Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41458 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Simon Salim; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Sudarto Ronoatmodjo, Muhammad Yamin; Penguji: Besral, Helda, Nurhayati Adnan, Rita Damayanti, Antonia Anna Lukito, Chaerul Achmad
Abstrak:
Fibrilasi atrium (FA) merupakan kelainan irama jantung supraventrikular menetap yang paling sering dijumpai dan berkaitan dengan morbiditas yang tinggi, termasuk stroke, gagal jantung, serta penurunan kualitas hidup. Meskipun kualitas hidup telah diakui sebagai luaran klinis penting, penilaiannya dalam praktik sehari-hari masih terbatas karena penggunaan instrumen yang komprehensif memerlukan waktu dan sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediktif dengan sistem skoring guna mengestimasi risiko individu mengalami kualitas hidup rendah pada pasien FA di Indonesia. Penelitian prediktif multicenter ini melibatkan 300 pasien FA yang direkrut secara konsekutif dari enam rumah sakit rujukan tersier di Indonesia. Kualitas hidup dinilai menggunakan kuesioner Atrial Fibrillation Effect on Quality-of-Life (AFEQT), dengan skor 1 tahun bernilai negatif (−1,0). Nilai batas skor >0,15 menunjukkan sensitivitas 86,0% dan spesifisitas 44,5%, dengan likelihood ratio positif 1,55 dan negatif 0,31. Pasien dengan skor ≤0,15 berisiko rendah memiliki kualitas hidup rendah, sedangkan skor >0,15 berisiko tinggi memiliki kualitas hidup rendah. Kesimpulannya, model ini merupakan alat skrining praktis untuk mengidentifikasi pasien FA rawat jalan dengan risiko kualitas hidup rendah secara dini, sehingga mendukung pendekatan pelayanan yang lebih efisien dan berpusat pada pasien.

Atrial fibrillation (AF) is the most common sustained supraventricular cardiac arrhythmia and is associated with high morbidity, including stroke, heart failure, and reduced quality of life. Although quality of life has been recognized as an important clinical outcome, its assessment in daily practice remains limited because the use of comprehensive instruments requires time and resources. This study aims to develop a predictive model with a scoring system to estimate the individual risk of low quality of life in AF patients in Indonesia. This multicenter predictive study involved 300 AF patients recruited consecutively from six tertiary referral hospitals in Indonesia. Quality of life was assessed using the AFEQT questionnaire, with a score 1 year has negative value (−1.0). A cut-off score >0,15 showed a sensitivity of 86.0% and specificity of 44.5%, with a positive likelihood ratio of 1.55 and a negative likelihood ratio of 0.31. Patients with scores ≤0.15 had a low risk of low quality of life, whereas scores >0.15 had a high risk of low quality of life. In conclusion, this model is a practical screening tool to identify AF outpatients at risk of low quality of life early, thereby supporting a more efficient and patient-centered approach to care.
Read More
D-653
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Rizky Ardiansyah; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Rinni Yudhi Pratiwi
S-6563
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Witri Pratiwi; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Sudarto Ronoatmodjo, Amiliana Mardiani Soesanto; Penguji: Helda, Didi Danukusumo, Setyorini Irianti, Hawani Sasmaya Prameswari
Abstrak:
Peripartum cardiomyopathy (PPCM) merupakan penyakit kardiovaskular pada akhir kehamilan dan periode postpartum yang dapat menyebabkan komplikasi hingga kematian maternal apabila tidak dikenali dan ditangani secara dini. Data epidemiologi dan faktor-faktor determinan PPCM di Indonesia, khususnya di Kota dan Kabupaten Cirebon, masih terbatas. Selain itu belum tersedia sistem skoring risiko PPCM untuk deteksi dini ibu hamil dengan risiko PPCM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memetakan insidensi PPCM, menganalisis faktor-faktor determinan, serta mengembangkan sistem skoring untuk memprediksi risiko PPCM pada ibu hamil yang dapat diterapkan di fasilitas kesehatan primer. Penelitian ini menggunakan desain case control dengan rasio kasus dan kontrol 1: 4, serta dilakukan frequency matching berdasarkan tingkat pendidikan dan tempat tinggal ibu. Penelitian dilakukan di 4 rumah sakit dengan pelayanan kardiovaskular serta puskemas di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon. Data dikumpulkan dari rekam medis rumah sakit, data kohort ibu dan register persalinan di puskesmas, serta data dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten Cirebon pada periode tahun 2019–2024. Analisis data meliputi pemetaaan insidensi PPCM berdasarkan wilayah, analisis univariat dan bivariat menggunakan unconditional regresi logistik pada 3 kelompok kontrol, yaitu kontrol dari rumah sakit, puskesmas dan gabungan keduanya. Selanjutnya dilakukan analisis multivariat menggunakan Firth’s penalized logistic regression dan disusun sistem skoring untuk memprediksi risiko PPCM. Terdapat 23 kasus PPCM di Kota Cirebon (insidensi 78,44 per 100.000 persalinan) dan 157 kasus di Kabupaten Cirebon (insidensi 59,24 per 100.000 persalinan). Insidensi PPCM menunjukkan variasi spasial antar wilayah, dengan insidensi tinggi terkonsentrasi di wilayah selatan Kota Cirebon serta di bagian timur dan selatan Kabupaten Cirebon. Usia ibu  >35 tahun memiliki AOR 1,64 (95%CI 1,07–2,49), kehamilan kembar AOR 2,39 (95%CI 0,70–8,21), obesitas sebelum kehamilan AOR 1,71 (95%CI 1,06–2,78), hipertensi kronis AOR 15,31 (95%CI 6,29–37,26), hipertensi dalam kehamilan AOR 7,24 (95%CI 4,97–10,57) dan gestasional DM AOR 2,22 (95%CI 0,67–7,38). Skor risiko PPCM menunjukkan nilai AUC sebesar 0,798 (95%CI 0,762–0,834). Dengan cut-off ≥1, diperoleh sensitivitas sebesar 78,11% dan spesifisitas 70,4%. Usia ibu  >35 tahun, kehamilan kembar, obesitas sebelum kehamilan, hipertensi kronis, hipertensi dalam kehamilan dan gestasional DM merupakan faktor-faktor determinan terjadinya PPCM. Sistem skoring risiko PPCM yang dikembangkan (MOTHER Score) memiliki kemampuan diskrimiasi yang baik dalam memprediksi risiko PPCM pada ibu hamil.

Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is a cardiovascular disease occurring in late pregnancy and the postpartum period that may lead to complications and maternal mortality if not recognized and managed early. Epidemiological data and information on the determinants of PPCM in Indonesia, particularly in Cirebon City and Cirebon Regency, remain limited. In addition, no PPCM risk scoring system is currently available for early detection of pregnant women at risk. Therefore, this study aims to map the incidence of PPCM, analyze its determinant factors, and develop a risk scoring system to predict PPCM risk in pregnant women that can be applied in primary healthcare settings. This study was a case control study with a case-to-control ratio of 1:4, using frequency matching based on maternal education level and place of residence. The study was conducted in four hospitals with cardiovascular services and primary healthcare centers (Puskesmas) in Cirebon City and Cirebon Regency. Data were collected from hospital medical records, maternal cohort data and delivery registers at Puskesmas, and from the District Health Offices during the period 2019–2024. Data analysis included the mapping of PPCM incidence by region, univariate and bivariate analyses using unconditional logistic regression within three control groups: hospital, Puskesmas, and combined group. Multivariate analysis was performed using Firth’s penalized logistic regression, followed by the development of a risk scoring system to predict PPCM risk. There were 23 PPCM cases in Cirebon City (incidence 78.44 per 100.000 deliveries) and 157 cases in Cirebon Regency (incidence 59.24 per 100.000 deliveries). The incidence of PPCM showed spatial variation across regions, with higher incidence concentrated in the southern part of Cirebon City and the eastern and southern part of Cirebon Regency. Maternal age >35 years had an AOR of 1.64 (95% CI 1.07–2.49), multiple pregnancy AOR 2.39 (95% CI 0.70–8.21), pre-pregnancy obesity AOR 1.71 (95% CI 1.06–2.78), chronic hypertension AOR 15.31 (95% CI 6.61–41.04), hypertensive disorders of pregnancy AOR 7.43 (95% CI 6.29–37.26), and gestational DM AOR 2.22 (95% CI 0.67–7.38). The PPCM risk score demonstrated an AUC of 0.798 (95% CI 0.762–0.834). Using a cut-off of ≥1, the sensitivity was 78.11% and specificity was 70.4%. Maternal age >35 years, multiple pregnancy, pre-pregnancy obesity, chronic hypertension, hypertensive disorders of pregnancy, and gestational diabetes mellitus are the determinants of PPCM. The developed PPCM risk scoring system (MOTHER Score) demonstrated good discriminatory ability in predicting the risk of PPCM among pregnant women.
Read More
D-636
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rudyanto Sedono; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Ratna Djuwita, Made Wiryana; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Mardiati Nadjib, Syahrizal, Retno Wahyuningsih; Bachti Alisjahbana; Anis Karuniawati
Abstrak:
Latar Belakang: Mayoritas kandidiasis invasif pada pasien sakit kritis berkembang setelah masuk ke unit perawatan intensif. Penyebab paling umum dari penyakit jamur invasif adalah Candida yang merupakan organisme komensal dalam tubuh manusia tetapi dapat berubah menjadi patogen. Infeksi kandida diawali dengan peningkatan kolonisasi, perubahan bentuk dan produksi enzim yang merusak mukosa inang sehingga kandida dapat masuk ke jaringan tubuh atau pembuluh darah. Metode: Penelitian ini adalah studi observasional prospektif pasien sakit kritis yang dirawat di ruang intensif. Pengambilan sampel berupa darah, swab ketiak dan swab dubur diambil pada hari pertama, kelima, dan kesembilan. Data rekam medis dan biaya medis langsung dikumpulkan dari hari pertama penelitian hingga akhir penelitian. Analisis data menggunakan STATA. Hasil: Sebanyak 142 subjek direkrut dan 115 subjek dianalisis dalam penelitian ini. Analisis multivariat mengidentifikasi usia > 60 tahun, nutrisi parenteral >= 7 hari, CVC >= 10 hari, kortikosteroid, PCT hari ke-5, perubahan morfologi axilla dan swab rektal, dan perubahan morfologi dan peningkatan koloni Candida swab rektal hari ke-9 sebagai faktor risiko independen kandidiasis invasif. Faktor risiko ini dapat digunakan sebagai variabel sistem skoring berdasarkan RS tipe A dengan atau tanpa pemeriksaan mikologi dan RS tipe C. Pemberian obat antijamur lebih cost effective dibandingkan dengan tidak diberikan obat antijamur. Kesimpulan: Faktor risiko dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kandidiasis invasif, serta penggunaan sistem skoring dapat membantu dalam skrining diagnosis dan pemberian obat antijamur lebih cost effective.

Background: The majority of invasive candidiasis in critically ill patients develops after admission to the intensive care unit. The most common cause of invasive fungal disease is Candida which is a commensal organism in the human body but can transform into a pathogen. Candida infection begins with increased colonization, changes in shape and production of enzymes that damage mucosa then candida can enter body tissues or blood vessels. Methods: This study is a prospective observational study of critically ill patients who admitted to the intensive care unit. Blood samples, armpit swabs and rectal swabs were taken on the first, fifth and ninth days. Medical record data and direct medical costs were collected from the first day of the study to the end of the study. Data analysis using STATA. Results: A total of 142 subjects were recruited and 115 subjects were analyzed in this study. Multivariate analysis identified age > 60 years, parenteral nutrition >= 7 days, CVC >= 10 days, corticosteroids, PCT day 5, changes in axillary and rectal swab morphology, and morphological changes and increased Candida colonies on day 9 rectal swabs as risk factors independent of invasive candidiasis. This risk factor can be used as a scoring system variable based on type A hospital with or without mycological examination and type C hospital. Giving antifungal drugs is more cost effective than not giving antifungal drugs. Conclusion: Risk factors can be used to prevent invasive candidiasis from occurring, and the use of a scoring system can assist in screening diagnoses and administering more cost-effective antifungal drugs.
Read More
D-494
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veli Sungono; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Korpomotor: Tri Edhi Budhi Soesilo, Hori Hariyanto; Penguji: Asri C. Adisasmita, Syahrizal, Antonia Lukito; Allen Widysanto; Vivien Puspitasari
D-595
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winda Sofvina; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Anna Rozaliyani, Elyn Dohar Idarin Aritonang
Abstrak:

Latar belakang: Kasus aspergilosis paru kronik di Indonesia diperkirakan semakin meningkat seiring dengan peningkatan kasus TB paru. Keterlambatan mendapatkan pengobatan akan memengaruhi kualitas hidup pasien Aspergilosis Paru Kronik (APK). Data mengenai APK pada pasien dengan riwayat TB masih terbatas di Indonesia, penelitian mengenai APK yang pernah dilakukan hanya terbatas pada populasi yang berasal dari rumah sakit di Jakarta. Diperlukan studi mengenai kualitas hidup dan APK dengan mempertimbangkan faktor penyakit lain, terutama penyakit kronis yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien, khususnya penyakit dengan prevalens tinggi di Indonesia, yaitu diabetes melitus dan hipertensi. Penyakit pernapasan lain yang juga harus dipertimbangkan adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Matode: Penelitian ini berdisain potong lintang, yang merupakan bagian dari penelitian sebelumnya mengenai Aspergilosis Paru Kronik pada pasien dengan Riwayat TB paru di beberapa area di Indonesia. Data penelitian berasal dari rekrutmen penelitian sebelumnya periode Juni 2023-Maret 2024. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara APK dan kualitas hidup pasien riwayat TB paru.
Hasil: Subjek terbanyak berada pada kelompok usia 50-59 tahun, dan subjek paling sedikit berada pada kelompok usia <=29 tahun. Proporsi kejadian APK pada subjek dengan riwayat TB paru pada studi ini sebesar 67,83%. Proporsi subjek dengan riwayat TB paru yang memiliki kualitas hidup buruk sebesar 53,04%
Kesimpulan: Pasien riwayat TB paru yang mengalami APK memiliki risiko 1,45 kali kualitas hidup buruk dibandingkan pasien yang bukan APK. Tidak ada faktor kovariat yang memengaruhi hubungan antara APK dan kualitas hidup pada studi ini.
Kata kunci: Aspergilosis, kualitas hidup, APK


Background: Cases of chronic pulmonary aspergillosis in Indonesia are expected to increase along with the increase in cases of pulmonary TB. Delays in getting treatment will affect the quality of life of chronic pulmonary aspergillosis (CPA) patients. Data on CPA in patients with a history of TB is still limited in Indonesia; research on CPA that has been conducted is limited to the population from hospitals in Jakarta. A study is needed on the quality of life and CPA by considering other disease factors, especially chronic diseases that can worsen the quality of life of patients, especially diseases with a high prevalence in Indonesia, namely diabetes mellitus and hypertension. Another respiratory disease that must also be considered is chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Method: This study is a cross-sectional design, which is part of a previous study on chronic pulmonary aspergillosis in patients with a history of pulmonary TB in several areas in Indonesia. The research data comes from the recruitment of previous studies from June 2023 to March 2024. This study aims to determine the relationship between APK and the quality of life of patients with a history of pulmonary TB. Results: The largest number of subjects were in the 50-59 year age group, and the fewest subjects were in the <=29 year age group. The proportion of APK incidence in subjects with a history of pulmonary TB in this study was 67.83%. The proportion of subjects with a history of pulmonary TB who had poor quality of life was 53.04%. Conclusion: Patients with a history of pulmonary TB who experienced APK had a 1.45 times risk of poor quality of life compared to patients who were not APK. There were no covariate factors that influenced the relationship between APK and quality of life in this study. 

Read More
T-7200
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suprohaita; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mulyadi M. Djer, Johanes Edy Siswanto; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sukman T. Putra, Yudithya Purwosunu, Didi Danukusumo, Eva Suarthana, Syahrizal Syarif
Abstrak:
Latar Belakang : Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia mengalami kecenderungan penurunan dan melandai. Salah satu kontributor tingginya AKB dan AKN adalah defek kongenital pada bayi baru lahir. Laporan WHO yang menyebutkan 7% penyebab AKB adalah defek kongenital. PJB merupakan 25% dari defek kongenital penyebab AKB khususnya PJB kritis yang memiliki risiko kematian di awal-awal kehidupan bayi. Angka ini menjadi dasar untuk mengevaluasi adanya PJB pada bayi yang dilahirkan hidup dan meninggal pada awal kehidupan bayi. Data mengenai kesintasan bayi dengan PJB dan faktor-faktor determinan yang mempengaruhi kematian sangat dibutuhkan untuk memprediksi risiko kematian bayi dengan PJB. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat kelangsungan hidup bayi dengan PJB, namun belum dilakukan metode sistem skoring yang mempermudah prediksi risiko kematian bayi dengan PJB. Method : Penelitian ini menggunakan studi observasional kohort retrospektif untuk mengevaluasi luaran/outcome kesintasan atau kelangsungan hidup (survival rate) bayi dengan PJB lahir hidup di RSAB Harapan Kita dalam pengamatan 1 tahun dan membuat model sistem skoring untuk memprediksi risiko kematian bayi dengan PJB yang lahir hidup. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Stata versi 17. Hasil : Faktor determinan utama yang mempengaruhi kematian bayi dengan PJB yang lahir hidup di RSAB Harapan Kita dalam pengamatan 1 tahun, yaitu klasifikasi kritis dengan HR 2,486 (95%CI 1,480-4,174), berat lahir < 2500 gram dengan HR 1,500 (95%CI 0,947 – 2,377), status sindrom dengan HR 3,080 (95%CI 1,849 – 5,131), saturasi oksigen dengan HR 1,382 (95%CI 0,819 – 2,332), lama rawat NICU dengan HR 1,352 (95%CI 0,773 – 2,366), paritas > 2 dengan HR 1,356 (95%CI 0,827 – 2,224) dan riwayat abortus dengan HR 1,528 (95%CI 0,890 – 2,624). Model sistem skoring dapat digunakan untuk memprediksi risiko kematian bayi dengan PJB dengan akurasi prognostik yang baik berdasarkan kurva ROC sistem skoring yang mendapatkan nilai AUC 0,745 (95%CI 0,668-0,812) dengan nilai p < 0,001. Pada penelitian ini didapatkan uji sensitivitas dan spesifisitas sistem skoring dan angka skoring > 67 dengan sensitivitas 72,15% dan spesifisitas 63,01%.

Background: Infant Mortality Rate (IMR) and Neonatal Mortality Rate (NMR) in Indonesia experience a downward and sloping trend. One of the contributors to the high IMR and NMR is congenital defects in newborns. The WHO report states that 7% of the causes of IMR are congenital defect. CHD is 25% of congenital defect especially critical CHD, which has a risk of death in the early days of a infant's life. This figure is the basis for evaluating the presence of CHD in infants who are born alive and die early life. Data regarding the survival of infants with CHD and the determinant factors that influence it is needed to predict mortality risk. Various studies have been conducted to evaluate the survival of infants with CHD, but a scoring system model has not been carried out that makes it easier to predict mortality risk of infants with CHD. Methods: This study used a retrospective cohort observational study to evaluate the survival rate of infants with CHD who born alive at Harapan Kita National Women and Children Centre in observing 3 months and creating a scoring system model to predict mortality risk of infants with CHD. Statistical analysis was performed using Stata version 17. Results: The main determinant factors affecting the survival of infants with CHD born alive at RSAB Harapan Kita in the 0-3 month survival observation were critical classification with HR 2,486 (95%CI 1,480-4,174), birth weight < 2500 grams with HR 1,500 (95%CI 0,947 – 2,377), syndrome status with HR 3,080 (95%CI 1,849 – 5,131), oxygen saturation with HR 1,382 (95%CI 0,819 – 2,332), length stay of NICU with HR 1,352 (95%CI 0,773 – 2,366), and parity > 2 with HR 1,356 (95%CI 0,827 – 2,224), abortive history with HR 1,528 (95%CI 0,890 – 2,624). The scoring system model can be used to predict mortality risk in infants with CHD with good prognostic accuracy based on the ROC curve of the scoring system which AUC value of 0.745 (95%CI 0.668-0.812) with a p value < 0.001. In this study, the sensitivity and specificity test of the scoring system was obtained and the scoring number > 67 with a sensitivity of 72,15% and specificity of 63,01%.
Read More
D-542
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Forman Novrindo Sidjabat; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Rita Damayanti, Syahrizal Syarif; Penguji: Besral, Mondastri Korib Sudaryo, Fidiansjah, Evi Sukmaningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Tren insiden HIV di Indonesia menunjukkan penurunan, namun terjadi peningkatan kematian akibat HIV. Kelompok kunci lelaki seks dengan lelaki (LSL) memiliki prevalensi tertinggi terhadap HIV di Indonesia. Upaya meningkatkan keterlibatan pada pengobatan ARV dilakukan melalui strategi test and treat, namun masih didapatkan ketidakpatuhan yang menghambat capaian target 95-95-95. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas faktor sosiodemografi, faktor tekanan psikologis, faktor sosial dan gaya hidup. Penelitian ini memberikan fokus pada intention sebagai faktor kunci yang menentukan kepatuhan pengobatan ARV dan mempertimbangkan berbagai faktor latar belakang yang memengaruhinya. Tujuan: Mengembangkan model prediktif determinan kepatuhan pengobatan antiretroviral lelaki seks dengan lelaki dengan HIV/AIDS di Kota Kediri. Metode: Metode potong lintang yang dilakukan di Kota Kediri dengan jumlah sampel sebanyak 314 selama bulan Maret-April 2024 melalui penjaringan di penyedia layanan pengobatan dan konseling antiretroviral dan Komunitas Dukungan Sebaya Friendship Plus. Dengan kriteria sampel pernah mendapatkan pengobatan ARV di Kota Kediri setidaknya satu bulan sebelum penelitian berlangsung, dan LSL dengan diagnosis AIDS stadium 3 tidak dijadikan sampel. Data dianalisis menggunakan analisis partial least square structural equation modelling (PLS-SEM). Hasil: Model prediktif yang dikembangkan mampu memprediksi dan menjelaskan terbantuknya kepatuhan pengobatan ARV pada kelompok LSL sebesar 77%. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor dukungan sosial (keluarga, sebaya, dan tenaga kesehatan) yang secara simultan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan ARV melalui pembentukan intention. Kesimpulan: Keberhasilan kepatuhan pengobatan ARV pada kelompok LSL berhubungan dengan intention yang terbentuk karena adanya sikap, norma, dan kemampuan melakukan pengobatan melalui penguatan dukungan sosial. Diperlukan upaya penguatan peran dukungan sebaya/komunitas untuk mampu menstimulus intention melalui praktik pelibatan, penanganan tekanan psikologis, edukasi dan advokasi.

Background: The trend of HIV incidence in Indonesia shows a decline, but there is an increase in deaths due to HIV. The key group of men who have sex with men (MSM) has the highest prevalence of HIV in Indonesia. Efforts to increase involvement in ARV treatment are carried out through the test and treat strategy, but there is still non-compliance that hinders the achievement of the 95-95-95 target. This is due to the complexity of sociodemographic factors, psychological stress factors, social factors and lifestyle. This study focuses on intention as a key factor determining the availability of ARV treatment and considers various background factors that influence it. Objective: to disseminate a predictive model of determinants of adherence to antiretroviral treatment for men who have sex with men with HIV/AIDS in Kediri City. Methods: A cross-sectional method was carried out in Kediri City with a sample size of 314 during March-April 2024 through screening at antiretroviral treatment and counseling service providers and the Friendship Plus Peer Support Community. With the criteria for samples who had received ARV treatment in Kediri City at least one month before the study took place, and MSM with a diagnosis of stage 3 AIDS were not sampled. Data were analyzed using partial least squares structural equation model (PLS-SEM) analysis. Results: The developed predictive model was able to predict and explain the formation of ARV treatment adherence in the MSM group by 77%. The results of the analysis showed that social support factors (family, peers, and health workers) were simultaneously related to the fulfillment of ARV treatment through the formation of intentions. Conclusion: The success of the fulfillment of ARV treatment in the MSM group was related to the intention formed due to attitudes, norms, and the ability to carry out treatment through strengthening social support. Efforts to strengthen peer/community support are needed to be able to stimulate intentions through the practice of involvement, handling psychological stress, education and advocacy.
Read More
D-617
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cucunawangsih; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotro: Pohan Herdiman T. Syahrurachman; Penguji: Djoko Widodo, Sudarto Ronoatmodjo, Cicilia Windiyaningsih, Tjahyani Mirawati, Mondastri Korib Sudaryo
D-267
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadyana Sukandar; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo, Ponpon S. Idjradinata; Penguji: Bambang Sutrisna, Anna Alisahbana, Ilsiana Jatiputra, Ratna Djuwita, Kusharisupeni
D-116
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive