Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42129 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Shabrina Alfath Ramadhania; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis metabolisme yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat resistensi insulin. Prevalensi diabetes melitus di DKI Jakarta merupakan yang tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12.580 subjek penelitian, sebanyak 1,48% mengalami diabetes melitus tipe 2. Analisis bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara variabel jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, obesitas sentral, IMT, hipertensi, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, dan tingkat aktivitas fisik dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 (p-value <0,05).

Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood sugar levels (hyperglycemia) resulting from insulin resistance. The prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta is the highest in Indonesia. This study aims to determine the factors associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus in DKI Jakarta. This is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. Data analysis conducted in this study consisted of univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using the chi-square test. The results showed that out of 12,580 study subjects, 1,48% had type 2 diabetes mellitus. Bivariate analysis showed a significant association between the variables of gender, age, education level, central obesity, BMI, hypertension, sweet food consumption, sweet beverage consumption, and physical activity level with the incidence of type 2 diabetes mellitus (p-value < 0.05).
Read More
S-12390
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deswita Natalia Ibo; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Yovsyah, Piya Siyania
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecukupan kunjungan Antenatal Care (ANC) sesuai standar K6 serta prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) pada balita di Indonesia berdasarkan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Dengan pendekatan analisis deskriptif, penelitian ini memanfaatkan data ibu balita yang memiliki kelengkapan informasi mengenai riwayat kehamilan dan kelahiran. Hasil menunjukkan prevalensi BBLR nasional sebesar 6,4%, dengan variasi antar provinsi yang cukup lebar—tertinggi di Kalimantan Selatan dan terendah di Papua Pegunungan. Proporsi ibu yang melakukan kunjungan ANC adekuat (minimal enam kali) mencapai 75,5%, sementara 24,5% masih belum memenuhi standar. Prevalensi BBLR sedikit lebih tinggi pada kelompok ibu dengan kunjungan ANC tidak adekuat (6,5%) dibandingkan kelompok adekuat (6,3%). Distribusi BBLR juga dipengaruhi oleh karakteristik ibu seperti usia, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan status kekurangan energi kronis (KEK). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun cakupan ANC sudah relatif baik, peningkatan jumlah kunjungan saja belum cukup untuk menekan prevalensi BBLR secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya terintegrasi yang lebih menekankan kualitas pelayanan ANC, intervensi gizi ibu hamil, serta penanganan kesenjangan regional agar dapat memberikan dampak yang lebih optimal terhadap kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

This study aims to describe the adequacy of Antenatal Care (ANC) visits according to the K6 standard and the prevalence of low birth weight (LBW) infants among toddlers in Indonesia based on secondary data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). Using a descriptive analysis approach, this study utilized data from mothers of toddlers with complete information on pregnancy and birth history. The results showed a national LBW prevalence of 6.4%, with considerable variation across provinces—highest in South Kalimantan and lowest in Papua Pegunungan. The proportion of mothers who had adequate ANC visits (at least six times) reached 75.5%, while 24.5% still did not meet the standard. The prevalence of LBW was slightly higher among mothers with inadequate ANC visits (6.5%) compared to those with adequate visits (6.3%). LBW distribution was also influenced by maternal characteristics such as age, education, place of residence, occupation, and chronic energy deficiency (CED) status. These findings indicate that although ANC coverage is relatively good, increasing the number of visits alone is not sufficient to significantly reduce LBW prevalence. Therefore, integrated efforts are needed that emphasize the quality of ANC services, nutritional interventions for pregnant women, and addressing regional disparities to achieve more optimal impacts on maternal and child health in Indonesian.
Read More
S-12389
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winona Margareth Cindy Teresa Aipipidely; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dan Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. Balita merupakan kelompok rentan karena sistem imun yang belum matang, sehingga infeksi TB pada balita dapat memengaruhi status gizi. Status gizi balita berperan penting dalam menentukan kesehatan dan kemampuan tubuh melawan infeksi. Balita dengan TB berisiko mengalami penurunan status gizi, sementara gizi buruk dapat memperburuk perjalanan penyakit. Tujuan: Mengetahui gambaran status gizi balita penderita TB di Indonesia. Metode: Penelitian cross-sectional ini menggunakan data 1.030 balita penderita tuberkulosis dari SSGI 2024. Status gizi balita sebagai variabel dependen diukur menggunakan indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan/Panjang Badan (BB/TB atau BB/PB). Analisis bivariat deskriptif dilakukan untuk menggambarkan perbedaan distribusi status gizi berdasarkan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor individu, dengan uji chi-square. Nilai p digunakan untuk menunjukkan signifikansi perbedaan distribusi antar kategori variabel. Hasil: Dari 1.030 balita penderita TB yang dianalisis, 17,4% memiliki status gizi kurang, 75% gizi normal, dan 6,7% gizi lebih. Proporsi gizi kurang secara signifikan lebih tinggi pada balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (25,1%) dibandingkan balita tanpa riwayat BBLR (15,3%) (p-value = 0,022), serta pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (21,6%) dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif (10,7%) (p-value  = 0,013). Variabel lain, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua, status imunisasi, pemantauan perkembangan, dan perilaku konsultasi gizi, tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap status gizi balita. Secara geografis, proporsi gizi kurang tertinggi ditemukan di Papua (29,2%) dan secara signifikan lebih tinggi di wilayah pedesaan dibandingkan wilayah perkotaan (p-value  = 0,040). Kesimpulan: Upaya perbaikan perlu diarahkan pada penguatan dukungan ASI, pemantauan dan intervensi khusus bagi bayi BBLR, peningkatan akses gizi dan layanan kesehatan di wilayah pedesaan.

Background: Tuberculosis (TB) remains a major global health problem, and Indonesia ranks second among countries with the highest TB burden worldwide. Children under five are a vulnerable group due to their immature immune systems, making TB infection in this age group more likely to affect nutritional status. Nutritional status plays a critical role in determining health outcomes and the body’s ability to fight infection. Children with TB are at increased risk of experiencing nutritional decline, while poor nutritional status can further worsen the progression of the disease. Objective: To describe the nutritional status of children under five with tuberculosis in Indonesia Methods: This cross-sectional study used data from 1,030 children under five with tuberculosis from SSGI 2024. Nutritional status of the children, as the dependent variable, was measured using the Weight-for-Height/Length (WH/L) indicator. Descriptive bivariate analysis was conducted to illustrate differences in the distribution of nutritional status based on environmental factors, behaviors, healthcare services, and individual factors, using the chi-square test. The p-value was used to indicate the significance of differences in distribution across variable categories.  Results: Among the 1,030 children analyzed, 17.4% had undernutrition, 75% had normal nutrition, and 6.7% were overweight. The proportion of undernutrition was significantly higher among children with a history of low birth weight (25.1%) than among those without low birth weight (15.3%) (p-value = 0.022), and among children who did not receive exclusive breastfeeding (21.6%) than among those who received exclusive breastfeeding (10.7%) (p-value = 0.013). Other variables, including sex, age, parental education, immunization status, growth monitoring, and nutrition consultation behavior, did not show significant differences in nutritional status. Geographically, the highest proportion of undernutrition was observed in Papua (29.2%) and was significantly higher in rural areas than in urban areas (p-value  = 0,040). Conclusion: Improvement efforts should focus on strengthening support for exclusive breastfeeding, enhancing monitoring and targeted interventions for low-birth-weight infants, and improving access to nutrition and health services in rural areas.
Read More
S-12188
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Ayu Nurranti Ramadhani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Nurwirah Verliyanti
Abstrak:
Berdasarkan data Riskesdas (2018), prevalensi balita stunting di Provinsi DKI Jakarta sebesar 17,7%. Sedangkan prevalensi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi DKI Jakarta sebesar 6,08%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara riwayat BBLR terhadap kejadian stunting pada balita di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel 3075 dan analisis data menggunakan Cox-regression. Dari hasil analisis didapatkan proporsi BBLR sebesar 6,6% dan proporsi balita stunting sebesar 17,6%. Hasil analisis multivariat hubungan BBLR dengan kejadian stunting setelah dikontrol oleh variabel potensial confounder yaitu PR 0,938 (95%CI: 0,655-1,345). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data SSGI tahun 2021 setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, panjang badan lahir, konsumsi protein hewani, keragaman pangan, keikutsertaan KB, kelas ibu hamil dan kelas ibu balita.

Based on Riskesdas data (2018), the prevalence of stunting under five in DKI Jakarta Province is 17.7%. While the prevalence of Low Birth Weight Babies (LBW) in DKI Jakarta Province is 6.08%. The purpose of this study was to determine the relationship between LBW history and the incidence of stunting in toddlers in DKI Jakarta Province. This study used secondary data taken from the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) with a sample size of 3075 and data analysis using Cox-regression. From the results of the analysis, it was found that the proportion of LBW was 6.6% and the proportion of stunted toddlers was 17.6%. The results of multivariate analysis of the relationship between low birth weight and stunting after being controlled by the potential confounder variable, namely PR 0.938 (95% CI: 0.655-1.345). The conclusion of this study is that there is no significant relationship between LBW and the incidence of stunting in DKI Jakarta Province based on the 2021 SSGI data after controlling for the variables age, sex, birth length, consumption of protein, food diversity, family planning participation, class of pregnant women and mother toddler class.
Read More
T-6622
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Indah Susanti; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko, Helda, Nuning Kurniasi
Abstrak:

Gizi adalah bagian penting dari kesehatan dan perkembangan manusia. Indonesia, belum mencapai target MDG’s kekurangan gizi <15,5% yaitu 17,9% pada tahun 2010. Sedangkan BBLR merupakan salah satu variabel pokok penyebab kekurangan gizi pada balita yang prevalensinya 11,5%. Penelitian dilakukan terhadap anak usia 24-59 bulan dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2010 dan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 10.122 responden. Analisis data menggunakan metode cox regression (complex sample). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jenis kelamin, pendidikan ibu, tingkat sosial ekonomi, dan tipe daerah, bukan faktor counfounding maupun interaksi sehingga nilai PR balita dengan riwayat BBLR memiliki prevalensi mengalami kekurangan gizi 1,77 kali dibandingkan anak yang lahir normal pada balita dengan asupan energi cukup (PRadj  = 1,77, 95% CI: 1,32-2,37) dan pada balita dengan asupan energi kurang, protein cukup, dan protein kurang masing-masing sebesar 1,55 (95% CI: 1,27-1,89), 1,51 (95% CI: 1,22-1,86), dan 1,85 (95% CI: 1,40-2,43). Kata Kunci: BBLR, Status gizi, Balita, Anak 24-59 bulan.


 Nutrition is an essential part of health and human development. Indonesia, not to achieve the MDG's targets malnutrition <15.5% ie 17.9% in 2010. While LBW is one of the main variables in infants causes of malnutrition prevalence of 11.5%. Research conducted on children aged 24-59 months with the use of secondary data and the Health Research Association 2010 cross-sectional study design. The number of samples in this study were 10122 respondents. Data analysis using Cox regression method (complex sample). The results showed that after controlling sex, maternal education, socioeconomic level, and type of area, with a history of LBW children had a prevalence of 1.77 times the malnourished than children of normal birth in infants with adequate energy intake (PRadj = 1.77, 95% CI: 1.32 to 2.37) and in children with less energy intake, adequate protein, and less protein each 1.55 (95% CI: 1,27 to 1,89), 1.51 (95% CI: 1.22 to 1.86), and 1.85 (95% CI: 1.40-2.43). Keywords: Low birth weight, nutritional status, toddlers, children 24-59 months

Read More
T-3600
[s.l.] : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primades Atriyanto; Pembimbimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Nasrin Kodim, Yovsyah, Prastowo Nugroho, Dwi Hapsari
Abstrak:

Angka kematian bayi (AKB) sebagai salah satu indikator mortalitas derajat kesehatan di Indonesia telah menurun cukup berarti, namun masih jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN serta negara-negara maju. Angka kematian neonatal merupakan sekilar 40% dari AKB, dengan penyebab utama adalah bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 29% (SKRT, 2001). Berbagai studi menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya BBLR, faktor kualitas pelayanan antenatal merupakan salah satu faktor risiko yang sangat penting, disamping faktor-faktor lain seperti paritas, jarak kelahiran, riwayat kehamilan terdahulu, pertambahan berat badan selama hamil, tingkat aktifitas fisik ibu, komplikasi selama hamil, perilaku merokok, umur ibu, tinggi badan ibu, tingkat pendidikan ibu, etnis atau ras, tingkat sosial ekonomi dan jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor kualitas pelayanan antenatal (berdasarkan frekuensi pelayanan, jadwal pelayanan, dan konseling) terhadap kejadian BBLR di Indonesia. Penelitian dirancang secara kasus kontrol dengan menggunakan data terdokumentasi basil SDKI 2002-2003. Kasus adalah subjek dengan atribut efek positif (BBLR) dicarikan kontrolnya yaitu subjek dengan atribut efek negatif (Tidak BBLR). Populasi studi adalah seluruh sampel SDKI 2002-2003 yaitu semua wanita berusia 15-49 tahun yang sudah pernah kawin dan melahirkan dengan lahir hidup dalam lima tahun terakhir sebelum survei, dengan kriteria inklusi kasus dan kontrol adalah kelahiran tunggal, ditimbang saat lahir, dan bapak juga diwawancarai, sedangkan kriteria eksklusinya adalah data terdokumentasi tidak tersedia lengkap. Dengan menggunakan rumus Batas minimal sampel untuk kasus kontrol tidak berpadanan didapatkan kasus sebanyak 82 dan kontrol 328. Dengan analisis regresi logistik ganda, model akhir pengaruh kualitas pelayanan antenatal terhadap kejadian BBLR didapatkan nilai OR = 2,71 (95% CI: 1,60-4,58), artinya bahwa responden yang mendapatkan kualitas pelayanan antenatal (berdasarkan frekuensi pelayanan, jadwal pelayanan, dan konseling) dengan kualitas buruk kemungkinan berisiko 2,71 kali lebih besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang mcndapatkan kualitas pelayanan antenatal balk setelah dikontrol dengan komplikasi selama hamil, umur ibu, dan jenis kelamin bayi. Variabel yang terbukti signifikan secara statistik dengan kejadian BBLR adalah komplikasi selama hamil (OR = 3,98 atau 95% CI: 2,06-7,67), umur ibu (OR = 1,98 atau 95% CI: 1,02-3,85), dan jenis kelamin bayi (OR = 1,93 atau 95% CI: 1,14-3,28), sedangkan variabel yang tidak terbukti berpengaruh signifikan secara statistik adalah paritas, riwayat kehamilan, dan pendidikan ibu. Dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan antenatal (berdasarkan frekuensi pelayanan, jadwal pelayanan, dan konseling) terbukti mempunyai pengaruh bermakna secara statistik terhadap kejadian BBLR setelah dikontrol dengan variabel komplikasi selama hamil, umur ibu, dan jenis kelamin bayi, sehingga perlu menjadi bahan pertimbangan oleh para pengambil kebijakan dalam upaya menurunkan kejadian BBLR di Indonesia.


 

Infant Mortality Rate (IMR) as one of mortality indicators of health level degraded in Indonesia significantly, but it is higher than many countries in ASEAN and also development countries. Neonatal mortality is almost 40% of infant mortality rate with main reason of low birth weight is 29% (SKRT, 2001). Various study mentioned many factors which caused a low birth weight occurrence, antenatal service quality factor is one of the important risk factors compared with other factors such as parity, birth interval, past pregnancy history, weight increased during pregnancy, activity level of mother's physic. Complication during pregnancy, smoking behavior, mother's age, mother's tall, education level of mother, ethnic or race, social and economic level, and baby gender which is born. This Research purpose is to know effect of antenatal service quality factor (according to service frequency, service schedule, and counseling) to low birth weight occurrence. Research designed with a control case by using result of documentation data SDKI 2002-2003. Case is subject with positive effect attribute (low birth weight) by looking for its control that is subject with negative effect attribute (no low birth weight). Study population are all samples of SDKI 2002-2003 that are all women 15-49 years old who have married and born with life birth in last five years before survey, with inclusion criterion of case and control are single birth, weighted when she born, and father is also held an interview, while its inclusion criterion of available documentation data is not complete. By using a minimum limit formula of samples for non match control case, it founded 82 cases and 328 controls. By analysis of multiple logistic regression, final model effect of antenatal service quality to low birth weight occurrence got a value of OR = 2,71 (95% CI: 1,60-4,58), this means responders who got antenatal service quality (according to service frequency, service schedule, and counseling) with a bad quality of risk possibility are 2,71 times bigger to bear with low birth weight compared with mother who got good quality of antenatal service after controlled with a complication during pregnancy, mother's age, and baby gender. Significant variable with a low birth weight occurrence statistically is complication during pregnancy (OR = 3,98 atau 95% CI: 2,06-7,67), mother's age (OR = 1,98 or 95% Cl: 1,02-3,85), and baby gender (OR = 1,93 or 95% CI: 1,14-3,28), while variables who does not significant effect statistically are parity, pregnancy history, and mother?s education. It is concluded that antenatal service quality (according to service frequency, service schedule, and counseling) have significant effects statistically to low birth weight occurrence after controlled with complication variable during pregnancy, mother?s age, and baby gender, so it is important to become consideration for all policies makers decreasing effort of low birth weight occurrence in Indonesia.

Read More
T-2293
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hera Apprimadona; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan karena termasuk penyebab utama kematian neonatus di Indonesia selain karena dampak negatif jangka panjang yang disebabkannya. Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan merupakan upaya menurunkan resiko kejadian BBLR. Namun kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Populasi penelitian ini adalah perempuan berusia 10-54 tahun di Indonesia berstatus kawin/cerai hidup/cerai mati yang memiliki riwayat persalinan periode 1 Januari 2018 sampai 25 September 2023, untuk kelahiran terakhir yang telah berakhir yang menjadi responden dalam SKI 2023. Sampel dalam penelitian ini adalah responden dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah perempuan melahirkan bayi tunggal, informasi berat lahir bayi berdasarkan KIA, dengan data yang lengkap untuk semua variabel yang diteliti. Desain penelitian ini adalah cross sectional  dan menggunakan uji regresi cox dalam analisis data bivariat dan multivariat untuk mendapatkan Prevalence Ratio (PR) dengan interval kepercayaan 95%. Pendekatan analisis multivariat dilakukan untuk mengontrol variabel kovariat yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, usia kehamilan, komplikasi kehamilan, merokok, kuantitas ANC K4,  kualitas ANC 10T, pola makan, status ekonomi, wilayah tempat tinggal dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi BBLR sebesar 5,33% dan proporsi kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil sebesar 49,02%. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD dengan kejadian BBLR di Indonesia, dimana ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi TTD mempunyai risiko 1,216 kali lebih besar (adjusted PR: 1,216; 95% CI: 1,04-1,43; p-value: 0,016) untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu yang patuh mengkonsumsi TTD, setelah dikontrol usia kehamilan Kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil di masih rendah, padahal berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR di Indonesia, sehingga perlu perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil.

Low birth weight (LBW) is a health problem because it is one of the main causes of neonatal mortality in Indonesia in addition to the long-term negative impacts it causes. Consumption of Iron Supplement Tablets (TTD) of at least 90 tablets during pregnancy is an effort to reduce the risk of LBW. However, compliance with TTD consumption in pregnant women in Indonesia is still low. This study aims to analyze the relationship between compliance with TTD consumption in pregnant women and the incidence of LBW in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The population of this study were women aged 10-54 years in Indonesia with married/divorced/divorced and died status who had a history of childbirth from January 1, 2018 to September 25, 2023, for the last birth that had ended who were respondents in the 2023 SKI. The sample in this study were respondents from the study population who met the inclusion criteria. The inclusion criteria in this study were women giving birth to a single baby, information on the baby's birth weight based on the KIA, with complete data for all variables studied. The design of this study was cross-sectional and used the cox regression test in bivariate and multivariate data analysis to obtain the Prevalence Ratio (PR) with a 95% confidence interval. The multivariate analysis approach was carried out to control covariate variables, namely age, education, occupation, parity, gestational age, pregnancy complications, smoking, quantity of ANC K4, quality of ANC 10T, diet, economic status, area of residence and gender. The results of this study showed a proportion of LBW of 5.33% and a proportion of compliance with TTD consumption in pregnant women of 49.02%. The results of the multivariate analysis showed a statistically significant relationship between pregnant women who were not compliant in consuming TTD and the incidence of LBW in Indonesia, where pregnant women who were not compliant in consuming TTD had a 1.216 times greater risk (adjusted PR: 1.216; 95% CI: 1.04-1.43; p-value: 0.016) of giving birth to LBW compared to mothers who were compliant in consuming TTD, after controlling for gestational age. Compliance with TTD consumption in pregnant women is still low, even though it is significantly related to the incidence of LBW in Indonesia, so the government needs attention to increase compliance with TTD consumption in pregnant women.

Read More
T-7290
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Maisaroh; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Kusharisupeni, Siti Kulsum, Abas Basuni Djahari
T-4098
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desya Mulyaningrum; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Mugia Bayu Rahadja
Abstrak:
BBLR adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). BBLR dapat menyebabkan kematian dan kesakitan prenatal, serta meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular. Proporsi BBLR di Indonesia dari periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil dan tidak ada penurunan dari tahun 2007 dengan tahun 2017. Kehamilan tidak diinginkan menjadi salah satu faktor risiko BBLR. Kehamilan tidak diinginkan (unwanted pregnancy) adalah suatu kehamilan yang terjadi di luar perencanaan. Karena pasangan suami atau istri tidak mau menggunakan kontrasepsi, tidak ada akses ke pelayanan KB sehingga menyebabkan kehamilan, dimana sceara fisik atau psikologis pasangan tidak siap dan menolak kejadian kehamilan (unwanted pregnancy). Proporsi kehamilan tidak diinginkan berdasarkan periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kehamilan tidak diinginkan terhadapp kejadian BBLR perdesaan dan perkotaan di Indonesia berdasarkan data sekunder SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah kelahiran hidup dalam 5 tahun sebelum survei dengan laporan berat lahir yang memiliki berat kurang dari 2500 gram dan bertempat tinggal di pedesaan atau perkotaan di Indonesia.
 
Hasil penelitian ini adalah proporsi kejadian kehamilan tidak diinginkan di Indonesia adalah 7,6% dengan rincian 8,9% di perkotaan, 6,3% di perdesaan. Pada daerah perkotaan, kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, komplikasi kehamilan, dan paritas.
 
Hasil analisismultivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perkotaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna. Pada daerah perdesaan kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat ekonomi, komplikasi kehamilan, dan kunjungan ANC. Hasil analisis multivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perdesaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.
 

LBW is brith weight less than 2500 grams (up to 2499 grams). LBW can cause prenatal death and pain, and increase the risk of causing non-communicable diseases. The proportion of LBW in Indonesia from the 2007 IDHS period, 2012, 2017 was stable and there was no different from 2007 to 2017. Unwanted pregnancies became one of the risk factors for LBW. Unwanted pregnancy is a pregnancy that occurs outside of planning. Because a husband or wife partner cannot use contraception, there is no access to family planning services which causes pregnancy, while the physical or psychological condition of the partner is not ready and rejects the pregnancy. The proportion of unwanted pregnancies in the 2007, 2012, 2017 IDHS period is stable.
 
This research discusses the expected research on rural and urban LBW events in Indonesia based on the IDHS 2017 secondary data. This study uses data from the Indonesian Demographic and Health Survey (SDKI) 2017. The sample of this study was a study of life in 5 years before the survey with reports on birth weight which weighs less than 2500 grams and resides in rural or urban areas in Indonesia.
 
The results of this study are that the proportion of undesirable events in Indonesia is 7.6% with 8.9% in urban areas, 6.3% in rural areas. In urban areas, pregnancy needs to be more for LBW after controlled by variable levels of education, complications of pregnancy, and parity.
 
The results of multivariate analysis with statistics on the category of pregnancies with LBW in urban areas show a not significant relationship. In BPLR, after being controlled by economic level variables, complications, and ANC visits. The results of multivariate analysis based on statistics on the category of pregnancies with LBW in rural areas showed a not significant relationship.
 
 
Read More
S-9896
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rofingatul Mubasyiroh; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Felly Philips Senewe, Erna Mulati
T-4067
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive