani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Olik Abdul Holik
Abstrak: Air tanah berperan penting sebagai sumber pemenuhan air bersih dan air minum sehari-hari di Kota Depok. Air tanah dianggap memiliki kualitas alami yang baik, namun tidak berarti semua air tanah berkualitas baik. Besi dan mangan merupakan logam esensial dan juga toksik yang sering ditemukan pada air tanah. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) yang bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko pajanan besi dan mangan pada air tanah sebagai air minum. Pengumpulan data konsentrasi besi dan mangan didapatkan dari data hasil survei kualitas air tanah oleh BPP PDAM Tirta Asasta Kota Depok tahun 2018 sebanyak 63 sampel. Data lainnya, antropometri, laju aktivitas, dan pola konsumsi air minum didapatkan dari wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran berat badan secara langsung di rumah 63 responden. Hasil analisis konsentrasi besi dan mangan menunjukkan hanya terdapat 18 sampel yang melebihi baku mutu konsentrasi mangan menurut Permenkes 492/2010. Jumlah estimasi asupan besi dan mangan masing-masing 5,02059 x 10-4 mg/kg/hari dan 5,52265 x 10-3 mg/kg/hari. Sedangkan RQ non karsinogenik besi dan mangan masing-masing 0,00072 dan 0,03945 yang menunjukkan bahwa tidak berisiko atau aman. Hasil analisa lebih lanjut menemukan bahwa asupan harian besi dan mangan menurut umur dan jenis kelamin dikategorikan defisiensi (Asupan besi dan mangan<AKG dan <DRI).
Read More
S-10145
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luthfiyanisa; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Budi Haryanto, Tri Lusmantoro
Abstrak: Air menjadi kebutuhan esensial untuk masyarakat untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, sulit untuk mengakses air bersih yang terjamin kualitasnya. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan. Salah satu sumber air bersih yang dimanfaatkan adalah air hujan. Studi deskriptif kuantitatif ini dilakukan untuk menggambarkan kualitas air hujan yang dimanfaatkan sebagai air minum dan kondisi kesehatan masyarakat studi kasus di Pulau X, Kepulauan Seribu Tahun 2024. Variabel yang diteliti adalah untuk kualitas air hujan yang diambil di tiga titik sampel per RW, yaitu parameter bau, parameter biologi (E. coli), parameter kimia Selenium (Se), Mangan (Mn), Fluorida (F), dan Sulfat (SO4). Pengumpulan data parameter pendukung perawatan PAH, kondisi dan kualitas PAH menggunakan kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 90. Kemudian, data sekunder terkait kondisi kesehatan masyarakat dengan indikator diare dan kaitannya dengan kejadian stunting akibat kerusakan vili usus dan menyebabkan malabsorbsi nutrisi akan diakses dari Puskesmas Pulau X. Setelah dilakukan uji laboratorium dan analisis univariat, kualitas air hujan di Pulau X belum memenuhi standar untuk konsumsi sehari-hari karena mengandung bakteri E. coli terdeteksi dalam sumber air hujan dan konsentrasi mineral esensial terdeteksi dalam jumlah yang sangat sedikit selenium, mangan, fluorida, dan sulfat yang diperlukan oleh tubuh sehingga dapat berkaitan dengan kejadian stunting akibat kekurangan mineral dan kejadian diare persisten.
Water is an essential to meet domestic needs. However, it is difficult to access drinking-water that is as safe as practicable. Especially for people who live on the small islands. One source of clean water that can be used is rainwater. This quantitative descriptive study was to describe the quality of rainwater used as drinking water and the health conditions of the community at X Island, Kepulauan Seribu. Biological parameters (E. coli), chemical parameters Selenium (Se), Manganese (Mn), Fluoride (F), and Sulfate (SO4). Data collection on supporting parameters for treatment, condition and quality of rainwater harvesting used a questionnaire with a total of 90 respondents. Then, secondary data related to public health conditions with indicators of diarrhea and its relation to the incidence of stunting due to damage to intestinal villi and causing malabsorption of nutrients will be accessed from the Island X Community Health Center. After laboratory tests and univariate analysis, the quality of rainwater on X Island contains E. coli were detected and essential mineral concentrations were detected in very small amounts so it can be related to stunting due to mineral deficiencies and persistent diarrhea.
Read More
S-11700
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reviona Wardani Arbi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan berbasis lingkungan yang berkaitan dengan kualitas air minum dan sanitasi rumah tangga. Kontaminasi mikrobiologi pada air minum, terutama akibat pencemaran fekal, dapat meningkatkan risiko terjadinya diare. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga dengan kejadian diare di Kota Depok, dengan menggunakan pendekatan teori triad epidemiologi yang menekankan interaksi antara agent, host, dan environment dalam proses terjadinya penyakit. Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan memanfaatkan data sekunder SKAMRT Kota Depok tahun 2025. Variabel independen yang dianalisis yaitu kontaminasi mikrobiologi air minum, dan variabel confounding meliputi, sumber air minum, jarak sumur dengan septic tank, pengolahan air minum, dan perilaku pembersihan wadah air minum. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel jarak sumur dengan septic tank yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare (p = 0,03; OR = 2,41; 95% CI: 1,14–5,1). Analisis multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur dengan septic tank merupakan faktor dominan terhadap kejadian diare (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sanitasi lingkungan, khususnya jarak sumber air dengan septic tank, masih menjadi faktor penting dalam pencegahan diare di Kota Depok


Diarrhea remains one of the major environmental health problems associated with drinking water quality and household sanitation. Microbiological contamination in drinking water, particularly due to fecal pollution, may increase the risk of diarrheal disease. This study aimed to analyze the relationship between the microbiological quality of household drinking water and the incidence of diarrhea in Depok City using the epidemiological triad theory approach, which emphasizes the interaction between agent, host, and environment in the occurrence of disease. This study employed a case-control design utilizing secondary data obtained from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT) of Depok City in 2025. The independent variable analyzed was microbiological contamination of drinking water, while the confounding variables included drinking water source, distance between wells and septic tanks, drinking water treatment practices, and cleaning behavior of household water storage containers. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed that only the distance between wells and septic tanks had a significant association with diarrheal incidence (p = 0.03; OR = 2.41; 95% CI: 1.14–5.1). Multivariate analysis further indicated that the distance between wells and septic tanks was the dominant factor associated with diarrhea incidence (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). This study demonstrates that environmental sanitation factors, particularly the proximity of water sources to septic tanks, remain important determinants in diarrhea prevention efforts in Depok City.

Read More
S-12250
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive