Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36265 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Zeranina Zahra Alyya; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Hananta Praditya
Abstrak:
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang sering menyebabkan peningkatan utilisasi layanan kesehatan dan klaim kesehatan pada peserta asuransi kumpulan dalam perusahaan. Program vaksin influenza menjadi salah satu upaya preventif yang dilakukan perusahaan untuk menurunkan risiko penyakit ISPA serta mengendalikan frekuensi dan biaya klaim kesehatan pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan frekuensi dan biaya klaim rawat jalan ISPA pada peserta asuransi sebelum dan sesudah program vaksinasi influenza, serta membandingkan klaim antara kelompok peserta tervaksin dan tidak tervaksin. Penelitian menggunakan desain penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan retrospektif menggunakan data klaim kesehatan peserta asuransi PT X periode polis 2023-2024. Sampel penelitian terdiri dari 762 peserta asuransi, dengan 381 peserta tervaksin dan 381 peserta tidak tervaksin. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk melihat perubahan klaim sebelum dan sesudah vaksinasi serta uji Mann-Whitney untuk membandingkan distribusi klaim antara kelompok tervaksin dan tidak tervaksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi klaim ISPA mengalami penurunan yang signifikan pada kelompok tervaksin maupun tidak tervaksin. Kelompok tervaksin menunjukkan penurunan frekuensi klaim lebih besar yaitu 17,5%, sedangkan kelompok tidak tervaksin mengalami penurunan sebesar 6,32%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan perubahan tersebut signifikan pada kedua kelompok dengan nilai p-value <0,05. Sementara itu, biaya klaim belum mengalami perubahan yang signifikan pada kedua kelompok, namun tetap mengalami penurunan secara nominal. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan distribusi frekuensi dan biaya klaim antara kelompok peserta tervaksin dan tidak tervaksin. Berdasarkan hasil penelitian, program vaksin influenza memiliki potensi sebagai upaya preventif pengendalian utilisasi layanan kesehatan akibat ISPA, terutama dalam menurunkan frekuensi klaim kesehatan rawat jalan.

Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the diseases that frequently increases healthcare utilization and health insurance claims among group health insurance participants. Influenza vaccination programs have become one of the preventive measures implemented by companies to reduce the risk of ARI and control the frequency and cost of employee health claims. This study aimed to analyze changes in the frequency and cost of outpatient ARI claims before and after influenza vaccination, as well to compare claims between vaccinated and unvaccinated participants. This study used a quantitative observational research design with a retrospective approach using health claim data from PT X insurance participants during the 2023-2024 policy period. The study sample consisted of 762 insurance participants, including 381 vaccinated participants and 381 unvaccinated participants. Data analysis was conducted descriptively and inferentially using the Wilcoxon Signed Rank Test to assess changes in claims before and after vaccination, and the Mann-Whitney test to compare claim distribution between vaccinated and unvaccinated groups. The results showed that the frequency of ARI claims significantly decreased in both vaccinated and unvaccinated groups, with a greater reduction observed in the vaccinated group. The vaccinated group experienced a 17.5% reduction in claim frequency, while the unvaccinated group experienced a 6.32% reduction. The Wilcoxon test results indicated significant changes in claim frequency in both groups with p-values
Read More
S-12320
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heldi Dhimaspanji Kundalini; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Kurnia Sari, Nani Iriyanti
S-6544
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyuningsih; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Adi Kurnia Nur
S-4817
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Rahayu; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Nurwahyuni, Atik; Alviah, Evi
Abstrak: Skripsi ini menggambarkan ekses klaim provider PT Asuransi X pada polis yang diterbitkan tahun 2012 periode pelayanan Januari 2012 ? Oktober 2013. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan desain deskriptif melalui pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian dari data-data sekunder perusahaan dapat digambarkan bahwa biaya ekses klaim dipengaruhi oleh beberapa faktor, untuk faktor klasifikasi provider provider gold 50,20% dan 49.80 % dari total biaya ekses untuk provider silver. Faktor jenis kepesertaan ; karyawan 43.98%, pasangan 36.68% dan kepesertaan anak 19.35 % dari total biaya ekses klaim. Faktor berikutnya paket manfaat/pelayanan kesehatan yang terdiri dari rawat inap 51,43%, rawat jalan 29.05%, persalinan 13,19%, rawat gigi 6.24% dan paket manfaat kacamata 0.09% dari total biaya ekses klaim. Dari faktor kesesuaian isi polis terkait limitasi manfaat; rawat inap 52.96%, rawat jalan 23.75%, persalinan 15.02%, rawat gigi 8.16%, sedangkan limitasi manfaat kacamata 0.11% dari total biaya ekses klaim. Dari faktor pengecualian pada polis yang disebabkan karena: pengecualian diagnose 41.38%, pengecualian obat 31.27%, tindakan tidak indikasi 18.48%, pelayanan diluar tanggal efektif polis 7.13%, non medis 1.07% dan peserta yang tidak memiliki paket manfaat 0.66% dari biaya ekses klaim.
 

This study aims to describe the excess claim at PT Insurance X provider for policy issued in 2012 at January 2012 ? October 2013 Service Period. This study is cross sectional study with descriptive design through a quantitative approach. The result showed taken from Insurance Company secondary data describe that the excess claim cost influence by some factors, for classification of provider factor; gold provider reach 50.20% and 49.80% for silver provider from totally excess claim cost. Type of membership factor; employee 43.98%, couple 36.68% and children membership 19.35% from totally excess claim cost. The next factor of package benefit/health services that consist of inpatient 51.43%, outpatient 29.05%, maternity 13.19%, dental service 6.24% and package benefit of glasses 0.09% from totally excess claim cost. From the factor of compatibility policy content related to limitation of benefit inpatient 52.96%, outpatient 23.75%, maternity 15.05%, dental service 8.16% and package benefit of glasses 0.11% from totally excess claim cost. From the exclusion policy that caused by diagnose exclusion 41.38%, medicine exclusion 31. 27%, not indication treatment 18.48%, services out of effective date policy 7.13%, non medical 1.07% and member that have not benefit package 0.66% from totally excess claim cost.
Read More
S-8401
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sifa Fauziah; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Kurnia Sari, Siska Endyana
S-6907
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Asyuri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Handi Surya Adiguna
S-4994
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Qeis Yahya Arifin; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Harjadi
Abstrak:
Asuransi kesehatan mengatur risiko bisnisnya dengan memindahkan sebagian risiko tersebut ke pihak lain, yaitu reasuransi. Reasuransi berperan sebagai penanggung risiko asuransi (cedant) atas klaim yang terjadi dengan pemenuhan manfaat oleh cedant dengan mengacu proporsinya dari perjanjian kerjasama yang ada (treaty). Ketika cedant menerima klaim dari peserta tertanggungnya, atas perjanjian kerjasama yang ada maka cedant tersebut dapat mengalihkan klaimnya kepada reasuransi dengan porsi-porsi cakupan pembayaran klaim, melalui laporan bordero klaim. Penelitian berfokus dalam menganalisis karakteristik peserta tertanggung yang dilaporkan di dalam bordero klaim, seperti jenis kelamin dan usia terhadap biaya klaim, serta mengidentifikasi penyakit dengan klaim tinggi. Pendekatan yang digunakan untuk penelitian adalah kuantitatif deskriptif dengan melakukan analisis data sekunder dari bordero klaim yang dikirim perusahaan asuransi dari tahun 2021-2023 menggunakan uji T sampel independen dan ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya klaim laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, rata-rata biaya klaim kelompok usia lansia adalah yang tertinggi daripada bayi sampai dewasa. Penyakit neoplasma, sistem peredaran darah, dan darah dan mekanisme imun teridentifikasi sebagai jenis-jenis penyakit dengan biaya klaim tertinggi berdasarkan rata-rata biaya klaimnya selama 2021-2023. Kesimpulan dari penelitian adalah diperlukannya peninjauan loss ratio untuk berhenti menerima klaim jika pembayaran klaim sudah lebih tinggi daripada penerimaan premi, penyesuaian tarif premi  yang lebih sesuai dengan penerimaan risiko yang ada, dan penetapan pembatasan atas peserta dengan risiko yang tidak dapat diterima.

Health insurance manages its business risk by transferring part of that risk to reinsurance. Reinsurance functions as a risk bearer for the insurance company (cedant) for claims arising from fulfilling benefits by the cedant, based on the proportions stipulated in the reinsurance treaty. When the cedant receives claims from insured members, the existing treaty allows the cedant to cede a portion of these claims to the reinsurer according to the agreed claim share proportions, which are reported through claim bordereaux. This study focuses on analyzing the characteristics of insured members reported in claim bordereaux, such as sex and age, in their relation to claim costs, and identifying diseases associated with high cost claims. This study uses a descriptive quantitative approach by analyzing secondary data from claim bordereaux submitted by insurance companies during the 2021–2023 period, using Independent Sample T-test and One Way ANOVA. The results shows that the average claim cost for male members is higher than claim for females, and the elderly age group members has the highest average claim cost compared to infants to adults. Neoplasms, diseases of the circulatory system, and diseases of the blood and immune mechanisms are identified as disease categories with highest cost claims based on their average claim costs during 2021–2023. The study concludes to apply loss ratio review to cease claim acceptance when claim payments exceed premium income, premium rates adjustments to reflect better accepted risks, establish restrictions on members with unacceptable risk levels.
Read More
S-12173
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Kayla Ardani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:

Latar belakang: Penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB), masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi dan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan. Komorbiditas seperti Diabetes Mellitus (DM) dan koinfeksi HIV memperburuk pengobatan TB, memperpanjang durasi terapi, serta meningkatkan beban biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan biaya rawat inap pada pasien TB dengan komorbid DM dan koinfeksi HIV di fasilitas kesehatan Indonesia, khususnya yang terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan: Mengetahui perbandingan biaya rawat inap pada layanan FKRTL peserta JKN penderita TB/DM dan TB/HIV di Indonesia selama satu tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi cross-sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Sampel penelitian ini adalah peserta dengan diagnosis primer TB yang memiliki diagnosis sekunder DM dan HIV pada pelayanan FKRTL. Hasil: Terdapat sebanyak 4.753 peserta RITL JKN tahun 2022. Dari total kunjungan, sebanyak 4.531 merupakan peserta komorbid TB/DM dan 232 peserta koinfeksi TB/HIV. Pada tahun 2022, BPJS Kesehatan membayarkan sebesar Rp28,8 miliar untuk peserta RITL komorbid TB/DM dan Rp3,1 miliar untuk peserta RITL koinfeksi TB/HIV. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya komorbid TB/DM pada kunjungan RITL peserta JKN 2022 adalah umur, hak kelas rawat, segmen kepesertaan, dan rujukan FKTP. Sedangkan, faktor-faktor yang beruhubungan dengan biaya koinfeksi pada kunjungan RITL pada kunjungan peserta JKN 2022 adalah jenis kelamin, umur, hak kelas rawat, dan segmen kepesertaan.


Background: Infectious diseases, particularly Tuberculosis (TB), remain a major challenge in Indonesia, with high prevalence and significant impact on the healthcare system. Comorbidities such as Diabetes Mellitus (DM) and HIV coinfection worsen TB treatment, prolong therapy duration, and increase healthcare costs. This study aims to analyze the comparison of inpatient costs for TB patients with comorbid DM and HIV coinfection in Indonesian healthcare facilities, specifically those enrolled in the National Health Insurance (JKN) program. Objective: To determine the comparison of inpatient costs for JKN FKRTL services for TB/DM and TB/HIV patients in Indonesia over the course of one year. Method: This study employs a quantitative approach with a cross-sectional design using BPJS Health sample data from 2023. The research sample includes participants with a primary TB diagnosis and secondary diagnoses of DM and HIV in FKRTL services. Results: There were 4,753 JKN inpatient participants in 2022. Of these, 4,531 were TB/DM comorbid patients, and 232 were TB/HIV coinfected patients. In 2022, BPJS Health paid Rp28.8 billion for TB/DM comorbid patients and Rp3.1 billion for TB/HIV coinfected patients. Conclusion: Factors related to the cost of TB/DM comorbidity for JKN inpatient visits in 2022 include age, inpatient class entitlement, membership segment, and FKTP referral. Meanwhile, factors related to the cost of coinfection for JKN inpatient visits in 2022 include gender, age, inpatient class entitlement, and membership segment.

Read More
S-11835
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shamim Thahir Ahmad; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Edu Parningotan Aritonang
Abstrak:
Durasi penyelesaian klaim menjadi indikator penting dalam menilai efisiensi pelayanan asuransi, terutama pada produk santunan harian rawat inap. Keterlambatan dalam proses klaim dapat menurunkan kepuasan dan kepercayaan nasabah terhadap perusahaan asuransi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan durasi penyelesaian klaim santunan harian rawat inap di PT. X berdasarkan data tahun 2023–2024. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan memanfaatkan data sekunder sebanyak 299 klaim. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan regresi logistik ordinal. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar klaim diselesaikan dalam waktu 6–14 hari (39,1%) dan 0–5 hari (37,5%). Terdapat dua variabel yang memiliki hubungan signifikan secara statistik terhadap durasi klaim, yaitu asal daerah dan kelengkapan dokumen. Peserta dari luar Pulau Jawa cenderung mengalami durasi klaim lebih lama, sedangkan klaim dengan dokumen lengkap memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Empat variabel lainnya—sebab dirawat, jenis rumah sakit, nominal klaim, dan riwayat pengajuan sebelumnya—tidak menunjukkan hubungan signifikan namun memiliki kecenderungan praktis yang relevan.
The duration of claim settlement is an important indicator in assessing the efficiency of insurance services, particularly for hospital daily cash benefit products. Delays in the claim process may reduce customer satisfaction and trust in insurance companies. This study aims to analyze the factors associated with the duration of claim settlement for hospital daily cash benefits at PT. X based on 2023–2024 data. A cross-sectional design with a quantitative approach was used, utilizing secondary data from 320 claims. The analysis was conducted using univariate and bivariate methods with ordinal logistic regression. The results showed that most claims were settled within 6–14 days (39.1%) and 0–5 days (37.5%). Two variables showed statistically significant relationships with claim duration: region of origin and completeness of documents. Participants from outside Java Island tended to experience longer claim durations, while claims submitted with complete documents had a significantly higher likelihood of being processed more quickly. The other four variables—reason for hospitalization, hospital type, claim amount, and claim history—were not statistically significant but showed relevant practical trends.
Read More
S-12000
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tjut Keumala Syahlynna Rachmatsyah Hamzah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit prioritas dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memerlukan pembiayaan pelayanan kesehatan berkelanjutan. Pada pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), total biaya pelayanan yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan dapat bervariasi antar peserta maupun antar fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN berdasarkan karakteristik peserta dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 25.886 peserta JKN penderita tuberkulosis yang memperoleh pelayanan rawat jalan di FKRTL dan memenuhi kriteria penelitian. Variabel independen meliputi kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kepemilikan FKRTL, dan tipe FKRTL. Variabel dependen adalah total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis per pasien selama tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan median total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis sebesar Rp598.250 per pasien per tahun. Terdapat perbedaan total biaya klaim yang bermakna secara statistik berdasarkan kelompok umur (H(2)=783,60; p<0,001; ε²=0,030), jenis kelamin (Z=3,64; p<0,001; r=0,023), status perkawinan (H(2)=436,99; p<0,001; ε²=0,017), segmentasi kepesertaan (H(4)=912,08; p<0,001; ε²=0,035), hak kelas rawat (H(2)=68,47; p<0,001; ε²=0,003), kepemilikan FKRTL (H(4)=381,99; p<0,001; ε²=0,015), dan tipe FKRTL (H(3)=675,39; p<0,001; ε²=0,026). Variabel segmentasi kepesertaan menunjukkan ukuran efek terbesar, sedangkan hak kelas rawat menunjukkan ukuran efek terkecil. Meskipun seluruh variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, sebagian besar ukuran efek berada pada kategori kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN tahun 2024 bervariasi menurut karakteristik peserta dan karakteristik FKRTL. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi BPJS Kesehatan dalam monitoring dan evaluasi pembiayaan pelayanan tuberkulosis pada program JKN.

Tuberculosis (TB) remains one of the priority diseases within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) program and requires substantial healthcare financing. In advanced outpatient care settings, total healthcare expenditures reimbursed by BPJS Kesehatan may vary across participants and healthcare facilities. This study aimed to analyze outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants based on participant characteristics and advanced referral healthcare facility (FKRTL) characteristics in 2024. This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. The study population consisted of 25,886 JKN participants diagnosed with tuberculosis who received outpatient services at FKRTL and met the study criteria. Independent variables included age group, sex, marital status, membership segment, entitlement class, FKRTL ownership, and FKRTL type. The dependent variable was the total outpatient tuberculosis claim cost per patient during 2024. Data were analyzed using descriptive statistics and bivariate analysis with Mann–Whitney and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the median outpatient tuberculosis claim cost was IDR 598,250 per patient per year. Statistically significant differences in total claim costs were observed according to age group (H(2)=783.60; p<0.001; ε²=0.030), sex (Z=3.64; p<0.001; r=0.023), marital status (H(2)=436.99; p<0.001; ε²=0.017), membership segment (H(4)=912.08; p<0.001; ε²=0.035), entitlement class (H(2)=68.47; p<0.001; ε²=0.003), FKRTL ownership (H(4)=381.99; p<0.001; ε²=0.015), and FKRTL type (H(3)=675.39; p<0.001; ε²=0.026). Membership segment demonstrated the largest effect size, while entitlement class showed the smallest. Although all variables were statistically significant, most effect sizes were small. This study concludes that outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants in 2024 varied according to participant and healthcare facility characteristics. These findings may provide useful evidence for BPJS Kesehatan in monitoring and evaluating tuberculosis financing within the JKN program.
Read More
S-12464
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive