Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35104 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Febi Zifa Murti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Paparan debu yang tinggi di lingkungan kerja, terutama debu PM2,5, dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. PT X sebagai produsen pupuk memiliki potensi paparan debu yang cukup tinggi, terutama pada tahap-tahap proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsentrasi paparan debu PM2,5 dengan gejala gangguan saluran pernapasan pada pekerja pabrik pupuk NPK Granulasi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 96 responden yang tersebar di tiga pabrik, yaitu NPK II, III, dan IV. Variabel independen meliputi konsentrasi PM2,5, durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, kebiasaan merokok, dan penggunaan alat pelindung diri (APD), sedangkan variabel dependen adalah gejala gangguan saluran pernapasan. Pengumpulan data dilakukan melalui dua metode, untuk konsentrasi PM2,5 diukur menggunakan alat DustTrak, sedangkan data mengenai variabel lain seperti durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, kebiasaan merokok, penggunaan APD, dan gejala gangguan pernapasan diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di ketiga pabrik melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan berdasarkan Permenkes No. 70 Tahun 2016. Selain itu, ditemukan bahwa 59,4% responden mengalami gejala gangguan saluran pernapasan, yang menandakan adanya potensi bahaya terhadap kesehatan pekerja. Namun, dari seluruh variabel yang dianalisis, hanya kebiasaan merokok yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gejala gangguan saluran pernapasan (p = 0,003). Sementara itu, variabel lain seperti konsentrasi PM2,5, durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, dan penggunaan APD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merokok merupakan faktor risiko utama yang berhubungan dengan gangguan saluran pernapasan pada pekerja. Meski demikian, fakta bahwa konsentrasi PM2,5 melebihi NAB menunjukkan bahwa lingkungan kerja tetap mengandung risiko yang perlu ditangani secara serius. Oleh karena itu, PT X perlu memperkuat upaya edukasi dan pengendalian terhadap kebiasaan merokok di lingkungan kerja. Selain itu, pemantauan rutin terhadap paparan debu PM2,5 dan pengawasan ketat terhadap kepatuhan penggunaan APD perlu terus dilakukan secara konsisten, guna mencegah risiko kesehatan lainnya.


High dust exposure in the workplace, particularly PM2.5 dust, can increase the risk of respiratory disorders among workers. PT X, as a fertilizer manufacturer, has a high potential for dust exposure, especially during several stages of the production process. This study aims to analyze the relationship between PM2.5 dust concentration and respiratory symptoms among workers at the NPK Granulation fertilizer plant. This research employed a cross-sectional design involving 96 respondents from three factories: NPK II, III, and IV. The independent variables included PM2.5 5 concentration, duration of exposure, age, length of employment, history of respiratory illness, smoking habits, and the use of personal protective equipment (PPE). The dependent variable was the presence of respiratory symptoms. Data collection was carried out using two methods: PM2.5 concentration was measured with a DustTrak device, while information on other variables including exposure duration, age, work history, respiratory illness history, smoking habits, PPE use, and respiratory symptoms was gathered through a questionnaire completed by the respondents. The results showed that PM2.5 concentrations in all three plants exceeded the Threshold Limit Value (TLV) set by the Indonesian Ministry of Health Regulation No. 70 of 2016. Furthermore, 59.4% of the respondents reported experiencing respiratory symptoms, indicating a potential health hazard for workers. However, among all the variables analyzed, only smoking habits showed a statistically significant association with respiratory symptoms (p = 0.003). Other variables, such as PM2.5 concentration, exposure duration, age, length of employment, history of respiratory illness, and use of PPE, did not demonstrate a significant statistical relationship. Based on these findings, it can be concluded that smoking habits are the primary risk factor associated with respiratory disorders among workers. Nevertheless, the fact that PM2.5 levels exceeded the TLV highlights that the work environment still poses a serious health risk. Therefore, PT X should strengthen its efforts in smoking control and education within the workplace. In addition, regular monitoring of PM2.5 dust exposure and strict supervision of PPE compliance must be consistently enforced to prevent other potential health risks.
Read More
S-12104
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Audrey Rakhshanda Putri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:

Bising merupakan salah satu bahaya yang memajan pekerja di aktivitas pekerjaan. Salah satu dampak dari pajanan bising yang melebihi standar (> 85 dBA) di tempat kerja adalah dampak yang tidak berhubungan dengan fungsi pendengaran (non-auditori). Tiga sub-gangguan non-auditori, seperti gangguan fisiologi, psikologi, dan komunikasi berpengaruh terhadap kinerja dan ketidaknyamanan pekerja dalam bekerja. Berbeda dengan gangguan auditori, gangguan non-auditori dapat diobservasi meskipun tingkat bising di area kerja berada di bawah 85 dBA. Batas pajanan bising di dalam ruangan adalah 55 hingga 65 dBA menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016.
PT X sebagai perusahaan manufaktur yang bergerak di sektor agroindustri berisiko terpajan bising, termasuk pekerja di ruang kendali. Hasil pengukuran bising di ruang kendali Pabrik NPK Granulasi dan Phonska PT X berada pada rentang 58,8 hingga 71,5 dBA. Tingkat bising tersebut berisiko menimbulkan gangguan non-auditori pada pekerja di ruangan, yakni operator. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui gangguan non-auditori dan faktor yang mempengaruhinya pada operator di ruang kendali.
Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional pada 66 operator yang bekerja di ruang kendali Pabrik NPK Granulasi dan Phonska PT X pada bulan April hingga Mei 2025. Variabel dependen dan independen yang diteliti adalah gangguan non-auditori, faktor tingkat pajanan bising (tingkat bising dan durasi pajanan), faktor individu (usia, masa kerja, perilaku merokok, dan riwayat penyakit), serta faktor perilaku (penggunaan APT dan pajanan bising di luar pekerjaan).
Hasil penelitian menunjukkan 92,4% responden mengalami gangguan non-auditori dengan rincian 45,5% mengalami gangguan fisiologi, 86,4% psikologi, dan 83,3% komunikasi. Hasil analisis dengan metode Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis memperlihatkan perbedaan yang signifikan terhadap skor gangguan non-auditori berdasarkan kelompok masa kerja (p = 0,047) dan riwayat penyakit (p = 0,009); skor gangguan fisiologi berdasarkan kelompok usia (p = 0,031), masa kerja (p = 0,012), dan riwayat penyakit (p = 0,014); skor gangguan psikologi berdasarkan kelompok masa kerja (p = 0,024), riwayat penyakit (p = 0,021), dan pajanan bising di luar aktivitas pekerjaan (p = 0,047); serta skor gangguan komunikasi berdasarkan kelompok riwayat penyakit (p = 0,011). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, dimana gangguan non-auditori tetap dapat dialami oleh responden meski bising di bawah 85 dBA. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian, seperti memastikan tingkat pajanan bising di ruang kendali memenuhi persyaratan perundangan dan menambah bahan peredam bising di dalam desain ruang kendali.


Noise is recognized as one of the occupational hazards to which workers are frequently exposed. When noise exposure goes above the standard limit (>85 dBA), it can lead to effects that are not related to hearing, known as non-auditory effects. These effects are usually divided into three types: physiological, psychological, and communication-related. Non-auditory effects can impair work performance and contribute to discomfort in the workplace. Unlike auditory effects, non-auditory effects can be observed even when the noise level in the work area is below the health threshold. According to Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016, the indoor noise exposure limit ranges from 55 to 65 dBA. PT X is a manufacturing company in the agroindustry sector which is at risk of noise exposure. Its workers, including those in the control rooms, are potentially exposed to indoor noise. The noise levels in the control room of the NPK Granulation and Phonska Plant at PT X are in the range from 58,8 to 71,5 dBA. Control room operators may be at risk of non-auditory effects due to indoor noise exposure that exceeds the standard. Therefore, this study aimed to examine the non-auditory effects, noise exposure levels, individual factors, and behavioral factors among control room operators at the NPK Granulation and Phonska Plant of PT X in 2025. This study was conducted using a cross-sectional method on 66 operators working in the control room of NPK Granulation and Phonska Plant at PT X from April to May 2025. Data collection was conducted from April to May 2025. The dependent and independent variables studied were non-auditory effects, noise-exposure levels (noise intensity and duration), individual factors (age, length of employment, smoking habits, medical history), and behavioral factors (use of HPD and noise exposure outside work). The results showed 92,4% of respodents experienced non-auditory effects, with 45,5% reporting physiological effects, 86,4% psychological effects, and 83,3% communication effects. The Mann-Whitney and Kruskal-Wallis tests showed significant differences in non-auditory effect scores based on length of employment (p = 0,047) and medical history (p = 0,009); in physiology effect scores based on age (p = 0,031), length of employment (p =  0,012), and medical history (p = 0,014); in psychological effect scores based on length of employment (p = 0,024), medical history (p = 0,021), and noise exposure outside of work (p = 0,047); in communication effect scores based on medical history (p = 0,011). Therefore, it is necessary to implement control measures, such as ensuring that the level of noise exposure in the control room within the regulatory limits and incorporating both sound-absorbing as well as sound-insulating materials into the control room design.

Read More
S-12125
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Purnama Ning Cahya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Suningrat
Abstrak: Skripsi ini membahas tingkat konsentrasi debu PM2,5 dan keluhan saluran pernapasan pada pekerja di PT. X Plant Kasablanka Tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa PT. X Plant Kasablanka dengan uji statistik yang tidak ditemukan hubungan antara kadar PM2,5 dengan keluhan pernafasan, namun perlu dilakukan evaluasi terhadap kesehatan pekerjaan dan pencegahan terhadap timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan bahan-bahan kimia berbahaya dikarenakan kadar PM2,5 yang tinggi pada dua area di tempat kerja PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Pekerja dengan keluhan pernafasan lebih banyak dari pada yang tidak ada keluhan, usia para pekerja yang kebanyakan lebih dari 30 tahun, yang merupakan usia yang rentan dengan gangguan saluran pernafasan, banyak pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari 6 bulan dan terpapar > 8 jam perhari dan banyaknya keluhan pernafasan pada pekerja yang tidak menggunakan masker. Pengendalian terhadap bahaya faktor-faktor yang ada atau timbul dilingkungan kerja dimaksudkan untuk menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita akibat kerja dan tidak mendapatkan kecelakaan kerja. Kata Kunci: Partikulat PM2,5, Industri ready mix, keluhan saluran pernapasan This thesis discuss dust concentration levels of PM2,5 and respiratory tract complaints for worker at PT. X Plant Kasablanka year 2016. this study is quantitative research with the descriptive design. The result of study suggest that PT. X Plant Kasablanka statistical test that no relationship was found between the levels of PM2,5 with respiratory complaints, but need to be evaluated and to the health of the job and the prevention of the onset of health problems caused by harmful chemicals due to high levels of PM2,5 in two areas workplace PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Workers with respiratory complaints more than that no complaints, the age of the workers were mostly over 30 years, which is a vulnerable age with respiratory disorders, many workers who have a work period of more than 6 months and exposed to > 8 hours per day and, the number of respiratory symptoms in workers who are not wearing masks. Control of the danger factors that exist or arise in the work environment is intended to create or maintain a working environment in order to remain healthy and safe or meets the requirements of health and safety norms, so that labor is free from the threat of disruption of health and safety or workers do not suffer as a result of the work and do not get a work accident. Key Word: Particulate PM2,5, Industry ready mix, respiratory tract complaints
Read More
S-9311
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Antoniuys Sardjanto Setyo Nugroho; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Sjahrul M. Nasri, L. Meily Kurniawidjaja, Zaidin, Farida Tusafariah
Abstrak: Ganggunan fungsi Paru Obstruktif, Restriktif dan Campuran Obstruktif dan Restriktif adalah penurunan kapasitas paru yang salah satu penyebab adalah pajanan debu dan dan bahan kimia di tempat kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsentrasi debu (TSP) di dalam ruangan kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja di PT. KS tahun 2010. Penelitian ini menggunakan metode survei (survey research method) yang dilakukan tanpa intervensi atau noneksperimental, analitik dan bertujuan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi dengan rancangan survei potong silang (cross sectional). Variabel yang diamati adalah Konsentrasi Debu (TSP) ruangan, umur, lama bekerja, kebiasaan merokok, riwayat penyakit paru, kebiasaan olah raga dan kebiasaan pemakaian APD. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, dan pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Kebiasaan merokok dan pemakaian APD, gangguan fungsi paru dengan nilai p masing masing p=0.000 dan p=0.003. Sedangkan konsentrasi debu, umur, lama bekerja, riwayat penyakit dan kebiasaan olah raga tidak menunjukan hubungan yang signifikan. Hasil analisis regresi logistik dari 2(dua) variabel kebiasaan merokok dan tidak memakai APD yaitu kebiasaan merokok beresiko 5 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dan tidak menggunakan APD beresiko 3.71 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dibandingkan dengan yang menggunakan APD. Saran, dimasa datang sebaiknya dibuat sistem yang terintegrasi dapat menyatukan antara data pemeriksaan kesehatan pekerja, data kualitas udara di dalam lingkungan kerja setiap unit kerja sehingga analisis serta evaluasi terhadap kondisi kesehatan pekerja dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat dan pemilihan serta pemakaian APD yang tepat.

Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive Pulmonary function disturbances is a lung decreased capacity due to the accumulation of dust which causing the decline and airway blockage and the narrowing of pulmonary tract that interfere with the respiratory tract and lung tissue damage. This disease can occur to the workers in an environment polluted by chemical fumes or dust which may increase the risk of Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive pulmonary disease. The purpose of this study is to determine the relationship of dust concentration (TSP) in the working room with the Pulmonary function disturbances of the workers of PT. KS in year 2010. This study is using survey research methods which is a research carried out without an intervention to the research subjects or non experimental. This study is an analytic study that aims to explain a condition or a situation with a cross sectional survey design. The observed variables are the Dust Concentration (TSP)of the rooms, Age, length of work, smoking habits, history of pulmonary disease, exercise habits and customs of the use of PPE (Personal Protection Equipment). The type of data used are primary and secondary data, and the data collection is using questionnaires and interviews. The analysis of the data used is by univariate, bivariate and multivariate analysis.

The results showed that there was a significant relationship between smoking habits and the use of PPE with lung function disturbances with a value of p respectively p = 0.000 and p = 0.003. While the dust concentration, age, length of work, medical history and exercise habits showed no significant relationship. The results of logistic regression analysis of 2 (two) variables i.e smoking and not using PPE, that is smoking habits have 5 times the risk of having lung function disturbances and do not use PPE have 3.71 times the risk of getting lung function impairment compared with ones who use PPE. Suggestion, in the future there should be an integrated system that can unify the workers' health examination data, air quality data in the working environment of each unit of work, ambient air quality data and data quality of air emissions so that the analysis and evaluation of health conditions of workers can produce more accurate conclusions for the selection and the use of proper PPE.
Read More
T-3486
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Oktavianti; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Fatma Lestari, Hanny Harjulianti
S-6543
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Armando Wijaya Tampubolon; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufaat
Abstrak:
Emisi kendaraan termasuk emisi lalu lintas dan transportasi telah menjadi sumber partikulat terbesar di banyak kota di berbagai negara. Masalah kesehatan akibat partikulat dari kendaraan bermotor tidak hanya dapat terjadi di sekitar jalan raya, tetapi juga dapat terjadi di industri yang bersinggungan dengan kendaraan bermotor. Dengan kondisi tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian di UP PKB Pulo Gadung untuk melihat hubungan antara konsentrasi PM2,5 dengan keluhan gangguan pernapasan. Sampel penelitian berjumlah 38 orang, yang terdiri dari penguji mekanis dan civitas FKM UI sebagai sampel pembanding. Hasil rata-rata pengukuran yang dilakukan di jalur uji mekanis adalah sebesar 100,53 μg/m3. Sedangkan hasil pengukuran di lingkungan FKM UI sebagai pembanding rata-rata sebesar 56,72 μg/m3. Sebanyak 33 dari 38 sampel mengalami gejala gangguan pernapasan, dengan gejala yang paling banyak dialami adalah bersin (76,31%). Dari hasil uji chi-square antara konsentrasi PM2,5 dan keluhan gangguan pernapasan didapatkan p-value = 0,05, yang artinya ada hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan keluhan gangguan pernapasan.

Vehicle emissions including traffic and transportation emissions have become the largest source of particulates in many cities in various countries. Health problems due to particulates from motor vehicles can not only occur around the highway, but can also occur in industries that are in contact with motor vehicles. Under these conditions, researchers wanted to conduct a study at UP PKB Pulo Gadung to see the relationship between PM2.5 concentrations and complaints of respiratory problems. The study sample totaled 38 people, consisting of mechanical testers and FKM UI community members as a comparison sample. The average result of measurements taken in the mechanical test track was 100.53 μg/m3. While the measurement results in the FKM UI environment as a comparison averaged 56.72 μg/m3. A total of 33 out of 38 samples experienced respiratory symptoms, with the most experienced symptom being sneezing (76.31%). From the results of the chi-square test between PM2.5 concentrations and respiratory complaints, the p-value = 0.05 was obtained, which means that there is a significant relationship between PM2.5 concentrations and respiratory complaints.
Read More
S-11697
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aldi Dwi Putra; Pembimbing: Bambang Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Yunita Rahayuningsih
Abstrak: Manufaktur merupakan salah satu sector industri yang memiliki risiko gangguan otot rangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dari gejala gangguan otot rangka. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018 dengan melibatkan 51 orang operator pada area mixing rubber dan 40 orang pekerja kantor di PT X yang merupakan perusahaan manufaktur komponen kendaraan bermotor. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan instrument pengambilan data berupa kuesioner QEC dan kombinasi kuesioner psikososial. Variabel independent pada penelitian ini yaitu karakteristik individu pekerja (usia, jenis kelamin, IMT, status merokok dan lama kerja), faktor fisik di tempat kerja (force, postur janggal, gerakan berulang, dan coupling) dan faktor psikososial (tuntutan kerja, kendali terhadap pekerjaan, dukungan social, skill discretion, kepuasan kerja, dan stress kerja). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan gejala pada punggung atas, lama kerja dengan gejala pada pergelangan tangan, faktor risiko fifik yang tinggi dengan gejala pada leher, skill discretion dengan gejala pada pergelangan tangan, stress kerja dengan gejala pada bahu dan punggung bawah. Oleh karena itu perlu diadakan pengendalian lebih lanjut mengenai masalah ergonomic pada PT X.
Kata kunci: gejala gangguan otot rangka, manufaktur, ergonomi,faktor fisik, faktor psikososial

Manufacture is one of the industry that has the risk of musculoskeletal disorders. The aim of this research is to analysize the risk factors from the symptoms of disorders of musculoskeletal. This research conducted on March until April 2018 by involving 51 workers on Mixing area and 40 workers on Office Area of X Corporation which is a manufacturing company who made the component of the motor vehicle. This research used Cross Sectional method by using QEC questionnaire and combination of psychosocial questionnaire as the instrument for data collection. The independent variable of this research are the characteristic of workers (age, gender, body mass index, smokimg status, and working time), physical factors on the work place (force, awkward postures, repetitive motion, and coupling) and psychosocial factors (job demands, control of the job, social support, skill discretion, job satisfaction, and work stress). The result of this research shows there is a significant correlation of body mass index with a symptoms on the top of the back, working time and skill direstion with a symptoms of the wrist, high risk of physical factor with a symptom of the neck, and work stress with a symptom of shoulders and the low part of the back. Therefore it needs to be a further control about ergonomic factor at X Corporation.
Keyword: symptoms of musculoskeletal disorder, manufacturing, ergonomic, physical factor, psychosocial factor.
Read More
S-9681
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agfa Al-Latief Hadi Putra; Pembimbing:Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Chairul Sabat
Abstrak:
Seiring dengan berkembangnya teknologi, kini pegawai dituntut untuk bekerja dan menghabiskan sebagian waktunya duduk fokus memandang komputer dan menggunakan mouse. Penggunaan komputer memiliki risiko ergonomic yang apabila dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan masalah kesehatan salah satunya gangguan muskoloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara risiko ergonomi dengan gangguan muskoloskeletal pada pekerja kantoran di PT. X. Metode yang digunakan adalah desain studi cross sectional dengan menggunakan instrument penelitian berupa Nordic Body Map dan Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Penelitian ini dilakukan kepada 48 pekerja kantoran di PT. X. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, masa kerja, tingkat risiko ergonomi, dan keluhan muskoloskeletal dengan analisis univariat, dan bivariat. Dari 48 responden didapatkan 39 orang mengalami keluhan muskoloskeletal dengan keluhan terbanyak ada pada bagian leher atas, punggung, dan pinggang. Hasil penelitian menunjukan tidak adanya hubungan antara risiko ergonomi dengan usia, masa kerja dan jenis kelamin (p-value=1). Akan tetapi, terdapat hubungan yang berarti antara risiko ergonomic dengan gangguan muskoloskeletal (p-value=0,039).

Along with the development of technology, employees are now required to work and spend some of their time sitting focused on looking at computers and using mouse. The use of computers has ergonomic risks which if done continuously can cause health problems, one of which is musculoskeletal disorders. This study aims to analyze the relationship between ergonomic risks and musculoskeletal disorders in office workers at PT. X. The method used is a cross-sectional study design using research instruments in the form of Nordic Body Map and Rapid Office Strain Assessment (ROSA). This research was conducted on 48 office workers at PT. X. The variables studied in this study were age, gender, length of service, level of ergonomic risk, and musculoskeletal complaints with univariate, and bivariate analysis. From 48 respondents, 39 people experienced musculoskeletal complaints with the most complaints in the upper neck, back, and waist. The results showed no relationship between ergonomic risk with age, length of service and gender (p-value = 1). However, there was a significant association between ergonomic risk and musculoskeletal disorders (p-value = 0.039).
Read More
S-11380
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Basuki Ario Seno; Pembimbing: Robiana Modjo
T-971
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive