Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39621 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Zahra Dhiyanissa; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Debbie Valonda
Abstrak:
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akibat bakteri Leptospira. DKI Jakarta termasuk dari 11 wilayah endemis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan faktor sosial (kepadatan penduduk), iklim (kelembapan, curah hujan, suhu), dan lingkungan (rawan banjir, timbulan sampah) terhadap kasus leptospirosis di lima kota administrasi DKI Jakarta tahun 2017–2023. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kelembapan, curah hujan, dan daerah rawan banjir (p<0,05), dengan korelasi kelembapan (r = -0,375) dan curah hujan (r = 0,477). Persebaran kasus lebih banyak pada wilayah rawan banjir, timbulan sampah sedang–tinggi, dan kepadatan penduduk sedang. Dengan demikian, perlu dilakukan optimalisasi pelaporan dan kolaborasi lintas sektor dalam mengintervensi masyarakat.


Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira bacteria. DKI Jakarta is one of 11 endemic areas. This study analyzed the relationship between social (population density), climatic (humidity, rainfall, temperature), and environmental (flood-prone, waste generation) factors on leptospirosis cases in five administrative cities of DKI Jakarta in 2017-2023. The results showed a significant relationship between humidity, rainfall, and flood-prone areas (p<0.05), with a correlation of humidity (r = -0.375) and rainfall (r = 0.477). The distribution of cases was more in flood-prone areas, medium-high waste generation, and medium population density. Thus, it is necessary to optimize cross-sector collaboration in intervention. 

Read More
S-12113
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Fatimah Alifia; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Hanung Nurany
Abstrak:
Peningkatan signifikan kasus leptospirosis di Kota Tangerang pada tahun 2024–2025, setelah tidak ada laporan kasus selama tiga tahun sebelumnya, menunjukkan adanya dinamika faktor risiko yang perlu dikaji lebih dalam. Penanganan penyakit ini sering kali baru difokuskan saat terjadi banjir, padahal faktor iklim dan lingkungan memiliki peran yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor sosial, iklim, dan lingkungan dengan kejadian leptospirosis di 13 kecamatan Kota Tangerang periode 2021–2025. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan analisis korelasi dan pendekatan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan penduduk, suhu udara, kelembapan udara, dan jumlah kejadian banjir secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p>0,05) dengan kasus leptospirosis. Sebaliknya, peningkatan kasus berhubungan signifikan dengan tingginya curah hujan (r = 0,490), kepadatan tikus (r = 0,822), dan cakupan rumah sehat (r = 0,301). Secara spasial, sebaran kasus cenderung mengelompok pada wilayah dengan curah hujan dan kelembapan udara sedang hingga tinggi serta kondisi lingkungan dengan banyak tikus. Oleh karena itu, strategi pengendalian perlu difokuskan pada pencegahan dini melalui pemantauan iklim dan pengendalian populasi tikus secara terpadu sebelum musim penghujan tiba.

The significant increase in leptospirosis cases in Tangerang City durineg 2024–2025, after no reported cases for the three previous years, indicates the presence of risk factor dynamics that require further investigations. The management of this disease is often focused only when floods occur, even though climate and environmental factors play a continuous role. This study aimed to analyze the relationship between social, climatic, and environmental factors with the incidence of leptospirosis across 13 sub-districts in Tangerang City for the 2021–2025 period. An ecological study design was employed, utilizing correlation analysis and a spatial approach. The results showed that population density, air temperature, air humidity, and the number of flood events did not have a statistically significant relationship (p>0,05) with leptospirosis cases. Conversely, the increase in cases was significantly correlated with high rainfall (r = 0,490), rat density (r = 0,822), and healthy housing coverage (r = 0,301). Spatially, the distribution of cases tended to cluster in areas with moderate to high rainfall and air humidity, alongside environmental conditions with high rat populations. Therefore, control strategis should focus on early prevention through climate monitoring and integrated rat population control before the onset of the rainy season.
Read More
S-12262
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Pratiwi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7133
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alysha Lalita Aryanti; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Suyud Warno Utomo, Maria Holly Herawati
Abstrak: Berdasarkan Global TB Report, Indonesia masih menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara yang memiliki estimasi kasus terbesar setelah India dan China. Kasus yang ditemukan di Indonesia pada tahun 2021 sudah sebanyak 403.760 kasus atau sebesar 49% dari estimasi kasus yang ada (824.000 kasus). Salah satu wilayah di Indonesia yaitu Jakarta Timur memiliki jumlah kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi DKI Jakarta dengan total kasus selama tahun 2018-2020 sebanyak 11.988 kasus (31,1%). Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang dapat diakibatkan oleh faktor lingkungan maupun demografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan antara faktor iklim dan demografi dengan kasus tuberkulosis di Jakarta Timur selama tahun 2018-2020 dengan menggunakan studi ekologi dan analisis spasial, serta unit analisis dalam penelitian ini merupakan seluruh penderita tuberkulosis pada 10 Kecamatan di Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kasus Tuberkulosis (p = 0,593) dengan hubungan yang sangat lemah dan berpola positif (r = 0,102), begitu pula hasil analisis korelasi pada faktor iklim seperti curah hujan (r = 0,116), kelembaban udara ( r = 0,238) , dan suhu udara (r = -0,172) memiliki hasil yang sama yaitu tidak ada hubungan yang signifikan atau nilai p > 0,05. Hasil analisis secara spasial diperoleh, bahwa tidak ada hubungan secara spasial antara kasus Tuberkulosis dengan faktor iklim dan demografi. Kesimpulan dalam penelitian ini, tidak ada hubungan yang signifikan antara kasus Tuberkulosis dengan faktor iklim dan demografi, baik secara analisis statistik maupun spasial.
Based on the Global TB Report, Indonesia still ranks third in the world as the country with the largest estimated case after India and China. Cases found in Indonesia in 2021 have reached 403,760 cases or 49% of the estimated existing cases (824,000 cases). One of the regions in Indonesia, namely East Jakarta, has the highest number of tuberculosis cases in DKI Jakarta Province with a total of 11,988 cases (31.1%). Tuberculosis is a disease that can be caused by environmental and demographic factors. This study aims to analyze the determinants between climate and demographic factors with tuberculosis cases in East Jakarta during 2018-2020 using ecological studies and spatial analysis, and the unit of analysis in this study is all tuberculosis patients in 10 sub-districts in East Jakarta. The results showed that population density did not have a significant relationship with Tuberculosis cases (p = 0.593) with a very weak relationship and a positive pattern (r = 0.102), as well as the results of correlation analysis on climatic factors such as rainfall (r = 0.116). , humidity ( r = 0.238 ) , and air temperature ( r = -0.172 ) have the same results , namely there is no significant relationship or p value > 0.05 . The results of the spatial analysis are obtained, that there is no spatial relationship between Tuberculosis cases with climatic and demographic factors. The conclusion in this study, there is no significant relationship between tuberculosis cases with climatic and demographic factors, both statistically and spatially.
Read More
S-11051
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Hana Ashillah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Erni Pelita Fitratunnisa
Abstrak:
Latar Belakang: Pada tahun 2019, air sumur menjadi sumber air bersih utama bagi 76,18% rumah tangga di Indonesia, tetapi Provinsi DKI Jakarta menjadi wilayah dengan nilai Indeks Kualitas Air terendah ke-3 di Indonesia. Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor topografi, sosio-demografi, dan kejadian banjir terhadap kualitas air sumur di Provinsi DKI Jakarta tahun 2017-2019. Metode: Desain studi ekologi dengan menggunakan data sekunder dan unit analisis 261 kelurahan. Data diolah menggunakan uji korelasi dan analisis spasial. Hasil: Kualitas air sumur di sebagian besar wilayah Provinsi DKI Jakarta selama 2017-2019 yaitu sebanyak lebih dari 83% tidak memenuhi syarat dengan rata-rata air sumur tercemar sedang. Wilayah yang kualitas air sumurnya rentan tercemar adalah Kota Jakarta Utara. Faktor yang berhubungan signifikan terhadap kualitas air sumur adalah ketinggian wilayah (p = <0,001), kepadatan penduduk (p = 0,015), dan tingkat pendidikan rendah (p = 0,028). Kesimpulan: Kualitas air sumur di Provinsi DKI Jakarta tahun 2017-2019 sebagian besar tidak memenuhi syarat dipengaruhi oleh faktor ketinggian wilayah, kepadatan penduduk, dan tingkat pendidikan. Saran: Pemerintah daerah dan swasta dapat berkolaborasi untuk memperluas jaringan air perpipaan agar kualitas air lebih terjamin serta melakukan publikasi dan edukasi kepada masyarakat terkait kondisi air sumur, pencegahan, serta cara mengatasi pencemaran air sumur.

Background: In 2019, well water was the primary clean water source for 76.18% of Indonesian households, but DKI Jakarta had the third-lowest Water Quality Index in Indonesia. Objective: To analyze the impact of topographic, socio-demographic factors, and flood events on well water quality in DKI Jakarta from 2017 to 2019. Methods: An ecological study using secondary data from 261 urban villages, analyzed with correlation tests and spatial analysis. Results: The quality of well water in most areas of the Province of DKI Jakarta from 2017 to 2019 did not meet standards, with more than 83% of areas having moderately polluted well water. The areas most vulnerable to well water contamination were in North Jakarta. Significant factors were elevation (p < 0.001), population density (p = 0.015), and low education (p = 0.028). Conclusion: Well water quality in DKI Jakarta from 2017 to 2019 was mostly substandard due to elevation, population density, and education levels. Recommendation: Local governments and private sectors should expand the piped water network and educate the public on well water quality, prevention, and solutions.
Read More
S-11618
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauzan Rachmatullah; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Rismanaadji
S-10096
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gilang Delia Revorina; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang sebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi virus dengue dari penderita kepada orang lain. Penyakit ini endemik lebih dari 100 negara beriklim tropis dan sub tropis di belahan dunia. Sekitar 1,8 miliar (lebih dari 70%) dari populasi yang berisiko terkena demam berdarah di seluruh dunia tinggal di negara-negara Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat, salah satunya Indonesia. Pada tahun 2016, DKI Jakarta ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD, dengan jumlah penderita sebanyak 22.697 kasus dan Incidence Rate (IR) sebesar 220.8 per 100.000 penduduk. Kota Jakarta Barat menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kejadian DBD tertinggi dibandingkan dengan kota lain di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis spasial kejadian DBD di Kota Jakarta Barat tahun 2015-2019 dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti demografi, iklim, dan angka bebas jentik. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial dan analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antara kejadian DBD dengan faktor kepadatan penduduk, iklim, dan angka bebas jentik. Secara spasial kejadian DBD cenderung terjadi di wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi dan ABJ rendah. Secara statistik, analisis korelasi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepadatan penduduk, kelembanam udara, dan curah hujan dengan kejadian DBD. Sedangkan suhu udara dan angka bebas jentik menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan terhadap kejadian DBD di Kota Jakarta Barat. Dari 56 kelurahan di Jakarta Barat, terdapat 53 kelurahan yang tergolong tingkat kerawanan tinggi, dan 3 kelurahan tergolong kategori kerawanan sedang terjadinya kasus DBD. Tingginya masalah kasus DBD di Jakarta Barat membuat Dinas Kesehatan sebaiknya meningkatkan upaya atau perencanaan serta optimalisasi pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan kasus DBD.
Kata kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD), Kepadatan Penduduk, Iklim, ABJ, Analisis Spasial.

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease transmitted by Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes who infected with dengue virus. DHF have been affecting more than 100 tropical and sub-tropical countries in the world. Around 1.8 billion (more than 70%) of the population at risk of dengue fever worldwide live in countries of Southeast Asia and the Western Pacific Region, including Indonesia. In 2016, DKI Jakarta was assigned the status of outbreak of DHF, with a total of 22,697 cases and an incidence rate (IR) of 220.8 per 100,000 population. West Jakarta is one of the regions with the highest DHF incidence rate compared to other cities in DKI Jakarta. This study aims to determine the spatial analysis of the incidence of dengue in West Jakarta in 2015-2019 by considering several factors such as demographics, climate, and larval free index. This study uses an ecological study with a spatial analysis approach and correlation analysis to see the strength of the relationship between the incidence of DHF with factors of population density, climate, and larvae free index. Spatially the incidence of DHF tends to occur in areas with high density and low larvae free index. Statistically, correlation analysis shows that there is a significant relationship between population density, air humidity, and rainfall with the incidence of DHF. Meanwhile, there is no significant correlation between the air temperature and larvae free index with the incidence of DHF in West Jakarta. Result shows that from 56 urban villages in West Jakarta, there are 53 urban villages that are categorized as high vulnerability, and 3 urban villages categorized as medium vulnerability. The high problem of dengue cases in West Jakarta makes the authorities should increase efforts or planning and optimize community empowerment in eradicating dengue cases. Keywords: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), Population Density, Climate, Larvae Free Index, Spatial Analysis.
Read More
S-10273
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fayza Chairunnisa Permana; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Erni Pelita Fitratunnisa
Abstrak:
Pada tahun 2022, Provinsi DKI Jakarta menempati urutan ke-empat dengan cakupan pneumonia balita tertinggi (53,2%) melebihi cakupan pneumonia balita Indonesia (38,78%). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor iklim (suhu udara, kelembaban relatif, curah hujan dan tekanan udara), faktor polutan (PM10, SO2, CO, O3, NO2), dan faktor sosioekonomi orang tua (pendidikan dan pekerjaan) terhadap proporsi pneumonia pada balita di Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 – 2022. Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan unit analisis proporsi pneumonia perbulan di Provinsi DKI Jakarta. Data diolah dan dianalisis dengan grafik dan dianalisis menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi pneumonia balita menurun signifikan pada 2020 – 2021 akibat COVID-19. Selama 10 tahun faktor polutan seperti CO mengalami penurunan di akhir periode, sementara faktor polutan seperti SO2 cenderung meningkat. Terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan, tekanan udara, PM10 CO, SO2 dan jenis pekerjaan orang tua dengan status sosioekonomi rendah terhadap proporsi pneumonia balita Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 – 2022. Proprosi pneumonia balita 2013 – 2022 lebih tinggi dibandingkan proporsi pneumonia balita Indonesia tahun 2022 dengan faktor risiko berupa curah hujan, tekanan udara, PM10 CO, SO2 dan jenis pekerjaan orang tua dengan status sosioekonomi rendah.

In 2022, the Province of DKI Jakarta ranked fourth with the highest coverage of pneumonia in toddlers (53.2%), exceeding Indonesia's toddler pneumonia coverage (38.78%). This study aimed to analyze the relationship between climate factors (air temperature, relative humidity, rainfall, and air pressure), pollutant factors (PM10, SO2, CO, O3, NO2), and parents' socioeconomic factors (education and occupation) on the proportion of pneumonia in toddlers in DKI Jakarta from 2013 to 2022. The ecological study design used secondary data, analyzing the proportion of pneumonia per month in DKI Jakarta. Data were processed and analyzed using graphs and correlation tests. The results showed a significant decrease in toddler pneumonia proportion in 2020–2021 due to COVID-19. Over ten years, pollutants such as CO decreased at the end of the period, while SO2 levels increased. A significant relationship was found between rainfall, air pressure, PM10 CO, SO2, and parental occupation with low socioeconomic status on the proportion of toddler pneumonia in DKI Jakarta from 2013 to 2022. The proportion of toddler pneumonia DKI Jakarta from 2013 to 2022 was higher (1.65%) compared to Indonesia's proportion (1.57%) in 2022, with risk factors including rainfall, air pressure, PM10 CO, SO2, and parents' occupation with low socioeconomic status.
Read More
S-11730
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwiari; Pembimbing: Sumengen Sutomo; Penguji: Dewi Susanna, Laila Fitri, Gindo M. Simanjuntak, Yudianto
T-2712
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Adrian Dharmawan; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nickolas Fernando Parmualan
Abstrak:
Gastroenteritis merupakan penyakit yang mengalami inflamasi pada perut dan usus kecil yang menyebabkan gejala seperti diare dan muntah. DKI Jakarta memiliki kasus yang cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota yang berada di wilayah jabotedabek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (curah hujan, banjir), faktor sanitasi (sanitasi layak) dan faktor invidu (umur, jenis kelamin) dengan kasus gastroenteritis di DKI Jakarta pada tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan analisis uji korelasi serta regresi linear sederhana. Pada penelitian ini memiliki hasil menunjukan terdapatnya hubungan yang bermakna pada curah hujan (r= -0,422), banjir (r= 0,452), umur (balita r= 0,966; remaja r= 0,965; dewasa r= 0,963), dan jenis kelamin (laki-laki r=0,992; perempuan r= 0,994), dan sanitasi layak (r= -0,352). Hasil analisis multivariat menunjukan jika hubungan signifikan terhadapat kasus gastroenteritis dengan umur balita dan jenis kelamin perempuan. Umur balita dan jenis kelamin perempuan dapat menggambarkan 99,4% dari kasus gastroenteritis dengan realitiasnya. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu terdapatnya hubungan yang searah dengan banjir (r= 0,452), umur balita (r= 0,966) dan jenis kelamin perempuan (r= 0,994), sedangkan curah hujan (r= -0,422) dan sanitasi layak (r= -0,352) memiliki hubungan yang tidak searah dengan kasus gastroenteritis.

Gastroenteritis is an inflammatory disease of the stomach and small intestines that causes symptoms such as diarrhea and vomiting. DKI Jakarta has higher incidence rates compared to other cities in the Jabodetabek region. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (rainfall, flooding), sanitation factors (adequate sanitation), and individual factors (age, gender) with gastroenteritis cases in DKI Jakarta from 2017 to 2022. This ecological study utilized correlation analysis and simple linear regression. The results indicated significant relationships between gastroenteritis cases and rainfall (r= -0.422), flooding (r= 0.452), age (infants r= 0.966; adolescents r= 0.965; adults r= 0.963), gender (males r= 0.992; females r= 0.994), and adequate sanitation (r= -0.352). Multivariate analysis revealed that infant age and female gender were significantly associated with gastroenteritis cases, explaining 99.4% of the variance. The study concludes that there are positive relationships with flooding (r= 0.452), infant age (r= 0.966), and female gender (r= 0.994), while rainfall (r= -0.422) and adequate sanitation (r= -0.352) have inverse relationships with gastroenteritis cases.
Read More
S-11568
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive