Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41488 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rafiqa Ghaisani Mahdiyyah; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Syafirah Hardani
Abstrak:
Latar Belakang : Kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun tetap menjadi masalah kesehatan reproduksi di Indonesia, sementara penggunaan kontrasepsi belum menunjukkan peningkatan yang stabil. Tujuan : Mengetahui gambaran penggunaan alat kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15-19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia. Metode : Penelitian menggunakan data SDKI 2002/2003, 2007, 2012, dan 2017 dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 766 remaja (2002/2003), 679 remaja (2007), 708 remaja (2012), dan 574 remaja (2017) yang aktif secara seksual dalam 4 bulan terakhir. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan pembobotan. Hasil : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia selama periode 2002/2003–2017 menunjukkan pola fluktuatif, yaitu 51,7%, 48,6%, 52,3%, dan 48,9%. Remaja yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung memiliki penggunaan kontrasepsi lebih tinggi dibandingkan remaja perdesaan. Penggunaan kontrasepsi relatif stabil pada remaja berpendidikan SD hingga SMP dan lebih tinggi pada kelompok kesejahteraan sedang pada beberapa tahun pengamatan. Akses terhadap fasilitas kesehatan berkaitan dengan proporsi penggunaan kontrasepsi yang lebih tinggi, sementara tingginya tingkat pengetahuan tentang metode keluarga berencana (>97%) belum sepenuhnya tercermin dalam praktik penggunaan kontrasepsi. Kesimpulan : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia masih belum stabil selama periode 2002/2003–2017. Meskipun pengetahuan tentang keluarga berencana sudah sangat tinggi, pemanfaatan kontrasepsi belum meningkat secara konsisten, sehingga diperlukan penguatan akses dan layanan kesehatan reproduksi yang lebih responsif terhadap kebutuhan remaja.

Background: Pregnancy among adolescents aged 15–19 years remains a major reproductive health concern in Indonesia, while contraceptive use in this age group has not shown a consistent increase.  Objective: To describe the use of contraceptive methods among sexually active adolescent females aged 15–19 years in Indonesia.  Methods: This study utilized data from the Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) 2002/2003, 2007, 2012, and 2017 with a cross-sectional design. The samples consisted of 766 adolescents (2002/2003), 679 adolescents (2007), 708 adolescents (2012), and 574 adolescents (2017) who had been sexually active within the past four months. Data were analyzed descriptively using sampling weights.  Results: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia during the 2002/2003–2017 period showed a fluctuating pattern, namely 51.7%, 48.6%, 52.3%, and 48.9%. Adolescents living in urban areas tended to have higher contraceptive use than those in rural areas. Contraceptive use was relatively stable among adolescents with elementary to junior high school education and higher among those with moderate welfare across several observation years. Access to health facilities was associated with a higher proportion of contraceptive use, while high levels of knowledge about family planning methods (>97%) were not fully reflected in contraceptive use practices.  Conclusion: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia remained unstable during the period 2002/2003–2017. Despite high levels of family planning knowledge, contraceptive use has not consistently increased, necessitating stronger access to and more responsive reproductive health services to adolescents' needs.
Read More
S-12165
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusti Ayu Sindy Prabayuni; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Farida Ekasari
S-8574
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sora Yullyana; pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Renti Mahkota, Rahmadewi
Abstrak: Penggunaan kontrasepsi merupakan strategi untuk menunda dan mengontrol kelahiran dengan mengurangi kemungkinan terjadinya fertilitas ovum olehspermatozoa. Namun, cakupan penggunaan kontrasepsi di Provinsi Papua masih jauh dari target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi penggunaan kontrasepsi pada 15-49 tahun berdasarkan faktor predisposisi dan faktor pendukung di Provinsi Papua tahun 2012. Metodepenelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2012. Sampel penelitian ini adalah wanita usia subur usia 15-49 tahun yang tercatat sebagai responden pada data SDKI 2012serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi penggunaan kontrasepsi pada WUS 15-49 tahun di Provinsi Papua adalah 14,6 persen. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara distribusi penggunaan kontrasepsi pada WUS dengan usia >35 tahun (PR: 7,823; CI 95% 3,210-19,067), pendidikan tinggi (PR: 4,751;CI 95% 2,884-7,827), bekerja (PR: 0,435; CI 95% 0,318-0,595), jumlah paritas 3-4 anak (PR: 3,254; CI 95% 2,286-4,633), tinggal di perkotaan (PR: 2,694; CI 95%1,960-3,703), ekonomi menengah (PR: 2,666; CI 95% 1,798-3,953), pengetahuan tinggi (PR: 3,970; CI 95% 2,863-5,507), dan pernah terpapar informasi KB (PR:3,091; CI 95% 2,255-4,236) dengan nilai p value <0,005. Oleh karena itu,diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan secara intensif dan penyebarluasan informasi oleh tenaga kesehatan mengenai manfaat akan pentingnya penggunaan kontrasepsi pada WUS, memberikan pelayanan kontrasepsi yang berkualitas dalam memperoleh alat/metode KB.
Kata kunci : Keluarga Berencana, Metode Kontrasepsi, Wanita Usia Subur
The use of contraception is a strategy to delay pregnancy and to do birth control,with the possibility of reducing fertility of ovum by spermatozoa. However,coverage of the use of contraceptive in Papua is still far from the target set. Thisstudy aims to determine the distribution of contraceptive use based on WUS 15-49years predisposing factors and enabling factors in Papua Province in 2012. Thisresearch used cross sectional design method with secondary data analysis ofDemographic Health Survey of Indonesia 2012. This study sample were womenage is 15-49 years, listed as respondents in the data IDHS 2012, and meet theinclusion and exclusion criteria. The results showed that the distribution ofcontraceptive use on WUS 15-49 years in Papua province was 14.6 percent. Theresults of analysis showed there is a significant relationship between thedistribution of contraceptive use on WUS with age >35 years (PR: 7.823; 95% CI3.210 to 19.067), higher education (PR: 4.751; 95% CI 2.884 to 7.827),employment status (PR: 0.435; 95% CI 0.318 to 0.595), number of parity 3-4children (PR: 3.254; 95% CI 2.286 to 4.633), urban residence (PR: 2.694; 95% CI1.960 to 3.703), middle income (PR: 2.666; 95% CI 1.798 to 3.953), higherknowledge (PR: 3.970; 95% CI 2.863 to 5.507), and have been exposed to familyplanning information (PR: 3,091; 95% CI 2.255 to 4.236) with a p value <0.005.Therefore, an increase in the effort required of health promotion, intensivecounseling and dissemination of information by health professionals about thebenefits of the importance of contraceptive use on WUS, providing qualitycontraceptive services in obtaining the tools/methods of family planning.
Keywords: Family Planning, Methods of Contraception, Women of Reproductive Age
Read More
S-8283
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berliana Situmeang; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Renfi Mahkota, Toha Muhaimin, Victoria Indrawati, Victoria Indrawati, Arif Rachman Irawan
Abstrak: Stigma terhadap ODHA menjadi salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV/AIDS. Pengetahuan mempengaruhi terjadinya stigma terhadap ODHA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA di kalangan remaja usia 15-19 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012 dengan disain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 8.316 orang. Hasil studi menunjukkan 71,63% remaja mempunyai stigma terhadap ODHA, 49,10% remaja mempunyai pengetahuan yang kurang tentang HIV. Pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS berhubungan dengan stigma terhadap ODHA (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) setelah dikontrol oleh keterpaparan media massa. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja guna mengurangi stigma terhadap ODHA. Kata Kunci: stigma, remaja, pengetahuan tentang HIV/AIDS Stigma towards people living with HIV/AIDS is one of biggest obstacle in HIV/AIDS prevention, treatment, care, and support. HIV/AIDS knowledge affected stigma towards people living with HIV/AIDS. This study aimed to identify the relationship HIV/AIDS knowledge related stigma towards people living with HIV/AIDS among adolescent 15-19 years old in Indonesia. The study used Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 with cross sectional design. Subject of the study were as many as 8.316 persons. The result showed 71,63% adolescent had stigma towards people living with HIV/AIDS, 49,10% adolescent had lack of HIV/AIDS knowledge. Lack of HIV/AIDS knowledge were significantly related to stigma towards people living with HIV/AIDS (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) after controlling exposure to mass media. Need to improve HIV/AIDS knowledge among adolescent to reduce stigma towards people living with HIV/AIDS. Keyword: Stigma, adolescent, HIV/AIDS knowledge
Read More
T-4911
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harun Al Rosyid; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Irwan Panca Wariaseno, Yovsyah
Abstrak: Remaja merupakan fase lanjutan dari fase kanak-kanak sebelum menuju dewasa dengan pertumbuhan dan perkembangan pada aspek biologis, kognitif, psikososial, dan emosional. Pada fase tersebut, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencoba hal-hal baru termasuk terkait perilaku seksual berisiko pada remaja. Berdasarkan laporan SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) tahun 2017 bahwa remaja pria maupun wanita mencoba melakukan hubungan seksual pranikah pertama kali di usia 15-19 tahun dengan proporsi sebesar 8 persen untuk pria dan 2 persen untuk wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara pendidikan kesehatan reproduksi yang diterima pertama kali di sekolah terhadap perilaku seksual pranikah para remaja pria 15-19 tahun di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data SDKI KRR tahun 2017 dengan jumlah total sampel sebanyak 7.345 remaja yang sudah disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Hasil dari penelitian ini adalah tercatat sebanyak 6.966 (94.8%) remaja laki-laki usia 15-19 tahun yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah sedangkan remaja yang tidak pernah melakukan hanya sebanyak 379 (5.2%) remaja. Berdasarkan hasil bivariat didapatkan bahwa variabel pendidikan kesehatan reproduksi tentang sistem reproduksi manusia (p = 0.000), keluarga berencana (p = 0.000) dan HIV/AIDS (p = 0.002) memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual pranikah remaja. Selain itu, variabel yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja adalah komunikasi dengan guru (p = 0.004) dan tingkat pendidikan (p = 0.000 dan 0.008). Sedangkan variabel tempat tinggal tidak memiliki hubungan yang signifikan (p = 0.095).
Adolescence is an advanced phase from childhood before heading to adulthood with growth and development in biological, cognitive, psychosocial, and emotional aspects. Within the phase, adolescents have a high curiosity to try or explore new things, including risky sexual behavior in adolescents. Therefore, based on the IDHS report of 2017 on Adolescent Reproductive Health (KRR) that male and female adolescents tried to have premarital sex for the first time at the age of 15-19 years with a percentage of 8 percent for men and 2 percent for women. This study aims to determine the relationship between reproductive health education that received for the first time at school to the premarital sexual behavior of male adolescents aged 15-19 years in Indonesia. The data used in this study is IDHS data for the 2017 KRR with a total sample of 7.345 adolescents who have been adjusted by both of the inclusion and exclusion criteria of the study. This study used a cross sectional study design. The results of this study are there were 6,966 (94.8%) teenage boys aged 15-19 years who had premarital sexual intercourse, while only 379 (5.2%) teenagers who had not. Based on bivariate analysis, It was found that the variables of reproductive health education about the human reproductive system (p=0.000), family planning (p=0.000) and HIV/AIDS (p=0.002) had a significant relationship with adolescent premarital sexual behavior. In addition, variables related to adolescent premarital sexual behavior are communication with teachers (p = 0.004) and education level (p = 0.000 and 0.008). While the variable of residence did not have a significant correlation (p = 0.095).
Read More
S-11107
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoni Malinda; Pembimbing: Asri C. Adisasmita, Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Yunis Miko Wahyono, Teti Tejayanti
Abstrak:

Fertilitas remaja masih menyumbang kontribusi yang besar terhadap fertilitas total di Indonesia. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, Age-Specific Fertility Rate (ASFR) remaja usia 15 – 19 tahun pada tahun 2002 – 2003 dan tahun 2007 tidak mengalami perubahan yaitu 51 per 1.000 perempuan. Fertilitas remaja dapat menimbulkan masalah kesehatan, sosial-ekonomi, dan pertumbuhan penduduk. Adapun faktor umur kawin pertama dan penggunaan kontrasepsi berpengaruh terhadap fertilitas remaja. Untuk lebih lanjut, dilakukan penelitian dengan menganalisis data Riskesdas 2010. Desain studi penelitian adalah crossectional dengan jumlah populasi studi 760 remaja. Odds Ratio (OR) diperoleh pada tahap analisis bivariat dan pada tahap multivariat dengan menggunakan logistik regresi setelah dilakukan adjustment pada tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan status ekonomi. Diperoleh hasil bahwa umur kawin pertama tidak berhubungan secara signifikan dengan fertilitas remaja (p = 0,236). Sedangkan penggunaan kontrasepsi berhubungan dengan fertilitas remaja (p = 0,000) dengan nilai OR = 76,24 yang artinya remaja yang menggunakan kontrasepsi meningkatkan resiko sebesar 76,24 kali untuk mempunyai anak satu atau lebih dibandingkan yang tidak menggunakan (36,10 – 161,04). Asas temporalitas pada penelitian ini tidak terpenuhi karena desain studi adalah crossectional sehingga arti dari hubungan ini adalah remaja yang menggunakan kontrasepsi adalah mereka yang fertilitasnya tinggi untuk mencegah fertilitas yang lebih tinggi lagi. Kata kunci: Fertilitas remaja, umur kawin pertama, penggunaan kontrasepsi.


Adolescent fertility still accounts for a major contribution to the total fertility in Indonesia. Based on data from Indonesia Demographic and Health Survey 2007, the Age-Specific Fertility Rate (ASFR) adolescents aged 15-19 years in 2002 to 2003 and in 2007 unchanged at 51 per 1,000 women. Adolescent fertility can cause health problems, socio-economic and population growth factors. The age of first marriage and contraceptive use affect adolescent fertility. Therefore, the research done by analyzing the data Riskesdas 2010. Design study is crossectional with a population of 760 adolescent studies. Odds Ratio (OR) obtained in the bivariate analysis stage and the stage of multivariate logistic regression using after the adjustment in region, education, employment, and economic status. The results indicate that age of first marriage did not significantly associated with adolescent fertility (p = 0.236). While contraceptive use associated with adolescent fertility (p = 0.000) with a value of OR = 76.24, which means teens are using contraceptives increase the risk by 76.24 times to have one or more children than those not using (36.10 to 161.04 ). The principle of temporality in the study was not met because the study design is crossectional so that the meaning of this relationship is the teens who use contraception are those of high fertility to prevent a higher fertility. Key words: Ado lescent fertility, age of first marriage, contraceptive use

Read More
T-3580
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alin Aun Adyana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah; Flourisa Juliaan Sudradjat
S-7016
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Sholikah Putri Suni; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Sudarto Ronoatmodjo, Flourisa Juliaan
Abstrak: Cakupan penggunaan kontrasepsi modern di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.Akan tetapi, cakupan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masihjauh dari target yang diharapkan. Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukanbahwa kelompok berisiko tinggi akan cenderung untuk menggunakan kontrasepsimodern. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kelahiran berisiko tinggidengan penggunaan kontrasepsi modern khususnya metode kontrasepsi jangkapanjang (MKJP) dan mengetahui faktor lain yang mempunyai peran terhadappenggunaan kontrasepsi modern setelah mengalami kelahiran yang berisiko tinggi.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data SDKI 2007dan 2012. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia subur (15-49 th) yang pernahmelahirkan maksimal 5 tahun sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukanbahwa prevalensi risiko tinggi 30,45%, risiko tinggi ganda 10,96% dan risiko tinggitunggal 19,49%. Prevalensi penggunaan kontrasepsi modern sebesar 68% dan palingbanyak menggunakan metode suntik. Sedangkan prevalensi penggunaan MKJP adalah8,73% dan yang paling banyak digunakan adalah metode IUD. Riwayat kelahiranberisiko tinggi tidak meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi modern secarakeseluruhan [PR 0,84; 95%CI: 0,817-0,861]. Terdapat peluang yang cukup besaruntuk menggunakan MKJP bagi mereka yang memiliki riwayat kelahiran risiko tinggiganda baik pada seluruh populasi [PR: 1,90 ;95%CI: 1,65-2,13] maupun pada populasipengguna kontrasepsi modern [PR: 1,46 ;95%CI: 1,29-1,64]. Populasi yangmenggunakan kontrasepsi modern, peluang terbesar untuk menggunakan MKJP bilaibu yang berisiko tinggi melakukan ANC di klinik bidan dan melakukan persalinan dirumah bersalin (RB) setingkat puskesmas. Oleh karena itu, disarankan untukmeningkatkan edukasi, promosi dan konseling terutama kepada wanita usia suburyang sudah memiliki riwayat melahirkan dengan risiko tinggi supaya dapat mencegahkelahiran berisiko.Kata kunci: Wanita Usia Subur (WUS), Kelahiran Berisiko Tinggi, KontrasepsiModern, MKJP, SDKI 2007 dan 2012
Coverage of modern contraceptive use in Indonesia increased from year to year.However, the scope of the use of long acting contraceptive system (LACS) is still farfrom the expected target. Based on previous study found that high-risk groups arelikely to use modern contraception. This study aimed to analyze the effect of high-riskbirths with the use of modern contraceptives, especially long acting contraceptivesystem (LACS) and determine other factors that have a value of interventions towardshigh-risk births variable relationship with the use of modern contraceptives. This studyused cross sectional design with IDHS 2007 and 2012. The sample in this study werewomen of reproductive age (15-49 years) who had delivered a maximum of 5 yearsprior to the survey. The results showed that the prevalence of high risk of 30.45%,10.96% double high risk and 19,49 single high risk. The prevalence of moderncontraceptive use by 68% and the most widely used injection method. While theprevalence of the use of LACS was 8.73% and the most widely used method of IUD.A history of high-risk births do not increase the probability of modern contraceptiveuse overall [PR 0.84; 95% CI: 0.817 - 0.861]. There are considerable opportunities touse the LACS for those who have a history of high-risk multiple births either in thewhole population [PR: 1.90; 95% CI: 1.65 - 2.13] and in a population of moderncontraceptive users [PR: 1,46; 95% CI: 1.29 to 1.64]. Population using moderncontraceptives, the biggest opportunity to use the LACS when high-risk mothers doANC at clinic midwife and deliver at the maternity hospital (RB) level health centers.Therefore, it is advisable to increase the education, promotion and counselingespecially to women of reproductive age who already have a history of delivering witha high risk in order to prevent the risk births.Keywords: Women of Reproductive Age, High-risk births, modern contraceptive,LACS, IDHS 2007 and 2012
Read More
T-4767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Sholikah Putri Suni; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Sudarto Ronoatmodjo, Flourisa Juliaan
Abstrak: Cakupan penggunaan kontrasepsi modern di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.Akan tetapi, cakupan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masihjauh dari target yang diharapkan. Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukanbahwa kelompok berisiko tinggi akan cenderung untuk menggunakan kontrasepsimodern. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kelahiran berisiko tinggidengan penggunaan kontrasepsi modern khususnya metode kontrasepsi jangkapanjang (MKJP) dan mengetahui faktor lain yang mempunyai peran terhadappenggunaan kontrasepsi modern setelah mengalami kelahiran yang berisiko tinggi.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data SDKI 2007dan 2012. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia subur (15-49 th) yang pernahmelahirkan maksimal 5 tahun sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukanbahwa prevalensi risiko tinggi 30,45%, risiko tinggi ganda 10,96% dan risiko tinggitunggal 19,49%. Prevalensi penggunaan kontrasepsi modern sebesar 68% dan palingbanyak menggunakan metode suntik. Sedangkan prevalensi penggunaan MKJP adalah8,73% dan yang paling banyak digunakan adalah metode IUD. Riwayat kelahiranberisiko tinggi tidak meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi modern secarakeseluruhan [PR 0,84; 95%CI: 0,817-0,861]. Terdapat peluang yang cukup besaruntuk menggunakan MKJP bagi mereka yang memiliki riwayat kelahiran risiko tinggiganda baik pada seluruh populasi [PR: 1,90 ;95%CI: 1,65-2,13] maupun pada populasipengguna kontrasepsi modern [PR: 1,46 ;95%CI: 1,29-1,64]. Populasi yangmenggunakan kontrasepsi modern, peluang terbesar untuk menggunakan MKJP bilaibu yang berisiko tinggi melakukan ANC di klinik bidan dan melakukan persalinan dirumah bersalin (RB) setingkat puskesmas. Oleh karena itu, disarankan untukmeningkatkan edukasi, promosi dan konseling terutama kepada wanita usia suburyang sudah memiliki riwayat melahirkan dengan risiko tinggi supaya dapat mencegahkelahiran berisiko.Kata kunci: Wanita Usia Subur (WUS), Kelahiran Berisiko Tinggi, KontrasepsiModern, MKJP, SDKI 2007 dan 2012
Coverage of modern contraceptive use in Indonesia increased from year to year.However, the scope of the use of long acting contraceptive system (LACS) is still farfrom the expected target. Based on previous study found that high-risk groups arelikely to use modern contraception. This study aimed to analyze the effect of high-riskbirths with the use of modern contraceptives, especially long acting contraceptivesystem (LACS) and determine other factors that have a value of interventions towardshigh-risk births variable relationship with the use of modern contraceptives. This studyused cross sectional design with IDHS 2007 and 2012. The sample in this study werewomen of reproductive age (15-49 years) who had delivered a maximum of 5 yearsprior to the survey. The results showed that the prevalence of high risk of 30.45%,10.96% double high risk and 19,49 single high risk. The prevalence of moderncontraceptive use by 68% and the most widely used injection method. While theprevalence of the use of LACS was 8.73% and the most widely used method of IUD.A history of high-risk births do not increase the probability of modern contraceptiveuse overall [PR 0.84; 95% CI: 0.817 - 0.861]. There are considerable opportunities touse the LACS for those who have a history of high-risk multiple births either in thewhole population [PR: 1.90; 95% CI: 1.65 - 2.13] and in a population of moderncontraceptive users [PR: 1,46; 95% CI: 1.29 to 1.64]. Population using moderncontraceptives, the biggest opportunity to use the LACS when high-risk mothers doANC at clinic midwife and deliver at the maternity hospital (RB) level health centers.Therefore, it is advisable to increase the education, promotion and counselingespecially to women of reproductive age who already have a history of delivering witha high risk in order to prevent the risk births.Keywords: Women of Reproductive Age, High-risk births, modern contraceptive,LACS, IDHS 2007 and 2012
Read More
T-4767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Nurul Qomariah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Komplikasi kehamilan menjadi penting karena komplikasi kehamilan adalah salah satufaktor penyebab kematian ibu. Kejadian komplikasi kehamilan di Indonesia telahmengalami peningkatan dari 11% di tahun 2007 menjadi 19 % di tahun 2017 berdasarkandata SDKI 2017. Tujuan dari penelitian ini yaitu menemukan hubungan antara usia ibu,paritas, dan aktivitas bekerja dengan kejadian komplikasi kehamilan di Indonesiaberdasarkan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Desain penelitian iniadalah case control. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi danKesehatan Indonesia Tahun 2017. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil yang menjadisampel pada penelitian Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017, terdiri dari 73kasus dan 73 sampel. Hasil penelitian secara statistik diperoleh variabel yang memilikihubungan signifikan dengan kejadian komplikasi kehamilan yaitu usia ibu (OR 3,086; 95%Cl 1,104-4,458; p value 0.028) dan paritas (OR 2,218; 95%Cl 1,104-4,458; p value 0,037).Kata kunci : Ibu Hamil, Komplikasi Kehamilan, Usia Ibu, Paritas, Aktivitas Bekerja.
Read More
S-10309
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive