Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39770 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Wina Syahira; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan gangguan gastrointestinal yang setiap tahunnya terdapat sekitar 1 juta orang meninggal melalui air minum dan sanitasi tidak aman. Rumah tangga dengan akses sumber air minum layak pada 2025 hanya 93,22% dari target nasional 100% pada 2024. Diare konsisten berada dalam 10 penyakit tertinggi di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (kualitas mikrobiologi E. coli, jenis sumber air minum, lokasi sumber air minum, jarak sumber air minum dengan sumber pencemar, dan jenis tempat penyimpanan air minum), faktor perilaku (pengolahan air minum), dan faktor sosiodemografi (pendidikan, usia, dan pekerjaan) dengan kejadian diare di Kota Depok 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT). Analisis data mencakup univariat, bivariat dengan Chi-Square, dan multivariat dengan regresi logistik. Ditemukan hubungan antara kualitas mikrobiologis (E. coli) (p=0,026) dan jarak sumber air dengan septik tank (p=0,030) terhadap kejadian diare di Kota Depok. Kualitas mikrobiologis merupakan faktor dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi air yang tidak memenuhi syarat memiliki peluang kejadian diare 1,97 kali dibandingkan dengan rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi yang memenuhi syarat (95%CI:1,133–3,435). Diperlukan kerjasama berbagai pihak dalam penyelenggaraan edukasi, pengawasan kualitas air minum, serta sanitasi aman.

Diarrhea is a gastrointestinal disorder that claims the lives of approximately 1 million people each year due to unsafe drinking water and sanitation. By 2025, only 93.22% of households have access to safe drinking water, falling short of the national target of 100% by 2024. Diarrhea consistently ranks among the top 10 diseases in Depok City. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (microbiological quality of E. coli, drinking water source, location of the drinking water source, distance between the drinking water source and pollution sources, and drinking water storage), behavioral factors (drinking water treatment), and sociodemographic factors (education, age, and occupation) and the incidence of diarrhea in Depok City in 2025. The study used a cross-sectional design with secondary data from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). Data analysis included univariate, bivariate analysis using the Chi-Square test, as well as multivariate analysis using logistic regression. Results showed an association between microbiological quality (E. coli) (p=0.026) and the distance between water source and the septic tank (p=0.030) and the incidence of diarrhea in Depok City. Microbiological quality was the most dominant factor influencing the incidence of diarrhea. Households with microbiological quality that do not meet standards had 1.97 times higher odds of experiencing diarrhea compared to households with microbiological quality that meets the standards (95%CI:1,133–3,435). Collaboration among various stakeholders is needed to provide education, monitor drinking water quality, and ensure safe sanitation regarding septic tanks.
Read More
S-12259
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Haryani; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Ikha Purwandari
Abstrak:
Diare dapat didefinisikan sebagai buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali per hari yang ditandai dengan tinja cair sebagai gejala infeksi saluran usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus atau parasit yang dapat menyebar melalui air minum yang tidak layak atau tidak aman, makanan yang terkontaminasi serta perilaku higiene yang buruk. Di Kota Depok, kejadian diare masih ditemukan selama periode 2021-2024 sehingga kualitas air minum rumah tangga perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare pada anggota rumah tangga di Kota Depok menggunakan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga tahun 2024 dengan desain studi cross-sectional serta melibatkan 505 responden. Analisis data yang digunakan berupa distribusi frekuensi dan uji chi-square dengan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata parameter Escherichia coli sebesar 2,48±12,79 CFU/100mL dan rata-rata pH sebesar 6,72±1,139. Sebagian besar sampel tidak terkontaminasi Escherichia coli (86,7%). Pada parameter kimia, mayoritas sampel memenuhi syarat, namun parameter kromium valensi 6 didominasi kategori tidak memenuhi syarat (94,9%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas air minum parameter mikrobiologi dan kimia dengan kejadian diare (p=0,629 dan p=1,000). Faktor sanitasi lingkungan, kondisi sarana air minum, pengolahan air minum, serta faktor sosiodemografi juga tidak berhubungan dengan kejadian diare. Upaya promotif dan preventif terkait air minum aman serta perilaku hidup bersih dan sehat perlu terus ditingkatkan.

Diarrhea is defined as defecation occurring more than three times per day with loose  or watery stools as a symptom of intestinal infection caused by various bacteria,  viruses, or parasites that may spread through unsafe drinking water, contaminated  food, and poor hygiene practices. In Depok City, diarrhea cases were still reported  during the 2021–2024 period, indicating that household drinking water quality  remains an important public health concern. This study aimed to analyze the  association between microbiological and chemical parameters of drinking water  quality and the incidence of diarrhea among household members in Depok City  using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance. This  study employed a cross-sectional design involving 505 respondents. Data were  analyzed using frequency distribution and chi-square test with Fisher’s Exact test.  The results showed that the mean concentration of Escherichia coli was 2.48±12.79  CFU/100mL, while the mean pH value was 6.72±1.139. Most drinking water  samples were not contaminated with Escherichia coli (86.7%). For chemical  parameters, the majority of samples met the required standards; however,  hexavalent chromium was predominantly categorized as not meeting the standards  (94.9%). Statistical analysis showed no significant association between  microbiological and chemical drinking water quality parameters and diarrhea  incidence (p=0,629 and p=1,000). Environmental sanitation factors, drinking water  facility conditions, water treatment practices, and sociodemographic factors were  also not associated with diarrhea incidence. Therefore, promotive and preventive  efforts regarding safe drinking water and clean and healthy living behaviors should continue to be strengthened.
Read More
S-12245
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reviona Wardani Arbi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan berbasis lingkungan yang berkaitan dengan kualitas air minum dan sanitasi rumah tangga. Kontaminasi mikrobiologi pada air minum, terutama akibat pencemaran fekal, dapat meningkatkan risiko terjadinya diare. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga dengan kejadian diare di Kota Depok, dengan menggunakan pendekatan teori triad epidemiologi yang menekankan interaksi antara agent, host, dan environment dalam proses terjadinya penyakit. Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan memanfaatkan data sekunder SKAMRT Kota Depok tahun 2025. Variabel independen yang dianalisis yaitu kontaminasi mikrobiologi air minum, dan variabel confounding meliputi, sumber air minum, jarak sumur dengan septic tank, pengolahan air minum, dan perilaku pembersihan wadah air minum. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel jarak sumur dengan septic tank yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare (p = 0,03; OR = 2,41; 95% CI: 1,14–5,1). Analisis multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur dengan septic tank merupakan faktor dominan terhadap kejadian diare (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sanitasi lingkungan, khususnya jarak sumber air dengan septic tank, masih menjadi faktor penting dalam pencegahan diare di Kota Depok


Diarrhea remains one of the major environmental health problems associated with drinking water quality and household sanitation. Microbiological contamination in drinking water, particularly due to fecal pollution, may increase the risk of diarrheal disease. This study aimed to analyze the relationship between the microbiological quality of household drinking water and the incidence of diarrhea in Depok City using the epidemiological triad theory approach, which emphasizes the interaction between agent, host, and environment in the occurrence of disease. This study employed a case-control design utilizing secondary data obtained from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT) of Depok City in 2025. The independent variable analyzed was microbiological contamination of drinking water, while the confounding variables included drinking water source, distance between wells and septic tanks, drinking water treatment practices, and cleaning behavior of household water storage containers. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed that only the distance between wells and septic tanks had a significant association with diarrheal incidence (p = 0.03; OR = 2.41; 95% CI: 1.14–5.1). Multivariate analysis further indicated that the distance between wells and septic tanks was the dominant factor associated with diarrhea incidence (p = 0,022; OR = 0,415; 95% CI: 0,196–0,878). This study demonstrates that environmental sanitation factors, particularly the proximity of water sources to septic tanks, remain important determinants in diarrhea prevention efforts in Depok City.

Read More
S-12250
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummu Humairoh; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Persentase rumah tangga dengan akses air minum yang aman di Kota Depok baru menyentuh angka 49,37% di tahun 2023 dimana angka tersebut masih jauh dari target SDG’s (Sustainable Development Goals) yaitu 100% akses air minum aman sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai faktor risiko yang mempengaruhi Kualitas Mikrobiologi Air Minum di Kota Depok tahun 2023. Metode: Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Unit analisis yaitu rumah tangga dengan jumlah sampel yang dipilih sebanyak 321 sampel rumah tangga. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Sebagian besar rumah tangga di Kota Depok memiliki kualitas mikrobiologi air minum yang memenuhi syarat (54,20%) dengan persentase tidak memenuhi syarat tertinggi berada di kecamatan Tapos (62,5%) dan persentase yang memenuhi syarat tertinggi berada di Kecamatan Beji (71,4%). Faktor yang berhubungan signifikan terhadap kualitas mikrobiologi air minum adalah jarak sumber pencemar (tangki septik) dengan sarana/sumber air minum (p = 0,023), kerawanan banjir (p = 0,048) dan perilaku pengolahan air minum (p = 0,041). Kesimpulan: Kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok sebagian besar telah memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tangki septik dengan sarana air minum, kerawanan banjir, dan perilaku pengolahan air minum terhadap kualitas mikrobiologi air minum rumah tangga di Kota Depok dengan faktor risko yang paling dominan berhubungan adalah jarak tangki septik dengan sarana air minum. Saran: Pemerintah Kota Depok diharapkan memperkuat pengawasan air minum, memperbaiki drainase, dan memelihara situ. Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan dan mencegah pencemaran air, sementara penelitian lanjut mengkaji aspek yang mempengaruhi kualitas air dan dampaknya terhadap kesehatan.

Background: The percentage of households with access to safe drinking water in Depok City has only reached 49.37% in 2023, which is still far from the SDG's (Sustainable Development Goals) target, namely 100% access to safe drinking water, so research needs to be done regarding risk factors that influence the microbiological quality of drinking water in Depok City in 2023. Method: Using a cross sectional study design with a quantitative approach using secondary data from the Depok City Health Service. The unit of analysis is the household with a total of 321 household samples selected. Data processing uses the chi-square test and logistic regression. Results: The majority of households in Depok City have drinking water microbiological quality that meets the requirements (54.20%) with the highest percentage not meeting the requirements being in Tapos sub-district (62.5%) and the highest percentage meeting the requirements being in Beji sub-district ( 71.4%). Factors that are significantly related to the microbiological quality of drinking water are the distance of the pollutant source (septic tank) to drinking water facilities/sources (p = 0.023), flood vulnerability (p = 0.048) and drinking water treatment behavior (p = 0.041). Conclusion: The microbiological quality of household drinking water in Depok City largely meets the requirements. There is a significant relationship between the distance of a septic tank to drinking water facilities, flood vulnerability, and drinking water treatment behavior on the microbiological quality of household drinking water in Depok City with the most dominant risk factor related to this being the distance of the septic tank to drinking water facilities. Recommendation: The Depok City Government is expected to strengthen supervision of drinking water, improve drainage and maintain lakes. The public is also expected to maintain cleanliness and prevent water pollution, while research continues to examine aspects that influence water quality and its impact on health.
Read More
S-11775
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laura Dwi Pratiwi; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Ema Hermawati, Sukanda, Rr. Dian Novianti
Abstrak:
Di Kota Depok, diare merupakan 4 penyakit teratas diderita oleh balita. Salah satu faktor risiko penyakit diare adalah mengonsumsi air minum yang terkontaminasi tinja. Kontaminasi tinja dapat dilihat dari jumah kandungan bakteri E. coli dalam air minum rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kandungan Escherichia coli (E. coli) dalam air minum rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Kota Depok Penelitian merupakan studi cross-sectional dengan 300 responden di Kecamatan Sawangan, Kecamatan Cipayung dan Kecamatan Bojong Sari. Pengambilan sampel adalah total sampling dari data engambilan sampel air minum rumah tangga menggunakan metode SNI 3554:2015. Kandungan E. coli pada air minum rumah tangga diuji dengan menggunakan metode TPC (Total Plate Count). Kejadian diare yang dirasakan dalam 6 bulan terakhir pada balita didapatkan dengan wawancara terhadap ibu. Wawancara dan observasi dilakukan untuk mengetahui sanitasi, higiene dan karakteristik ibu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan E. coli dalam air minum rumah tangga yang tidak memenuhi syarat sejumlah 174 Sarana jamban keluarga, kondisi sumber air bersih, penyimpanan air minum, pengelolaan sampah rumah tangga, usia ibu dan pendidikan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare balita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rumah tangga dengan kandungan bakteri E. coli dalam air minum tidak memenuhi syarat dan menerapkan CTPS berisiko 0,9 kali mengalami diare pada balita. Rumah tangga dengan kandungan bakteri E. coli dalam air minum tidak memenuhi syarat dan tidak menerapkan CTPS berisiko 3,7 kali mengalami diare pada balita

