Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41741 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aulia Safitri Hanifa; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Puput Oktamianti, Wahyu Septiono, Aries Hamzah
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dengan tingginya kesenjangan pada setiap tahapan kaskade perawatan, mulai dari prevalensi hingga pengendalian tekanan darah. Kesenjangan tersebut dipengaruhi oleh determinan biologis, perilaku, dan sosial, baik pada tingkat individu maupun wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan biologis, perilaku, dan sosial terhadap kaskade perawatan hipertensi di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023. Populasi penelitian adalah individu usia ≥25 tahun di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan multilevel untuk menilai hubungan determinan tingkat individu dan tingkat kabupaten/kota terhadap prevalensi, kesadaran, pengobatan, dan pengendalian hipertensi. Determinan tingkat individu meliputi determinan biologis dan perilaku, serta determinan sosial. Determinan tingkat kabupaten/kota meliputi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), cakupan wilayah per Puskesmas, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa pada prevalensi hipertensi determinan tingkat individu menjadi prediktor utama, dengan hampir seluruh determinan biologis, perilaku, dan sosial menunjukkan adanya hubungan, kecuali kepemilikan asuransi kesehatan. Sementara itu, pada tahap kesadaran dan pengobatan hipertensi, selain determinan individu, determinan tingkat kabupaten/kota juga ikut berkontribusi. Kemudian, pada tahap pengendalian hipertensi determinan individu kembali menjadi prediktor utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran dan pengobatan dipengaruhi oleh determinan akses dan infrastruktur di tingkat kabupaten/kota, sedangkan prevalensi dan pengendalian lebih dipengaruhi determinan yang melekat pada tingkat individu. Penguatan deteksi dini, kontinuitas layanan kesehatan, serta intervensi berbasis sosial dan perilaku diperlukan untuk meningkatkan pengendalian hipertensi di Indonesia.

Hypertension remains a major public health problem in Indonesia, characterized by substantial gaps across each stage of the hypertension care cascade, from prevalence to blood pressure control. These gaps are influenced by biological, behavioral, and social determinants at both the individual and regional levels. This study aimed to analyze the association between biological, behavioral, and social determinants and the hypertension care cascade in Indonesia in 2023. The study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey and Statistics Indonesia. The study population consisted of individuals aged ≥25 years in Indonesia. A multilevel analysis approach was employed to assess the association of individual and district level determinants with hypertension prevalence, awareness, treatment, and control. Individual level determinants included biological, behavioral, and social factors. District-level determinants included the Human Development Index (HDI), Puskesmas coverage area, and regional gross domestic product (RGDP) per capita. The main findings showed that individual level determinants were the primary predictors of hypertension prevalence, with almost all biological, behavioral, and social determinants demonstrating significant associations, except health insurance ownership. Meanwhile, at the awareness and treatment stages, district level determinants also contributed alongside individual level factors. At the hypertension control stage, individual level determinants again emerged as the main predictors. This study concludes that awareness and treatment are influenced by access and infrastructure related determinants at the district level, whereas prevalence and control are more strongly affected by determinants inherent to the individual level. Strengthening early detection, ensuring continuity of healthcare services, and implementing social and behavioral interventions are necessary to improve hypertension control in Indonesia.
Read More
T-7514
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosita Marzuki; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Tepy Usia, Sudibyo Supardi
T-3743
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puhilan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Sunardi, Regina TS
Abstrak:

Abstrak

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan oleh nyamuk.Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) merupakan salah satu program pencegahan filariasis.Cakupan Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis dari tahun 2005-2009 berkisar antara 28% -59,48%. Persentase kasus klinis yang ditatalaksana berkisar antara 17%- 40%. Pencapaian ini belum mencapai target yang ditetapkan oleh WHO (85%).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis di 32 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectionaldengan pendekatan data ekologi. Penelitian ini dilaksanakan terhadap Kabupaten/kota di Indonesia yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filarisis. Berdasarkan laporan pemeriksaan mikrofilaria dalam darah hasil dari Subdit Pencegahan Filariasis dan Kecacingan Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2012 terhadap kabupaten/kota yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis selama lima tahun yang diberikan sekali dalam setahun. Analisis data menggunakan cox regression.

Hasil analisis diperoleh prevalensi kabupaten/kota cakupan pemberian obat kategori tinggi sebesar 85% dan berhasil dilakukan pemberantasan sebanyak 22 kabupaten/kota. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis sebesar 2,04 kali (PR = 2,04; 1,019-4,05), hasil uji multivariat menunjukkan cakupan pemberian obat massal kategori tinggi berpeluang berhasil dalam pemberantasan filariasis sebesar 1,591 kali (PR = 1,591; 0,561-4,512) setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan sex ratio. Dengan melakukan pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis yang diberikan satu tahun sekali selama lima tahun berturut-turut maka eliminasi filariasis di Indonesia dapat tercapai.


Filariasis (elephantiasis) is achronic infectious disease caused byfilarial worms and transmitted by mosquitoes. Mass Drug Administration Program (MDAP) is one of filariasis prevention programs. Filariasis Mass Drug Administration Program (MDAP) Coverage from 2005-2009 ranged from 28% - 59.48%. Percentage of clinical cases are administered ranged from 17% -40%. This achievement has not reached the assigned target by the WHO (85%0.

This study aims to determine the relationship coverage of mass drug administration against the success of the prevention of filariasis in Indonesia in 2012. This study was using a cross sectional design with ecological data approach. This study was conducted to district / city in Indonesia that have implemented Mass Drug Administration (MDA) filarisis prevention which is based on inspection reports of microfilariae in the blood in the districts / cities that have implemented preventive filariasis Mass Drug Administration for five years, given once a year. Data obtained from the Filariasis Prevention and Worm Sub Directorate - Directorate of Animal Disease Control Sourced , Directorate General of Disease Control and Enviromental Health, Ministry of Health in 2012. Data analysis using cox regression.

Results of analysis, the prevalence of the district/city high coverage of drug categories by 85% and successfull in preventing 22 districts/cities. This study showed that there are correlation of Mass Drug Administration against the success of filariasis prevention of 2.04 times(PR =2:04; 1.019 to 4.05), test showing the coverage of Mass Drug Administration likely to succeed in the high category for the prevention of filariasis 1,591 times (PR =1,591;0.561 to 4.512) after controlling variable level of education and sex ratio. By doing preventive filariasis Mass Drug Administration give nonce a year for five years regularly then the elimination of filariasis in Indonesia can be achieved.

Read More
T-3910
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristina; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Susilowati Herman
T-1543
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rabea Pengerti Jekti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo
T-1740
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resna Elni; Pembimbing: Buchari Lapau; Penguji: Syofyan Saad, Aminuddi Rasyad, Tri Yunis Miko Wahyono
T-1127
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alibbirwin; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo
T-1128
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sjamsul Ariffin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-1041
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Wulandari Ma'ruf; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Puput Oktamianti, Wahyu Septiono, Aries Hamzah
Abstrak:
Prevalensi Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 yang terus meningkat menjadikannya sebagai salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Keragaman kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan antar wilayah berpotensi menimbulkan variasi kejadian DM Tipe 2 yang dipengaruhi oleh determinan individu maupun kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan individu dan kontekstual terhadap kejadian DM Tipe 2 di Indonesia menggunakan pendekatan multilevel. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data Survei Kesehatan Indonesia dan Badan Pusat Statistik tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 15.303 responden dari 249 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan kabupaten/kota sebagai level kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan proporsi DM Tipe 2 sebesar 15,05% serta adanya variasi geografis antar kabupaten/kota, dengan wilayah risiko tinggi lebih banyak ditemukan di Indonesia bagian barat dan tengah. Determinan individu yang berhubungan dengan peningkatan odds kejadian DM Tipe 2 meliputi pertambahan usia (OR=1,01;95%CI:1,01–1,02), aktivitas fisik rendah (OR=1,34;95%CI:1,11–1,65), obesitas sentral (OR=1,17;95%CI:1,01–1,36), dan riwayat hipertensi (OR=1,28;95%CI:1,11–1,48). Sementara itu, determinan kontekstual tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik setelah mengontrol determinan individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa varaisi kejadian DM Tipe 2 dalam populasi penelitian lebih banyak dijelaskan oleh determinan individu dibandingkan determinan kontekstual. Oleh karena itu, penguatan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko metabolik melalui skrining obesitas sentral, hipertensi, dan gangguan glukosa darah perlu dioptimalkan untuk menurunkan beban DM Tipe 2 di Indonesia.

The increasing prevalence of Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) continues to rise and has  become a major public health challenge in Indonesia. Variations in social, economic, and health conditions across regions may contribute to geographic disparities in T2DM occurrence through both individual- and contextual-level determinant. This study aimed to examine the association between individual and contextual determinants of T2DM in Indonesia using a multilevel approach. A cross-sectional study was conducted using data from the 2023 Indonesia Health Survey and Statistics Indonesia. The study included 15,303 respondents from 249 districts. Data were analyzed using multilevel logistic regression with districts as the contextual level. The findings showed that the proportion of T2DM was 15.05%, with geographic variation observed across districts. Areas with a higher risk of T2DM were predominantly located in western and central Indonesia. Individual determinants associated with higher odds of T2DM included increasing age (OR=1.01;95%CI:1.01–1.02), low physical activity (OR=1.34;95%CI:1.11–1.65), central obesity (OR=1.17;95%CI:1.01–1.36), and a history of hypertension (OR=1.28;95%CI:1.11–1.48). In contrast, contextual determinants were not significantly associated with T2DM after adjustment for individual determinants. This study concludes that variation in T2DM occurrence was explained more by individual determinants than by the contextual determinants examined. Therefore, strengthening early detection and control of metabolic risk factors through screening for central obesity, hypertension, and abnormal blood glucose levels should be prioritized to reduce the burden of T2DM in Indonesia.
Read More
T-7531
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive