Ditemukan 40051 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dhini Marsela; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi serta faktor-faktor yang berhubungan pada peserta BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan periode Januari–Desember 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat untuk melihat hubungan antara karakteristik peserta, fasilitas pelayanan kesehatan, dan kondisi klinis dengan utilisasi serta biaya pelayanan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan hipertensi lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk tanpa rawat inap (65,2%) dibandingkan rawat inap (34,8%). Namun, median biaya pelayanan rawat inap per individu (Rp2,16 juta) jauh lebih tinggi dibandingkan pelayanan tanpa rawat inap (Rp198 ribu). Variabel wilayah FKRTL (p-value=0,000), tipe FKRTL (p-value=0,000), dan kondisi klinis (p-value=0,000) menunjukkan perbedaan biaya pelayanan hipertensi yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi dipengaruhi oleh karakteristik fasilitas pelayanan kesehatan, pola pemanfaatan layanan, dan kondisi klinis pasien. Pelayanan rawat inap menjadi kontributor utama pembiayaan hipertensi dalam sistem JKN.
This study aimed to analyze the utilization and healthcare costs of hypertension services, as well as the associated factors among BPJS Kesehatan participants at Advanced Referral Healthcare Facilities (FKRTL) in Indonesia in 2024. A descriptive-analytic study design with a quantitative approach was employed using BPJS Kesehatan claims data from January to December 2024. Univariate and bivariate analyses were conducted to examine the relationships between participant characteristics, healthcare facility characteristics, clinical conditions, and the utilization and costs of hypertension services. The results showed that hypertension services were utilized more frequently in non-inpatient care (65.2%) than inpatient care (34.8%). However, the median cost of inpatient care per individual (IDR 2.16 million) was substantially higher than that of non-inpatient care (IDR 198 thousand). FKRTL region (p-value=0.000), FKRTL type (p-value=0.000), and clinical condition (p-value=0.000) were significantly associated with differences in hypertension healthcare costs. This study concludes that variations in the utilization and costs of hypertension services are influenced by healthcare facility characteristics, healthcare utilization patterns, and patients’ clinical conditions. Inpatient care was identified as the main contributor to hypertension-related healthcare expenditures within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system.
S-12229
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kezia Meilany Azzahra; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Amila Megraini
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Berdasarkan Laporan Pengelolaan Program Tahun 2019, penyakit hemofilia menghabiskan biaya Rp. 405,670,839,460 dengan 70,999 kasus. Pada tahun 2022, terjadi peningkatan kasus menjadi 116,767 kasus dengan pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan sebanyak Rp. 650 milyar untuk membayar pelayanan kesehatan Peserta JKN pada penyakit hemofilia. Tujuan: Mengetahui biaya dan faktor0faktor yang berhubungan dengan penyakit hemofilia di FKRTL dalam satu tahun (12 bulan). Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat, Hasil: BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 452,466,055,817 (452 Milyar) untuk membayar klaim 143 peserta aktif dalam satu tahun (12 bulan) Tahun 2019-2020. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya layanan JKN untuk penyakit hemofilia Tahun 2019-2020 yaitu Jenis Kelamin, Usia, Hubungan Keluarga, Kelas Hak Rawat, Segmentasi Peserta, Wilayah Kepesertaan, Kunjungan RJTL, Kunjungan RITL, Status Kepemilikan Fasilitas Kesehatan. Kesimpulan: RJTL menyerap dari total biaya penyakit hemofilia yaitu Rp814.260.386.772 (90%)
Background: Based on the 2019 Program Management Report. Hemophilia costs Rp. 405,670,839,460 with 70,999 cases. In 2022, there are an increase in cases to 116,767 cases with claim costs of Rp. 650 billion spent by BPJS Health to pay for health services for JKN participants for hemophilia.Objective: To find out the costs and factors associated with hemophilia at FKRTL in one year (12 months). Method: Cross-sectional study design with univariate and biavariate analysis. Results: BPJS Health spends a budget of Rp. 452,466,055,817 (452 billion) to pay the claims of 143 active participants in one year (12 months) 2019-2020. Factors related to the cost of JKN services for hemophilia in 2019-2020 are Gender, Age, Family Relations, Treatment Rights Class, Participant Segmentation, Participants Area, RJTL Visits, RITL Visits, Health Facility Ownership Status. Conclusion: RJTL absorbs the total cost of hemophilia, namely Rp814.260.386.772 (90%)
S-11752
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cynthia Yolanda; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Berdasarkan Laporan Pengelolaan Program Tahun 2019, Penyakit leukemia menghabiskan biaya Rp. 361,056,430,870 dengan 134,271 kasus. Namun Pada Tahun 2022 terjadi peningkatan kasus menjadi 146.162 kasus dengan menghabiskan biaya klaim Rp. 429 milyar yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membayar pelayanan kesehatan Peserta JKN pada penyakit leukemia. Tujuan: Mengetahui biaya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit leukemia di FKRTL dalam 12 bulan dan minimal pengobatan 4 bulan (Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2019-2020). Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar RP. 360,376,931,628 (360 Milyar) untuk membayar klaim 92 peserta aktif dengan pengobatan minimal 4 bulan dalam 12 bulan pada Tahun 2019-2020. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya layanan JKN untuk penyakit leukemia Tahun 2019-2020 yaitu Jenis Kelamin, Usia, Hubungan Keluarga, Kelas Rawat, Segmentasi Peserta, Wilayah FKRTL, Kunjungan RJTL, Kunjungan RITL, Status Kepemilikan Fasilitas Kesehatan. Kesimpulan: RITL menyerap dari total biaya penyakit leukemia yaitu Rp. 293,452,189,462 (81%).
Background: Based on the 2019 Program Management Report, leukemia costs Rp. 361,056,430,870 with 134,271 cases. However, in 2022 there will be an increase in cases to 146,162 cases with claims costs of Rp. 429 billion spent by BPJS Health to pay for health services for JKN participants for leukemia. Objective: Knowing the costs and factors associated with leukemia at FKRTL within 12 months and a minimum of 4 months of treatment (BPJS Health Sample Data 2019-2020). Method: Cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. Results: BPJS Health spends a budget of Rp. 360,376,931,628 (360 billion) to pay claims for 92 active participants with a minimum of 4 months of treatment in 12 months in 2019-2020. Factors related to the cost of JKN services for leukemia in 2019-2020 are gender, age, family relationship, treatment class, participant segmentation, participant's area of residence, RJTL visits, RITL visits, health facility ownership status. Conclusion: RITL absorbs the total cost of leukemia, namely Rp. 293,452,189,462 (81%).
S-11543
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alif Musyaffa; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Amila Megraini
Abstrak:
Read More
Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan beban pembiayaan tertinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tingginya biaya layanan rawat jalan dan rawat inap penderita DM Tipe 2 berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap keberlanjutan pembiayaan JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya rawat jalan dan rawat inap rumah sakit peserta JKN penderita DM Tipe 2 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data sekunder sampel klaim BPJS Kesehatan tahun 2025 dengan total sampel sebesar 3.865 peserta. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji t-test dan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia, jenis kelamin, hak kelas rawat, segmentasi peserta, dan hubungan keluarga berhubungan signifikan dengan biaya layanan DM Tipe 2 (p < 0,05). Sementara itu, status perkawinan dan jenis FKTP tidak sepenuhnya berhubungan signifikan dengan biaya layanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor demografis dan kepesertaan JKN berperan penting dalam menentukan besaran biaya layanan DM Tipe 2. BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan disarankan untuk memperkuat strategi pengendalian biaya berbasis karakteristik peserta guna menjaga efisiensi dan keberlanjutan pembiayaan JKN.
Type 2 Diabetes Mellitus is one of the non-communicable diseases with the highest financial burden in Indonesia's National Health Insurance (JKN) program. The high costs of outpatient and inpatient services for Type 2 DM patients pose a significant threat to the financial sustainability of JKN. This study aimed to analyze factors associated with outpatient and inpatient hospital costs among JKN participants with Type 2 DM in Indonesia. A cross-sectional quantitative design was employed using secondary data from BPJS Kesehatan claims sample of 2025, with a total sample of 3,865 participants. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses t-test an ANOVA. The results showed that age group, sex, inpatient class entitlement, participant segmentation, and family relationship status were significantly associated with Type 2 DM service costs (p < 0.05). Meanwhile, marital status and type of primary healthcare facility were not fully associated with service costs. This study concludes that demographic and JKN membership factors play an important role in determining the magnitude of Type 2 DM service costs. BPJS Kesehatan and the Ministry of Health are recommended to strengthen cost-control strategies based on participant characteristics to maintain the efficiency and sustainability of JKN financing.
S-12411
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meti Suprapti; Pembimbing: Ronnie Rivany
S-2845
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alya Syaharani Tajuddin; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Pujiyanto, Wilda Alvernia Lumban Gaol
Abstrak:
Read More
Kasus katastropik menghabiskan 25% dari total biaya klaim BPJS Kesehatan dengan total biaya sebesar Rp20,0 triliun di tahun 2020, sementara penyakit kanker berada di posisi kedua dengan biaya terbesar Rp3,5 triliun. Penelitian ini menganalisis klaim biaya penyakit kanker peserta JKN yang berkunjung ke FKRTL dan faktor- faktor yang berhubungan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data sampel BPJS tahun 2022 yang berisi data kunjungan tahun 2021. Hasil penelitian mendapatkan bahwa proporsi terbesar pasien dengan penyakit kanker di FKRTL adalah kanker payudara (C50). Ditemukan bahwa rata-rata klaim kanker sebesar Rp358.865 per pasien rajal dan Rp11.200.000 pasien ranap. Biaya tinggi ditemui pada karakteristik pasien yang berusia ≥ 61 tahun, berjenis kelamin laki-laki, di regional 3, status telah menikah, dengan hari rawat tinggi, diagnosis C69-C72 (Kanker mata, otak, dan bagian lain dari sistem saraf pusat), severity level 2, di FKRTL milik TNI AL, dan kelas perawatan 1. Tingkat keparahan merupakan prediktor utama tingginya biaya penyakit kanker. Oleh karena itu, skrining dan deteksi dini perlu digencarkan terus untuk mengendalikan biaya penyakit kanker.
Catastrophic cases account for 25% of the total BPJS Kesehatan claim costs, with a total cost of IDR 20.0 trillion in 2020, while cancer ranks second with the highest cost of IDR 3.5 trillion. This study analyzes the cancer disease claim costs of JKN participants who visited FKRTL and the related factors. The study uses a cross-sectional design with BPJS sample data from 2022, which contains visit data from 2021. The results show that the largest proportion of patients with cancer at FKRTL is breast cancer (C50). It was found that the average cancer claim is IDR 358,865 per outpatient and IDR 11,200,000 per inpatient. High costs were found in patients aged ≥ 61 years, male, in region 3, married status, with high hospital stay days, diagnoses C69-C72 (eye, brain, and other parts of the central nervous system cancer), severity level 2, in FKRTL owned by the Indonesian Navy, and in class 1 care. Severity level is the main predictor of high cancer costs. Therefore, continuous screening and early detection are needed to control cancer costs.
S-11778
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anne Aryanti; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Atik Nurwahyuni, Amila Megraini
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi rawat jalan tingkat lanjut peserta JKN pada anak yang merupakan pasien diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan Kontekstual Diabetes Mellitus tahun 2015-2020. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi observasional yang bersifat cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan sampel merupakan seluruh data peserta JKN di Indonesia yang pernah didiagnosis diabetes mellitus di layanan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut antara tahun 2015-2020. Penelitian ini menggunakan aplikasi olah data Stata. Sampel hasil pembobotan diperoleh sebesar 938 peserta Hasil penelitian diperoleh bahwa utilisasi rawat jalan tingkat lanjut peserta JKN pada anak yang memiliki penyakit diabetes mellitus di Indonesia tahun 2015-2020 sebagian besar diakses oleh peserta dengan jenis kelamin perempuan (80,65%), Jenis FKTP dokter umum (100%), kepemilikan FKRTL swasta (80,64% ), segmentasi kepesertaa PBI APBN (93,05%), hak kelas rawat III (83,53%), wilayah tempat tinggal regional 4 dan 5 (100%), dan memiliki penyakit penyerta (89,58%). Variabel yang memiliki hubungan secara signifikan dengan utilisasi rawat jalan tingkat lanjut adalah jenis FKTP, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, wilayah tempat tinggal, dan penyakit penyerta. Dari hasil analisis didapatkan nilai Adjusted Odds Ratio (AOR) terbesar yaitu pada peserta yang memiliki penyakit penyerta 18,06 (95% CI: 11,01 – 29,62) yang menunjukkan bahwa peserta dengan penyakit penyerta memiliki peluang sebanyak 18,06 kali untuk melakukan utilisasi pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat lanjut dibandingkan peserta yang tidak memiliki penyakit penyerta. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan rawat jalan tingkat lanjut diabetes mellitus di Indonesia adalah penyakit penyerta.
This study aims to determine the factors associated with outpatient utilization of JKN participants in children who are diabetes mellitus patients in Indonesia based on the 2015-2020 Diabetes Mellitus Contextual BPJS Health Sample Data. This research is a quantitative study using an observational study design that is cross sectional. The sampling technique uses total sampling and the sample is all data on JKN participants in Indonesia who have been diagnosed with diabetes mellitus at Advanced Referral Health Facilities services between 2015-2020. This study uses the Stata data processing application. The sample of the weighting results was obtained for 938 participants. The results showed that the utilization of advanced outpatient care for JKN participants for children with diabetes mellitus in Indonesia in 2015-2020 was mostly accessed by participants with female sex (80.65%), FKTP types of general practitioners (100%), ownership Private FKRTL (80.64%), APBN PBI membership segmentation (93.05%), right to class III care (83.53%), region of residence regional 4 and 5 (100%), and have comorbidities (89, 58%). Variables that have a significant relationship with the utilization of advanced outpatient care are the type of FKTP, membership segmentation, treatment class entitlement, area of residence, and comorbidities. From the analysis results, the largest Adjusted Odds Ratio (AOR) value was obtained for participants who had comorbidities of 18.06 (95% CI: 11.01 – 29.62) which indicated that participants with comorbidities had 18.06 times the chance of making use of advanced outpatient health services compared to participants who do not have comorbidities. The results of the study concluded that the variables that most influenced the use of advanced diabetes mellitus outpatient care in Indonesia were comorbidities.
S-11390
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Monica Tara Chrishanti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Sabarinah, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Read More
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia dan menimbulkan beban pembiayaan yang besar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meskipun pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) menyerap proporsi pembiayaan JKN yang tinggi, hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil peserta JKN dengan penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta yang memanfaatkan RITL. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran dan hubungan karakteristik peserta JKN dengan utilisasi RITL kasus penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan sumber data berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 915 peserta sebelum pembobotan yang setelah dilakukan pembobotan merepresentasikan 142.621 peserta JKN yang memperoleh pelayanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut di Provinsi DKI Jakarta dengan diagnosis primer penyakit kardiovaskular kode ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, dan I30–I50. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 9,0% peserta memanfaatkan RITL, sedangkan 91,0% tidak memanfaatkan RITL. Median lama rawat peserta RITL adalah empat hari. Usia, jenis kelamin, status perkawinan, hak kelas rawat, segmentasi kepesertaan, dan hubungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan utilisasi RITL (p-value <0,05). Proporsi RITL tertinggi ditemukan pada peserta usia 15 – 64 tahun sebesar 9,9%, perempuan sebesar 10,8%, belum menikah sebesar 10,5%, kelas II sebesar 14,9%, PBI APBN sebesar 14,5%, dan kelompok hubungan keluarga sebagai anak sebesar 33,8%. Kelompok tambahan pada variabel hubungan keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dibandingkan peserta utama. Utilisasi RITL yang relatif rendah tidak dapat langsung dimaknai sebagai hambatan akses karena sebagian peserta dimungkinkan memperoleh pengelolaan melalui pelayanan primer dan rawat jalan tingkat lanjut. BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan fasilitas kesehatan disarankan mempertahankan kesinambungan pengelolaan penyakit kronis serta memanfaatkan data klaim untuk memantau kelompok peserta dengan proporsi RITL relatif tinggi tanpa membatasi akses pelayanan sesuai kebutuhan medis.
Cardiovascular disease is the main cause of death in Indonesia and causes a large financing burden in the Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Although the Advanced Inpatient Service (RITL) absorbs a high proportion of JKN financing, research results show that only a small percentage of JKN participants with cardiovascular disease in DKI Jakarta Province take advantage of RITL. This study aims to find out the characteristics and relationship of JKN participants with the RITL utilization of cardiovascular disease cases in DKI Jakarta Province in 2023. Research uses a quantitative approach with cross-sectional design and data sources in the form of BPJS Health Sample Data for 2024. The study sample consisted of 915 participants before the weighting, who after the weighting represented 142,621 participants of JKN who received services at Advanced Reference Health Facilities in DKI Jakarta Province with primary diagnosis of cardiovascular disease code ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, and I30–I50. Data are analyzed univariate and bivariate using Chi-Square tests and simple logistic regression. Research results showed that 9.0% of participants used RITL, while 91.0% did not use RITL. The median length of care for RITL participants is four days. Age, sex, marital status, nursing class rights, participation segmentation, and family relationships have a significant relationship with RITL utilization (p-value <0.05). The highest proportion of RITLs was found in participants aged 15–64 at 9.9%, women at 10.8%, unmarried at 10.5%, class II at 14.9%, PBI APBN at 14.5%, and family relations groups as children at 33.8%. Additional groups on the family relationship variable showed no significant relationship compared to the main participants. The relatively low utilization of RITL cannot be immediately interpreted as an access barrier because some participants may obtain management through advanced primary and outpatient services. BPJS Health, the DKI Jakarta Provincial Health Office, and health facilities are advised to maintain continuous management of chronic diseases and utilize claim data to monitor groups of participants with relatively high proportions of RITL without limiting service access according to medical needs.
S-12434
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hana Zakiyah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Pujiyanto, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Gangguan kesehatan mental memberikan beban ekonomi signifikan secara global, dengan proyeksi kerugian mencapai USD 6 triliun pada tahun 2030. Di Indonesia, estimasi biaya langsung tahunan mencapai Rp87,5 triliun apabila seluruh invidiu dengan gangguan mental menjalani pengobatan rutin. Tujuan: Mengetahui besaran biaya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya layanan kesehatan mental pada rawat jalan FKRTL Peserta JKN. Metode: Desain studi dengan potong lintang menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat terhadap 785.150 peserta aktif layanan kesehatan mental. Hasil: BPJS Kesehatan menanggung total biaya layanan kesehatan mental sebesar Rp3,4 triliun dalam satu tahun. Terdapat hubungan signifikan antara biaya layanan dengan usia, segmentasi peserta, jumlah diagnosis, frekuensi kunjungan RJTL, regional FKRTL, kepemilikan FKRTL, dan kondisi penyakit kronis. Kesimpulan: Biaya tertinggi ditemukan pada kelompok usia lanjut dan wilayah Regional 1, yang mencerminkan konsentrasi layanan serta akses yang lebih optimal. Temuan ini menyoroti pentingnya pemerataan dan pendekatan berbasis kebutuhan layanan kesehatan mental.
Background: Mental health disorders present a significant global economic burden, with projected losses reaching USD 6 trillion by 2030. In Indonesia, the estimated annual direct cost may reach IDR 87.5 trillion if all individuals with mental disorders undergo routine treatment. Objective: To identify the total cost and factors associated with mental health service expenditures in outpatient care at advanced referral health facilities (FKRTL) for JKN participants. Methods: This study uses cross-sectional design using the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. Univariate and bivariate analyses were conducted on 785,150 active mental health service users. Results: BPJS Kesehatan covered a total of IDR 3.4 trillion in mental health outpatient services within one year. There was a significant relationship between service costs and age, participant segmentation, number of diagnoses, outpatient visits frequency, advanced health facilities regional, advanced referral health facilities ownership, and chronic disease conditions. Conclusions: The highest costs were observed among the elderly and in Regional 1, reflecting a concentration of services and better access. These findings highlight the importance of equitable distribution and need-based approaches in mental health service financing.
Background: Mental health disorders present a significant global economic burden, with projected losses reaching USD 6 trillion by 2030. In Indonesia, the estimated annual direct cost may reach IDR 87.5 trillion if all individuals with mental disorders undergo routine treatment. Objective: To identify the total cost and factors associated with mental health service expenditures in outpatient care at advanced referral health facilities (FKRTL) for JKN participants. Methods: This study uses cross-sectional design using the 2024 BPJS Kesehatan Sample Data. Univariate and bivariate analyses were conducted on 785,150 active mental health service users. Results: BPJS Kesehatan covered a total of IDR 3.4 trillion in mental health outpatient services within one year. There was a significant relationship between service costs and age, participant segmentation, number of diagnoses, outpatient visits frequency, advanced health facilities regional, advanced referral health facilities ownership, and chronic disease conditions. Conclusions: The highest costs were observed among the elderly and in Regional 1, reflecting a concentration of services and better access. These findings highlight the importance of equitable distribution and need-based approaches in mental health service financing.
S-12051
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadia Fourina Surya; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji:Vetty Yulianty Permanasari, Donny Hendrawan
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Berdasarkan data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), talasemia sudah ditetapkan sebagai penyakit katastropik kelima setelah jantung, kanker, strok, dan gagal ginjal Tujuan: Mengetahui biaya perawatan peserta JKN penderita talasemia di Indonesia dalam satu tahun dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya perawatan tersebut. Metode: penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan analisis univariat, bivariate, dan multivariate. Sampel penelitan ini ialah pasien talasemia yang terdaftar sebagai peserta JKN berdasarkan data BPJS Kesehatan 2019-2020. Hasil: BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 564,780,608,656.64 untuk pengobatan pasien talasemia dalam satu tahun. Faktor yang berpengaruh terhadap biaya perawatan pasien talasemia yaitu jenis kelamin, umur, tingkat kunjungan RITL, riwayat komplikasi dan komorbiditas, jenis talasemia, dan obat kelasi besi (p-value < 0,05). Kesimpulan: Pengobatan talasemia membutuhkan biaya yang besar dengan prediktor utama biaya perawatan talasemia adalah penggunaan obat kelasi besi.
Background: Based on data from the National Health Insurance (JKN), thalassemia has been designated as the fifth catastrophic disease following heart disease, cancer, stroke and kidney failure. Objective: To find out the cost of treating JKN participants with thalassemia in Indonesia in one year period and the factors associated with the cost of the treatment. Methods: a cross-sectional study design using univariate, bivariate, and multivariate analysis. The study sample is thalassemia patients who are registered as JKN participants based on BPJS Health data for 2019-2020. Result: BPJS Health spends a budget of Rp. 564,780,608,657 for the treatment of thalassemia patients in one year. Factors related to the cost of treating thalassemia in JKN participants are gender, age, treatment class, outpatient visits, inpatient visits, case severity, type of thalassemia and the use of iron chelation drugs. Conclusion: Treatment of thalassemia requires a large amount of money and the main predictor of thalassemia treatment costs is the use of iron chelation drugs.
S-11214
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
