Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31448 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vina Benita Naomi Girsang; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Fitri Kurniasari, Asna Butar-Butar
Abstrak:
Latar Belakang: Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan sebagian atau sepenuhnya untuk mendengar suara. Salah satu faktor lingkungan fisik yang berpotensi memengaruhi penurunan gangguan pendengaran adalah kebisingan. Sekolah yang berada dekat lintasan kereta api berpotensi terpapar kebisingan yang dapat memengaruhi kesehatan pendengaran siswa-siswi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara intensitas kebisingan kereta dengan risiko penurunan gangguan pendengaran pada siswa-siswi SMA X Jakarta, yang merupakan kawasan sekolah dan berbatasan langsung dengan lintasan kereta api. Metode: Penelitian menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah responden sebanyak 90 siswa-siswi. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran intensitas kebisingan pada 5 titik, skrining risiko penurunan gangguan pendengaran menggunakan aplikasi HearWHO, serta kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna secara statistik antara intensitas kebisingan dengan risiko penurunan gangguan pendengaran  (p=0.428). Adapun pada variabel faktor risiko lainnya, hanya kebiasaan penggunaan earphone yang memiliki hubungan signifikan dengan risiko penurunan gangguan pendengaran (p=0.037) sedangkan riwayat penyakit pendengaran dan tinggal dekat rel tidak memiliki hubungan signifikan dengan risiko penurunan gangguan pendengaran. Kesimpulan: Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi dan intervensi kesehatan lingkungan seperti pemantauan kebisingan dan kesehatan pendengaran siswa-siswi.

Background: Hearing loss is the partial or complete inability to hear sounds. One of the physical environmental factors that has the potential to influence the decline in hearing loss is noise. Schools located near railway tracks are potentially exposed to noise that can affect the hearing health of students. Objective: To determine the relationship between train noise intensity and the risk of hearing loss in students of SMA X Jakarta, which is a school area and directly adjacent to the railway track. Method: The study used a cross-sectional study design with a total of 90 students as respondents. Data collection was carried out through noise intensity measurements at 5 points, screening for the risk of hearing loss using the HearWHO application, and questionnaires. Data analysis was carried out univariately and bivariately with the chi-square test. Results: The results showed that there was no statistically significant relationship between noise intensity and the risk of hearing loss (p = 0.428). As for other risk factor variables, only the habit of using earphones had a significant relationship with the risk of hearing loss (p = 0.037) while a history of hearing disease and living near railway tracks did not have a significant relationship with the risk of hearing loss. Conclusion: Therefore, preventative measures are needed through education and environmental health interventions, such as monitoring noise and student hearing health.
Read More
S-12216
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisrina Rihadatul Aisy; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Dewi Susanna, May Haryanti
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara intensitas kebisingan dengan gangguan non-auditory pada pekerja di PT. X, Cikarang, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain studi cross-sectional, dengan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 48 pekerja. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportionate stratified random sampling. Data intensitas kebisingan diperoleh dari Dokumen UKL-UPL Bulan Desember 2019 PT. X, sedangkan data karakteristik, perilaku, dan gangguan non-auditory pada pekerja diperoleh dari hasil kuesioner. Variabel independen dalam penelitian ini adalah intensitas kebisingan di area produksi, variabel dependen adalah keluhan gangguan non-auditory, dengan karakteristik dan perilaku individu sebagai variabel confounding.
Read More
S-10538
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Aisyah Amanda; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Dura Vendela
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan, faktor karakteristik pekerja (usia, masa kerja, durasi kerja, riwayat diabetes, riwayat hipertensi), dan faktor perilaku pekerja (penggunaan APT dan perilaku merokok), dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining PT X tahun 2019. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang pekerja bagian refining. Data gangguan pendengaran pada pekerja diperoleh dari hasil Medical Check Up rutin yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan data tingkat kebisingan diperoleh melalui pengukuran secara langsung menggunakan Sound Level Meter di area kerja bagian refining. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (OR 7; 95% CI: 1,608-30,474), masa kerja (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747, dan perilaku merokok (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747) dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining. Selain itu, didapatkan rata-rata tingkat kebisingan yang berbeda pada setiap unit kerja bagian refining, yakni unit kerja Peleburan sebesar 87,08 dBA, Pemurnian Perak sebesar 89,04 dBA, Pemurnian Emas sebesar 83,25 dBA, dan Waste Management sebesar 77,85 dBA.
Read More
S-9979
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Hanita Dewi; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ema Hermawati, Suparjiyono
Abstrak: PT X merupakan salah satu industri tekstil di Indonesia yang memiliki berbagai mesin dan peralatan yang dapat menimbulkan kebisingan dengan intensitas tinggi di beberapa area kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebisingan yang lebih dari 85 dBA dengan keluhan gangguan pendengaran pada pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing PT X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 84 pekerja di departemen spinning, weaving, dan dyeing yang dipilih menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kebisingan dan variabel dependen adalah keluhan gangguan pendengaran, dengan variabel konfounding meliputi karakteristik dan perilaku pekerja.
Hasil penelitian menunjukan sebanyak 37 pekerja (44%) mengalami keluhan gangguan pendengaran tinggi. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan > 85 dBA (p value=0,039, OR=2,8), usia (p value=0,012, OR=3,457) dan penggunaan alat pelindung telinga (APT) (p value=0,046, OR=2,761) dengan keluhan gangguan pendengaran. Sedangkan variabel masa kerja, riwayat penyakit telinga, riwayat hipertensi, riwayat diabetes, merokok, dan hobi terpajan bising tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Hasil analisis multivariat menunjukan pekerja yang terpajan kebisingan diatas NAB memiliki risiko 4,512 kali lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan dibawah NAB setelah dikontrol oleh variabel usia. Pekerja yang terpajan kebisingan berisiko untuk mengalami keluhan gangguan pendengeran. Pekerja yang berusia lebih dari 40 tahun dan tidak menggunakan APT saat berkeja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keluhan gangguan pendengaran.
Kata kunci: Industri Tekstil, Kebisingan, Keluhan Gangguan Pendengaran

PT X is a textile industry in Indonesia with a variety of machinery and equipment generating high-intensity noise in several areas. This study aimed to analyze the relationship between noise intensity higher than 85 dBA with hearing loss complain on workers of spinning, weaving, and dyeing department at PT X. The method used in this study was quantitative analysis with a cross-sectional study design. The number of samples in this study was 84 workers chosen by proportionate stratified random sampling method. The independent variable in this study was noise level while the dependent variable was hearing loss complaints, with confounding variables included characteristic and worker behavior.
The study result shows that 37 workers (44%) experienced hearing loss complaints. Based on the chi-square test, there was a significant relationship between noise > 85 dBA (p value = 0.039, OR = 2.8), age (p value = 0.012, OR = 3.457) and hearing protection device (HPD) utilization (p value = 0.046, OR = 2.761) with hearing loss complaints. Meanwhile, variables of the working period, ear disease history, hypertension history, diabetes history, smoking history, and noise exposure do not show a significant relationship.
The multivariate result shows that workers exposed to noise above TLV possess 4.512 times higher risk than the workers exposed to noise under TLV after being controlled by age variable. Noise-exposed workers are at risk of experiencing complaints of hearing loss. Workers who are over 40 years old and do not use HPD while working have a greater risk of experiencing hearing loss complaints.
Keywords: Hearing Loss Complain, Noise, Textile Industry
Read More
S-10477
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Yulianto; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Zakianis, Bangun Manalu
S-5567
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firlando Anugerah Laude Ansyari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Tingginya frekuensi lalu lintas kereta di Stasiun Manggarai berpotensi terhadap risiko gangguan pendengaran di pemukiman sekitar Stasiun Manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara paparan kebisingan (pengukuran nilai desibel), jarak rumah ke stasiun manggarai, lama tinggal di pemukiman, dan umur responden terhadap gangguan pendengaran ibu rumah tangga menggunakan uji Chi-Square. Penelitian dilakukan di Pemukiman Warga sekitar Stasiun Manggarai pada 40 Orang Ibu Rumah Tangga di RW 02 dan 04. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ibu rumah tangga yang terpapar kebisingan > 55 dB(A) dan jarak rumah ≤ 100 meter signifikan terhadap gangguan pendengaran. Peneliti menyarankan agar paparan kebisingan dari aktivitas kereta api berkurang dengan cara menambah tanaman vegetatif di sekitar rumah dan menutup pintu serta jendela saat tidak diperlukan.

The high frequency of train traffic at Manggarai Station has the potential to increase the risk of hearing loss in the neighborhoods around Manggarai Station. This study aims to look at the relationship between noise exposure (decibel value measurement), distance of house to Manggarai station, length of stay in residential areas, and age of respondents to the prevalence of hearing loss in housewives using the Chi-Square test. The research was conducted in residential areas around Manggarai Station on 40 housewives in RW 02 and 04. The results of the Chi-Square test showed that housewives who were exposed to noise > 55 dB(A) and a distance of ≤ 100 meters from home were significant to the prevalence of hearing loss. Researchers suggest that noise exposure from train activity be reduced by adding vegetative plants around the house and closing doors and windows when not needed.
Read More
S-12192
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Kusumawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7405
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Fildza Rafiza; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Agus Sudarman
Abstrak: Kebisingan merupakan risiko kerja yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen, salah satu nya adalah kebisingan dari kegiatan konstruksi di Dok kapal. Dok kapal memiliki kegiatan perbaikan dan pembuatan kapal yang dapat menimbulkan kebisingan tinggi dan terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja lapangan di Dok kapal Tanjung Priok tahun 2019. Desain studi yang digunakan adalah desain studi cross sectional dengan subjek pekerja lapangan PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari galangan II terdiri dari bagian produksi, fasilitas galangan, dan QHSE. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 responden dan 31 titik kebisingan. Hasil analisa bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran dengan p value 0,02, OR=5,44, dan CI 95%=1,263- 23,464. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa pekerja yang terpajan kebisingan memiliki risiko 21 kali terkena gangguan pendengaran dibandingkan yang tidak terpajan setelah di kontrol variabel riwayat penyakit telinga dan usia. Temuan ini menyarankan untuk adanya pengendalian kebisingan dengan eliminasi alat kerja yang menimbulkan bising, melakukan penanaman pohon untuk mereduksi kebisingan, kontrol administrasi dengan melakukan rotasi kerja dan kegiatan edukasi pada pekerja bahaya kebisingan
Read More
S-10121
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Adila Mamuaya; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sheli Azalea
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular dan kematian dini di Indonesia. Salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi tekanan darah adalah kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas kebisingan dari rel kereta api dengan kejadian hipertensi pada masyarakat RW 06 Kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan, yang merupakan kawasan padat penduduk yang berbatasan langsung dengan jalur kereta api. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 90 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran langsung intensitas kebisingan pada 6 titik, pengukuran tekanan darah, serta wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi uji bivariat dengan chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60 responden (66,7%)  mengalami hipertensi dan 75 responden (83,3%) responden terpapar kebisingan di atas nilai ambang batas (≥55 dBA). Variabel yang menunjukkan hubungan signifikan dengan hipertensi adalah intensitas kebisingan (p=0,003; OR=5,500), umur (p=0,011; OR=3,763), dan Riwayat keluarga hipertensi (p=0,001; OR=6,081). Analisis multivariat mengidentifikasi intensitas kebisingan (p=0,008; OR=5,764) dan riwayat keluarga hipertensi (p=0,003; OR=6,290) sebagai variable risiko yang dominan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kebisingan kereta api dan Riwayat keluarga hipertensi merupakan faktor risiko dominan terhadap hipertensi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, intervensi kesehatan lingkungan seperti pemantauan kebisingan dan perencanaan wilayah berbasis kesehatan sangat diperlukan.

Hypertension is one of the most common non-communicable diseases and a leading cause of cardiovascular disease and premature death in Indonesia. One of the environmental factors that potentially affects blood pressure is noise. This study aimed to analyze the relationship between railway noise intensity and the incidence of hypertension among residents of RW 06, Kebon Baru Subdistrict, South Jakarta—an area with high population density located directly adjacent to a railway line. A cross-sectional study design was used with a total of 90 respondents. Data were collected through direct noise measurements at six different points, blood pressure measurements, and interviews using a structured questionnaire. Data were analyzed using chi-square tests for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. The results showed that 60 respondents (66.7%) had hypertension and 75 respondents (83.3%) were exposed to noise levels exceeding the threshold (≥55 dBA). Variables that showed a significant association with hypertension were noise intensity (p=0.003; OR=5.500), age (p=0.011; OR=3.763), and family history of hypertension (p=0.001; OR=6.081). Multivariate analysis identified noise intensity (p=0.008; OR=5.764) and family history of hypertension (p=0.003; OR=6.290) as the dominant risk factors. The study concludes that railway noise and family history of hypertension are dominant risk factors for hypertension in the area. Therefore, environmental health interventions such as noise monitoring and health-based spatial planning are urgently needed.
Read More
S-11978
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Khoirotin Novaisa; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Al Asyari ; Tirta Mazli Zulkarnain
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kebisingan serta hubungan karakteristik dan perilaku pekerja terhadap gangguan pendengaran pada pekerja. Pada penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 106 pekerja dan pengukuran titik kebisingan pada 30 titik yang tersebar pada area konstruksi.Berdasarkan pengukuran kebisingan yang dilakukan, rentang kebisingan pada lokasi konsrtruksi BUMN Center ialah 67.9-100.8 dBA dan kejadian gangguan pendengaran pada pekerja sebesar 44.3%.
Read More
S-10875
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive