Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35698 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Siratunnisak; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Asih Setiarini, Siti Arifah Pujonarti, Khoirul Anwar, Chaerunnisa Rahman
Abstrak:
Hipertensi mulai menjadi masalah kesehatan pada kelompok dewasa muda. Obesitas sentral yang dinilai menggunakan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) diduga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran serta hubungan sentral, faktor sosiodemografi, dan gaya hidup dengan kejadian hipertensi serta tekanan darah sistolik dan diastolik pada mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan analisis data sekunder terhadap 392 mahasiswa. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square, uji beda rerata, regresi logistik, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,2% responden mengalami sentral dan 31,3% mengalami hipertensi. Rerata tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masing sebesar 127,38 ± 13,79 mmHg dan 81,91 ± 10,03 mmHg. Sebanyak 63,5% responden kurang mengonsumsi sayur dan buah, 53,5% memiliki konsumsi makanan tinggi natrium kategori tinggi, 50,5% memiliki konsumsi minuman manis kategori tinggi, dan 57,9% memiliki durasi tidur kurang. sentral berhubungan dengan kejadian hipertensi (OR = 2,423; 95% CI: 1,504–3,903; p < 0,001), tekanan darah sistolik, dan diastolik (p < 0,001). Jenis kelamin berhubungan dengan hipertensi dan tekanan darah sistolik, sedangkan aktivitas fisik hanya berhubungan dengan tekanan darah sistolik. Pendapatan orang tua, konsumsi sayur dan buah, makanan tinggi natrium, minuman manis, serta durasi tidur tidak berhubungan secara bermakna dengan hipertensi maupun tekanan darah sistolik dan diastolik. Setelah dikontrol seluruh variabel sosiodemografi dan gaya hidup, mahasiswa dengan sentral memiliki odds 2,450 kali untuk mengalami hipertensi (95% CI: 1,484–4,026; p < 0,001). Mahasiswa dengan obesitas juga memiliki tekanan darah sistolik 5,552 mmHg dan diastolik 5,010 mmHg lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak obesitas. Disimpulkan bahwa sentral berhubungan dengan hipertensi serta peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik pada mahasiswa baru.

Hypertension is becoming an increasingly important health concern among young adults. Central obesity, assessed using the waist-to-height ratio (WHtR), is believed to be associated with elevated blood pressure. This study aimed to describe and examine the associations of central obesity, sociodemographic factors, and lifestyle factors with hypertension, systolic blood pressure, and diastolic blood pressure among first-year students at Universitas Indonesia in 2025. This study used a cross-sectional design and secondary data from 392 students. Data were analyzed using the chi-square test, mean difference tests, logistic regression, and multiple linear regression. The results showed that 62.2% of the respondents had central obesity and 31.3% had hypertension. The mean systolic and diastolic blood pressures were 127.38 ± 13.79 mmHg and 81.91 ± 10.03 mmHg, respectively. A total of 63.5% of the respondents had inadequate fruit and vegetable intake, 53.5% had a high frequency of high-sodium food consumption, 50.5% had a high frequency of sugar-sweetened beverage consumption, and 57.9% had insufficient sleep duration. Central obesity was associated with hypertension (OR = 2.423; 95% CI: 1.504–3.903; p < 0.001), systolic blood pressure, and diastolic blood pressure (p < 0.001). Sex was associated with hypertension and systolic blood pressure, whereas physical activity was associated only with systolic blood pressure. Parental income, fruit and vegetable intake, high-sodium food consumption, sugar-sweetened beverage consumption, and sleep duration were not significantly associated with hypertension, systolic blood pressure, or diastolic blood pressure. After adjustment for all sociodemographic and lifestyle variables, students with central obesity had 2.450 times higher odds of hypertension than those without central obesity (95% CI: 1.484–4.026; p < 0.001). Students with central obesity also had systolic and diastolic blood pressures that were 5.552 mmHg and 5.010 mmHg higher, respectively, than those without central obesity. In conclusion, central obesity was associated with hypertension and increased systolic and diastolic blood pressure among first-year students.
Read More
T-7581
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Pinarsinta Namora; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalesinya selalu mengalami peningkatan, termasuk pada dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara asupan gizi dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan obesitas sentral pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan 108 responden. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui platform Google Form, serta pengukuran antropometri dan SQ-FFQ secara tatap muka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status merokok dengan obesitas sentral yang bersifat sebagai faktor protektif (p-value 0,003). Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,652), karbohidrat (p-value 0,957), protein (p-value 0,786), lemak (p-value 0,87), aktivitas fisik (p-value 0,423), tingkat stres (p-value 0,081), serta pengetahuan gizi (p-value 0,859). Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap obesitas sentral dan pemeliharaan kesehatan secara umum dengan menganut pola hidup yang lebih sehat, seperti membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak; meningkatkan aktivitas fisik, strategi manajemen stres, serta mengurangi konsumsi rokok.

Central obesity is a major public health concern with a steadily increasing prevalence, including among young adults. This study aims to examine the relationship between nutrient intake and other contributing factors associated with central obesity among students of the Faculty of Engineering at Universitas Indonesia. This research employed a cross-sectional study design involving 108 respondents. Data collection was conducted through questionnaires distributed via Google Forms, along with face-to-face anthropometric measurements and a semi-quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). The results showed a significant association between smoking status and central obesity, indicating smoking as a protective factor (p-value 0.003). In contrast, no significant associations were found between central obesity and energy intake (p-value 0.652), carbohydrate intake (p-value 0.957), protein intake (p-value 0.786), fat intake (p-value 0.87), physical activity (p-value 0.423), stress levels (p-value 0.081), or nutrition knowledge (p-value 0.859). These findings are expected to raise student awareness about central obesity and encourage better health maintenance through healthier lifestyle practices, such as limiting high sugar, salt, and fat intake; increasing physical activity; applying stress management strategies; and reducing tobacco use.
Read More
S-11908
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Yuniaty Ismail; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sandra Fikawati, Fajrinayanti, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Gangguan mental emosional (GME) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup remaja. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental, sedangkan prevalensi GME pada penduduk usia ≥15 tahun menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 sebesar 2,2%. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi, faktor sosiodemografi, dan gaya hidup dengan GME pada remaja usia 16-18 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder SKI Tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 30.746 remaja usia 16-18 tahun. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Rao-Scott Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik pada sampel kompleks (Complex Samples Logistic Regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi GME pada remaja usia 16-18 tahun di Indonesia sebesar 3,2%. Analisis bivariat menunjukkan jenis kelamin, kebiasaan konsumsi minuman manis, makanan berlemak/gorengan, minuman bersoda, makanan instan, dan minuman beralkohol berhubungan signifikan dengan GME (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki risiko GME 6,43 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki (aOR=6,43; 95%CI=3,99-10,36; p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis kelamin dan gaya hidup berhubungan dengan GME, sehingga diperlukan promosi kesehatan mental dan gaya hidup sehat, terutama bagi remaja perempuan

Emotional mental disorders (EMDs) are a public health concern that can affect adolescents’  psychological well-being, social functioning, and quality of life. The Indonesia National  Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 reported that 34,9% of adolescents  experienced mental health problems, while the prevalence of EMDs among individuals aged  ≥15 years was 2,2% according to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Nutritional  status, sociodemographic factors, and lifestyle factors are thought to be associated with  EMDs. Therefore, this study aimed to analyze the association of these factors with emotional  mental disorders among adolescents aged 16-18 years in Indonesia using data from the 2023  Indonesian Health Survey. This cross-sectional study used secondary data from the 2023  Indonesian Health Survey (SKI). The sample consisted of 30.746 adolescents aged 16-18  years. Data were analyzed using univariate analysis, Rao-Scott Chi-square tests, and  Complex Samples Logistic Regression. The prevalence of EMDs was 3,2%. Bivariate  analysis showed that sex, consumption of sugar-sweetened beverages, fatty/fried foods, soft  drinks, instant foods, and alcohol were significantly associated with EMDs (p<0.05).  Multivariable analysis identified sex as the most dominant factor, with female adolescents  having 6,43 times higher odds of experiencing EMDs than males (aOR=6,43; 95% CI=3,99 10,36; p<0.001). In conclusion, sex and lifestyle factors were associated with EMDs among  Indonesian adolescents aged 16-18 years, highlighting the importance of mental health  promotion and healthy lifestyle interventions, particularly for female adolescents.
Read More
T-7584
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tatiek Suryani; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurul Dina Rahmawati, Mirsal Picasso, Sri Dewi Hayani
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting pada usia produktif. Selain faktor gaya hidup dan pola makan, label pangan diduga turut berperan dalam membentuk perilaku konsumsi yang pada akhirnya dapat memengaruhi risiko hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor gaya hidup, label pangan, dan pola makan dengan kejadian hipertensi serta menguji peran mediasi pola makan pada usia produktif di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cakung. Penelitian analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 152 usia produktif (18–59 tahun) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Sampel dipilih menggunakan stratified proportional sampling dan consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-square, Mann–Whitney, dan PROCESS Hayes Model 4 dengan bootstrap 5000. Prevalensi hipertensi sebesar 33,6%. Hasil analisis menunjukkan bahwa asupan energi, asupan karbohidrat, asupan natrium, durasi tidur, usia, jenis kelamin, dan IMT berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi (p<0,05). Analisis mediasi menunjukkan bahwa asupan energi dan karbohidrat memediasi hubungan aktivitas fisik dengan hipertensi, asupan karbohidrat memediasi hubungan stres dan perilaku terhadap label pangan dengan hipertensi, serta asupan natrium memediasi hubungan durasi tidur dengan hipertensi. Pola makan terbukti memediasi beberapa hubungan antara faktor gaya hidup dan perilaku terhadap label pangan dengan kejadian hipertensi pada usia produktif. Oleh karena itu, upaya pencegahan hipertensi perlu dilakukan melalui pendekatan terpadu yang mencakup perbaikan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan perilaku terhadap label pangan.

Hypertension remains a major public health concern among productive-age adults. In addition to lifestyle and dietary factors, food labels are believed to play a role in shaping dietary behaviors that may ultimately influence the risk of hypertension. This study aimed to analyze the associations of lifestyle factors, food labels, and dietary patterns with hypertension and to examine the mediating role of dietary patterns among productive-age adults in the working area of the Cakung District Public Health Center. This analytical cross-sectional study was conducted among 152 productive-age adults (18–59 years) in the working area of the Cakung District Public Health Center, East Jakarta. Participants were selected using stratified proportional sampling and consecutive sampling techniques. Data were analyzed using Chi-square tests, Mann–Whitney tests, and PROCESS Hayes Model 4 with 5,000 bootstrap samples. The prevalence of hypertension was 33.6%. Energy intake, carbohydrate intake, sodium intake, sleep duration, age, sex, and body mass index (BMI) were significantly associated with hypertension (p<0.05). Mediation analysis showed that energy intake and carbohydrate intake mediated the relationship between physical activity and hypertension, carbohydrate intake mediated the relationships of stress and food label behavior with hypertension, and sodium intake mediated the relationship between sleep duration and hypertension. Dietary patterns were found to mediate several relationships between lifestyle factors and food label use behavior and hypertension among productive-age adults. Therefore, hypertension prevention efforts should adopt an integrated approach that promotes healthy lifestyles, improved dietary patterns, and enhanced food label use behavior.
Read More
T-7704
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasyfa Mutiara; Pembimbing; Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Wardina Humayrah, Riri Indriyanti
Abstrak:
Adaptasi terhadap lingkungan baru dan tuntutan akademik yang meningkat drastis dibanding masa sekolah membuat mahasiswa baru termasuk kelompok yang rawan stres akademik. Ada dugaan bahwa stres semacam ini mengganggu regulasi perilaku makan, dan pada gilirannya mendorong munculnya perilaku makan berisiko. Pertanyaan yang coba dijawab dalam studi ini sederhana: benarkah persepsi stres akademik berhubungan dengan perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru UI angkatan 2025? Untuk menjawabnya, digunakan data sekunder berdesain potong lintang dari 399 mahasiswa baru UI angkatan 2025. Instrumen PASS (Perceived Academic Stress Scale) dipakai untuk menangkap persepsi stres akademik, sedangkan TFEQ-R18 (Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18) menangkap perilaku makan berisiko. Chi-square lebih dulu menguji hubungan kedua variabel secara bivariat; setelahnya regresi logistik masuk untuk mengendalikan delapan variabel lain sekaligus — jenis kelamin, rumpun fakultas, pendapatan orang tua, status gizi, aktivitas fisik, kualitas tidur, depresi, dan kecemasan. Dari 399 responden, 35,8% tergolong mengalami perilaku makan berisiko dan 31,8% melaporkan stres akademik tinggi. Uji bivariat memang menangkap hubungan bermakna antara keduanya (p = 0,013), tapi begitu delapan variabel perancu tadi dikendalikan, hubungan ini rontok — AOR turun ke 1,26 dengan interval kepercayaan 95% yang melebar dari 0,69 sampai 2,28, artinya secara statistik stres akademik gagal berdiri sendiri sebagai prediktor. Yang justru bertahan adalah faktor lain. Aktivitas fisik rendah meningkatkan risiko hampir dua setengah kali lipat (AOR 2,33; CI 1,33–4,10), status gizi kurus bahkan lebih besar lagi, hampir tiga setengah kali lipat (AOR 3,53; CI 1,56–7,98). Kecemasan tampil paling konsisten: risikonya naik seiring tingkat keparahan, dari kecemasan ringan (AOR 2,23; CI 1,28–3,91), sedang (AOR 2,49; CI 1,24–4,99), hingga berat yang risikonya melonjak empat kali lipat (AOR 4,03; CI 1,80–9,03). Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: stres akademik saja bukan penjelas yang cukup untuk perilaku makan berisiko pada mahasiswa baru. Begitu faktor-faktor lain diperhitungkan bersamaan, perannya memudar, dan kecemasanlah yang tampil sebagai faktor psikologis paling menentukan. Implikasinya cukup jelas bagi kampus: skrining kesehatan mental, terutama untuk kecemasan, layak masuk sebagai bagian dari program kesehatan mahasiswa baru, berdampingan dengan promosi gaya hidup sehat yang selama ini sudah berjalan.

First-year university students constitute a population vulnerable to academic stress, owing to the adaptation required by an unfamiliar environment and academic demands that differ markedly from secondary school. This stress is hypothesized to disrupt eating behavior regulation, thereby increasing the risk of risky eating behavior. This study aimed to examine the association between perceived academic stress and risky eating behavior among first-year students at Universitas Indonesia in 2025.This cross-sectional study used secondary data from 399 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Perceived academic stress was assessed using the Perceived Academic Stress Scale (PASS), while risky eating behavior was measured using the Three-Factor Eating Questionnaire-Revised 18 (TFEQ-R18). Bivariate associations were tested using the chi-square test, followed by multivariate logistic regression to adjust for sex, faculty cluster, parental income, nutritional status, physical activity, sleep quality, depression, and anxiety. Risky eating behavior was identified in 35.8% of respondents, and 31.8% reported high perceived academic stress. Bivariate analysis showed a significant association between perceived academic stress and risky eating behavior (p = 0.013); however, this association was no longer statistically significant after adjustment for confounding variables (AOR = 1.26; 95% CI: 0.69–2.28). Factors independently associated with risky eating behavior included low physical activity (AOR = 2.33; 95% CI: 1.33–4.10) and underweight nutritional status (AOR = 3.53; 95% CI: 1.56–7.98). Anxiety showed a consistent dose-response association across severity levels: mild (AOR = 2.23; 95% CI: 1.28–3.91), moderate (AOR = 2.49; 95% CI: 1.24–4.99), and severe (AOR = 4.03; 95% CI: 1.80–9.03). Perceived academic stress was not independently associated with risky eating behavior after adjusting for confounding variables. Anxiety emerged as the most dominant psychological factor associated with risky eating behavior. These findings suggest that prevention efforts targeting risky eating behavior among new students should incorporate mental health screening—particularly for anxiety—alongside the promotion of healthy lifestyle behaviors within campus health programs.
Read More
T-7579
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risca Febriyana Nurviati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusdinar Achmad, M. Tri Hadiah
S-7504
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noviyana; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurul Dina Rahmawati, Try Nur Ekawati Lukman, Dwikani Oklita Anggiruling
Abstrak:
Obesitas viseral merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit metabolik. Pada kelompok mahasiswa, kejadian obesitas viseral dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk food insecurity. Kondisi kerawanan pangan tidak hanya berhubungan dengan kekurangan asupan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko obesitas melalui perubahan pola konsumsi, perilaku makan, dan mekanisme biologis yang kompleks. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan food insecurity (CSI) dengan kejadian obesitas viseral berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB) pada mahasiswa baru di Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder pada 362 mahasiswa baru Universitas Indonesia tahun 2025. Food insecurity diukur menggunakan Coping Strategy Index (CSI), sedangkan obesitas viseral ditentukan berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan (RLPTB ≥0,5). Analisis dilakukan melalui univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan sebesar 66,9% mahasiswa mengalami obesitas viseral dan 43,9% mengalami food insecurity (CSI). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa food insecurity (CSI) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan obesitas viseral setelah dikontrol oleh karakteristik, sosial ekonomi, pola makan, dan aktivitas fisik. Walaupun berada pada kecenderungan berhubungan (borderline significant), namun secara statistik belum menunjukkan hubungan yang signifikan (AOR=1,648; 95%CI=0,994 – 2,732; p=0,050). Penelitian ini menyimpulkan bahwa food insecurity yang diukur menggunakan CSI belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian obesitas viseral pada mahasiswa baru setelah dikontrol oleh faktor perancu, sehingga diperlukan penelitian longitudinal untuk mengklarifikasi hubungan temporal antara food insecurity dan obesitas viseral.

Visceral obesity is a major risk factor for various metabolic diseases. Among university students, the development of visceral obesity may be influenced by several factors, including food insecurity. Food insecurity is not only associated with inadequate food intake but may also increase the risk of obesity through changes in dietary patterns, eating behaviors, and complex biological mechanisms. This study aimed to examine the association between food insecurity, measured using the Coping Strategy Index (CSI), and visceral obesity based on the waist-to-height ratio (WHtR) among first-year students at Universitas Indonesia in 2025. A cross-sectional study was conducted using secondary data from 362 first-year students at Universitas Indonesia in 2025. Food insecurity was assessed using the Coping Strategy Index (CSI), while visceral obesity was defined as a waist-to-height ratio (WHtR) of ≥0.5. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariable logistic regression analyses. The results showed that 66.9% of the participants had visceral obesity and 43.9% experienced food insecurity based on the CSI. Multivariable analysis indicated that food insecurity (CSI) was not significantly associated with visceral obesity after adjusting for demographic characteristics, socioeconomic factors, dietary patterns, and physical activity. Although the association was borderline significant (AOR= 1.648; 95%CI= 0.994–2.732; p= 0.050), it did not reach statistical significance after adjustment for potential confounding factors. Therefore, longitudinal studies are warranted to clarify the temporal relationship between food insecurity and visceral obesity among university students.
Read More
T-7586
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eugeunia Angela Andrian; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Asih Setiarini, Neni Herlina Rafida
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, terutama pada kelompok usia dewasa di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor asupan (natrium, lemak, serat, kalium), Indeks Massa Tubuh (IMT), dan gaya hidup (aktivitas fisik, merokok, dan stres) dengan kejadian hipertensi serta mengidentifikasi faktor dominan yang memengaruhi hipertensi pada penduduk dewasa usia 45–59 tahun di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 153 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran langsung. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan prevalensi hipertensi pada responden sebesar 54,9%, hasil ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden dalam kelompok usia tersebut menderita hipertensi. Pada uji multivariat dengan memasukkan faktor asupan natrium, lemak, serat, aktivitas fisik, merokok dan stress didapatkan hasil nilai p = 0,025 pada asupan natrium (OR = 2,276) dan merokok (OR = 2,805), hal ini menjadikan keduanya sebagai faktor dominan yang berkontribusi terhadap hipertensi. 
Hypertension is one of the non-communicable diseases with a continuously increasing prevalence, particularly among the adult population in urban areas such as Jakarta. This study aims to examine the relationship between dietary factors (sodium, fat, fiber, potassium), Body Mass Index (BMI), and lifestyle factors (physical activity, smoking, and stress) with the incidence of hypertension, as well as to identify the dominant factors influencing hypertension among adults aged 45–59 years in Kemayoran District, Central Jakarta. A cross-sectional study design was employed, involving a total of 153 respondents. Data were collected through questionnaires and direct measurements. Data analysis was conducted using chi-square tests and logistic regression. The results showed a hypertension prevalence of 54.9% among respondents, indicating that more than half of individuals in this age group were affected by hypertension. Multivariate analysis, which included sodium intake, fat intake, fiber intake, physical activity, smoking, and stress, revealed that sodium intake (p = 0.025; OR = 2.276) and smoking (OR = 2.805) were the dominant contributing factors to hypertension.
Read More
S-12008
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qori Az-Zahra; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit ; Penguji: Asih Setiarini, Sandra Fikawati, M. Hafid Ernanda, Kusmadewi Eka Damayanti
Abstrak:
Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan pada wanita usia subur, termasuk mahasiswi. Pada masa remaja akhir hingga dewasa awal, perempuan rentan mengalami ketidakpuasan terhadap citra tubuh yang dapat memengaruhi perilaku makan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko anemia. Selain citra tubuh dan kecenderungan perilaku makan menyimpang, pola makan, status gizi, dan faktor sosiodemografi juga diduga berhubungan dengan status anemia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan citra tubuh dan kecenderungan perilaku makan menyimpang dengan status anemia pada mahasiswi baru Universitas Indonesia tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan memanfaatkan data sekunder dari studi longitudinal Dietary Pattern and Adherence to the Healthy Eating Index in Relation to Nutrition-related Diseases and Academic Performance: A Longitudinal Adolescent Health Study at Universitas Indonesia. Sampel penelitian terdiri atas 220 mahasiswi baru Universitas Indonesia tahun 2025. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Independent t-test, dan One-Way ANOVA, Chi-Square, serta multivariat menggunakan regresi linear berganda dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada mahasiswi baru Universitas Indonesia sebesar 20,9%, dengan rata-rata kadar hemoglobin 12,85±1,20 g/dL. Analisis bivariat data numerik dan kategorik menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi protein dan status gizi (IMT) berhubungan secara signifikan dengan status anemia (p<0,05). Pada analisis regresi linear berganda, citra tubuh (B=0,001; p=0,959) dan kecenderungan perilaku makan menyimpang (B=-0,076; p=0,308) tidak berhubungan secara signifikan dengan kadar hemoglobin setelah dikontrol oleh variabel perancu. Sebaliknya, status gizi tetap menjadi satu-satunya variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kadar hemoglobin pada kedua model (p<0,001). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa mahasiswi dengan ketidakpuasan terhadap citra tubuh berhubungan dengan peningkatan odds sebesar 8,87 kali (AOR=8,871; 95%CI=2,493–31,567; p<0,001). Sebaliknya, kecenderungan perilaku makan menyimpang tidak berhubungan secara signifikan dengan status anemia (AOR=1,552; 95%CI=0,551–4,371; p=0,405). Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra tubuh berhubungan secara signifikan dengan status anemia dan merupakan faktor yang paling dominan pada mahasiswi. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa anemia ditemukan tidak hanya pada mahasiswi dengan status gizi kurang, tetapi juga pada mahasiswi dengan overweight dan obesitas, yang mengindikasikan adanya koeksistensi anemia dan kelebihan berat badan sebagai bentuk beban ganda malnutrisi pada level individu. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif yang mencakup edukasi gizi seimbang, pembentukan citra tubuh positif, peningkatan aktivitas fisik guna mencapai status gizi normal dan menurunkan prevalensi overweight serta obesitas, serta pencegahan anemia di lingkungan perguruan tinggi.

Anemia remains a major public health problem among women of reproductive age, including university students. During late adolescence and early adulthood, young women are particularly vulnerable to body image dissatisfaction, which may influence eating behaviors and potentially increase the risk of anemia. In addition to body image dissatisfaction and disordered eating tendencies, dietary patterns, nutritional status, and sociodemographic factors may also be associated with anemia. Therefore, this study aimed to examine the association between body image dissatisfaction, disordered eating tendencies, and anemia among first-year female students at Universitas Indonesia in 2025. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the longitudinal study entitled Dietary Pattern and Adherence to the Healthy Eating Index in Relation to Nutrition-related Diseases and Academic Performance: A Longitudinal Adolescent Health Study at Universitas Indonesia. A total of 220 first-year female students were included in the study. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analyses with the Independent t-test, One-Way ANOVA, and Chi-Square test, followed by multiple linear regression and multivariable logistic regression analyses. The prevalence of anemia among first-year female students was 20.9%, with a mean hemoglobin concentration of 12.85 ± 1.20 g/dL. Bivariate analyses of continuous and categorical data showed that protein consumption frequency and nutritional status based on body mass index (BMI) were significantly associated with anemia (p<0.05). Multiple linear regression analysis demonstrated that body image dissatisfaction (B=0.001; p=0.959) and disordered eating tendencies (B=−0.076; p=0.308) were not significantly associated with hemoglobin concentration after adjustment for potential confounders. In contrast, nutritional status remained the only variable significantly associated with hemoglobin concentration in both models (p<0.001). Multivariable logistic regression analysis showed that female students with body image dissatisfaction had 8.87 times higher odds of anemia than those who were satisfied with their body image (AOR=8.871; 95% CI=2.493–31.567; p<0.001). In contrast, disordered eating tendencies were not significantly associated with anemia (AOR=1.552; 95% CI=0.551–4.371; p=0.405). This study concludes that body image dissatisfaction was significantly associated with anemia and was the strongest predictor of anemia among first-year female students. Furthermore, anemia was observed not only among undernourished students but also among those with overweight and obesity, indicating the coexistence of anemia and excess body weight as a form of the double burden of malnutrition at the individual level. Therefore, integrated promotive and preventive strategies are needed, including nutrition education, the promotion of positive body image, increased physical activity to achieve normal nutritional status and reduce the prevalence of overweight and obesity, as well as anemia prevention programs within university settings.
Read More
T-7577
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fardilla Fitriyani Sumardi; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Heras Ganefi Tamara
Abstrak: Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapatmeningkatkan risiko hipertensi, dislipidemia, diabetes tipe 2, penyakit jantungkoroner, stroke, osteoartritis, dan kanker. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan perilaku sedentary, asupan gizi, pola makan, kebiasaanmengkonsumsi makanan dan minuman ringan tinggi energi, pengetahuan gizi, danjenis kelamin dengan obesitas pada mahasiswa S1 Reguler FIB UI. Penelitian inimenggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februarihingga Juni 2017. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa S1 Reguler laki-lakidan perempuan sebanyak 151 mahasiswa dari setiap angkatan. Pengumpulan datadilakukan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengisian kuesionermandiri, serta wawancara 2x24 hours food recall. Prevalensi obesitas sebesar22,5%. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara perilaku sedentary(p-value:0,004), kebiasaan mengkonsumsi makanan ringan tinggi energi (p-value:0,024), dan kebiasaan mengkonsumsi minuman ringan tinggi energi (p-value:0,000) dengan obesitas. berdasarkan hasil penelitian disarankan agarmahasiswa lebih aktif secara fisik dan mengurangi konsumsi makanan danminuman ringan tinggi energi.
Kata kunci : Obesitas, mahasiswa, perilaku sedentary, kebiasaan konsumsimakanan dan minuman ringan tinggi energi
Read More
S-9570
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive