Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38176 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Difa Mega Magrifah; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Budi Setiawan
Abstrak:
Latar Belakang: Pada tahun 2023, Provinsi DKI Jakarta dengan incidence rate sebesar 36,27 per 100.000 penduduk dengan prevalence rate penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta sebesar 1,81%, nilai tertinggi kedua setelah Provinsi Papua Tengah. Pada tahun 2024, terjadi peningkatan incidence rate yang mencapai 122,53 per 100.000 penduduk. Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, Angka Bebas Jentik (ABJ), kejadian banjir, pengelolaan sampah, terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Provinsi DKI Jakarta Pada Tahun 2022–2024. Metode: Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan analisis korelasi, spasial, dan regresi linear berganda pada 44 kecamatan di Provinsi DKI Jakarta sebagai unit analisis. Hasil: Hasil korelasi yang signifikan (p=0,042) antara ABJ dengan kejadian penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki kekuatan sedang dengan arah negatif yang menunjukkan semakin rendah persentase ABJ akan menyebabkan semakin tinggi proporsi DBD. Kesimpulan: Berdasarkan data global dan Asia menunjukkan proporsi yang berisiko terkait penyakit dengue sebesar 28,5% dan 26,5%, maka dari itu, proporsi DBD di Provinsi DKI Jakarta belum menunjukkan proporsi yang berisiko. Saran: Kolaborasi lintas sektor dalam pemetaan lokasi yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes dengan meningkatkan frekuensi kegiatan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan mempublikasi peringatan wabah DBD kepada masyarakat.

Background: In 2023, DKI Jakarta Province reported an incidence rate of 36.27 per  100,000 population and prevalence rate of 1.81%, the second highest after Central Papua  Province. In 2024, the incidence rate increased to 122.53 per 100,000 population.  Objective: To analyze the relationship between climatic factors, population density,  Larvae-Free Index (LFI), flood occurrence, and waste management with the occurrence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in DKI Jakarta Province from 2022 to 2024.  Methods: An ecological study design using secondary data, analyzed through correlation,  spatial analysis, and multiple linear regression across 44 districts in DKI Jakarta Province  as the unit of analysis. Results: A significant correlation (p = 0.042) was found between  LFI and DHF occurrence, with a moderate negative correlation, indicating that lower LFI  percentages are associated with higher DHF proportions. Conclusion: Based on global  and Asian risk proportions for dengue of 28.5% and 26.5%, the proportion of dengue  hemorrhagic fever in DKI Jakarta Province has not yet reached a level considered to be  at risk. Recommendation: Strengthen cross-sector collaboration to map potential Aedes  breeding sites by increasing the frequency of the Mosquito Nest Eradication Program and  issuing public health alerts related to dengue outbreaks.
Read More
S-12186
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferdian Akhmad Ferizqo; Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Retno Henderiawati, Agus Sugiarto
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta dengan angka kematian yang masih tinggi. Identifikasi faktor risiko kematian akibat DBD penting untuk meningkatkan strategi pencegahan dan penanganan kasus. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan case-control pada tahun 2024 di DKI Jakarta. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang mencakup laporan kasus pasien DBD meninggal dan yang sembuh. Analisis bivariat dilakukan untuk memilih variabel kandidat dengan p-value <0,25, kemudian dilanjutkan analisis regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko kematian akibat DBD. Dari analisis bivariat, variabel domisili penduduk dan jenis fasilitas kesehatan memenuhi kriteria masuk ke analisis multivariat. Hasil regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa domisili penduduk berpengaruh signifikan terhadap kematian akibat DBD dengan odds ratio 4,42 (p=0,024; 95% CI: 1,21–16,13). Pada model ini pasien yang berdomisili di DKI Jakarta memiliki risiko kematian 4,42 kali lebih tinggi dibanding pasien dari luar Jakarta. Variabel jenis fasilitas kesehatan meskipun memiliki odds ratio >1, tidak signifikan secara statistik (p=0,319). Domisili penduduk merupakan faktor risiko utama kematian akibat DBD di DKI Jakarta. Perlu penguatan sistem pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat untuk deteksi dini serta penanganan cepat guna menurunkan angka kematian akibat DBD.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease that remains a public health problem in DKI Jakarta Province with a high mortality rate. Identifying risk factors for DHF-related death is crucial to improve prevention strategies and case management. This study employed an analytic observational case-control design in 2024 in DKI Jakarta. Secondary data were obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, including reports of DHF patient deaths and survivors. Bivariate analysis was conducted to select candidate variables with p-value <0.25, followed by multivariate logistic regression analysis to determine risk factors for DHF mortality. Bivariate analysis identified resident identity and type of healthcare facility as eligible for inclusion in the multivariate model. The multivariate logistic regression revealed that resident identity (domicile) was significantly associated with DHF mortality, with an odds ratio of 4.42 (p=0.024; 95% CI: 1.21–16.13). Patients residing in DKI Jakarta had a 4.42 times higher risk of death compared to patients from outside Jakarta. Although the type of healthcare facility had an odds ratio >1, it was not statistically significant (p=0.319). Resident identity (domicile) is a significant risk factor for DHF-related death in DKI Jakarta. Strengthening the healthcare system and enhancing public education for early detection and timely treatment are crucial to reduce DHF mortality.

Read More
T-7327
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yani Dwiyuli Setiani; Pembimbing: Dewi Susanna, Tris Eryando; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Rachmat Suherwin, Iman Suhendar
T-2911
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miladia Nurur Romadlon; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit menular berupa infeksi akut oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes . Kasus demam berdarah di Indonesia pada tahun 2024 hingga minggu ke-12 kasus demam berdarah mengalami peningkatan mencapai 2,6 kali dibandingan kasus tahun 2023 pada minggu yang sama. Jumlah kejadian DBD di Kabupaten Cilacap tahun 2024 mengalami peningkatan hingga 6 kali dibandingkan kejadian tahun sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perubahan iklim (curah hujan, suhu udara dan kelembaban udara) dengan kejadian DBD di Kabupeten Cilacap bulan Januari 2022- Juli 2024. Desain studi berupa studi ekologi dengan menganalisis data sekunder dari Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dan data sekunder dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Cilacap secara total sampel. Analisis dilaksanakan secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi pearson dan analisis regresi linear menggunakan SPSS ver. 20. Hasil analisis menunjukan bahwa curah hujan  dan kelembaban udara tidak mempunyai hubungan yang signifikan. Sedangkan suhu udara memiliki hubungan yang signifikan (nilai P=0,02, r= 0,416). Peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan suhu udara dapat mempengaruhi peningkatan kejadian demam berdarah dengue, dikarenakan suhu udara mampu mepertcepat perkembang biakan nyamuk Aedes. Sehingga jika terjadi peningkatan suhu udara disarankan kepada BMKG untuk memberikan informasi kepada dinas kesehatan pengendalian penduduk dan keluarga berncana, agar dijadikan perhatian untuk waspada dan segera melakukan tindakan preventif.
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious disease in the form of an acute infection by the dengue virus, which is transmitted by the Aedes  mosquito. Dengue fever cases in Indonesia in 2024 until the 12th week of dengue fever cases have increased by 2.6 times compared to cases in 2023 in the same week. The number of dengue incidents in Cilacap Regency in 2024 has increased up to 6 times compared to the previous year's events. The purpose of this study is to determine the relationship between climate change (rainfall, air temperature and air humidity) and the incidence of dengue fever in Cilacap Regency in in January 2022 till July 2024. The study design is in the form of an ecological study by analyzing secondary data from the Population Control and Family Planning Health Office and secondary data from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency of Cilacap Regency in a total sample. The analysis was carried out univariate and bivariate with Pearson correlation test and linear regression analysis using SPSS ver. 20. The results of the analysis show that rainfall and air humidity have no significant relationship. Meanwhile, air temperature has a significant relationship (P=0.02, r=0,416). Researchers concluded that an increase in air temperature may affect the increased incidence of dengue hemorrhagic fever, because the air temperature is able to accelerate the breeding of Aedes mosquitoes. So that if there is an increase in air temperature, it is recommended to the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency to provide information to the health office for population control and family control, so that it is used as a concern to be vigilant and immediately take preventive measures.
Read More
S-11811
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Purwoko Widodo; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Syahrizal Syarif, Sholah Imari
Abstrak:

Kota Mataram adalah salah satu daerah endemis penyakit DBD di Indonesia, karena sejak Tahun 2003 hingga Tahun 2012, selalu ditemukan kasus penyakit DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik, perilaku dan lingkungan rumah penduduk dengan kejadian DBD. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan kasus kontrol. Populasi pada penelitian ini adalah penduduk Kota Mataram, sedangkan sampel penelitian adalah sebagian penduduk Kota Mataram yang berasal dari semua kecamatan yang ada di Kota Mataram. Kasus adalah penduduk Kota Mataram yang pernah dirawat di rumah sakit pada periode Januari?Maret 2012 dan didiagnosis menderita suspek DBD/DD/DBD. Kontrol adalah tetangga kasus yang tidak pernah diagnosis menderita suspek DBD/DD/DBD pada periode yang sama. Penelitian ini menemukan, variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD di Kota Mataram pada Tahun 2012 adalah variabel pekerjaan (OR bekerja=2,04 ; 95%CI=1,032-4,015 ; OR bersekolah=3,80 ; 95%CI=1,281-11,302) dan penggunaan kassa nyamuk (OR=0,42 ; 95%CI=0,218-0,810). Bagi masyarakat, perlu peningkatan upaya perlindungan diri terhadap penularan penyakit DBD, terutama saat beraktifitas di luar rumah (saat bekerja/bersekolah), diantaranya dengan menggunakan pakaian yang dapat mencegah gigitan nyamuk dan penggunaan obat nyamuk oles (repellent). Bagi Dinas Kesehatan Kota Mataram, perlu intensifikasi pemeriksaan jentik dan PSN DBD di tempat-tempat umum, khususnya di sekolah-sekolah dan perkantoran bekerja sama dengan lintas program dan lintas sektor terkait.


  Mataram city is one of the endemic areas of dengue fever in Indonesia, because since the Year 2003 to 2012, is always found dengue fever cases. This study aims to determine the relationship between the characteristics, behavior and home environment of the population with the incidence of dengue. This study is an analytical study with case-control design. The population in this study were residents of the city of Mataram, while the study sample was part of the population Mataram from all districts in the city of Mataram. Case is a resident of the city of Mataram who had been treated in hospital in the period from January to March 2012 and was diagnosed with suspected DHF / DD / DHF. Control is a neighbor of cases that never diagnosed with suspected DHF / DD / DHF in the same period. This study found that variables related to the incidence of dengue in the city of Mataram in the year 2012 is the variable of work (OR worker=2,04 ; 95%CI=1,032-4,015 ; OR student=3,80 ; 95%CI=1,281-11,302) and the use of mosquito net (OR=0,42 ; 95%CI=0,218-0,810). For society, need to increase efforts to protect themselves against dengue disease transmission, especially when activities outside the home (at work / school), such as by using clothing to prevent mosquito bites and use mosquito repellent ointment. For Mataram City Health Department, need to the intensification of larvae and eradication of DHF mosquito breeding places examination in public places, especially in schools and offices, to work with cross sector / program linked.

Read More
T-3593
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marwanty; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Budi Haryanto, Putri Bungsu, Abdurrahman, Rohman Simanjutak
T-4898
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chairunnisa Niken Lestari; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Aan Ariyanti
Abstrak: ABSTRAK DKI Jakarta merupakan daerah endemis DBD, di mana Jakarta Timur selalu menjadi kota dengan jumlah kasus tertinggi setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran insidens DBD berdasarkan orang, tempat, waktu, dankorelasi antara faktor lingkungan seperti karakteristik lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan praktik pengendalian vektor dengan Insidens DBD di Jakarta Timur tahun 2012-2016. Data yang digunakan adalah data sekunder, total populasi penelitian dengan unit analisis tingkat kecamatan (agregat). Desain penelitian studi kuantitatif observational ekologi. Rata-rata Insidens DBD tahun 2012-2016 tersebar lebih tinggi pada laki-laki, tertinggi di Kecamatan Pulogadung, memuncak pada bulan Maret-April setiap tahunnya, dan terjadi KLB pada tahun 2016. Variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan Insidens DBD adalah kelembaban udara, jumlah hari hujan, dan cakupan Jumantik melapor. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan penyusunan program pengendalian DBD untuk mencegah potensi wabah, dan menjadi studi pembuka untuk analisis tingkat individu. Kata kunci:Endemisitas DBD, Jakarta Timur, Faktor Lingkungan DKI Jakarta is a DHF endemic area, where East Jakarta has always been the city with the highest number of cases each year. This study aims to identify the DHF Incidence distribution by person, place, time, and correlation between environmental factors such as physical environment, social environment, and vector control practices with DHF incidence in East Jakarta 2012-2016. The data used are secondary data, total study population with district analysis unit (aggregate). The study design is quantitative observational study of ecology. The mean of DHF prevalence in 2012-2016 is higher in males, the highest in Pulogadung district, peaking in April-March in every year, and outbreak was occurred in 2016. The variables which have a significant association with DHF prevalence are air humidity, number of rainy days, and coverage of Jumantik who reports. This study is expected to become a reference for the preparation of DHF control programs to prevent potential outbreaks, and to be an opening study for individual level analysis. Key words:DHF Endemicity, East Jakarta, Environmental Factors
Read More
S-9664
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedi Haryadi; Pemb. Dewi Susanna; Penguji: Tris Eryando, Ririn Arminsih Wulandari, Risikhon, Ahmad, Warmo Sudrajat
T-2644
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harisnal; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Helda, Sholihah Imari, Endang Burni
Abstrak:

ABSTRAK Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia saat ini termasuk di Kota Banjarmasin dengan angka kematian yang tinggi, Tahun 2011 dilaporkan CFR 8,3% dimana sebagian besar pasien DBD ini dirawat di RSUD ULIN dan RSUD Ansari Saleh Banjarmasin, sementara penegakkan diagnosis sering sulit, apalagi dalam menilai apakah pada akhirnya akan terjadi shock (Dengue Shock syndrome) atau tidak. Peningkatan hematokrit, penurunan angka trombosit, leukosit dan serta perilaku pasien sebelum dirawat (lamanya sakit, rujukan) biasanya terjadi sebelum demam turun dan sebelum terjadinya shock. Hal ini merupakan diagnostik yang penting dan prognosis yang berharga dalam mendeteksi Dengue Shock Syndrome. Sehingga dengan mengetahui faktor resiko ini dapat mencegah/ mengurangi kematian Metode: Penelitian bersifat observasional dengan disain kasus kontrol. Kasus adalah penderita yang didiagnosis DSS berdasarkan diagnosis dokter yang merawat. Sedangkan kontrol adalah penderita yang didiagnosis sebagai tersangka DBD oleh dokter yang merawat. Data penelitian diperoleh dari data rekam medis dan formulir Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KD-RS) yang dirawat di RSUD ULIN dan RSUD Ansari Saleh dalam periode bulan April 2010 sampai Maret 2012. Rancangan analisis ditujukan untuk memperoleh nilai Odds Ratio (OR) dilanjutkan dengan multivariat analisis untuk mengetahui faktor risiko yang dapat mendeteksi DSS sejak dini. Hasil Penelitian: Variabel yang signifikan secara statistik dan di masukkan ke dalam prediksi model akhir adalah Jenis Kelamin perempuan (OR=3,250 95% CI=1,178-8,970), hematokrit ≥25,97% (OR=7,86 95% CI=2,748-22,500) , leukosit ≤ 4764,47 (OR=3,826 95% CI=1,375-10,647), lama sakit ≥4 hari (OR=3,146 95% CI=1,179-8,397) dan rujukan dari puskesmas (OR=4,543 95% CI=1,700-12,139).Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kejadian Dengue shock syndrome adalah hematokrit. Dari hasil tersebut disarankan agar tenaga kesehatan dan akademisi perlu meningkatkan standar pelayanan penyakit yang lebih efektif dan efesien yang berisiko terjadinya Dengue Shock Syndrome.


  ABSTRACT DHF is still a health problem in Indonesia is currently included in Banjarmasin city with a high mortality rate in 2011 was reported CFR 8.3% where the majority of dengue patients are treated at the Ulin Hospital and Ansari Saleh Hospital Banjarmasin, while the diagnosis is often difficult, especially in assessing whether it will eventually happen shock (dengue shock syndrome) or not. This is an important diagnostic and prognostic value in the detection of Dengue Shock Syndrome. So that by knowing these risk factors can prevent / reduce mortality. Methods: The study is an observational with case-control design. Cases are those who hospitalized and diagnosed as suspect Dengue haemorrhagic fever by clinicans using WHO criteria.Controls are those who hospitalized and diagnosed as suspect Dengue Haemorrhagic fever by the clinicans. Data were collected from medical records and (KD-RS) are treated in Ulin Hospital and Ansari Saleh Hospital in the period from April 2010 until March 2012. Analysis design is done to obtain Odds Ratio (OR) and followed by using multivariate logistic regression to determine risk factors that can detect early DSS. Consclusion: The significant variables in statistic manner and put into the final model predictions are increasing Female sex (OR=3,250 95% CI=1,178-8,970), haematocryt ≥25,97% (OR=7,86 95% CI=2,748-22,500) leukopenia ≤4764,47 (OR=3,826 95% CI=1,375-10,647), lengh of hospital ≥4 days (OR=3,146 95% CI=1,179-8,397) and referrals from Health centers (OR=4,543 95% CI=1,700- 12,139). From these results it is suggested that health professionals and academics need to improve service standards diseases more effectively and efficiently at risk of Dengue Shock Syndrome.

Read More
T-3579
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bekti Aribawanti Rini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Tiffany Tiara Pakasi, Hanung Wikantono
Abstrak: Kabupaten Purbalingga adalah salah satu daerah endemis penyakit DBD di Indonesia. Peningkatan kasus hamper 3 kali lipat pada bulan Januari-Juni 2019 dibandingkan dengan jumlah kasus yang terjadi pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor karakteristik individu, faktor perilaku, faktor lingkungan rumah, dan faktor program DBD. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui wawancara dan observasi. Total sampel sebanyak 408 responden dari dua kecamatan dengan kasus tertinggi. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat (chi square), dan analisis multivariat (Regresi Logistik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan Kejadian DBD di Kabupaten Purbalingga adalah umur: 6-18 tahun (OR: 3,75; 95% CI: 1,91-7,36), ≤ 5 tahun (OR: 2,55; 95% CI: 0,94-6,89), 19-45 tahun (OR: 2,23; 95% CI: 1,27-3,94), kebiasaan menguras TPA (OR: 2,13; 95% CI: 1,34-3,39), kebiasaan menggantung pakaian (OR: 1,87; 95% CI: 1,06-3,31), keberadaan tanaman hias (OR: 9,22; 95% CI: 2,54-33,50), keberadaan barang bekas (OR: 1,63; 95% CI: 1,03-2,58), penggunaan kassa nyamuk pada ventilasi (OR: 12,35; 95% CI: 3,34-45,74), dan pencahayaan (OR: 1,75; 95% CI: 1,07-2,87). Bagi Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengintensifkan penyuluhan tentang DBD dan meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan 3M Plus sehingga dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bagi Masyarakat diharapkan dapat melaksanakan PSN 3M Plus secara mandiri salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

Purbalingga Regency is one of the endemic area of DHF in Indonesia. The increase of DHF cases in Purbalingga Regency in January-June 2019 almost tripled compared to the number of cases in 2018. This study is necessary to conduct research on individual characteristics, behaviours, household  environmentals, and DHF programs associated with the incidence of DHF. It used a case control study. The data were collected using questionnaires through interviews and observations. Sample of 408 respondents was taken from two subdistricts with the highest cases. Logistic Regression were employed in this study. The results of the study indicate that the factors associated with the incidence of DHF in Purbalingga Regency in 2019 were the age: 6-18 year (OR: 3,75; 95% CI: 1,91-7,36), ≤5 year (OR: 2,55; 95% CI: 0,94-6,89), 19-45 year (OR: 2,23; 95% CI: 1,27-3,94), habit of drain the water supply containers (OR: 2,13; 95% CI: 1,34-3,39), habit of hanging clothes (OR: 1,87; 95% CI: 1,06- 3,31), the availability of ornamental plants (OR: 9,22; 95% CI: 2,54-33,50), the presence of discarded trash (OR: 1,63; 95% CI: 1,03-2,58), the availability of mosquito gauze (OR: 12,35; 95% CI: 3,34-45,74), and the lighting (OR: 1,75; 95% CI: 1,07-2,87). The Health Office is expected to intensify promoting about DHF and to increase the inter-related sectors in supporting the implementation of PSN 3M Plus. The community is expected to be able to implement PSN 3M Plus independently, one of which is through the implementation of the “Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J)”.
Read More
T-5860
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive