Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35945 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Keisa Dwinta Mailova; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan kondisi kekurangan energi dalam jangka panjang akibat asupan zat gizi yang tidak mencukupi kebutuhan. KEK pada ibu hamil berdampak negatif terhadap kesehatan ibu maupun janin. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi KEK ibu hamil tertinggi di Indonesia, di mana data nasional tahun 2023 menunjukkan angka prevalensi sebesar 28%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan risiko KEK pada ibu hamil di Provinsi NTT. Desain penelitian ini adalah potong lintang (cross-sectional) menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, dengan melibatkan sampel sebanyak 215 ibu hamil. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi risiko KEK pada sampel ibu hamil di NTT adalah sebesar 22,2%. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik (p-value < 0,05) antara risiko KEK dengan status ekonomi keluarga, sumber air minum, serta frekuensi konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya. Analisis multivariat mengidentifikasi bahwa konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya merupakan faktor dominan yang memicu risiko KEK, di mana ibu hamil yang jarang mengonsumsi kelompok pangan tersebut berpeluang 4,928 kali lebih besar untuk berisiko KEK dibandingkan ibu hamil yang sering mengonsumsinya (OR = 4,928).

Chronic Energy Deficiency (CED) is a long-term condition of energy deficiency resulting from nutrient intake that does not meet requirements. CED in pregnant women has negative effects on both maternal and fetal health. East Nusa Tenggara (NTT) Province is one of the regions with the highest prevalence of CED among pregnant women in Indonesia, with national data from 2023 showing a prevalence rate of 28%. This study aims to identify the dominant factors associated with the risk of CED in pregnant women in East Nusa Tenggara Province. The study design is cross-sectional, utilizing secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), involving a sample of 215 pregnant women. Data analysis was conducted using the chi-square test and multiple logistic regression. The results of this study indicate that the prevalence of CED risk among the sample of pregnant women in NTT is 22.2%. Bivariate test results show a statistically significant association (p-value < 0.05) between CED risk and family economic status, drinking water source, as well as the frequency of consumption of meat, poultry, and their processed products. Multivariate analysis identified that the consumption of meat, poultry, and their processed products is the dominant factor contributing to the risk of CED, pregnant women who rarely consume this food group had a 4.928 times higher likelihood of experiencing CED risk compared to pregnant women with high consumption (OR = 4,928).

Read More
S-12335
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yenty Hapni; Pembimbing: Asih Setiarini
S-3986
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Mulyaningrum; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Anies Irawati
S-5638
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Azma; Pembimbing: Kusharisupeni
S-3182
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Cuandra; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting adalah masalah gizi kronis berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat tiga faktor utama, yaitu asupan gizi yang tidak adekuat, infeksi secara terus-menerus, dan stimulasi psikososial yang tidak baik yang diukur melalui indikator PB/U atau TB/U < -2 SD. Berdasarkan SKI (2023), prevalensi kejadian stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (37,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia (21,6%). Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya faktor dominan kejadian stunting pada baduta (0-23 bulan) berdasarkan kelompok umur di Nusa Tenggara Timur tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data hasil SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 735 baduta 0-23 bulan di NTT. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 24% baduta 0-23 bulan yang mengalami stunting. Faktor dominan stunting pada baduta kelompok umur 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan adalah berat badan lahir rendah (OR: 10,156), status pekerjaan ibu (OR: 3,154), dan tinggi badan ibu (OR: 6,077). Pada kelompok umur 0-5 bulan, ditemukan interaksi antara berat badan lahir (p-value 0,0001) dan status imunisasi (p-value 0,043) dengan riwayat penyakit infeksi. 

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth and development due to three main factors: inadequate nutritional intake, persistent infections, and poor psychosocial stimulation, which is measured using the height-for-age (HAZ) indicator < -2 SD. According to SKI (2023), the prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (37,9%) is higher than the national prevalence in Indonesia (21,6%). The purpose of this study is to identify the dominant factors of stunting incidence in infants and young children based on age groups in East Nusa Tenggara. This research used a cross-sectional design with data from SKI 2023, involving a sample of 735 children aged 0-23 months in East Nusa Tenggara. Data analysis included univariate analysis to observe frequency distribution, bivariate analysis using chi-square, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The study found that 24% of children aged 0-23 months experienced stunting. The dominant factors for stunting among children in the age groups 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months were low birth weight (OR: 10,156), mother's employment status (OR: 3,154), and mother's height (OR: 6,077). In the 0-5 months age group, an interaction was found between low birth weight (p-value 0,0001) and immunization status (p-value 0,043) with a history of infectious diseases.
Read More
S-11911
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Kalila Sono; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Romlah
Abstrak:
Stunted merupakan kondisi dimana anak mempunyai perawakan pendek atau sangat pendek akibat malnutrisi kronis, dengan tinggi badan menurut umur kurang dari -2 Standar Deviasi. Masa remaja merupakan periode kritis kedua untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan mencegah stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja usia 10-14 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder hasil survei Riskesdas tahun 2018 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 6.032 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square dan regresi logistik ganda, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunted di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 49,1%, dengan faktor rumah tangga dan orang tua (jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan orang tua, status pekerjaan ibu), lingkungan (sumber air minum, wilayah tempat tinggal, perilaku mencuci tangan), konsumsi protein hewani, dan aktivitas fisik yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunted (p < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja adalah tingkat pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,973; 95% CI: 1,392-2,797).

Stunted is a condition where a child has a short or very short stature due to chronic malnutrition, with a height-for-age less than -2 Standard Deviations. Adolescence is the second critical period for catching up on growth and preventing stunting. This study aims to identify the dominant factors associated with stunting in adolescents aged 10-14 years in East Nusa Tenggara Province. The research method used is a cross-sectional study design utilizing secondary data from the 2018 Riskesdas survey with a total sample of 6,032 respondents. Data analysis in this study includes univariate analysis, bivariate analysis using chi-square and multiple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunted adolescents in East Nusa Tenggara Province was 49.1%, with household and parental factors (number of family members, parents' education level, mother's employment status), environmental factors (source of drinking water, place of residence, handwashing behavior), animal proteins consumption, and physical activity significantly associated with stunting (p < 0.05). The dominant factor associated with stunting in adolescents is the father's education level (p = 0.0001; OR = 1.973; 95% CI: 1.392-2.797).
Read More
S-11739
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Reitanya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Endang Laksminingsih Achadi
Abstrak:
Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang sering ditemukan dalam populasi rentan, meliputi balita, remaja, wanita usia subur, dan ibu hamil. Anemia pada ibu hamil memiliki dampak terhadap ibu dan janin. Bagi ibu, anemia menyebabkan penurunan kualitas hidup yang dapat berujung pada kematian. Bayi yang dikandung oleh ibu anemia berisiko lahir tidak normal, mati saat lahir, dan mengalami stunting. Masalah kesehatan ibu saat hamil mempengaruhi periode emas 1000 HPK anak yang bersifat permanen terhadap kelangsungan hidup, sehingga perlu penanganan yang tepat untuk meminimalisir kejadian masalah tersebut. Laporan SKI 2023 menyatakan prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 27,7%, yang tergolong sebagai masalah kesehatan tingkat moderat. Penelitian bersifat kuantitatif menggunakan desain penelitian cross-sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia tahun 2023 menggunakan data sekunder SKI 2023. Variabel dependen adalah anemia, dan variabel independen berupa faktor sosio-demografi, faktor gaya hidup, faktor pola makan, dan faktor masa kehamilan ibu. Analisis data menggunakan complex samples meliputi univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya (p-value =  0,047), jarak kehamilan (p-value =  0,033), dan konsumsi PMT (p-value =  0,001) dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia pada tahun 2023. Anemia is a common nutritional issue among vulnerable populations, including toddlers, adolescents, women of reproductive age, and pregnant women. Anemia in pregnant women impacts both the mother and fetus. For the mother, it reduces quality of life and can lead to mortality. Babies born to anemic mothers are at risk of congenital abnormalities, stillbirth, and stunting. Maternal health issues during pregnancy affect the critical first 1000 days of a child's life, with permanent consequences for survival, necessitating appropriate interventions to minimize these risks. The 2023 SKI report indicates a 27.7% prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia, classified as a moderate public health issue. This study is a quantitative study using a cross-sectional design aimed to identify factors associated with anemia in pregnant women in Indonesia in 2023, utilizing secondary data from the 2023 SKI. The dependent variable was anemia, with independent variables from socio-demographic factors, lifestyle factors, dietary patterns, and pregnancy-related factors. Data analysis used complex samples, including univariate and bivariate analyses with chi-square tests. The study found significant associations between anemia in pregnant women and consumption of meat, poultry, and their processed products (p-value = 0.047), pregnancy interval (p-value = 0.033), and consumption of supplementary feeding (PMT) (p-value = 0.001) in Indonesia in 2023.
Read More
S-12028
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprillia Cahya Azura; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Salimar
Abstrak:
Stunting diartikan sebagai gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting memiliki dampak jangka pendek maupun panjang, termasuk peningkatan kejadian penyakit, gangguan perkembangan dan kapasitas belajar yang buruk, serta dampak antargenerasi lainnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, seperti kesehatan dan gizi ibu hamil yang buruk, pola asuh yang tidak tepat, asupan tidak adekuat, serta penyakit infeksi. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi keempat dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan serta faktor dominan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022, yang melibatkan 1827 responden. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting, yaitu usia, jenis kelamin, BBL, TB ibu, dan konsumsi TTD. Riwayat BBL diketahui sebagai faktor dominan kejadian stunting dengan p-value 0,001 dan OR 5,238 (CI 95%: 3,172 – 8,649). Saran bagi masyarakat, yaitu ibu hamil dapat lebih memerhatikan kondisi kehamilannya, seperti terkait kecukupan gizi dan tumbuh kembang janinnya. Selain itu, instansi kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan dukungan kepada masyarakat melalui media KIE Gizi yang berkaitan dengan 1000 HPK, stunting, serta gizi ibu hamil untuk mengoptimalkan program pencegahan stunting.

Stunting defined as the impaired growth and development experienced by children due to poor nutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. Stunting has both short- and long-term impacts, including increased incidence of disease, impaired development and poor learning capacity, and other intergenerational impacts. Many factors contribute to it, such as poor maternal health and nutrition, inappropriate parenting, inadequate intake, and infectious diseases. SSGI data in 2022 reported that West Nusa Tenggara Province is the fourth province with a high prevalence of stunting in Indonesia. This study aims to analyze the associated and dominant factors of stunting among under-fives aged 6-23 months in West Nusa Tenggara Province. This study was conducted with a cross-sectional design using secondary data from SSGI, involving 1827 respondents. Data analyzed using the chi-square test in bivariate analysis and multiple logistic regression test in multivariate analysis. The results showed that there were five variables associated with the incidence of stunting, such as age, sex, LBW, maternal TB, and TTD consumption. LBW history was found to be the dominant factor in the incidence of stunting with a p-value of 0.001 and OR 5,238 (CI 95%: 3.172 – 8.649). Writer suggest that pregnant women can pay more attention to the condition of their pregnancy, mainly on their nutritional adequacy and fetal growth and development. Moreover, health agencies are expected to optimize support to the community through Nutrition IEC media related to 1000 HPK, stunting, and nutrition of pregnant women to optimize stunting prevention programs.
Read More
S-11632
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nor Rofika Hidayah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Fatmah, Sri Muljati
S-6753
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive