Ditemukan 40411 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Widya Precillia Sakul; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Rahmawati, Prawito
Abstrak:
Read More
Pemerintah menegaskan seluruh kementerian, lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (Pemda) telah memiliki komitmen dalam melaksanakan proses reformasi birokrasi, bertujuan menerapkan konsep pemerintahan yang bersih (clean government) dan tata pemerintahan yang baik (good governance), secara umum sebagai hal penting dalam memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Untuk mengukur keberhasilan reformasi birokrasi dalam menilai capaian pelayanan berkualitas, maka dilakukan pengukuran melalui pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik (PEKPPP) yang hasil nilainya disebut Indeks Pelayanan Publik (IPP) sebagai tolak ukur dalam perbaikan secara berkelanjutan (PermenPAN-RB Nomor 29 Tahun 2022). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dari masukan (Input), pemenuhan harapan masyarakat, proses dan hasil penerapan pelaksanaan Standar Pelayanan Publik di RSUD KiSA Kota Depok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk mengukur penyelenggaraan layanan yang dilakukan oleh petugas/sdm pemberi layanan publik dan kepada pengguna layanan (masyarakat). Metode penelitian dilakukan menggunakan survei dan observasional, metode ini dipakai karena merupakan tipe penelitian yang menggunakan analisis terhadap data dukung dan mendapatkan pendapat dari pengguna layanan kesehatan dengan mengukurnya secara likert scale (skala likert) dilanjutkan dengan menggunakan penilaian menggunakan PEKPPP sesuai Kepmen PANRB No. 1 Tahun 2022. Pengumpulan sampel pada petugas pelayanan publik dilakukan dengan metode expert sampling (sampel atas dasar keahlian) dan pengguna layanan menggunakan metode quota sampling (sampel kuota). Pelaksanaan pelayanan publik di RSUD KiSA Kota Depok telah lebih baik dari tahun ke tahun, sejalan dengan pendapat penerima layanan terhadap sikap responsif dan loyal dari pemberi/penyelenggara layanan, telah memberikan dukungan hasil terhadap rumah sakit dengan kategori indek pelayanan publik Sangat Baik (A-). Dukungan lainnya yaitu pemberian penghargaan bagi pelaksana layanan yang berprestasi, namun perlu peningkatan terhadap Sarpras dan Standar Pelayanan yang transparan untuk meningkatkan kategori menjadi pelayanan prima. Penggunaan instrumen ini membantu dalam monitoring dan evaluasi terhadap sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, untuk reformasi birokrasi, dan sistem pengendalian intern pemerintah khususnya pada layanan publik. Namun pelaksanaannya ini akan mendapatkan hasil maksimal jika menggunakan tipe instrumen dengan Kode A yaitu penilaian layanan secara luring, untuk melihat secara nyata bukti fisik di lapangan.
The government emphasized that all ministries, institutions (K/L) and regional governments (Pemda) have committed to implementing the bureaucratic reform process, aiming to implement the concept of clean government and good governance, in general as important things in providing the best service to the community. To measure the success of bureaucratic reform in assessing the achievement of quality services, measurements are carried out through the implementation of Monitoring and Evaluation of Public Service Delivery Performance (PEKPPP) whose results are called the Public Service Index (IPP) as a benchmark for continuous improvement (PermenPAN-RB Number 29 of 2022). This study aims to determine the description of input, fulfillment of community expectations, the process and results of implementing Public Service Standards at the KiSA Hospital in Depok City. This study uses a descriptive quantitative approach to measure the provision of services carried out by officers/human resources providing public services and to service users (the community). The research method used survey and observational, this method is used because it is a type of research that uses analysis of supporting data and obtains opinions from health service users by measuring it using a Likert scale (Likert scale) followed by using an assessment using PEKPPP according to the Decree of the Minister of PANRB No. 1 of 2022. Sample collection on public service officers is carried out using the expert sampling method (samples based on expertise) and service users using the quota sampling method (quota samples). The implementation of public services at the KiSA Hospital in Depok City has improved from year to year, in line with the opinions of service recipients regarding the responsive and loyal attitude of service providers/organizers, has provided support for the results of the hospital with a Very Good public service index category (A-). Other support is the provision of awards for service implementers who excel, but it is necessary to improve transparent Sarpras and Service Standards to increase the category to excellent service. The use of this instrument helps in monitoring and evaluating the performance accountability system of government agencies, for bureaucratic reform, and the government's internal control system, especially in public services. However, the implementation will get maximum results if using the type of instrument with Code A, namely offline service assessment, to see real physical evidence in the field.
T-7456
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tia Maysa; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Sandi Iljanto, Pratiwi
S-6354
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azizah Noormala Dewi; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Ganda Raja Partogi, Ernawati
Abstrak:
Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 menyatakan bahwa setiap anak berhakmemperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah terjadinyapenyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi. Pemerintah juga wajib memberikanimunisasi dasar lengkap kepada setiap bayi dan anak. Pada tahun 2017, Kota Depokberstatus KLB difteri dengan 12 kasus suspect difteri dan 1 orang meninggal. Kota Depokmerupakan wilayah yang berpotensi transmisi penyakit menular tinggi karena padatpenduduk dan mobilitas tinggi. Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) merupakan salah satuprogram dari kebijakan imunisasi yang lama dilaksanakan namun belum menemuikeberhasilan yang diharapkan. Analisis implementasi ditujukan untuk melihat bagaimanapengimplementasian program imunisasi dasar lengkap di Puskesmas. Penelitian iniadalah penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan telaah dokumenterkait, sesuai dengan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn berdasarkan6 (enam) variabel. Hasil penelitian didapatkan bahwa standar dan sasaran kebijakanbelum tercapai sepenuhnya. Sumber daya terkendala berdasarkan indikator insentif yangbelum dirasakan secara optimal dalam menunjang optimalnya penyelenggaraan IDL diPuskesmas. Komunikasi antar organisasi pelaksana baik. Karakteristik pelaksanaterkendala dengan keterbatasan SDM. Sikap pelaksana mendukung. Kondisi ekonomidan politik baik, namun kondisi sosial belum mendukung. Kesimpulan didapatkan bahwaimplementasi IDL di Kota Depok masih memiliki kendala di setiap variabelnya dan perludilakukan proses pemenuhan variabel yang kurang. Rekomendasi penelitian ini yaitukeberhasilan implementasi akan dicapai bila dilakukan perbaikan dari kekurangan, baik darisisi standar dan sasaran, sumber daya, komunikasi antar organisasi pelaksana, karakteristikpelaksana, sikap pelaksana, dan kondisi sosial, ekonomi, politik. Hambatan program yangada bisa diatasi dengan mengoptimalkan wewenang Puskesmas sebagai pembina wilayah.
Health Law Number 36 of 2009 states that every child deserved in basic immunizationaccording the provisions to prevent the occurrence of diseases that can be avoided throughimmunization. The government is also required to provide a complete basic immunizationto every baby and child. In 2017, Depok became outbreak with 12 cases suspectdiphtheria and 1 person died. The city of Depok is an area with high transmission potentialfor communicable diseases due to high population and high mobility. Complete BasicImmunization (IDL) is one of the old immunization policy implemented but has not metthe expected success. Complete Basic Immunization Program is one of the oldimmunization policy programs implemented but has not met the expected success. Theimplementation analysis is intended to see how the implementation of the complete basicimmunization program at the Puskesmas. This research is a qualitative research with in-depth interview technique and related document study which using the policyimplementation theory of Van Meter and Van Horn based on 6 (six) variables. The resultsobtained that the standard and objective have not been fully achieved. Resources areconstrained by incentive indicators that have not been felt optimally in supporting theoptimal implementation of complete basic immunization in Puskesmas. Inter-organizational communication is good. Characteristic of implementing agencies areconstrained by human resource constraints. Disposition of implementors supported, butstill found some implementers who are not orderly. Economic and political conditions aregood, but social condition are not yet supportive. Conclusion found that implementationof complete basic immunization in Depok still has constraints in each variable and needto be done process of fulfillment of less variable. The recommendation of this research isthe success of implementation will be achieved if the improvement of deficiency, bothfrom the side of standard and objective, policy resources, interorganizationalcommunication, characteristic of implementing agencies, disposition of implementors,and social, economy, political condition. Barriers to existing programs can be overcomeby optimizing the Puskesmas's authority as a regional coach.
Read More
Health Law Number 36 of 2009 states that every child deserved in basic immunizationaccording the provisions to prevent the occurrence of diseases that can be avoided throughimmunization. The government is also required to provide a complete basic immunizationto every baby and child. In 2017, Depok became outbreak with 12 cases suspectdiphtheria and 1 person died. The city of Depok is an area with high transmission potentialfor communicable diseases due to high population and high mobility. Complete BasicImmunization (IDL) is one of the old immunization policy implemented but has not metthe expected success. Complete Basic Immunization Program is one of the oldimmunization policy programs implemented but has not met the expected success. Theimplementation analysis is intended to see how the implementation of the complete basicimmunization program at the Puskesmas. This research is a qualitative research with in-depth interview technique and related document study which using the policyimplementation theory of Van Meter and Van Horn based on 6 (six) variables. The resultsobtained that the standard and objective have not been fully achieved. Resources areconstrained by incentive indicators that have not been felt optimally in supporting theoptimal implementation of complete basic immunization in Puskesmas. Inter-organizational communication is good. Characteristic of implementing agencies areconstrained by human resource constraints. Disposition of implementors supported, butstill found some implementers who are not orderly. Economic and political conditions aregood, but social condition are not yet supportive. Conclusion found that implementationof complete basic immunization in Depok still has constraints in each variable and needto be done process of fulfillment of less variable. The recommendation of this research isthe success of implementation will be achieved if the improvement of deficiency, bothfrom the side of standard and objective, policy resources, interorganizationalcommunication, characteristic of implementing agencies, disposition of implementors,and social, economy, political condition. Barriers to existing programs can be overcomeby optimizing the Puskesmas's authority as a regional coach.
T-5252
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elly Irawati; Pembimbing: Sandi Iljanto, Anhari Achadi; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Elis Rohmawati, Punto Dewo
Abstrak:
Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan mengenai mutu dan jenis pelayanan dasaryang merupakan urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh warga negara secaraminimal. Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2017capaian SPM pelayanan kesehatan ibu hamil sebesar 72,3 , pelayanan kesehatan ibubersalin sebesar 73,8 dan pelayanan kesehatan bayi baru lahir sebesar 64,82 masih di bawah target 100 . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorpenentu implementasi Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anakserta hambatan dan upaya yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifdengan desan Rapid Assesment Procedure RAP melalui pengumpulan data primer dandata sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi SPM BidangKesehatan Pelayanan KIA di Kabupaten Tanah Bumbu berdasarkan 4 faktor yangberpengaruh terhadap implementasi yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi danstruktur birokrasi belum berjalan optimal. Faktor penentu yang mempengaruhiimplementasi SPM Bidang Kesehatan Pelayanan KIA di Kabupaten Tanah Bumbuadalah pada aspek sumber daya manusia namun saling dipengaruhi oleh aspek yang lainnya. Masukan bagi Pemerintah Daerah agar membuat kebijakan daerah terkait SPMBidang Kesehatan Pelayanan KIA agar implementasi yang dilakukan dapat berjalansecara maksimal dan menyeluruh.
Minimum Service Standards MSS are provisions concerning the quality and type ofbasic services that are mandatory government affairs that are eligible for citizens to beeligible. Based on the profile of the District Health Office of Tanah Bumbu Regency in2017, the achievement of MSS in pregnant women 39 s health service is 72.3 , maternalhealth service 73,8 and newborn health service 64,82 is still under 100 target.This study aims to analyze the determinants of the implementation of Minimum ServiceStandards of Maternal and Child Health MCH Services and the obstacles and effortsare undertaken. This research is a qualitative research with Rapid Assessment Procedure RAP descriptions through primary data collection and secondary data. The result ofthe research shows that the implementation of MSS in the field of health service ofMCH in Tanah Bumbu Regency based on 4 factors affecting the implementation ofcommunication, resources, disposition and bureaucratic structure has not run optimally.The determinant factors affecting the implementation of MSS in Health Service ofMCH Service in Tanah Bumbu Regency is in human resource aspect but influenced byother aspect. Input for Local Government to make regional policy related MSS FieldHealth Service MCH for implementation can be run maximally and thorough.
Read More
Minimum Service Standards MSS are provisions concerning the quality and type ofbasic services that are mandatory government affairs that are eligible for citizens to beeligible. Based on the profile of the District Health Office of Tanah Bumbu Regency in2017, the achievement of MSS in pregnant women 39 s health service is 72.3 , maternalhealth service 73,8 and newborn health service 64,82 is still under 100 target.This study aims to analyze the determinants of the implementation of Minimum ServiceStandards of Maternal and Child Health MCH Services and the obstacles and effortsare undertaken. This research is a qualitative research with Rapid Assessment Procedure RAP descriptions through primary data collection and secondary data. The result ofthe research shows that the implementation of MSS in the field of health service ofMCH in Tanah Bumbu Regency based on 4 factors affecting the implementation ofcommunication, resources, disposition and bureaucratic structure has not run optimally.The determinant factors affecting the implementation of MSS in Health Service ofMCH Service in Tanah Bumbu Regency is in human resource aspect but influenced byother aspect. Input for Local Government to make regional policy related MSS FieldHealth Service MCH for implementation can be run maximally and thorough.
T-5275
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nuril Rahmatika; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Rien Pramindari, Weni Muniarti
Abstrak:
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan remaja. Dari data tingkat pemenuhan SN-PKPR bulan Mei-Juni 2020, terdapat 34 Puskesmas yang melakukan evaluasi diri. Terdapat 5 Puskesmas yang telah mencapai tingkat pemenuhan SN-PKPR paripurna Tujuan penelitian ini ialah untuk melakukan analisis implementasi PKPR di Puskesmas Kota Depok dengan studi kasus pada Puskesmas Cinere (Tingkat pemenuhan SN-PKPR optimal) dan Puskesmas Cisalak Pasar (Tingkat pemenuhan SN-PKPR minimal). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Triangulasi yang dilakukan ialah trangulasi sumber, metode, dan data. Penyelenggaraan PKPR di Puskesmas Cinere didukung tim PKPR dimana Penanggung Jawab programnya telah mendapatkan pelatihan, jumlah Kader Kesehatan Remaja yang mencukupi, terdapatnya ruang untuk konsultasi, adanya pedoman, dan dana. Dari data kunjungan kasus Puskesmas Cisalak Pasar, kunjungan remaja cenderung menurun sejak tahun 2019. Terdapat penurunan pemanfaatan PKPR yang jelas terlihat pada bulan April 2020 (7 remaja) dibandingkan Maret 2020 (32 remaja). Permasalahan yang ditemukan terkait dengan belum rutinnya pelatihan PKPR, kurangnya koordinasi dengan remaja, tidak ada ruang untuk konsultasi dan penyimpanan rekam medik remaja, tidak ada penggunaan dana untuk PKPR, kegiatan PKPR sudah tidak rutin sejak 2019, kurang lengkapnya pengisian format pencatatan dan pelaporan, target PKPR belum ditentukan, dan kurangnya dukungan lintas sektor. Penurunan pemanfaatan PKPR dapat terkait dengan permasalahan pada masing-masing Puskesmas. Penanggung Jawab program PKPR berserta tim PKPR perlu mengambil langkah yang tepat untuk memperbaikinya. Diperlukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga terkait untuk menyusun kebijakan perbaikan penyelenggaraan PKPR
Read More
T-6026
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanifa Nawawi; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Mieke Savitri, Surya Ede Darmawan, Djajadilaga
T-3133
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Robiatul Adawiyah; Pembimbing: Sutiawan, R; Penguji: Popy Yuniar, Hirty Lianda
Abstrak:
Read More
Keberlangsungan klaim JKN di RSUD Khidmat Sehat Afiat Kota Depok sekurang kurangnya harus didukung oleh SIMRS yang dapat diintegrasikan dengan E-Klaim INA-CBG’s dan V-Claim. Maka pada tahun 2019 SIMRS dilakukan integrasi dengan kedua sistem informasi tersebut guna meningkatkan keberhasilan klaim JKN. Namun sejak SIMRS dilakukan integrasi hingga saat ini belum pernah dilakukan analisis. Padahal, E-Klaim INA-CBG’s dan V-Claim terus mengalami perubahan yang menjadikan banyaknya fitur yang belum tersedia pada SIMRS yang berujung membuat proses pengajuan klaim JKN menjadi terhambat. Desain penelitian ini menggunakan teori Delone dan McLean (2003) dengan jenis penelitian kuantitatif pendekatan cross sectional dan pengambilan sampel menggunakan proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggnakan metode survei dengan membagikan kuesioner kepada 110 responden. Hasil penelitian ini didapatkan kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan serta net benefit berhubungan positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna.
The continuity of JKN claims at Khidmat Sehat Afiat Hospital, Depok City must at least be supported by SIMRS which can be integrated with INA-CBG's E-Claim and V-Claim. So in 2019 SIMRS was integrated with these two information systems to increase the success of JKN claims. However, since SIMRS was integrated until now no analysis has been carried out. In fact, INA-CBG's E-Claim and V-Claim continue to undergo changes which means that many features are not yet available on SIMRS which results in the JKN claim submission process being hampered. This research design uses the theory of Delone and McLean (2003) with a quantitative research type of cross sectional approach and sampling using proportional stratified random sampling. Data was collected using a survey method by distributing questionnaires to 110 respondents. The results of this research show that system quality, information quality, service quality and net benefits are positively and significantly related to user satisfaction.
S-11494
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Ahsan Taqwim; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Adik Wibowo, Mario B.P. Tambunan, I Gusti Ayu Putu Desy Rohana
Abstrak:
Latar Belakang: Pemberian pelayanan kesehatan dan non kesehatan dituntut untuk melakukan sebaik mungkin dalam prosesnya. Proses peningkatan kesehatan dapat dilakukan dengan melakukan penguatan terhadap pelayanan kesehatan, yaitu Rumah Sakit. Tujuan: Tujuan dari penelitian melakukan analisis implementasi indikator SPM IGD pada KMK No. 129 tahun 2008 di IGD Rumah Sakit Sehat Depok. Metode Penelitian: Desain pada penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan Jenis Penelitian Rapid Assesment Procedure. Hasil: Pada komponen input, pengambilan kebijakan melalui proses multi pimpinan, SDM masih belum pernah diadakan pelatihan kegawatdaruratan yang tersertifikasi, SOP keperawatan dan medis di IGD berjumlah 116. Sarana dan prasarana IGD masih belum sesuai dengan Permenkes RI No.47 tahun 2018. Pada komponen proses terdiri dari perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Pada komponen output terdapat indikator yang belum sesuai dengan SPM, pada indikator pemberi pelayanan gawat darurat yang bersertifikat yang masih berlaku
Read More
T-6182
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dia Anggraini; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Puput Oktamianti, Imam Syahbandi, Yana Supiana
Abstrak:
Puskesmas pada era JKN ini memegang peranan penting sebagai FasilitasKesehatan Tingkat Pertama penapis rujukan. Sebagai pintu gerbang pelayanankesehatan dasar, puskesmas memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikankasus-kasus medis non spesialistik secara tuntas. Penelitian ini bertujuan untukmelihat efektivitas puskesmas yang diwakili oleh nilai rujukan apabiladihubungkan dengan ketersediaan sumber daya puskesmas dan kepemimpinanmanajerial. Metode penelitian adalah metode potong lintang dengan pendekatankuantitatif kepada 25 puskesmas di Kota Tangerang Selatan. Dari hasil penelitiandidapatkan bahwa sumber daya yang dimiliki puskesmas belum memenuhistandar yang telah ditetapkan kecuali untuk obat. Ketersediaan alat/teknologi danbahan penunjang medis berkisar pada level 60-79%. Sedangkan aspekkepemimpinan manajerial yang harus disoroti adalah pengawasan KepalaPuskesmas, pendelegasian tugas dan komunikasi antara pimpinan dan staf. Dari25 puskesmas, terdapat 7 puskesmas dengan kategori efektivitas baik dimana nilairujukan < 15%.Kata kunci : Efektivitas, pelayanan kesehatan, puskesmas
Primary Health Center (Puskesmas) in the era of JKN plays an important role asFirst level Health Facilities filters refferal. As a gatekeeper, Primary Health Centerhave a responsibility to resolve cases of non-specialist medical thoroughly. Thisstudy aims to analyze the effectiveness of the Primary Health Center arerepresented by the refference value when linked with the availability of resourcesand Primary Health Center managerial leadership. This research was crosssectional design with quantitative approach. Sampling was collected by purposivesampling method to 25 puskesmas in South Tangerang. The results showed thatthe resources of Primary Health Center do not meet the standards that have beenset except for the drug. The availability of tools/technology and medical supportmaterial ranges level from 60-79%. While aspects of leadership managerialshould be highlighted is supervision, jobs delegation and communication betweenleaders and staff. From 25 Primary Health Center, there are 7 Primary HealthCenters with good effectiveness category which the reference value < 15%.Key word : Effectiveness, health service, primary health center (Puskesmas).
Read More
Primary Health Center (Puskesmas) in the era of JKN plays an important role asFirst level Health Facilities filters refferal. As a gatekeeper, Primary Health Centerhave a responsibility to resolve cases of non-specialist medical thoroughly. Thisstudy aims to analyze the effectiveness of the Primary Health Center arerepresented by the refference value when linked with the availability of resourcesand Primary Health Center managerial leadership. This research was crosssectional design with quantitative approach. Sampling was collected by purposivesampling method to 25 puskesmas in South Tangerang. The results showed thatthe resources of Primary Health Center do not meet the standards that have beenset except for the drug. The availability of tools/technology and medical supportmaterial ranges level from 60-79%. While aspects of leadership managerialshould be highlighted is supervision, jobs delegation and communication betweenleaders and staff. From 25 Primary Health Center, there are 7 Primary HealthCenters with good effectiveness category which the reference value < 15%.Key word : Effectiveness, health service, primary health center (Puskesmas).
T-4573
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Akhmad Ghozali; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Kurnia Sari, Pujiyanto, Muhammad Indra Tarigan, Desman
Abstrak:
Read More
Dinas Kesehatan Kota Binjai bertanggung jawab menyediakan pelayanan dasar pada kelompok berisiko terinfeksi HIV. Total anggaran pada Dinas Kesehatan meningkat dari tahun 2019-2022, namun Kinerja pelayanan dasar HIV mengalami penurunan dari tahun 2019-2021 sebesar 11,8%, 7,07%, 5,2% dari target 100%. Penelitian bertujuan menghitung kesesuaian anggaran berbasis kinerja dengan anggaran yang tersedia serta faktor struktur dan proses yang mempengaruhi penyusunan anggaran berbasis kinerja, sehingga memberikan gambaran masalah dan penyebab kesenjangan anggaran dan kinerja pada pelayanan dasar HIV di Dinas Kesehatan Kota Binjai Tahun 2022. Metode penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain Rapid Assessment Prosedur (RAP), menggunakan instrumen wawancara mendalam kepada 14 (empat belas) informan dan telaah dokumen untuk melihat secara cepat dan memberikan masukan perbaikan bagi pelaksanaan anggaran berbasis kinerja pada pelayanan dasar kelompok berisiko terinfeksi HIV di Dinas Kesehatan Kota Binjai Tahun 2022. Hasil penghitungan anggaran berdasarkan target kinerja Tahun 2022 sebesar Rp. 648.295.342 dengan alokasi anggaran sebesar Rp.188.202.607. Sementara kesenjangan tersebut dipengaruhi oleh faktor struktur meliputi pemahaman dan kompetensi SDM, dukungan kebijakan, kurang tersedia data dan informasi akurat menggunakan sistem informasi kesehatan. Pada komponen proses kurangnya partisipasi masyarakat, skala prioritas dalam perencanaan dan penganggaran, komunikasi dan koordinasi, sinkronisasi dan fragmentasi penyusunan anggaran, penyerapan anggaran yang belum optimal, efektivitas monitoring dan evaluasi belum dijadikan dasar perbaikan kebijakan anggaran tahun depan. Komitmen daerah masih lemah untuk program pelayanan dasar HIV. Penelitian ini menyimpulkan terdapat ketidaksesuaian anggaran untuk mencapai kinerja yang ditetapkan dengan alokasi anggaran yang tersedia pada pelayanan dasar kelompok berisiko terinfeksi HIV di Dinas Kesehatan Kota Binjai pada Tahun 2022. Diperlukan peningkatan kapasitas dan keterlibatan seluruh komponen organisasi dalam menyusun anggaran berbasis kinerja, menyediakan data dan informasi terintegrasi, mengggunakan sistem informasi seperti Siskobikes dalam proses anggaran, meningkatkan komitmen dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat dan daerah sehingga alokasi anggaran dapat memenuhi kebutuhan untuk mencapai kinerja pelayanan dasar bagi kelompok berisiko terinfeksi HIV.
The Public Health Office of Binjai Municipality is responsible for providing basic services to groups at risk of HIV infection. The total budget at the Health Service has increased from 2019-2022, but the performance of basic HIV services has decreased from 2019-2021 by 11.8%, 7.07%, 5.2% of the 100% target. The research aims to calculate the suitability of performance-based budgeting with the available budget as well as the structural and process factors that influence the preparation of performance-based budgeting, so as to provide an overview of the problems and causes of budgetary and performance gaps in HIV basic services at the Binjai City Health Office in 2022. The research method was carried out using an approach Descriptive qualitative using the Rapid Assessment Procedure (RAP) design, using in-depth interviews with 14 (fourteen) informants and document review to see quickly and provide input for improvements to the implementation of performance-based budgeting in basic services for groups at risk of HIV infection at the Binjai City Health Office 2022. The budget calculation results are based on the 2022 performance target of Rp. 648,295,342 with a budget allocation of Rp.188,202,607. Meanwhile, this gap is influenced by structural factors including understanding and competence of human resources, policy support, lack of availability of accurate data and information using health information systems. In the process component, lack of public participation, priority scale in planning and budgeting, communication and coordination, budget synchronization and fragmentation, budget absorption that is not optimal, monitoring and evaluation effectiveness has not been used as a basis for improving next year's budget policy. Regional commitment is still weak for basic HIV service programs. This study concludes that there is a budget mismatch to achieve the performance set with the budget allocation available for basic services for groups at risk of HIV infection at the Binjai Municipality Public Health Office in 2022. Capacity building and involvement of all organizational components is needed in preparing performance-based budgeting, providing data and information integrated, using information systems such as Siskobikes in the budget process, increasing commitment and budgetary support from the central and regional governments so that budget allocations can meet the needs to achieve basic service performance for groups at risk of HIV infection.
T-6744
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
