Ditemukan 36783 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Jessica Reitanya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Endang Laksminingsih Achadi
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang sering ditemukan dalam populasi rentan, meliputi balita, remaja, wanita usia subur, dan ibu hamil. Anemia pada ibu hamil memiliki dampak terhadap ibu dan janin. Bagi ibu, anemia menyebabkan penurunan kualitas hidup yang dapat berujung pada kematian. Bayi yang dikandung oleh ibu anemia berisiko lahir tidak normal, mati saat lahir, dan mengalami stunting. Masalah kesehatan ibu saat hamil mempengaruhi periode emas 1000 HPK anak yang bersifat permanen terhadap kelangsungan hidup, sehingga perlu penanganan yang tepat untuk meminimalisir kejadian masalah tersebut. Laporan SKI 2023 menyatakan prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 27,7%, yang tergolong sebagai masalah kesehatan tingkat moderat. Penelitian bersifat kuantitatif menggunakan desain penelitian cross-sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia tahun 2023 menggunakan data sekunder SKI 2023. Variabel dependen adalah anemia, dan variabel independen berupa faktor sosio-demografi, faktor gaya hidup, faktor pola makan, dan faktor masa kehamilan ibu. Analisis data menggunakan complex samples meliputi univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya (p-value = 0,047), jarak kehamilan (p-value = 0,033), dan konsumsi PMT (p-value = 0,001) dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia pada tahun 2023. Anemia is a common nutritional issue among vulnerable populations, including toddlers, adolescents, women of reproductive age, and pregnant women. Anemia in pregnant women impacts both the mother and fetus. For the mother, it reduces quality of life and can lead to mortality. Babies born to anemic mothers are at risk of congenital abnormalities, stillbirth, and stunting. Maternal health issues during pregnancy affect the critical first 1000 days of a child's life, with permanent consequences for survival, necessitating appropriate interventions to minimize these risks. The 2023 SKI report indicates a 27.7% prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia, classified as a moderate public health issue. This study is a quantitative study using a cross-sectional design aimed to identify factors associated with anemia in pregnant women in Indonesia in 2023, utilizing secondary data from the 2023 SKI. The dependent variable was anemia, with independent variables from socio-demographic factors, lifestyle factors, dietary patterns, and pregnancy-related factors. Data analysis used complex samples, including univariate and bivariate analyses with chi-square tests. The study found significant associations between anemia in pregnant women and consumption of meat, poultry, and their processed products (p-value = 0.047), pregnancy interval (p-value = 0.033), and consumption of supplementary feeding (PMT) (p-value = 0.001) in Indonesia in 2023.
S-12028
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu maemunah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang L. Achadi
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu <13 g/dL bagi laki-laki, <12 g/dL bagi perempuan. Prevalensi anemia pada kelompok usia produktif tergolong dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada kelompok usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27.826 subjek yang berasal dari populasi umum, 15,5% mengalami anemia. Sedangkan dari 983 subjek yang berasal dari remaja putri, 23% mengalami anemia. Analisis bivariat pada populasi umum menunjukkan hasil yang signifikan antara usia (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), tingkat pendidikan (p=0,001), tempat tinggal (p=0,047), konsumsi telur dan hasil olahannya (p=0,012), serta konsumsi sayur (p=0,030) dengan kejadian anemia. Kemudian analisis bivariat pada remaja putri menunjukkan hasil yang signifikan antara KEK (p=0,005) dengan kejadian anemia. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok lansia merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada populasi umum usia produktif (p<0,001, OR=1,931 (95% CI 1,581–2,358)), sedangkan KEK merupakan faktor dominan dari kejadian anemia pada remaja putri (p=0,028, OR 1,493 (95% CI 1,051 – 2,121)).
Anemia is a condition when the number of red blood cells or hemoglobin concentration in the blood is below the normal limit, which is <13 g/dL for men, <12 g/dL for women. The prevalence of anemia in the productive age group is classified as a mild public health problem. This study aims to determine the factors associated with the incidence of anemia in the productive age group (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from SKI 2023. Data analysis performed in this study included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with simple logistic regression test. The results showed that out of 27,826 subjects from the general population, 15.5% were anemic. While out of 983 subjects from adolescent girls, 23% were anemic. Bivariate analysis in the general population showed significant results between age (p<0.001), gender (p<0.001), education level (p=0.001), residence (p=0.047), consumption of eggs and processed products (p=0.012), and vegetable consumption (p=0.030) with the incidence of anemia. Then bivariate analysis in adolescent girls showed significant results between Chronic Energy Malnutrition (p=0.005) and the incidence of anemia. Multivariate analysis showed that the elderly group was the dominant factor of the incidence of anemia in the general population of productive age (p<0.001, OR=1.931 (95% CI 1.581-2.358)), while Chronic Energy Malnutritio was the dominant factor of the incidence of anemia in adolescent girls (p=0.028, OR 1.493 (95% CI 1.051 - 2.121)).
S-12150
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tursiwi Widiarti; Pembimbing: Syafri Guricci, Asih Setiorini; Penguji: Diah M. Utari, Iip Syaiful, Kaptiningsih
T-2672
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dini Priyantini; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi
S-3100
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Venny Fitriyani; Pembimbing: Trini Sudiarti
S-3489
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuyun Darmawan; Pembimbing: Yayuk Hartriyanti
S-3495
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Titin Tri Lestari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti
S-3968
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indira Paramesti; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Read More
Hipertensi ditemukan sebagai masalah kesehatan utama yang menyebabkan pada kematian dini serta berbagai penyakit tidak menular lainnya, dan saat ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia tua, tetapi juga pada kelompok dewasa muda. Hipertensi yang terjadi pada usia muda dapat berdampak pada terjadinya kerusakan organ tubuh yang lebih dini sehingga penurunan kualitas hidup dan produktivitas akan terjadi lebih cepat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang berhubungan pada kejadian hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan sampel sebanyak 596 orang. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 18,9%. Analisis bivariat mendapatkan bahwa status perkawinan, indeks massa tubuh, dan lingkar perut berhubungan dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menemukan bahwa indeks massa tubuh merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2023 dengan nilai OR sebesar 2,105 (95% CI 1,304-4,285).
Hypertension has been identified as a major health problem leading to premature death and various other non-communicable diseases, and it currently occurs not only in older age groups but also in young adults. Hypertension occurring at a young age can lead to earlier organ damage, leading to a more rapid decline in quality of life and productivity. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of hypertension in young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province in 2023. The study used a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI with a sample of 596 individuals. The study results showed that the prevalence of hypertension among young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province was 18.9%. Bivariate analysis found that marital status, body mass index, and waist circumference were associated with the incidence of hypertension. Multivariate analysis found that body mass index was the dominant factor associated with the incidence of hypertension among young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province in 2023, with an OR of 2.105 (95% CI 1.304-4.285).
S-12401
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gillian Frances Liwarto; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sintha Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Read More
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Saat ini, prevalensi diabetes mulai meningkat secara signifikan pada kelompok usia dewasa muda (19–44 tahun). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Dengan tujuan untuk mengetahui determinan kejadian diabetes melitus pada penduduk usia dewasa (19–44 tahun) di Indonesia dengan menganalisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data ini dilakukan dengan pendekatan complex samples dan melibatkan 7.964 penduduk berusia 19–44 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia 19–44 tahun di Indonesia sebesar 5,5%. Analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara diabetes melitus dengan beberapa variabel sebagai faktor risiko yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, perilaku merokok dan obesitas sentral (p-value<0,05). Untuk analisis multivariat, ditemukan obesitas sentral sebagai faktor dominan dari kejadian diabetes melitus dengan OR = 2,34. Hal ini menunjukkan bahwa obesitas sentral merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diabetes melitus dimana individu dengan obesitas sentral memiliki peluang 2,34 kali lebih besar untuk mengalami diabetes dibandingkan yang tidak mengalami obesitas sentral bahkan setelah dikontrol oleh faktor confounding lainnya.
Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels and one of the leading causes of morbidity and mortality worldwide. Currently, the prevalence of diabetes is increasing significantly among young adults aged 19–44 years. This study is a quantitative study with a cross-sectional design, aimed at identifying the determinants of diabetes mellitus among young adults (19–44 years) in Indonesia by analyzing secondary data from Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Data analysis was conducted using a complex samples approach and involving 7,964 individuals aged 19–44 years. The results showed that the prevalence of diabetes mellitus in this age group was 5.5%. The bivariate analysis shows a statistically significant association between diabetes mellitus and several risk factors, which are age, sex, educational level, smoking behaviour and central obesity (p-value < 0.05). Multivariate analysis identified central obesity as the dominant factor associated with diabetes mellitus, with an odds ratio (OR) of 2.34. This indicates that central obesity is the most influential factor in the occurrence of diabetes mellitus, where individuals with central obesity have a 2.34 times greater chance of developing diabetes compared to those without, even after other confounding factors were controlled.
S-11946
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marwan; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji; Diah M Utari, Iip Syaiful
S-4621
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
