Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35101 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hashem Sulaiman Hasan Arkok; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono; Kopromotor: Nurhayati Adnan, Dipo Aldila; Penguji: Dian Ayubi, Syahrizal Syarif, Hariadi Wibisono, Soewarta Kosen, Vivi Setiawaty
Abstrak:
Virus Hepatitis B (HBV) tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dan pencapaian target Organisasi Kesehatan Dunia untuk eliminasi pada tahun 2030 membutuhkan penguatan pemahaman epidemiologis, pemodelan prediktif, dan penilaian kesadaran masyarakat. Disertasi ini bertujuan untuk memberikan evaluasi terpadu terhadap kemajuan Indonesia menuju eliminasi hepatitis B melalui tiga komponen penelitian komplementer: (1) analisis tren temporal dan spasial infeksi HBV, skrining, dan cakupan vaksinasi bayi baru lahir; (2) pengembangan dan penerapan model transmisi SIVRM (Susceptible–Infected–Vaccinated–Recovered–Mortality) yang diperluas; dan (3) penilaian pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) di antara pasien hepatitis B. Tren temporal dan distribusi spasial infeksi HBV, skrining, dan cakupan vaksinasi bayi baru lahir diperiksa menggunakan kumpulan data nasional, dengan analisis temporal dilakukan di SPSS-27 dan pengelompokan spasial dianalisis di ArcGIS Pro menggunakan statistik Global Moran's I dan LISA. Temuan mengungkapkan pola HBV yang berfluktuasi dari waktu ke waktu dan kesenjangan geografis yang signifikan, dengan klaster provinsi berisiko tinggi memerlukan intervensi yang ditargetkan. Model SIVRM yang diperluas yang terdiri dari 14 kompartemen dibangun untuk membedakan transmisi vertikal dan horizontal, menggabungkan dinamika vaksinasi, kehilangan kekebalan, dan reaktivasi HBV di antara individu yang pulih. Parameter dipasang menggunakan data BPJS Kesehatan (2019–2023), dan derivasi analitik menghasilkan angka reproduksi dasar (R0) sebesar 4,39, yang menunjukkan penularan berkelanjutan yang berkelanjutan. Proyeksi simulasi menggunakan MATLAB 2018 menunjukkan bahwa strategi pengendalian saat ini tidak cukup untuk mencapai eliminasi pada tahun 2030; namun, analisis skenario menunjukkan bahwa meningkatkan cakupan vaksinasi orang dewasa hingga setidaknya 59%, di samping vaksinasi bayi baru lahir sebesar 70%, dapat mengurangi R0 menjadi 0,90 dan secara substansial mengurangi beban penyakit. Survei KAP cross-sectional terhadap 128 pasien hepatitis B di Jakarta menemukan kesadaran keseluruhan yang moderat, dengan skor KAP rata-rata 51,31 (65,0% dari total skor). Pengetahuan, sikap, dan domain praktik juga menunjukkan kinerja moderat, menyoroti kesenjangan dalam pemahaman pasien. Kesalahpahaman substansial tetap ada mengenai gejala (10,9%), rute penularan (10,2%), dan komplikasi (18,8%). Terlepas dari sikap positif yang umum, praktik berisiko tetap ada, dengan 46,1% melaporkan berbagi barang-barang pribadi yang dapat memfasilitasi penularan. Tingkat pendidikan muncul sebagai penentu utama kesadaran, dengan pasien yang memiliki pendidikan tinggi menunjukkan pengetahuan yang jauh lebih baik dan skor KAP secara keseluruhan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Korelasi positif yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan praktik menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran dapat meningkatkan perilaku pencegahan. Secara kolektif, temuan ini menyoroti kesenjangan epidemiologis yang terus-menerus, strategi imunisasi yang tidak memadai, dan faktor risiko perilaku yang sedang berlangsung. Penguatan surveilans, perluasan program vaksinasi orang dewasa, kebijakan intervensi regional yang adil, dan inisiatif pendidikan yang ditargetkan sangat penting untuk memajukan upaya eliminasi hepatitis B di Indonesia.

Hepatitis B virus (HBV) remains a major public health concern in Indonesia, and achieving the World Health Organization’s target of elimination by 2030 requires strengthened epidemiological understanding, predictive modeling, and assessment of community awareness. This dissertation aimed to provide an integrated evaluation of Indonesia’s progress toward hepatitis B elimination through three complementary research components: (1) temporal and spatial trend analysis of HBV infection, screening, and newborn vaccination coverage; (2) development and application of an extended SIVRM (Susceptible–Infected–Vaccinated–Recovered–Mortality) transmission model; and (3) assessment of knowledge, attitudes, and practices (KAP) among hepatitis B patients. Temporal trends and spatial distribution of HBV infection, screening, and newborn vaccination coverage were examined using national datasets, with temporal analysis conducted in SPSS-27 and spatial clustering analyzed in ArcGIS Pro using Global Moran’s I and LISA statistics. Findings revealed fluctuating HBV patterns over time and significant geographic disparities, with high-risk provincial clusters requiring targeted intervention. An extended SIVRM model comprising 14 compartments was constructed to distinguish vertical and horizontal transmission, incorporate vaccination dynamics, loss of immunity, and HBV reactivation among recovered individuals. Parameters were fitted using BPJS Kesehatan data (2019–2023), and analytical derivations produced a baseline reproduction number (R0) of 4.39, indicating ongoing sustained transmission. Simulation projections using MATLAB 2018 showed that current control strategies are insufficient to achieve elimination by 2030; however, scenario analysis demonstrated that increasing adult vaccination coverage to at least 59%, alongside newborn vaccination at 70%, could reduce R0 to 0.90 and substantially reduce disease burden. A cross-sectional KAP survey of 128 hepatitis B patients in Jakarta found moderate overall awareness, with a mean KAP score of 51.31 (65.0% of the total score). Knowledge, attitude, and practice domains also showed moderate performance, highlighting gaps in patient understanding. Substantial misconceptions persisted regarding symptoms (10.9%), transmission routes (10.2%), and complications (18.8%). Despite generally positive attitudes, risky practices persisted, with 46.1% reporting sharing personal items that may facilitate transmission. Educational level emerged as a major determinant of awareness, with patients holding higher education showing markedly better knowledge and overall KAP scores compared with those with lower education. Significant positive correlations among knowledge, attitudes, and practices indicated that improved awareness may enhance preventive behaviors. Collectively, these findings highlight persistent epidemiological disparities, inadequate immunization strategies, and ongoing behavioral risk factors. Strengthened surveillance, expanded adult vaccination programs, equitable regional intervention policies, and targeted educational initiatives are essential to advance hepatitis B elimination efforts in Indonesia.
Read More
D-605
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dadi Supriadi; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Krisnawati Bantas, Julitasari Soendoro, Sudarti kresno, Ubbay Ujziana
Abstrak:
Giving the earliest possible hepatitis B immunization to babies had become a first priority for the hepatitis B immunization programmed. This measure would give immediate protection to babies against infection caused by hepatitis B virus; it could also prevent babies from the development of some infection already occurring (through prenatal transmission) into a chronic hepatitis. It was still very hard to carry out the earliest possible hepatitis B programmed at Tasikmalaya Regency. Results of an evaluation of immunization programmed by the local Health Service in the year 2001 showed that 88.32% of the first hepatitis B immunized babies, only 0.99% had the immunization at the ages of 0 - 7 days. In an effort to increase the number of hepatitis B immunized babies, the role of health officials became very important in encouraging mothers to have their newly-born babies immunized. Close contact with mother and their babies with health officials, either at home or at health centers, were useful in improving the health of the mothers as well as their babies. The aim of the study was to see the correlation between visits to newly-born babies and the earliest possible immunization status of hepatitis B immunized babies at Tasikmalaya Regency in the year 2001, including other factors which influenced the status. The design of the study is a case control without matching, with the number of cases (non-early hepatitis B immunized babies) are 162 persons, and the numbers of controls (early hepatitis B immunized babies) are 162 persons, so that the number of the whole samples was 162 persons. Data processing was carried out through unvariate, bivariate and unconditional logistic multiple regression, with the software Stata version 6.0. Results of the study showed that mothers who had not had the opportunity of newly-born visits underwent a risk of 3.45 times of the status of babies with non-earliest possible hepatitis 13 immunization compared to mothers visited during the earliest possible child delivery (95% Cl: 1.95 - 6.10). Variables such as, pregnancy test, and place of deliveries, delivery assistants, knowledge of mother on hepatitis B immunization and mother's attitude about hepatitis B immunization controlled the results o f the study.
Read More
T-1328
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratono; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Agus Handito
Abstrak: Pendahuluan: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Secara global, pada tahun 2015, diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi HBV kronis (WHO, 2015). Dan selanjutnya menyebabkan (720.000 kematian karena sirosis) dan kanker hati primer (470.000 kematian karena karsinoma hepatoseluler) ( WHO, 2015). Prevalensi Hepatitis B wilayah Asia Tenggara adalah 2,0%. Untuk prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil di Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 2,7% (Berita Subdit HISP 2017). Hal ini didapatkan dari kegiatan program deteksi dini Hepatitis B yang dilakukan sejak tahun 2016 yang baru dilaksanakan di beberapa propinsi (Berita Subdit HISP, 2017). Metode: Penelitian ini adalah analitik observasional yang menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel untuk penelitian ini sebanyak 12.475 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas-puskesmas di wilayah Jakarta Utara. Data diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan dianalisis menggunakan Uji Regresi Logistik. Hasil: Prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil pada penelitian ini sebesar 2,3%, Risiko ibu hamil yang serumah dengan penderita Hepatitis B 6,46 kali (95% CI 3,68-11,35) untuk terinfeksi Hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak pernah serumah dengan penderita Hepatitis B setelah dikontrol dengan status pekerjaan, umur kehamilan, riwayat transfusi, riwayat penasun. Kesimpulan: Serumah dengan penderita Hepatitis B merupakan faktor risiko terhadap penularan Hepatitis pada Ibu Hamil. Sehingga kegiatan Deteksi Dini Hepatitis Ibu Hamil tetap dilanjutkan dengan diintegrasikan dengan program vaksinasi Hepatitis B pada ibu hamil hepatitis B negatif dan program pengobatan Hepatitis B bagi yang sudah terinfeksi.
Read More
T-5643
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sonia Annisa Br Ketaren; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Bai Kusnadi
Abstrak:
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, termasuk pada ibu hamil yang berisiko mengalami transmisi vertikal kepada bayinya. Di Kota Bogor, ditemukan 155 ibu hamil dengan HBsAg reaktif dari 18.713 ibu hamil yang diperiksa pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang memengaruhi kejadian hepatitis B pada ibu hamil di Puskesmas Kota Bogor tahun 2026. Desain penelitian adalah studi kasus-kontrol tidak berpasangan yang dilaksanakan di 25 Puskesmas Kota Bogor pada periode Januari–Mei 2026. Sampel terdiri dari 112 kasus (ibu hamil HBsAg reaktif) dan 112 kontrol (ibu hamil HBsAg nonreaktif) yang dipilih menggunakan total sampling dengan rasio 1:1. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda dengan metode forward selection, disertai koreksi bias menggunakan Firth's penalized likelihood logistic regression untuk mengatasi complete separation. Hasil analisis bivariat menunjukkan empat variabel yang berhubungan bermakna: usia ≥30 tahun (COR=2,48; 95%CI: 1,45–4,25), riwayat paparan darah (COR=5,34; 95%CI: 2,10–13,56), riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (COR=17,47; 95%CI: 4,04–75,52), dan paritas lebih dari satu kali (COR=1,92; 95%CI: 1,12–3,28). Hasil analisis multivariat dengan metode Firth mengidentifikasi tiga faktor risiko dominan, yaitu riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (AOR=20,98; 95%CI: 4,97–88,48; p<0,001), riwayat paparan darah (AOR=3,90; 95%CI: 1,43–10,61; p=0,008), dan usia ≥30 tahun (AOR=2,50; 95%CI: 1,36–4,59; p=0,003), serta status bekerja sebagai faktor protektif (AOR=0,25; 95%CI: 0,09–0,67; p=0,006). Penelitian ini merekomendasikan penguatan skrining berbasis keluarga, edukasi pencegahan penularan dalam rumah tangga, dan perluasan vaksinasi bagi anggota keluarga serumah ibu hamil HBsAg reaktif.

Hepatitis B remains a significant public health problem, particularly among pregnant women at risk of vertical transmission to their infants. In Bogor City, 155 pregnant women tested HBsAg-reactive out of 18,713 screened in 2025. This study aimed to analyze risk factors associated with hepatitis B among pregnant women at community health centers in Bogor City in 2026. An unmatched case-control design was applied across 25 community health centers from January to May 2026. The sample consisted of 112 cases (HBsAg-reactive pregnant women) and 112 controls (HBsAg-non-reactive pregnant women), selected by total sampling at a 1:1 ratio. Data were collected through structured questionnaire interviews. Analysis included univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using multiple logistic regression with forward selection, with bias correction applied using Firth's penalized likelihood logistic regression to address complete separation. Bivariate analysis identified four significantly associated variables: age ≥30 years (COR=2.48; 95%CI: 1.45–4.25), history of blood exposure (COR=5.34; 95%CI: 2.10–13.56), history of living with a hepatitis B patient (COR=17.47; 95%CI: 4.04–75.52), and parity greater than once (COR=1.92; 95%CI: 1.12–3.28). Multivariate analysis using the Firth method identified three dominant risk factors: history of living with a hepatitis B patient (AOR=20.98; 95%CI: 4.97–88.48; p<0.001), history of blood exposure (AOR=3.90; 95%CI: 1.43–10.61; p=0.008), and age ≥30 years (AOR=2.50; 95%CI: 1.36–4.59; p=0.003), with employment status as a protective factor (AOR=0.25; 95%CI: 0.09–0.67; p=0.006). This study recommends strengthening family-based screening, household transmission prevention education, and expanding vaccination for household members of HBsAg-reactive pregnant women.
Read More
T-7600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resita Dyah Purnama Suci; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Agus Handito
Abstrak:
Latar Belakang: Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi akibat penyakit hati kronik, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. Wanita pekerja seks (WPS) merupakan kelompok populasi kunci yang memiliki risiko tinggi terinfeksi hepatitis B karena tingginya paparan perilaku seksual berisiko dan faktor kerentanan lainnya. Tujuan: Menganalisis determinan yang berhubungan dengan infeksi hepatitis B pada wanita pekerja seks di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan analisis data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Populasi penelitian adalah WPS berusia ≥15 tahun yang mengikuti pemeriksaan biologis hepatitis B. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik untuk memperoleh adjusted Prevalence Odds Ratio (aPOR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil: Proporsi infeksi hepatitis B pada WPS sebesar 2,3%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan infeksi hepatitis B adalah sumber pendapatan utama dari menjual seks (aPOR=1,93; 95%CI: 1,21–3,07), tidak pernah mendengar tentang hepatitis (aPOR=3,02; 95%CI: 1,23–7,41), status HIV positif (aPOR=2,31; 95%CI: 1,21–4,39), status sifilis positif (aPOR=2,15; 95%CI: 1,28–3,55), penggunaan kondom yang tidak konsisten (aPOR=1,64; 95%CI: 1,15–2,33), dan tidak tersedianya kondom di tempat kerja (aPOR=1,29; 95%CI: 1,03–1,63). Kesimpulan: Faktor individu, perilaku, dan lingkungan berperan terhadap kejadian infeksi hepatitis B pada WPS di Indonesia. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan edukasi hepatitis B, perluasan akses vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi, penguatan integrasi layanan hepatitis B dengan HIV dan IMS, serta peningkatan ketersediaan dan penggunaan kondom secara konsisten.

Background: Hepatitis B remains a major global public health problem, contributing substantially to morbidity and mortality through chronic liver disease, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. Female sex workers (FSWs) are considered a key population at increased risk of hepatitis B infection due to frequent exposure to risky sexual behaviors and other vulnerability factors. Objective: To analyze determinants associated with hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Methods: This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The study population consisted of FSWs aged ≥15 years who underwent hepatitis B biological testing. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with chi-square tests, and multivariable logistic regression to estimate adjusted Prevalence Odds Ratios (aPORs) and 95% confidence intervals (95% CIs). Results: The prevalence of hepatitis B infection among FSWs was 2.3%. Multivariable analysis showed that hepatitis B infection was significantly associated with earning income primarily through sex work (aPOR=1.93; 95%CI: 1.21–3.07), never having heard about hepatitis (aPOR=3.02; 95%CI: 1.23–7.41), HIV-positive status (aPOR=2.31; 95%CI: 1.21–4.39), positive syphilis status (aPOR=2.15; 95%CI: 1.28–3.55), inconsistent condom use (aPOR=1.64; 95%CI: 1.15–2.33), and lack of condom availability at the workplace (aPOR=1.29; 95%CI: 1.03–1.63). Conclusion: Individual, behavioral, and environmental factors contribute to hepatitis B infection among female sex workers in Indonesia. Prevention efforts should focus on strengthening hepatitis B education, expanding vaccination access for high-risk populations, integrating hepatitis B services with HIV and sexually transmitted infection programs, and improving condom availability and consistent use.
Read More
T-7610
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lintang Dian Saraswati; Ratna Djuwita Hatma, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Suhartono, Praba Ginandjar
Abstrak:

Latar belakang: Tenaga kesehatan berpotensi untuk terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HepatitIs C, dan Virus Hepatitis B yang penularannya lewat darah. Tertusuk jarum suntik dapat membahayakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Tujuan: Diketahuinya riwayat tertusuk jarum suntik yang berhubungan dengan terjadinya kejadian Hepatitis B atau C pada tenaga kesehatan di RS Dr.Kariadi Semarang Tahun 2008. Metode: Desain cross sectional dengan melakukan wawancara dan pengambilan darah pada 225 kelompok terpapar (kelompok riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali) dan 225 kelompok riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali). Analisis data univariat, bivariat dan multivariat dengan interaksi dan confounding. Hasil dan diskusi: Riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali berisiko 48,99 kali untuk mengalami Hepatitis B atau C dibandingkan dengan riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dengan POR sebesar 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 dan terdapat satu variabel confounding yaitu frekuensi menyuntik yang dapat mendistorsi efek riwayat tertusuk jarum suntik dengan kejadian Hepatitis B atau C. Kesimpulan dan saran: Tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik >2 kali dalam 6 bulan memperbesar risiko mengalami kejadian Hepatitis B atau C bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang riwayat tertusuk jarum suntik < 2 kali dalam 6 bulan, setelah dikendalikan oleh Riwayat Medis, Paparan Pekerjaan Modis, Unit kerja, Lama Kerja, Jenis Kelamin, Frekuensi Menyuntik, dan Kewaspadaan Universal di RS Dr. Katiadi Tabun 2008. Di anjurkan supaya tenaga kesehatan di RS Dr. Kariadi tidak sampai tertusuk lebih dari satu kali agar tidak terkena Hepatitis B atau C dengan cara meningkatkan praktek pencegahan infeksi, melakukan general check up dimana pemeriksaan Hepatitis B atau C termasuk didalamnya dan dilakukan setahun sekali, bagi tenaga kesehatan yang tertusuk jarum suntik lebih dan sekali sebaiknya segera memeriksakan diri secepatnya untuk mengetahui lebih dini apakah mengalami Hepatitis B atau C, dan sebaiknya tenaga kesehatan dalam sebulan menyuntik tidak lebih dari 8 kali agar tidak mengalami hepetitis B atau C.


Background: Healthcare workers (HCWs) are potentially at risk for human immunodefiCiency virus (HIV), Hepatitis B virus (HBV) and Hepatitis C virus (HeV) infection through occupational exposures to blood and bloody body fluids. Needle stick injuries put healthcare workers at risk of life-threatening infections such as Hepatitis C and Hepatitis B. Aims: A study was designed to determine the risk of needle stick injuries of Hepatitis B Virus (HBV) or Hepatitis C virus (HCV) infections among health care workers in Dr. Kariadi Hospital 2008. Method: Designed cross sectional by interview and blood examination on 225 exposed group (had needle stick injuries more than once in. 6 month ago) and on 225 unexposed group (had needle stick injuries less than twice in 6 month ago). Analysis of data univariate, bivariate and multivariate with interaction and confounding. Results: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C with POR 48,99 95%CI (9,494-252,85) P value 0,000 and frequencies of suturing is a confounder. Conclusion: Needle stick injuries more than once related to Hepatitis B or C after controlled by medical history, duration of working, exposure on medical occupation, workplace, sex, universal precautions. and frequencies of suturing. Suggested to health care workers in Dr. Kariadi Hospital do not get needle stick injuries more than once in order to prevent Hepatitis B or C by increasing universal precautions, do general check up including Hepatitis B and C, health care workers who had needle stick injuries more than once are supposed to immediately check up for early diagnostic Hepatitis B or C, and suggested to saturing not more than eight times in a month.

Read More
T-2899
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahrani Tri Buwana Putri Kusumawardani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Chita Septiawati
Abstrak:
Infeksi Hantavirus di Indonesia umumnya bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Meskipun bukti reservoir pada rodensia cukup kuat, data epidemiologis pada manusia masih terbatas. Mendeskripsikan karakteristik epidemiologi kasus konfirmasi Hantavirus di Indonesia tahun 2025 berdasarkan aspek orang, tempat, dan waktu. Studi kuantitatif dengan desain case series menggunakan data sekunder hasil penyelidikan epidemiologi Kementerian Kesehatan RI terhadap 14 kasus konfirmasi. Mayoritas kasus ditemukan pada laki-laki (71,43%) dan kelompok usia 19-59 tahun (50%). Jenis pekerjaan terbanyak adalah buruh/sopir/ART (35,71%). Gejala klinis dominan meliputi demam (85,71%) dan ikterik (64,28%), dengan 50% kasus mengalami komplikasi gagal ginjal. Sebagian besar kasus (92,86%) melaporkan keberadaan tikus di lingkungan tempat tinggal. Secara geografis, frekuensi tertinggi ditemukan di Provinsi DIY (42,85%). Berdasarkan waktu, puncak temuan kasus terjadi pada bulan Mei dan Juni. Kasus Hantavirus di Indonesia tahun 2025 ditemukan pada kelompok usia produktif dengan riwayat keberadaan reservoir di lingkungannya serta manifestasi klinis yang mengarah pada gangguan fungsi ginjal.

Hantavirus infection in Indonesia generally manifests as Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). While evidence in rodent reservoirs is substantial, human epidemiological data remains limited. To describe the epidemiological characteristics of confirmed Hantavirus cases in Indonesia in 2025 based on person, place, and time. A quantitative study with a case series design using secondary data from the Indonesian Ministry of Health's epidemiological investigations of 14 confirmed cases. The majority of cases were found in males (71.43%) and the 19-59 age group (50%). The most frequent occupations were laborers/drivers/domestic workers (35.71%). Dominant clinical symptoms included fever (85.71%) and jaundice (64.28%), with 50% of cases experiencing renal failure complications. Most cases (92.86%) reported the presence of rats in their residential environment. Geographically, the highest frequency was in the Special Region of Yogyakarta (42.85%). Temporally, the peak of case findings occurred in May and June. Hantavirus cases in Indonesia in 2025 were identified in the productive age group with a history of reservoir presence in their environment and clinical manifestations leading to renal dysfunction.
Read More
S-12177
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Phenta Chrisna Nugraha; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dita Andriani Daud Suyadi
Abstrak:
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Kusta deteksi baru tertinggi ketiga di dunia. Angka kasus deteksi baru yang tinggi ini turut disumbang oleh Kabupaten Tangerang yang merupakan wilayah di Provinsi Banten yang memiliki angka kasus Kusta deteksi baru tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. Kondisi merupakan hal yang sangat memprihatinkan mengingat risiko dan beban disabilitas yang harus ditanggung oleh penderita Kusta sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kejadian kasus Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus-kontrol dan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari SIPK Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode total sampling (kelompok kasus) dan simple random sampling (kelompok kontrol) dengan sampel yang digunakan berjumlah 507 sampel dan perbandingan rasio antara kelompok kasus dengan kontrol adalah 1:2. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berasosiasi terhadap kejadian Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat asosiasi positif atas beberapa faktor, yaitu durasi diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), status penebalan saraf (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001), dan riwayat reaksi (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam merencanakan, meningkatkan, dan mengevaluasi kebijakan dan program kesehatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian kasus Kusta.

Indonesia is the third highest country in terms of newly detected Leprosy cases in the world. The high number of newly detected cases is notably contributed by Tangerang Regency, a region in Banten Province recording the highest incidence of new leprosy cases compared to other areas. This situation is deeply concerning due to the high risk and disability burden faced by Leprosy patients. This study was conducted to identify determinants of disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. Employing a quantitative approach with a case-control study design, secondary data from the SIPK of Tangerang Regency Health Office were utilized. This study consisted of 507 samples employing total sampling methods for selecting the cases group and simple random sampling methods for selecting the control group. Furthermore, the case-control ratio of 1:2 was used in this research. Logistic regression analysis was conducted to identify factors associated with disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. The results of this study found that a several factors were revealing a positive association, namely duration of diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), nerve thickening status (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001); and reaction history (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). These findings are expected to inform policymakers in planning, enhancing, and evaluating health policies and programs related to disability-associated Leprosy prevention and control.
Read More
S-11721
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvanya Dida Annisaa; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Wayan Pujana
Abstrak:
Latar belakang: Rabies adalah penyakit yang 99% disebabkan oleh gigitan anjing, hampir 100% berakibat fatal, namun dapat dicegah melalui pemberian vaksin rutin pada anjing dan setelah gigitan pada manusia. Provinsi Bali mencatat kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) tertinggi di Indonesia dan masih ditemukan kematian. Maka, perilaku vaksinasi anjing peliharaan dan pencarian pertolongan medis penting untuk mengendalikan rabies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku terkait rabies pada pemilik anjing di Provinsi Bali tahun 2025. Metode: Studi cross-sectional menggunakan data primer melalui pengisian kuesioner di empat desa/kelurahan dengan kasus HPR positif berulang. Data kategorik dianalisis secara univariat menggunakan persentase dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Dari 228 sampel, 83,7% pemilik anjing mempunyai perilaku yang baik, sementara 12,7% lainnya kurang baik. Faktor yang berhubungan dengan perilaku kurang baik terkait rabies adalah pendapatan rendah (PR = 2,22; 95% CI = 1,06–4,67), tidak bekerja (PR = 2,39; 95% CI = 1,22–4,67), daerah tempat tinggal di kota (PR = 0,42; 95% CI = 0,20–0,88), rumah sewa/kontrak/milik orang lain (PR = 2,22; 95% CI = 1,14–4,35), jumlah anjing 1 ekor (PR = 2,72; 95% CI = 1,26–5,88), pengetahuan kurang baik terkait rabies (PR = 2,82; 95% CI = 1,30–6,09), dan sikap kurang baik terkait rabies (PR = 2,79; 95% CI = 1,33–5,87). Kesimpulan: Perilaku pemilik anjing di Provinsi Bali secara umum sudah baik, namun upaya promosi dan edukasi rabies harus dilanjutkan dan ditingkatkan supaya pengetahuan yang baik mampu diterjemahkan menjadi perilaku yang baik.