H2S is dangerous compound that colorless and has smell like rotten egg. One of this compound source is produced from decomposition process in landfill. The most sensitive body system when exposed to H2S is respiratory system. This study aims to analyze the effect of H2S intake to respiratory symptoms at people living around the Cipayung Landfill. This study design uses cross sectional. Data collection was carried out by interview by questionnaire and measure  H2S ambient at 9 poimts locate aroundd community settlements. The result were found intake of H2S associated with respiratory symptoms (p value=0,012; OR=10,5; CI 95%=1,25-88,02). The result of multivariat analysis were found H2S intake influence respiratory symptoms after controlled by duration living variable (p value=0,026; OR=6,78; CI 95%= 1,612-64,572). It needs to measure routine H2S ambient and ensure that concentration was safe as well as proper management efforts from City Government of Depok, Cipayung Landfill and related stakeholders in order to reduce the health risk problems to the people living around Cipayung landfill.

Read More
T-5909
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.

Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
Read More
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Ririn Arminsih, Kuratul Aini
S-7728
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safa Nabilah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Muhammad Olik Abdul Holik
Abstrak: Escherichia coli merupakan bakteri yang umum digunakan sebagai parameter terkait cemaran tinja dan sanitasi. Keberadaan nitrat pada air juga menjadi salah satu indikator terkait sanitasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sanitasi dapat mempengaruhi konsentrasi TDS (Total Dissolve Solids) dalam air tanah. Adanya kandungan E .coli, nitrat, dan TDS berlebih dalam air tanah yang digunakan sebagai air minum rumah tangga dapat berdampak pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi rumah tangga dengan kualitas air minum rumah tangga bersumber air tanah berdasarkan parameter E .coli, nitrat, dan TDS. Kondisi sanitasi yang diteliti meliputi 7 aspek, yaitu sarana buang air besar, tempat pembuangan akhir tinja, jarak tempat pembuangan akhir tinja, tempat pembuangan sampah rumah tangga, jarak TPS/TPA terdekat, sarana pembuangan limbah cair rumah tangga, serta jarak sarana pembuangan limbah cair rumah tangga. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan metode cross sectional. Analisis dilakukan dengan uji univariat dan uji bivariat menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara tempat pembuangan akhir tinja dengan kandungan TDS (p=0.086), tempat pembuangan sampah dengan cemaran E. coli (p=0.054), dan jarak TPS/TPA terdekat dengan kandungan TDS (p=0.061). Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis lebih lanjut mengenai keterkaitannya dengan kesehatan.
Escherichia coli is a commonly used bacteria as a parameter related to fecal contamination and sanitation. The presence of nitrate in water is also an indicator related to sanitation. Several studies show that sanitation can affect concentration of TDS (Total Dissolve Solids) in groundwater. So, the presences of E. coli, nitrate, and TDS in groundwater that used as daily needs household drinking water can affect human health. This study aims to analyze the relationship between seven household sanitation conditions and the quality of household drinking water from groundwater based on the presence of E. coli, nitrate, and TDS as the parameters. The sanitation conditions include 7 aspects, such as defecation facilities, faecal disposal sites, the distance between feces disposal sites and drinking water sources, household waste disposal sites, the distance between household and temporary storage sites (TPS)/Final Processing Sites (TPA), household waste water disposal facilities, and the distance between household waste water disposal facilities and drinking water source. This research uses secondary data with a cross sectional analysis method. The analysis was carried out with univariate test and bivariate test using chi square test with a confidence level of 90%. The research results showed that there was significant relations between faecal disposal sites and TDS (p=0.086), waste disposal sites and E. coli (p=0.054), the distance to the nearest waste disposal sites and TDS. Therefore, the suggestions for further researcher to analyze the relations with health.
Read More
S-11747
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zilfia Adrianti; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Juri Hendrajadi, Abdur Rahman
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan gizi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dan menimbulkan dampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan perekonomian. Salah satu penyebab stunting yaitu terjadinya infeksi berulang. Infeksi terjadi dapat disebabkan oleh air minum yang dikonsumsi telah terkontaminasi oleh bakteri Eschericia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) pada air minum dengan kejadian stunting anak usia 12 – 59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian sebanyak 76 di wilayah kerja Puskesmas Aia Gadang yang terdiri dari 38 kasus dan 38 kontrol. Pengumpulan data penelitian dengan menggunakan compact dry EC dan membrane filter untuk kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) dan juga menggunakan kuisioner serta dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) air minum (OR=3,222; 95%CI:1,207-8,6), buang air besar sembarangan (OR=3,222 ; 95%CI:1,207-8,6) dan cuci tangan pakai sabun (OR=4,694; 95%CI:1,784-12,351) berhubungan dengan kejadian stunting anak usia 12-59 bulan. Kualitas mikrobiologi (Eschericia coli) air minum anak usia 12-59 bulan yang tidak memenuhi standar baku mutu berpeluang mengalami kejadian stunting 3,997 Kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 12-59 bulan yang memiliki kualitas mikrobiologi air minum (Eschericia coli) memenuhi standar baku mutu setelah dikontrol variabel cuci tangan pakai sabun. Kata kunci : Stunting, Eschericia coli ,air minum

Stunting is a nutrition problem that affects growth and development and has an impact on the quality of human resources and economy. One of the causes of stunting is repeated infections. Infection can occur because the drinking water consumed has been contaminated Eschericia coli . This study aims to determine the relationship between microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water and the stunting in children aged 12 – 59 mounths. Thie study is an observational analytic research with a case control study design. The research sample was 76 in Puskesmas Aia Gadang consist of 38 cases and 38 controls. The data was collected using compact dry EC and membrane filter for microbiology quality (Eschericia coli) and quistionnaires and analyzed using chi square test and logistic regression. The results showed that the microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water (OR=3,222; 95%CI:1,207-8,6), open defecation (OR=3,222 ; 95%CI:1,207-8,6) and hand washing using soap (OR=4,694; 95%CI:1,784-12,351) associated with stunting in children aged 12-59 mounths. The Microbiological quality ( Eschericia coli) in drinking water children aged 12-59 mounths who do not qualified is 3,997 times higher risk of experiencing stunting than chikdren aged 12-59 mounths whose Microbiological quality ( Eschericia coli) qualified after controlling variable hand washing using soap . Keywords : Stunting, Eschericia coli, drinking water
 
Read More
T-7098
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha Shaka Maritza; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Fakhry Muhammad
Abstrak:
Kualitas air minum rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan kesehatan masyarakat dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 6.1.1 terkait akses air minum aman. Kota Bogor merupakan wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan penggunaan sumber air minum beragam yang berpotensi memiliki resiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air minum rumah tangga dan menganalisis hubungan patameter mikrobiologi, fisik, kimia, jenis sumber air minum, pengolahan, dan wadah penyimpanan air minum terhadap kualitas air minum rumah tangga di Kota Bogor. Desain studi penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder SKAM-RT 2024 dengan besar sampel 259 rumah tangga. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar rumah tangga memiliki kualitas air minum yang tidak aman (94,2%), dengan parameter kimia yang tidak memenuhi syarat (92,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa parameter mikrobiologi (p=0,008), parameter fisik (p=0,013), dan parameter kimia (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas air minum rumah tangga. Sementara itu, jenis sumber air minum, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum tidak terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan kualitas air minum rumah tangga serta edukasi masyarakat terkait pengelolaan air minum dan higiene sanitasi untuk mencegah kontaminasi air minum di tingkat rumah tangga. 

Household drinking water quality is an important indicator for determining public  health in achieving Sustainable Development Goal (SDG) 6.1.1 regarding access to  safely managed drinking water. Bogor City is an urban area with high population  density and diverse drinking water sources that may increase the risk of water  contamination. This study aimed to describe the quality of household drinking  water and analyze the relationship between microbiological, physical, and chemical  parameters, types of drinking water sources, water treatment methods, and drinking  water storage containers with household drinking water quality in Bogor City. This  research employed a quantitative descriptive study with a cross-sectional design  using secondary data from SKAM-RT 2024, involving 259 households as samples.  The univariate analysis showed that most households had unsafe drinking water  quality (94.2%), with chemical parameters failing to meet the required standards  (92.7%). The bivariate analysis indicated that microbiological parameters  (p=0.008), physical parameters (p=0.013), and chemical parameters (p=0.000) were  significantly associated with household drinking water quality. Meanwhile, the type  of drinking water source, drinking water treatment, and drinking water storage  containers were not significantly associated with household drinking water quality.  Therefore, improved monitoring of household drinking water quality and public  education regarding drinking water management and sanitation hygiene are needed  to prevent drinking water contamination at the household level. 
Read More
S-12243
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive