Ditemukan 33387 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Laudita Syafa Kamila; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Read More
Indeks kepadatan kecoa yang tinggi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Terminal Y Bandara X, khususnya pada September 2025, menunjukkan kondisi yang melebihi standar baku mutu kesehatan lingkungan (SBMKL) yaitu <2, sehingga dapat mengindikasikan adanya permasalahan sanitasi dan peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kecoa merupakan vektor mekanik berbagai patogen yang berpotensi mencemari pangan dan menularkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan, meliputi faktor fisik lingkungan berupa suhu, kelembapan, dan pencahayaan, serta faktor sanitasi berupa saluran air limbah, dinding, lantai, tempat sampah, penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan, serta langit-langit dengan indeks kepadatan kecoa di TPP Terminal Y Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung kondisi sanitasi lingkungan, pengukuran faktor fisik lingkungan, serta pengukuran indeks kepadatan kecoa menggunakan sticky trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu (p=0,002; OR=8,1), pencahayaan (p=0,000; OR=12,4), saluran air limbah (p=0,000; OR=12,0), tempat sampah (p=0,003; OR=5,712), serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan (p=0,000; OR=25,2). Sementara itu, kelembapan, dinding, lantai, dan langit-langit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan indeks kepadatan kecoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu, pencahayaan, saluran air limbah, tempat sampah, serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kecoa di TPP Terminal Y Bandara X melalui perbaikan sanitasi dan pengendalian kondisi lingkungan secara berkelanjutan.
High cockroach density in food handling facilities (TPPs) at Terminal Y, Airport X, particularly in September 2025, significantly exceeded the environmental health quality standard (SBMKL) of <2, indicating potential sanitation problems and increased public health risks. Cockroaches are mechanical vectors of various pathogens that may threaten food safety and contribute to disease transmission. This study aimed to analyze the relationship between environmental conditions, including physical environmental factors such as temperature, humidity, and lighting, as well as sanitation factors such as wastewater drainage, walls, floors, trash cans, food/non-food storage and equipment, and ceilings, with cockroach density in food handling facilities at Terminal Y, Airport X. This study used a quantitative observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through direct observation of environmental sanitation, measurement of physical environmental factors, and assessment of cockroach density using sticky traps. The results showed a significant relationship between temperature (p=0.002; OR=8.1), lighting (p=0.000; OR=12.4), inadequate wastewater drainage (p=0.000; OR=12.0), improper food/non-food storage and equipment arrangement (p=0.000; OR=25.2), and poor trash management (p=0.003; OR=5.712). However, humidity, walls, floors, and ceilings did not show a statistically significant relationship with cockroach density. These findings indicate that temperature, lighting, wastewater drainage, trash management, and food/non-food storage and equipment arrangement are important factors in cockroach control in food handling facilities, and improvements in sanitation and environmental control are necessary to reduce environmental health risks at Airport X.
S-12235
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Azizah Meutia Putri Ianam; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Zakianis, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Read More
Kecoa merupakan vektor mekanik yang dapat mengontaminasi pangan dan menjadi indikator kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik. Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di bandara perlu mendapat perhatian karena berperan dalam penyediaan pangan bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi dan berada pada area yang membutuhkan pengawasan sanitasi ketat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi karyawan dengan tingkat kepadatan kecoa di TPP Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 59 TPP di Terminal Y Bandara X dengan 118 responden karyawan. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi, observasi langsung praktik sanitasi menggunakan checklist, serta pengukuran kepadatan kecoa menggunakan sticky trap selama 24 jam. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square serta perhitungan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik sanitasi berdasarkan kuesioner tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. Sebaliknya, praktik sanitasi berdasarkan observasi berhubungan signifikan dengan tingkat kepadatan kecoa. TPP dengan praktik sanitasi observasional kurang baik memiliki peluang 12,571 kali lebih besar untuk mengalami kepadatan kecoa tinggi dibandingkan TPP dengan praktik sanitasi observasional baik (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sanitasi aktual di lapangan lebih berkaitan dengan kepadatan kecoa dibandingkan praktik yang dilaporkan melalui kuesioner. Pengendalian kecoa perlu difokuskan pada perbaikan sanitasi aktual, penguatan pengawasan, evaluasi program pengendalian vektor secara berkala, dan peningkatan keterlibatan karyawan dalam menjaga sanitasi lingkungan kerja secara konsisten.
Cockroaches are mechanical vectors that could contaminate food and indicate poor environmental sanitation. Food premises in airport areas require particular attention because they provide food services for populations with hight mobility and operate in setting requiring strict sanitation control. This study aimed to analyse the association between employees’ knowledge, attitudes, and sanitation practices and cockroach density in food premises of Airport X. A cross-sectional study was conducted in 59 food premises at Terminal Y of Airport X, involving 118 employee respondents. Data were collected using questionnaires to assess knowledge, attitudes, and sanitation practices, direct observation of sanitation practices using a checklist, and cockroach density measurement using sticky traps installed 24 hours. Data were analysed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test and odds ratio calculation. The result showed that knowledge, attitudes, and questionnaire-based sanitation practices were not significantly associated with cockroach density. In contrast, observed sanitation practices were significantly associated with cockroach density. Food premises with poor observed sanitation practices had 12,571 times higher odds of having cockroach density than those with good observed sanitation practices (OR = 12,571; 95% CI = 3,658–43,199; p < 0,001). These findings suggest that actual sanitation practices are more closely related to cockroach density than practices reported through questionnaires. Cockroach control should focus on improving actual sanitation practices, strengthening supervision, evaluating vector control programs regularly, and increasing employees’ involvement in maintaining workplace sanitation consistently.
S-12237
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zihan Kamila Maharani; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Indry Octavia
Abstrak:
Read More
Penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit masih banyak ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kebersihan diri yang rendah, termasuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan pada warga binaan LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 31 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara lama masa tinggal dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan, diare, dan ISPA (p≤0,05). Disarankan adanya peningkatan edukasi terkait kebersihan diri dan perbaikan sanitasi lingkungan di LPKA guna menurunkan risiko penyakit.
Environmental-based diseases are often found in environments with poor sanitation and low personal hygiene, including in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). This study aims to examine the relationship between personal hygiene, environmental sanitation conditions, and housing density with the incidence of environmentally based diseases among the residents of LPKA Kelas II Jakarta. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 participants selected using a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, and analyzed using the chi-square test. The results showed a significant relationship between length of stay and the incidence of environmentally based diseases, including diarrhea and acute respiratory infections (p≤0.05). It is recommended to enhance education on personal hygiene and improve environmental sanitation in LPKA to reduce disease risk.
S-11916
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hizrah Harianto Sembiring; PembimbingL: Ema Hermawati; Ririn Arminsih, Laila Fitria, Sugeng Hidayat, Eman Prasetyo
Abstrak:
Asma merupakan gangguan inflamasi kronis di jalan napas dengan prevalensi yang cukup tinggi. Asma dapat terjadi pada semua usia, diperkirakan 300 juta orang menderita asma diseluruh dunia dan tahun 2025 diperkirakan mencapai 400 juta pasien asma. Prevalensi asma di Provinsi Kalimantan Tengah melebihi angka nasional dan kota Palangkaraya termasuk daerah dengan prevalensi asma tertinggi. Prevalensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan serta lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kepadatan kecoa di rumah tangga dan faktor risiko lainnya yang dapat memicu asma. Penelitian menggunakan desain Case control. Sampel terdiri dari 58 sampel untuk kasus dan 58 sampel untuk kontrol berusia 12-45 tahun. Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian asma adalah kepadatan kecoa, riwayat atopi, sensitifitas terhadap makanan, polusi udara, kondisi cuaca, kondisi sanitasi rumah tangga, jarak rumah dari jalan raya dan memiliki hewan peliharaan. Sedangkan karakteristik individu seperti pendidikan, pekerjaan serta jenis bahan bakar memasak tidak berhubungan dengan kejadian asma. Kesimpulannya tingkat kepadatan kecoa berhubungan dengan kejadian asma setelah dikontrol variabel karakteristik individu dan faktor lingkungan. Penderita agar menjaga kebersihan dan sanitasi rumah yang baik, sehingga tidak menjadi habitat perkembangbiakan vektor kecoa dan sedapat mungkin menghindari faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya asma. Kata kunci: asma; kepadatan kecoa; faktor risiko Asthma is a chronic inflammatory disease in the airways with highly prevalence. Asthma can occur at any age, 300 million people estimated suffering asthma in the world and by 2025 there will be 400 million. Asthma prevalence in Central Kalimantan Province exceeds the national number. Furthermore, Palangkaraya is the highest one. The prevalence of asthma is influenced by many factors such as heredity and the environment. This research aimed to analyze the relationship of cockroach density in households and other risk factors that can trigger asthma. This research is using Case control design which consisted of 58 samples for the cases and 58 samples for the controls aged 12-45 years. Results showed cockroach density, atopy history, food sensitivity, air pollution, weather, household sanitation conditions, home distance from highways and pet ownership were associated with the incidence of asthma. While education, occupation and types of cooking fuel were not associated. In conclusion, the cockroach density is related to the incidence of asthma after controlled by variable characteristics of individuals and environmental factors. Patient is sugessted to maintain good hygiene and sanitation, so would not become the habitat of cockroach and avoid risk factors that can trigger asthma. Keywords : asthma; cockroach density; risk factor
Read More
T-4851
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hanna Pratiwi; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
Abstrak:
Bandara memiliki peran yang sangat penting untuk mencegah transmisi berbagai penyakit yang mungkin terjadi. Salah satu fasilitas penunjang di Bandara berupa restoran. Higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan restoran di Bandara perlu mendapatkan pengawasan untuk mencegah kejadian foodborne disease. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kondisi higiene perorangan dan sanitasi pengelolaan makanan terhadap kualitas bakteriologis makanan (Escherichia coli) restoran di Bandara Soekarno-Hatta tahun 2014. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan total sampel sebanyak 90 restoran di Bandara Soekarno-Hatta. Hasil penelitian menujukan bahwa sebagian besar makanan restoran tidak terkontaminasi E. coli (95,6 %). Dari sembilan variabel dalam sanitasi fisik, terdapat tujuh variabel yang memenuhi syarat, yaitu lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, gudang bahan makanan, dapur, dan ruang makan, bahan makanan dan makanan jadi, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi, serta penyajian makanan. Variabel sanitasi alat sebagian besar memenuhi syarat, sesuai dengan kualitas bakteriologis alat yang tidak terkontaminasi E. coli pada sebagian besar sampel usap alat. Sedangkan, variabel higiene tenaga kerja sebagian besar tidak memenuhi syarat, namun tidak ditemukan E. coli pada sebagian besar sampel usap tangan penjamah. Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
Read More
Kata kunci : Sanitasi, higiene, Escherichia coli, makanan
S-8772
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Metha Hartanti; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Atang Saputra
S-8600
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mariana Ivoretty Sandra; Pembimbing: Dewi Susana; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Rina Fitriani Bahar
S-6412
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Johanna Hasian Beatrice; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Windriyani
Abstrak:
Read More
Para pekerja stasiun umumnya bekerja selama 8 jam atau lebih di lingkungan di mana kebisingan merupakan faktor risiko kesehatan yang signifikan. Paparan kebisingan yang berkepanjangan telah terbukti berdampak pada kesehatan pekerja, baik dalam aspek pendengaran maupun non-pendengaran. Salah satu efek non-pendengaran adalah hipertensi, suatu kondisi yang sering disebut sebagai "Silent Killer" karena sifatnya yang tanpa gejala. Pekerja dengan hipertensi menjadi lebih berisiko terhadap kondisi fatal seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kebisingan dengan tekanan darah pada petugas Stasiun Jatinegara, stasiun yang berlokasi di wilayah administrasi Jakarta Timur. Penelitian juga dilengkapi dengan analisis terhadap variabel kovariat kelompok karakteristik individu serta perilaku/gaya hidup. Penelitian ini menyertakan sampel sebesar 91 pekerja (formal dan non-formal). Data yang digunakan bersifat primer, termasuk pengukuran kebisingan tekanan darah, antropometri, dan pengisian kuesioner. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-square, dihasilkan hubungan yang signifikan antara kebisingan (p-value = 0.007), usia (p-value = 0.002), riwayat hipertensi keluarga (p-value = 0.008), masa kerja (p-value = 0.002), obesitas (p-value = 0.007), dan aktivitas fisik intensitas sedang (p-value = 0.038). Penelitian ini menyatakan bahwa pekerja yang menghabiskan waktu pada area dengan kebisingan ≥80 dBA berisiko 3 kali lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan pekerja yang bekerja pada area
Station workers generally work for 8 hours or more in environments where noise is a significant health risk factor. Prolonged exposure to noise has been shown to impact workers’ health, both in auditory and non-auditory aspects. One of the non-auditory effects is hypertension, a condition often referred to as the “silent killer” due to its asymptomatic nature. Workers with hypertension are at higher risk of fatal conditions such as heart disease, kidney disease, and even death. This study aims to determine the relationship between noise levels and blood pressure among Jatinegara Station workers, a station located in the East Jakarta administrative area. The study also includes an analysis of covariate variables, including individual characteristics and behavior/lifestyle groups. This study included a sample of 91 workers (formal and non-formal). The data used are primary, including blood pressure noise measurements, anthropometry, and questionnaires. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test, resulting in a significant relationship between noise (p-value = 0.007), age (p-value = 0.002), family history of hypertension (p-value = 0.008), length of service (p-value = 0.002), obesity (p-value = 0.007), and moderate intensity physical activity (p-value = 0.038). This study states that workers who spend time in areas with noise ≥80 dBA have a 3 times higher risk of experiencing increased blood pressure than workers who work in areas
S-12232
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erza Nur Afrilia; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Rina Fithri Anni
S-9100
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ii Sumarni; Pembimbing: Dewi Susanna, Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Endah Kusumowardani, Casuli
T-3934
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