Background: Rabies is a disease that is 99% caused by dog bites and is almost 100% fatal, but it can be prevented by annual dog vaccination and post-bite treatment in humans. Bali Province has the highest number of cases of rabies-transmitting animal (RTA) bites in Indonesia and human rabies deaths are still occurring. Therefore, pet vaccination and health-seeking behavior in dog owners are important for rabies control. Aim: This study aims to describe and determine the factors associated with rabies-related behaviors among dog owners in Bali Province in 2025. Methods: This is a cross-sectional study using primary data collected through questionnaires in two villages and two subdistricts with repeated positive RTA cases. Categorical data were analyzed using percentages for univariate analysis and chi-square for bivariate analysis. Results: Of the 228 samples, 83.7% of dog owners have good rabies-related behaviors, while 12.7% have poor behaviors. Factors associated with poor rabies-related behaviors were low income (PR = 2.22; 95% CI = 1.06–4.67), unemployed (PR = 2.39; 95% CI = 1.22–4.67), urban area of residence (PR = 0.42; 95% CI = 0.20–0.88), home rented/leased/owned by someone else (PR = 2.22; 95% CI = 1.14–4.35), owning 1 dog (PR = 2.72; 95% CI = 1.26–5.88), poor rabies-related knowledge (PR = 2.82; 95% CI = 1.30–6.09), and poor rabies-related attitudes (PR = 2.79; 95% CI = 1.33–5.87). Conclusion: Rabies-related behaviors of dog owners in Bali Province is generally good, but rabies promotion and education efforts must be continued and improved so that good knowledge can be translated into good behaviors.
Read More
S-12161
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vito Christian; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Inggariwati
Abstrak:
Pada tahun 2025, di Provinsi DKI Jakarta terjadi peningkatan kasus suspek campak pada anak umur 1-4 tahun dibandingkan tahun 2024, serta cakupan imunisasi MR anak umur 0-59 bulan belum mencapai target 95%. Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan sehingga risiko terkena campak dan mengalami komplikasi serius meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain penelitian cross-sectional dan data sekunder dari Form MR02 Campak/Rubella DKI Jakarta tahun 2025 dari Dinkes Provinsi DKI Jakarta. Sampel penelitian ini berjumlah 1.572 anak suspek campak dan dianalisis dari analisis univariat hingga bivariat dengan uji chi-square. Khusus untuk analisis faktor status gizi, jumlah sampel adalah 380 anak yang memiliki data tinggi badan dan berat badan secara lengkap. Didapatkan prevalensi anak umur 12-59 bulan yang positif campak adalah sebesar 43,45%. Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan adalah umur 24-59 bulan (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), status imunisasi campak tidak lengkap (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), dan status gizi buruk/kurang (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Sementara itu, faktor jenis kelamin, riwayat bepergian satu bulan terakhir, serta status gizi lebih/obesitas tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program pencegahandan pengendalian campak, khususnya program peningkatan cakupan imunisasi campak dan mendorong kesadaran orang tua dalam upaya pencegahan campak pada anak.

In 2025, DKI Jakarta Province experienced an increase in suspected measles cases among children aged 1-4 years compared to 2024, and the MR immunization coverage for children aged 0-59 months had not reached the 95% target. Children possess developing immune systems, which increases their risk of contracting measles and experiencing serious complications. This study aimed to determine the factors associated with measles occurrence among children aged 12-59 months in Jakarta in 2025. This study utilized a cross-sectional design and secondary data from the 2025 Jakarta Measles/Rubella MR02 Form, obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office. The total sample consisted of 1.572 children with suspected measles, analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Specifically for the nutritional status factor analysis, the sample size was 380 children who had complete height and weight data. The results showed that the prevalence of laboratory-confirmed positive measles among children aged 12-59 months was 43,45%. Factors significantly associated with measles occurrence in children aged 12-59 months were age 24-59 months (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), incomplete measles immunization status (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), and severely wasted/wasted status (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Meanwhile, gender, travel history within the past month, and overweight/obese status had no significant association with measles occurrence in children aged 12-59 months. This study is expected to provide valuable insights for measles prevention and control programs, particularly for programs aimed at increasing measles immunization coverage and encouraging parental awareness in childhood measles prevention efforts.
Read More
S-12283
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive