Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38665 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Fauzan Antyanta; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Alfanissa Ilmaladuni
Abstrak:
Permasalahan gizi balita, yaitu gizi kurang, berat badan kurang dan berat badan tidak naik, merupakan masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya secara nasional. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, termasukoleh Puskesmas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita bermasalah gizi usia 0-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Priok tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 0-59 bulan berjumlah 134 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada tahun 2025. Variabel independe meliputi faktor balita (usia balita, jenis kelamin balita, ASI eksklusif, PMT yang dihabiskan, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ayah dan ibzu, status pekerjaan ayah dan ibu dan jumlah anak dalam keluarga). Uji statistik chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% balita mengalami kenaikan status gizidan terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita dengan peningkatan status gizi mereka (p-value = 0,001).

Nutritional problems of toddlers, namely malnutrition, underweight and weight faltering, are nutritional problems that still have a high prevalence nationally. To address this problem, the government implemented a local food supplementary feeding program as one of the efforts to overcome this problem. The local food supplementary feeding program is implemented by the Tanjung Priok Community Health Center in North Jakarta. The purpose of this study was to identify factors related to improving the nutritional status of toddlers with nutritional problems aged 0-59 months in the local food supplementary feeding program in the Tanjung Priok Community Health Center working area in 2025. This study used a cross-sectional study design with a sample of 134 malnourished toddlers aged 0-59 months who had participated in the local food supplementary feeding program in 2025. Independent variables included toddler factors (toddler age, toddler gender, exclusive breastfeeding, PMT consumed, infectious diseases and immunizations) and parental factors (father's and mother's education, father's and mother's employment status and number of children in the family). The chi-square statistical test was used to see the relationship between the studied variables. The results showed that 52.2% of toddlers had improved nutritional status and there was a significant relationship between the age of the toddlers and the improvement in nutritional status of toddlers (p-value = 0.001).
Read More
S-12151
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heny Purbaningsih; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Trini Sudiarti, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Dewi Astuti, Eka Agustina
Abstrak:

Balita gizi kurang merupakan keadaan gizi pada balita dengan berat badan menurut tinggi badan atau berat badan menurut panjang badan pada Z-score -3 SD sampai dengan <-2 SD atau lingkar lengan atas (LiLA) 11,5 cm sampai dengan <12,5 cm. Pada tahun 2021, prevalensi wasting di Provinsi Banten melebihi angka nasional yaitu sebesar 7,9%. Bahkan di Kota Serang jauh lebih tinggi sebesar 11,4%. Sedangkan Kecamatan Serang merupakan penyumbang prevalensi gizi kurang tertinggi di Kota Serang dengan angka  30,71%. Tata laksana balita gizi kurang yang menjadi program Kementerian Kesehatan dengan memberikan makanan tambahan berbahan pangan lokal yang dilaksanakan salah satunya di Kecamatan Serang, Kota Serang. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita gizi kurang usia 12-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 12-59 bulan berjumlah 130 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Variabel independen meliputi faktor balita (usia, jenis kelamin, ASI eksklusif, PMT berbahan pangan lokal, konsumsi energi, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, konsumsi protein nabati, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ibu dan pendapatan). Uji statistik yang digunakan pada uji bivariat menggunakan chi square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat balita yang status gizinya naik sebanyak 56,2%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal (p-value = 0,012), konsumsi energi (p-value = 0,001), penyakit infeksi (p-value = 0,020) dan pendapatan (p-value = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan peningkatan status gizi adalah konsumsi energi (OR = 3,600). Balita dengan konsumsi energi kurang berisiko 3,6 kali lebih tinggi status gizinya tidak naik dibandingkan balita yang mengonsumsi cukup energi setelah dikontrol oleh variabel PMT berbahan pangan lokal, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, penyakit infeksi, imunisasi dan pendapatan. Perlunya perbaikan pola pemberian makan dan asupan makanan yang baik dalam jumlah dan kualitasnya untuk menunjang tumbuh kembang balita dan meningkatkan kewaspadaan jika terjadi masalah gizi pada balita.


 

Wasted is a nutritional condition in children under five with weight for height Z-score or weight for length Z-score of -3 SD to <-2 SD or upper arm circumference of 11.5 cm to <12.5 cm. In 2021, the prevalence of wasting in Banten Province exceeded the national rate at 7.9%. In Serang City, it was even higher at 11.4%. Meanwhile, Serang sub-district contributed the highest prevalence of wasted in Serang city with 30.71%. The management of wasted children, which is a program of the Ministry of Health by local food-based supplementary feeding program is implemented one of them in Serang District, Serang City. The purpose of this study was to identify factors associated with improving nutritional status in underweight children aged 12-59 months in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. This study used a cross sectional study design with a sample of wasted children aged 12-59 months totaling 130 children who had participated in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. Independent variables included children factors (age, sex, exclusive breastfeeding, local food-based supplementary feeding program, energy consumption, protein consumption, animal protein consumption, vegetable protein consumption, infectious diseases and immunization) and parental factors (maternal education and income). Statistical tests used in bivariate tests using chi square and multivariate tests using multiple logistic regression determinant models. The results showed that there were children whose nutritional status improved by 56.2%. There was a significant relationship between local food-based supplementary feeding program (p-value = 0.012), energy consumption (p-value = 0.001), infectious diseases (p-value = 0.020) and income (p-value = 0.003). Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with improved nutritional status was energy consumption (OR = 3.600). Children with insufficient energy consumption had a 3.6 times higher risk of not improving their nutritional status compared to children who consumed enough energy after controlling for the variables of local food-based supplementary feeding program, protein consumption, animal protein consumption, infectious diseases, immunization and income. It is necessary to improve feeding patterns and food intake both in quantity and quality to support the growth and development of children and increase vigilance in the event of nutritional problems in children under five.

Read More
T-6938
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Temy Ramadan; Pembimbing : Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Giri Wurjandaru
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Program PMT-P untuk Balita pada duaPuskesmas kecamatan di Jakarta Utara tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif deskriptif untuk mengetahui masukan (SDM, anggaran, sarana dan prasarana,bahan makanan tambahan), proses (perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi),dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makan anak) sertametode kuantitatif potong lintang untuk mengetahui proses (pelaksanaan, pemantauandan evaluasi) dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makananak) program pada kedua Puskesmas. Data penelitian didapatkan dengan metodewawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, wawancara terstruktur, dan observasi.Informan penelitian ini adalah masing-masing 1 orang TPG, 1 orang kepala Puskesmas,dan 8 orang kader pada kedua Puskesmas. Serta responden penelitian masing-masing 10orang ibu dari sasaran program pada kedua Puskesmas. Penelitian dilakukan diPuskesmas Kecamatan Pademangan dan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Hasildari penelitian di Puskesmas Kecamatan Pademangan menunjukkan TPG yang diisi olehtenaga kesehatan lain, belum tersedia gudang penyimpanan yang baik, makanantambahan dengan kuantitas berlebih dan kualitas kurang baik, perbedaan istilah sasaranprogram, perbedaan indikator, penolakan dari sasaran, hari makan anak yang tidakdipantau, dan kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna. Sedangkan penelitian diPuskesmas Kecamatan Tanjung Priok menunjukkan anggaran yang dirasa kurang cukup,kuantitas makanan tambahan yang berlebih, perbedaan istilah sasaran, perbedaanindikator, kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna, penolakan dari sasaran, danjumlah hari makan anak yang tidak dipantau.Kata Kunci:Evaluasi program; Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan untuk Balita.
Read More
S-9628
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghevira Aulia Sahara; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:

Masalah kekurangan gizi pada balita usia 12–59 bulan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal merupakan salah satu upaya intervensi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dan faktor-faktor lain terhadap kenaikan berat badan balita di Puskesmas Cimpaeun Kota Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 71 balita usia 12–59 bulan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,6% balita mengalami kenaikan berat badan yang adekuat setelah mengikuti program PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dengan kenaikan berat badan balita (p = 0,027; OR = 4,464; 95% CI: 1,155–17,252), yang berarti balita yang menerima PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal tidak habis memiliki risiko 4,464 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan yang kurang dibandingkan dengan balita yang menerima PMT habis terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi dengan kenaikan berat badan (p = 0,015). Balita yang mengalami infeksi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, variabel seperti pola makan, pendidikan ibu, pengetahuan, pola asuh, kunjungan posyandu, dan PHBS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.


Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. This study used a cross sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. 

Read More
S-11937
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisi Panjaitan; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Merry Aderita
S-6744
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Reno Monalisa; Pembimbing: Syafri Gurrici; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Yudaningsih
S-5232
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Alpita Silva; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Trini Sudiarti, Sahruna
Abstrak:
Prevalensi wasting di DKI Jakarta mencapai 8% pada tahun 2022. Menurut data SSGI tahun 2022, Jakarta Utara memiliki prevalensi wasting tertinggi sebesar 9,4% (mendekati batas angka 10% masalah gizi kesehatan masyarakat berat) dibandingkan wilayah lain di DKI Jakarta. Usia 24-59 bulan merupakan usia rentan mengalami kejadian wasting karena kebutuhan gizi anak yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan cepat sehingga dibutuhkan asupan gizi yang adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor yang berhubungan (asupan gizi, penyakit infeksi, karakteristik keluarga, dan karakteristik anak) dan faktor dominan kejadian wasting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik simple random sampling. Subjek penelitian balita usia 24-59 bulan di wilayah Kecamatan Tanjung Priok berjumlah 188 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan chi-square dilanjutkan dengan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian wasting adalah asupan energi (p-value= 0,023), dan asupan lemak (p-value=0,05), sedangkan yang paling dominan adalah asupan energi OR = 4,026 (95%, CI: 1,211-13,385). Perlu adanya deteksi dini dan pencegahan wasting pada anak harus ditingkatkan melalui program pemantauan tumbuh kembang anak pada saat kegiatan penimbangan setiap bulan oleh posyandu dengan dukungan pihak puskesmas.

The prevalence of wasting in DKI Jakarta reached 8% in 2022. According to SSGI data in 2022, North Jakarta has the highest prevalence of wasting at 9.4% (close to the 10% limit for severe public health nutrition problems) compared to other regions in DKI Jakarta. Age 24-59 months is a vulnerable age to experience the incidence of wasting due to the high nutritional needs of children to support rapid growth so that adequate nutritional intake is needed. This study aims to determine and analyze related factors (nutritional intake, infectious diseases, family characteristics, and child characteristics) and dominant factors of wasting incidence in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta 2023. The study used a cross-sectional design with simple random sampling technique. Subjects of research toddlers aged 24-59 months in the District of Tanjung Priok amounted to 188 people. Data was collected through interviews and anthropometric measurements. Data analysis using chi-square followed by logistic regression. The results showed that the factors significantly associated with the incidence of wasting are energy intake (p-value= 0.023), and fat intake (p-value=0.05), while the most dominant is energy intake OR = 4.026 (95%, CI: 1.211-13.385). The need for early detection and Prevention of wasting in children must be improved through a child growth and Development Monitoring program during monthly weighing activities by posyandu with the support of the public health center.
Read More
S-11302
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sinta Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Status gizi lebih adalah kondisi penumpukan lemak yang berlebihan dan jika terjadi dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan (WHO, 2024b). Berdasarkan data WHO, prevalensi overweight pada remaja usia 10–19 tahun di seluruh dunia mencapai 18,9%, naik dari 7,5% pada tahun 1990. Prevalensi obesitas juga melonjak dari 1,7% pada 1990 menjadi 7,2% pada 2022 (WHO, 2024c). Peningkatan prevalensi kejadian status gizi lebih pada siswa/i SMA juga terjadi di Jakarta Utara. Berdasarkan data Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi status gizi lebih pada usia 16-18 tahun naik dua kali lipat dari 6,9% menjadi 14,77% (Kemenkes RI, 2013, 2018b). Status gizi lebih pada remaja dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, pengisian formulir SQ-FFQ, serta pengisian kuesioner online. Penelitian dilakukan pada 132 responden dengan metode simple random sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 22% responden mengalami status gizi lebih, dengan 15,2% gizi lebih dan 6,8% obesitas. Analisis uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,001; OR 14,4) dan asupan karbohidrat (p-value 0,001; OR 10,3 dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak, asupan protein, asupan serat, aktivitas fisik, durasi tidur, screen time, emotional eating (p-value > 0,05) dan pengetahuan status gizi lebih (p-value 0,046; OR 2,806; 95% CI 0,989-7,966) dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Walaupun demikian, terdapat kecenderungan responden dengan asupan lemak berlebih, asupan protein berlebih, aktivitas fisik kurang, durasi tidur kurang, screen time tinggi, dan pengetahuan status gizi lebih yang kurang untuk mengalami status gizi lebih. Oleh karena itu, SMA Negeri 13 Jakarta disarankan untuk melakukan pemantauan status gizi siswa secara periodik disertai edukasi mengenai status gizi dan pedoman gizi seimbang. 

Overnutrition is a condition of excessive fat accumulation, and if it occurs over a long period, it can have negative impacts on health (WHO, 2024b). According to WHO data, the global prevalence of overweight among adolescents aged 10–19 years has reached 18.9%, up from 7.5% in 1990. The prevalence of obesity also surged from 1.7% in 1990 to 7.2% in 2022 (WHO, 2024c). An increase in the prevalence of overnutrition among senior high school students has also been observed in North Jakarta. Based on Riskesdas data from 2013 and 2018, the prevalence of overnutrition among those aged 16–18 years doubled from 6.9% to 14.77% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2013, 2018b). Overnutrition in adolescents can negatively affect physical, psychological, and social health. This study aims to identify the factors associated with overnutrition among students of SMA Negeri 13 Jakarta. The results showed that 22% of respondents had overnutrition, with 15.2% classified as overweight and 6.8% as obese. Chi-square test analysis indicated a significant association between energy intake (p-value 0.001; OR 14,4) and carbohydrate intake (p-value 0.001; OR 10.3 with overnutrition status among students at SMA Negeri 13 Jakarta in 2025. However, no significant relationship was found between fat intake, protein intake, fiber intake, physical activity, sleep duration, screen time, emotional eating (p-value > 0.05), and knowledge of overnutrition status (p-value 0.046; OR 2.806; 95% CI 0.989–7.966) with overnutrition status among the students. Nevertheless, there was a tendency for respondents with excessive fat intake, excessive protein intake, low physical activity, insufficient sleep duration, high screen time, and poor knowledge of overnutrition to experience overnutrition. Therefore, it is recommended that SMA Negeri 13 Jakarta conduct regular monitoring of students' nutritional status along with education on nutrition status and balanced nutrition guidelines.
Read More
S-12023
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Destia Fitriyanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Debby Permata Sari
Abstrak:
Kejadian gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat pada penduduk dewasa di Jakarta Pusat, terutama di Kecamatan Kemayoran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan data primer yang melibatkan 170 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,59% responden berisiko gizi lebih (IMT ≥ 23 kg/m2). Pada analisis multivariabel, diketahui asupan energi berlebih, sering konsumsi makanan berlemak, sering konsumsi junk food, durasi tidur pendek, interaksi jenis kelamin dan konsumsi junk food, serta interaksi asupan karbohidrat dan durasi tidur menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi lebih. Konsumsi junk food menjadi faktor dominan yang memengaruhi kejadian gizi lebih pada penduduk dewasa usia 40−59 tahun di Kecamatan Kemayoran tahun 2025. Dapat disimpukan bahwa perilaku konsumsi makanan yang padat energi dan tinggi lemak berpengaruh terhadap kejadian gizi lebih. Upaya pencegahan gizi lebih pada kelompok usia dewasa akhir perlu difokuskan pada pengendalian konsumsi junk food melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Kolaborasi antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dinas kesehatan diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi gizi kepada masyakat.


Overnutrition is a significant public health issue with an increasing prevalence among adults in Central Jakarta, including Kemayoran Sub-District. This study aims to examine the characteristics and factors associated with overnutrition among adults aged 40–59 years in Kemayoran District in 2025. A cross-sectional study design was employed, utilizing primary data from 170 respondents. The results showed that 80.59% of respondents were at risk of overnutrition (BMI ≥ 23 kg/m²). Multivariable analysis identified excessive energy intake, frequent consumption of fatty foods, frequent junk food intake, short sleep duration, the interaction between gender and junk food consumption, and the interaction between carbohydrate intake and sleep duration as significant factors influencing overnutrition. Junk food consumption emerged as the dominant factor contributing to overnutrition among adults aged 40–59 in Kemayoran Subdistrict in 2025. It can be concluded that energy-dense and high-fat dietary behaviors significantly contribute to overnutrition. Preventive efforts targeting this age group should focus on controlling junk food intake through community-based promotive and preventive approaches. Collaboration between primary healthcare services and the health department is essential to broaden the reach of nutrition education among the public.
Read More
S-12091
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Samiyah Nida Al Kautsar; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sahruna
Abstrak:
Malnutrisi pada anak sering disebabkan kurangnya variasi makanan yang dikonsumsi, sehingga asupan zat gizi tidak adekuat (UNICEF, 2020). Tingginya keragaman konsumsi pangan berhubungan dengan rendahnya kejadian stunting dan underweight pada balita (Modjadji et al., 2020). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keragaman konsumsi pangan dan faktor dominan terhadap keragaman konsumsi pangan pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 188 anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok selama bulan Juni 2023 menggunakan teknik simple random sampling di tiga kelurahan, yaitu Kebon Bawang, Sunter Jaya, dan Warakas. Skor keragaman konsumsi pangan diambil menggunakan food recall 1x24 jam berdasarkan 9 kelompok pangan dan dikategorikan menjadi tidak beragam (< 5 kelompok pangan) dan (≥ 5 kelompok pangan). Analisis penelitian ini menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara status pekerjaan ayah, pengetahuan gizi ibu/pengasuh, dan ketahanan pangan dengan keragaman konsumsi pangan anak. Analisis multivariat menunjukkan bahwa status pekerjaan ayah memiliki nilai OR tertinggi, yaitu 2,9. Status pekerjaan ayah menjadi faktor dominan keragaman konsumsi pangan anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2023.

Malnutrition in children is often caused by a lack of variety of foods consumed, resulting in inadequate intake of nutrients (UNICEF, 2020). The high diversity of food consumption is related to the low incidence of stunting and underweight in toddlers (Modjadji et al., 2020). This study aims to determine the factors associated with the diversity of food consumption and the dominant factors for the diversity of food consumption in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta in 2023. The study used a cross-sectional design with a sample size of 188 children aged 24 -59 months in Tanjung Priok District during June 2023 using a simple random sampling. Food consumption diversity scores were taken using a 1x24 hour food recall based on 9 food groups and categorized into non-diverse (< 5 food groups) and (≥ 5 food groups). The result showed a significant relationship between father's employment status, mother/caregiver's nutritional knowledge, and food security with children's food consumption. Multivariate analysis showed that the father's employment status had the highest OR value. Father's employment status is the dominant factor in the diversity of food consumption for children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta in 2023.
Read More
S-11430
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive