Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42812 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aurellia Fadia Fathullah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Sabarinah, Wan Aisyah Baros
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan proporsi 90% dibandingkan diabetes melitus yang lain. Di Indonesia prevalensi DMT2 terus meningkat pada umur ≥15 tahun sebesar 2% pada tahun 2018 dan menjadi 2,2% pada tahun 2023. Berbagai faktor berperan terhadap tingginya prevalensi DMT2 Tingginya prevalensi berperan dalam tingginya biaya pelayanan DMT2. Oleh karena itu diperlukan penelitian dalam mengetahui tren dan prediksi di tahun 2025 serta melihat faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan biaya pelayanan DMT2. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020-2024. Analisis dilakukan dengan menghitung total biaya per tahun, Compound Annual Growth Rate (CAGR), serta proyeksi sederhana dengan pendekatan CAGR dan analisis hubungan menggunakan Mann-Whitney dan Uji Korelasi Spearman. Hasil: Total biaya pelayanan DMT2 di FKRTL meningkat dari Rp1,25 Triliun (2020) menjadi Rp3,12 Triliun (2024), dengan CAGR 25,69%. Jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p = 0,909; ρ = 0,007). Sementara itu, usia menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p < 0,001), namun dengan kekuatan hubungan yang sangat lemah (ρ = 0,037), wilayah regional menunjukan adanya hubungan signifikan dengan effect size lemah (p < 0,001;ε²= 0,011). Faktor diagnosis yang meliputi komorbiditas, komplikasi, dan tingkat keparahan berhubungan signifikan dengan biaya pelayanan kesehatan DMT2 (p < 0,001), dengan tingkat keparahan menunjukkan hubungan paling kuat (ρ = 0,893). Pada faktor proses pelayanan, kelas perawatan (ρ = 0,569) dan lama rawat inap (ρ = 0,830) juga menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,001). Kesimpulan: Biaya pelayanan DMT2 dipengaruhi secara signifikan oleh komorbiditas, komplikasi, tingkat keparahan, kelas perawatan, dan lama rawat inap. Tingkat keparahan dan lama rawat inap merupakan faktor dengan hubungan terkuat terhadap biaya. Kelompok kasus berat dan pasien dengan rawat inap panjang memerlukan perhatian khusus dalam pengendalian biaya melalui penguatan program pencegahan dan pemantauan kasus.

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a noncommunicable disease that accounts for 90% of all diabetes cases. In Indonesia, the prevalence of T2DM among individuals aged 15 years and older continued to rise, from 2% in 2018 to 2.2% in 2023. Various factors contribute to the high prevalence of T2DM. This high prevalence contributes to the high cost of T2DM care. Therefore, research is needed to identify trends and projections for 2025 and to examine the factors contributing to the rise in T2DM care costs. Methods: This study is a quantitative cross-sectional study using BPJS Kesehatan sample data from 2020 to 2024. The analysis was conducted by calculating the total annual costs, the Compound Annual Growth Rate (CAGR), and simple projections using the CAGR approach, along with relationship analysis using the Mann-Whitney and Spearman’s correlation tests. Results: Total costs for T2DM care at FKRTL increased from Rp1.25 trillion (2020) to Rp3.12 trillion (2024), with a CAGR of 25.69%. Gender did not show a significant association with the cost of DMT2 healthcare services (p = 0.909; ρ = 0.007). Meanwhile, age showed a statistically significant association (p < 0.001), but with a very weak strength of association (ρ = 0.037), The regional area shows a significant relationship with a weak effect size (p < 0.001; ε² = 0.011).. Diagnostic factors, including comorbidities, complications, and severity, were significantly associated with healthcare costs for T2DM (p < 0.001), with severity showing the strongest association (ρ = 0.893). Among the service process factors, care class (ρ = 0.569) and length of hospital stay (ρ = 0.830) also showed significant associations (p < 0.001). Conclusion: The costs of T2DM care are significantly influenced by comorbidities, complications, severity, care class, and length of hospital stay. Severity and length of hospital stay are the factors with the strongest association with costs. Severe cases and patients with prolonged hospital stays require special attention in cost control through the strengthening of prevention programs and case monitoring.
Read More
S-12354
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betania Ilhami Wahida Hera Wati; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Sri Lestari
S-10084
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clarissa Tertia Firjatullah; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:

Prevalensi diabetes melitus mengalami tren meningkat, baik di tingkat global maupun di
Indonesia. Prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah di Indonesia meningkat dari tahun 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), hingga 2023 (11,7%). DM adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup, salah satunya adalah aktivitas fisik, yang menjadi kunci dalam pencegahan dan pengurangan beban PTM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia pada tahun 2023, dengan distratifikasi oleh variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, tempat tinggal, status pekerjaan, dan status ekonomi. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain studi potong lintang. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Berdasarkan analisis bivariat, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan DM, dengan aktivitas fisik kurang lebih berpeluang (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) untuk memiliki DM. Variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan DM dan digunakan untuk stratifikasi. Setelah distratifikasi, hubungan aktivitas fisik dengan DM tetap signifikan, tetapi nilai OR berbeda berdasarkan modifikasi efek dari variabel usia dan jenis kelamin. Penduduk usia 40 tahun ke atas (OR=1,52; 95% CI= 1,35 – 1,71) lebih berpeluang untuk memiliki DM jika kurang melakukan aktivitas fisik. Upaya intervensi pengelola program kesehatan perlu difokuskan untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan aktivitas fisik dan skrining DM yang komprehensif dengan bekerja sama dengan sektor luar kesehatan dan fokus untuk meningkatkan partisipasi aktivitas fisik pada penduduk berusia 40 tahun ke atas.


There is an upward trend of diabetes mellitus prevalency, both globally and in Indonesia.  DM prevalency based on blood glucose examination in Indonesia shows an upward trend,  from 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), up to 2023 (11,7%). DM is a noncommunicable disease  (NCD) that could be prevented by lifestyle change, which one of them is physical activity,  a key in NCD prevention and burden reduction.  This study aims to identify the  association between physical activity and DM in Indonesia’s population aged 15 years  and over in 2023, with stratification based on confounding variable age, sex, obesity  status, residential area, employment status, and economic status. This study utilizes  Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 data with cross-sectional study design.  Univariate, bivariate, and stratification analysis were conducted. Based on bivariate  analysis, physical activity is significantly associated with DM, with the less active group  having higher odds (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) for developing DM. Confounding  variables age, sex, obesity status, and employment status significantly associated with  DM and will be used in stratification. After stratification, the association between  physical activity and DM hold its significance, but the OR differs based on effect  modification by age and sex variables. Population aged 40 years and over (OR=1,52; 95%  CI= 1,35 – 1,71) higher odds to develop DM if they’re physically inactive. Interventions  effort made by health program organizer needs to be focused on designing and  implementing comprehensive physical activity and DM screening policy with partners  outside the health sectors and focusing on increasing participation in physical activity  among population aged 40 years and over. 

Read More
S-11872
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Ayunina; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar belakang: Dari tahun 1990 hingga 2019, beban penyakit kardiovaskular di Indonesia meningkat sebesar 120% dan menjadi beban katastropik utama bagi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini memerlukan intervensi yang tepat sasaran, salah satunya disesuaikan dengan wilayah tempat tinggal peserta. Meskipun penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara beban penyakit kardiovaskular di urban dan rural, belum ada penelitian yang membuktikan hipotesis tersebut berdasarkan data klaim JKN. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan prevalensi penyakit kardiovaskular di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) antara wilayah tempat tinggal urban dan rural pada peserta JKN usia ≥15 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan 2025 dengan desain studi cross-sectional. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 1.882.860 peserta. Penyakit kardiovaskular didefinisikan melalui data diagnosis primer dan sekunder kunjungan FKRTL kode I00-I99 ICD-10. Analisis data menggunakan uji chi-square, dengan Prevalence Ratio (PR) sebagai ukuran asosiasi. Hasil: Prevalensi penyakit kardiovaskular di FKRTL pada wilayah tempat tinggal urban (3,54%) lebih tinggi daripada rural (2,09%) (p<0,05) dan melampaui prevalensi nasional (2,42%), dengan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,689 (95% CI: 1,686-1,692). Berdasarkan analisis stratifikasi, perbedaan prevalensi yang signifikan ditemukan secara konsisten pada seluruh strata dengan kesenjangan terbesar ditemukan pada kelompok remaja (PR=2,07) dan lansia (PR=2,01) dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, serta peserta PBI (PR=1,90) dibandingkan dengan peserta non-PBI (PR=1,27). Kesimpulan: Temuan ini  menunjukkan adanya kesenjangan prevalensi penyakit kardiovaskular berdasarkan wilayah tempat tinggal pada peserta JKN. Prevalensi pada wilayah urban secara konsisten lebih tinggi daripada rural pada seluruh strata yang dianalisis. Namun, temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena data berbasis klaim JKN berpotensi menghasilkan underestimasi kasus di wilayah rural akibat keterbatasan akses fasilitas rujukan.

Background: From 1990 to 2019, the burden of cardiovascular disease in Indonesia increased by 120% and became the primary catastrophic burden for the National Health Insurance (JKN). This requires targeted interventions, one of which is tailored to the participants’ residential areas. Although previous studies have shown significant differences in the burden of cardiovascular disease between urban and rural areas, no study has yet confirmed this hypothesis using JKN claims data. This study was conducted to compare the prevalence of cardiovascular disease at Advanced Referral Health Facilities (FKRTL) between urban and rural residential areas among JKN participants aged ≥15 years. Methods: This study utilized the 2025 BPJS Health Sample Data with a cross-sectional study design. The sample size for this study was 1,882,860 participants. Cardiovascular diseases were defined using primary and secondary diagnosis data from FKRTL visits with ICD-10 codes I00–I99. Data analysis employed the chi-square test, with the Prevalence Ratio (PR) as the measure of association. Results: The prevalence of cardiovascular disease among FKRTL in urban areas (3.54%) was higher than in rural areas (2.09%) (p<0.05) and exceeds the national prevalence (2.42%), with a Prevalence Ratio (PR) of 1.689 (95% CI: 1.686–1.692). Based on stratification analysis, significant differences in prevalence were consistently found across all strata, with the largest gaps observed in the adolescent group (PR=2.07) and the elderly group (PR=2.01) compared to other age groups, as well as among PBI participants (PR=1.90) compared to non-PBI participants (PR=1.27). Conclusion: These findings indicate a disparity in the prevalence of cardiovascular disease based on residential area among JKN participants. Prevalence in urban areas was consistently higher than in rural areas across all analyzed strata. However, these findings should be interpreted with caution because JKN claims-based data may underestimate cases in rural areas due to limited access to referral facilities.
Read More
S-12315
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Restu Adya Cahyani; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Agus Triwinarto
S-10106
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuanita Rizky Inggarputri; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Iwan Ariawan, Pujiyanto, Saudatina Aum Maujudah, Triwidhi Hastuti Puspitasari
Abstrak:
Penyakit jantung masih menjadi masalah kesehatan global di seluruh dunia termasuk Indonesia dan menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018 prevalensi penyakit jantung mencapai 1,5%. Salah satu faktor resiko utama dari penyakit jantung adalah diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan akurasi model prediksi kejadian penyakit jantung pada penderita DM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2021 dengan pendekatan berbasis machine learning dan menggunakan metode random survival forest. Hasil penelitian pada kelompok penderita DM tipe 1, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,645 dengan nilai AUC sebesar 0,8. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 64,5% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 1 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung. Sedangkan pada kelompok penderita DM tipe 2, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,631 dengan nilai AUC sebesar 0,657. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 63,1% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 2 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung.

Heart disease is still a global health problem throughout the world including Indonesia and is the highest cause of death. Based on Riskesdas 2018 data, the prevalence of heart disease reached 1,5%. One of the main risk factors for heart disease is diabetes mellitus (DM). This study aims to obtain the accuracy of the prediction model of heart disease incidence in DM patients in Indonesia. This study used BPJS Kesehatan sample data for 2015-2021 with a machine learning-based approach and using the random survival forest method. The results of the study in the group of patients with T1D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,645 with an AUC value of 0,8. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 64,5% to correctly predict T1D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events. While in the group of patients with T2D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,631 with an AUC value of 0,657. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 63,1% to correctly predict T2D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events.
Read More
T-6910
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardini Utami; Pembimbing: Indang Trihandini, Ratna Djuwita; Penguji: Sudijanto Kamso, Sulistyo, Sophia Hermawan
Abstrak:

Salah satu masalah dalam Program Pengendalian TB di Indonesia adalah ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan sehingga putus obat dan mengakibatkan gagal konversi dan gagal pengobatan serta risiko menjadi kasus TB kebal obat. Salah satu provinsi dengan angka putus berobat melebihi angka nasional adalah Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru, terlebih pada angka putus berobat di Rumah sakit yang telah menerapkan strategi DOTS mencapai 15%. (Surveilens TB nasional, 2011). Angka putus berobat yang tinggi di Rumah sakit disebabkan antara lain oleh jarak yang jauh dari rumah, tidak ada petugas yang melacak pasien putus obat, jejaring yang tidak kuat antara Rumah sakit dan Puskesmas dan petugas TB Kabupaten/Provinsi. Tujuan Penelitian ini adalah melihat hubungan fasilitas pelayanan kesehatan TB DOTS dengan kesintasan kejadian putus berobat TB paru di Kota Pekanbaru. Desain Penelitian ini adalah menggunakan desain kohort retrospektif dengan melihat data surveilens pasien TB kota Pekanbaru yang terdaftar sepanjang tahun 2010 serta analisis yang digunakan adalah analisis survival menggunakan metode Kaplan Meier untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen dan untuk pemodelan multivariatnya dilakukan dengan Regresi Cox. Sampel penelitian ini adalah 334 pasien yang berobat ke Puskesmas dan 120 pasien yang berobat ke Rumah sakit. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Kota Pekanbaru adalah 14,4%, dengan median waktu putus berobat 75 hari dan 73% pasien putus berobat tersebut tidak mengalami konversi atau   sudah putus obat sebelum dievaluasi hasil pengobatan tahap intensifnya. Probabilitas kelangsungan pasien menyelesaikan pengobatannya adalah 62%. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Puskesmas sebesar 9% dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 72%, sedangkan angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Rumah sakit sebesar 29%, dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 50%. Pasien TB yang berobat di Fasyankes Rumah sakit memiliki kemungkinan untuk putus berobat sebesar 4.21 kali dibandingkan dengan pasien TB yang berobat di Puskesmas setelah dikontrol oleh variabel ketersediaan tenaga terlatih, dan jarak (Nilai p = 0.000). Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan jejaring eksternal yang kuat antara Rumah sakit dengan dengan Dinas Kesehatan, laboratorium daerah, Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta diharapkan Rumah sakit dapat memberikan pilihan tempat pengobatan kepada pasien pada sesaat setelah diagnosis, di Puskesmas wilayah tempat pasien tinggal atau tetap berobat di Rumah sakit dengan syarat harus patuh pada saat jadwal minum obat maupun harus datang ke RS pada waktu mengambil obat. Kata Kunci: Kesintasan, Putus obat, Rumah sakit, Puskesmas


One of the problems in the TB Control Program in Indonesia is a non-compliance of patients in the treatment of drug withdrawal and thus lead to failed conversions and failed treatment and Multi Drugs Resistance TB. One of the provinces with treatment dropout rate exceeds the national rate is Riau Province, Pekanbaru City in particular, especially in the hospitals that have implemented the DOTS strategy reached 15%. The purpose of this study is to see the relationship of health care facilities with a survival rate of TB patients that have treatment in DOTS Health Facility, in the city of Pekanbaru. The study design was a retrospective cohort design using by looking at the data surveillance of TB patients in Pekanbaru city registered during the year 2010 as well as the analysis used is the analysis of survival using the Kaplan-Meier to see the relationship between the dependent and independent variables for multivariate modeling performed with Cox regression. The research sample was 334 patients who went to health centers and 120 patients who went to the hospital. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in this study was 14.4%, with median treatment time of 75 days and drop in survival probability of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in a complete treatment for 6 months was 87%. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients at health center by 9% with a median time of default of 120 days and the cumulative probability of survival in the complete treatment period of 6 months by 92%, while the dropout rate for treatment of new cases of pulmonary TB patients in the hospital for 29 % with a median time of 60-day default and the cumulative survival probability of complete treatment within 6 months by 73%. TB patients who seek treatment at hospital have a chance to drop out 4.21 times compared with TB patients who seek treatment at health centers once controlled by the variable availability of trained personnel and the distance (p-value = 0.000). To overcome these problems, it takes a strong external network of hospitals by the district health office, local laboratories, clinics and other health care facilities to improve treatment success, as well as the hospital is expected to provide treatment options to patients in shortly after diagnosis, the health center areas where patients live or stay for treatment at the Hospital but have to comply with the requirements at the time of the schedule to take medication and have come to the hospital at the time of taking the drug. Keyword: Survival, default, hospital, health center

Read More
T-3557
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Rahmadani; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang menjadi beban utama pada layanan kesehatan mental di Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya kebutuhan rawat inap, dan lamanya perawatan, namun data tren pelayanan masih terbatas. Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan pada fasilitas rujukan tingkat lanjut (FKRTL) tahun 2021–2024. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan tren proporsi dan pola rawat inap, sedangkan uji chi-square membandingkan rawat inap kunjungan skizofrenia dan non-skizofrenia. Dari 1,32 juta kunjungan gangguan kesehatan mental, 40,68% adalah skizofrenia. Proporsi menurun dari 46,52% (2021) menjadi 35,12% (2024), namun jumlah absolut tetap meningkat, terutama pada laki-laki, remaja, peserta PBI, dan kelas rawat III . Pola rawat inap skizofrenia terus meningkat dari 41,59% pada tahun 2021 menjadi 63,56% di tahun 2024. Analisis bivariat menunjukkan risiko rawat inap (RR=3,07; 95% CI: 3,06–3,09) dan lama rawat inap panjang (RR=15,06; 95% CI: 14,61-15,52) pada skizofrenia lebih tinggi dibanding non-skizofrenia. Skizofrenia tetap menjadi beban utama FKRTL, terutama pada kelompok sosial ekonomi rentan. Peningkatan kebutuhan rawat inap menegaskan pentingnya deteksi dini, kesinambungan pengobatan, dan penguatan layanan komunitas.

Schizophrenia is a severe mental disorder and represents a major burden on mental health services in Indonesia. This burden is reflected in high inpatient demand and long treatment durations, yet data on service trends remain limited. A retrospective descriptive study was conducted using BPJS Kesehatan claims data from advanced referral health facilities (FKRTL) between 2021 and 2024. Univariate analysis described trends in proportions and inpatient care patterns, while chi-square tests were used to compare inpatient outcomes between schizophrenia and non-schizophrenia visits. Out of 1.32 million mental health visits, 40.68% were for schizophrenia. Although the proportion declined from 46.52% in 2021 to 35.12% in 2024, absolute visit numbers increased, particularly among males, adolescents, PBI participants (social assistance program), and Class III inpatients. Inpatient care for schizophrenia rose steadily from 41.59% in 2021 to 63.56% in 2024. Bivariate analysis indicated that schizophrenia visits had higher risks of inpatient admission (RR = 3.07; 95% CI: 3.06–3.09) and prolonged inpatient stay (RR = 15.06; 95% CI: 14.61–15.52) compared with non-schizophrenia visits. Schizophrenia remains a primary burden on FKRTL, especially among socioeconomically vulnerable groups. The increasing inpatient demand highlights the importance of early detection, continuity of care, and strengthening community mental health services.
Read More
S-12316
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khalina Puspitasari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental paling umum di seluruh dunia yang dapat mengarah pada keinginan bunuh diri serta menimbulkan kerugian ekonomi. Kelompok dewasa muda memiliki prevalensi depresi tertinggi, namun paling sedikit mengakses layanan kesehatan mental. Wilayah perkotaan memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dari perdesaan karena berbagai perbedaan antara kedua wilayah tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan depresi pada dewasa muda usia 18-24 tahun di Indonesia menurut wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi logistik. Hasil menunjukkan perempuan (OR=2,743; 95% CI=2,058 - 3,655), memiliki riwayat penyakit kronis (OR=4,252; 95% CI=2,651 - 6,818), dan mengonsumsi alkohol (OR=4,285; 95% CI=2,359 - 7,786) merupakan determinan depresi di perkotaan. Perempuan (OR=2,149; 95% CI=1,196 - 3,863), tidak bekerja (OR=2,260; 95% CI=1,274 - 4,008), dan tidak menikah (OR=1,980; 95% CI=1,161 - 3,377) merupakan determinan depresi di perdesaan. Program edukasi, konseling, dan skrining kesehatan jiwa perlu diutamakan bagi kelompok berisiko, serta diintegrasikan dengan promosi gaya hidup sehat.

Depression is the most common mental health disorder worldwide that can lead to suicidal ideation and economic loss. Young adults have the highest prevalence of depression, but the least to access mental health services. Urban areas have a higher prevalence of depression than rural areas due to various differences between the two areas of residence. Based on that, this study aims to determine the determinants of depression in young adults aged 18-24 years in Indonesia according to urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (IHS). Data analysis was carried out using the logistic regression analysis method. The results showed that women (OR = 2.743; 95% CI = 2.058 - 3.655), having a history of chronic disease (OR = 4.252; 95% CI = 2.651 - 6.818), and consuming alcohol (OR = 4.285; 95% CI = 2.359 - 7.786) are determinants of depression in urban areas. Female (OR=2.149; 95% CI=1.196 - 3.863), unemployed (OR=2.260; 95% CI=1.274 - 4.008), and unmarried (OR=1.980; 95% CI=1.161 - 3.377) are determinants of depression in rural areas. Mental health education, counseling, and screening programs need to be prioritized for at-risk groups, and integrated with healthy lifestyle promotion.
Read More
S-11902
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ilham Prakoso; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Mitra Kadarsih
Abstrak: Cakupan persalinan di fasilitas kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2019 hanya mencapai 55,39% dan merupakan salah satu provinsi dengan angka cakupan terendah di Indonesia. Angka cakupan tersebut masih jauh dari target nasional Kementerian Kesehatan, yakni 85%. Rendahnya cakupan persalinan di fasilitas kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang bervariasi di setiap kabupaten/kota Provinsi Papua Barat. Analisis spasial dilakukan untuk melihat sebaran cakupan beserta faktor-faktor yang kemungkinan dapat mempengaruhi cakupan tersebut dan untuk melihat korelasi antara faktor determinan dengan angka cakupan persalinan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian ekologi yang menggunakan pendekatan analisis spasial dan korelasi. Data yang digunakan adalah data sekunder dari situs jaringan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dan Badan Pusat Stastistika. Hasil analisis spasial menunjukkan ada 8 kabupaten/kota memiliki nilai tinggi, 3 kabupaten memiliki nilai sedang, dan 2 kabupaten memiliki nilai rendah. Analisis korelasi menunjukkan bahwa IPM, rasio tenaga kesehatan, dan rasio fasilitas kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap cakupan persalinan di fasilitas kesehatan. Penelitian lebih lanjut memerlukan faktor yang lebih spesifik atau menggali lebih dalam faktor yang telah diteliti di Provinsi Papua Barat.
The coverage of deliveries at health facilities in West Papua Province in 2019 only reached 55.39% and is one of the provinces with the lowest coverage rates in Indonesia. This coverage figure is still far from the national target of the Ministry of Health, which is 85%. The low coverage of deliveries in health facilities can be caused by several factors that vary in each district/city of West Papua Province. Spatial analysis was carried out to see the distribution of coverage along with the factors that might affect the coverage and to see the correlation between the determinant factors and the number of delivery coverage in health facilities. This research is ecology research that uses a spatial analysis approach and correlation. The data used is secondary data from the website of the Ministry of Health, the West Papua Provincial Health Office, and the Central Statistics Agency. The results of the spatial analysis show that there are 8 districts/cities with high scores, 3 districts with moderate scores, and 2 districts with low scores. Correlation analysis shows that HDI, ratio of health workers, and ratio of health facilities have no significant relationship to the coverage of deliveries in health facilities. Further research requires more specific factors or digging deeper into the factors that have been studied in West Papua Province.
Read More
S-11018
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive