Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30728 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maritza Ramadhani Wicaksana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Romadona Triada
Abstrak:
Latar Belakang: Rabies (penyakit anjing gila) merupakan penyakit yang menginfeksi susunan saraf pusat dengan CFR hampir 100%. Hingga saat ini 26 provinsi di Indonesia telah tertular rabies. Penyebaran rabies di wilayah tertentu dan kemampuannya untuk menular ke daerah lain menunjukkan bahwa rabies memiliki hubungan erat dengan konsep spasial. Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan analisis spasial pada kejadian rabies di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan studi ekologi menggunakan data agregat dari Kementerian Kesehatan RI dan BPS yang dianalisis dengan metode spasial. Unit analisis pada penelitian ini adalah provinsi di Indonesia. Analisis yang dilakukan meliputi analisis autokorelasi spasial global univariat dan bivariat menggunakan Moran’s Index, dan autokorelasi spasial lokal univariat dan bivariat menggunakan LISA. Hasil: Hasil analisis autokorelasi spasial global univariat menunjukkan bahwa variabel rasio jenis kelamin, tingkat pendidikan, angkatan kerja, kepadatan penduduk, dan persentase kelengkapan VAR memiliki pola spasial mengelompok signifikan (p<0,05). Hasil analisis bivariat menggunakan LISA menunjukkan bahwa terdapat provinsi dengan status high-high signifikan seperti Kalimantan Barat. Kesimpulan: Tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, tingkat partisipasi angkatan kerja, persentase kelengkapan VAR, dan spesimen HPR positif menunjukkan signifikansi terhadap kejadian rabies. Diperlukan analisis spasial lebih lanjut untuk menyempurnakan temuan.

Background: Rabies (mad dog disease) is a disease that infects the central nervous system with CFR of almost 100%. The spread of rabies in certain areas and its ability to spread to other areas shows that rabies has a close relationship with the spatial concept. Therefore, researcher is interested in conducting spatial analysis of rabies incidents in Indonesia. Methods: This study is an ecological study using aggregate data from the Indonesian Ministry of Health and BPS analyzed using spatial methods. The unit of analysis in this study is the provinces in Indonesia. The analysis conducted includes univariate and bivariate global spatial autocorrelation analysis using Moran's Index, and local spatial autocorrelation using LISA. Results: The results of the univariate global spatial autocorrelation analysis showed that the variables of sex ratio, education level, workforce, population density, and percentage of completeness of PEP had a significant clustered spatial pattern (p<0.05). The results of the bivariate analysis using LISA showed that there were provinces with high-high significant status such as West Kalimantan. Conclusion: Education level, population density, workforce, percentage of completeness of PEP, and positive rabies-transmitting animal specimens showed significance to the incidence of rabies. Further spatial analysis is needed to refine the findings.
Read More
S-12022
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aneke Theresia Kapoh; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Lukman Hakim, Yuliandri
Abstrak:

Latar Belakang: Di Indonesia, malaria masih merupakan penyakit menular dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Di Indonesia, terdapat 443.530 kejadian malaria pada tahun 2022, dan tercatat 71 kasus kematian terkait malaria. Sesuai antisipasi, tujuan pemberantasan malaria semakin maju, dengan 372 dari 514 kabupaten dan kota berpeluang bebas malaria pada akhir tahun 2022. Hanya ada satu kabupaten yang penularan malarianya terjadi di Pulau Jawa dan Bali, dan itulah Purworejo di Jawa Tengah. Karena malaria adalah penyakit yang bersifat lokal, maka diperlukan upaya pengendalian lokal. Sebagian besar penyakit malaria disebabkan oleh variabel perilaku dan lingkungan. Dalam epidemiologi, analisis spasial sangat berguna untuk menentukan pengelompokan penyakit dan menilai prevalensi penyakit dalam kaitannya dengan lokasi geografis. Tujuan: memahami unsur-unsur yang berkontribusi terhadap terjadinya penyakit malaria di Kabupaten Purworejo serta gambaran spasial kejadian tersebut Metode: Angka kejadian malaria di Kabupaten Purworejo pada tahun 2022 akan dideskripsikan dan dipetakan dengan menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif ini. Badan Pusat Statistik (BPS), badan informasi geografis, dan data sekunder laporan malaria Kabupaten Purwerejo menjadi sumber data yang dimanfaatkan. Alat QGIS 3.10, STATA 17, dan GEODA digunakan untuk pengumpulan dan pemrosesan data. Koordinat data geografis setiap kasus tersedia, dan analisis statistik dilakukan untuk menentukan distribusi frekuensi dan persentase setiap variabel faktor risiko yang mempengaruhi kejadian malaria serta melakukan analisis spasial untuk menentukan pola geografis penyebaran penyakit. . Hasil: Berdasarkan karakteristik demografi dan pemeriksaan malaria kasus terbanyak ditemukan pada usia 18-45 tahun (51,05%),  Berdasarkan jenis kelamin persentasi jumlah laki-laki ditemukan lebih banyak dari Perempuan (64,87%), pekerjaan yang terbanyak adalah petani (78%) pemeriksaan terbanyak dilakukan dengan mikroskop (99%), Jenis parasite terbanyak adalah Falciparum (85,48%), berdasarkan klasifikasi sumber penularan yang terbanyak merupakan kasus indigenous (83,61%) dan kasus terbanyak ditemukan pada puskesmas Kaligesing. (33,96%). Berdasarkan analisis univariat variabel independent kasus malaria tahun 2022 Kabupaten Purworejo  rata rata jumlah curah hujan adalah 3209,25 dengan nilai terendah adalah 2971 dan nilai tertinggi adalah 4217. Ratarata Kelembaban adalah 87, 75 dengan nilai terendah adalah 84% dan tertinggi adalah 89%. Jika dilihat dari kepadatan penduduk maka kepadatan penduduk terendah adalah 427 jiwa/km2 dan tertinggi adalah 1669 jiwa/km2. Berdasarkan ketinggian memiliki ratarata 64,9375 mdpl dengan terendah adalah 12 mdpl dan tertinggi adalah 213 mdpl. Berdasarkan wilayah kasus di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kasus malaria bila dilihat dari penyebarannya memiliki gambaran dengan pola spasial. Peta buffer jangkauan pusat layananan dengan jarak 1000 m dari puskesmas terdapat 241 (56,4%)dari 427 kasus malaria. Kasus malaria pada tahun 2022 terdapat pada daerah denganketinggian wilayah diatas 18 mdpl atau berada diantara 18-213 mdpl. Berdasarkan curahhujan terlihat pada peta 98% kasus berada pada jumlah curah hujan yang lebih rendah(2971 mm) dan 2% berada pada jumlah curah hujan yang lebih tinggi. Sebagian besarkasus 2022 (98%) tersebar pada daerah yang kepadatan penduduknya yang terendah yaitu427-608/km2   namun Sebagian kasus (2%) terdapat juga pada daerah dengan kepadatanpenduduk yang paling tinggi yaitu kepadatan penduduk 929-1669.km2. Pada Peta terlihatbahwa 98% kasus malaria berada pada kelembaban 89% dan 2% kasus berada padakelembaban 84%. Pada Analisa indeks moran ditemukan I = 0,124 dengan E(I) =-0,0667,dan P=0,04 yang menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif. I>E(I) menunjukkanbahwa polanya adalah mengelompok. Autokorelasi spasial penyebaran malariaKabupaten Purworejo terlihat bahwa penyebaran kasus malaria tahun 2022 terdapatautokorelasi spasial positif. Berdasarkan nilai I dan E(I) menunjukkan bahwa polapenyebarannya adalah mengelompok. Nilai P  =0,03 yang lebih kecil dari alpha makahipotesis Ho ditolak berdasarka uji yang telah dilakukan ini yang berarti terdapatautokorelasi spasial kejadian malaria tahun 2022. peta LISA cluster terlihat bahwa adasatu kecamatan dengan kasus malaria tinggi  dikelilingi oleh kecamatan yang memilikikasus malaria yang tinggi yaitu  kecamatan Kaligesing. Terdapat 2 wilayah kecamatandengan kasus rendah yang disekelilingnya terdapat kecamatan yang memiliki kasus yangtinggi yaitu kecamatan Loano dan Bagelan. Pada kuadran 3 menunjukkan lokasi pengamatan kecamatan yang memiliki kasus yang rendah yang sekelilingnya adalahkecamatan yang memiliki kasus rendah juga yaitu kecamatan kemiri. Pada Kuadranempat tidak ditemukan kecamatan tinggi dikelilingi kecamatan rendah. Berdasarkananalisa Spasial Error Model di atas terlihat bahwa faktor lingkungan mempengaruhipenyebaran penyakit malaria di Kabupaten Purworejo. Faktor ketinggian wilayah,kepadatan penduduk, curah hujan dan kelembaban mempengaruhi penyebaran kasusmalaria di Kabupaten Purworejo. Kata kunci: Malaria, analisis spasial


 

Read More
T-7117
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyas Permatasari R.P; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, A. Muchtar Nasir
Abstrak:
Sejak kemunculannya di Indonesia pada tahun 2022, mpox menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Hingga saat ini penelitian yang mengeksplorasi faktor risiko kejadian mpox di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian mpox di Indonesia pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan memakai data sekunder yang bersumber dari formulir penyelidikan epidemiologi dan klinis kasus mpox yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sampel penelitian terdiri atas 73 kasus konfirmasi dan 139 kasus discarded. Analisis multivariat mengidentifikasi dua faktor yang mempengaruhi kejadian mpox di Indonesia pada tahun 2023, yaitu jenis kelamin dan status HIV. Strategi penanggulangan mpox perlu menekankan pada edukasi yang efektif, peningkatan deteksi dini pada kelompok berisiko, dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan melalui metode pengumpulan data yang lebih sensitif dan akurat.

Since its emergence in Indonesia in 2022, mpox has raised public health concerns. Up to this point, research examining the risk factors for mpox in Indonesia remains quite limited. This research objective is to identify the risk factors for mpox in Indonesia in 2023. This research is a cross-sectional study that utilizes secondary data obtained from the epidemiological and clinical investigation form for mpox cases provided by the Indonesian Ministry of Health. The sample for the study included 73 confirmed cases and 139 discarded cases. Multivariate analysis revealed two factors that influenced the incidence of mpox in Indonesia in 2023, specifically gender and HIV status. Mpox control strategies need to emphasize effective education, increasing early detection in at-risk groups, and improving the quality of health services through more delicate and accurate data collection methods.
Read More
S-11870
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitrianur Laili; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Sindrom metabolik telah menjadi masalah global di berbagai negara. Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia tahun 2019 sebesar 21,66%. Disisi lain, proporsi individu yang mengalami sindrom metabolik dan mengonsumsi makanan berisiko sebanyak 46,7%. Sedangkan proporsi individu yang mengalami sindrom metabolik, tetapi tidak mengonsumsi makanan berisiko sebanyak 38,1%. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan konsumsi makanan berisiko dengan kejadian sindrom metabolik di Indonesia berdasarkan data SKI 2023 dengan mengambil seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi sebagai sampel penelitian. Analisis pengontrolan variabel dilakukan dengan uji cox regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi penduduk Indonesia yang sering mengonsumsi makanan berisiko sebanyak 53,2% dan prevalensi sindrom metabolik sebanyak 39,3%. Namun, pada penelitian ini konsumsi makanan berisiko terbukti tidak ada hubungan dengan kejadian sindrom metabolik (aPR: 0,96; 95% CI: 0,91 – 1,00) setelah dikontrol variabel usia. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh adanya bias penelitian, kualitas, dan kuantitas data penelitian yang tidak dapat dikontrol. Perlu adanya perbaikan kualitas data SKI, terutama perubahan metode pengukuran konsumsi makanan berisiko menggunakan FFQ semi-kuantitatif dengan jenis makanan yang spesifik. Upaya skrining, edukasi, dan pengawasan kebijakan konsumsi gula, garam, lemak, terutama pada masyarakat usia ≥40 tahun sebagai bentuk upaya pencegahan dan pengendalian sindrom metabolik beserta dampak lebih besar yang ditimbulkan.

Metabolic syndrome has become a global problem in many countries. The prevalence of metabolic syndrome in Indonesia in 2019 was 21.66%. On the other hand, the proportion of individuals who experience metabolic syndrome and consume unhealthy foods was 46.7%. While the proportion of individuals who experience metabolic syndrome but do not consume unhealthy foods was 38.1%. The purpose of this study was to analyze the relationship between unhealthy food consumption and the occurrence of metabolic syndrome in Indonesia based on SKI 2023 data by taking the entire population who met the inclusion criteria as the study sample. An analysis of controlling variables was carried out by a cox regression test. The results showed that the proportion of the Indonesian population who frequently consumed unhealthy foods was 53.2% and the prevalence of metabolic syndrome was 39.3%. However, in this study, consumption of unhealthy foods was shown to have no association with the occurrence of metabolic syndrome (aPR: 0.96; 95% CI: 0.91–1.00) after being controlled by age variables. This may be influenced by research bias, quality, and quantity of research data that cannot be controlled. There was a need to improve the quality of SKI data, especially changes in the method of measuring unhealthy food consumption using semi-quantitative FFQ with specific food types. Efforts to screen, educate, and monitor sugar, salt, and fat consumption policies, especially in people aged ≥40 years, as a form of prevention and control of metabolic syndrome and its greater impact.
Read More
T-7277
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afandi Setia Apriliyan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Bai Kusnadi, Sherli Karolina
Abstrak:
Latar Belakang: Pada 2023, Kota Bogor mencatat 360 kasus positif naik 9 kali lipat dibanding tahun sebelumnya dengan incidence rate tertinggi kedua di Jawa Barat dimana penyebaran hampir merata di seluruh kelurahan. Penelitian ini diperlukan untuk menganalisis pola spasial dan faktor risiko campak pada balita di Kota Bogor sebagai dasar ilmiah untuk intervensi yang lebih efektif. Metode: Penelitian ini merupakan studi ekologis dengan analisis spasial dengan unit analisis adalah kelurahan. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif, eksploratori, inferensial, dan prediktif dengan model regresi spasial untuk mengidentifikasi faktor risiko campak pada balita. Hasil: Analisis spasial kasus positif campak balita menunjukkan bahwa proporsi usia kasus, PHBS rumah tangga sehat, dan cakupan vitamin A memiliki pola spasial mengelompok signifikan (p < 0,05) berdasarkan Moran’s Index. Hasil LISA mengidentifikasi beberapa kelurahan dalam kuadran high-high, seperti Cikaret dan Mulyaharja. Hasil uji SAR menunjukkan terdapat efek spasial signifikan (ρ = 0,142; p = 0,05). Secara parsial, proporsi usia kasus dan angka pendidikan SD–SMP berpengaruh signifikan (p < 0,001), sementara cakupan vitamin A menunjukkan efek protektif secara marginal signifikan (p = 0,05). Model ini menunjukkan bahwa distribusi campak dipengaruhi oleh faktor biologis, pendidikan, dan spasial wilayah. Kesimpulan: Kasus campak balita menunjukkan pola spasial mengelompok signifikan dengan faktor usia, pendidikan, dan cakupan vitamin A sebagai determinan utama. Diperlukan penguatan analisis spasial secara rutin dan pemantauan wilayah yang terindikasi hotspot.

In 2023, Bogor City recorded 360 positive measles cases, a ninefold increase compared to the previous year, with the second highest incidence rate in West Java and nearly uniform distribution across all sub-districts. This study aims to analyze the spatial patterns and risk factors of measles among children under five in Bogor City as a scientific basis for more effective interventions. Methods: This ecological study used spatial analysis with sub-districts as the unit of analysis. Data were analyzed using descriptive, exploratory, inferential, and predictive approaches, including spatial regression models to identify measles risk factors in children under five. Results: Spatial analysis of positive measles cases showed that the proportion of cases by age, healthy household behavior (PHBS), and vitamin A coverage exhibited significant spatial clustering (p < 0.05) based on Moran’s Index. LISA results identified several sub-districts in the high-high quadrant, such as Cikaret and Mulyaharja. SAR tests indicated a significant spatial effect (ρ = 0.142; p = 0.05). Partially, the proportion of cases by age and primary to junior high school education level had significant effects (p < 0.001), while vitamin A coverage showed a marginally significant protective effect (p = 0.05). This model suggests that measles distribution is influenced by biological, educational, and spatial factors. Conclusion: Measles cases in children under five exhibit significant spatial clustering, with age, education, and vitamin A coverage as key determinants. Routine spatial analysis and monitoring of identified hotspot areas are recommended.
Read More
T-7246
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Lyani Amelia; Pembimbing: Nurhayati Adnan'; Penguji: Putri Bungsu, Prihandriyo Sri Hijranti
Abstrak:
Diabetes merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia, di mana prevalensinya mencapai 11,7% pada SKI 2023. Prediabetes sebagai kondisi awal sebelum diabetes menjadi perhatian global karena prevalensinya yang lebih tinggi dan potensi berkembang cepat menjadi diabetes tipe 2. Fenomena gaya hidup sedentari yang meluas turut memperburuk risiko ini karena berhubungan erat dengan kurangnya aktivitas fisik, faktor risiko utama diabetes dan penyakit tidak menular lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi prediabetes dan menganalisis hubungan kurang aktivitas fisik dengan kejadian prediabetes setelah dikontrol oleh variabel kovariat seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, penyakit penyerta, pola konsumsi makanan, dan kebiasaan merokok. Desain studi cross sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan Prevalensi Prediabetes pada populasi usia dewasa 18-59 tahun di Indonesia adalah 42,91% dan sebesar 39,77% terjadi pada kelompok kurang aktivitas fisik. Analisis multivariat dengan uji cox’s regression menunjukkan hampir tidak ada perbedaan risiko kejadian prediabetes pada kurang aktivitas fisik dibandingkan aktivitas fisik cukup (PR 0,96; 95% CI : 0,91 – 1,01). Tingginya prevalensi prediabetes pada kelompok usia produktif diharapkan dapat membrikan motivasi untuk meningkatkan frekuensi dan durasi aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu serta rutin melakukan deteksi dini prediabetes


Diabetes is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence, including in Indonesia, where the prevalence reached 11.7% according to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Prediabetes, as a precursor condition to diabetes, has garnered global attention due to its higher prevalence and the rapid progression potential to type 2 diabetes. The widespread sedentary lifestyle phenomenon further exacerbates this risk, as it is strongly associated with insufficient physical activity, a major risk factor for diabetes and other non-communicable diseases. This study aims to determine the prevalence of prediabetes and analyze the association between insufficient physical activity and prediabetes incidence after controlling for covariates such as age, sex, education, comorbidities, dietary patterns, and smoking habits. This cross-sectional study utilizes secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The results indicate a prediabetes prevalence of 42.91% in the adult population aged 18-59 years in Indonesia, with 39.77% occurring in the insufficient physical activity group. Multivariate analysis using Cox regression showed almost no difference in prediabetes risk between the insufficient physical activity and sufficient physical activity groups (PR 0.96; 95% CI: 0.91–1.01). The high prevalence of prediabetes in the productive age group is expected to motivate increased frequency and duration of physical activity to a minimum of 150 minutes per week and regular early detection of prediabetes.
Read More
T-7409
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Marisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Soewarta Kosen, Rahmad Isa
Abstrak:

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah timur Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di Tanah Papua berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik dengan pendekatan kasus dan non-kasus. Data berasal dari SKI 2023 yang mencakup 37.036 responden dari wilayah Papua. Kasus didefinisikan sebagai individu yang mengalami malaria dalam


Malaria remains a public health issue in eastern Indonesia. This study aimed to analyze factors associated with malaria incidence in Tanah Papua based on data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). The study employed an analytical cross-sectional design with a case and non-case approach. The data were drawn from SKI 2023 and included 37,036 respondents from the Papua region. A malaria case was defined as an individual who had experienced malaria within the past month. Analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods with logistic regression to calculate the Prevalence Odds Ratio (POR). The malaria prevalence was recorded at 4.80%. Factors significantly associated with malaria incidence included education level, type of occupation, household size, and interactions between age and sex, ventilation and bed net use, as well as age and mosquito repellent use. The strongest association was observed in the interaction between age and sex, in which males aged over 46 years had 2.85 times higher odds of having malaria compared to female children under five years. Malaria incidence in Tanah Papua remains high and is influenced by a complex interplay of individual characteristics and environmental factors, including preventive behaviors.

Read More
T-7324
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryam Casimira Kinanti; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Soewarta Kosen
Abstrak:

Depresi menjadi salah satu masalah gangguan mental yang paling umum terjadi dan merupakan penyebab utama disabilitas di dunia terutama pada kelompok anak muda. Di Indonesia, prevalensi depresi tertinggi terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun dan 61% diantaranya pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup. Gaya hidup, termasuk pola makan, juga berperan dalam kejadian depresi. Saat ini, tren pola konsumsi makanan di Indonesia cenderung tidak sehat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian depresi pada anak muda usia 15-24 tahun di Indonesia berdasarkan data SKI 2023. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang dengan analisis univariat, bivariat dan stratifikasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Hasil penelitian ini menunjukkan. Pola makan tidak sehat berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko depresi pada anak muda usia 15–24 tahun di Indonesia (OR=1,40; 95% CI: 1,21–1,61). Hubungan pola makan dan kejadian depresi ini dipengaruhi oleh kelompok usia dan wilayah tempat dengan hubungan yang kuat pada kelompok remaja usia 15-19 tahun dan tinggal di wilayah perkotaan. Pencegahan depresi pada anak muda perlu didukung dengan edukasi pola makan sehat dan peningkatan akses terhadap makanan sehat.


Depression is one of the most common mental health problems and a leading cause of disability worldwide, especially among young people. In Indonesia, the highest prevalence of depression occurs in the 15–24 age group, with 61% of them having experienced suicidal thoughts. Lifestyle factors, including dietary patterns, also play a role in the occurrence of depression. Currently, dietary consumption trends in Indonesia tend to be unhealthy. Therefore, this study aims to examine the relationship between dietary patterns and the incidence of depression among young people aged 15–24 in Indonesia based on the 2023 SKI data. This cross-sectional study employs univariate, bivariate, and stratified analyses based on age, sex, socioeconomic status, residential area,  physical activity, smoking habits, and alcohol consumption. The results show that unhealthy dietary patterns are significantly associated with an increased risk of depression in Indonesian youth aged 15–24 (OR=1.40; 95% CI: 1.21–1.61). The association was influenced by age group and region of residence with a strong association in youth aged 15-19 years and living in urban areas.. Although a higher risk of depression was also seen among alcohol consumers, this was not statistically significant. Prevention of depression in young people should be supported by education on healthy eating and improved access to healthy foods.

Read More
S-12038
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Thamrin; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Tris Eryando; Penguji: Laila Fitria, Priagung AB; Titi Sari Renowati
T-3132
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yani Dwiyuli Setiani; Pembimbing: Dewi Susanna, Tris Eryando; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Rachmat Suherwin, Iman Suhendar
Abstrak:
Selama tiga tahun terakhir, seluruh kelumhan di Kota Cirebon dinyatakan sebagai kelurahan endemis DBD. Kejadian penyakit DBD Kota Cirebon setiap tabun selalu meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2006 sebanyak 507 kasus. Meakipun prosentase angka kematian DBD Kota Cirebon dari tahun ke tahun mengalami penurunan akan letapi masih diatas angka nasional (1%). Tujuan pene1itian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian penyalcit DBD dan po1a hubungan secara spasial antara faktor risiko lingkungan iklirn (saku udara, kelembaban, curah hujan), faktor kependudukan (kepadatan penduduk, kepadntan permukirnan, peududuk usia kurang dari 15 tahun) dan Angka Bebas Jentik (ABJ) terhadap kejadian DBD di Kota Cirebon dari tahun 2005 - 2007. Hasil analisis spasial memperlihalkan bahwa kasus DBD (2005-2007) banyak menyebar di wilayah padat permukiman. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan DBD adalah: kelembaban (p=0,043) dan penduduk usia kurang dari 15 tahun (p=0,027) terjadi ditahun 2005. Tahun 2007 variabel yang berhubungan dengan DBD adalah curah hujan (p=0,008), sedangkan tahun 2006 tidak ada variabel yang berhubungan. Distribusi yang hampir merata disemua variabel memberikan hasil tidak berhubungan.

During the last three years, all sub-districs at Cirebon Clty finding expression as endemics area of dengue fever. The incident rate of dengue fever at Cirebon City is always increasing every years and reaches the top in 2006 with 507 cases. Although the death rate percentage at Cirebon City are decreasing every year but still above the national rate). Objectives of research to find out the image of the incident rate of dengue fever and model of relationships spatialy between environmental risk factor of climate (temperature, humidity. and rainfall), demographics factors (population density. residences density, population of age lowest than 15 years) and Larva Free Rate (LFR) ofDHF incident at Cirebon City from year2005 to 2007. Design of the study used ecology design of time trend studies. The incident rate of dengue fever for look according to the time diffusion every years per sub-districs as analysis unit with making the secondary data. The analysis data is variable with dengue fever is rainfall {p""'0,008). whereas in 2006 years no associate variable with dengue fever.
Read More
T-2911
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive