Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30862 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Winona Margareth Cindy Teresa Aipipidely; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dan Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. Balita merupakan kelompok rentan karena sistem imun yang belum matang, sehingga infeksi TB pada balita dapat memengaruhi status gizi. Status gizi balita berperan penting dalam menentukan kesehatan dan kemampuan tubuh melawan infeksi. Balita dengan TB berisiko mengalami penurunan status gizi, sementara gizi buruk dapat memperburuk perjalanan penyakit. Tujuan: Mengetahui gambaran status gizi balita penderita TB di Indonesia. Metode: Penelitian cross-sectional ini menggunakan data 1.030 balita penderita tuberkulosis dari SSGI 2024. Status gizi balita sebagai variabel dependen diukur menggunakan indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan/Panjang Badan (BB/TB atau BB/PB). Analisis bivariat deskriptif dilakukan untuk menggambarkan perbedaan distribusi status gizi berdasarkan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor individu, dengan uji chi-square. Nilai p digunakan untuk menunjukkan signifikansi perbedaan distribusi antar kategori variabel. Hasil: Dari 1.030 balita penderita TB yang dianalisis, 17,4% memiliki status gizi kurang, 75% gizi normal, dan 6,7% gizi lebih. Proporsi gizi kurang secara signifikan lebih tinggi pada balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (25,1%) dibandingkan balita tanpa riwayat BBLR (15,3%) (p-value = 0,022), serta pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (21,6%) dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif (10,7%) (p-value  = 0,013). Variabel lain, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua, status imunisasi, pemantauan perkembangan, dan perilaku konsultasi gizi, tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap status gizi balita. Secara geografis, proporsi gizi kurang tertinggi ditemukan di Papua (29,2%) dan secara signifikan lebih tinggi di wilayah pedesaan dibandingkan wilayah perkotaan (p-value  = 0,040). Kesimpulan: Upaya perbaikan perlu diarahkan pada penguatan dukungan ASI, pemantauan dan intervensi khusus bagi bayi BBLR, peningkatan akses gizi dan layanan kesehatan di wilayah pedesaan.

Background: Tuberculosis (TB) remains a major global health problem, and Indonesia ranks second among countries with the highest TB burden worldwide. Children under five are a vulnerable group due to their immature immune systems, making TB infection in this age group more likely to affect nutritional status. Nutritional status plays a critical role in determining health outcomes and the body’s ability to fight infection. Children with TB are at increased risk of experiencing nutritional decline, while poor nutritional status can further worsen the progression of the disease. Objective: To describe the nutritional status of children under five with tuberculosis in Indonesia Methods: This cross-sectional study used data from 1,030 children under five with tuberculosis from SSGI 2024. Nutritional status of the children, as the dependent variable, was measured using the Weight-for-Height/Length (WH/L) indicator. Descriptive bivariate analysis was conducted to illustrate differences in the distribution of nutritional status based on environmental factors, behaviors, healthcare services, and individual factors, using the chi-square test. The p-value was used to indicate the significance of differences in distribution across variable categories.  Results: Among the 1,030 children analyzed, 17.4% had undernutrition, 75% had normal nutrition, and 6.7% were overweight. The proportion of undernutrition was significantly higher among children with a history of low birth weight (25.1%) than among those without low birth weight (15.3%) (p-value = 0.022), and among children who did not receive exclusive breastfeeding (21.6%) than among those who received exclusive breastfeeding (10.7%) (p-value = 0.013). Other variables, including sex, age, parental education, immunization status, growth monitoring, and nutrition consultation behavior, did not show significant differences in nutritional status. Geographically, the highest proportion of undernutrition was observed in Papua (29.2%) and was significantly higher in rural areas than in urban areas (p-value  = 0,040). Conclusion: Improvement efforts should focus on strengthening support for exclusive breastfeeding, enhancing monitoring and targeted interventions for low-birth-weight infants, and improving access to nutrition and health services in rural areas.
Read More
S-12188
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiandhari Esa Gautami; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Helwiah Umniyati
Abstrak:
Malnutrisi merupakan penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia, malnutrisi pada balita menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan motorik, gangguan perkembangan kognitif, kecerdasan intelektual yang rendah, keterampilan sosial yang buruk, dan rentan terhadap penyakit menular. Menurut WHO sebanyak 6% kematian balita di dunia disebabkan karena penyakit infeksi, infeksi spesifik yang mempunyai dampak tinggi terhadap status gizi adalah tuberkulosis. Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) adalah indikator pengukuran status gizi balita yang menggabungkan antara indikator antropometri yang dapat menunjukan besaran kasus kekurangan gizi secara lebih komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan TB paru dengan malnutrisi pada balita di Indonesia tahun 2021 menggunakan indikator CIAF. Desain studi ini adalah cross-sectional dan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 95.911 balita. Uji statistik yang digunakan adalah cox-regression. Hasil penelitian menunjukan proporsi balita malnutrisi sebanyak 29,29% (28.093), dan balita yang terinfeksi TB paru sebanyak 0,44% (422). Hasil analisis multivariat menunjukan prevalensi balita malnutrisi dengan TB pari 1,68 kali lebih tinggi dibanding dengan balita yang tidak terinfeksi TB paru setelah dikontrol variabel kovariat jenis kelamin dan hygine sanitasi dengan nilai PR (Prevalance Ratio) 1,68 (95%CI: 1,36 - 2,07) dengan p-value 0,000.

adolescents throughout the world. Malnutrition in toddlers causes long-term health problems including impaired physical and motoric growth, impaired cognitive development, low intellectual intelligence, poor social skills, and vulnerable against infectious diseases. According to WHO, 6% of under-five deaths in the world are caused by infectious diseases, a specific infection that has a high impact on nutritional status is tuberculosis. The Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is an indicator for measuring the nutritional status of children under five which combines anthropometric indicators which can show the magnitude of cases of malnutrition more comprehensively. The aim of this research is to determine the relationship between pulmonary TB and malnutrition among children under five in Indonesia in 2021 using the CIAF indicator. The design of this study is cross-sectional and uses data from the 2021 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) with a sample size of 95,911 children under five. The statistical test used is cox-regression. The research results showed that the proportion of malnourished toddlers was 29.29% (28,093), and toddlers infected with pulmonary TB were 0.44% (422). Multivariate analysis results show that the prevalence of malnourished toddlers with pulmonary TB is 1.68 times higher than toddlers who are not infected with pulmonary TB after controlling for the covariate variables of gender and sanitation hygiene with a PR (Prevalance Ratio) value of 1.68 (95% CI: 1, 36 - 2.07) with p-value of 0.000.
Read More
T-6855
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Andriani Alimy; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Soewarta Kosen, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar di udara saat penderita TB batuk. Penyakit ini biasanya mempengaruhi organ paru dan dapat juga mengenai organ yang lain. Sampai saat ini TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian telah diterapkan lama. Anak merupakan salah satu kelompok risiko yang berdampak dalam penularan TB. Dari seluruh penderita TB di dunia, sekitar 11% terjadi pada anak usia <15 tahun. Dari data Riskesdas 2018, prevalensi TB paru pada anak berkisar 0,1-0,3%. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian TB pada anak adalah malnutrisi yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh anak dan memudahkan anak terserang penyakit TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan dari Mei-Juli 2023 dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpapar adalah anak dengan status gizi kurang sebesar 19.821 responden dan anak dengan status gizi buruk sebesar 7.307 responden. Kelompok tidak terpapar adalah anak dengan status gizi baik sebesar 170.934 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tuberkulosis anak usia 0-14 tahun di Indonesia sebesar 0,19%. Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun setelah dikontrol dengan variabel umur dan status pekerjaan ibu. Anak dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 1,82 (95% CI 1,38-2,40)). Anak dengan status gizi buruk memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 2,19 (95% CI 1,47-3,25)). Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya pemantauan status gizi pada anak dalam peningkatan kekebalan tubuh anak sehingga terhindar dari penularan dan perkembangan penyakit tuberkulosis.  


 

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis, which can spread through the air when people with TB cough. The disease usually affects the lungs and can also affect other organs. TB is still a public health problem worldwide despite long-standing control efforts. Children are one of the risk groups for TB transmission. Of all TB patients in the world, about 11% occur in children aged <15 years. From the 2018 Riskesdas data, the prevalence of pulmonary TB in children ranged from 0.1-0.3%. One of the risk factors that can cause the incidence of TB in children is malnutrition, which can cause a decrease in children's immunity and make it easier for children to get TB disease. This study aims to determine the relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years. The research design was cross sectional, conducted from May-July 2023 using the 2018 Riskesdas data. The exposed group was children with a nutritional status of 19,821 respondents and children with a nutritional status of 7,307 respondents. The unexposed group was children with a good nutritional status of 170,934 respondents. The results showed that the proportion of tuberculosis among children aged 0-14 years in Indonesia was 0.19%. There was a significant relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years after controlling for the variables of age and maternal employment status. Children with undernutrition had a 1.8 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 1.82 (95% CI 1.38-2.40)). Children with malnutrition had a 2.2 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 2.19 (95% CI 1.47-3.25)). This is expected to illustrate the importance of monitoring children's nutritional status in improving children's immunity so as to avoid the transmission and development of tuberculosis.

Read More
T-6831
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsu Alam; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Kusharisupeni, Julitasari, Imam Subekti
T-3216
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jahiroh; Pemb. Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Rusli
T-3889
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Desi Purwanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak: Stunting merupakan bentuk malnutrisi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan anak. Selain disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis, stunting juga dapat disebabkan oleh penyakit infeksi berulang. Upaya pencegahan penyakit infeksi seperti imunisasi akan turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan anak khususnya di negara berkembang. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder SSGI Tahun 2021. Kriteria inklusi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan saat pengumpulan data, diukur tinggi badannya, tidak sedang mengalami sakit berat/kronis, dan memiliki data variabel yang lengkap. Sebanyak 70.267 balita memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression untuk mendapatkan besar asosiasi prevalence ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-59 bulan di Indonesia adalah 23,1% dan proporsi balita yang mempunyai status imunisasi dasar lengkap adalah 74,92%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status imunisasi dasar berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stunting. Balita dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap berisiko 1,19 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,19 (95% CI 1,15 – 1,23)]. Balita yang tidak imunisasi sama sekali mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi yaitu 1,27 kali untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan status imunisasi dasar lengkap [adjusted PR 1,27 (95% CI 1,15 – 1,39)], setelah mengontrol variabel pendidikan ibu, status ekonomi dan berat lahir anak. Diperlukan upaya untuk melengkapi status imunisasi anak sesuai jadwal dan peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi balita dan stimulasi tumbuh kembang anak.
Stunting is a malnutrition that is still a public health problem in Indonesia and causes various adverse effects on children's health. Besides caused by a chronic lack of nutrition, stunting can also be caused by recurrent of infectious diseases. Efforts to prevent infectious diseases, such as immunization, will play a role in increasing child growth, especially in developing countries. The purpose of this study was to examine the association between basic immunization status and the incidence of stunting in toddlers in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from SSGI 2021. The inclusion criteria for this study were that toddlers were aged 12–59 months at the time of data collection, their height was measured, were not experiencing severe or chronic illness, and had complete variable data. A total of 70,267 toddlers met the inclusion criteria, and all were taken as research samples. Data analysis was performed using the Cox regression to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% of confidence interval. This study shows that the prevalence of stunting among children aged 12–59 months in Indonesia is 23.1%, and the proportion of children under five who have complete basic immunization status is 74.92%. The results of the multivariate analysis showed that basic immunization status had a statistically significant association with the incidence of stunting. Toddlers with incomplete basic immunization status are at risk 1.19 times higher for stunting compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.19 (95% CI 1.15–1.23)]. Toddlers who are not immunized at all have an even higher risk of experiencing stunting, which is 1.27 times higher compared to toddlers with complete basic immunization status [adjusted PR 1.27 (95% CI 1.15–1.39)], after controlling for variables such as the mother's education, economic status, and the child's birth weight. Efforts are needed to complete the child's immunization status on time according to schedule and increase the mother's knowledge regarding the use of health services, the fulfillment of toddler nutrition, and the stimulation of child growth and development.
Read More
T-6625
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Siti Rabiah Zacky; Pembimbing: Mondastri Korib SUdaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Kusdinar Achmad, Soewarta Kosen
T-3596
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husna Ashlihatul Latifah; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Agus Triwinarto
Abstrak:
Indonesia menargetkan penurunan stunting menjadi 14,2% pada 2029. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan besar berupa kompleksitas beban ganda malnutrisi serta praktik pemberian makan pada anak usia 6-23 bulan yang belum optimal. Pada tingkat individu, seorang anak bisa mengalami lebih dari satu masalah malnutrisi sekaligus atau disebut dengan malnutrisi ganda. Belum banyak studi yang mengkaji malnutrisi ganda pada tingkat individu di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi hubungan praktik pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan malnutrisi ganda pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Malnutrisi ganda yang dikaji adalah kombinasi stunting-wasting (pendek dan gizi kurang) dan stunting-overweight (pendek dan gizi lebih), sedangkan praktik MP-ASI dikaji berdasarkan indikator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dari WHO dan UNICEF. Data dari total 69.884 anak dianalisis untuk analisis stunting-wasting dan 72.158 anak untuk analisis stunting-overweight setelah kelengkapan data diperiksa dan nilai ekstrem dikeluarkan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik ganda untuk mendapatkan nilai adjusted prevalence odds ratio (aPOR). Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi stunting-wasting dan stunting-overweight secara berturut-turut sebesar 2,7% dan 0,7%. Sebanyak 50,9% anak memenuhi minimum keragaman makanan, 83,5% anak memenuhi minimum frekuensi makan, 45,3% anak memenuhi standar minimum konsumsi makan, 72,5% anak mengonsumsi ikan, telur, atau daging, 24,9% anak mengonsumsi minuman manis, serta 21,6% anak tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali. Indikator konsumsi minuman manis serta zero konsumsi buah dan sayur berhubungan signifikan terhadap kedua bentuk malnutrisi ganda. Anak yang tidak mengonsumsi minuman manis memiliki penurunan risiko stunting-wasting sebesar 10% (aPOR: 0,90; 95% CI: 0,81–0,996) dan stunting-overweight sebesar 31% (aPOR: 0,69; 95% CI: 0,57–0,84) dibandingkan anak yang mengonsumsi minuman manis. Anak yang mengonsumsi buah dan sayur memiliki penurunan risiko stunting-wasting sebesar 20% (aPOR: 0,80; 95% CI: 0,71–0,90) dan stunting-overweight sebesar 29% (aPOR: 0,71; 95% CI: 0,57–0,89) dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali. Temuan tersebut menekankan pentingnya peningkatan keragaman dan kualitas MP-ASI dan makanan dalam program pemberian makan anak yang dilakukan pemerintah disertai perluasan edukasi dan penguatan sistem label gizi pada minuman manis untuk mencegah malnutrisi ganda pada anak.

Indonesia has targeted a reduction in stunting prevalence to 14,2% in 2029. However, this effort still faces major challenges such as the complexity of the double burden of malnutrition and suboptimal feeding practices during the first 1000 days of life. At individual level, a child can experience more than one malnutrition problem at once, which called the double burden of malnutrition. Limited studies have examined the double burden of malnutrition at individual level in Indonesia. Therefore, this study was conducted to identify the association of complementary feeding practices and the double burden of malnutrition among children aged 6-23 months in Indonesia. This was a cross-sectional study using secondary data from the 2022 Indonesia Nutritional Status Survey. The double burden of malnutrition was assessed in forms of coexisting stunting-wasting and stunting-overweight, while complementary feeding practices was measured based on WHO and UNICEF IYCF indicators. A total of 69.884 children were analyzed for stunting-wasting and 72.158 children for stunting-overweight after meeting data completeness and no extreme values. Multiple logistic regression analysis was conducted to estimated asjusted prevalence odds ratio (aPOR). This study found the prevalence of stunting-wasting and stunting-overweight was 2.7% and 0.7%, respectively. Among the children, 50.9% met the minimum dietary diversity (MDD), 83.5% met the minimum meal frequency (MMF), 45.3% met the minimum acceptable diet (MAD), 72.5% consumed eggs and flesh foods (EFF), 24.9% consumed sweet beverages (SwB), and 21.6% had zero consumption of fruits and vegetables (ZVF). SwB and ZVF indicators were significantly associated with both forms of the double burden of malnutrition. Children who did not consume sweet beverages had a 10% lower risk of stunting-wasting (aPOR: 0.90; 95% CI: 0.81–0.996) and a 31% lower risk of stunting-overweight (aPOR: 0.69; 95% CI: 0.57–0.84) compared to children who consume sweet beverages. Meanwhile, children who consumed fruits and vegetables had a 20% lower risk of stunting-wasting (aPOR: 0.80; 95% CI: 0.71–0.90) and a 29% lower risk of stunting-overweight (aPOR: 0.71; 95% CI: 0.57–0.89) than those with zero intake of fruits and vegetables. These findings highlight the importance of improving the diversity and quality of foods provided in government programs, along with strengthening nutrition education and sweet beverages nutrition labeling policies to prevent the double burden of malnutrition among children.
Read More
S-12107
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.

Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
Read More
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Nurmaliani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Julina
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan malnutrisi yang paling banyak terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Salah satu faktor yang berhubungan dengan stunting adalah berat badan lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 87.754 anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Cox Regression Constant Time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 20,92% dan prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2022 adalah sebesar 5,71%.  Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan anak yang tidak memiliki riwayat BBLR setelah dikontrol variabel panjang badan lahir dengan besar risiko bergantung pada kelompok usia anak. Pada anak usia 6-11 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 2,10 (APR=2,10, 95% CI 1,89-2,33) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir, sedangkan pada anak usia 12-23 bulan, riwayat BBLR meningkatkan risiko stunting sebesar 1,38 (APR=1,38, 95% CI 1,29-1,48) setelah dikontrol variabel panjang badan lahir. Diperlukan upaya pencegahan terjadinya BBLR serta tata laksana dan pemantauan pertumbuhan yang optimal sedini mungkin bagi bayi dengan berat lahir rendah agar risiko stunting dapat diminimalkan.

Stunting is the most common form of malnutrition among children under five years of age. One of the factors associated with stunting is birth weight. The aim of this study was to examine the relationship between birth weight and stunting among children aged 6–23 months in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) with a sample size of 87,754 children. Data were analyzed using Cox regression with constant time, using prevalence ratio (PR) as the measure of association, along with a 95% confidence interval. The results showed that the prevalence of stunting among children aged 6–23 months in Indonesia in 2022 was 20.92%, while the prevalence of low birth weight (LBW) in the same age group was 5.71%. Multivariate analysis indicated that children with a history of LBW had a higher risk of stunting compared to those without such a history, after adjusting for birth length. Moreover, the magnitude of risk varied by age group. Among children aged 6–11 months, LBW increased the risk of stunting by 2.10 times (APR = 2.10; 95% CI: 1.89–2.33), whereas in those aged 12–23 months, the risk increased by 1.38 times (APR = 1.38; 95% CI: 1.29–1.48). Preventive measures to reduce the incidence of LBW, along with optimal management and early monitoring of growth in LBW infants, are essential to minimize the risk of stunting.

Read More
T-7329
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive